BAB I PENDAHULUAN
A. KajianTeori
5. TeoriInteraksionalismeSimbolis
Teori interaksionalisme simbolis memahami realitas sebagai suatu interaksi yang dipengaruhi berbagai simbol.Kenyataan merupakan interaksi interpersonal yang menggunakan simbol-simbol.
Untuk memahami lebih jelasnya tentang teori interaksionalisme simbolis, mari kita lihat apa asumsi yang ada dalam teori ini.
Asumsi Teori Interaksionalisme Simbolis
Menurut turner, ada empat asumsi dari Teori Interaksionalisme Simbolis, yaitu:
a. Manusia adalah makhluk yang mampu meciptakan dan menggunakan simbol Tindakan sosial dipahami suatu tundakan suatu individu yang memiliki arti atau makna (meaning). Subjek bagi dirinya dan dikaitkaan dengan orang lain.
Dalam proses melakukan tindakan sosial terdapat proses pemberian arti atau pemaknaan. proses pemberian arti atau pemaknaan menghasilkan simbol. Ketika tindakan sosial dilakukan oleh dua orang atau lebih, maka pada saat itu dua anak manusia atau lebih dengan menggunakan atau menciptakan simbol.
b. Manusia menggunakan simbol untuk saling berkomunikasi
Manusia menciptakan simbol melalui pemberian nilai atau pemaknaan terhadap sesuatu (baik berupa bunyi, kata, kerak tubuh, benda atau hal yang lainnya).
c. Manusia berkomunikasi melalui pengambilaan peran (role taking)
Pengambilan peran (role taking) merupakan proses pengambilan peran yang mengacu pada bagaimana kita melihat situasi sosial dari sisi orang lain dimana dari dia kita akan memperoleh respon. Dalam proses pengambilan peran seorang menempatkan dirinya dalam kerangka pikir orang lain.
d. Masyarakat terbentuk, bertahan, dan berubah berdasarkan kemampuan manusia untuk merpikir, untuk mendefinisikan, untuk melakukan refleksi diri dan untuk melakukan evaluasi
Masyarakat dibentuk, dipertahankan, dan berdasarkan kemampuan manusia yang dikembangkan melalui interaksi sosial.Kemampuan manusia dalam berpikir, mendefinisikan refleksi diri dan evaluasi berkembang melalui interaksi sosial.
Jadi, proses interaksi sosial ada;ah sangat penting dalam mengembangkan kemampuan manusia. Dengan kemampuan tersebut, melalui interaksi juga, manusia membentuk, mempertahankan, dan mengubah masyarakat.
Penelitian Yang Relevan:
1. Menurut hasil penelitian Verheijen, 1991:23 dalam bukunya (Budaya Manggarai Selayang Pandang) di Manggarai ditemukan beberapa subklan yang moyangnya sebagai seorang pribadi datang dari luar, antara lain: Bugis, Goa, Makassar, Serang, Sumba, Bima, Boneng Kebo. Artinya moyangnya Manggarai berasal dari banyak suku yang datang dari luar.
2. Menurut hasil penelitian Soekmono, dalam bukunya (Budaya Manggarai Selayang Pandang, 1990:11),di Manggarai memiliki keanekaragam budaya salah satunya yaitu tradisi tarian caci di desa wae rebo, dia mengulas lagi bahwa sesungguhnya pendukung kebudayaan itu bukanlah manusia seorang diri melainkan masyarakat seluruhnya.
B. Kerangka Konsep
Desa Gorontalo Manggarai Barat merupaka salah satu Desa yang memiliki keanekaragam budaya.Pada umumnya gambaran masyarakat Manggarai barat bisa dilihat dari corak maupun ragam budaya yang tercermin dalam berbagai sub- sistem yang berlaku.beragamsub-sistem yang hidup dalam masyarakat Manggarai yang dapat memperlihatkan bagaimana sesungguhnya corak kebudayaan di Manggarai. Koentjaraningrat dengan jelas menyebutkan beberapa unsur budaya yang hidup dalam masyarakat Manggarai yaitu sistem religi dan upacara keagamaan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian atau ekonomi, sistem teknologi dan peralatan (1990:2).
