• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAYI BARU LAHIR

Dalam dokumen TURNITIN LTA Aprilia turnitin (Halaman 98-115)

BAB 1 PENDAHULUAN

L. Partograf

4. BAYI BARU LAHIR

Bayi baru lahir adalah bayi yang baru saja lahir baik dalam metode persalinan normal maupun dengan cara lain dengan berat normal

11

2500 – 4000 gram. Dengan demikian, sejak awal kelahiran bayi harus mendapatkan perawatan yang baik karena merupakan modal utama dalam perkembangan psiko sosio dan spiritual serta perkembangan motorik.(Dewina et al., 2023).

a. Tanda Tanda Bayi Lahir Normal

Bayi baru lahir normal adalah adalah bayi yang menangis dengan kuat, bergerak secara aktif, dan memiliki warna kulit kemerahan.

Ciri-ciri bayi normal adalah sebagai berikut:

1) Mempunyai berat badan lahir 2500-4000 gram 2) Panjang badan lahir 48 – 52 cm

3) Lingkar dada 30 – 38 cm 4) Lingkar kepala 33 – 35 cm

5) Denyut jantung dalam menit – menit pertama kira – kira 180 x/menit, kemudian menurun sampai 120 x/menit atau 140 x/menit

6) Pernafasan pada menit – menit pertama cepat kira – kira 180 x/menit, kemudian menurun setelah tenang kira – kira 40 x/menit

7) Kulit kemerah – merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup terbentuk dan diliputi vernic caseosa 8) Rambut lanugo setelah tidak terlihat, rambut kepala

4

4 13

16

16

20

32

biasanya telah sempurna 9) Kuku agak panjang dan lemah

10) Genitalia labia mayora telah menutupi labia minora (pada perempuan) testis sudah turun (pada anak laki – laki) 11) Reflek isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik 12) Reflek moro sudah baik, apabila bayi dikagetkan akan

memperlihatkan gerakan seperti memeluk

13) Gerak reflek sudah baik, apabila diletakan sesuatu benda diatas telapak tangan bayi akan menggenggam.

14) Eliminasi baik. Urine dan meconium akan keluar dalam 24 jam pertama. Meconium berwarna kuning kecoklatan.

.(Dewina et al., 2023) a. Asuhan Bayi Baru Lahir

Perawatan segera pada bayi baru lahir penting untuk mencegah terjadinya kehilangan panas pada bayi sehingga dapat mengganggu proses adaptasi intra uteri ke ekstra uteri. Segera keringkan bayi menggunakan kain bersih dan kering sambil penolong bisa melakukan stimulasi/rangsang taktil untuk merangsang pernafasan bayi apabila bayi belum menangis.

Apabila bayi berwarna kemerahan, bergerak aktif atau menangis kuat, maka dapat dilanjutkan dengan skin tos kin kontak (IMD) sebagai upaya untuk mencegah kehilangan panas serta menstabilkan pernafasan. .(Dewina et al., 2023)

2 4

4

21

Apgar Score

1).Pengertian Apgar Score

Apgar skor adalah suatu metode sederhana yang digunakan untuk menilai keadaan umum bayi sesaat setelah kelahira. Yang dinilai adalah frekuensi jantung (Heart rate), usaha nafas (respiratory effort), tonus otot (muscle tone), warna kulit (colour) dan reaksi terhadap rangsang (respon to stimuli) yaitu dengan memasukkam kateter ke lubang hidung setelah jalan nafas dibersihkan.(Syaifuddin, 2016)

setiap penilaian diberi angka 0,1,2. Hasil penilaian tersebut dapat diketahui apakah bayi normal (vigorous baby = nilai apgar 7-10), asfiksia ringan (nilai apgar 4-6), asfiksia berat (nilai apgar 0- 3).(Syaifuddin, 2016)

1) Kriteria Apgar Score

Tabel 6. Kriteria Penilaian Apgar Score

Tanda 0 1 2

Appearance (warna kulit)

Pucat atau biru seluruh badan

Tubuh merah estremitas biru

Seluruh tubuh kemerahan Pulse

(Frekuensi Jantung)

