BAB V RAGAM KEGAGALAN BENDUNGAN DAN PENYEBABNYA
5.2 Contoh ragam dan penyebab kegagalan bendungan
Adanya potensi kerusakan atau kerusakan pada bendungan urugan atau bendungan beton termasuk fondasinya, dapat diketahui dengan mempelajari secara teliti terhadap laporan desain, pelaksanaan konstruksi, kajian data instrumen serta catatan kinerja sebelumnya yang dikombinasikan dengan pemeriksaan lapangan.
Harus difahami bahwa waduk yang penuh air menimbulkan tekanan hidrostatis yang besar pada fondasi maupun tubuh bendungan. Sistem drainasi harus dapat mengendalikan aliran rembesan maksimum dengan aman. Waduk yang penuh air mengandung potensi bahaya yang sangat besar bila terjadi keruntuhan bendungan.
Dibawah disebutkan beberapa contoh ragam kegagalan dan kelemahan yang sering terjadi pada bendungan dan fondasi. Beberapa kondisi kurang baik yang dapat menjadi penyebab kegagalan bendungan, sering dapat diketahui dari permeriksaan lapangan seperti yang dijelaskan pada Bab VI Pemeriksaan Lapangan.
RAGAM DAN PENYEBAB KEGAGALAN BENDUNGAN Ragam Kegagalan Penyebab
Kemerosotan mutu fondasi Terhanyutnya butiran tanah (erosi internal;
piping) dan material yang mudah larut;
Bergesernya batuan fondasi;
Tergali atau tergerusnya bagian bawah fondasi atau tumpuan.
Ketidakstabilan fondasi Fondasi luluh/likuifaksi;
Fondasi longsor (kuat geser rendah, ekspansif, terlarut, piping, hancurnya material serpih dan sepentin oleh rembesan, dll.);
Penurunan fondasi (akibat penyedotan minyak bumi, fondasi tanah lunak);
Pergerakan pada patahan/sesar.
Kerusakan bangunan pelimpah Terdapat penghalang/hambatan aliran;
Tembok/dinding samping pelimpah pecah;
Aliran melampaui kapasitas;
Kerusakan pintu dan alat angkat;
Gerusan pada fondasi;
Kerusakan pintu dan alat angkat pada pelimpah berpintu.
28 Kerusakan bangunan pengeluaran Terdapat penghambat aliran;
Penumpukan endapan;
Kerusakan pintu dan alat angkat;
Posisi pintu tidak tepat/miring.
Kemerosotan mutu beton Reaksi alkali pada agregat;
Pelumeran (leaching).
Kerusakan bendungan beton Tekanan angkat (up lift) terlalu tinggi;
Tidak diantisipasinya distribusi tekanan angkat angkat.
Perbedaan pergeseran dan defleksi Tegangan yang berlebihan Kerusakan bendungan urugan Potensi likuifaksi
Ketidak stabilan lereng Bocoran terlalu besar
Terhanyutnya butiran tanah (erosi internal, piping) dan material yang mudah larut.
Erosi permukaan lereng.
Kerusakan tebing atau bukit Lolos air;
sekeliling waduk Ketidak stabilan lereng;
Kelemahan pada tebing atau bukit.
5.2.1 Kerusakan Fondasi
Kerusakan fondasi, sangat terkait erat dengan kualitas fondasi dan perbaikan fondasi. Perbedaan penurunan, longsoran, tekanan berlebihan, lapisan atau zona lemah, tidak memadainya pengendalian rembesan, merupakan mekanisme keruntuhan yang dapat terjadi pada fondasi.
Retakan yang terlihat pada bendungan dapat mejadi petunjuk terjadinya pergerakan fondasi. Kurang stabilnya suatu fondasi, kadang-kadang dapat diketahui dengan memeriksa secara teliti pada dokumen desain dan catatan pelaksanaan konstruksi.
