B. Macam-Macam Perangkat Pembelajaran
3. Bahan Ajar
a. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan salah satu komponen penting dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dengan bahan ajar, pembelajar dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis, sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu.
Gagne dan Briggs, Leslie mendefinisikan bahan ajar sebagai media tertulis atau media lainnya untuk menyampaikan kegiatan
42 42 pembelajaran.38 Menurut Widodo dan Jasmadi (2008:40), bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka pencapaian tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi atau subkompetensi dengan segala kompleksitasnya. Kedua definisi tersebut memiliki pemahaman yang sama bahwa bahan ajar merupakan alat untuk menyampaikan kegiatan pembelajaran yang menampilkan sejumlah kompetensi yang harus dikuasai oleh pembelajar melalui materi-materi pembelajaran yang terkandung di dalamnya.
Bahan ajar memiliki beragam bentuk. Dalam hal ini, Lestari membagi bahan ajar menjadi dua bagian, yakni bahan ajar cetak dan non-cetak.39 Bahan ajar cetak yang sering dijumpai antara lain berupa selebaran, buku, modul, brosur, dan lembar kerja siswa. Sedangkan bahan ajar noncetak meliputi: (1) bahan ajar audio yang berupa kaset, radio, piringan hitam, CD berbentuk audio, (2) bahan ajar audiovisual yang meliputi CD berbentuk video dan film, dan (3) bahan ajar multimedia interaktif yang berupa multimedia pembelajaran berbantu komputer, CD, multimedia pembelajaran interaktif, dan bahan ajar berbasis web. Dalam penelitian ini, bahan ajar yang dikembangkan adalah bahan ajar yang berupa buku, khususnya buku bahan ajar bahasa Inggris yang berisi bahan-bahan atau materi pembelajaran untuk mendukung kegiatan pembelajaran bahasa Inggris di UIN Mataram.
Bahan ajar atau materi pembelajaran memuat pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian, bahan ajar hendaknya dirancang dan disusun berdasarkan kaidah instruksional karena akan
38 Robert M. Gagne and Leslie J. Briggs, Principles of Instructional Design. (Holt, Rinehart & Winston, 1974), 28.
39 Ika Lestari, “Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi,” Padang:
Akademia Permata 1 (2013): 5–6.
43 43 digunakan oleh pengajar untuk membantu dan menunjang kegiatan pembelajaran.
b. Peran Bahan Ajar dalam Pembelajaran Bahasa
Bahan ajar berperan penting dalam pembelajaran bahasa. Banyak pengajar yang menggunakan materi ajar sebagai sumber utama dalam kegiatan pembelajaran mereka. Bahan ajar memberikan dasar bagi isi pelajaran yang akan diajarkan, keseimbangan keterampilan yang diajarkan, dan praktek berbahasa yang bisa dilakukan oleh pembelajar.
Dalam situasi lain, bahan ajar dapat menjadi sumber utama untuk melakukan kontak dengan bahasa yang dipelajari terlepas dari peran pengajar. Jadi, peran materi ajar dalam program pembelajaran bahasa merupakan aspek penting dari pengembangan kurikulum.
Bahan atau materi merupakan suatu contoh atau model yang berisi input yang bisa digunakan oleh pembelajar untuk mengembangkan pengetahuannya. Kaitannya dengan hal ini, Richard mengatakan bahwa bahan ajar berperan sebagai dasar berbagai input bahasa yang diterima oleh pembelajar dan praktek berbahasa di dalam kelas.40 Khusus pengajar yang belum berpengalaman, materi ajar berfungsi sebagai latihan dalam merencanakan, melaksanakan, dan menggunakan format pembelajaran. Selanjutnya, Nunan menjelaskan bahwa materi yang disusun harus mempunyai tujuan dan peran yang jelas untuk pengajar dan pembelajar baik dinyatakan secara eksplisit maupun dalam suatu bentuk rangkaian latihan atau kegiatan yang koheren dan integratif sesuai dengan prinsip komunikasi dan interaksi.41 Selain itu, Cunningsworth mengemukakan bahwa peran bahan ajar dalam pembelajarn bahasa adalah sebagai sumber penyajian materi baik lisan maupun tulisan, sumber praktek bagi pembelajar dan interaksi komunikatif, sumber acuan bagi pembelajar dalam belajar tata bahasa, kosakata, pelafalan, sumber stimulasi dan kegiatan