Tidak ada <100x/menit >100x/menit

Grimance (rangsangan )

Tidak ada Sedikit gerakan

Reaksi melawan Activity

( aktivitas )

Lemah / lumpuh

Gerakan sedikit/fleksi

Aktif/fleksi tungkai baik/

3

3

tungkai reaksi melawan Respiration

(Pernafasan)

Tidak ada Lambat, tidak teratur

Baik, menangis kuat Jumlah

Sumber : Sumber : (Solehah Imroatus et all., 2021)

b. Pemeriksaan fisik bayi baru lahir

Pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir adalah sebuah tindakan untuk menentukan apakah bayi dalam keadaan sehat, berkembang dengan baik atau ada kelainan.

1. Pemeriksaan tanda tanda vital bayi a. Pemeriksaan suhu

Pemeriksaan suhu dilakukan didaerah axila dengan suhu normal 36,5°-37,5°C. Apabila suhu tubuh bayi kurang dari batas normal maka perlu diperhatikan adanya hipotermi.

Kondisi lingkungan bayi disekitar bayi perlu diatur dalam suasana yang hangat untuk mencegah terjadinya hipotermi. Selain itu adanya ketidakstabilan suhu memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Ketidakstabilan suhu pada bayi baru lahir disebabkan oleh infeksi atau adanya perdarahan intracranial. .(Dewina et al., 2023)

b. Pemeriksaan denyut jantung

3

stetoskop. Batas normal denyut jantung pada bayi baru lahir berada pada antara 120-160 kali permenit. .(Dewina et al., 2023)

c. Pemeriksaan pernapasan

Pemeriksaan pernapasan bayi dilakukan dengan menghitung frekuensi pernapan. Bayi baru lahir bernapas normal aoabila jumlah respiration rate antara 40 – 60 kali per menit. .(Dewina et al., 2023)

2. Pemeriksaan Antropometri

Pemeriksaan antropometri dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan bayi. Pemeriksaan antropometri meliputi pemeriksaan berat badan, panjang badan, lingkar kepala, dan lingkar dada.

a. Pemeriksaan berat badan

Berat badan normal pada bayi baru lahir berkisar 2500 gram – 4000 gram.

b. Pemeriksaan panjang badan

Pemeriksaan panjang badan dilakukan dengan menggunakan alat pengukur panjang badan.

Panjang badan bayi baru lahir berkisar 45- 53 cm.

c. Pemeriksaan lingkar kepala

Alat pengukur yang digunakan adalah pita pengukur yang tidak elastis/metlin. Ukuran lingkar kepala bayi

16

baru lahir berukuran 33 – 35 cm d. Pemeriksaan lingkar dada

Pengukuran lingkar dada menggunakan alat yang sama dengan alat pengukur lingkar kepala, yaitu menggunakan pita pengukur yang tidak elastis. Hasil pengukur lingkar dada normalnya adalah lebih dari 29,5 cm.

e. Pemeriksaan Wajah

Normalnya wajah bayi mirip dengan wajah orang tuanya. Yang perlu diperhatikan di wajah adalah kemungkinan adanya kelainan seperti down’s syndrome, crouzon’s syndrome, goldenhar’s syndrome ataupun hemihypertrophy. Pastikan kulit wajah kemerahan dan tidak terdapat memar.

f. Pemeriksaan Mulut

Lakukan pemeriksaan adakah gigi yang sudah tumbuh, kista, atau sumbing. Pemeriksaan lidah dipastikan adanya kista pada lidah dan lesung.

