BAGIAN KETIGA: TEMUAN DAN ANALISIS PERUBAHAN PRODUK HUKUM TERKAIT HTI
BAGIAN KETIGA: TEMUAN DAN ANALISIS PERUBAHAN PRODUK
3 PP Nomor 34 Tahun 2002 Tentang Tata Hutan Dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan DanPenggunaan Kawasan Hutan
Pasal 1 huruf n: Izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan atau bukan kayu pada hutan tanaman adalah izin untuk memanfaatkan hutan produksi yang kegiatannya terdiri dari penyiapan lahan, perbenihan atau pembibi- tan, penanaman, pemeliharaan, pengamanan, pemanenan atau penebangan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan kayu dan atau bukan kayu.
Pasal 30 Ayat (1): Usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan atau bukan kayu pada hutan tanaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf b meliputi kegiatan penyiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeli- haraan, pengamanan, pemanenan atau penebangan hasil, pengolahan dan pemasaran.
4 PP Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Tata Hutan Dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Serta Peman- faatan Hutan
Pasal 1 angka 15: IUPHHK dan/atau IUPHHBK dalam hutan tanaman adalah izin usaha yang diberikan untuk memanfaatkan hasil hutan beru- pa kayu dan/atau bukan kayu dalam hutan tanaman pada hutan produksi melalui kegiatan penyiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan pemasaran.
Pasal 1 angka 18: Hutan tanaman industri yang selanjutnya disingkat HTI adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelom- pok industri kehutanan untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka memenuhi kebutu- han bahan baku industri hasil hutan.
5 PP Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Perubah- an Atas PP Nomor 6 Ta- hun 2007 Tentang Tata Hutan Dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Serta Peman- faatan Hutan
Pasal 38 Ayat (2): Pemanfaatan hasil hutan kayu pada HTI dalam hutan tanaman meliputi kegiatan penyiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan pemasaran.
Dari 5 Peraturan Pemerintah diatas, setidaknya ada 2 hal pokok yang patut digaris bawahi; pertama tentang penerapan sistem silvikultur dan yang kedua adalah kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman.
Berdasarkan PP 7/1990 dan PP 6/1999, menyebutkan HTI yang dibangun dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur intensif untuk memenuhi kebutu- han bahan baku industri hasil hutan. Namun PP 34/2002, PP 6 2007 dan PP 3/2008 tidak lagi secara tegas menyebutkan bahwa penerapan sistem silvikultur HTI dengan sistem silvikultur intensif.
Sistem silvikultur HTI berdasarkan Pasal 4 ayat 1 PP 7/1990 “Sistem silvikultur yang diterapkan dalam pengelolaan HTI adalah tebang habis dengan penanaman kembali”. Namun selanjutkan ber- dasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 338/Kpts–II/1998 perubahan SK Menteri Kehutanan Nomor 435/Kpts-II/1997 tentang Sistem Silvikultur dalam Pengelolaan Hutan Tanaman Industri, Pasal 1 ayat 2 bahwa “Untuk jenis tanaman pokok dimana sistem tebang habis dengan penanaman kembali tidak dapat diterapkan sepenuhnya maka dapat digunakan sistem lain yang sesuai”. Selanjutnya Pasal 2 “Sistem lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) adalah : Sistem Tebang Pilih dan Tanam Jalur (line planting) dengan berbagai modifikasi”. Artinya PP 7/1990 dan PP 6/1999 telah memberi- kan pilihan sistem selain silvikutur tebang habis.
