BAB III. PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
A. Gambaran Objek Penelitian
1. Bank BRI Syariah
BRIsyariah mengukuhkan diri sebagai Bank Syariah Pertama di dunia yang memiliki layanan mobile banking di 4 (empat) market online yaitu Blackberry, App World, Google Play, Apple Store dan Nokia Store. Selain itu pada tahun ini BRIsyariah meluncurkan Tabungan Impian BRIsyariah.
Pada tahun 2013 BRIsyariah mengembangkan program Sharia Officer Development Program (SODP) untuk menciptakan banker banker syariah yang memiliki kompetensi di bidang perbankan syariah serta kesamaan pemahaman terhadap bisnis BRIsyariah. Pada tahun ini juga BRIsyariah melakukan Rebranding Tabungan BRIsyariah iB menjadi Tabungan Faedah BRIsyariah iB. BRIsyariah juga disetujui oleh Bank Indonesia sebagai Bank Devisa. BRIsyariah meluncurkan internet banking BRI-syariah pada tahun 2014, selain itu juga mengimplementasikan Aplikasi Penunjang Pembiayaan Elektronik (APPEL) untuk mendukung proses penyaluran pembiayaan secara tepat dan akurat.
Pada tahun 2015 BRIsyariah ditunjuk oleh OJK sebagai Indonesia First Movers on Sustainable Banking. BRIsyariah sebagai Bank Syariah pertama di Indonesia yang meluncurkan Laku Pandai
Syariah BRISSMART. dan pada tahun ini juga BRIsyariah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia sebagai peserta lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Kemudian BRIsyariah menerbitkan Sukuk Mudharabah Subordinasi I pada tahun 2016 untuk memperkuat permodalan sekaligus menambah penerima setoran Bank Operasional II.
Pada tahun 2017 BRIsyariah memiliki beberapa capaian, yaitu sebagai Bank Syariah pertama yang menyalurkan KUR syariah sebesar Rp465 milliar dengan jumlah nasabah sebanyak 2.578 nasabah. Selain itu BRIsyariah ditunjuk oleh Kementerian Keuangan RI sebagai bank penerima pajak Negara secara elektronik melalui Modul Penerimaan Negara (MPN) Generasi kedua bagi nasabah korporasi maupun perorangan.
BRIsyariah Go Public pada tanggal 9 Mei 2018 di Bursa Efek Indonesia, dan melakukan Penawaran Saham Perdana (Initial Public Offering) sebesar 2.623.350.600 kepada investor domestic maupun asing, dengan nilai nominal Rp500 saham. dan pada tahun 2019 di usia 11 tahun BRIsyariah mengembangkan inovasi teknologi untuk internal business process guna mempercepat layanan kepada nasabah, yaitu Kemaslahatan Untuk Rakyat Madani (i-Kurma). i-Kurma merupakan aplikasi digital untuk memproses pembiayaan mikro.
2. BNI Syariah
Sejarah berdirinya BNI Syariah di mulai pada 29 April 2000 didirikan Unit Usaha Syariah (UUS) BNI dengan 5 kantor cabang di Yogyakarta, Malang, Pekalongan, Jepara dan Banjarmasin.
Selanjutnya UUS BNI terus berkembang menjadi 28 Kantor Cabang dan 31 Kantor Cabang Pembantu. Disamping itu nasabah juga dapat menikmati layanan syariah di Kantor Cabang BNI Konvensional (office channelling) dengan lebih kurang 1500 outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Di dalam pelaksanaan operasional perbankan, BNI Syariah tetap memperhatikan kepatuhan terhadap aspek syariah. Dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang saat ini diketuai oleh KH.Ma’ruf Amin, semua produk BNI Syariah telah melalui pengujian dari DPS sehingga telah memenuhi aturan syariah. Di dalam Corporate Plan UUS BNI tahun 2000 ditetapkan bahwa status UUS bersifat temporer dan akan dilakukan spin off tahun 2009.
Rencana tersebut terlaksana pada tanggal 19 Juni 2010 dengan beroperasinya BNI Syariah sebagai Bank Umum Syariah (BUS).