Penurunan suatu daerah yang disebabkan oleh penyedotan air tanah atau hidrokarbon (a.l. minyak bumi) dapat menyebabkan penurunan fondasi dan keretakan bendungan. Penurunan fondasi dan tubuh bendungan yang mengakibatkan retak-retakan dapat terjadi karena kerusakan tanah fondasi sebagai akibat pembebanan dan pembasahan material fondasi. Kerusakan ini dapat terjadi pada fondasi berupa pasir halus ataupun lanau dengan kepadatan rendah dan kadar air alami rendah. Terjadinya penurunan yang diikuti keretakan material timbunan akan menjadi bahaya besar bila timbunan mengandung tanah yang bila berubah bentuk mudah retak.
Material fondasi yang memiliki kuat geser residual (residual shear strength) yang rendah atau terdapat lapisan material lemah seperti bentonite (bersifat ekspansif), dapat menyebabkan longsornya fondasi dan timbunan. Demikian pula lapisan material lulus air pada fondasi yang tidak dilengkapi dengan sumur pelepas tekanan (pressure relief well) dapat menimbulkan gaya angkat yang besar dan menyebabkan longsornya fondasi.
Rembesan lewat fondasi dapat menyebabkan erosi buluh (piping) atau erosi pada material mudah larut melalui proses pencucian atau pelarutan (solution/leaching).
Terlarutnya material fondasi akan membentuk rongga-rongga yang terus bertambah
29 Gambar 5.1: Pelarutan/leaching pada beton gallery (atas) dan pada batuan adit
ditumpuan (bawah)
besar sehingga meruntuhkan material yang tidak disangga dan sebagai akibatnya adalah terjadinya keruntuhan pada sutu bagian fondasi. Air rembesan juga dapat menghancurkan material fondasi, seperti pada batu serpih (shales) dan serpentin.
Sebagian kelemahan-kelemahan diatas dapat dideteksi dengan pemeriksaan visual sekitar fondasi selama pemeriksaan lapangan. Terlarutnya material fondasi yang mudah larut (solution of soluble materials) melalui proses pencucian, dapat dideteksi dengan analisis kimia rembesan. Meningkatnya debit rembesan, dapat merupakan tanda adanya proses pelarutan atau erosi buluh. Dengan mempelajari data desain, dapat diketahui adanya potensi kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan, seperti
30 adanya batuan serpih yang sangat reaktif terhadap air, lempung dispersif (dispersive clays), material yang mudah larut (soluble materials) dan lain sebagainya.
5.2.2 Kerusakan Bangunan Pelimpah dan Bangunan Pengeluaran
Kerusakan pada bangunan pelimpah atau bangunan pengeluaran, dapat disebabkan oleh tidak memadainya bangunan tersebut secara hidrolis, struktural, maupun terjadinya kegagalan operasi.
Kapasitas bangunan pelimpah mungkin akan menjadi tidak aman untuk melewatkan aliran banjir. Hasil pemutakhiran banjir desain mungkin akan diperoleh banjir desain yang jauh lebih besar dari banjir desain asli, karena digunakannya metode analisis yang lebih baik dan tersedianya seri data banjir yang lebih panjang. Karena berubahnya banjir desain, mungkin bangunan pelimpah menjadi tidak mampu melewatkan banjir desain dengan aman, sehingga ada kemungkinan terjadinya limpasan diatas tubuh bendungan yang dapat berakibat pada keruntuhan bendungan. Pada beberapa kasus, bangunan pengeluaran juga digunakan untuk membantu bangunan pelimpah dalam melepas banjir, atau bahkan menjadi satu- satunya sarana untuk melepaskan banjir rencana. Bila hasil pemutakhiran banjir desain ternyata jauh lebih besar dari kapasitas bangunan tersebut, maka perlu dilakukan pembatasan pengoperasian waduk atau dilakukan modifikasi pada bangunan pelimpah maupun bangunan pengeluaran. Estimasi banjir rencana yang ada, harus dikaji ulang untuk mengetahui apakah estimasi tersebut masih sesuai dengan kriteria terbaru yang berlaku.