Adapun bentuk-bentuk keragaman budaya masyarakat Manggarai antara lain:
Tarian caci, torok tae/tudak, sanda, mbata, sae, ronda, dan nenggo/dere. Dari bentuk-bentuk tersebut, terungkaplah persepsi dari masyarakat tentang keanekaragam budaya masyarakat Manggarai itu sendiri khususnya Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Masyarakat Desa Gorontalo sangat antusias terhadap keberagaman budaya Manggarai dengan terus meregenerasikan keberagaman budaya tersebut kepada generasi-generasi muda agar keberagaman budaya tersebut tetap eksis pada masyarakat Manggarai secara umumnya dan pada masyarakat Desa Gorontalo pada khususnya.
Gambar 2.1 Kerangka Pikir DESA GORONTALO KECAMATAN
KOMODO KABUPATEN MANGGARAI BARAT
BENTUK KERAGAMAN BUDAYA MANGGARAI
BARAT
PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG BUDAYA MANGGARAI BARAT KERAGAMAN BUDAYA
MASYARAKAT MANGGARAI BARAT
HASIL ATAU TEMUAN
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk, keunikan, dan ragam budaya masyarakat Manggarai. Instrument utama dalam penelitian ini adalah penelitian sendiri.Data yang dikumpulkan berupa kata-kata dalam bentuk tertulis maupun lisan.Seluruh data dianalisis secara induktif sehingga menghasilkan data yang deskriptif.
Untuk memperoleh data dilakukan atau dibutuhkan teknik pengumpulan data.Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi atau pengamatan, wawancara, dan dokumentasi yang berupa sumber bacaan atau tetulis serta foto atau gambar dari bentuk-bentuk dan keunikan keragaman budaya masyarakat Manggarai.
Adapun pendekatan yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah : 1. Pendekata etnografi
Jenis penelitian ini menggunakan penelitian etnografi (budaya) yang mana etnografii itu sendiri merupakan konsep kebudayaan serta usaha menguraikan kebudayaan atau aspek-aspek kebudayaan (Lexy, 2010:13).
Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan tentang budaya primitif dalam bentuk cara berfikir, cara hidup, adat, berperilaku dan bersosial (Iskandar,
2000:58). Penelitian keragaman budaya ini berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan yang kental, sehingga penulis menggunakan penelitian etnografi.
2. Pendekatan Fenomenologis
Pendekatan fenomonologis yaitu berusaha memahami arti peristiwa-peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu. Dalam pendekatan penelitian ini yang menjadi perhatian dan fenomena utama adalah tradisitarian caciyang merupakan bagian dari Nusa Tenggara Timur (NTT), tari ini dimainkan saat syukuran musim panen (hang woja) dan ritual tahun baru (penti), upacara pembukaan lahan atau upacara adat besar lainnya, serta dipentaskan untuk menyambut tamu penting.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, pemilihan lokasi dilakukan, karena Desa Gorontalo adalah salah satu Desa yang masih melakukan berbagai macam ragam budaya seperti tarian caci, torok tae/tudak, sanda, danding serta budaya lainnya yang diwariskan oleh nenek moyang kepada anak cucu, meskipun ada beberapa unsur- unsur yang telah berubah. Desa gorontalo juga masih menyimpan benda-benda peninggalan nenek moyang seperti : compang (tempat persembahan).
Alasan peneliti memilih lokasi ini karena Desa Gorontalo Manggarai Barat/Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah yang kaya akan keragaman budayanya. Di samping itu Flores/NTT juga terkenal dengan wisatanya yang begitu indah dan keunikkan lainnya serta bentuk-bentuk rumah dan ciri khas makanan dan minuman yang dimiliki oleh masyarakat flores yang begitu
membedakan dengan masyarakat lainnya/wilayah lainnya. Karena alasan tersebut peneliti melakukan penelitian di wilayah NTT khususnya Desa Gorontalo Manggarai Barat.