Realisasi waktu spin off bulan Juni 2010 tidak terlepas dari faktor eksternal berupa aspek regulasi yang kondusif yaitu dengan diterbitkannya UU No.19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
Disamping itu, komitmen Pemerintah terhadap pengembangan perbankan syariah semakin kuat dan kesadaran terhadap keunggulan produk perbankan syariah juga semakin meningkat. September 2013 jumlah cabang BNI Syariah mencapai 64 Kantor Cabang, 161 Kantor Cabang Pembantu, 17 Kantor Kas, 22 Mobil Layanan Gerak dan 16 Payment Point.
BNI Syariah menjalankan operasional bank berdasarkan prinsip syariah, seperti jual beli dan bagi hasil serta memiliki beragam produk dan jasa perbankan yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan nasabah. BNI Syariah menyadari bahwa masyarakat yang menghendaki layanan syariah tidak terbatas pada masyarakat muslim namun juga dibutuhkan oleh seluruh golongan masyarakat yang menghendaki layanan dan fasilitas perbankan yang nyaman, adil, dan modern. Untuk itulah BNI Syariah senantiasa melakukan peningkatan kualitas produk, baik produk dana maupun pembiayaan serta terus menerus melakukan penyempurnaan pada fitur-fiturnya. Selain mendasarkan kegiatan usaha dan operasionalnya berdasarkan prinsip syariah hokum positif serta regulasi yang berlaku di Indonesia, seluruh insane BNI Syariah juga memiliki tata nilai yang menjadi panduan dalam setiap perilakunya, yaitu amanah dan jama’ah.
BNI Syariah mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dengan fokus pada 5 (lima) area atau aspek dalam rangka mencapai pertumbuhan berkualitas (quality growth); pegawai (meningkatkan
produktivitas dan kemakmuran pegawai serta engagement pegawai pada perusahaan); inovasi (mengoptimalisasi inovasi dalam menghadirkan produk dan solusi yang hasanah); pelanggan (nasabah berkualitas menghasilkan profitabilitas yang lebih baik); dan aset (aset yang berkualitas akan menghasilkan pendapatan yang lebih optimal dan risiko yang lebih rendah sehingga mendukung tercapainya kinerja yang berkelanjutan).
Dalam rangka memperkuat kepemimpinannya dan untuk mengantisipasi era perubahan yang semakin cepat, BNI Syariah mengambil inisiatif untuk melakukan transformasi. BNI Syariah melakukan pembenahan organisasi, peningkatan kualitas SDM, penyempurnaan produk & layanan dan memperkuat sinergi dengan BNI induk. Sejalan dengan program transformasi tersebut, BNI Syariah juga melakukan transformasi digital dengan memperkuat layanan digital banking.
3. Bank Syariah Mandiri
Bank Syariah Mandiri sudah beroperasi sejak tanggal 1 November 1999 atau tanggal 25 Rajab 1420 H. Kantor pusat dari bank ini adalah Wisma Mandiri I Jl. MH. Thamrin No.5, Jakarta 10340- Indonesia. Bank Syariah Mandiri didirikan setelah krisis moneter pada tahun 1997 sampai tahun1998 silam. Saat kondisi perbankan benar- benar buruk dan tertekan.
Sejarah mengungkapkan Bank Syariah Mandiri merupakan gabungan dari PT. Bank Susila Bakti (BSB). Bank ini dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawa (YKP) PT Bank Dagang Negara serta PT. Mahkota Prestasi. Kemudian ditahun tersebut juga, PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Terwujud dari merger 4 bank. Kebijakan atas penggabungan tersebut memutuskan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Sebagai pemilik paling banyak (mayoritas) BSB. Akhirnya terbentuklah Bank Syariah Mandiri.
PT Bank Syariah Mandiri telah membuka cabang di seluruh indonesia terkhusus di Provinsi Sumatera barat. Kantor cabang Bank Syariah mandiri pertama kali beroperasi di kota Padang pada tanggal 12 Juli 2002. Berdirinya kantor cabang Padang mrupakan perluasan sayap untuk lebih mendekati nasabah dan investor.
Namanya bank syariah, landasan operasionalnya tentu berdasarkan prinsip-prinsip islam. Sebagai bank yang telah terpercaya, Bank Syariah Mandiri telah diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Ini membuktian bahwa bank memang aman dan amanah.
PT Bank Syariah Mandiri hadir, tampil dan tumbuh sebagai bank yang mampu memadukan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani, yang melandasi kegiatan operasionalnya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan Bank Syariah Mandiri dalam kiprahnya diperbankan
Indonesia. BSM hadir untuk bersama membangun Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik.
