BAB VI PEMERIKSAAN LAPANGAN
6.6 Bangunan pelengkap
Semua bangunan pelengkap yang berpengaruh pada keamanan pengoperasian bendungan harus diperiksa. Bangunan tersebut termasuk bangunan pelimpah, bangunan intake, sarana pengeluaran darurat, bangunan pengeluaran untuk PLTA, dan bangunan pengeluaran untuk pemeliharaan sungai.
Bangunan pelengkap umumnya memiliki komponen-komponen berikut:
52 a. Saluran pengarah dan saluran keluar
Hampir semua bangunan-bangunan air mempunyai saluran pengarah atau saluran masuk dan saluran keluar yang dibangun pada galian tanah atau batuan. Beberapa bangunan pelimpah dan pelimpah darurat dibangun diatas tanah, batuan atau timbunan. Saluran pengarah umumnya berada dibawah air oleh karenanya perlu pemeriksaan bawah air.
Saluran pengarah harus mempunyai lereng yang stabil dan bebas dari hambatan berupa material longsoran, sampah, tanaman liar, dll. Saluran harus diperiksa kemungkinan adanya lubang benam, arus olakan (eddy) yang bersifat merusak.
Saluran pengarah khususnya pada bangunan pelimpah atau intake perlu dilengkapi dengan log boom untuk trash boom untuk mencegah agar tidak ada orang atau sampah yang mengapung masuk kedalam bangunan intake. Pelampung trash boom harus diangker secara kuat dan tidak menunjukkan adanya kerusakan pada rantai maupun pengikatnya, dan harus bisa melendut untuk dapat beroperasi dengan baik pada elevasi waduk dalam keadaan rendah atau tinggi. Perlengkapan ini harus diperiksa apakah bisa dilakukan pemeliharaan, dan diperiksa terhadap barang- barang yang terbawa arus dan sampah lainnya.
Saluran akhir harus diperiksa apakah terjadi degradasi yang berlebihan yang akan berpengaruh buruk pada karakteristik hidrolis dari bangunan akhir (terminal structure), juga diperiksa kemungkinan adanya sembulan air (boils), atau piping b. Bangunan beton
Bagian beton dari bangunan pelimpah, bangunan keluaran, dan keluaran PLTA semuanya mempunyai kesamaan fungsi hidrolik dan struktur dasar, oleh karenanya teknik dan objek pemeriksaannya juga sama. Mercu bangunan pelimpah, ambang intake tidak boleh dinaikkan dengan pasangan atau dipasang papan/balok sekat untuk menaikkan muka air waduk tanpa didiskusikan lebih dulu dengan KKB.
Permukaan beton harus diperiksa apakah terdapat kerusakan yang disebabkan oleh pelapukan, tegangan berlebihan atau tegangan tidak biasa, reaksi basa atau reaksi kima lainnya, erosi, kavitasi, vandalisme, dll.
Bangunan menara pelimpah, menara intake, shaft yang dibuat dengan gali dan timbun (cut & cover) harus diperiksa apakah terjadi penurunan yang tidak sama (differential settlement).
Garis kelurusan dinding saluran harus diperiksa, mengingat bahwa dinding yang bersifat kantilever akan membengkok kedalam dibandingkan dinding yang diperkuat dengan balok perkuatan (counterfort) atau konstruksi pengaku lainnya.
Permukaan panel dinding dan lantai di dekat dan di hilir sambungan kontraksi melintang harus rata dengan permukaan di hulunya ataupun sedikit terbenam agar panel dinding/lantai tidak rusak apabila terjadi aliran dengan kecepatan besar.
Semua sambungan kontraksi harus bersih dari tumbuhan/tanaman. Saluran aerasi harus bersih dari tanah maupun sampah.
Terowongan dan pipa air termasuk pipa pesat harus diperiksa apakah terdapat retak karena tegangan, penonjolan, perpindahan alignment, dan bocoran yang besar.
Semua jalan air maupun udara harus bebas dari hambatan-hambatan. Bagian/lokasi yang mudah mengumpulkan kotoran harus dicatat.
