Beton: Sesuai peraturan plint beton Indonesia (PBI)
Kontraktor akan mengembangkan laboratorium beton paling modern dan maju dengan teknisi terampil, manajer Pengendalian Mutu (QC), dan teknisis lapang/pada lokasi pengecoran. Lab akan mempunya fasilitas pengujian sifat fisik dari semen, kemampuan semen, kekuatan balok, permeabilitas semen, analisis saringan, RCPT, pengujian menyeluruh, pengujian yang diperlukan untuk desain campuran, tes klorida dari air dan pencampuran, suhu beton, oven, pengujian dipercepat untuk kekuaran semen/beton, pengujian kelenturan beton. Satu ruangan harus dibuat ber-ac untuk menjaga suhu dan kelembaban yang sesuai bagi pengujian semen.
Persyaratan ketahanan pada saat kondisi lingkungan, penutup beton, tipe dan kualitas komponen bahan, bahan semen dan rasio air terhadap semen, kecakapan/keahlian untuk mencapai hasil pengerasan yang benar-benar padat dan efisien, bentuk dan ukuran tiap bagian harus diperhitungkan dalam desain struktural sebagaimana yang terdapat dalam kontrak Spesifikasi Teknis. Rancangan ketahanan harus sesuai dengan laporan: “Ketahanan struktur beton”
Bahan-bahan – Detil dasar
Semua sumber bahan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu sebelum dibawa ke lokasi. Semua bahan untuk membuat semen harus disetujui oleh pemberi kerja. Semua contoh yang telah disetujui harus disimpan dalam kantor pemberi kerja sebelum memesan bahan-bahan dari pemasok bahan. Semua bahan yang dibawa ke lokasi kerja harus benar-benar sesuai dengan spesifikasi dan contoh yang telah disetujui.
Contoh yang baru harus disimpan oleh pemberi kerja kapanpun terjadi pergantian tipe atau sumber bahan.
Kontraktor harus selalu memeriksa muatan bahan yang baru datang ke lokasi kerja untuk menjamin kesesuaian dengan spesifikasi ataupun contoh yang telah disetujui diawal.
Pemberi kerja harus dapat memiliki bahan-bahan yang telah diuji untuk memastikan mereka sesuai dengan spesifikasi biaya yang dikeluarkan oleh kontraktor. Semua tagihan dan sertifikat pengujian, yang menurut pemberi kerja dibutuhkan untuk memastikan kualitas, kesesuaian dan sumber bahan-bahan, harus disiapkan untuk pemeriksaan olehnya jika diperlukan.
Semua bahan yang tidak sesuai dengan spesifikasi dan persetujuan pemberi kerja harus ditolak dan disingkirkan dari lokasi kerja oleh kontraktor menggunakan biaya sendiri dalam kurun waktu yang ditentukan oleh pemberi kerja. Pemberi kerja punya kewenangan untuk menyuruh kontraktor membeli dan menggunakan bahan-bahan dari sumber-sumber tertentu yang menurutnya dapat memenuhi persyaratan dan kualifikasi untuk menyelesaikan pekerjaan.
Kontraktor juga harus meyakinkan bahwa setiap komponen beton didapatkan dari sumber yang sama untuk mendapat warna dan tekstur yang seragam.
Semen/adukan semen/bahan semen – Sama saja artinya. Semen yang digunakan harus mengikuti tipe sbb:
i. 43 grade Ordinary Portland Cement sesuai dengan BS 8110 ii. 53 grade Ordinary Portland Cement sesuai dengan BS 8110 iii. PPC sesuai BS 146
iv. PRC sesuai BS 4027
v. Fly ash sesuai BS 3892 part 1
Jika memungkinkan semua semen dengan masing-masing tipe harus didapatkan dari satu sumber yang tetap melalui kontrak, semen dengan tipe yang berbeda tidak boleh disatukan. Merek semen yang berbeda, atau merek semen yang sama dari sumber yang berbeda, jangan digunakan sebelum mendapat persetujuan dari pemberi kerja.
51 Basic Engineering Design Spesifikasi Teknis untuk Pekerjaan Track
Semen yang dikemas harus diantarkan ke lokasi kerja dengan kantong asli yang masih tersegel yang harusnya memiliki label berisi berat, nama pabrik, merek dan tipe. Semen yang diterima dalam keadaan kantong rusak tidak boleh digunakan. Kantong semen jangan digantung menggunakan kaitan karena dapat menyebabkan masuknya kelembaban. Kontraktor boleh memesan semen dalam jumlah besar dan menyimpannya dalam silo yang sesuai dengan kapasitas memadai.