Bank syariah mandiri terus mengembangkan dan merancang berbagia produk untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang bragam.
Mulai dari produk pembiayaan, produk investasi, produk layanan dan jasa. Per 31 Desember 2020, total aset PT Bank Syariah Mandiri atau Mandiri Syariah menembus angka Rp. 126,9 triliun atau sebesar dua kali lipat dari rata-rata aset bank syariah besar lainnya. Berdasarkan data dari statistik perbankan syariah yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan perSeptember 2020 menunjukkan bahwa PTBank Syariah Mandiri memiliki jaringan kantor terbanyak dibandingkan bank syariah lainnya.
B. Deskriptif Statistik
Statistik deskriptif pada penelitian ini dari 3 Bank Umum Syariah selama lima tahun periode penelitian yaitu sejak tahun 2016 hingga tahun 2020. Terdapat 3 input yang digunakan dalam penelitian ini yaitu aset, biaya tenaga kerja dan biaya operasional. Sedangkan output yang digunakan yaitu pembiayaan dan pendapatan operasional. Adapun statistik deskriptif dalam penelitian ini sebagai berikut:
Tabel 2.1
Statistik Deskriptif Variabel Penelitian (dalam jutaan rupiah)
Variabel Mean Minimum Maksimum Pembiayaan 11.754.288 4.088 28.611.916 Pendapatan Operasional 2.463.001 1.998 8.635.480 Aset 12.590.055 28.314 57.715.586 Biaya Tenaga Kerja 349.069 1.061 937.794 Biaya Operasional 2.284.194 1.282 6.156.216
Tabel 2.1 menunjukkan statistik deskriptif variabel selama periode penelitian yaitu tahun 2016-2020. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata pembiayaan ketiga Bank Umum Syariah yaitu Rp. 11.754.288 juta, dengan jumlah minimum Rp. 4.088 juta, dan jumlah maksimum Rp.
28.611.916 juta. Rata-rata pendapatan operasional ketiga Bank Umum Syariah yaitu Rp. 2.463.001 juta, dengan jumlah minimum Rp. 1.998 juta dan jumlah maksimum Rp. 28.611.916 juta. Rata-rata total aset ketiga Bank Umum Syariah yaitu Rp. 12.590.055 juta, dengan jumlah minimum Rp. 28.312 juta dan jumlah maksimum yaitu Rp. 57.715.586 juta. Rata- rata biaya tenaga kerja dari tiga Bank Umum Syariah yaitu Rp. 349.069, dengan jumlah minimum Rp.1.061 juta, dan jumlah maksimum Rp.
937.794 juta. Rata-rata biaya operasional tiga Bank Umum Syariah yaitu Rp. 2.284.194 juta, dengan jumlah minimum Rp. 1.282 juta, dan jumlah maksimum Rp. 6.156.216 juta.
C. Hasil Analisis Data
Data Envelopment Analysis (DEA) merupakan perhitungan non parametrik untuk mengukur sebuah efisiensi. Terhadap dua pendekatan dalam DEA yaitu Constant Return To Scale (CRS) yang menunjukkan bahwa penurunan pada faktor input tidak memberikan dampak pada penambahan outputnya, serta pendekan Variable Return To Scale (VRS) yang menunjukkan bahwa penurunan input akan memberikan perubahan hasil outputnya. Dalam perhitungan DEA terdapat dua orientasi yaitu orientasi input dan orientasi output. Orientasi input artinya perusahaan akan mengurangi faktor input untuk menghasilkan output yang sama, sedangkan orientasi output artinya perusahaan akan meningkatkan outputnya menggunakan input yang sama. Dalam hasil perhitungan DEA terdapat Peer Group dan penetapan target. Peer Group digunakan untuk melihat DMU acuan bagi DMU yang inefisien untuk meningkatkan efisiensi. Penetapan target digunakan untuk memperbaiki kinerja DMU yang inefisien. Target perbaikan bisa dengan meminimalkan input atau memaksimalkan output tergantung pendekatan orientasi yang digunakan.