C. Informan Penelitian
Informan penelitan ada 5 orang yaituTua Golo, Tua Teno, Tua Gendang, kepala Desa Gorontalo dan juga tokoh masyarakat Desa Gorontalo. Penentuan informan dilakukan secara purposive, yakni dengan memilih orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai terkait dengan hal dikaji dalam penelitian ini. Langkah awal yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menemui orang yang dalam penelitian ini diposisikan sebagai informan kunci, yaitu orang bisa memberikan informasi awal mengenai orang yang ikut aktif dari berbagai macam ragam budaya yaitu kepala Desa Gorontalo
Untuk menemukan informan lainnya peneliti meminta keterangan dari kepala Desa Gorontalo untuk mendapatkan informan lainnya yang mempunyai pengetahuan khusus mengenai fokus penelitian ini, demikian seterusnya sehingga terjadi proses pemilihan informan secara bercabangdan beranting dengan teknik pemilihan informan yang dalam penelitian disebut teknik Snowball. Secara lebih kongkrit informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah Tua Golo, Tua Gendang, dan Tua Teno dan kepala Desa Gorontalo.
D. Fokus Penelitian
Fokus penelitian dibuat agar penelitian lebih terarah dan batas-batas dan masalahpun diketahui secara jelas.Seperti pengertian fokus penelitian menurut
Moleong (2006:92) bahwa fokus penelitian berfungsi sebagai pedoman dalam melakukan pembahasan terhadap hasil penelitian yang telah ditetapkan.
E. Instrument Penelitian
Untuk memperoleh data yang sesuai dengan permasalahan penelitian, maka dalam hal ini penelitian berperan aktif dalam teknik pengumpilan data sekaligus sebagai instrument penelitian.Hal tersebut disebabkan Karena dalam penelitian ini penelitian bertindak sebagai berencana dan sekaligus sebagai pelaksana dari rancangan penelitian yang sudah disusun.
Diharapkan proses pengambilan data tetap sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat dan mendapatkan hasil seperti tujuan yang telah ditetapkan.
Instrument lainnya sebagai instrument pembantu berupa alat tulis untuk mencatat hal-hal penting yang dalam proses pengumpilan data yaitu observasi, wawancara, tapi recorder sebagai alat perekam dalam wawancara, serta kamera digital untuk mengambil gambar pada proses penelitian.
F. Jenis Dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data primer dan sekunder, data primer adalah data yang didapatkan dari hasil wawancara atau observasi.Sedangkan data sekunder adalah data yang didapatkan dari hasil telaah buku referensi atau dokumentasi. Yang menjadi sumber adalah Tua Golo, Tua Gendang, Tua Teno dan kepala Desa Gorontalo, dimana peneliti menjadikan mereka sebagai informann kunci.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpilan data merupakan suatu cara yang digunakan untuk memperoleh atau mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam penelitian. Untuk memperoleh data yang sesuai dengan permasalahan diperlukan teknik pengumpulan data. Teknik pengumpilan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1. Observasi
Dalam penelitian ini penelitian bertujuan langsung kelapangan untuk memperoleh dan mengumpulkan data. Proses kegiatan ini lebih ditekankan pada ketelitian dan kejelian peneliti sendiri. Dalam observasi ini, peneliti melakukan pengamatan secara langsung tempat yang akan digunakan untuk penelitian.
2. Wawancara
Tahap kedua untuk mengumpulkan data yaitu melakukan wawancara langsung secara mendalam dengan responden yang telah dilakukan sebelumnya.Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (moleong: 2002: 135). Wawancara diadakan dengan tujuan untuk memperoleh datayang diperlukan, untuk mengecek kebenaran data yang diperoleh melalui kegiatan observasi yang dilakukan pada langkah pertama.
3. Dokumentasi
Tahap dokumentasi dilakukan untuk dapat memperkuat data hasil dari wawancara dan observasi. Dokumen-dokumen yang berisi data-data yang
dibutuhkan meliputi buku-buku yang relevan, serta foto-foto atau gambar tentang bentuk-bentuk dan keunikan budaya Manggarai
H. Teknik Analisis Data
Berdasarkan pada jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif, maka dari data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif yaitu dengan cara melukiskan hasil penelitian dalam bentuk kata-kata atau kalimat sehingga dengan demikian penulis menguraikan secara mendalam hasil penelitian tersebut sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang terjadi di lapangan. Setelah data terkumpul maka harus dilakukan analisis terhadap data yang ada. Untuk melakukan analisis maka digunakan apa yang disebut teknik analisis data. Teknik analisis data merupakan cara atau langkah-langkah yang dilakukan untuk mengolah data baik data primer maupun data sekunder, sehingga data-data yang terkumpul akan diketahui manfaatnya, terutama dalam memecahkan permasalahan penelitian. Dengan demikian, maka perhatian utama dari analisis data ini adalah dari kata, ungkapan, kalimat maupun perilaku dari objek penelitian.
