• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI SAYUR KANGKUNG DAN KACANG ... - Unismuh

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PDF ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI SAYUR KANGKUNG DAN KACANG ... - Unismuh"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI SAYUR KANGKUNG DAN KACANG PANJANG DI DESA

PAKKABBA KECAMATAN GALESONG UTARA KABUPATEN TAKALAR

WAHYU YUL YUSRA. A 105961108918

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2022

(2)

ii

WAHYU YUL YUSRA. A 105961108918

SKRIPSI

Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Strata satu (S-1)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2022

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Analisis Komparatif Usahatani Sayur Kangkung Dan Kacang Panjang di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar adalah benar merupakan hasil karya yang belum di ajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

(6)

vi

ABSTRAK

WAHYU YUL YUSRA. A. 105961108918. Analisis Komparatif Usahatani Sayur Kangkung Dan Kacang Panjang di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar. Dibimbing oleh MOHAMMAD NATSIR dan ARDI RUMALLANG.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komparasi pendapatan dan produktivitas tenaga kerja usahatani sayur kangkung dan kacang panjang di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar, Mengetahui B/C Ratio usahatani sayur kangkung dan kacang panjang di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pendapatan usahatani sayur kangkung rata-rata sebesar Rp.4.735.953/ha dengan produktivitas tenaga kerja rata-rata sebesar Rp.6.504/HOK, sedangkan pendapatan usahatani sayur kacang panjang rata-rata sebesar Rp.12.874.257/ha dengan produktivitas tenaga kerja rata-rata sebesar Rp.8.732/HOK. Berdasarkan hasil analisis uji t terbukti pendapatan dan produktivitas tenaga kerja usahatani sayur kacang panjang lebih besar dibandingkan pendapatan dan produktivitas tenaga kerja usahatani sayur kangkung. Dari kedua usahatani sayur kangkung dan kacang panjang yang paling layak atau menguntungkan ialah usahatani sayur kacang panjang, dimana nilai B/C ratio usahatani sayur kangkung sebesar 0,90 sedangkan nilai B/C ratio usahatani sayur kacang panjang sebesar 1,19.

Kata Kunci: Kangkung, Kacang Panjang, Komparatif, B/C Ratio

(7)

vii

ABSTRACT

WAHYU YUL YUSRA. 105961108918. Comparative Analysis of Kale and Long Bean Vegetable Farming in Pakkabba Village, North Galesong District, Takalar Regency.Guided by MOHAMMAD NATSIR and ARDI RUMALLANG.

This study aims to analyze the income and productivity ratio of kale and long-term vegetable farming business workers in Pakkabba Village, North Galesong District, Takalar Regency, Knowing the B/C Ratio of kale and long bean vegetable farming businesses in Pakkabba Village, North Galesong District, Takalar Regency.

The results of this study showed that the average kale vegetable farming income was Rp.4.735.953/ ha with an average labor productivity of Rp.6.504/HOK, while the average long bean vegetable farming income was Rp.12.874.257/ha with an average labor productivity of Rp.8.732/HOK. Based on the results of the t test analysis, it is proven that the income and productivity of the long bean vegetable farming workforce is greater than the income and productivity of kale vegetable farming workers. Of the two kale and long-term vegetable farming businesses that are most feasible or profitable are long bean vegetable farming businesses, where the value of B / C ratio of kale vegetable farming is 0.90 while the value of B / C ratio of long bean vegetable farming is 1,19.

Keywords: Kale, Long Bean, Comparative, B/C Ratio

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-Nya. Shalawat dan salam tak lupa kita kirimkan kepada Rasulullah SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Analisis Komparatif Usahatani Sayuran Kangkung dan Kacang Panjang di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar”

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat

1. Dr. Ir. Andi Khaeriyah, M.Pd Selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar

2. Dr. Sri Mardiyati, S.P., M.P Selaku Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar dan Nadir, S.P., M.Si Selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Dr. Mohammad Natsir, S.P.,M.P selaku pembimbing utama dan Ardi Rumallang, S.P., M.M selaku pembimbing pendamping yang senang tiasa

(9)

ix

meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis sehingga skripsi ini dapat di selesaikan.

4. Kedua Orang Tua Saya Ayahanda Abdullah dan Ibunda Mastura dan saudara – saudara saya tercinta dan segenap keluarga yang senantiasa memberikan bantuan, baik moral maupun materi sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

5. Seluruh Dosen Program studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan segudang ilmu kepada penulis.

6. Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu.

Takalar, November 2021

WAHYU YUL YUSRA

(10)

x

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PENGESAHAN KOMISI PENGUJI ... iv

HALAMAN PERNYATAAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1 Tanaman Sayuran ... 7

