• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan

Dalam dokumen tahun anggaran 2021 audited - PPID DKI Jakarta (Halaman 189-194)

PENJELASAN POS-POS LAPORAN KEUANGAN

13. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan

BPHTB pajak atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan.

Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan/atau bangunan oleh orang pribadi atau Badan.

Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2021 Audited hal 146

Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah hak atas tanah, termasuk hak pengelolaan, beserta bangunan di atasnya, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang di bidang pertanahan dan bangunan.

Objek pajak yang tidak dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah objek pajak yang berasal dari:

a) perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik;

b) Negara untuk penyelenggaraan Pemerintahan dan/ atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum;

c) badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut;

d) orang pribadi atau Badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama orang pribadi atau Badan karena wakaf dan orang pribadi atau Badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah.

Dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Nilai Perolehan Objek Pajak, dengan Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (lima persen) dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Peraturan mengenai pengelolaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Provinsi DKI Jakarta dituangkan dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 18 Tahun 2012 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Dengan adanya penambahan jenis pungutan BPHTB diharapkan dapat memenuhi kebutuhan keuangan daerah yang selama ini dirasakan belum mencukupi.

Mekanisme mengenai pemungutan BPHTB diatur dalam Keputusan Gubernur Nomor 487 Tahun 2011 tanggal 4 April 2011. Dalam surat keputusan tersebut mengatur mengenai penunjukan Bank sebagai tempat pembayaran dan rekening penampungan penerimaan BPHTB.

Adapun bank yang ditunjuk sebagai bank penerima dan penampung

Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2021 Audited hal 147

pendapatan BPHTB adalah Bank DKI sebanyak 6 (enam) rekening penampungan, Bank Mandiri, Bank BRI, Bank BNI masing-masing 1 (satu) rekening penampungan. Untuk lebih mengikat, maka dibuatlah Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang mengatur mengenai mekanisme penerimaan, hak dan kewajiban bank pengelola rekening penampungan penerimaan BPHTB dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mekanisme pelimpahan saldo penerimaan BPHTB, tata cara pelaporan dan sanksi.

Realisasi BPHTB Tahun 2021 adalah sebesar Rp5.511.418.500.124,00 atau 79,64% dari target yang ditetapkan sebesar Rp6.920.000.000.000,00, dengan demikian realisasi BPHTB tidak mencapai target sebesar Rp1.408.581.499.876,00 atau 20,36%.

Realisasi tersebut mengalami kenaikan sebesar Rp832.004.692.456,00 atau 17,78% jika dibandingkan dengan realisasi BPHTB Tahun 2020 sebesar Rp4.679.413.807.668,00.

Kendala yang dihadapi dalam pencapaian target BPHTB tahun 2021 antara lain:

a) Adanya kecenderungan transaksi di Provinsi DKI Jakarta masih menggunakan harga NJOP (bukan harga transaksi sebenarnya);

b) Pengelola/Pengembang apartemen yang tidak menyetorkan BPHTB yang telah dipungut ke pembeli pada saat transaksi PPJB (BPHTB menjadi komponen pada harga beli);

c) Turunnya daya beli rumah karena tingginya harga property dengan kenaikan harga yang terlalu cepat dan kondisi pandemic Covid-19 juga berpengaruh pada kemampuan ekonomi Wajib Pajak.

Langkah-langkah dan upaya yang intensif dilakukan pada tahun 2021 antara lain:

a) Percepatan pembayaran BPHTB atas objek PPJB dengan melakukan sosialisasi ke pengembang apartemen karena sesuai dengan Pasal 2 Pergub Nomor 117 Tahun 2019.

b) Sosialisasi peningkatan PPJB menjadi AJB sehubungan adanya insentif fiskal pemerintah pusat PMK 21 Tahun 2021 berupa potongan PPn 50% untuk pembelian hunian rumah tapak maupun rumah susun dengan harga di atas Rp2 miliar hingga Rp5 miliar.

Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2021 Audited hal 148

Jangka waktu regulasi ini adalah untuk masa pajak Maret 2021 s.d Agustus 2021.

c) Pemberian stimulus keringanan BPHTB melalui Pergub No 60 Tahun 2021 berupa keringanan pembayaran BPHTB 10% s.d 50% dari bulan Agustus s.d Desember 2021

d) Pengintegrasian data dan layanan administrasi pertanahan dengan Kanwil BPN Provinsi DKI Jakarta sehubungan dengan telah ditandatangani Nota Kesepakatan pada Mei 2021.

e) Penggunaan e-BPHTB untuk penyetoran dan pelaporan SSPD BPHTB. Selain untuk percepatan pelayanan terhadap wajib pajak/kuasa/notaris, e-BPHTB adalah sebuah bentuk adaptasi atas pandemi Covid-19 sehingga pelayanan perpajakan yang awalnya tatap muka menjadi online.

f) UPPPD melakukan himbauan terhadap wajib pajak/kuasa/notaris yang telah melakukan pembayaran BPHTB pada semester I Tahun 2020 tetapi SSPD BPHTB belum divalidasi. Pada proses validasi ini, UPPPD membuat data pembanding atas transaksi serupa.