Menurut Milles dan Huberman dalam Bungin (2004:99), analisis data pada penelitian kualitatif meliputi tahap-tahap sebagai berikut:
1. Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemisahan, perhatian pada penyederhaanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Data yang diperoleh di lokasi penelitian kemudian dituangkan dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terinci.Laporan
lapangan akan direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal, pokok, difokuskan pada hal- hal yang penting kemudian dicari tema atau polanya. Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung. Laporan/ data di lapangan dituangkan dalam uraian lengkap dan terperinci.Dalam reduksi data peneliti dapat menyederhanaan data dalam bentuk ringkasan.
2. Penyajian Data
Adalah suatu usaha untuk menyusun sekumpulan informasi yang telah diperoleh di lapangan, untuk kemudian data tersebut disajikan secara jelas dan sistematis sehingga akan memudahkan dalam pengambilan kesimpulan. Penyajian data ini akan membantu dalam memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang seharusnya dilakukan. Kegiatan penyajian data disamping sebagai kegiatan analisis juga merupakan kegiatan reduksi data.
3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Pada tahap ini peneliti berusaha untuk memahami, menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan, dan akhirnya setelah data terkumpul akan diperoleh suatu kesimpulan. Kesimpulan – kesimpulan tersebut selanjutnya akan diverifikasi untuk diuji validitasnya dan kebenerannya data – data tersebut.
I. Teknik Keabsahan Data
Dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik triangulasi, yaitu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut, dan teknik triangulasi yang paling banyak digunakan adalah dengan pemeriksaan melalui sumber yang lainnya. Menurut Moloeng (2007:330), triangulasi adalah
teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya.Denzin dalam Moloeng (2007:330) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori.
Triangulasi dilakukan melalui wawancara, observasi langsung dan observasi tidak langsung, observasi tidak langsung ini dimaksudkan dalam bentuk pengamatan atas beberapa kelakukan dan kejadian yang kemudian dari hasil pengamatan tersebut diambil benang merah yang menghubungkan di antara keduannya. Teknik pengumpulan data yang digunakan akan melengkapi dalam memperoleh data primer dan skunder. Observasi dan interview digunakan untuk menjaring data primer yang berkaitan dengan keragaman budaya masyarakat Flores, sementara studi dokumentasi digunakan untuk menjaring data skunder yang dapat diangkat dari berbagai dokumentasi tentang keragaman budaya.
Beberapa macam triangulasi data sendiri menurut Denzin dalam Moleong (2004 : 330) yaitu dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori, antara lain yaitu:
1. Triangulasi Sumber (data)
Triangulasi ini membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda dalam metode kualitatif.
2. Triangulasi Metode
Triangulasi ini menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
3. Triangulasi Penyidikan
Triangulasi ini dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data.Contohnya membandingkan hasil pekerjaan seorang analisis dengan analisis lainnya.
4. Triangulasi Teori
Triangulasi ini berdasarkan anggapan bahwa fakta tertentu tidak dapat diperiksa derajat kepercayaan dengan satu atau lebih teori tetapi hal itu dapat dilakukan, dalam hal ini dinamakan penjelasan banding. Dari empat macam teknik triangulasi diatas, peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber (data) dan triangulasi metode untuk menguji keabsahan data yang berhubungan dengan masalah penelitian yang diteliti oleh peneliti.
BAB IV
GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELTIAN
A. Asal Usul Moyang Manggarai
Dalam uraian penulis bahwa Manggarai mempunyai suku asli. Dalam kaitannya dengan ini, ulasan Dami N. Toda, “orang asli” (ata ici tana) Manggarai senantiasa dikisahkan tradisi pelisanan sebagai makhluk berbadan bulu, berpakaian kulit kayu, memakan makanan mentah, dan belum mengenal api ( metaforik), sehingga bulu badan mereka gugur oleh panas api dan mengenal makanan yang dimasak (1999:221-222).