2.2 Konsep Usahatani... 11

2.3 Konsep Produksi ... 13

2.4 Teori Pendapatan dan Biaya Usahatani... 15

2.5 Pola Tanam... 18

(11)

xi

2.6 Hasil Penelitian Terdahulu ... 19

2.7 Kerangka Pikir Penelitian ... 24

2.8 Hipotesis Penelitian ... 25

III. METODE PENELITIAN ... 27

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 27

3.2 Teknik Penentuan Sampel ... 27

3.3 Jenis dan Sumber Data ... 29

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 29

3.5 Teknik Analisis Data ... 30

3.6 Definisi Operasional... 32

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 34

4.1 Letak Geografis ... 34

4.2 Kondisi Demografis ... 35

4.3 Kondisi Pertanian ... 39

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40

5.1 Identitas Responden ... 40

5.2 Biaya Produksi ... 45

5.3 Penerimaan ... 46

5.4 Pendapatan ... 47

5.5 Komparatif Pendapatan ... 48

5.6 Komparatif Produktivitas Tenaga Kerja ... 48

5.7 B/C Ratio ... 50

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 52

(12)

xii

6.1 Kesimpulan ... 52

6.2 Saran ... 52

DAFTAR PUSTAKA ... 54

LAMPIRAN ... 56

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman Teks

1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Sayuran Menurut Kecamatan

di Kabupaten Takalar Tahun 2020 ... 3 2. Luas Panen dan Produksi Tanaman Sayuran Menurut Jenis Tanaman

di Kecamatan Galesong Utara ... 4 3. Hasil Penelitian Terdahulu ... 19 4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Pakkabba

Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar 2021 ... 36 5. Jumlah Penduduk Bedasarkan Golongan Umur di Desa Pakkabba

Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar ... 36 6. Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Pakkabba

Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar ... 37 7. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Pakkabba

Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Taklar ... 38 8. Identitas Responden Berdasarkan Umur di Desa Pakkabba Kecamatan

Galesong Utara Kabupaten Takalar ... 40 9. Identitas Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Desa Pakkabba

Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar ... 41 10. Identitas Responden Berdasarkan Pengalaman Berusahatani Sayur

Kangkung dan Kacang Panjang Di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar ... 42 11. Identitas Responden Berdasarkan Tanggungan Keluarga Di Desa

Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar ... 43 12. Luas Lahan Petani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang di Desa

Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar ... 44 13. Rata-rata Biaya Usahatani Kangkung dan Kacang Panjang per Hektar di

Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar... 45 14. Rata-rata Penerimaan Usahatani Kangkung dan Kacang Panjang per Hektar

di Desa Pakkabba Kecematan Galesong Utara Kabupaten Takalar ... 46

(14)

xiv

15. Rata-rata Pendapatan Petani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang di

Desa Pakkabba Kecematan Galesong Utara Kabupaten Takalar... 47 16. Statistik Uji Komparatif Pendapatan (t-Test: Two-Sample Equal

Variances)…... 48 17. Statistik Uji Komparatif Produktivitas Tenaga Keja (Rp/HOK) (t-Test:

Two-Sample Equal Variances) ... 49 18. Nilai B/C Ratio Usahatani Kangkung dan Kacang Panjang ... 50

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman Teks

1. Pola Tanam Usahatani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang... 19 2. Skema Kerangka Pemikiran Penelitian ... 25 3. Wawancara denga Petani Sayur kankung dan Kacang Panjang ... 77

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman Teks

1. Kuesioner Penelitian ... 57

2. Peta Lokasi Tempat Penelitian ... 61

3. Identitas Responden Usahatani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar ... 62

4. Biaya Variabel Usahatani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang ... 63

5. Biaya Variabel Usahatani Sayur Kacang Panjang ... 64

6. Biaya Tetap Usahatani Sayur Kangkung ... 65

7. Biaya Tetap Usahatani Sayur Kacang Panjang ... 66

8. Produksi dan Penerimaan Usahatani Kangkung ... 67

9. Produksi dan Penerimaan Usahatani Kacang Panjang ... 67

10. Pendapatan Usahatani sayur Kangkung ... 67

11. Pendapatan Usahatani Sayur Kacang Panjang ... 68

12. Tenaga Kerja Usahatani Kangkung ... 68

13. Tenaga Kerja Usahatani Kacang Panjang ... 69

14. Statistik Deskriptif Pendapatan ... 70

15. Statistik Uji Komparatif Pendapatan t-Test: Two-Sample Assuming Equal Variances ... 70

16. Statistik Deskriptif Produktivitas Tenaga Kerja ... 71

17. Statistik Uji Komparatif Produktivitas Tenaga Kerja t-Test: Two-Sample Assuming Equal Variances ... 71

18. Dokumentasi Penelitian ... 72

19. Kartu Kontrol Bimbingan ... 73

(17)

xvii

20. Surat Izin Penelitian ... 75 21. Surat Keterangan Bebas Plagiasi ... 76

(18)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sektor pertanian adalah sektor yang bisa diandalkan pada pemulihan perekonomian nasional. Berbagai hal bisa dilakukan untuk mengembangkan pertanian sejak saat ini. Kesejahteraan petani dan keluarganya adalah tujuan utama yang wajib mejadi prioritas dalam melakukan seluruh aktivitas yg berhubungan dengan pengembangan pertanian (Anggriawan 2013). Namun menurut pendapat Soekartawi (1986) bahwa petani dengan segala keterbatasannya senantiasa dihadapkan dalam ketidakpastian terhadap besarnya pendapatan yang diperoleh. Bagi para petani, khususnya petani subsisten, faktor ketidakpastian ini adalah hal yang sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan. Pengelolaan usahatani pada hakekatnya adalah langkah pada pengambilan keputusan dari sekian alternatif yang tersedia. Pada umumnya petani diIndonesia belum sanggup mengambil keputusan yang ekonomis menguntungkan. Hal ini mengingat pengelolaan usahatani bukan hanya meliputi cara menghasilkan produk yang maksimum, namun yang lebih penting adalah bagaimana meningkatkan laba dari suatu cabang usaha (Soekartawi dalam Juiwati, 2018).