5.1.1.1.2 Retribusi Daerah

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2013 menetapkan Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu agar kegiatan penyelenggaraan perizinan dan non perizinan yang proses pengelolaannya mulai dari tahap permohonan sampai ke tahap terbitnya dokumen dilakukan secara terpadu dengan pelayanan satu pintu di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Tujuan penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu adalah:

a) Meningkatkan kualitas pelayanan perizinan dan non perizinan;

b) Memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh pelayanan perizinan dan non perizinan; dan

c) Meningkatkan kepastian pelayanan perizinan dan non perizinan.

Peraturan Daerah ini ditindaklanjuti dengan pembentukan Satuan Kerja Perangkat Daerah yaitu Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu berdasarkan

Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2021 Audited hal 149

Peraturan Gubernur Nomor 55 Tahun 2014 mengenai Organisasi dan Tata Kerja Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu.

Pembentukan Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu berdampak pada peralihan pungutan Pendapatan Asli Daerah terutama Retribusi Daerah dari SKPD Pemungut lama ke Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu.

Kemudian diterbitkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi DKI Jakarta dimana Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu menjadi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang penanaman modal dan penyelenggaraan perizinan dan non perizinan.

Atas penerbitan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2016 ditindaklanjuti dengan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 281 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu.

Retribusi Daerah merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan baik yang bersifat pelayanan jasa umum, pelayanan jasa usaha dan perizinan tertentu.

Realisasi Retribusi Daerah sampai dengan akhir Tahun Anggaran 2021 mencapai Rp383.859.710.282,00 atau 50,79% dari target Retribusi Daerah tahun 2021 yang sebesar Rp755.755.000.000,00, dengan demikian realisasi penerimaan Retribusi Daerah tidak mencapai target sebesar Rp371.895.289.718,00 atau 49,21%.

Apabila realisasi Retribusi Daerah tahun 2021 dibandingkan dengan realisasi tahun 2020 yang jumlahnya tercatat sebesar Rp496.332.944.408,00 terlihat pendapatan Retribusi Daerah tahun 2021 mengalami penurunan sebesar Rp112.473.234.126,00 atau 22,66%.

Dalam rangka optimalisasi penerimaan Retribusi Daerah berbagai upaya yang intensif telah dilaksanakan seperti:

Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2021 Audited hal 150

a) Peningkatan pelayanan kepada masyarakat melalui pemberian pelayanan prima;

b) Peningkatan sosialisasi kepada pemungut dan masyarakat, agar realisasi penerimaan Retribusi Daerah dapat dicapai dengan optimal;

c) Dilakukannya intensifikasi terhadap penerimaan Retribusi Daerah;

d) Peningkatan pengawasan di lapangan;

e) Dilakukannya koordinasi yang intensif kepada unit pemungut retribusi dan unit satuan kerja terkait; dan

f) Pengembangan sarana pemungutan retribusi melalui Sistem Informasi Manajemen Pendapatan Daerah (SIMPAD).

Berikut disajikan rincian data realisasi penerimaan Retribusi Daerah Tahun Anggaran 2021 sebagaimana tersaji pada tabel 5.4.

Tabel 5.4

Realisasi Penerimaan Retribusi Daerah Tahun Anggaran 2021

Tabel 5.4 - Realisasi Penerimaan Retribusi Daerah

(dalam rupiah) No Jenis Pendapatan Tahun Anggaran 2021

% Realisasi 2020

Target Realisasi

1 2 3 4 5 (4:3) 6

I Retribusi Jasa

Umum 114.573.000.000 105.420.976.686 92,01 107.953.984.022 II Retribusi Jasa

Usaha 162.334.000.000 42.845.985.859 26,39 86.907.889.627

III Retribusi Perizinan

Tertentu 478.848.000.000 235.592.747.737 49,20 301.471.070.759 Jumlah 755.755.000.000 383.859.710.282 50,79 496.332.944.408

Penjelasan lebih lanjut mengenai rincian realisasi per jenis pelayanan Retribusi Daerah Tahun Anggaran 2021 adalah sebagai berikut:

Dalam dokumen tahun anggaran 2021 audited - PPID DKI Jakarta (Halaman 189-194)