Hal kedua dari bahasan pengertian HTI ini adalah kegiatan pemanfaatannya, pada PP 7/1990 dan PP 6/1999 bahwa Hak Pengusahaan HTI adalah hak untuk mengusahakan hutan di dalam suatu kawasan hutan yang kegiatannya mulai dari penanaman, pemeliharaan, pemungutan, pengolahan dan pemasaran. Sedangkan PP 34/2002, PP 6/2007 dan PP 3/2008 menjelaskan bahwa hutan tanaman adalah izin untuk memanfaatkan hutan produksi yang kegiatannya terdiri dari penyiapan lahan, pem-
BAGIAN KETIGA: TEMUAN DAN ANALISIS PERUBAHAN PRODUK HUKUM TERKAIT HTI
benihan atau pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pengamanan, pemanenan atau peneban- gan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan kayu dan atau bukan kayu.
Kasus IIlegal logging di Riau tahun 2007-2008 pada 14 perusahaan HTI yang dIIndikasikan melaku- kan illegal logging, salah satunya yang sempat mencuat adalah kegiatan HTI-IUPHHK-HT bukan me- nebang hutan alam baru menanam, melainkan perusahaan harus menanam dan setelah itu menebang.
Artinya kasus indikasi illegal logging di Riau tahun 2007-2008 memberikan pandangan yang berbeda pada penegak hukum, apakah menggunakan PP 7/1990 dan PP 6/1999 atau PP 34/2002, PP 6/2007 dan PP 3/2008.
2. Kriteria areal pembangunan Hutan Tanaman Industri-Izin Usaha Pemanfaatan Hasil hutan Kayu Pada Hutan Tanaman
Tabel 5. Kriteria areal pembangunan Hutan Tanaman Industri-Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman
No Peraturan Pejelasan 1 PP Nomor 7 Tahun
1990 Tentang Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri
Pasal 5 Ayat (1) Areal hutan yang dapat diusahakan sebagai areal HTI adalah kawasan hutan produksi tetap yang tidak produktif.
SK Menhut No. 200/Kpts-II/1994; kriteria HP tidak produktif ditandai dengan:
1) Pohon inti yang berdiameter > 20 cm kurang dari 25 batang /ha.
2) Pohon induk < 10 batang /ha.
3) Permudaan alamnya kurang,: semai < 1000 batang/ha, dan atau pancang <
240 batang/ha, dan atau tiang < 75 Batang /ha.
2 PP Nomor 6 Tahun 1999 Tentang Pen- gusahaan Hutan Dan Pemungutan Hasil Hutan Pada Hutan Produksi
Pasal 7 Ayat (1) huruf a. Pemerintah menetapkan kriteria hutan produksi yang dapat dilelang, status areal dan kriteria peserta pelelangan;
PP 6 Tahun 1999 tidak secara tegas menyebutkan kriteria areal untuk hutan tanaman atau HTI
3 UU Nomor 41 Ta- hun 1999 Tentang Kehutanan
Penjelasan Pasal 28 ayat (1) Diutamakan dilaksanakan pada hutan yang tidak produktif dalam rangka mempertahankan hutan alam.
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 10.1/Kpts-II/2000 Tentang Pe- doman Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman, Tanggal 6 November 2000
Pasal 3 ayat (1) Areal hutan yang dapat dimohon untuk Usaha Hutan Tanaman adalah areal kosong di dalam kawasan hutan produksi dan/atau areal hutan yang akan dialih fungsikan menjadi kawasan Hutan Produksi serta tidak dibeba- ni hak-hak lain.
Pasal 3 Ayat (4) Penutupan vegetasi berupa non hutan(semak belukar, padang alang-alang dan tanah kosong) atau areal bekas tebangan yang kondisinya rusak dengan potensi kayu bulat berdiameter 10 Cm untuk semua jenis kayu dengan kubikasi tidak lebih dari 5 m3 per hektar.
Pasal 3 Ayat (6) Pada prinsipnya tidak dibenarkan melakukan penebangan hutan alam di dalam Usaha Hutan Tanaman, kecuali untuk kepentingan pemba- ngunan sarana dan prasarana yang tidak dapat dihindari dengan luas maksimum 1 % dari seluruh luas Usaha Hutan Tanaman melalui peraturan yang berlaku.