Catatan pengoperasian bangunan bangunan pelimpah dan bangunan pengeluaran, perlu dipelajari untuk mengetahui apakah komponen-komponennya seperti pintu- pintu, katup, bangunan pengendali, intake, saluran peluncur, pemecah enersi, sudah berfungsi dengan baik selama ini.
Banyak kondisi buruk seperti: hambatan pada aliran, kelemahan struktur bangunan, persoalan-persoalan fondasi dan drainasi yang tidak baik, dapat dideteksi secara visual pada saat inspeksi dilapangan. Keruntuhan struktur pada pipa, terowongan, dapat menghambat sistem pelepasan air. Terjadinya penumpukan batu/kerikil dan terbentuknya pulau dihilir bangunan pengeluaran dapat mengurangi kapasitas saluran hilir dan mempengaruhi sistem aliran. Sebaliknya degradasi pada saluran hilir akan menurunkan muka air hilir dan mengakibatkan kurang berfungsinya kerja peredam enersi. Runtuhnya pelindung lereng hilir yang berakibat pada runtuhnya tebing, dapat pula menggangu aliran di hilir.
Longsoran lereng diatas bangunan pemasukan (intake), dapat menghambat aliran masuk dan merusak bangunan serta konstruksi baja seperti pintu-pintu, alat angkat, motor penggerak, dan lain-lainnya.
Tanaman yang tumbuh di saluran pemasukan, sampah, serta kayu yang mengapung dan mengumpul di depan pintu intake akan mengganggu aliran. Begitu juga endapan yang terkumpul dapat mengganggu aliran keluar, bila tidak dibersihkan secara teratur.
Kolam olak dapat menjadi tampungan batu, kerikil, atau kotoran lainnya, yang dapat mengganggu aliran secara hidrolika dan menyebabkan erosi pada permukaan beton sehingga timbul kerusakan yang lebih besar pada kolam olak.
Retakan dan pergerakan bangunan beton menandakan adanya kerusakan bangunan, hal ini harus segera diselidiki penyebabnya. Gerakan fondasi, gaya angkat, beban gempa, tidak berfungsinya drainasi, perubahan beban, dan lain-lainya dapat menjadi penyebab kerusakan bangunan beton. Pada bangunan pelimpah dan bangunan keluaran yang mengalirkan air dengan cepat, dapat terjadi kavitasi yang
31 disebabkan oleh adanya: beton yang pecah atau permukaan beton yang tidak rata, adanya konstruksi baja, ataupun bahkan tetesan cat atau hasil pengecatan yang tidak baik. Untuk itu, seluruh sistem harus diperiksa dalam keadaan kering dengan menutup pintu penyekat depan (bulkhead).
Semua tembok penahan tanah harus diperiksa kemungkinan adanya tanda-tanda kerusakan, demikian pula kemungkinan tidak berfungsinya drainasi sebagaimana yang direncanakan.
Bangunan pelimpah dan bangunan keluaran yang dikendalikan oleh pintu atau katup, hanya dapat berfungsi sesuai desain bila pintu dan katupnya dapat dioperasikan sesuai desain pula. Bila bangunan pelimpah atau bangunan pengeluaran tidak dapat dioperasikan karena kegagalan operasi pada pintu, katup, ataupun peralatan operasi lainnya, maka hal ini dapat mengancam keamanan bendungan. Kegagalan operasi ini dapat disebabkan oleh, antara lain:
Terjadinya penurunan atau gerakan bangunan pendukung yang akan memacetkan pintu.
Kemerosotan mutu, usang, kendor atau kerusakan bagian-bagian pintu
Bengkoknya komponen-komponen
Kurang seringnya dilakukan uji coba
Kurangnya pelumasan/pemeliharaan
Timbulnya getaran
Tatacara pengoperasian yang tidak benar
Desain kurang baik
Rusaknya sumber tenaga listrik
Perusakan oleh manusia
Terputusnya jalan masuk akibat banjir atau kondisi darurat lainnya.