Komoditas yang berprospek cerah yakni sayuran, karena dibutuhkan setiap waktu dan permintaannya cenderung terus meningkat. Sebagaimana jenis tumbuhan hortikultura lainnya, kebanyakan tumbuhan sayuran dapat memberikan keuntungan yg relatif tinggi. Kenyataan ini dapat dipahami sebab sayuran

(19)

2 senantiasa dikonsumsi sehari-hari. Kebutuhan dan permintaan penduduk Indonesia terhadap sayur-sayuran akan meningkat seiring dengan mulai sadarnya penduduk akan gizi dan manfaat sayuran bagi tubuh. Sampai tahun 2007, konsumsi sayur –sayuran dan buah - buahan penduduk Indonesia sebanyak 95 kkal/kapita/hari, atau 79% dari anjuran kebutuhan minimum sebanyak 120 kkal/kapita/hari.

Sayuran adalah salah satu komoditas unggulan karena mempunyai nilai ekonomis yg relatif tinggi. Selain mempunyai umur panen yang relatif pendek, permintaan pasarnya pun relatif tinggi karena merupakan kebutuhan dapur sehari- hari. Nilai ekonomis sayuran bukan hanya berdasarkan hasil panen pada bentuk segar saja, namun berbagai produk pasca panen sayuran yang sudah diolah juga mempunyai nilai ekonomis tinggi karena sayuran menjadi lebih tahan lama, tidak gampang rusak, dan tidak cepat busuk (Rianti, 2018)

Di Kabupaten Takalar sendiri tanaman sayuran juga banyak di budidayakan. Jenis sayuran yang di tanam di Takalar adalah Terong, Sawi, Kangkung, Kacang Panjang, Cabe Rawit, Bayam dan Bawang Merah. Produksi sayuran di Kabupaten Takalar dapat di lihat pada Tabel 1 berikut:

(20)

3 Tabel 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Sayuran Menurut Kecamatan di

Kabupaten Takalar Tahun 2020.

No. Kecamatan Luas Panen

(Ha)

Produksi (Ton)

Produktivitas (Ton)

1. Mangarabombang 140 489,15 7,58

2. Mappakasunggu 8 4,2 1,27

3. Sanrobone 145 1,975 14,16

4. Polombangkeng Selatan 26 97,5 3,75

5. Pattallassang 96 1774 18,48

6. Polombangkeng Utara 130 328,85 9,61

7. Galesong Selatan 11 8 1,42

8. Galesong 99 122,2 8,31

9. Galesong Utara 342 765,2 10,69

Sumber: Badan Pusat Statistik, Kabupaten Takalar, 2020

Berdasarkan Tabel 1, kecamatan yang paling banyak berusahatani sayuran yaitu kecamatan Galesong Utara dengan jumlah produksi 765,2 Ton, dengan Produktivitas sebanyak 10,69 Ton dan luas panen 342 Hektar.

Kecamatan Galesong Utara adalah salah satu kecamatan di kabupaten Takalar yang mempunyai potensi pengembangan tanaman sayur-sayuran, lantaran sebagian besar datarannya adalah dataran rendah dan didukung oleh curah hujan yang cukup, sehingga tanaman bisa tumbuh optimal pada daerah ini. Usahatani sayuran dataran rendah adalah salah satu mata pencaharian yg dinilai bisa memberikan keuntungan bagi beberapa penduduk di Kecamatan Galesong Utara.

Salah satu Desa Kecamatan Galesong Utara yaitu Desa Pakkabba banyak melakukan penganekaragaman usaha pada lahan yang di usahakannya, yaitu lebih dari satu jenis usaha. Penganekaragaman usaha akan lebih meningkatkan pendapatan petani, selain itu juga memperkecil resiko kegagalan baik dalam aspek budidaya ataupun pemasaran hasil. Penganekaragaman di daerah ini terdapat beberapa diversifikasi usaha. Usahatani sayuran yang ada di daerah ini

(21)

4 bemacam-macam yaitu sawi, kol/ kubis, daun bawang, buncis, kacang panjang, kangkung dan cabai, dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Luas Panen dan Produksi Tanaman Sayuran Menurut Jenis Tanaman di Kecamatan Galesong Utara.

Komuditas Luas Panen (Ha) Produksi (Kuintal)

Bawang Merah - -

BawangPutih - -

CabaiBesar - -

CabaiRawit 4 20

Kentang - -

Kubis - -

Kacang Panjang 28 215

Kangkung 103 2108

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Takalar, 2021

Sementara saat ini, persoalan usahatani sayuran disini adalah kurangnya kemampuan petani untuk memperhitungkan apakah usaha yang dikelolanya dalam keadaan menguntungkan atau dalam keadaan rugi. Petani melakukan usahanya tanpa memperhitungkan besar kecilnya produksi yang diperoleh, serta keuntungan dan kerugian usaha yang dikelolahnya.

Dianatara banyaknya jenis komuditi sayuran yang diusahakan di Desa Pakkabba, komuditi kangkung lah dan kacang Panjang yang paling banyak diusahakan petani berdasarkan tinjauan observasi peneliti maka peneliti mengambil komoditi kangkung dan kacang panjang.