UU Nomor 41 Ta- hun 1999 Tentang Kehutanan
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 21/Kpts-II/2001 Tentang Kriteria Dan Standar Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Pada Hutan Produksi,
Lampiran:
b. Keadaan vegetasinya sudah tidak berupa hutan alam atau areal bekas teban- gan.
o Lahan hutan telah menjadi lahan kosong/terbuka.
o Vegetasi alang-alang dan atau semak belukar.
o Vegetasi hutan alam yang tidak terdapat pohon berdiameter di atas 10 cm untuk semua jenis kayu dengan potensi kurang dari 5 m3 per hektar, atau jumlah anakan jenis pohon dominan kurang dari 200 batang per hektar.
4 PP Nomor 34 Tahun 2002 Ten- tang Tata Hutan Dan Penyusunan Rencana Pen- gelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan Dan Penggunaan Kawasan Hutan
Pasal 30 ayat (3) Usaha pemanfaatan hasil hutan pada hutan tanaman, dilak- sanakan pada lahan kosong, padang alang-alang dan atau semak belukar dihutan produksi.
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 32/Kpts-II/2003
Tentang Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Alam Atau Hutan Tanaman Melalui Penawaran Dalam Pelelangan, Tanggal 5 Februari 2003
Pasal 4 Ayat (2) huruf a. Kriteria areal hutan yang dapat dilelang untuk dibeba- ni IUPHHK pada hutan tanaman adalah :
a. Lahan kosong, padang alang-alang dan atau semak belukar pada kawasan hutan produksi sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kehutan- an tentang kondisi hutan berupa lahan kosong, padang alang-alang dan atau semak belukar pada hutan produksi yang dapat diberikan izin usaha peman- faatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman;
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 33/Kpts-II/2003
Tentang Tata Cara Penyelesaian Hak Pengusahaan Hutan Alam Atau Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Yang Telah Mendapat Persetujuan Prinsip Berdasarkan Permohonan, Tanggal 5 Februari 2003
Pasal 3 huruf b. Kondisi hutan berupa lahan kosong, padang alang-alang dan atau semak belukar pada hutan produksi yang dapat diberikan IUPHHK pada hutan tanaman.
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.05/Menhut-II/2004 Tentang Pem- berian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Tanaman Melalui Penawaran Dalam Pelelangan.
Pasal 5 Ayat (1) Kriteria areal hutan yang dapat dilelang untuk dibebani IUPH- HK pada hutan tanaman adalah lahan kosong, padang alang-alang dan atau semak belukar pada hutan produksi sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAGIAN KETIGA: TEMUAN DAN ANALISIS PERUBAHAN PRODUK HUKUM TERKAIT HTI
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.03/Menhut-II/2005 Tentang Pe- doman Verifikasi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Alam Dan Atau Pada Hutan Tanaman Yang Diterbitkan Oleh Gubernur Atau Bupati/Walikota, Tanggal 18 Januari 2005
Pasal 6 Ayat (3). Untuk izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman, keempat aspek yang dilakukan verifikasi sebagaimana pada Pasal 4, meliputi:
3. Status dan kondisi areal hutan, meliputi : a. Hutan produksi.
b. Areal tidak dibebani dengan izin/hak lain di bidang kehutanan.
c. Kondisi hutan berupa lahan kosong, padang alang-alang, semak belu- kar atau sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 10.1/Kpts-II/2000 jo. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 21/
Kpts-II/2001.
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.61/Menhut-II/2006 Tentang Ka- wasan Hutan Yang Dapat Dicadangkan Atau Diberikan Izin Usaha Peman- faatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Tanaman
Pasal 3 Ayat (1) dan (2):
(1) Kawasan hutan yang dapat dicadangkan atau diberikan untuk IUPHHK pada Hutan Tanaman adalah hutan negara yang mempunyai fungsi sebagai:
a. Hutan produksi terbatas.
b. Hutan produksi biasa/tetap.