Pengoperasian yang tidak benar dari bangunan pelengkap dapat menyebabkan berbagai jenis keruntuhan bendungan, misalnya terjadinya luapan diatas bendungan karena kesalahan pengoperasian ruang tampung banjir atau kurang cepatnya pelepasan banjir melalui bangunan pelimpah dan bangunan keluaran. Penurunan air waduk yang terlalu cepat dapat menyebabkan longsornya lereng hulu bendungan.
Kurangnya pemeliharaan peralatan mekanik dapat meyebabkan kegagalan operasi justeru pada saat alat tersebut sangat dibutuhkan.
Bangunan-bangunan air kadang-kadang mempunyai batas-batas tertentu untuk dapat dioperasikan dengan aman. Bangunan pelimpah atau bangunan pengeluaran yang berpintu banyak, kadang-kadang harus dioperasikan secara simetris untuk memenuhi persyaratan didalam desain kreteria. Pukulan air (waterhammer), kecepatan air yang terlalu tinggi, getaran, dan lain-lain, adalah hal-hal yang harus dikendalikan untuk bisa mengoperasikan bangunan dengan aman. Batasan- batasan, larangan-larangan, dan instruksi-instruksi untuk pengoperasian peralatan dengan baik dan aman harus dibuat oleh Pendesain dan harus ada lokasi bendungan, dalam bentuk Prosedur Operasi Tetap/Setempat (Standing Operating Procedure), serta Panduan Operasi dan Pemeliharaan Bendungan. Prosedur dan Panduan harus diikuti oleh operator bendungan, karena apabila tidak, akan mengancam keamanan bendungan atau bahkan dapat menimbulkan keruntuhan bendungan.
5.2.3 Pengendalian Rembesan Tidak Memadai
Masalah rembesan dapat terjadi pada bendungan beton maupun pada bendungan urugan, baik melalui tubuh bendungan maupun fondasi dan tumpuannya.
32 Pada bendungan beton, sumber utamanya adalah pada sepanjang sambungan kontraksi, sambungan pelaksanaan konstruksi yang tidak menyatu, maupun sambungan datar antara lapisan pembetonan bagian bawah dengan lapisan diatasnya. Retakan pada beton massif juga dapat menjadi penyebab rembesan.
Drainasi pipa yang dipasang didalam bendungan dimaksudkan untuk memotong jalannya rembesan dan mengurangi tekanan yang dapat terjadi pada retakan ataupun sambungan datar.
Rembesan tidak terkendali yang melalui tubuh bendungan urugan, dapat menyebabkan pergerakan butiran tanah keluar ketempat yang tidak dilindungi atau tidak diberi filter dengan baik, hal ini akan menyebabkan tejadinya rongga-rongga, yang akan mengarah pada terjadinya keruntuhan akibat erosi buluh (piping).
Pemadatan yang kurang baik, penurunan tidak merata, material timbunan lulus air, terdapatnya akar, tonggak, atau kotoran didalam timbunan sebagai akibat dari pengawasan pelaksanaan yang tidak memadai, dapat menyebabkan terjadinya rembesan besar melalui timbunan.
Rembesan tidak terkendali yang melalui bukit tumpuan atau fondasi bendungan beton, dapat membentuk aliran buluh atau rongga, yang menyebabkan terjadinya hubungan antara bagian-bagian bukit tumpuan dan mengakibatkan terpusatnya tekanan pada beton. Pada fondasi bendungan urugan, rembesan yang tidak terkendali juga dapat membentuk aliran buluh atau “terowong-terowong” dibawah bendungan. Ini akan menyebabkan runtuhnya material disekitarnya, kemudian disusul dengan retakan penurunan, yang akhirnya dapat berakibat pada runtuhnya bendungan.