Setiap jenis semen harus disimpan pada silo terpisah dan harus dipastikan bahwa semen dengan kualitas yang berbeda tidak tercampur.
Semua semen harus dalam keadaan baru saat diantarkan dan pada suhu atmosfer sekitar.
Untuk permukaan suatu unsur/elemen yang polos (fair faced), semen yang digunakan dalam pembeton untuk menjadi unsur/elemen akhir harus didatangkan dari satu pengiriman yang sama. Semua semen yang akan menjadi bagian beton yang terlihat harus datang dari satu sumber yang disetujui dan warna yang seragam.
Dengan masing-masing dan setiap Pendahuluanan semen kontraktor harus menyediakan sertifikat pabrik yang menyatakan bahwa semen relevan dengan standar Indonesia. Kontraktor harus menyediakan fasilitas lengkap pada lokasi kerja untuk dapat melakukan pengujian berikut:
i. Pengaturan waktu menurut sesui peralatan Vicat ii. Kekuatan tekan pada semen yang sesuai
Total klorida dalam semen dalam keadaan apapun tidak boleh melebihi 0,05 persen dari massa semen.
Total sulfur yang dihitung sebagai belerang anhidrida (SO3), tidak boleh melebih 2,5 persen dan 3 persen saat persenan tri-calcium aluminate dari masing-masing massa mencapai atau melebihi 5. Semen akan dicampur dengan proses fly-ash yang menyesuaikan spesifikasi Indonesia hingga maksimum 35%
(tergantung desain campuran) dari semen untuk meningkatkan ketahanan struktur. Fly-ash akan dikirim dengan biaya yang ditanggung oleh kontraktor berikut juga oktroi dan pajaknya.
Agregat: Agregat yang didapat dari sumber alami harus sesuai dengan (ASTMC33/C33-13). Kontraktor harus mematuhi sertifikat grading pemberi kerja dan memenuhi semua pengiriman agregat. Sebagai tambahan, pada lokasi kerja dari waktu ke waktu, kontraktor harus mengizinkan pengadaan beberapa pengujian dan menyerahkan hasil pengujian kepada pemberi kerja. Agregat harus dibeli dari sumber yang terpercaya sesuai dari arahan pemberi kerja dari waktu ke waktu.
Untuk beton polos (fair faced), kontraktor harus memastikan bahwa agregat terbebas dari pirit besi dan kotoran, yang dapat mengakibatkan perubahan warna. Agregat harus disimpan pada lokasi beraspal pada ruang-ruang yang berbeda sesuai dengan ukurannya.
Agregat halus: Kontraktor harus menyediakan fasilitas lengkap pada lokasi kerja untuk penentuan grading agregat dengan pengayak sesuai BS 410.
Agregat halus ini harus merupakan pasir kerukan dari sungai (river sand), pasir buatan dengan grading yang disetujui, pasir galian (pit sand). Harus terbebas dari lumpur, tanah liat, tanah atau tumbuh-tumbuhan, garam atau kotoran kimiawi yang berbahaya. Ia harus bersih, tajam, kuat, angular, dan terdiri dari bahan silikat keras. Pasir yang dikeruk dari laut, anak sungai tidak boleh digunakan. RMC buatan dengan pasir yang diambil dari laut/sungai kecil tidak boleh dipakai. Grading dari aregat halus saat ditentukan sesuai penjelasan dalam BS 882 harus termasuk dalam zona grading I, II, III.
Kontraktor harus menyediakan fasilitas lengkap pada lokasi kerja untuk dapat melakukan pengujian sbb:
i. Perbanadingan proporsi tahan liat, endapan lumpur, dan serbuk halus dengan metode sedimentasi sesuai BS 882
52 Basic Engineering Design Spesifikasi Teknis untuk Pekerjaan Track
ii. Kadar air dala agregar halus sesuai BS 882 iii. Bulk density/Bulkage.
iv. Berat jenis
Agregat kasar: Agregat kasar harus ditumbuk dengan batu
Kerikil yang dihancurkan, kerikil alami atau kombinasi keduanya. Agregat kasar yang didapat dari batu yang ditumbuk atau dihancurkan harus angular, keras, kuat, padat, tahan lama, bersih dan bebas dari plat halus, rapuh dan tipis, bagian memanjang atau terkelupas dan bahan perusak lannya.