(2) Kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa lahan kosong, padang alang-alang dan atau semak belukar, dan tidak dibebani izin/hak lainnya.
5 PP 6 Tahun 2007 Tentang Tata Hutan Dan Penyusunan Rencana Pengelo- laan Hutan, Serta Pemanfaatan Hutan
Pasal 38 Ayat (3) Pemanfaatan hasil hutan kayu pada HTI, dilakukan pada hutan produksi yang tidak produktif.
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.19/Menhut-II/2007 Tentang Tata Cara Pemberian Izin Dan Perluasan Areal Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Tanaman Industri Dalam Hutan Tanaman Pada Hutan Produksi
Pasal 3 Ayat (1) Areal untuk pembangunan hutan tanaman adalah Hutan Pro- duksi yang tidak produktif dan tidak dibebani hak/izin Iainnya.
6 PP Nomor 3 Tahun 2008
Tentang Perubahan Atas PP Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Tata Hutan Dan Penyusunan Rencana Pengelo- laan
Hutan, Serta Pe- manfaatan Hutan
Pasal 38 Ayat (3) Pemanfaatan hasil hutan kayu pada HTI, dilakukan pada hutan produksi yang tidak produktif.
Penjelasan Ayat (3) Yang dimaksud dengan “hutan produksi yang tidak pro- duktif” adalah hutan yang dicadangkan oleh Menteri sebagai areal pembangu- nan hutan tanaman.
Permenhut No P.11/Menhut-II/2008 Tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.19/Menhut-II/2007 Tentang Tata Cara Pem- berian Izin Dan Perluasan Areal Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Tanaman Industri Dalam Hutan Tanaman Pada Hutan Produksi
Pasal 1 A. Hutan produksl yang tidak produktif adalah hutan yang dicadangkan oleh Menteri sebagai areal pembangunan hutan tanaman.
Pasal 3 Ayat (1) Areal IUPHHK-HTI diutamakan pada hutan produksi yang tidak produktif dan tidak dibebani hak/izin Iainnya.
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia
Nomor : P.31/Menhut-II/2014 Tentang Tata Cara Pemberian Dan Perlua- san Areal Kerja Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Dalam Hutan Alam, Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem Atau Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri Pada Hutan Produksi
Pasal 2 Ayat (1) Areal yang dimohon adalah kawasan hutan produksi tidak dibebani izin/hak.
Pasal 2 Ayat (2) Areal yang dimohon sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat diberikan pada areal yang telah dicadangkan / ditetapkan oleh Menteri berupa Peta Indikatif Arahan Pemanfaatan Kawasan Hutan Pada Hutan Produk- si Yang Tidak Dibebani Izin Untuk Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu, dan dapat dilihat dalam Website : www.Dephut.go.id, dengan alamat “Bina Usaha Kehutanan” dan dIInformasikan pada loket perizinan terpadu
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indone- sia Nomor: P. 12/Menlhk-II/2015 Tentang Pembangunan Hutan Tanaman Industri
Pasal 5 Ayat (1) Persyaratan areal dalam IUPHHK-HTI sebagaimana dimak- sud dalam Pasal 4 huruf a, yaitu:
a. kawasan hutan produksi tidak dibebani izin/hak; dan/atau
b. diutamakan pada kawasan hutan produksi yang tidak produktif; dan/
atau
Pasal 5 Ayat (2) Kawasan hutan produksi tidak dibebani izin/hak dan/atau diutamakan pada kawasan hutan produksi yang tidak produktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dicadangkan oleh Menteri sebagaimana dalam Indika- tif Arahan Pemanfaatan Hutan pada Kawasan Hutan Produksi yang Tidak Dibebani Izin untuk Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu.