Mengacu pada fenomena yang terjadi dan beberapa teori yang ada melatar belakangi fenomena tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang Analisis Komparatif Usahatani Sayuran Di Desa Pakkabba Kecamatan Gelesong Utara Kabupaten Takalar.

(22)

5 1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana komparasi produktivitas tenaga kerja dan pendapatan usahatani kangkung dan kacang panjang di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar?

2. Berapa B/C Ratio usahatani kangkung dan kacang Panjang di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis komparasi produktivitas tenaga kerja dan pendapatan usahatani kangkung dan kacang panjang di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar

2. Untuk mengetahui B/C Ratio usahatani kangkung dan kacang Panjang di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini antara lain:

1. Bagi peneliti, diharapkan dapat memberikan pengetahuan, informasi, dan pengalaman yang berkesan dan mendidik serta dapat menyalurkan ilmu yang didapatkan kepada masyarakat terkait dengan penelitian yang dilakukannya.

(23)

6 2. Bagi petani, diharapkan petani mampu menerima informasi yang disampaikan oleh peneliti dan mengaplikasikannya terkait dengan penelitian yang dilakukan.

3. Bagi instansi, diharapkan dapat melihat kesulitan petani dan memberikan bantuan dana dan sejenisnya kepada masyarakat terkait dengan penelitian yang dilakukan.

4. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan agar lebih teliti dalam melihat masalah yang dihadapi masyarakat dan memberikan solusinya terkait dengan penelitian yang dilakukan kedepannya.

(24)

7 Sayuran merupakan komoditas penting yang mendukung ketahanan pangan nasional. Berbagai macam komoditi ini merupakan sumber karbohidrat, protein nabati, vitamin dan mineral. Produksi sayuran di Indonesia setiap tahun meningkat, dengan konsumsi 44 kg/orang/tahun (Suwandi 2009). Laju pertumbuhan produksi sayuran di Indonesia adalah 7,7-24,2%/ tahun. Peningkatan produksi terutama disebabkan oleh peningkatan luas tanam. Namun untuk beberapa varietas sayuran seperti bawang merah, sawi putih, dan ketimun, peningkatan hasil merupakan pengaruh dari penerapan teknik budidaya.

Menurut Nazaruddin (1994), berdasarkan perbedaan suhu dan ketinggian tempat dari permukaan laut, jenis sayuran di kelompokan menjadi dua golongan yaitu sayuran dataran tinggi dan sayuran dataran rendah. Namun, batas antara kedua kelompok tersebut masih belum jelas, karena sayuran dataran rendah dapat diklasifikasikan sebagai sayuran dataran tinggi dan sebaliknya.

2.1.1 Sayuran Dataran Rendah

Sayuran dataran rendah adalah sayuran yang tumbuh baik di daerah dengan ketinggian <700 meter dan suhu rata-rata bulanan 210 °C ke atas. Suhu rata-rata untuk pertumbuhan optimal adalah 26 – 28,50 C (Nazaruddin, 1994).

Tanaman sayuran dataran rendah sensitif terhadap suhu rendah karena mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman.

(25)

8 Budidaya sayuran dataran rendah lebih bermasalah daripada sayuran dataran tinggi. Permasalahan yang timbul antara lain adalah

1. jenis tanah dan kesuburan tanah. Jenis tanah yang cocok untuk tanaman sayuran adalah regosol, lattosol dan andosol yang umumnya memiliki kesuburan yang lebih tinggi. Sementara itu, jenis tanah dataran rendah didominasi oleh plesteran merah dan kuning, dan unsur hara umumnya buruk.

2. Sumber air di dataran rendah umumnya sangat terbatas, dan pada musim kemarau, air langka.

3. Dataran rendah memiliki kelembaban dan suhu tinggi yang rentan terhadap penguapan air dan pupuk.

4. Intensitas serangan hama dan penyakit pada tanaman dataran rendah lebih tinggi dibanding pada tananam dataran tinggi.

Kunci sukses menanam sayuran dataran rendah adalah menyediakan air dan pupuk yang cukup, selain memilih jenis sayuran yang akan ditanam.

(Nazaruddin dalam Kasiran, 2006).

Kangkung (Ipomoea Aquacica Forsk) merupakan sayuran yang ditanam sebagai bahan pangan. Ada dua jenis budidaya: kering dan basah, dan tanaman ini membutuhkan banyak bahan organik dan air untuk berkembang. Dalam budidaya lahan kering, kangkung ditanam 5 inci dari perbatasan dan didukung oleh penyangga kayu. Kangkung dapat ditanam dari biji benih atau keratan akar sering ditanam pada semaian sebelum dipindahkan di kebun (Dibyantoro, 1996).

Kangkung merupakan tanaman yang beradaptasi baik dengan kondisi tanah atau lingkungan dan memiliki kisaran toleransi yang luas, artinya kangkung

(26)

9 bisa hidup dengan baik karena Dataran Tengah berada 800 meter di atas permukaan laut. ke tepi laut. Kedua jenis kangkung, baik air maupun tanah, lebih menyukai tanah yang sangat lembab tetapi sedikit subur. Tanah dengan banyak bahan organik adalah habitat yang baik untuknya. Kedua bentuk kangkung dan kangkung menghasilkan hasil terbaik di dataran rendah dengan iklim tropis lembab, terutama di negara yang tidak jauh dari garis khatulistiwa.