Grading agregat harus dikontrol dengan memperoleh agregat kasar dalam bentuk yang berbeda dan mencampurkannya dalam proporsi yang pas sesuai dan saat dibutuhkan.
Semua agregat kasar harus sesuai dengan kode dan pengujian untuk ketepatannya harus dilakukan sesuai BS 882.
Ukuran maksimal agregat kasar yaitu dimana beton dapat dipasang tanpa mengalami kesulitan sehingga mendapatkan penguatan yang mengelilingi secara menyeluruh dan mengisi pojokan bekisting. Ukuran maksimal nominal tidak boleh melebihi 20 mm kecuali diizinkan oleh pemberi kerja.
Air:
Air yang digunakan dalam pengerjaan harus merupakan air yang diperuntukkan untuk minum dan bebas dari unsur-unsur berbahaya. Air yang digunakan untuk mencampur dan mengeraskan beton serta untuk pendinginan dan/atau mencuci agregat harus segar dan bebas dari minyak, garam, asam alkali dan bahan kimia dan organik lainnya dalam jumlah yang membahayakan.
Air harus didapatkan dari sumber yang disetujui oleh pemberi kerja dan sesuai dengan kode BS 6700. Meski demikian, klorin yang terdapat dalam air tidak boleh melebihi 500 mg/liter.
Sebelum memulai bagian pekerjaan membeton dan dimana sumber air berubah, air harus diuji kandungan kimia dan kekotorannya untuk menjamin kesesuaiannya bagi penggunaan dalam beton dan mendapat persetujuan dari pemberi kerja. Air tidak boleh digunakan sebelum diuji dan memiliki hasil uji yang baik.
Biaya yang dikeluarkan untuk pengujian sejenis itu ditanggung oleh kontraktor.
Pencampuran Agregat
Untuk mendapatkan kemampuan kerja yang maksimal, ukuran nominal masing-masing individu agregat yaitu 20 mm, 10 mm, 4,75 mm dan 2,36 mm harus dicampur sedemikian rupa sehingga grading setiap agregat membentuk lengkung halus dari ukuran 0,15 mm hingga 25 mm yang termasuk dalam lengkung grading yang telah ditetapkan. Kontraktor harus membuat lengkung grading untuk setiap grade beton untuk ukuran grading agregat maksimum yang diberikan dan mendapat persetujuan dari pemberi kerja sebelum mengakhir pencampuran.
Campura: Pencampuran kimiawi tidak bisa digunakan sampai mendapat izin dari pemberi kerja. Jika penggunaannya diizinkan, tipe, jumlah dan metode penggunaan dari campuran manapunyang diajukan oleh kontraktor harus diserahkan dulu pada pemberi kerja untuk mendapat persetujuannya. Bahan semen minimum yang telah dirincikan tidak boleh dikurangi dalam laporan penggunaan campuran.
Kontraktor harus menyediakan lebih lanjut menyediakan informasi lanjutan mengenai masing-masing campuran kepada pemberi kerja
53 Basic Engineering Design Spesifikasi Teknis untuk Pekerjaan Track
i. Dosis normal serta dampak merugikan dari penggunaan dosis yang kurang maupun berlebih
ii. Nama kimiawi pada kandungan utama daam campuran
iii. Kandungan klorida, jika ada, dinyatakan sebagai persentase dari berat campuran iv. Baik campuran berujung pada entrainment udara atau pun tidak sebaiknya penggunaan
sesuai dengan dosis yang disarankan pabrikan
v. Di saat terdapat dua atau lebih campuran digunakan dalam satu campuran manapun, Where two or more admixtures are proposed to be used in any one mix, konfirmasi tertulis dari pabrik mengenai kecocokannya.
Dalam plint beton, kandungan klorida dari campuran manapun yang digunakan tidak boleh melebihi 0,1 persen dari berat campuran sesuai dengan AASH TO T277 dan keseluruhan kandungan klorida dan sulfat dalam campuran beton tidak boleh melebihi 0,1 dan 4 persen
In reinforced concrete, the chloride content of any admixture used shall not exceed 0.1 percent by weight of the admixture as determined in accordance with AASH TO T277 masing-masing menurut berat semen.
Campuran ketika digunakan harus sesuai kode. Kecocokan dari setiap campuran harus diperiksa dengan menguji campuran.