Pasal 5 Ayat (3) Tata cara penetapan indikatif arahan pemanfaatan hutan pada kawasan hutan produksi yang tidak dibebani izin untuk usaha pemanfaatan hasil hutan kayu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan tata cara pembe- rian IUPHHK-HTI, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan Dapat disimpulkan bahwa Kriteria areal pembangunan Hutan Tanaman Industri-Izin Usaha Peman- faatan Hasil hutan Kayu Pada Hutan Tanaman dapat dibagi dua, pertama dari PP 7/1990 hingga PP 34/2002 dan kedua adalah setelah PP 6/2007 hingga sekarang. Kriteria areal pembangunan Hutan Tanaman Industri-Izin Usaha Pemanfaatan Hasil hutan Kayu Pada Hutan Tanaman dari PP 7/1990- PP 34/2002 secara tegas menyebutkan bahwa kriteria HTI-IUPHHK-HT adalah hutan produksi tidak produktif dan dIIkuti aturan teknis kriteria yang dimaksud dengan tidak produktif. Sedangkan setelah PP 6/2007 hingga sekarang sebagaimana penjelasan pada PP 6/2007 dan PP 3/2008 adalah yang
BAGIAN KETIGA: TEMUAN DAN ANALISIS PERUBAHAN PRODUK HUKUM TERKAIT HTI
dimaksud dengan “hutan produksi yang tidak produktif” adalah hutan yang dicadangkan oleh Menteri sebagai areal pembangunan hutan tanaman. Sehingga dapat dimungkinkan terjadi pembangunan HTI- IUPHHK-HT pada hutan hutan alam jika pada areal tersebut telah dicadang oleh Menteri sebagai areal pembangunan hutan tanaman.
Tumpang tindih dengan hutan alam yang produktif dan memiliki potensi kayu komersial yang tinggi
Meskipun mulai dari PP 7/1990 hingga berakhirnya PP 34/2002 di awal tahun 2007, secara tegas menyebutkan bahwa kriteria HTI-IUPHHK-HT adalah hutan produksi tidak produktif dan dIIkuti aturan teknis kriteria yang dimaksud dengan tidak produktif, pada kenyataannya implementasi dari peraturan tersebut ditemukan ada penyimpangan. Kasus pembangunan HTI-IUPHHK-HT 2002-2006 di Riau pada umumnya diberikan hutan alam yang masih produktif.
Berdasarkan data Dinas Kehutanan Provinsi Riau 2006, total areal dari 37 konsesi HTI yang dikel- uarkan izinnya oleh Bupati Pelalawan, Bupati Siak, Bupati Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir adalah 403.513 hektar. Citra Landsat untuk kawasan tersebut pada Agustus 2002 menunjukkan adanya hutan yang masih produktif sekitar 358.310 hektar atau sekitar 89% dari total areal yang diberikan izin.
Hingga tahun 2007, berdasarkan Citra Landsat Oktober 2007, hutan alam di konsesi HTI yang telah konversi mencapai sekitar 143.501 hektar atau 50% dari total areal HTI dengan tutupan hutan alam yang masih bagus pada tahun 2002.
Dari 143.501 hektar areal hutan alam yang dikonversi dalam kurun waktu 2002-2007, sekitar 99.541 hektar untuk pasokan bahan baku PT Riau Andalan Pulp and Paper milik Asia Pacific Resources International Holdings, Ltd. (APRIL). Sisanya, sekitar 43.379 hektar, merupakan sumber bahan baku industri PT Indah Kiat Pulp and Paper milik Asia Pulp and Paper (APP) di Riau.
Peta 1: Perbedaan tutupan hutan pada konsesi 37 HTI yang dikeluarkan oleh Sejumlah Bupati di Riau dalam kurun waktu 2002-2006. Tutupan hutan 2002 masih bagus dan semakin memburuk pada tahun 2007 setelah dikonversi untuk HTI
Tumpang tindih dengan kawasan hutan produksi tidak dibebani izin/hak
Penerbitan izin HTI-IUPHHK-HT 2002-2006 di Riau oleh 4 bupati di Riau selain tidak mengindahkan kriteria areal juga mengeluarkan perizinan HTI-IUPHHK-HT tumpang tindih dengan izin HPH yang masih aktif. Berdasarkan analisis Eyes on the Forest tahun 2003, terdapat sekitar 21 dari 37 konsesi izin IUPHHK-HT yang dikeluarkan oleh 4 bupati di Riau tumpang tindih dengan konsesi HPH seluas 169. 254 hektar.
