• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Pembinaan Masyarakat Islam

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. DATA DESKRIPTIF PENELITIAN

1. Bentuk Pembinaan Masyarakat Islam

yaitu adat pokok dalam hubungan kekerabatan, kekeluargaan serta persatuan, Sara mbe’ombu yaitu adat pokok dalam hal aktivitas agama serta kepercayaan, Sara mandarahai yaitu adat pokok dalam pekerjaan yang terkait dengan keahlian serta keterampilan dan Sara monda’u, mombopaho, mombakani, melambu, dumahu, meoti-oti yaitu adat pokok dalam kegiatan bertani, berladang, berkebun, berternak dan menangkap ikan.66

b. Syukuran

Syukuran merupakan salah satu adat kebudayaan masyarakat di Kelurahan Tinengi yang bertujuan sebagai bentuk rasa syukur kepala Allah karena terhindar dari musibah, sembuh dari penyakit dan merupakan media sedekah kepada masyarakat.67

Dalam berbagai lingkup kehidupan umat manusia, saling mengingatkan dan menasehati merupakan sebuah keharusan, untuk itu agar lebih efektif diperlukan cara atau bentuk pembinaan yang tepat terhadap masyarakat, dalam islam saling mengingatkan dan menasehati merupakan dakwah. Dakwah islamiyah harus ada pembinaan-pembinaan terhadap masyarakat. Sebagai contoh Rasulullah SAW merupakan Nabi dan Rasul yang menyerukan dakwah islamiyah berbagai permasalahan yang ada di masyarakat ditemui Rasul, dengan bimbingan dan petunjuk Allah SWT Rasul menyampaikan dakwahnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, sebagai pengikut para dai harus mencontohkan dan mengikuti dakwah yang telah dijalankan Rasulullah SAW, untuk ditengah arus modernisasi seperti sekarang ini.

peran dan tanggung jawab sangat menentukan untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat. Dengan demikian masyarakat Kelurahan Tinengi yang selama ini masih minim dengan pengetahuan keagamaan dan belum mengenal moral atau etika dalam pergaulan sehari-hari ataupun sudah mengenal namum karena pengaruh televisi dan media sosial. Oleh karena itu pentingnya untuk membina masyarakat agar pulih dari penyakit globalisai yang telah merajalela di Kelurahan Tinengi.

Meskipun anggota masyarakat Kelurahan Tinengi Kecamatan Tinondo Kabupaten Koltim memiliki berbagai macam perbedaan dalam

keyakinan, namun hal ini tidak lantas menimbulkan adanya kesenjangan dan ketiadaan rasa tenggang rasa antar pemeluk agama, melaikan sebaliknya mereka tetap menjalin persaudaraan dan bertenggang rasa antar sesama. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya kebudayaan gotong royong dalam pembangunan sarana dan tempat ibadah, serta pembersihan lingkungan sekitar kelurahan.

Kerukunan antar umat beragama yang tertanam dalam diri anggota masyarakat Kelurahan Tinengi juga diimplementasikan pada saat diselenggarakannya kegiatan-kegiatan Kelurahan, seperti Gotong royong.

Saat diadakan Gotong royong, semua lapisan masyarakat Kelurahan Tinengi berbondong-bondong berpartisipasi untuk merealisasikannya. Tidak memandang anggota masyarakat tersebut berasal dari pemeluk agama tertentu, semua anggota masyarakat bersatu padu untuk memeriahkannya, karena masyarakat Kelurahan Tinengi merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerukunan dalam beragama. Berawal dari kebiasaan dan kehidupan sosial semacam ini, maka lahirlah sebuah kebudayaan dimana anggota masyarakat tidak lagi terpaku dan hanya mementingkan individu atau kelompok agama mereka sendiri, melainkan saling bahu membahu untuk menciptakan sebuah suasana sosial yang rukun dan tenteram.