Penambahan kalsium klorida pada beton yang mengandung logam tertanam tidak diperbolehkan dalam keadaan apapun.
Perlambatan campuran saat digunakan harus berupa senyawa poli hidroksil.
Masing-masing batch/muatan harus diuji berat jenis dan performanya dalam beton sebelum digunakan.
Alat kerja berbatch, pencampur(mixers) and alat penggetar (vibrator)
Kecuali ditentukan dalam daftar susunan item, untuk setiap pekerjaan pembetonan struktural maka kontraktor harus menyediakam alat berat weigh-batching otomatis dengan kapasitas sesuai. Alat berat yang digunakan harus sesuai kode.
Kontraktor harus menyediakan campuran beton dan alat penggetar (Concrete Vibrators Immersion Type, Screed board concrete vibrators, Form Vibrators untuk beton) yang dipsasok oleh pabrik terkemuka/yang diakui.
Grade Beton
Beton dirancang sesuai: Beton M45/20 Huruf M merujuk pada campuran
Nomer 45 menunjukkan karakteristik kekuatan tekan 15 cm2 pada 28 hari dalam Mpa (Mega Pascal: 1 MPa:
kira-kira 10.1971 kg/cm2). Beton M45 memiliki kekuatan 459 kg/cm2. Desain campuran lainnya juga dilambangkan dengan cara yang sama. Nomer 20 menunjukkan ukuran nominal agregat dalam mm.
Desain campuran
Merupakan suatu tanggung jawab penuh dari kontraktor untuk merancang campuran beton sesuai metode standar yang disetujui dan untuk menghasilkan beton yang ditentukan sesuai spesifikasi kekuatan, ketahanan, persyaratan kinerja yang disetujui oleh pemberi kerja.
54 Basic Engineering Design Spesifikasi Teknis untuk Pekerjaan Track
Desain campuran yang telah disetujui tidak boleh diubah tanpa persetujuan lebih dulu dari pemberi kerja.
Bagaimanapun, kontraktor harus mengantisipasi perubahan kualitas pasokan bahan yang akan datang dengan yang digunakan untuk desain pencampuran awal, ia harus melaporkannya pada pemberi kerja dan membawa contoh/sampel baru, untuk melakukan pengujian campuran baru. Desain campuran akan ditunjukkan dengan grafik, lengkung dsb., pada tingkat variasi dalam grading agregat yang diizinkan. Semen berarti bahan semen/semen campuran/bahan bersemen. S.D dan variasi yang mendukung harus dibuat untuk setiap grade beton. Grafik SQC harus diserahkan setiap bulan.
Batas dari air dan bahan mengandung semen – rasio air maksimum/bahan bersemen:
i. Untuk member RCC - 0.40 ii. Untuk member PSC - 0.40 Semen/campuran semen/kandungan bahan bersemen:
i. Bahan bersemen dalam beton tidak boleh kurang dari 380 kg/m2 untuk hasil kerja RCC dan 400 kg/m2 untuk hasil kerja PSC di bawah paparan yang parah. Namun, kuantitas semen (tidak termasuk fly ash) harus dibatasi hingga 450 kg/m2 beton. Semen ordinary potland (OPC) pada grade 43 dan 53 masing-masing sesuai MS 522 dapat digunakan. Untuk beton pre-stressed, semen yang memenuhi spesifikasi atau grade semen OPC 53 dengan fly ash dapat digunakan.
ii. Sebagai campuran uji coba, kriteria yang diterima, banyaknya ukuran, pengambilan contoh/sampling dan pengujian serta ukuran contoh untuk RCC, PSC dan hasil kerja secara umum, persyaratan kode yang relevan, standar dan arahan dari pemberi kerja harus dipatuhi.
Uji permeabilitas beton:
Campuran tidak bisa digunakan tanpa permeabilitas yang memenuhi ketentuan dalam pengujian RCPT dan DIN 1048. Uji permeabilitas regular harus dilakukan sebanyak permintaan pemberi kerja.
Pemberi kerja harus mengambil batch beton secara acak untuk diuji sesuai kebijakannya dan secara umum sampling akan diakiri pada saat pelepasan dari mixer dan pada titik penempatan.
Dari batch dipilihlah dua silinder beton yang akan dikerjakan sesuai DIN 1048.