Di sisi lain, para ahli gulma internasional menunjukkan bahwa kangkung, umumnya dikenal sebagai "kangkung", umumnya termasuk dalam kelompok gulma air, sering hidup berdampingan dengan Echinochloa crassipes Sahim dan Azola pinnata R. Br. Padahal, dari sumber hayati alam yang ada di Indonesia, kangkung mengandung senyawa tertentu yang memiliki potensi kegunaan dalam dunia farmasi, hingga kangkung dikenal sebagai tanaman obat di dunia medis.

Kangkung secara luas dianggap sebagai obat penenang atau obat tekanan darah tinggi bagi orang yang sulit tidur. Bahkan menurut Soenarjono dan Rismunandar (1990) akar kangkung efektif melawan wasir (Soenarjono dan Rismunandar dalam Ariati, 2017).

Kacang panjang (Vigna unguiculata Sesquipedalis (L.) Walp. cv. group) merupakan komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan gizi rumah tangga. Tanaman ini berumur pendek, tumbuh baik di dataran rendah hingga menengah, dan dapat tumbuh di sawah, ladang, atau pekarangan setiap musim.

Kacang panjang dapat ditanam sebagai agribisnis yang dapat meningkatkan pendapatan petani. (Suryadi, 2017).

(27)

10 Kacang panjang merupakan sumber vitamin dan mineral sebagai tanaman sayuran. Fungsinya untuk mengatur metabolisme tubuh, meningkatkan kecerdasan dan ketahanan fisik, serta memperlancar proses pencernaan karena kandungan seratnya yang tinggi

Kacang panjang dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok merambat dan tidak merambat. Kelompok kacang panjang yang banyak dibudidayakan adalah jenis kacang panjang yang merambat, cirinya tanaman membelit pada ajir dan buahnya panjang ± 40-70 cm berwarna hijau atau putih kehijauan (Zaefi, 2014).

2.1.2 Sayuran Dataran Tinggi

Sentra produksi sayuran dataran tinggi umumnya berada di atas 700 meter di atas permukaan laut (dpl). Letak dan ketinggian lahan akan mempengaruhi kondisi iklim yang menyangkut curah hujan, suhu, kelembaban dan lama penyinaran. Hal ini akan sangat mempengaruhi jenis komoditas dan budidaya yang dapat dilakukan serta inovasi teknologi yang dapat diterapkan.

Medan dan kemiringan daerah penanaman sayuran dataran tinggi umumnya berombak, bergelombang, berbukit hingga bergunung.

Kawasan sayuran dataran tinggi umumnya berada di kawasan yang terkena dampak aktivitas vulkanik, baik aktif maupun tidak aktif. Jenis tanah utama yang umum dijumpai adalah Andisol dan Entisols yang banyak dijumpai di atas 1.000 m dpl, dan Inceptisol pada 700 -1.000 m dpl.

(28)

11 Tanah ini juga erat kaitannya dengan strategi teknik pengelolaan lahan.

Tidak semua teknik konservasi cocok untuk semua jenis tanah. Pada tanah yang tidak stabil, sebaiknya menghindari teknik konservasi mekanik dan lebih disarankan untuk memilih teknik konservasi vegetatif (Haryati, 2014).

2.2 Usahatani

Mosher AT (1978) mendefinisikan usahatani adalah tempat atau bagian dari permukaan bumi di mana petani atau keluarga petani atau beberapa kelompok lain bercocok tanam atau beternak. Usahatani adalah setiap organisasi sumber daya alam, tenaga kerja dan modal yang dirancang untuk meningkatkan produksi dan pendapatan pertanian. Dari perspektif pembangunan pertanian, hal terpenting dari pertanian adalah bahwa, apa pun skala atau strukturnya, pertanian harus berubah dari waktu ke waktu, dan pelaksanaan pertanian harus dikembangkan lebih efisien. Usahatani tidak lagi primitif tetapi harus lebih modern dan produktif demi tercipta peningkatkan sektor pertanian (Mosher AT dalam Setiawan, 2011).

Usahatani merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagaimana seseorang mengolah dan mengkoordinasikan faktor-faktor produksi untuk memberikan manfaat terbaik berupa tanah dan lingkungan alam sebagai modal.

adalah ilmu yang mempelajari bagaimana petani dapat menentukan dan mengatur penggunaan faktor-faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin sehingga usaha dapat memberikan pendapatan semaksimal mungkin (Haris, 2021).

Agustina (2011) berpendapatat ilmu usahatani adalah ilmu terapan yang mengkaji tentang cara penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif pada

(29)

12 suatu usaha pertanian untuk mendapatkan produksi yang sebanyak-banyaknya.

Menurut Adiwilaga(1982) ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari cara-cara dan persoalan-persoalan petani melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pertanian dalam arti status komersialnya dalam menyusun, mengatur dan menjalankan perusahaannya sendiri (Agustina, Adiwilaga dalam Zaman, 2020).