Ukuran lidah perlu diperiksa, pastikan ukurannya dan bagian bawah lidah perlu di periksa adanya tongue tie (tali lidah). Perlu diperhatikan juga adakah sumbing pada langit langit.

g. Pemeriksaan Mata

5

Pemeriksaan mata dilakukan untuk memastikan apakah kedua mata simetris atau tidak, periksa ukurannya dan posisinya. Normalnya sclera berwarna putih dan konjungtiva merah muda.

h. Pemeriksaan Telinga

Pemeriksaan pada telinga perlu diperhatikan ukuran, bentuk, posisi, dan ketidaknormalan. Kemungkinan terdapat lipatan, sumbing atau kekhasan yang lain.

i. Pemeriksaan Hidung

Bentuk hidung biasanya akan sama dengan bentuk hidung orang tua. Normalnya hidung terletak symetris pada bagian tengah dari wajah.

j. Pemeriksaan leher

Tidak ada pembengkakan dan benjolan pada kelenjar thyroid dan vena jugularis

k. Pemeriksaan dada

Bayi terlihat dapat bernafas dengan normal tanpa adanya pernafasan cuping hidung ataupun retraksi dinding dada. Gerakan dada akan terlihat symetris saat bayi pernafas

l. Pemeriksaan perut

Bentuk perut, lingkar perut, konsistensi perut (ketika tidak menangis lembek), tidak ada benjolan pada

perut dan sekitar tali pusat.

m. Pemeriksaan Genetalia

Genetalia laki-laki Pada genetalia laki-laki dilakukan pemeriksaan pada scrotum. Apabila testis belum turun kedalam scrotum dan belum terdapat rugae pada testis menunjukkan bahwa bayi lahir dalam kondisi prematur. Dan pada genetalia perempuan lakukan pemeriksaan pada labia mayor, pada bayi aterm labia mayor sudah menutupi labia minor.

n. Pemeriksaan Anus

Pemeriksaan pada anus harus dipastikan patensi, posisi anus, dan ukurannya. Kadang kadang terdapat lubang diatas atau di bawah posisi anus seharusnya.

o. Pemeriksaan ekstermitas atas dan bawah pastikan kedua ekstremitas simetris, jari tangan lengkap, kuku berwarna kemerahan. .(Dewina et al., 2023)

b. Imunisasi

Imunisasi adalah salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif dalam menghadapi suatu penyakit, sehingga apabila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya memiliki gejala sakit ringan.

a. BCG

a) Deskripsi

Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin) merupakan vaksin beku kering yang mengandung Mycrobacterium bovis hidup yang dilemahkan, strain paris.

b) Indikasi

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberkulosis c) Cara pemberian dan dosis

Dosis pemberian 0,05 ml, sebanyak 1 kali. Disuntikkan secara intracutan di daerah lengan kanan atas (insertion musculus deltoideus) dengan menggunakan ADS (Auto Disable Syringe) 0,05 ml.

d) Efek samping

2 – 6 minggu setelah imunisasi BCG daerah bekas suntikan timbul bisul kecil (papula) yang akan makin membesar dan dapat terjadi ulserasi dalam waktu 2 – 4 bulan, kemudian sembuh perlahan dengan menimbulkan jaringan parut dengan diameter 2 – 10 mm.

b. Hepatitis B a) Deskripsi

Vaksin virus recombinan yang telah diinaktivasikan dan bersifat non infecious berasal dari HBsAg.

b) Kontraindikasi

Penderita infeksi berat yang disertai kejang.

c) Cara pemberian dan dosis

Dosis 0,5 ml atau 1 (buah) HB PID harus diberikan secara intramuskuler di bagian anterolateral paha. Total pemberian obat ini sebanyak 3 kali. - Dosis pertama diberikan pada usia 0 hingga 7 hari, sedangkan dosis selanjutnya diberikan dengan interval minimal 4 minggu (1 bulan).

d) Efek samping Reaksi local sepert rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan.

Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya akan hilang setelah 2 hari

c. DPT-HB-Hib a) Deskripsi

Vaksin DPT-HB-Hib berfungsi untuk mencegah terjadinya difteri, tetanus, batuk rejan, hepatitis B, dan infeksi yang disebabkan oleh Haemophilus influenza tipe b secara bersamaan.

b) Kontraindikasi

Kejang atau gejala kelainan otak pada bayi baru lahir atau kelainan saraf serius.

c) Cara pemberian dan dosis

Vaksin harus disuntikkan secara intramuskuler pada anterolateral paha atas, satu dosis anak adalah 0,5 ml.

d) Efek samping

Reaksi local sementara, seperti bengkak, nyeri dan kemerahan pada lokasi suntkan, disertai demam dapat timbul dalam sejumlah besar kasus. Kadang – kadang reaksi berat, seperti demam tinggi, rewel, dan menangis dengan nada tinggi dapat terjadi dalam 24 jam setelah pemberian.

d. Polio/IPV V

Vaksin Polio Oral (Oral Polio Vaccine (OPV)) a) Deskripsi

Vaksin polio trivalent yang terdiri dari suspense virus poliomyelitis tipe 1, 2, dan 3 (strain sabin) yang sudah dilemahkan.

b) Indikasi Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomyelitis.

c) Cara pemberian dan dosis

Secara oral (melalui mulut), 1 dosis (dua tetes) sebanyak 4 kali (dosis) pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu.

d) Kontraindikasi

Pada individu yang menderita immune deficiency tidak

ada efek berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang sakit.

e) Efek samping

Sangat jarang terjadi reaksi sesudah imunisasi polio oral.

Setelah mendapatkan vaksin polio oral bayi boleh makan minum seperti biasa. Apabila mutah dalam 30 menit segera diberi dosis ulang.

e. Campak a) Deskripsi

Vaksin virus hidup yang dilemahkan b) Indikasi

Pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak c) Cara pemberian dan dosis

0,5 ml disuntikkan secara subcutan pada lengan kiri atas atau anterolateral paha, pada usia 9 – 11 bulan.

d) Kontraindikasi

Individu yang mengalami penyakit immune deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukimia, limfoma.

e) Efek samping

Hingga 15 % pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8 – 12 hari setelah vaksinasi. .(Dewina et al., 2023)

f. Refleks refleks pada bayi

1) Refleks menghisap (sucking reflex)

Reflek ini ditandai dengan bayi menoleh kearah stimulus, membuka mulutnya, memasukan putting dan menghisap.

2) Refleks menggenggam (palmar grasp reflex)

Grasping Reflex adalah refleks gerakan jari-jari tangan mencengkram benda-benda yang disentuhkan ke bayi, indikasi syafar berkembang normal–hilang setelah 3-4 bulan Bayi akan otomatis menggenggam jari ketika Anda menyodorkan jari telunjuk kepadanya.

3) Refleks leher (tonic neck reflex)

Akan terjadi peningkatan kekuatan otot (tonus) pada lengan dan tungkai sisi ketika bayi menoleh kesalah satu sisi.

4) Refleks mencari (rooting reflex)

Rooting reflex terjadi ketika pipi bayi diusap (dibelai) atau di sentuh bagian pinggir mulutnya.

5) Refleks moro (moro reflex)

Releks Moro adalah suatu respon tiba tiba pada bayi baru lahir yang terjadi akibat suara atau gerakan yang mengejutkan.

6) Babinski Reflex .

Refleks primitif pada bayi berupa gerakan jari-jari mencengkram ketika bagian bawah kaki diusap, indikasi

2

syaraf berkembang dengan normal. Hilang di usia 4 bulan.

7) Swallowing Reflex

Swallowing Reflex adalah refleks gerakan menelan benda- benda yang didekatkan ke mulut, memungkinkan bayi memasukkan makanan ada secara permainan tapi berubah sesuai pengalaman

8) Refleks tonic neck

Disebut juga posisi menengadah, muncul pada usia satu bulan dan akan menghilang pada sekitar usia lima bulan. (Dewina et al., 2023)

g. Tanda bahaya bayi baru lahir

1) Pernafasan : sulit atau > 60 x/menit

2) Kehangatan :terlalu panas >38°C atau terlalu dingin

>36 °C

3) Warna : kuning (pada 24 jam pertama), biru atau pucat, memar.

4) Pemberian makan : hisapan lemah, mengantuk berlebihan, rewel,dan banyak muntah.