Semua timbunan didekat bangunan harus diperiksa apakah terjadi penurunan atau bertambah dalam karena terjadi perpindahan tanah. Kontak antara timbunan dan bangunan harus diperiksa apakah terjadi erosi buluh. Semua lereng yang dipotong atau ditimbun dekat dengan bangunan harus diperiksa apakah terjadi kondisi yang tidak stabil.
53 Jembatan dan lantai pelayanan (service deck) termasuk penyangganya harus diperiksa kondisinya dan fungsinya. Semua alur pintu/sponning untuk saringan sampah, pintu-pintu, atau konstruksi mekanikal lainnya harus dalam kondisi baik.
Semua konstruksi drainasi harus bersih/terbuka dan bisa berfungsi baik. Air drainasi dan rembesan dialirkan jauh dari konstruksi baja seperti tabung-tabung listrik, pipa- pipa, dan instalasi listrik. Ventilasi udara drainasi kolam olak harus diperiksa apakah saringannya terpasang dan ventilasinya terbuka.
Tanda bekas permukaan aliran pada berbagai debit pada dinding bangunan harus dipelajari untuk mendapatkan indikasi karakteristik aliran melalui bangunan tersebut.
Pelindung lereng saluran didekat bangunan peredam enersi harus diperiksa apakah bisa berfungsi dengan baik sebagaimana direncanakan. Diperlukan perhatian khusus kemungkinan terjadinya material yang terbawa keluar bangunan atau kedalam bangunan selama pengoperasian.
c. Peralatan Hidromekanik dan listrik
Peralatan hidromekanik dan system kelistrikannyua harus diuji operasi sampai batas bukaan penuh sesuai dengan kondisi operasi sebenarnya untuk mengetahui bahwa peralatan tersebut berfungsi dengan baik/memuaskan. Periksa apakah pelumasan dan pengoperasian peralatan tersebut dilaksanakan dengan baik hingga tidak terjadi macet, getaran, bunyi-bunyi yang tidak biasa, dan terlalu panas. Kecukupan dan keandalan catu daya juga harus diperiksa selama pengoperasian peralatan. Sumber daya listrik tambahan dan sistem kendali jarak jauh (remote control) harus diperiksa pula untuk dapat dioperasikan dengan baik dan dapat diandalkan. Semua bagian peralatan yang bisa dimasuki harus diperiksa apakah terjadi kerusakan, berkurang kualitasnya, korosi, kavitasi, renggang, aus, atau ada bagian yang pecah.
Sling harus diperiksa apakah diberi pelumas dengan baik. Kawat-kawat dan tali yang berubah bentuk, pecah, atau berkarat, harus dicatat. Sambungan sling atau rantai pada pintu-pintu harus diperiksa apakah terjadi aus atau pecah.
Sekat (seal) pintu dari karet atau neoprene harus diperiksa apakah berkurang kualitasnya, retak, aus dan bocor.
Periksa kemungkinan adanya kebocoran pada Sistem hidraulik (selang, sambungan, seal motor, dll) dan system pengendalinya. Torak angkat (hoist piston) dan batang indikator harus diperiksa apakah terjadi kontaminasi dan ada bagian-bagian yang kasar yang dapat merusakkan paking.
Periksa stang pintu dan gigi penggeraknya/kopling apakah terjadi korosi. Adakah bagian-bagian yang pecah, rusak, periksa kondisi lapisan pelindung (protective coating).
Jalur-jalur cairan, daun pintu/katup, dudukan metal (bearing), dan perapat pintu (seal) dan katup harus diperiksa apakah terjadi kerusakan karena kavitasi, aus, tidak sentris, korosi, dan bocor. Pompa penghisap bocoran (sump pumps) harus diperiksa dan dioperasikan untuk membuktikan kinerja yang bisa diandalkan dan memuaskan.
Periksa airvents untuk pintu dan katup untuk memastikan bahwa mereka terbuka dan terlindung.
Instruksi pengoperasian harus dipasang di dekat peralatan bersangkutan dan periksa apakah cukup jelas. Semua sistem kendali peralatan harus dicek keamanannya untuk memastikan bahwa orang yang tidak berhak tidak dapat mengoperasikan atau mengganggu kerja peralatan.