Usahatani adalah kumpulan sumber daya alam yang ditemukan di daerah yang dibutuhkan untuk produksi pertanian, seperti tanah dan air, perbaikan yang dilakukan pada tanah, sinar matahari, bangunan di atas tanah, dan lain-lain. Selain itu, pengolahan tanah juga didefinisikan sebagai bagian dari kegiatan di permukaan bumi di mana petani, keluarga atau manajer dibayar bercocok tanam atau memelihara ternak untuk memberikan hasil yang terbaik (Soekartawi, 1986).

Menurut Suratiyah (2008), usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengusahakan dan mengkoordinir faktor – faktor produksi berupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaik – baiknya.

Selain itu, Daniel (2001) juga mendefinisikan usahatani sebagai kegiatan menata (mengelola) aset dan metode pertanian. Atau lebih tepatnya, kegiatan pengorganisasian fasilitas dan teknologi produksi pertanian dalam bisnis yang terkait dengan pertanian (Suratiyah , Daniel dalam Ulma, 2017).

Tujuan usahatani adalah bagaimana petani dapat meningkatkan hasil panennya, sehingga membuat kehidupan seluruh keluarga menjadi lebih baik.

Tujuan petani menjalankan pertanian memiliki dampak besar pada keputusan dan tindakan yang diambil, serta persepsi petani tentang keberlanjutan dan

(30)

13 kemampuannya untuk merangkul berbagai inovasi, termasuk teknologi pertanian.

Usahatani sering dilakukan oleh petani dengan dua tujuan, yaitu memaksimalkan keuntungan atau mencapai keselamatan dengan meminimalkan risiko, termasuk harapan akan tersedianya pasokan pangan yang cukup untuk konsumsi rumah tangga dan sisanya tersedia untuk dijual (Soedjana, 2007). Untuk mencapai hal ini, petani selalu mempertimbangkan pro dan kontra, meskipun tidak secara tertulis. Dalam ilmu ekonomi, petani dikatakan membandingkan hasil yang diharapkan akan diperoleh pada saat panen (Soedjana dalam Patimah, 2018).

2.3 Produksi

Produksi adalah perubahan dari dua atau lebih input (sumber daya) menjadi satu atau lebih output (produk). Menurut Joesron dan Fathorozi (2003), produksi adalah hasil akhir dari suatu proses kegiatan ekonomi yang memanfaatkan berbagai masukan atau input. Dari pengertian tersebut, kegiatan produksi merupakan gabungan dari berbagai input atau masukan untuk menghasilkan output (Joesron dan Fathorozi dalam Setiawan, 2011).

Menurut Adiningsih (1991), produksi adalah proses mengubah input menjadi output untuk meningkatkan nilai komoditi. Input dapat berupa barang atau jasa yang digunakan dalam proses produksi.

Menurut Soekartawi (2003), output adalah barang atau jasa yang dihasilkan dalam proses produksi. Faktor-faktor produksi juga disebut pengorbanan produksi, karena faktor-faktor produksi ini dikorbankan demi produksi. Produsen perlu mengetahui faktor-faktor produksi atau input ini beserta

(31)

14 kuantitas dan kualitasnya. Oleh karena itu, untuk menghasilkan suatu produk perlu diketahui hubungan antara input dan output. Faktor produksi dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) Faktor biologi, seperti lahan pertanian dengan macam dan tingkat kesuburannya, bibit, varietas, pupuk, dan obat-obatan, gulma, dan sebagainya. (2) Faktor sosial-ekonomi seperti biaya produksi, harga, tenaga kerja, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, resiko dan ketidakpastian, kelembagaan, tersedianya kredit, dan sebagainya (Adiningsih dan soekartawi dalam Aumora, 2016).

Lahan pertanian merupakan penentu dampak dari produk pertanian.

Secara umum dikatakan bahwa semakin luas areal yang ditanami, semakin besar hasil produksi lahan. Luas lahan pertanian dapat dinyatakan dalam hektar (ha).

Bibit menentukan kualitas komoditas. Bibit yang baik cenderung menghasilkan produk yang berkualitas baik. Oleh karena itu, semakin baik bibit produk pertanian, semakin tinggi hasil pertaniannya (Saputra, 2019)

Unsur hara (pupuk) merupakan unsur hara bagi tanaman dan bisa juga dikatakan makanan bagi tanaman. Pentingnya pupuk tidak hanya sebagai nutrisi dan makanan bagi tanaman, tetapi lebih dari itu. Jenis pupuk yang sering digunakan petani adalah pupuk organik dan non organik atau kimia.

Penyakit Tumbuhan dan Gulma atau Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah hewan atau tumbuhan kecil yang mengganggu, menghambat atau bahkan membunuh tanaman yang dibudidayakan.

Faktor sumber daya manusia (petani), adalah orang dalam usaha pertanian yang menanam dan memelihara tanaman terutama dengan mengelola

(32)

15 lahan, dengan harapan mendapatkan hasil dari tanaman tersebut untuk digunakan sendiri atau dijual kepada pihak lain (Hasanah, 2019).

2.4 Teori Pendapatan dan Biaya Produksi 2.4.1 Pendapatan

Pendapatan merupakan unsur yang sangat penting dalam sebuah usaha perdagangan atau bisnis, karena dalam melakukan suatu usaha tentu ingin mengetahui nilai atau besaran pendapatan yang diperoleh selama melakukan usaha tersebut (Sari, 2018).