Rembesan tidak terkendali, dapat pula menyebabkan tekanan air pori berlebih didalam tubuh bendungan ataupun pada fondasi, yang akan melemahkan massa tanah dan mengakibatkan terjadinya mata air, sembulan butiran pasir (sand boils), keruntuhan bukit tumpuan, serta keruntuhan lereng hulu dan hilir. Tekanan pori yang berlebihan dapat disebabkan oleh perkolasi air melalui daerah lulus air pada tubuh bendungan atau melalui sepanjang rekahan pada fondasi yang menerus sampai di waduk, atau disebabkan oleh terjadinya surut cepat pada air waduk. Tekanan pori yang berlebihan, dapat pula terjadi selama pelaksanaan konstruksi akibat pelaksanaan timbunan material yang terlalu cepat atau penimbunan dengan material yang terlalu basah.
Rekah hidraulik (hydraulic fracturing) adalah terbukanya (rekah) lapisan tanah/batuan yang terjadi karena tekanan hidrolik atau tekanan air (bekerja kesemua arah) pada titik yang ditinjau lebih besar dari pada tekanan atau tanah diatasnya.
Rekah hidraulik pada tanah yang sangat mudah tererosi seperti lanau atau pasir lanauan yang tidak dilindungi dengan filter, akan mengakibatkan partikel tanah terbawa aliran rembesan dengan cepat dan menyebabkan runtuhnya tubuh bendungan. Pengeboran pada tubuh bendungan urugan untuk keperluan penyelidikan, pemasangan instrumen, atau untuk grouting, dianggap sebagai sumber terjadinya rekah hidrulik yang kurang diperhatikan.
Retak penurunan (settlement cracks) yang disebabkan oleh adanya material kompresif (compressible) dalam timbunan atau fondasi juga dapat menimbulkan alur rembesan. Retak susut (shrinkage cracks) karena digunakannya material lempung yang sangat plastis dalam timbunan juga dapat menyebabkan terjadinya erosi buluh.
Sebab-sebab lain terjadinya rembesan yang berlebihan adalah liang binatang, akar pohon besar, dan bocoran pada atau sepanjang konduit yang ditanam didalam timbunan.
33 Efek buruk rembesan pada bendungan urugan tanah tipe zona, biasanya dikendalikan dengan filter untuk mencegah terjadinya erosi buluh pada tubuh bendungan ataupun fondasi. Namun, apabila filter tidak didesain atau dikonstruksi dengan baik sehingga tidak mampu menampung volume rembesan dan mencegah terjadinya aliran buluh, maka erosi buluh masih dapat terjadi.
Peristiwa atau tindakan biologi dan kimiawi dapat menyebabkan tersumbatnya drainasi dalam bendungan maupun pada fondasi, yang bila dibiarkan rembesan akan mencari jalan keluar yang dapat mengancam keamanan bendungan.
Tekanan angkat (up lift) dapat terjadi pada dasar bendungan karena perkolasi atau rembesan air di sepanjang lapisan di bawahnya, atau pada bidang kontak antara timbunan dan fondasi. Pengukuran tekanan angkat akan dapat mengetahui keberhasilan grouting pada fondasi dan sistem drainasi yang direncanakan. Bila gaya angkat keatas yang diukur lebih besar daripada asumsi desain, kestabilan bendungan berkurang. Bila tekanan angkat sangat besar/ekstrim atau tidak terduga sebelumnya atau distribusinya tidak sesuai desain, perlu diadakan dilakukan studi lebih lanjut.
5.2.4 Material Cacat dan Mutu Rendah
Material yang cacat atau bermutu rendah yang dipakai dalam pelaksanaan konstruksi dapat mengakibatkan merosotnya mutu dan kemungkinan terjadinya keruntuhan bendungan. Penggunaan agregat yang reaktif pada bendungan beton dapat menjadi penyebab utama kemerosotan mutu beton. Penggunaan agregat yang sangat basa (alkali) dengan semen alkali rendah, dapat menyebabkan reaksi alkali yang berakibat pengembangan massa beton, dan terjadinya retak permukaan serta kemerosotan mutu. Pengembangan beton juga dapat menyebabkan macetnya peralatan pintu, katup, dan alat operasi, merosotnya mutu beton pada penyangga pekerjaan baja.