Berdasarkan perhitungan efisiensi menggunakan bantuan aplikasi Data Envelopment Analysis Programme (DEAP) 2.1 Version, maka diperoleh hasil perhitungan efisiensi dijabarkan berikut ini:
1. Hasil Perhitungan Efisiensi
Decision Making Unit (DMU) adalah sebutan untuk perusahaan yang dijdikan sampel penelitian dalam analisis efisiensi.
DMU yang memiliki skala efisiensi < 1 adalah DMU yang tidak efisien. Perhitungan efisiensi pada penelitian ini menggunakan asumsi Variable Return To Scale (VRS) menggunakan orientasi input, dengan mengasumsikan bahwa perusahaan beroperasi belum atau tidak secara optimal. Artinya perusahaan yang dalam kondisi inefisien bisa memperbaiki hasil efisiensinya dengan menurunkan inputnya.
Asumsi ini akan menghasilkan efisiensi skala (Scale Efficiency).
Terdapat dua kemungkinan perusahaan dalam kondisi inefisien, yaitu karena inefisien teknis dan inefisien skala. Suatu perusahaan yang mengalami inefisien skala artinya perusahaan harus meningkatkan efisiensinya dengan menyesuaikan faktor skala. Inefisien skala bisa ditingkatkan dengan melihat hasil penetapan target dari olah data dengan asumsi VRS. Begitu juga dengan inefisien teknis, untuk meningkatkan efisiensinya maka perusahaan harus menyesuaikan dengan faktor teknis. Untuk mengetahui inefisien teknis maka dilakukan pengujian efisiensi dengan asumsi CRS dan melihat nilai penetapan target dari hasil olah data.
Terdapat dua kondisi inefisien suatu perusahaan yaitu Increasing Return To Scale (IRS) dan Decreasing Return To Scale (DRS). IRS artinya penambahan 1% input dalam perusahaan bisa menambah output lebih dari 1%. Sementara DRS artinya penambahan 1% input bisa mengurangi output kurang dari 1%. Adapun kriteria inefisien pada suatu perusahaan adalah sebagai berikut :
1. Jika VRS TE / CRS TE > SE, maka disebut inefisien skala.
2. Jika VRS TE / CRS TE < SE, maka disebut inefisien teknis.
Hasil perhitungan efisiensi Bank Umum Syariah di Indonesia selama periode 2016-2020 sebagai berikut :
1. Perhitungan efisiensi tahun 2016
Tabel 2.2 Hasil perhitungan efisiensi tahun 2016
DMU Bank Umum Syariah CRS TE VRS TE SE 1 Bank BRI Syariah 1 1 1 2 Bank BNI Syariah 1 1 1 3 Bank Mandiri Syariah 1 1 1
Rata-rata 1 1 1
Keterangan :
CRS TE : Technical Efficiency dengan Constant Return To Scale (CRS) VRS TE : Technical Efficiency dengan Variable Return To Scale (VRS) SE : Scale Efficiency
Tabel 2.2 menunjukkan bahwa pada tahun 2016 semua Bank Umum Syariah (Bank BRI Syariah, Bank BNI Syariah dan Bank Mandiri Syariah) dalam kondisi efisien. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis dengan menggunakan metode DEA bahwa hasil semua Bank Umum Syariah ini adalah 1, yang artinya dalam kondisi efisien.
2. Perhitungan efisiensi tahun 2017
Tabel 2.3 Hasil perhtungan efisiensi tahun 2017
DMU Bank Umum Syariah CRS TE VRS TE SE 1 Bank BRI Syariah 1 1 1 2 Bank BNI Syariah 1 1 1 3 Bank Mandiri Syariah 1 1 1 Rata-rata 1 1 1
Keterangan :
CRS TE : Technical Efficiency dengan Constant Return To Scale (CRS) VRS TE : Technical Efficiency dengan Variable Return To Scale (VRS) SE : Scale Efficiency
Tabel 2.3 menunjukkan bahwa pada tahun 2017 semua Bank Umum Syariah ( Bank BRI Syariah, Bank BNI Syariah dan Bank Mandiri Syariah) dalam kondisi efisien. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis dengan menggunakan metode DEA bahwa hasil semua Bank Umum Syariah ini adalah 1, yang artinya dalam kondisi efisien.