5) Tali pusat : merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, berdarah

6) Tinja atau kemih : tinja BAB dalam 3 hari, tidak berkemih dalam jam, tinja lembek, sering, hijau tua, ada lendir darah pada tinja.

5

5

5

5

7) Infeksi : suhu meningkat merah, bengkak, keluar cairan,bau busuk pernafasan sulit.

8) Aktivitas : mengigil, menangis yang tidak biasa, lunglai, kejang, tidak bisa tenang. (Dewina et al., 2023)

h. Adapatasi Fisiologi Bayi Baru Lahir 1) Adaptasi Kardiovaskuler

Sebelum lahir janin hanya bergantung pada plasenta untuk semua pertukaran gas dan eksresi sisa metabolik. Sistem sirkulasi bayi harus melakukan penyesuaian mayor guna mengalihkan darah yang tidak mengandung oksigen menuju paru untuk direoksigenasi. (Dewina et al., 2023)

2) Termogulasi BBL

a) Suhu bayi baru lahir dapat turun beberapa derajat karena lingkingan eksternal lebih dingin dari pada lingkungan pada uterus.

b) Suplai lemak subkutan yang terbatas dan area permukaan kulit yang besar dibandingkan dengan berat badan menyebabkan bayi mudah menghantarkan panas pada lingkungan.

c) Kehilangan panas yang cepat pada lingkungan yang dingin melalui konduksi, konfeksi, radiasi dan evaporasi.

d) Terutama dingin (hipotermi). pada bayi baru lahir dalam

hubungannya dengan asidosis metabolik dapat brtsikap mematikan, bahkan pada bayi yang cukup bulan yang sehat.

Sesaat sesudah bayi lahir, ia akan ditempat yang suhunya lebih rendah dari dalam kandungan dan dalam keadaan basah.bila bayi dibiarkan dalam suhu kamar 25°C, maka bayi akan kehilangan panas melakui evaporasi, konveksi,konduksi, dan radiasi. Sementara itu pembentukan panas, pembentukan panas yang dapat yang dapat diproduksi hanya sepersepuluh dari pada yang tersebut dalam waktu bersamaa ini menyebabkan perubahan suhu.(Dewina et al., 2023)

3) Adaptasi Pernafasan BBL.

Selama berada di dalam rahim, janin memperoleh oksigen melalui proses pertukaran gas di plasenta. Begitu bayi dilahirkan, proses pertukaran gas oksigen beralih ke paru- paru. Tekanan yang terjadi pada rongga dada akibat kompresi paru-paru saat melahirkan mendorong udara untuk masuk ke dalam paru-paru secara otomatis. Hubungan antara sistem pernapasan dan kardiovaskuler menghasilkan pernapasan yang teratur dan kontinu serta detak jantung yang esensial untuk keberlangsungan hidup.(Dewina et al., 2023)

i. Pelayanan Kesehatan Neonatus

Pelayanan kesehatan neonatus adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada neonates sedikitnya 3 kali, selama periode 0 sampai dengan 28 hari setelah lahir.

1) Kunjungan neonatus ke-1 (KN I) dilakukan 6-48 jam setelah lahir, dilakukan pemeriksaan pernapasan, warna kulit gerakan aktif atau tidak, ditimbang, ukur panjang badan, lingkar lengan, lingkar dada, pemberian salep mata, vitamin K1, Hepatitis B, perawatan tali pusat dan pencegahan kehilangan panas bayi.

2) Kunjungan neonatus ke-2 (KN 2) dilakukan pada hari ke-3 sampai hari ke-7 setelah lahir, pemeriksaan fisik, melakukan perawatan tali pusat, pemberian ASI eksklusif, personal hygiene, pola istirahat, keamanan dan tanda-tanda bahaya.

3) Kunjungan neonatus ke-3 (KN 3) dilakukan pada hari ke-8 sampai hari ke-28 setalah lahir, dilakukan pemeriksaan pertumbuhan dengan berat badan, tinggi badan dan nutrisinya (Dewina et al., 2023)

Dalam dokumen TURNITIN LTA Aprilia turnitin (Halaman 98-115)

Dokumen terkait