"Kerukunan warga sangat erat, bahu membahu baik dari beberapa golongan dalam segala bidang termasuk kegiatan agama, hanya

saja kesadaran individu untuk melakukan kewajiban sebagai seorang muslim seperti melaksanakan shalat, puasa, zakat dan lain-lain masih sangat rendah walaupun mayoritas penduduk Kelurahan Tinengi beragama Islam"68

Kegiatan pembinaan masyarakat islam yang berjalan di Kelurahan Tinengi, khususnya bagi masyarakat yang beragama Islam sangat beragam, mulai dari penyelenggaraan Yasinan remaja masjid, TPQ (Taman Pendidikan Quran) yang diadakan tiap hari, kecuali hari jumat, dan adanya kegiatan jaulah (Silaturrahmi).

Kegiatan pembinaan ini merupakan sebuah wujud nyata agar terciptanya suatu masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama.

Melihat beragamnya kegiatan pembinaan masyarakat yang diselenggarakan di Kelurahan Tinengi tentu akan membuahkan anggapan bahwa kesadaran untuk memahami nilai-nilai agama dalam diri individu anggota masyarakat Kelurahan Tinengi sudah sangat matang. Namun, pada kenyataannya anggapan tersebut sangat bertolak belakang. Kenyataannya, masih banyak anggota masyarakat Kelurahan Tinengi yang belum memiliki kesadaran dalam menjalankan ibadah agamanya masing-masing.

Seperti halnya masih banyaknya anggota masyarakat yang jarang melaksanakan ibadah shalat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, dan masih adanya anggota masyarakat yang belum terbuka hatinya untuk membayarkan zakat fitrah dan zakat malnya. Kenyataan seperti ini,

68 Hasil wawancara peneliti pada tanggal 05 Desember 2017, Tokoh Agama Bpk.

Junaid (Ketua KUA)

harus segera ditindaklanjuti dengan mengadakan pembinaan, atau dalam bahasa keagamaan lebih dikenal dengan sebuatan dakwah.

Pembinaan atau dakwah ini tentu harus menggunakan cara yang tepat bila menghendaki keberhasilan dalam mengubah perilaku masyarakat menjadi pribadi yang taat menjalankan ibadah agamanya. Apabila Pembinaan masyarakat berjalan dengan baik maka akan membuahkan hasil yang lebih efektif dibandingkan pembinaan dengan tidak teratur, karena cara yang tidak teratur dalam penanganan masalah pembinaan hanya akan membuahkan sebuah kebuntuan jalan keluar.

Jadi untuk memecahkan masalah dalam pembinaan ini, dimana masyarakat Kelurahan Tinengi belum sepenuhnya mau dan bersedia menjalankan aktivitas agama sesuai yang telah ditetapkan oleh Al- Quran dan As-Sunnah, maka perlu dilakukan pembinaan yang lebih bersifat kekeluargaan, agar masyarakat terluluhkan hatinya untuk bisa menjalankan perintah agama sesuai yang tertuang dalam Alquran dan Sunnah.

Oleh karena itu, agar terwujudnya usaha pembinaan dan penyempurnaan ajaran islam dari kurangnya pemahaman agama masyarakat Kelurahan Tinengi maka peneliti menguraikan beberapa bentuk pembinaan masyarakat sebagai berikut :

a. Yasinan Remaja Masjid

Masyarakat Kelurahan Tinengi yang memiliki penduduk beragama Islam sebagai penduduk mayoritas, dan peneliti berusaha membentuk

remaja masjid untuk melakukan kegiatan keagamaan seperti pembacaan yasin khusus remaja masjid di malam jumat.

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan peneliti mendapatkan data sebagai berikut :

1) Materi

Materi yang dikemas dalam kegiatan Yasinan antara lain pembacaan tahlil dan asmaul husna, sebagaimana yang diutarakan oleh Bpk. Onex (Imam Tinengi) dalam wawancara peneliti pada tanggal 05 Desember 2017.