3. Perhitungan efisiensi tahun 2018
Tabel 2.4 hasil perhitungan efisiensi tahun 2018
DMU Bank Umum Syariah CRS TE VRS TE SE 1 Bank BRI Syariah 0,770 1 0,770 2 Bank BNI Syariah 1 1 1 3 Bank Mandiri Syariah 1 1 1
Rata-rata 0,923 1 0,923
Keterangan :
CRS TE : Technical Efficiency dengan Constant Return To Scale (CRS) VRS TE : Technical Efficiency dengan Variable Return To Scale (VRS) SE : Scale Efficiency
Tabel 2.4 menunjukkan bahwa pada tahun 2018 ada satu Bank Umum Syariah yang inefisien yaitu DMU 1 (Bank BRI Syariah). Ini terjadi karena perusahaan ini belum bisa menggunakan inputnya secara optimal. Dengan kata lain perusahaan perlu mengurangi penggunaan input untuk menjadi efisien.
4. Perhitungan efisiensi tahun 2019
Tabel 2.5 Hasil perhitungan efisiensi tahun 2019
DMU Bank Umum Syariah CRS TE VRS TE SE 1 Bank BRI Syariah 1 1 1 2 Bank BNI Syariah 1 1 1 3 Bank Mandiri Syariah 1 1 1 Rata-rata 1 1 1 Keterangan :
CRS TE : Technical Efficiency dengan Constant Return To Scale (CRS) VRS TE : Technical Efficiency dengan Variable Return To Scale (VRS) SE : Scale Efficiency
Tabel 2.5 menunjukkan bahwa pada tahun 2019 semua Bank Umum Syariah ( Bank BRI Syariah, Bank BNI Syariah dan Bank Mandiri Syariah) dalam kondisi efisien. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis dengan menggunakan metode DEA bahwa hasil semua Bank Umum Syariah ini adalah 1, yang artinya dalam kondisi efisien.
5. Perhitungan efisiensi tahun 2020
Tabel 2.6 Hasil perhitungan efisiensi tahun 2020
DMU Bank Umum Syariah CRS TE VRS TE SE 1 Bank BRI Syariah 1 1 1 2 Bank BNI Syariah 1 1 1 3 Bank Mandiri Syariah 1 1 1 Rata-rata 1 1 1 Keterangan :
CRS TE : Technical Efficiency dengan Constant Return To Scale (CRS) VRS TE : Technical Efficiency dengan Variable Return To Scale (VRS) SE : Scale Efficiency
Tabel 2.6 menunjukkan bahwa pada tahun 2020 semua Bank Umum Syariah ( Bank BRI Syariah, Bank BNI Syariah dan Bank Mandiri Syariah) dalam kondisi efisien. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis dengan menggunakan metode DEA bahwa hasil semua Bank Umum Syariah ini adalah 1, yang artinya dalam kondisi efisien.
2. Penetapan Target
DEAP merupakan perangkat lunak yang dapat mengidentifikasi titik inefisien untuk suatu perusahaan. Untuk menjadi efisien maka variabelinput harus diubah mengikuti nilai projected value. Ada dua jenis perubahan, radial movement yaitu jumlah input yang dikurangi dengan menjaga output constant dan slack movement yaitu jumlah input yang dapat dikurangi (diluar radial movement) karena untuk mencapai projected value msih terdapat kelebihan input. Berikut merupakan penetapan target perbaikan DMU yang mengalami inefisien.
1. Penetapan target perbaikan Tahun 2018
Tabel 2.7 Penetapan Target Perbaikan DMU tahun 2018 (dalam jutaan rupiah)
DMU Variabel Original Value
Radial Movement
Slack Movement
Targets
Bank BRI Syariah
Pembiayaan 7.454.079 2.223.019 0.000 9.677.098 Pendapatan
Operasional
174.182 51.946 1.506.117 1.732.245 Aset 37.915.084 0.000 0.000 37.915.084 Biaya
Tenaga Kerja
510.828 0.000 0.000 510.828
Biaya Operasional
1.200.619 0.000 0.000 1.200.619
Tabel 2.7 menunjukkan nilai target perbaikan variable input DMU yang belum efisien. Untuk menjadi efisien, sumber daya input perusahaan harus dikurangi dengan menyesuaikan nilai target. Pada tahun 2018 Bank BRI Syariah harus menambah nilai inputnya atau radial movementnya pada output pembiayaan sebesar Rp. 2.223.019 juta agar mencapai target sebesar Rp. 9.677.098 juta. Dan juga menambah nilai inputnya sebesar Rp. 51. 946 beserta nilai outputnya sebesar Rp. 1.506.117 agar bisa mencapai target sebesar Rp.