PT Madukoro, sebagai salah satu contoh HTI-IUPHHK-HT diberikan pada hutan alam yang produktif dan memiliki potensi kayu komersial yang tinggi dan pada kawasan hutan produksi masih dibebani izin/hak
Izin UPHHK-HT PT Madukoro diterbitkan berdasarkan Surat Keputusan Bupati Pelalawan (T. Az- mun Jaafar) Nomor 522.21/IUPHHK-HT/I/2003/017, tanggal 31-Januari -2003 seluar 14.678 hektar.
Perusahaan PT Madukoro sama halnya dengan IUPHHK-HT PT Triomas FDI tidak terdapat atau tidak termasuk dalam data perusahaan IUPHHK-HT-HTI Kementerian Kehutanan RI tahun 2009. Bahkan perusahaan ini perizinannya belum dilakukan verifikasi oleh Kementerian Kehutanan.
Jika perusahaan UPHHK-HT yang juga diterbitkan Bupati Pelalawan bisa memperoleh izin verifikasi oleh Kementerian Kehutanan, kenapa perusahaan PT Madukoro tidak dilakukan verifikasi dan Kemen- terian Kehutanan tidak segera melakukan pencabutan perizinan tersebut. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.03/Menhut-II/2005 Tentang Pedoman Verifikasi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Alam Dan Atau Pada Hutan Tanaman Yang Diterbitkan Oleh Gubernur Atau Bupati/
Walikota. Maksud verifikasi IUPHHK pada hutan alam dan atau hutan tanaman adalah dalam rangka memberikan kepastian hukum atas IUPHHK yang diterbitkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota dengan tujuan agar pemanfaatan hutan dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
PT Madukoro salah satu perusahaan bentukan Bupati Pelalawan hanya untuk memperoleh perizinan IUPHHK-HT, kemudian setelah penerbitan izin, karena pada kenyataannya tidak memiliki kemam- puan untuk mengelola UPHHK-HT maka atas kesepakatan dengan PT RAPP, PT Madukoro diambali alih (take over) oleh PT RAPP.
Peta 2. Berdasarkan citra landsat 2002, menunjukan konsesi HTI atau IUPHHK-HT PT Madukoro memili- ki tutupan hutan yang masih baik.
BAGIAN KETIGA: TEMUAN DAN ANALISIS PERUBAHAN PRODUK HUKUM TERKAIT HTI
Berdasarkan analisa Citra Landsat 2002, areal yang diberikan untuk pengembangan akasia PT Mad- ukoro berada pada tutupan hijau yang mengindikasikan berada pada tutupan hutan alam yang masih baik. Sehingga perizinan tersebut selain bertentangan dengan Pasal 42 PP 34 Tahun 2002 dan juga bertentangan dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 10.1/Kpts-II/2000 Tentang Pedoman Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman, tanggal 6 November 2000 dan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 21/Kpts-II/2001 Tentang Kriteria Dan Standar Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Pada Hutan Produksi, tanggal 31 Januari 2001.
Sejumlah dokument yang menunjukan bahwa areal PT Madukoro berada pada kawasan hutan alam, antara lain;
• Surat Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Pelalawan (Drs. Edi Suriandi) Nomor 522.22/PI/
III/2005/6705 tanggal 9 Maret 2005, yang isinya antara lain menyebutkan rencana peneban- gan hutan alam seluas 2.853 hektar dengan volume Kayu Bulat=11.354 m3, Kayu Bulat Ke- cil=33.865,11 m3 dan Bahan Baku Serpih=204.702,75m3. Dengan memperhatikan pertimbangan teknis ini Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau (H. Asral Rahman,SH) menyetujui dan menge- sahkan RKT sesuai dengan KPTS/522.2/PK/0110 tanggal 8 April 2005.