40 Richards, Communicative Language Teaching Today, 251.
41 David Nunan, Designing Tasks for the Communicative Classroom (Cambridge university press, 1989), 214.
44 44 pembelajaran, merefleksikan tujuan belajar yang telah ditentukan sebelumnya, dan mendukung pengajar yang belum berpengalaman dan yang belum memiliki rasa percaya diri. 42Rodger dalam Nunan mengatakan bahwa kriteria pemilihan isi atau subtansi dalam pengembangan bahan ajar adalah menekankan pada keterampilan yang bisa digunakan sehari-hari, interaktif, mendorong pembelajar aktif mencari pemahaman, membawa pembelajar pada komunikasi yang terduga maupun yang tidak terduga, memberikan kesempatan yang sama dalam melakukan komunikasi atau percakapan, memungkinkan terciptanya komunikasi yang bervariasi, memungkin pembelajar berperan penting dalam kelas, menyesuaikan dengan waktu, membawa pembelajar pada pencapaian hasil tertentu, mencakup keseluruhan aspek keterampilan berbahasa, sederhana dan mudah dimodifikasi, memberikan kesempatan pada pembelajar untuk terlibat dalam pemilihan materi, dan mampu mengukur kemampuan pembelajar.43
Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa peran bahan ajar sangat menentukan keberhasilan proses dan kegiatan pembelajaran. Dengan adanya bahan ajar, pengajar akan lebih runtut dalam mengajarkan bahan atau materi kepada pembelajar dan tercapai semua tujuan pembelajaran yang diharapkan.
c. Prinsip-Prinsip Pengembangan Bahan Ajar
Kesuksesan kegiatan pembelajaran seringkali ditentukan oleh ketersediaan bahan ajar. Pemilihan dan pengembangan bahan ajar dalam kegiatan pembelajaran bahasa hendaknya mempertimbangkan beberapa hal, yaitu isi, pengajar, pembelajar, dan situasi belajar. Jadi, setelah memilih materi yang akan dikembangkan berdasarkan kompetensi yang akan dicapai, pengembang harus memperhatikan
42 Cunningsworth, Choosing Your Coursebook, 7.
43 David Nunan, C. N. Candlin, and H. G. Widdowson, Syllabus Design, vol. 55 (Oxford University Press Oxford, 1988).
45 45 kriteria tentang isi atau substansi materi bahasa yang akan diajarkan kepada pembelajar.
Tomlinson mengemukan beberapa prinsip dasar kaitannya dengan penyusunan dan pengembangan bahan ajar. Bahan ajar yang dikembangkan seharusnya (1) memiliki dampak positif, (2) membuat pembelajar merasa nyaman, (3) membantu pembelajar mengembangkan rasa percaya diri, (4) dipandang pembelajar sebagai sesuatu yang relevan dan bermanfaat, (5) membuat pembelajar rela berusaha karena merasakan manfaatnya, (6) sesuai dengan kesiapan atau bekal yang telah dimiliki pembelajar, (7) memuat fitur bahasa yang harus menjadi perhatian pembelajar, (8) memberikan kesempatan kepada pembelajar menggunakan bahasa sasaran untuk mencapai tujuan komunikatif, (9) mempertimbangkan perbedaan-perbedaan pembelajar dalam gaya belajar dan sifat-sifat afektif mereka, (10) mempertimbangkan kemungkinan terjadi masa diam (pembelajar tidak boleh dipaksa berbicara) pada awal masa pembelajaran, dan (11) memaksimalkan berbagai potensi pembelajar dengan melibatkan kecerdasan intelektual, estetik, dan emosional yang dapat merangsang kegiatan otak kanan dan otak kiri.44
Richard dan Rodger mengemukakan bahwa bahan ajar yang dipilih hendaknya memperhatikan beberapa prinsip, yaitu (1) menekankan pada kemampuan komunikatif dalam menginterpretasi, mengekspresikan, dan menegosiasi, (2) menekankan pada pertukaran informasi yang dapat dipahami, relevan dan menarik, dan (3) menyajikan berbagai macam teks dan media yang dapat digunakan oleh pembelajar mengembangkan kompetensi mereka melalui berbagai aktivitas dan tugas.45
Rossner dan Bolitho menggaris bawahi bahwa bahan ajar hendaknya (1) mampu memberikam informasi baru tentang bagaimana
44 Brian Tomlinson, Materials Development in Language Teaching (Cambridge University Press, 2011).
45 Jack C. Richards and Theodore S. Rodgers, “Approaches and Methods in Language Teaching (Cambridge Language Teaching Library),” Cambridge University, Cambridge (2001): 25.