1.732.245 pada pendapatan opersionalnya. Untuk input biaya tenaga kerja tidak perlu ditambah atau dikurangi karena sudah sesuai dengan nilai target sebesar Rp. 510.828 juta. Begitu pun dengan beban operasional tidak perlu menambah atau mengurangi karena sudah sesuai dengan nilai target sebesar Rp. 1.200.619 juta.
D. Pembahasan
1. Hasil Perhitungan Efisiensi
Setelah melakukan perhitungan efisiensi menggunakan software Data Envelopment Analysis Programme (DEAP) 2.1 Version, maka diketahui rata-rata efisiensi Bank Umum Syariah di Indonesia selama periode 2016-2020 sudah efisien. Pada tahun 2016, semua Bank Umum Syariah sudah efisien. Baik Bank BRI Syariah, Bank BNI Syariah, Bank Syariah Mandiri sesuai dengan hasil perhitungan menggunakan software
DEAP bahwa original value dan projected value pada output dan inputnya sudah sesuai.
Menurut laporan keungan masing-masing Bank Umum Syariah tahun 2016, BRISyariah mampu untuk terus melaju dan membukukan kinerja tahun 2016 yang tumbuh cukup tinggi jika dibandingkan dengan pada tahun-tahun sebelumnya. Total laba rugi sebelum pajak melonjak dari sebesar Rp. 169,07 miliar di tahun 2015 menjadi Rp. 238,61 miliar di tahun 2016 atau tumbuh sebesar 41,13%. Total Aset juga bertumbuh sebesar 14,27% dari sebesar Rp. 24,23 triliun pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp. 27,69. triliun ditahun 2016. Pertumbuhan Pembiayaan mencapai 10,18% atau Rp. 16,37 triliun di tahun 2015 menjadi Rp.
18,04 triliun. Selain itu pertumbuhan Dana Pihak Ketiga mencapai 9,41% yaitu sebesar Rp. 20,15 triliun di tahun 2015 menjadi Rp. 22,05 triliun di tahun 2016. Untuk BNI Syariah sendiri, Posisi aset BNI Syariah pada akhir tahun 2016 adalah sebesar Rp. 28,31 triliun, meningkat 23,01% dibandingkan posisi aset pada akhir tahun 2015 yang sebesar Rp. 23,02 triliun. Pencapaian posisi aset tersebut juga berada di atas RBB tahun 2016 sebesar Rp26,25triliun.
Demikian juga halnya dengan Dana Pihak Ketiga yang tercatat sebesar Rp. 24,23 triliun pada akhir tahun 2016. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 25,41% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp. 19,32 triliun dan berada di atas target sebesar Rp. 22,11 triliun. Laba bersih BNI Syariah tahun 2016 tercatat sebesar Rp. 277,38
miliar, tumbuh sebesar 21,38% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya Rp. 228,53 miliar. Sedangkan Bank Syariah Mandiri, Dari sisi pendapatan, pada tahun 2016 BSM membukukan pendapatan sebagai Mudharib sebesar Rp. 6,47 triliun, atau mencapai 99,89%
terhadap target RBB 2016 sebesar Rp. 6,48 triliun. Sedangkan jika dibandingkan pendapatan sebagai Mudharib tahun 2015 meningkat 8,52% dari Rp. 5,96 triliun. Dari indikator laba bersih, BSM mampu meraih laba bersih sebesar Rp. 325,41 miliar atau mencapai 103,28%
terhadap target RBB 2016 sebesar Rp315,07miliar. Sedangkan jika dibandingkan laba bersih tahun 2015 meningkat 12,21% dari Rp. 289,58 miliar.
Sementara itu, dari laba bersih per saham dasar BSM tahun 2016 sebesar Rp. 818, atau mencapai 103,28% trhadap target RBB 2016 sebesar Rp. 792. Sedangkan laba bersih persaham dasar tahun 2015 mencapai 86,47% dari Rp946. Pada tahun 2016 aset BSM mampu mencapai Rp. 78,83 triliun atau atau mencapai 103,57% terhadaptarget RBB 2016 sebesar Rp. 76,11 triliun. Sedangkan jika dibandingkan Aset tahun 2015 tumbuh 12,02% dari Rp.70,37 triliun.