• Surat Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Pelalawan (Drs. Edi Suriandi) Nomor 522.22/PI/
III/2006/7403 tanggal 2 Maret 2006. Kemudian atas pertimbangan teknis ini Kepala Dinas Ke- hutanan Provinsi Riau (Drs. Burhanuddin Husin,MM) menyetujui dan mengesahkan RKT sesuai dengan KPTS/522.2/PK/2520 tanggal 10 Juni 2006
Selain diberikan pada kawasan hutan alam yang masih produktif, konsesi IUPHHK-HT PT Madukoro tumpang tindih dengan izin pemanfaatan lainnya yaitu HPH PT Yos Raya Timber. Pada saat izin UPHHK-HT diterbitkan oleh Bupati Pelalawan HPH. PT Yos Raya Timber perizinannya masih aktif berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor. 243/Kpts-II/1989, tanggal 24 Mei 1989.
Hal ini bertentangan dengan Pasal 3 ayat (1) Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 10.1/Kpts-II/2000 Tentang Pedoman Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman, tanggal 6 November 2000, antara lain disebutkan “Areal hutan yang dapat dimohon untuk Usaha Hutan Ta- naman adalah areal kosong di dalam kawasan hutan produksi dan/atau areal hutan yang akan dialih fungsikan menjadi kawasan Hutan Produksi serta tidak dibebani hak-hak lain”.
Hal ini juga bertentangan dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 21/Kpts-II/2001 Tentang Kriteria Dan Standar Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Pada Hutan Produk- si, tanggal 31 Januari 2001. Pada lampiran Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 21/Kpts-II/2001 disebutkan antara lain kriteria dan standar areal yang dapat dijadikan UPHHK-HT adalah tidak dibeba- ni hak antara lain “Kawasan tidak dibebani hak-hak lain sesuai ketentuan yang berlaku seperti HPH, HPHT, HKM dan izin penggunaan kawasan hutan yang mengubah bentang alam seperti pertamban- gan dengan pola tambang terbuka (open pit minning)”.
Diperoleh data dan informasi bahwa HPH PT Yos Raya Timber izinnya berakhir pada tahun 2009 sebagaimana Surat Menteri Kehutanan Nomor S.477/Menhut-IV/2009 Tanggal 22 Juni 2009. Hal ini jelas perizinan UPHHK-HT PT Madukoro bertentangan dengan peraturan teknis kehutanan. Se- bagaimana di dalam Putusan MA No. 736 K/Pid.Sus/2009, HPH PT Yos Raya Timber mendapa- tkan Rp.6.000.000.000 sebagai hasil fee kayu PT Madukoro. Atas penerbitan dan penebangan hutan alam PT Madukoro telah memperkaya PT RAPP sebesar 17.598.512.150 dan menyebab- kan kerugian Negara sebesar Rp.124.033.949.517,76.
Sebagaiman Surat PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP) Nomor 26/RAPP-J/V/2006 tang- gal 8 Mei 2006, meminta dispensasi BKUPHHKHK tahun 2006 terhadap IUPHHK-HT yang bermitra dengan PT RAPP kepada Menteri Kehutanan, salah satunya adalah PT Madukoro. Tetapi Melalui Nota Dinas Nomor ND.130/VI-BPHT/2006 Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan (Hadi S. Pasari- bu) tidak menyetujui dan mengusulkan ke Menteri Kehutanan salah satunya PT Madukoro tidak dapat diberikan dispensasi mendapatkan Bagan Kerja. Kemudian Menteri Kehutanan (MS Kaban) melalui Surat Nomor S.439/Menhut-VI/2006 tanggal 17 Juli 2006 meminta Kepala Dinas Kehutanan Provin-