Agregat yang kekuatannya rendah atau sifat lekat beton yang tidak baik akan menghasilkan beton mutu rendah yang menyebabkan retak atau bagian beton bendungan yang rusak. Agregat yang terkontaminasi dengan tanah, lempung, mika, arang, pecahan kayu, bahan-bahan organik, garam kimia, atau lapisan permukaan, akan menghasilkan beton dengan mutu dan ketahanan rendah. Adanya mineral dalam air yang digunakan untuk campuran beton juga akan menghasilkan beton yang tidak memuaskan.
Material dengan mutu rendah atau cacat dalam tubuh bendungan urugan akan menimbulkan masalah serius. Material yang mudah larut, mengalami degradasi, kehilangan kekuatan, atau mengalami perubahan mineralogi, tidak baik untuk dipakai pada bendungan urugan karena akan menimbulkan masalah serius.
Terlarutnya material yang “soluble” seperti gypsum dapat menyebabkan terbentuknya saluran dalam bendungan yang kemudian menyebabkan erosi buluh serta rembesan yang bertambah besar. Lempung dispersif juga akan menyebabkan mudah terjadinya erosi buluh bila terkena aliran air yang mengandung kadar larutan garam rendah.
Hilangnya kekuatan dan terjadinya longsoran permukaan lereng dengan lempung yang sangat plastis atau lempung yang ekspansif dapat terjadi dekat permukaan lereng ketika tanah yang dipadatkan mengembang secara berangsur-angsur, menyebabkan retak karena lepasnya kandungan air, dan longsor ketika material menjadi basah lagi.
Material tanah dengan kepadatan rendah, kenyang air, dan tidak berkohesi, dalam timbunan dan pada fondasi dapat mengalami pertambahan tekanan pori yang besar
34 dan kehilangan kekuatan geser bila terkena tegangan geser yang disebabkaan oleh imbas gempa. Tergantung beberapa faktor, maka timbunan dapat mengalami ketidak stabilan, penurunan yang besar, dan kehilangan tinggi jagaan, atau retak.
Bendungan yang dikonstruksi dengan teknik penimbunan secara hidrolik (hydrulic fill) akan lebih mudah mengalamai kerusakan oleh imbas gempa karena punya potensi menjadi likuifaksi yang diakibatkan oleh beban gempa.
Gambar 5.2: Reaksi alkali pada beton,mengakibatkan beton mengembang dan akhirnya retak-retak
5.2.5 Kemerosotan Mutu Beton dan Kostruksi Baja
Bendungan beton atau bangunan pelengkap seperti bangunan pelimpah, dapat mengalami kerusakan karena terjadinya kemerosotan mutu beton. Kemerosotan ini paling sering terjadi adalah akibat terjadinya:
1) reaksi antara aggregat dengan basa (alkali);
2) reaksi asam anorganik, sulfat, dan garam-garaman;
3) proses pelumeran (leaching) beton, erosi, kavitasi;
4) terjadinya tegangan (stress) yang berlebihan.
Reaksi aggregate dengan basa merupakan hasil reaksi kimia antara kandungan basa dalam semen dan kandungan mineral dalam agregat beton, yang berakibat pada kemerosotan mutu yang parah pada massa beton. Biasanya, tanda awal dari reaksi kimia adalah lepasnya ikatan antara sambungan lapis–lapis pengecoran horizontal pada blok-blok beton. Berkurangnya kekuatan beton akibat lepasnya ikatan, dikombinasi dengan bertambahnya tekanan hidrostatis sepanjang sambungan horizontal yang terbuka, akan mengurangi factor keamanan terhadap geser dan guling. Kekuatan beton sendiri juga akan berkurang karena reaksi kimia ini.