Dulu orang Manggarai menganut kepercayaan agama asli yaitu dinamisme dan anamisme (kepercayaan pada roh-roh halus) mereka berkeyakinan bahwa kebanyakan roh (dewa/leluhur) hadir pada pohon-pohon besar (lengke) dan di sumber mata air/rawa-rawa.Pohon dan tempat semacam itu dianggap keramat, yang mempunyai kekuatan dan perlindungan (pong).Karenanya nenek moyang Manggarai berupaya menanam kembali bibit pohon besar itu (lengke) agar tumbuh ditengah kampung/sekitar kampung, yang disebut compang.Compang itu berbentuk bundar, di tengah-tengah compang tumbuh pohon besar (lengke), yang dijadikan tempat sesajian.Dengan adanya compang itu, orang merasa diberi kekuatan, dapat menyejukkan hati dan pikiran, terlindung dari ancaman.barangkali ini mirip dengan apa yang diistilahkan oleh Nadjib, Spiritual Guard yakni melegitimaikan keabsahan dan kehebatannya (1992:235). Jadi roh dipohon besar itu dibuatkan lagi berupa compang ditengah kampung tetapi Pong
ada dua versi : kekuatan yang baik dan jahat. Verheijen (1991:233) menjelaskan bahwa orang Manggarai yakni bahwa bila seorang jatuh dari pohon, biasanya dituduhkan kepada darat atau poti tetapi juga kepada jing (roh halus).Memang pada dasarnya, tegas Kleden manusia tak diminta untuk tunduk pada alam.Manusia dan alam menurut Kleden, ada hubungan kewajiban antara keduanya sebagai sesama ciptaan, alam wajib menghidupi manusia dan manusia wajib melestarikn alam (1988:150). Dalam kaitan dengan ini, memang cukup berbahaya jika orang salah menggunakan pong, compang, boa, wae teku, bukan bermaksud untuk bersahabat dengan alam, tetapi mau mencari kekuatan gaib, supaya menjadi manusia super, bahwa dengan modal dukun (mbeko) untuk ajang bisnis jual kekuatan yang bisa jadi berujung pada raha rombo lingko/raha rumbu tana (pertumpahan darah merebut tanah ulayat/tanah). Jadi, bukan hukum adat, hukum positif yang dikedepankan, tetapi commercial mbeko.Sikap naik banding di tempat/sikap main hakim sendiri jelas merupakan perbutan melawan hukum, juga dapat dihukum.Hal itu dengan jelas tercantum dalam pasal 167 dan 406 KUHP (Mertokusumo, 2002:3).
Di Manggarai konon pada masa lampau dikenal adanya sistem feodal/bangsawan. Sejak Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945 dan sejak berlakunya sistem pemerintahan Orde Lama (Orla), maka jabatan feudal hilang, sehingga sistem kasta di Manggarai tidak ada. Kemungkinan besar sistem feudal ini berlahan-lahan berkurang/hilang, menurut Verheijen adalah sejak masuknya pengaruh langsung dari Eropa mulai masuk Manggarai pada tahun 1907.Pada tahun 1915 datang seorang misionaris dari peninggalan pertama (1991:24).Sejak
Orla itu, dikenal dengan istilah Kepala Desa (istilah Jawa) kemudian berlaku secara menyeluruh untuk wilayah Nusantara. Dulu, kebanyakan yang menjabat sebagai kepala desa adalah dari turunan bangsawan, menguasai budaya setempat, berjiwa memimpin, bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta cukup mengenal sistem pemerintahan RI, sehingga bisa berkomunikasi/berkoordinasi dengan pemerintah yang lebih tinggi.
Menurut hsil penelitian Verheijen, di Manggarai ditemukan beberapa subklan yang moyangnya sebagai seorang pribadi datang dari luar, antara lain: dari Bugis, Goa, Makassar, Serang, Sumba, Bima, Boneng Kebo (1991:23). Itu artinya bahwa moyang Manggarai berasal dari banyak suku yang datang dari luar.Oleh karena kurangnya data tertulis, sehingga sulit dipastikan pengelompokkan klan-klan si Manggarai berdasarkan suku asalnya, baaik yang datang dari luar maupun suku asli Manggarai. Hampir pada umumnya setiap wilayah distrik (hamente/dalu) atau wilayah kecamatan di Manggarai memiliki dialek bahasa yang berbeda-beda.
