• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Biaya Tetap

45 5.2 Biaya Produksi Usahatani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang

Biaya merupakan peranan yang sangat penting dalam menjalankan suatu usahatani. Besarnya biaya usahatani menentukan produksi yang akan dihasilkan.

Jenis biaya yang digunakan dalam analisis biaya adalah biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan petani dalam melakukan penanaman kangkung dan kacang panjang yang besarnya tidak mempengaruhi hasil panen, dinyatakan dalam rupiah yang tergolong biaya tetap ialah penyusutan peralatan dan pajak. Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan petani untuk menanam kangkung dan kacang panjang yang besarnya mempengaruhi hasil panen, dinyatakan dalam rupiah yang tergolong biaya variabel ialah benih, pupuk, pestisida, tabung gas dan upah tenaga kerja.

Tabel 13. Rata-rata Biaya Usahatani Kangkung dan Kacang Panjang per Hektar di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar

No Uraian Kangkung (Rp) Kacang Panjang

(Rp) 1 Biaya Variabel

a. Benih 766.352 188.839

b. Pupuk 507.022 671.839

c. Pestisida 293.420 793.826

d. Pompanisasi 333.958 643.218

e. Tenaga Kerja 3.620.972 6.753.620

46 5.3 Penerimaan Usahatani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang

Penerimaan usahatani merupakan hasil perkalian antara hasil poduksi yang diperoleh dengan harga jual. Jumlah produksi adalah hasil yang diperoleh dari usahatani, sedangkan harga jual adalah nilai atau harga per unit yang dihasilkan oleh usahatani. Suatu usahatani dikatakan berhasil jika pendapatannya cukup untuk menutupi semua fasilitas produksi, upah tenaga kerja atau bentuk pengeluaran produksi lainnya.

Tabel 14. Rata-rata Penerimaan Usahatani Kangkung dan Kacang Panjang per Hektar di Desa Pakkabba Kecematan Galesong Utara Kabupaten Takalar

Komuditi Produksi (Q) Harga (P) Penerimaan (P.Q)

Kangkung 2.419 5.000 12.096.045

Kacang Panjang 3.526 6.732 23.737.575

Sumber: Analisis Data Primer Setelah Diolah, 2022

Berdasarkan table 14 menunjukkan bahwa, jumlah rata-rata produksi usahatani kangkung yaitu sebesar 2.419 ikat dengan harga jual Rp.5.000/Ikat, jadi rata-rata penerimaan yang diperoleh yaitu sebesar Rp. 12.096.045 per musim tanam dan jumlah rata-rata produksi usahatani kacang panjang yaitu sebesar 3.526 ikat dengan harga jual Rp.6.732/Ikat, jadi rata-rata penerimaan yang diperoleh yaitu sebesar Rp. 23.737.575 per musim tanam.

47 5.4 Pendapatan Usahatani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang

Pendapatan adalah perbedaan antara penerimaan dan semua biaya (Soekartawi, 2006). Pendapatan adalah arus masuk bruto manfaat ekonomi yang timbul dari kegiatan normal perusahaan selama periode yang mengarah pada peningkatan modal, bukan dari kontribusi investasi. Analisis yang dipublikasikan berdasarkan pengumpulan semua data yang diperoleh dari responden, maka diperoleh hasil seperti pada table 15 produksi antara sayur kangkung dan kacang panjang dibawah ini.

Tabel 15. Rata-rata Pendapatan Petani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang di Desa Pakkabba Kecematan Galesong Utara Kabupaten Takalar

Usahatani Biaya (TC) Penerimaan (TR) Pendapatan (TR-TC)

Kangkung 7.360.092 12.096.045 4.735.953

Kacang

Panjang 10.863.318 23.737.575 12.874.257

Sumber: Analisis Data Primer Setelah Diolah, 2022

Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata biaya total usahatani kangkung Rp. 7.360.092 dengan rata-rata penerimaannya Rp 12.096.045 sehingga diperoleh rata-rata pendapatannya yaitu Rp. 4.735.953 per hektar per musim tanam, biaya total usahatani kacang panjang Rp. 10.863.318. dengan rata-rata penerimaannya Rp. 23.737.575 sehingga di peroleh rata-rata pendapatannya yaitu Rp. 12.874.257 per hektar per musim tanam

48 5.5 Komparatif Pendapatan Usahatani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang

Tabel 16. Statistik Uji Komparatif Pendapatan per Hektar (t-Test: Two-Sample Equal Variances)

Uraian Rata-Rata

(Rp/ha) Standard Error

Probabilitas t hitung (one-tail) Usahatani

Kangkung 4.735.953 266.559

0,0000 Usahatani

Kacang Panjang 12.874.257 943.579 Sumber: Data Output Excel Diolah, 2022

Secara umum terdapat perbedaan pendapatan antara usahatani kangkung dan usahatani kacang panjang, dan perbedaan pendapatan tersebut diuji secara statistik dengan uji-t. Dari hasil uji-t pada Tabel 16, probabilitas t-hitung (one- tail) adalah 0,0000. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yang berarti terdapat perbedaan pendapatan antara sayur kangkung dan kacang panjang, adapun pendapatan usahatani kangkung yaitu sebesar Rp. 4.735.953 per hektar dalam 3 bulan dan pendapatan usahatani kacang panjang yaitu sebesar Rp.