Dalam teori ekonomi mikro, pendapatan adalah perolehan faktor produksi atau biaya jasa produktif. Pemahaman ini menunjukkan bahwa pendapatan adalah perolehan semua biaya faktor dan total output yang dihasilkan oleh semua produksi dalam suatu perekonomian selama periode waktu tertentu.

Winardi (2007) mengemukakan bahwa pendapatan adalah hasil uang atau bentuk materi lainnya yang diperoleh dari penggunaan modal atau kekayaan.

Jika melihat poin-poin yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendapatan seseorang adalah jumlah kekayaan yang dia layani, baik dalam bentuk uang atau materi lainnya.

Pendapatan usahatani menurut Gustiyana (2004), dapat dibagi menjadi dua yaitu: (1) pendapatan kotor, yaitu apa yang diperoleh seorang petani dalam satu tahun bertani, yang dapat dihitung dari pendapatan penjualan. Atau menukarkan hasil produksi dalam rupiah berdasarkan harga satuan berat pada saat panen, (2) pendapatan bersih, yaitu semua pendapatan yang diperoleh petani

(33)

16 dalam setahun dikurangi biaya produksi dalam proses produksi. Biaya produksi meliputi biaya tenaga kerja aktual dan biaya fasilitas produksi yang sebenarnya (Winardi dan Gustiyana dalam Sari, 2019).

2.4.2 Biaya Produksi

Menurut Hansen dan Mowen menyatakan bahwa biaya produksi adalah biaya yang terkait dengan pembuatan barang dan penyediaan jasa. Biaya produksi dapat dibagi menjadi biaya produksi langsung, biaya tenaga kerja dan biaya tidak langsung pabrik.

Biaya produksi adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan untuk membiayai kegiatan produksi. Biaya produksi diharapkan minimal, tetapi harus dipahami dalam hubungannya dengan hasil produksi. Biaya produksi dan produksi seperti koin dua sisi. Jika produksi berbicara tentang penggunaan faktor-faktor produksi secara fisik, maka biaya diukur dengan uang.

Dalam hal ini berarti perbandingan antara hasil produksi harus melebihi biaya yang dikeluarkan, dan biaya yang diharapkan adalah yang paling rendah ditinjau dari perbandingan perbandingannya. Kenaikan biaya tidak selalu merupakan hal yang buruk, selama kenaikan biaya berdampak pada peningkatan output yang lebih besar (Hansen,Mowen,2019)

Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengolah bahan mentah menjadi produk jadi yang dapat dijual. Menurut objek pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi ini dibagi menjadi: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik . Biaya bahan baku dan biaya tenaga

(34)

17 kerja langsung disebut juga biaya primer, sedangkan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik disebut biaya konversi dan merupakan biaya untuk mengubah bahan mentah menjadi produk jadi. Setiap petani pasti akan mengeluarkan biaya ketika melakukan usahatani, yaitu biaya produksi. Biaya produksi ini terdiri dari bermacam-macam namun memiliki tujuan yang sama untuk meningkatkan hasil pertanian. Oleh karena itu besar kecilnya biaya ini tidak bergantung pada besar kecilnya produk yang diperoleh, sedangkan biaya variabel dipengaruhi oleh besar kecilnya produk yang diperoleh. Biaya tetap adalah sewa tanah, pajak, peralatan pertanian, biaya irigasi dan lain-lain. Biaya variabel meliputi biaya fasilitas produksi, biaya tenaga kerja, biaya panen, biaya transportasi dan lain-lain (Aprilia, 2019).

Menurut Daniel, biaya produksi dinyatakan dalam bentuk kompensasi yang diterima oleh pemilik faktor produksi, atau biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi, baik tunai maupun tidak tunai. Biaya tetap adalah jenis biaya yang skalanya tidak tergantung pada skala produksi, seperti sewa dalam istilah moneter, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang terkait dengan skala produksi, seperti benih, pupuk, obat-obatan dan lain-lain. Biaya dalam usahatani dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:

a. Biaya tetap, yaitu biaya yang harus ditanggung petani yang tidak habis dalam suatu siklus produksi, seperti tanah garapan, tagihan air, upah karyawan tetap, premi asuransi, penyusutan alat dan bangunan pertanian dan lain-lain.

(35)

18 b. Biaya variabel, yaitu biaya yang tergantung pada jumlah produksi, seperti biaya pupuk, herbisida, upah langsung petani, dan alat-alat pertanian. (Daniel, Moehar,2004).

2.5 Pola Tanam

Pola tanam atau disebut juga tumpang gilir adalah suatu sistem bercocoktanam selama satu tahun atau lebih penanaman dan beberapa tanaman secara bergiliran untuk meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan petani.

Pola tanam merupakan ujung tombak dari sistem produksi tanaman. Pola tanam yang baik harus dapat memanfaatkan dan memadukan komponen- komponen yang ada seperti lahan, iklim, air, jenis dan varietas tanaman, teknik budidaya dan pasar. Sistem irigasi dan curah hujan sangat mempengaruhi bentuk pola tanam yang dapat dikembangkan (Firdaus, 2013).

penerapan pola tanam di suatu wilayah sangat tergantung pada keadaan fisik dan ekonomi. Pengaruh lingkungan fisik meliputi curah hujan, irigasi, tanah, ketinggian dan suhu. Faktor curah hujan meliputi jumlah dan kualitas air irigasi, faktor tanah meliputi jenis, kesuburan, dan drainase tanah, sedangkan faktor ketinggian dan suhu berkaitan dengan iklim. Pada saat yang sama, faktor-faktor sosial, ekonomi dan budaya yang mempengaruhi termasuk keyakinan, nilai dan tujuan masyarakat, serta harga input dan output dan kondisi pasar secara umum.

