• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUMBER ILMU AGAMA ISLAM

Maka dari itu, umat Islam harus memahami ajaran-ajaran Islam secara sederhana dan menyeluruh, agar ajaran-ajaran Islam tersebut dapat kitagunakan sebagai pedoman hidup dan sebagai pengatur amal perbuatan, baik amalan yang berhubungan dengan Allah, maupun amalan yang berhubungan dengan sesama manusia seperti hubungan dengan masyarakat, hubungan dengan anggota keluarga, dan hubungan dengan anggota masyarakat di lingkungan sekitar kita. Ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadis juga berfungsi sebagai pembentuk pribadi yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam.

Pendidikan agama Islam sebagai pedoman hidup artinya ajaran Islam merupakan pegangan umat Islam dalam menjalani hidup agar sesuai dengan yang telah disampaikan didalam al-Qur’an, Hadis dan kisah para nabi dan rasul serta kisah para sahabat Nabi.

Menjadi manusia yang benar-benar mampu tunduk dan patuh serta taat kepada Sang khalik. Dengan memiliki bekal agama yang cukup maka kita akan mampu terhindar dari segala godaan dan nikmat duniawi yang bisa berujung pada kesengsaraan di akhirat kelak.

“sesungguhnya tuhanmu hanyalah Allah SWT yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Ilmu-Nya meliputi segala

sesuatu”

Allah SWT adalah sumber dari segala ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu pengetahuan khusus keagamaan.

Allah Maha Mengetahui, maka dari itu Ia mengetahui seluruh ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan alam semesta dan seisinya. Ilmu keagamaan, sumber dan hukum-hukum dalam syariat Islam juga bersumber dari Allah SWT.

Allah yang menentukan dan memberikan pengetahuan kepada manusia tentang syariat Islam melalui utusan-Nya, nabi besar Muhammad SAW. Segala yang diajarkan-Nya berasal dari Allah SWT.

Allah yang menciptakan bumi dan langit, beserta seluruh isinya, yang didalamnya terdapat pengetahuan untuk dipelajari oleh umat manusia.

Sebagaimana disebutkan dalam surah Ar-Rahman ayat 1-4 bahwa Allah SWT telah mengajarkan al-Qur’an kepada manusia dan Ia juga mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya. Selain itu, disebutkan juga dalam surah al-Baqarah ayat 31 yang artinya sebagai berikut.

“dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu

memang orang-orang yang benar”.

(Al-Baqarah:31)

Sumber ilmu yang primer dan utama adalah wahyu yang diterima oleh nabi Muhammad SAW yang berasal dari Allah SWT sebagai sumber dari segala sesuatu. Allah SWT menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad SAW untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia yang mengimani-Nya.

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, al-Qur’an menempati urutan pertama dalam hierarki sumber ilmu dalam epistemologi Islam. Al- Qur’an sebagai sumber ilmu, dijelaskan melalui ayat-ayat yang menyatakan bahwa al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia dan alam semesta, yaitu diantaranya dalam surah At-Takwir ayat 27 yang artinya sebagai berikut: “Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam”.

Dan Al-Furqon ayat 1 yang artinya sebagai berikut.

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqon (al-Qur’an) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada

seluruh alam.”

Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pertama dan yang paling utama, karena dari al-Qur’an semua ilmu berasal, dalam epistemologi Islam, sesuai dengan turunannya, al-Qur’an menjadi yang pertama, yang selanjutnya sumber ilmu terdapat pada hadis nabi Muhammad SAW.

Baik yang berupa ucapan, perbuatan, dan ketetapannya.

Hadis adalah sumber ilmu yang kedua setelah al-Qur’an.Dalam kaitannya dengan al-Qur’an, hadis ada untuk menjelaskan sesuatu dalam al-Qur’an yang tidak terperinci. Hadis tergambar dari perbuatan,

ucapan, dan ketetapan yang diberikan oleh nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. Allah SWT menyatakan bahwa Rasulullah SAW merupakan sumber ilmu yang akan mengajarkan kitab serta hikmah.

Al-Qur’an dan Hadis adalah pedoman hidup, sumber ilmu, dan ajaran Islam, serta merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Al-Qur’an merupakan sumber primer yang banyak memuat pokok-pokok ajaran Islam, sedangkan Hadis merupakan penjelas (Bayan) bagi keumuman isi al-Qur’an.

Sumber ilmu selain wahyu dalam epistemologi Islam adalah akal (‘Aql) dan kalbu. Dalam lisan al-‘Arab dijelaskan bahwa al-‘aql berarti al-hijr (menahan) dan al-āqil adalah orang yang menahan diri (yahbis) dan mengekang hawa nafsu. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa al-‘aql mengandung arti kebijaksanaan (al-nuhā), lawan dari lemah pikiran (al-humq). Al-‘aql juga mengandung arti al-qalb (kalbu). Lebih lanjut disebutkan bahwa kata ‘aqala mengandung arti memahami.

Dari keseluruhan kosakata yang berakar pada a-q-l dapat disimpulkan bahwa al-‘aql adalah fitrah manusia yang berfungsi untuk mengerti atau memahami sesuatu. Jelasnya akal merupakan fitrah yang di anugerahkan kepada manusia untuk mendapat ilmu pengetahuan.