Meskipun bahasa daerah tetap satu yaitu bahasa Manggarai. Hal itu, Verheijen berkesimpulan bahwa tidaklah jelas apakah golongan bangsawan (keraeng) pada umumnya berasal dari satu kelompok migrant tertentu (199i:24).
Hemat penulis bahwa suku luar yang cukup berpengaruh di Manggarai kebanyakan berasal dari Sulawesi Selatan (Kerajaan Goa/Makassar/Bugis).
Misalnya, istilah keraeng sesungguhnya merujuk pada sebutan bangsawan yang sama dengan yang digunakan di Makassar (Goa). Hanya sedikit perbedaan dari segi penulisan dan penghafalannya.Orang Manggarai menyebutkan keraeng (ke- ra-eng); sedangkan orang Makassar menyebutnya karaeng (ka-ra-eng).Mengapa
istilah sebagai salah satu pertimbangan yang cukup kuat, karena istilah tersebut mengarah pada istilah bangsawan.Bangsawan adalah status sosial masyarakat yang terhormat.Golongan bangsawan sebagai pemangku adat/tua adat untuk mengatur tata hidup sosial.
Ada beberapa pertimbangan lain yaitu berupa unsur bahasa yang mempunyai kesamaan antara suku Manggarai dengan Goa/Makassar/Bugis, antara lain:
Bugis Goa/Makassar Manggarai Indonesia
Manuk Lipa Kasiasi - - - - Bembe
- Lipa -
Somba opu Lampa Karaeng Nyaraang Bembe
Manuk Lipa/towe Kasiasi Sombaa opu Lampa Keraeng Jarang Bembe,mbe
Ayam Kain sarung Miskin
Menghornati leluhur Jalan/melangkah Bangsawan Kuda Kambing
Tabel 4.1: Pertimbangan kesamaan antara Suku Manggarai dengan Goa/Makassar/Bugis.
Dalam hal bentuk rumah pun, bahwa bentuk rumah Manggarai adalah rumah panggung (mbaru ngaung). Di Bugis, Goa/Makassar pun diperoleh bentuk rumahnya yaitu rumah panggung.
Gambar 4.1: Bentuk Rumah Panggung Manggarai Barat
Beberapa data tersebut diatas dapat diperoleh salah satu peneliti ketika merantau selama 13 tahun di Makassar/Goa, sejak tahun 1990-2002.Adapun data lainnya, Verheijen menegaskan bahwa pekerjaan menenun telah dimasukkan dari Goa/Makassar (1976:24).Pekerjaan menenun menghasilkan kain sarung songke (lipa songke, towe songke).
Gambar 4.2 : Kain Songke adalah kerajinan tangan Wanita Manggarai (Sumber: Drs. Anthony Bagul Dagur, 1997:132)
Hidayat Z.M. juga menegaskan bahwa Manggarai mendapat pengaruh dari Sulawesi selatan terutama dari Goa/Makassar (1976:130) Setelah menyimak dari beberapa hal yang telah diuraikan di atas, penulis belum dapat menyimpulkan secara jelas, tegas, dan akurat menyangkut asal usul leluhur Manggarai.
Kemungkinan besar leluhur Manggarai berasal dari banyak suku, baik dari dalam maupun dari luar.Cuma kemungkinan besar bahwa bahwa suku yang cukup dekat dengan Manggarai adalah suku Goa/Makassar, Bugis.Tetapi cukup sulit mendapat pengaruh langsung dan menyeluruh dari suku-suku luar Manggarai.Karena Manggarai memiliki keadaan alam yang penuh bukit, gunung. Hal itu karena terbukti Manggarai mempunyai warisan budaya yang unik, misalnya: tarian caci, caci adalah tarian khas Manggarai, yang tidak ada pada suku lain. Itu sebagai pertanda bahwa kemungkinan besar Manggarai mempunyai suku aslinya.Tetapi