Semua silinder harus dibuat, dikeraskan, disimpan, dikirim dan diuji sesuai spesifikasi DIN-1048. Pengujian harus dilakukan dalam laboratorium pada lokasi kerja.
Setidaknya dua silinder harus dibuat perhari pembetonan hingga 60 silinder terbentuk untuk setiap grade beton. Silinder akan diuji sesuai prosedur, disajikan pada klausa berikutnya.
Prosedur pengujian: Permeabilitas beton akan diperiksa dengan prosedur sbb:
i. Menyiapkan spesimen uji silindris dengan diameter 150 mm dan ketinggian 160 mm.
ii. Setelah 28 jam pengerasan, spesimen akan dimasukkan dalam mesin sehingga spesimen dapat ditempatkan dalam air dengan tekanan hingga 7 bar.
iii. Pertama-tama tekanan satu bar diberikan selama 48 jam, dilanjutkan 3 bar selama 24 jam, dan 7 bar untuk 24 jam setelahnya.
iv. Setelah melalui periode di atas, spesimen diambil dan dibelah pada bagian tengah dengan tekanan yang diberikan pada 2 putaran bar di sisi berlawanan di atas dan bawah.
v. Penetrasi air dalam pusat yang rusak diukur dengan skala dan kedalaman penetrasi yang dinilai dalam mm (batas maksimum yang diperbolehkan 25 mm).
55 Basic Engineering Design Spesifikasi Teknis untuk Pekerjaan Track
Kriteria yang diterima:
i. Pengujian cepat penetrasi klorida (Rapid Chloride Penetration Test (RCPT)) sesuai ASTM- C-1202 harus dilakukan dibawah kondisi yang dikontrol dan dengan teknisi berpengalaman.
Peralatan yang dibutuhkan harus dipasang pada laboratorium di lokasi kerja. Nilai RCPT tidak boleh lebih dari 2500 kolom untuk M-30 dan 1500 kolom untuk M-45 dan grade yang lebih tinggi.
ii. Tidak ada biaya tambahan yang dikenakan untuk pengujian ini dan biaya yang sama akan dimasukkan dalam pengerjaan pembetonan.
Batching Komposisi Bahan Campuran Beton:
Kecuali diizinkan oleh pemberi kerja, semua pembetonan harus diproduksi baik dengan alat berat batching weight otomatis yang dipasang di lokasi atau dengan beton siap campur dari pabrik dalam alat berat weigh batching otomatis.
Suhu penempatan: Selama cuaca panas atau dingin yang ekstrim, pembetonan harus dilakukan sesuai prosedur yang ditetapkan dalam kode. Suhu beton tidak boleh lebih dari 35˚C.
Pada cuaca panas dengan suhu melebihi 40˚C, tumpukan persediaan agregat halus dan kasar untuk pembentonan harus dijaga agar tetap dalam bayangan yang terlindung dari sinar matahari langsung dan agregat beton disemprot dengan air pada waktu tertentu sebelum pembetonan dengan tujuan memastikan bahwa suhu bahan-bahan ini sudah serendah mungkin sebelum batching. Peralatan mencampur dan batching juga harus di dalam lindungan bayangan dan jika perlu dicat putih untuk menjada suhunya serendah mungkin. Suhu tempat penempatan beton harus serendah mungkin pada cuaca yang hangat dan dijaga agar beton yang baru diletakkan terhindar dari overheat akibat sinar matahari pada beberapa jam awal peletakan.
Penentuan waktu yang tepat saat hendak membeton harus diperhatikan agar meminimalkan suhu pada saat peletakan. Seandainya membeton dalam keadaan cuacau panas tidak bisa dihindari, pemberi kerja sesuai kebijakannya dapat menggunakan es atau butiran es dan digunakan secara langsung pada campuran atau balok yang digunakan untuk mendinginkan air campuran. Pada kasus ini, kontraktor tidak menanggung biaya tambahan untuk es, pekerja tambahan dalam weighin dan pencampuran, dll. Semua garam dan serbuk gergajian harus disingkirkan dari es sebelum digunakan. Kualitas air yang digunakan untuk membuat es harus terjamin. Catatan lengkap suhu beton harus dijaga dan diserahkan. Suhu harus dicatat baik pada titik pencampuran dan peletakan.
Pengiriman, Penempatan, Pemadatan, dan Pengerasan
Pengiriman, penempatan, pemadatan dan pengerasan beton harus sesuai dengan kode.