"Kegiatan Yasinan remaja masjid di Kelurahan Tinengi ini tidak hanya melakukan kegiatan pembacaan yasin semata, melainkan juga diadakan kegiatan lain seperti memperbaik bacaan alquran Tahsinul Qiraah dan Asmaul Husnah”.69

2) Waktu pelaksanan

Waktu pelaksanaan kegiatan yasinan adalah satu kali dalam sepekan yang dilaksanakan pada malam jum’at. Hal ini juga diungkapkan oleh Bpk. Onex (Imam Tinengi). dalam wawancara peneliti dengan beliau selaku tokoh agama.

"Kegiatan Yasinan remaja masjid ini sudah berjalan lancar, adapun pelaksanannya kita pilih setiap malam jumat"70

3) Metode yang diterapkan

Metode yang diterapkan dalam penyampaian materi dalam kegiatan Yasinan remaja masjid adalah dengan metode ceramah

69 Wawancara bersama Bpk. Onex (Imam Tinengi) pada tanggal 05 Desember 2017

70 Wawancara bersama Bpk. Onex (Imam Tinengi) pada tanggal 05 Desember 2017

dan juga pemberian kisah teladan. Berikut ini penuturan Bpk.

Junaid (Ketua KUA) dalam wawancara peneliti dengan beliau pada tanggal 05 Desember 2017.

"Dalam pemilihan metode penyampaian materi keagamaan pada kegiatan Yasinan remaja masjid kami memilih menggunakan metode yang sederhana seperti ceramah dan pemberian teladan yang baik kepada remaja masjid"71

b. TPA (Taman Pendidikan Al-Quran)

Penanaman nilai-nilai keagamaan akan lebih efektif bila dilaksanakan sedini mungkin. Menyadari hal tersebut, masyarakat Kelurahan Tinengi Kecamatan Tinondo Kabupaten Kolaka Timur memberikan "wadah" bagi generasi muda untuk menambah wawasan keagamaan mereka dengan mendirikan sebuah Taman Pendidikan Al- Quran (TPA). Berikut ini data yang diperoleh dalam observasi yang dilakukan pada tanggal 07 Desember 2017.

1) Materi

Materi yang dikemas dalam kegiatan TPA ini adalah materi dasar agama, semisal tatacara dan bacaan dalam sholat, pengamalan doa sehari-hari, dan taracara membaca Alquran yang benar.

2) Waktu pelaksanan

Waktu pelaksanaan kegiatan TPA ini adalah tiap hari, kecuali hari Jum'at yang merupakan hari libur untuk kegiatan TPA ini.

71 Wawancara bersama Bpk. Junaid (Ketua KUA) pada tanggal 05 Desember 2017

3) Metode yang diterapkan

Metode yang diterapkan dalam penyampaian materi dalam kegiatan TPA ini, selain dengan ceramah dan tanya jawab, juga menerapkan pemberian teladan yang merupakan hal yang terpenting, mengingat anak-anak TPA masih memerlukan figur yang dapat mereka jadikan sebagai panutan dalam pelaksanan ajaran agama dalam kegiatan sehari-hari.

c. Jaulah (Silaturrahmi)

Jaulah (Silaturrahmi) ialah bentuk dakwah dengan cara mengunjungi pemukiman warga dan mengajak warga menuju ke masjid melaksanakan shalat 5 waktu dalam sehari semalam. manfaat yang diperoleh yaitu untuk mengetahui keadaan di masyarakat dan mendapatkan informasi keluhan berbagai persoalan serta memahami kehidupan yang sesungguhnya. Maka dengan jaulah atau silaturrahmi ini dapat mempererat hubungan kekeluargaan baik keluarga sesama muslim dan non muslim maupun keluarga keturunan khusunya di Kelurahan Tinengi Kecamatan Tinondo Kabupaten Kolaka Timur.

2. Faktor Pendukung dan Penghambat Terhadap Pembinaan

Dokumen terkait