• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG KERAGAMAN BUDAYA

BAB IV GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN

B. PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG KERAGAMAN BUDAYA

Gorontalo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.Masyarakat Desa Gorontalo sangat antusias terhadap keberagaman budaya Manggarai dengan terus meregenerasikan keberagaman budaya tersebut kepada generasi-generasi muda agar keberagaman budaya tersebut tetap eksis pada masyarakat Manggarai secara umumnya dan pada masyarakat Desa Gorontalo pada khususnya. Bahkan mereka selalu menyatukan persepsi dengan pesan bijak budaya:

Persepsi Ini Dari Hasil Wawancara Dengan Drs. Lambertus Sebagai Tokoh Adat Manggarai. 27 Juni 2018

maiga ite nai ca anggit, tuka caleleng, kope oles todo kongkol, bantang cama reje lele, kudut pande rewo beo rang kaeng tana Manggarai (marilah kita sehati dan sepikir bersatu padu yang dilandasi oleh semangat hidup bermusyawarah untuk tercapainya suatu mufakat sehingga dapat terciptanya jadi diri daerah yang mantap, kokoh dan bermartabat).

Untuk meningkatkan kualitas kehidupan khususnya dalam rangka mendorong dan mengembangkan sikap kerja yang perlu dipahami adalah dari berbagai aspek kehidupan manusia, budaya merupakan salah satu bagian yang mendasar dalam kehidupan seseorang ataupun sekelompok orang.Dengan adanya keragaman budaya di Menggarai Barat membantu mengembangkan peningkatan ekonomi yang ada di Manggarai Barat, salah satunya, Caci dance yang sudah terkenal, sehingga wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara jauh-jauh datang dari negaranya hanya untuk melihat seperti apa caci dance itu, setelah mereka menyaksikan pertunjukan caci dance baru mereka tahu ternyata pertunjukan yang di lakukan masyarakat Desa Gorontalo sangat berbahaya dan menggunakan keberanian tersendiri yang tidak dimiliki oleh orang biasa.Tetapi untuk saat ini keragaman budaya tersebut sudah mulai fakum karena masyarakat Desa Gorontalo jarang mengembangkan kebudayaan tersebut, karena budaya – budaya moderen sudah mulai mempengaruhinya.Torok Tae/Tudak juga salah satu budaya masyarakat Desa Gorontalo yang seharusnya di kembangkan agar budaya tersebut selalu berkembang supaya masyarakat tahu bahwa budaya tersebut mempunyai manfaat bagi masyarakat dan anak muda, khususnya di Desa Gorontalo salah satu wilayah pariwisata yang seharusnya masyarakat mengembangkan budaya

tersebut, supaya budaya yang ada di Desa Gorontalo tidak kalah saing dengan di daerah lainnya seperti Lombok.

Selaras Dengan Pembahasan Bapak Muhammad Saleh Salah Satu Warga Masyarakat Desa Gorontalo. 02 Juli 2018

Iya, Masyarakat juga berharap agar pemerintah ikut serta atau partisipasi dalam membangun keragaman budaya di Desa Gorontalo agar budaya tersebut bisa berjalan dengan baik, karena bantuan pemerintah juga sangat penting dalam hal bantuan seperti materi dan dukungan, tanpa dukungan dari pemerintah semuanya tidak akan bertahan lama, seperti saat ini keragaman budaya di Desa Gorontalo mulai fakum karena dukungan dari pemerintah sangat lemah. Harapan kami sebagai masyarakat Desa Gorontalo agar pemerintah mau membantu supaya keragaman budaya tersebut mulai berkembang kembali seperti semula.