Pengiriman: Campuran setelah diangkat dari mixer harus dikirim menggunakan transit mixer, ember, pompa dsb atau sesuai persetujuan pemberi kerja tanpa mengakibatkan pemisahan dan berkurangnya bubur semen dan tanpa mengubah sifat yang diinginkan akibat rasio air dan semen, slump, kadar air, kohesi dan homogenitas. Harus dijamin bahwa beton dipindahkan ke tempat tujuan akhir, ditempatkan dan dipadatkan sebelum set awal.
Pengiriman diselesaikan tanpa mengganguu transit mixer, pompa atau metode lainnya.
56 Basic Engineering Design Spesifikasi Teknis untuk Pekerjaan Track
Penempatan: Metode penempatan harus menghindari pembentukan cold joints dan pemisahan dengan menyediakan jendela pada bekisting untuk menuangkan beton atau dengan pipa tremie. Ketebalan lapisan horisontal tidak boleh melebihi 300 mm. Melepaskan beton dengen kecepatan tinggi yang menyebabkan pemisahan campuran dapat dihindari. Beton harus diletakkan dalam bekisting dengan hati-hati dan jangan dijatuhkan dari ketinggian melebihi 1,5 m. Setiap lapisan beton harus dipadatkan seluruhnya sebelum lapisan selanjutnya diletakkan dan pemisahan batch harus mengikuti satu sama lain dengan rapat sehingga lapisan selanjutnya dapat ditempatkan dan memadat dengan baik sebelum lapisan sebelumnya terbentuk permanen.
Untuk setiap ketinggian, tingkat peletakan beton menggunakan tremie/pompa tidak boleh lebih dari 1,5 m/jam atau sesuai persetujuan pemberi kerja.
Pembetonan dengan porsi atau bagian manapun pada kerjaan harus dilakukan dalam satu operasi berkelanjutan dan tanpa interupsi dari kegiatan pembetonan akan diizinkan tanpa persetujuan pemberi kerja.
Urutan beton harus disiapkan sebelum penuangan masing-masing beton, dengan persetujuan pemberi kerja.
Pemadatan: vibrator bagian dalam (needle) and permukaan (screed board) untuk pembentukan dan pengukuran dapat digunakan untuk pemadatan beton.
Vibrator internal digunakan untuk pemadatan beton in-situ dan vibrator permukaan juga dapat digunkan jika perlu. Bergantung pada ketebalan lapisan yang akan dipadatkan, diameter vibrator internal yang dipakai yakni 25 mm, 40 mm, 60 mm dan 75 mm. Beton akan dipadatkan dengan penggunaan diameter vibrator yg tepat dengan menahan vibrator tetap pada posisi sampai:
i. Gelembung udara muncul ke permukaan
ii. Frekuensi vibrator kembali menjadi stabil setelah frekuensi periode awal yang singkat berhenti, saat vibrator pertama kali dimasukkan.
iii. Suara pergetaran beton menjadi seragam.
iv. Permukaan merata dan berkilau dengan partikel agregat kasar dicampurkan sampai muncul ke permukaan.
v. Untuk menjada permukaan tetap rata dan padat terbebas dari pocket agregat, getaran harus ditambah dengan tamping atau tamping menggunakan batang pada ujung-ujung bentukan dan diseluruh permukaan selama beton masih plastis.
vi. Jumlah yang cukup dari alat penggetar vibrator cadangan diletakkan ada tempat yang mudah diakses dari tempat endapan beton untuk menjamin getaran yang cukup jika seandainya ada yang rusak pada saat sedang pemakaian.
vii. Vibrator yang digunakan harus dijepit pada bagian sisi pinggir bekisting dan tidak diletakkan lebih dari 450 mm di atas dasar bekisting baru dan beton harus diisi tidak lebih tinggi dari 239 mm di atas vibrator. Bekisting harus dibuat kuat secara khusus dan kedap air ditempat dimana vibrator tipe ini digunakan.
viii. Perawatan harus dilakukan untuk menjaga getaran yang berlebihan terutama dimana kinerja (mudah dikerjakan) campuran beton tinggi karena yang seperti itu akan memicu pemisahan beton.
ix. Fondasi beton polos harus diletakkan untuk kontak langsung dengan bagian bawah penggali, beton dimasukkan dengan cara-cara tertentu agar tidak bercampur dengan tanah. Beton polos juga harus diberi getaran untuk memadatkannya dengan sempurna.