Pintu atau katup untuk mengatur elevasi muka air waduk harus diperiksa apakah bisa berfungsi dengan baik. Peralatan mekanikal dan elektrikalnya harus dicek perlindungannya terhadap cuaca dan apakah telah terjadi kerusakan karena kurang perlindungan. Sistem ventilasi dan pemanas harus dioperasikan untuk mengecek
54 kapasitasnya dalam mengatur kelembaban lingkungan peralatan mekanikal dan elektrikal. Balok sekat, pintu bulkhead, dan rangka serta batang-batang angkat (lifting frames and beams) harus diperiksa untuk menentukan apakah dapat difungsikan dan dalam kondisi baik. Ketersediaan peralatan untuk menggerakkan, mengangkat, dan menempatkan balok sekat, bulkhead, dan penyaring sampah (trashracks) harus dicek.
Selama atau sesudah pemeriksaan lapangan, harus dilakukan diskusi dengan operator atau petugas OP bendungan untuk mengetahui apakah ada kondisi-kondisi yang tidak biasa atau persoalan-persoalan dengan peralatan. Hasil diskusi dan pengoperasian peralatan harus digunakan untuk membuktikan bahwa operator bendungan memahami dan memenuhi syarat untuk mengoperasikan peralatan.
Praktek/cara pemeliharaan dan uji operasi juga harus didiskusikan untuk memastikan apakah memadai dan sesuai dengan Kriteria Operasi Pendesain (Designer’s Operating Criteria) dan Standar Prosedur Operasi .
Akses untuk mengendalikan pengoperasian pintu-pintu bila terjadi keadaan darurat dan kondisi yang buruk harus dievaluasi. Kemungkinan pengendalian jarak jauh harus dipertimbangkan. Bila keadaan tidak memungkinkan untuk memeriksa ataupun untuk mengoperasikan pintu-pintu atau katup-katup, harus dijadwalkan untuk dapat dilakukan pada kesempatan lain.
d. Sumber Daya Listrik Cadangan
Sumber daya listrik cadangan yang memadai harus disediakan untuk pengoperasian pintu-pintu dan peralatan lainnya dalam keadaan darurat ketika sumber daya listrik yang normal tidak tersedia. Sumber daya cadangan tersebut harus mempunyai kapasitas cukup untuk beroperasi dengan beban maksimum yang disyaratkan dalam Kriteria Operasi Pendesain dan Prosedur Operasi Setempat. Persediaan bahan bakar harus cukup untuk mengoperasikan unit sumber daya listrik cadangan untuk menghasilkan tenaga maksimum yang diantisipasi dari sumber daya listrik normal.
Selama pemeriksaan, sumber daya listrik tambahan harus digunakan untuk mengoperasikan pintu-pintu dan peralatan lain untuk menentukan apakah sistemnya dapat beroperasi dan memadai. Peralatan pemadam kebakaran, pengeluaran gas buangan yang berjalan baik, dan perlindungan terhadap vandalisme harus diperiksa.
Petunjuk pengoperasian yang dengan jelas menguraikan cara mengoperasikan tenaga listrik cadangan secara manual, harus diletakkan didekat peralatan tersebut.
Sistem-sistem operasi otomatis harus diperiksa apakah dapat beroperasi dengan baik. Sistem-sistem ini umumnya tidak memerlukan instruksi pengoperasian. Semua skakelar/tombol dan kelep-kelep harus diuraikan didalam petunjuk pengoperasian dan diidentifikasikan/ditandai dengan jelas. Frekuensi latihan/ percobaan, prosedur pemeliharaan, dan persoalan-persoalan operasional harus dibicarakan dengan operator.
e. Jalan Masuk
Pengoperasian bendungan yang aman banyak tergantung pada jalan masuk yang aman dan memadai. Umumnya cara memasuki lokasi bendungan adalah melalui jalan darat. Jalan tersebut harus merupakan jalan dengan konstruksi yang bisa dipakai dalam segala cuaca bagi mobil dan peralatan-peralatan lain yang diperlukan guna melayani bendungan dalam segala cuaca. Muka jalan dan jembatan harus terletak cukup aman diatas muka air banjir dari sungai-sungai yang berdekatan.
Apabila jalan masuk tidak dapat digunakan dengan baik dalam keadaan darurat, cara lain untuk memasuk lokasi bendungan harus sudah ditentukan, misalnya dengan helikopter atau lainnya.
55