Dalam al-Qur`an, alat-alat indera yang beraktifitas dan berfungsi bagi manusia dalam memperoleh pengetahuan adalah al-sam’ dan al-absar. Kata al-sam’ dan berbagai kata jadiannya disebut 185 kali, sedangkan kata al-sam’ sendiri dijumpai 12 kali dalam al-Qur`an. Kata al-absar dan berbagai kata jadiannya disebut 148 kali. Sementara kata al-absar disebut 18 kali.

Al-Qur’an mengajak manusia untuk menggunakan indra dan akal sekaligus dalam pengalaman manusia, baik yang bersifat fisik maupun metafisik karena indra dan akal saling menyempurnakan.Ali Abdul Azhim berpendapat bahwa kedua sumber tersebut tidak terpisah dan tidak berdiri sendiri sebagaimana pemahaman empirisme dan rasionalisme. Allah SWT selalu menyeru manusia untuk mengingat dan menggunakan nikmat indra dan akal secara simultan. Orang-orang yang mengabaikan indra dan kalbunya, maka akan tersesat dan jauh dari kebenaran.

Hati / fu’ad juga termasuk sebagai salah satu sumber ilmu dalam agama Islam. Kata fu`ad dan yang seakar kata dengannya tersebar dalam 16 ayat. Semuanya dalam bentuk kata benda, yakni al-fu`ad dan al- af`idah. Mahmud Yunus mengartikannya sebagai hati atau akal. Kedua kata ini seakar dengan fā`idah (jamak: fawā`id) artinya faedah atau guna. Makna yang dapat ditarik dari penggunaan al-Qur’an terhadap kata al-fu`ad dan al-af`idah adalah bahwa al-fu`ad memiliki fungsi akal (memahami, mengerti), sama dengan al-qalb.

Secara umum, bagi al-Qur`an indera dalam dan luar manusia seperti al-‘aql, al-qalb, al-fu’ad, al-sam’, al-absar adalah alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dan obyek pengetahuan adalah ayat- ayat Allah baik yang qauliyah/tanziliyah maupun yang kauniyah.

Sebagai seorang muslim, tentunya kita harus meyakini bahwa sumber ilmu yang utama itu adalah al-Qur’an dan dari al-Qur’an ilmu pengetahuan berasal.

Dalam al-Qur’an ilmu-ilmu itu diperjelas kembali oleh As-sunnah (hadis) sebagai turunannya. Seorang muslim menjadikan hadits sebagai sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Selanjutnya, dalam kaidah

pengambilan hukum dalam Islam digunakan pula landasan berupa ijma’

(Qaul ulama) yang disandarkan pada al-Qur’an dan hadis dan yang terakhir Qiyas sebagai sarana untuk kaum muslim melakukan ijtihad dengan metode Qiyas sesuai dengan qaidah yang berlaku dikalangan ulama mujtahid.

Selain penjelasan di atas mengenai sumber pendidikan Islam, ada satu pendapat dari Samsul Nizar. Samsul Nizar membagi dasar pendidikan agama Islam menjadi tiga sumber, yaitu sebagai berikut:

Pertama adalah al-Qur’an, yakni kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa arab guna menjalankan jalan hidup yang membawa kemaslahatan bagi umat manusia (rahmatan lil ‘alamin), baik di dunia maupun di akhirat. al-Qur’an sebagai petunjuk ditunjukkan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada

pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’ ayat 9)

Pelaksanaan pendidikan Islam harus senantiasa mengacu pada sumber yang termuat dalam al-Qur’an. Dengan berpegang pada nilai- nilai tertentu dalam al-Qur’an terutama dalam pelaksanaan pendidikan Islam umat Islam akan mampu mengarahkan dan mengantarkan umat manusia menjadi kreatif dan dinamis serta mampu mencapai esensi nilai-nilai ubudiyah kepada khaliknya. (Tantowi, 2009:15-16).

Kedua adalah Sunnah. Keberadaan Sunnah Nabi tidak lain adalah sebagai penjelas dan penguat hukum-hukum yang ada didalam al-

Qur’an, sekaligus sebagai pedoman bagi kemaslahatan hidup manusia dalam semua aspeknya. Eksistensinya merupakan sumber inspirasi ilmu pengetahuan yang berisikan keputusan dan penjelasan Nabi dari pesan-pesan illahiyah yang tidak terdapat di dalam al-Qur’an, maupun yang terdapat di dalam al-Qur’an tetapi masih memerlukan penjelasan lebih lanjut secara terperinci.

Ketiga adalah Ijtihad. Pentingnya Ijtihad tidak lepas dari kenyataan bahwa pendidikan Islam di satu sisi dituntut agar senantiasa sesuai dengan dinamika zaman dan IPTEK yang berkembang dengan cepat.

Sementara di sisi lain, dituntut agar tetap mempertahankan kekhasannya sebagai sebuah sistem pendidikan yang berpijak pada nilai-nilai agama.

Ini merupakan masalah yang senantiasa menuntut Mujtahid Muslim di bidang pendidikan untuk selalu berijtihad sehingga teori pendidikan Islam senantiasa relevan dengan tuntutan zaman dan kemajuan IPTEK.