C. FAKTOR SPRITUAL PEMBINAAN KESEHATAN
7. Kesehatan Masyarakat
Batasan yang paling tua mengatakan bahwa kesehatan masyarakat adalah “upaya-upaya untuk mengatasi masalah sanitasi yang mengganggu kesehatan”. Dengan demikian, kesehatan masyarakat adalah upaya memperbaiki dan meningkatkan sanitasi lingkungan.
Kemudian pada akhir abad ke-18, kesehatan masyarakat didefinisikan
sebagai pencegahan penyakit yang terjadi dalam masyarakat melalui perbaikan sanitasi lingkungan dan pencegahan penyakit melalui imunisasi. Pada awal abad ke-19, kesehatan masyarakat diartikan sebagai suatu upaya intergrasi antara ilmu sanitasi dengan ilmu kedokteran; sedangkan ilmu kedokteran sendiri merupakan perpaduan antara ilmu biologi dan ilmu sosial. Dalam perkembangan selanjutnya, kesehatan masyarakat diartikan sebagai aplikasi dan kegiatan terpadu antara sanitasi dan pengobatan (kedokteran) dalam mencegah penyakit yang melanda penduduk atau masyarakat.
Pada abad 20 Charles Edward Amory Winslow (1877-1957), yang dikenal sebagai bapak kesehatan masyarakat, menyatakan bahwa:
“kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan melalui usaha- usaha pengorganisasian masyarakat untuk:
a. Perbaikan sanitasi lingkungan b. Pemberantasan penyakit menular
c. Pendidikan untuk kebersihan perseorangan;
d. Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan;
e. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya.
Sementara itu menurut Soekidjo Notoatmodjo: “Lima bidang kegiatan kesehatan masyarakat itu dapat dikelompokkan menjadi dua bagian; Pertama, bidang pendidikan kesehatan. Bidang ini meliputi pendidikan untuk kebersihan perseorangan dan pengembangan rekayasa
sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidupnya yang layak dalam memelihara kesehatannya. Kedua,bidang sanitasi, pemberantasan penyakit dan pelayanan kesehatan.
Menurut konsep baru tentang pengelolaan kesehatan masyarakat (public health), bahwa kesehatan masyarakat harus dikelola dengan memberdayakan sumber daya lokal, nasional, dan internasional yang memungkinkan rakyat mengarahkan produktivitas hidupnya secara sosial maupun secara ekonomi.
Sementara itu, menurut rumusan yang dikeluarkan Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI, Program Kesehatan Masyarakat adalah bagian dari program pembangunan kesehatan nasional. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kemandirian masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan, dengan titik berat pada upaya peningkatan kualitas hidup dan pencegahan penyakit, di samping pengobatan dan pemulihan. Oleh karena itu program kesehatan masyarakat perlu ditingkatkan agar status kesehatan masyarakat terus meningkat, terutama bagi wilayah atau daerah yang Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Balita (AKB) serta Umur Harapan Hidup rendah, sebagai indikator yang berperan dalam Human Proverti Index (HPI).
Konsep Khaira Ummah dalam al-Qur’an
Konsep khaira ummah dalam al-Qur’an sesungguhnya tidak lain adalah masyarakat yang sehat itu sendiri. Kriteria khaira ummah antara lain adanya suatu masyarakat yang senantiasa me menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 110).
Umat ideal tentu tidak terlepas dari adanya kesehatan holistik di dalam masyarakat. Tumbuhnya generasi yang cerdas dan bergizi, senantiasa memperhatikan secara khusus aspek kebersihan yang dikatakan dalam hadis sebagai “separuh dari iman” (al-thaharatu nishfu al-iman).
Kebersihan dan kesehatan di dalam masyarakat mendapatkan perhatian khusus di dalam Islam. Dalam kitab kitab standar keilmuan Islam, setebal apapun kitab-kitab itu hampir seluruhnya diawali dengan bab kebersihan (kitab ath-thaharah). Dengan demikian, isi kitab-kitab kuning itu sejalan dengan visi dunia kesehatan kita yang menganggap kebersihan sebagai pangkal kesehatan.
Kesehatan dalam rumusan Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 adalah “Keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat, serta produktif secara ekonomi dan sosial”.
Batasan yang diangkat dari batasan kesehatan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang paling baru ini, memang lebih luas dan dinamis, dibandingkan dengan batasan sebelumnya yang mengatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial, dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat. Apabila pada batasan yang terdahulu kesehatan hanya mencakup tiga dimensi atau aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi. Hal ini berarti, kesehatan seseorang tidak hanya di ukur dari aspek fisik, mental, dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktivitasnya dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi.
Bagi yang belum memasuki usia kerja, anak dan remaja, atau bagi yang sudah tidak bekerja (pensiun) atau manula, berlaku produktif secara
sosial. Misalnya produktif secara sosial-ekonomi bagi siswa sekolah atau mahasiswa adalah mencapai prestasi yang baik, sedang produktif secara sosial-ekonomi bagi lanjut usia atau para pensiunan adalah mempunyai kegiatan sosial dan keagamaan yang bermanfaat, bukan saja bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain atau masyarakat.
Keempat dimensi kesehatan tersebut saling mempengaruhi dalam mewujudkan tingkat kesehatan pada seseorang, kelompok atau masyarakat. Itulah sebabnya, maka kesehatan bersifat holistik atau menyeluruh yang mengandung keempat aspek. Wujud atau indikator dari masing-masing aspek tersebut dalam kesehatan individu antara lain sebagai berikut:
a. Kesehatan fisik terwujud apabila seseorang tidak merasa sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara klinis tidak adanya penyakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak ada gangguan fungsi tubuh.
b. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni: pikiran, emosional, dan spiritual.
c. Pikiran yang sehat itu tercermin dari cara berpikir seseorang, atau jalan pikiran. Jalan pikiran yang sehat apabila seseorang mampu berpikir logis (masuk akal), atau berfikir secara runtut.
d. Emosional yang sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih, dan sebagainya.
e. Spiritual yang sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, memuji dan beribadah, menagkui keagungan Allah, dengan ayat-ayat quliyah Allah maupun ayat- ayat kauniah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta
mengakui keagungan Allah, Pencipta alam dan seisinya (Allah yang Maha Kuasa). Secara mudah, spiritual yang sehat dapat dilihat dari praktik keagamaan, keyakinan atau kepercayaan, sesuai dengan agama yang dianut.Dengan perkataan lain, spiritual yang sehat adalah apabila orang melakukan ibadah dan aturan-aturan agama yang dianutnya.
f. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan atau berkomunikasi dengan orang lain secara baik, atau mampu berinteraksi dengan orang atau kelompok lain, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayaan, status sosial. Ekonomi, politik, dan sebagainya, saling menghargai dan toleransi.
g. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat dari seseorang (dewasa) itu produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong secara finansial terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya. Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku. Oleh sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau mahasiswa, dan kegiatan pelayanan sosial, pelayanan agama, atau pelayanan masyarakat yang lain bagi usia lanjut.