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Keragaman budaya Masyarakat Desa Gorotanlo Kacamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat harus lebih mengutamakan kebudayaan pribumi dari pada kebudayaan orang luar supaya ada nilai jual di mata masyarakat dan pemerintah, karena kebudayaan yang ada di desa tersebut sangat memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lain seperti kebudayaan , tarian caci, tarian torok tae/tudak, tarian sanda, tarian mbata, tarian danding, tarian sae, tarian ronda, dan tarian nenggo/dere. Tarian-tarian tersebut hanya ada di Desa Gorontalo maka dari itu kita perlu mengembangkannya, agar kita tidak kalah saing dengan daerah lain.

Persepsi masyarakat terhadap keragaman budaya Manggarai khususnya Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.Masyarakat Desa Gorontalo sangat antusias terhadap keberagaman budaya Manggarai dengan terus meregenerasikan keberagaman budaya tersebut kepada generasi-generasi muda agar keberagaman budaya tersebut tetap eksis pada masyarakat Manggarai secara umumnya dan pada masyarakat Desa Gorontalo pada khususnya.

B. Saran

Mengingat dengan adanya peluang yang bisa menguntungkan Masyarakat Desa Gorontalo, agar bisa membaca peluang tersebut supaya keragaman budaya sendiri bisa dikembangkan lebih baik lagi dan tidak mengutamakan kebudayaan orang lain. Agar parawisatawan lebih meningkat kunjungan didaerah Desa Gorontalo Kacamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Kluckhon C., melalui universal categories of culture (1953), Sosiologi Komunikasi, Jakarta: Prenada Media Group.

Cleden, 1988, Budaya Manggarai Selayang Pandang, Yokyakatra: Nusa Indah.

Toda, Dami N., (1999:221-222). “orang asli” (ata ici tana) Manggarai.

Budaya Manggarai Selayang Pandang, tentang Asal Usul Moyang Manggarai, Yokyakarta: Nusa Indah.

Taylor B. E., (saifuddin,2005: 82), Sosiologi Komunikasi, Jakarta: Prenad a Media Group.

Hartoko, 1886, Budaya Manggarai Selayang Pandang, tentang cara hidup masyarakat dilambangkan dengan Totem-totem, Yokyakarta: Nusa Indah.

Hidayat, 1976, Budaya Manggarai Selayang Pandang, bahwa belis sebagai simbol status pribadi disebut paca, wagal atau gelar weki, Yokyakarta:

Nusa Indah.

Hidayat, Z. M., 1976, Budaya Manggarai Selayang Pandang, juga menega skan bahwa Manggarai mendapat pengaruh dari Sulawesi selatan terutaman dari Goa/Makassar, Yokyakarta: Nusa Indah.

Sunarka, J. (Bunga Rampai VII:2003:23), Budaya Manggarai Selayang Pandang, bahwa dalam keluarga yang berwawasan budaya patrilineal, semua berada dalam kuasa suami, Yokyakarta: Nusa Indah.

Koentjaraningkrat, 1990, Budaya Manggarai Selayang Pandang, Yokyakarta: Nusa Indah.

Koentjaraningrat, 1979, Sosiologi Komunikasi, Jakarta: Prenada Media Group.

Koentjaraningrat, (Soekanto, 2003:172), Sosiologi Komunikasi, Jakarta:

Prenada Media Group.

Koentjaraningrat, sosiologi suatu pengantar, fungsi kebudayaan bagi masyarakat, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Mertokusumo, 2002, Budaya Manggarai Selayang Pandang, Yokyakatra:

Nusa Indah.

Milles dan Huberman, 2004, Redearch Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, Dan Mixed, Yokyakarta: Pustaka Belajar.

Nuri, 1995, Budaya Manggarai Selayang Pandang, letak geografis, Yokyakarta: Nusa Indah.

Nuri (1985:16), Budaya Manggarai Selayang Pandang, Yokyakarta: Nusa Indah.

Soemardjan Selo Dkk, (Seokanto, 2002:173), Sosiologi Komunikasi, Bahwa Kebudayaan Sebagai Semua Hasil Karya, Rasa, Dan Cipta Masyarakat, Jakarta: Prenada Media Group.