10.954.406 per hektar dalam 4 bulan, gaji UMR (Upah Minimum Regional) di Kabupaten Takalar pada tahun 2022 yaitu sebesar Rp.3.165.876 perbulan dan gaji PNS golongan 3a di Kabupaten Takalar yaitu sebesar Rp.2.579.400 sampai dengan Rp.4.236.400 perbulan. Dapat dilihat bahwa pendapatan petani sayur kangkung dan kacang panjang memiliki pendapatan yang lebih kecil dibandingkan dengan gaji UMR (Upah Minimum Regional) dan gaji PNS.

49 5.6 Komparatif Produktivitas Tenaga Kerja Usahatani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang

Tabel 17. Statistik Uji Komparatif Produktivitas Tenaga Keja (Rp/HOK) (t-Test:

Two-Sample Equal Variances) Uraian Rata-Rata

(Rp/HOK) Standard Error

Probabilitas t hitung (one-tail) Usahatani

Kangkung 6.504 551

0,0223 Usahatani

Kacang Panjang 8.732 935

Sumber: Data Output Excel Diolah, 2022

a. Berdasarkan Tabel 17 terdapat perbedaan produktivitas tenaga kerja antara usahatani kangkung dan usahatani kacang panjang, perbedaan produktivitas tenaga kerja tersebut diuji secara statistik dengan uji-t. Dari hasil uji-t pada Tabel 17, probabilitas t hitung (one-tail) 0,0223. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yang berarti terdapat perbedaan produktivitas tenaga kerja usahatani antara sayur kangkung dan kacang panjang. Hal ini sesuai dengan teori dari Ghozali (2011) yang mengatakan bahwa Jika nilai α 0,05 < nilai probabilitas maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan dan produktivitas tenaga kerja pada usahatani sayur kangkung dan kacang panjang. Jika nilai α 0,05 > nilai probabilitas, maka H0 ditolak dan H1 di terima. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan dan produktivitas tenaga kerja pada usahatani sayur kangkung dan kacang panjang

50 5.7 B/C Ratio Usahatani Kangkung dan Kacang Panjang

Analisis B/C ratio merupakan salah satu analisis yang digunakan untuk mengetahui apakah suatu unit usaha mengalami kerugian, impas, atau untung selama proses produksi. Analisis rasio B/C adalah analisis yang membagi keuntungan dengan total biaya yang dikeluarkan. Jika hasil perhitungan B/C Ratio lebih besar dari 1 maka layak, jika hasil perhitungan B/C Ratio kurang dari 1 maka tidak layak, Jika B/C Ratio yang dihitung sama dengan 1, bisnis dikatakan impas. Hasil perhitungan B/C Ratio yang dapat dilihat pada Tabel 18

Tabel 18. Nilai B/C Ratio Usahatani Kangkung dan Kacang Panjang

Uraian Kangkung Kacang Panjang

Keuntungan 4.735.953 12.874.257

Total Biaya 7.360.092 10.863.318

B/C Ratio 0,64 1,19

Sumber: Data Output Excel Diolah, 2022

Berdasarkan Tabel 18, nilai B/C Ratio untuk usahatani kangkung adalah 0,64, sedangkan nilai B/C Ratio untuk usahatani kacang panjang adalah 1,19. Ini berarti nilai B/C Ratio pada usahatani kacang panjang lebih tinggi dibanding usahatani kangkung. Nilai B/C ratio sebesar 0,64 menunjukkan bahwa setiap Rp1,- (satu rupiah) yang dikeluarkan untuk budidaya kangkung akan menghasilkan keuntungan sebesar 0,64,- (nol koma enam puluh empat rupiah).

Sedangkan nilai B/C Ratio 1,19 yang diperoleh menunjukkan bahwa setiap Rp1,- (satu rupiah) yang dikeluarkan untuk usahatani kacang panjang akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 1,19,- (satu koma sembilan belas rupiah).

51 Hal ini menunjukkan bahwa usahatani kangkung tidak layak karena B/C Ratio < 1, maka usaha tersebut tidak layak dan tidak menguntungkan untuk dikembangkan, sedangkan usahatani kacang panjang layak karena nilai B/C Ratio

> 1, maka usaha ini layak dan menguntungkan untuk dikembangkan. Hal ini sesuai dengan teori dari Soekartawi (2003) yang mengatakan bahwa jika hasil perhitungan B/C Ratio lebih besar dari satu maka layak untuk diusahakan, sedangkan apabila hasil perhitungan B/C Ratio lebih kecil dari satu, maka tidak layak untuk diusahakan, dan jika perhitungan B/C Ratio sama dengan satu maka usaha dikatakan impas.

52

Dokumen terkait