Kondisi ini dapat ditandai oleh adanya hal-hal sebagai berikut:
1) Retakan yang biasanya dengan pola acak dan dengan ukuran cukup besar;
2) Pengembangan internal dan ekspansi keseluruhan yang berlebihan;
3) Retakan-retakan besar di permukaan beton dengan lebar bukaan sampai 3-4 cm, kedalaman hanya sampai 15-20 cm;
4) Lepasnya gelatin, terdapat deposit keputih-putihan tanpa bentuk tertentu dipermukaan atau dalam beton;
5) Pada partikel aggregate terjadi zona reaktif, perubahan, atau infiltrasi, khususnya agregat yang mengandung opal, jenis asam tertentu, dan batuan volkanik;
6) Pada retak yang baru terjadi kenampakan seperti kapur putih.
Kemerosotan mutu beton akibat erosi , penyebab utamanya adalah:
Kavitasi,
Abrasi karena aliran air membawa material,
35
Abrasi karena lalu lintas diatasnya,
Terpaan angin
Gambar 5.3: Foto permukaan beton kolam olak yang mengalamia abrasi (kiri) dan permukaan beton yang mengalami kavitasi (kanan)
Kemerosotan mutu beton, dapat menyebabkan timbulnya tegangan yang tidak biasa atau tegangan yang ekstrim pada bangunan. Sekali terjadi pergeseran atau retakan, kerusakan akan terus berlanjut walaupun pada kondisi cuaca normal sekalipun.
Terjadinya tegangan yang berlebihan pada beton, dapat dikenali dari indikasi berikut:
1) timbulnya area kerusakan dan retakan yang biasanya dapat dilihat secara visual;
2) bukaan pada sambungan pengecoran, sambungan kostraksi;
3) perubahan debit bocoran, perbedaan gerak, dan lain sebagainya.
Tegangan yang berlebihan dapat pula terjadi karena adanya perubahan beban dari luar, fluktuasi suhu, tekanan grouting pada sambungan kontraksi, pergerakan fondasi, gaya angkat yang berlebihan pada fondasi atau pada sambungan pengecoran horisontal.
Pada bangunan pelimpah, bangunan pengeluaran dan tembok penahan tanah , kemerosotan mutu beton juga dapat diakibatkan oleh penurunan fondasi, getaran aliran air banjir, atau dari pengoperasian peralatan mekanik.
Pada konstruksi baja, penyebab kemerosotan mutu adalah: karat, kavitasi, dan keusangan, yang akibatnya akan mengurangi kekuatan efektif pada bagian atau komponen-komponen konstruksi, yang akan berakibat terjadinya tegangan yang berlebihan pada bagian tersebut, yang akhirnya dapat terjadi keruntuhan.
5.2.6 Pengendalian Erosi Yang Buruk
Perlindungan pada lereng hulu dan hilir bendungan yang tidak memadai, dapat mengakibatkan terjadinya erosi pada lereng hulu oleh arus dan gelombang, serta terjadinya erosi air hujan pada lereng hilir. Daerah cekungan paling mudah terkena erosi permukaan. Kaki bendungan timbunan dan fondasi sekitarnya, dapat pula terkena erosi oleh karena letak kolam olak bangunan pelimpah atau bangunan pengeluaran yang terlalu dekat dengan badan bendungan dan kurangnya perlindungan lereng disekitar kolam dan sepanjang saluran hilir.
5.2.7 Kerusakan Tepian Waduk
Kondisi waduk dan daerah sekitarnya yang dapat membahayakan keamanan bendungan dapat berupa: tanah longsor, sesar aktif, keruntuhan pada zona lemah yang dapat berupa bidang diskontinuity ( sesar , kekar besar , master joint) akibat
36 pengisian waduk, gelombang akibat imbas tanah longsor atau gempa, erosi tepian waduk, dan keruntuhan waduk karena erosi buluh.