Varheijen, 1991, Budaya Manggarai Selayang Pandang, Yokyakarta: Nusa Indah.

Varheijen, 1991, Budaya Manggarai Selayang Pandang, tentang masuknya pengaruh Eropa di Manggarai pada Tahun 1907-1915, Yokyakarta:

Nusa Indah.

Verheijen, 1991, Budaya Manggarai Selayang Pandang, dilihat dari segi topografinya sampai sekarang kampung di Manggarai berada di bukit- bukit, Yokyakarta: Nusa Indah.

Verheijen (1991:27), data tahun 1936-1948, kebudayaan agraris yang digambarkan ini merupakan gambaran kehidupan agraris Manggarai sebelum tahun 1950-an (1991:24). Budaya Manggarai Selayang Pandang, Yokyakarta: Nusa Indah.

Verheijen, 1991, Budaya Manggarai Selayang Pandang, Asal Usul Moyang Manggarai, Yokyakarta: Nusa Indah.

RIWAYAT HIDUP

Aslianti, lahir di Pulau Messah, pada tanggal 9 Agustus 1994. Anak ke empat dari enam bersaudara dan merupakan buah kasih sayang dari pasangan Sapiudin dan Memang . penulis menempuh pendidikan sekolah dasar di SDN Pulau Messah mulai tahun 2002 sampai tahun 2008. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan Pendidikan di SMPN Satap Pulau Seraya dan tamat pada tahun 2011. Kemudia pada tahun 2012 penulis melanjutkan pendidikan di SMKN 1 Kota Bima dan tamat pada tahun 2014. Kemudia pada tahun yang sama penulis berhasil lulus pada Jurusan Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyaah Makassar Program Strata 1 (S1) Kependidikan. Dan penulis menyelesaikan studi pada tahun 2018 dengan gelar serjana pendidikan.

. 1. Dokumentasi

2. Pedoman wawancara 3. Permohonan judul skripsi

4. Kartu kontrol bimbingan proposal 5. Berita acara ujian proposal

6. Keterangan perbaikan hasil ujian proposal 7. Surat izin penelitian

8. Kartu kontrol pelaksanaan penelitian 9. Kartu kontrol bimbingan skripsi

DOKUMENTASI

Gambar 1: Budaya atau Tarian Caci Acara Adat Kampung

Gambar 2: Budaya atau Tarian Mbata Acara Penti/Syukuran

Gambar 3: Tarian Sanda Sebagai Salah Satu Budaaya Manggarai

Gambar 4: Kain Songke Salah Satu Budaya Manggarai

Gambar 5: Wawancara Dengan Beberapa Orang Yang Termasuk Pemain Tarian Sae/Ndundu Ndake

PEDOMAN WAWNCARA

Dalam upaya memperoleh data, peneltian ini menggunakan wawancara sebagai metode utama untuk melakukan pengkajian data secara mendalam.

Berikut ini merupakan pedoman wawancara kepada informan yang berbeda antara lain sebagai berikut :

1. Bagaimanakah menurut Bapak mengenai Tarian Caci yang merupakan salah satu budaya Khas Manggarai Barat ?

………

………

………

2. Kapan di adakan atau dilaksanakan kegiatan budaya Caci tersebut ?

………

………

……

3. Apa yang di maksud dengan Torok Tae/Tudak dan siapa yang melakukannya ?

………

………

………

4. Kebiasaan apa sajakah yang termasuk dalam macam-macam Torok Tae ?

………

………

………

………

………

………

5. Bagaimana menurut Bapak tentang Tarian Sanda dan kapan dilaksanakan tarian tersebut ?

………

………

……….

6. Budaya apa sajakah yang dilaksanakan pada akhir tahun ?

………

………

………

………

7. Apa sebabnya Tarian Sae di sebut sebagai Tarian Ndundu Ndake ?

………

………

……….

8. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap keragaman budaya yang ada di Manggarai Barat ?

………

………

……….

Dokumen terkait