46 46 bahasa bekerja pada tingkatan formal, (2) memberikan praktek dalam memanipulasi bentuk-bentuk bahasa dan keterampilan berbahasa, (3) memberikan input yang dapat dipahami, (4) memberikan kesempatan untuk mensimulasikan dan melatih situasi komunikatif yang mungkin dihadapi di luar kelas, dan (5) evaluasi diri. Selain itu,46 Tomlinson dan Masuhara mengemukakan bahwa bahan ajar yang dikembangkan hendaknya memberikan fleksibilitas dalam penggunaannya dan memiliki hubungan koherensi.47
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip pengembangan bahan ajar, khususnya bahan ajar bahasa asing, hendakanya berorientasikan pada upaya memberikan semangat, dorongan, dan dukungan bagi pembelajar dalam aktivitas belajar serta membantu mengembangkan kompetensi dan keterampilan mereka dalam berkomunikasi menggunakan bahasa yang dipelajari, yakni dengan merancang aktivitas, tugas, dan latihan yang bervariasi, tepat dan sesuai dalam bahan ajar yang dikembangkan. Dapat dikatakan juga bahwa bahan ajar yang dikembangkan hendaknya mudah untuk digunakan atau diaplikasikan agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.
d. Prosedur Pengembangan Bahan Ajar
Pengembangan bahan ajar, termasuk bahan ajar bahasa Inggris, merupakan kegiatan dalam kategori penelitian dan pengembangan yang lebih dikenal dengan istilah R&D. Borg dan Gall menyederhanakan proses pengembangan buku teks menjadi enam langkah, yakni (1) mengkaji pustaka yang relevan tentang buku teks yang akan ditulis, (2) merencanakan tujuan masing-masing bab atau bagian, (3) mengembangkan draf awal, (4) melakukan uji coba terhadap draf awal pada subjek dengan jumlah terbatas, (5) melakukan revisi
46 Richard Rossner and Rod Bolitho, Currents of Change in English Language Teaching (Oxford University Press, 1990).
47 Brian Tomlinson and Hitomi Masuhara, Developing Language Course Materials.
Portfolio Series# 11. (ERIC, 2004).
47 47 terhadap draf awal berdasarkan hasil uji coba, dan (6) menguji kembali draf yang telah direvisi berdasarkan hasil uji coba pertama pada subjek dengan jumlah yang lebih besar.48
Selain itu, Nunan menjelaskan empat prosedur yang digunakan dalam merancang bahan ajar, yaitu (1) mengidentifikasi bidang minat pembelajar dalam istilah tema yang luas, (2) mengidentifikasi rangkaian situasi komunikasi yang berhubungan dengan tema tersebut dan menghubungkannya tema tersebut untuk membentuk urutan pelaksanaan, (3) memilih bahan ajar yang sesuai dengan situasi yang terdapat dalam urutan pelasanaan, dan (4) memilih butir-butir kebahasaan yang difokuskan dari bahan ajar yang dipilih.49
Selanjutnya, Mollenda menguraikan lima langkah yang harus diikuti dalam mengembangkan bahan ajar, yaitu (1) menganalisis kinerja atau performa dan kebutuahan pembelajar yang akan mengikuti kegiatan pembelajarn atau pelatihan, (2) menentukan pengalaman belajar yang harus dimiliki oleh pembelajar selama mengikuti aktivitas pembelajaran atau pelatihan, (3) mengembangkan bahan ajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, (4) mengimplementasikan bahan ajar dalam kegiatan pembelajaran, dan (5) mengevaluasi dan merevisi bahan ajar berdasarkan hasil pembelajaran yang diperoleh pembelajar dalam proses pembelajaran.50
Lebih jauh, Tomlinson dan Masuhara menyarankan enam langkah dalam pengembangan bahan ajar yaitu (1) menyusun atau merangkai kembali teks yang sudah dipilih untuk merancang kegiatan pembelajaran yang dapat membantu pembelajar mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan, (2) melengkapi bahan ajar yang dikembangkan dengan aktivitas yang dapat membantu pembelajar mencapai kesiapan mental terhadap bahasa target dan membiasakan pembelajar dengan butir-butir bahasa tertentu yang telah disajikan
48 M. D. Gall, W. R. Borg, and J. Gall, “P.(1996),” Educational Research. An Introduction (2003): 573.
49 Nunan, Designing Tasks for the Communicative Classroom, 219.
50 Michael Molenda, “The ADDIE Model,” Encyclopedia of Educational Technology, ABC-CLIO (2003).
48 48 dalam buku ajar, (3) melengkapi bahan ajar yang dikembangkan dengan aktivitas yang dapat membantu pembelajar mengalami apa yang dipelajari dalam proses pembelajaran, (4) melengkapi bahan ajar yang dikembangkan dengan aktivitas yang dapat membantu pembelajar merefleksikan atau merespon apa yang dipelajari dalam bahan ajar, (5) melengkapi bahan ajar yang dikembangkan dengan aktivitas yang dapat membantu pembelajar memproduksi bahasa sesuai dengan apa yang telah dipahami dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata, dan (6) melengkapi bahan ajar yang dikembangkan dengan aktivitas yang dapat membantu pembelajar menemukan tujuan dan ciri kebahasaan yang ada dalam teks.51
Dari keempat prosedur pengembangan bahan ajar yang diuraikan di yang atas, yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah prosedur pengembangan yang dikemukakan oleh Mollenda.52