Hal-hal tersebut dapat dideteksi, dari foto udara, peta geologi wilayah dan geologi lokal, peta topografi, dan mempelajari pekerjaan-pekerjaan yang pernah dilakukan sebelumnya. Pemeriksaan lapangan harus dilakukan dengan mengevaluasi kondisi- kondisi yang sudah diketahui maupun kondisi lain yang belum dikenali.
Pada semua waduk akan terjadi kebocoran sampai batas tertentu; Tim inspeksi harus mengenali dan melakukan evaluasi terhadap indikasi peningkatan rembesan dan bocoran. Perhatian terhadap bocoran, terutama ditujukan pada waduk yang terletak didaerah batu kapur, daerah dengan material yang tidak terkonsolidasi dengan baik dan batuan endapan. Hal-hal khusus yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan terjadinya alur rembesan pada bekas saluran yang ditimbun, daerah sesar, kekar-kekar, alur akibat pelarutan material dan lain-lain. Indikasi adanya kelulusan air yang berlebihan adalah: munculnya bocoran, fluktuasi air tanah yang tak diharapkan, sembulan air (water boils), kehilangan air waduk yang tidak dapat dijelaskan, dan mata air baru. Alur perkolasi dapat terbentuk oleh erosi buluh;
larutnya: bahan pengikat, material pengisi rekahan, dan materialnya sendiri; kekar yang terbuka, sesar dan daerah remasannya, bidang perlapisan (bedding planes), perbedaan litologi, dan bentuk-bentuk lain kelulusan air.
Bentuk ketidakstabilan yang sering terjadi pada tepian atau tebing waduk, adalah tanah longsor, dimana ukuran besarnya longsoran adalah merupakan pertimbangan terpenting didalam evaluasi keamanan bendungan. Namun, longsoran yang kecil apabila terjadi dilokasi yang kritis, dapat menyebabkan tersumbatnya bangunan pelimpah atau bangunan pengeluaran sehingga membahayakan keamanan bendungan. Evaluasi terhadap tanah longsor harus mencakup: ukuran, penyebab, kecepatan dan bentuk pergerakan, jenis material, umur longsoran, lokasi dan konfigurasi waduk, kejenuhan dan sumbernya, dan pergerakan berkaitan dengan fluktuasi waduk. Untuk evaluasi ini perlu dipelajari pula data yang terkait dengan longsoran yang telah ada.
Evaluasi harus mencakup penilaian atas program pemantauan yang sedang berjalan dan harus mempertimbangkan konsep bentuk pergerakan yang baru. Harus dilakukan penilaian atas kestabilan tanah longsor yang dikaitkan dengan keamanan bendungan, pembatasan pengisian maupun laju penurunan air waduk.
Punggung bukit tepian waduk yang kecildan terdiri dari material yang mudah tererosi, akan mudah pula terjadi erosi buluh dan menjadi tidak setabil disaat jenuh air, sehingga besar potensinya terjadi keruntuhan pada bukit ini.
Secara umum hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam evaluasi ini adalah uraian rinci kondisi geologi, karakteristik teknik dari material, kekar, sesar, kemungkinan alur perkolasi, dan gradien hidrolik maksimum antara waduk dan kemungkinan tempat keluar. Demikian pula perlu dilakukan pemeriksaan air rembesan terhadap kemungkinan adanya kandungan material yang terlarut dan yang melayang.
5.2.8 Desain Atau Pelaksanaan Konstruksi Yang Buruk
Desain ataupun pelaksanaan konstruksi yang buruk dapat menjadi penyebab keruntuhan bendungan.
Data atau parameter desain maupun kriterianya yang tidak benar atau tidak lengkap akan menghasilkan desain yang tidak mantap. Desain dengan kondisi pembebanan yang tidak lengkap akan menghasilkan bangunan yang tidak aman. Penyelidikan atau pengetesan material yang tidak lengkap, dan penetapan nilai sifat-sifat teknik material yang salah selama dilakukan desain, dapat menyebabkan penggunaan