Dari sisi dana pihak ketiga (DPK) mampu mencapai Rp. 69,95 triliun atau mencapai 104,04% terhadap target RBB 2016 sebesar Rp. 67,23 triliun. Sedangkan jika dibandingkan DPK tahun 2015 tumbuh 12,62%
dari Rp. 62,11 triliun. Dari sisi pembiayaan BSM mampu menyalurkan sebesar Rp. 55,58 triliun atau mencapai 101,85% terhadap target RBB
2016 sebesar Rp. 54,57 triliun. Sedangkan jika dibandingkan pembiayaan tahun 2015 tumbuh 8,79% dari Rp. 51,09 triliun. Indikator lain yang juga menunjukkan kinerja positif BSM adalah dari sisi ekuitas, BSM mampu mencapai Rp. 6,39 triliun atau mencapai 92,77% terhadap target RBB 2016 sebesar Rp. 6,89 triliun. Sedangkan jika dibandingkan ekuitas tahun 2015 tumbuh 13,87% dari Rp. 5,61 triliun. Menurut Hanum, Nuha Zuyyina (2018) menunjukkan bahwa Bank Umum Syariah di beberapa negara ASEAN memang sudah mampu mencapai efisiensi yang optimal dan tidak terdapat perbedaan signifikan pada nilai efisiensi antar Bank Umum Syariah.
Pada tahun 2017, semua Bank Umum Syariah sudah efisien.
Sesuai dengan hasil perhitungan menggunakan software DEAP bahwa original value dan projected value pada output dan input dari Bank BRI Syariah, Bank BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri sudah sesuai.
Menurut data laporan masing-masing Bank Umum Syariah tahun 2017, BRISyariah berhasil membukukan kinerja yang cukup baik tahun 2017.
Secara umum, target kinerja yang ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank tahun 2017 dapat trlampaui, kcuali pada aspek pembiayaan dan laba yang belum dapat memenuhi target RBB. Jumlah pembiayaan yang direalisasikan BRISyariah tahun 2017 mencapai Rp. 19,01 triliun, meningkat 5,42% dibandingkan pembiayaan tahun sebelumnya sebesar Rp. 18,04 triliun. Namun demikian, pencapaian tersebut hanya mencapai 86,31% dari target RBB yang ditetapkan sebesar Rp. 22,03 triliun. Tidak
tercapainya target pembiayaan tersebut dikarenakan Bank lebih selektif dalam melakukan pembiayaan pada beberapa sektor industri yang tingkat risikonya mengalami peningkatan.
Dana Pihak Ketiga yang dihimpun Bank tahun 2017 mencapai Rp. 26,37 triliun, tumbuh 14,71% dibanding jumlah DanaPihak Ketiga tahun sebelumnya sebesar Rp. 22,99 triliun. Pencapaian jumlah Dana Pihak Ketiga tersebut setara dengan 9,61% dari target RBB. Laba bersih yang dibukukan BRISyariah tahun 2017 adalah sebesar Rp. 101 miliar .Sedangkan Bank BNI Syariah sendiri, dan pada tahun Bank berhasil mencatat pertumbuhan aset sebesar 13,94% menjadi Rp. 31,54 triliun dari Rp. 27,69 triliun pada tahun 2016. Pencapaian jumlah aset juga berada di atas target RBB tahun 2017. Untuk BNI Syariah berhasil membukukan pertumbuhan aset sebesar 23,0% menjadi Rp. 34.827 miliar, dari tahun sebelumnya sebesar Rp. 28.314 miliar. Jumlah aset BNI Syariah tahun 2017 berada di atas target yang ditetapkan sebesar Rp. 32.605 miliar atau mencapai 106,8%. Sepanjang tahun 2017, pembiayaan yang disalurkan BNI Syariah mencapai Rp. 23.597 miliar, meningkat 15,1% dibandingkan jumlah pembiayaan tahun sebelumnya sebesar Rp. 20.494 miliar, atau mencapai 99,2% dari target yang ditetapkan sebesar Rp. 23.778 miliar.
Dalam rangka menjaga kualitas pembiayaan, BNI Syariah lebih selektif dan berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan, sehingga pembiayaan pada Desember 2017 belum mencapai 100% dari target