Selanjtnya Sectisaint (1977) mengemukakan bahwa Kelembagaan seperti kredit, land reform, organisasi petani, masalah irigasi, dan kebijakan pemerintah adalah

(36)

19 lingkungan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang mempengaruhi pola tanam (Sectisaint dalam Suryanto, 2019).

Adapun pola tanam yang diusahatanikan di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar dengan komoditi sayur kangkung dan kacang panjang dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 1. Pola Tanam Usahatani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang

2.6 Hasil Penelitian Terdahulu Tabel 3. Hasil Penelitian Terdahulu

No Judul Penelitian

Metode Penelitian

Hasil Penelitian 1 Analisis

Komparatif Usahatani Kentang Atlantik Dan Kentang Granola Di Kecamatan Sempol

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan metode komparatif.

1. Ada perbedaan biaya produksi antara usahatani kentang atlantik dan kentang granola namun secara statistik tidak berbeda nyata pada taraf kepercayaan 90%. Biaya produksi kentang granola lebih tinggi yaitu sebesar Rp22.500.279 sedang kentang atlantik lebih rendah yang sebesarRp22.146.941.

Sayur Kangkung Sayur Kacang Panjang

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

(37)

20

2. Ada perbedaan produktivitas

lahan antara usahatani kentang, namun secara statistik tidak signifikan pada taraf kerpcayaan 90%. Produktivitas lahan kentang atlantik lebih rendah yaitu sebesar 9.462kg/ha dibandingkan dengan kentang granola yang sebesar 9.666kg/ha. Ada perbedaan produktivitas tenaga kerja antar usahatani kentang dan secara statistik berbeda nyata pada taraf kepercayaan 90%. Produktivitas tenaga kerja kentang atlantik lebih tinggi yaitu sebesar 73,00kg/JHK dibanding dengan kentang granola yang sebesar 59,34kg/JHK.

3. Ada perbedaan keuntungan

antara usahatani kentang atlantik dan kentang granola, secara statistik berbeda nyata pada taraf kepercayaan 99%. Keuntungan usahatani kentang granola lebih tinggi yaitu sebesar

Rp37.027.999/ha dibandingkan kentang atlantik yang sebesar Rp15.700.553/ha.

4. Faktor faktor yang berpengaruh

dan signifikan terhadap produksi usahatani kentang adalah bibit, pupuk, tenaga kerja dan varietas, sedangkan faktor luas lahan dan pestisida berpengaruh positif tetapi secara statistik tidak signifikan terhadap produksi usahatani kentang di

Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso.

(38)

21 2 Analisis

Komparatif Pendapatan Usahatani Sayuran Di Desa Tanjung Kari

Kecamatan Pulau Beringin Kabupaten Oku Selatan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Penentuan sampel

dilakukan dengan cara sampling jenuh.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka dapat

disimpulkan bahwa pendapatan petani sayuran pada pola I sebesar Rp 4.326.950 per musim tanam lebih besar dibandingkan dengan pendapatan pola II sebesar Rp 2.533.112.5 per musim tanam dan pola III sebesar Rp

3.852.256.25 per musim tanam.

3 Studi Komparatif Pendapatan Petani Sayuran Di Desa Karangkamiri Kecamatan Langkaplancar Kabupaten Pangandaran.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode survei.

1. Besar biaya usahatani sayuran berdasar pola tanam mentimun - cabai Rp. 51.938.445,97,- ,biaya usahatani pola tanam cabai – cabai rawit Rp. 55.181.960, 63,-, dan biaya usahatani pola tanam mentimun cabai rawit

Rp.46.360.192,1. Besar

pendapatan usahatani dengan pola tanam mentimun – cabai Rp.

112.452.757,6,-,, cabai – cabai rawit Rp. 472.409.279,7dan menitmun – cabai rawit dan Rp.

161,897,668,-. Dapat disimpulkan bahwa biaya paling tinggi

dikeluarkan pada usahatani polatanam cabai – cabai rawit yang disebabkan lebih tinggi nya biaya pupuk, pestisida dan tenaga kerja. Pendapatan usahatani beradasar pola tanam adalah polatanam cabai – cabai rawit sebesar Rp.472.409.279,-. Hal ini disebabkan karena harga

penjualan cabai rawit yang tinggi sehingga mengakibatkan

pendapatan yang diperoleh lebih tinggi dibanding dengan

usahatani lainnya.

(39)

22

2. Hasil analisis uji perbandingan

dengan menggunakan uji Kruskal Wallis menunjukan bahwa biaya, penerimaan dan pendapatan antara pola tanam mentimun – cabai, cabai – cabai rawit dan mentimun – cabai rawit tidak berbeda secara signifikan (nyata).

Hasil Uji Kruskal Wallis pada total biaya pola tanam

menunjukan nilai sig 0.211 >

0.05, hasil uji pada penerimaan pola tanam menunjukan nilai sig 0.275 > 0.05 dan hasil uji

pendapatan pola tanam menunjukan nilai sig 0.296 >

0.05, maka dapat disimpulkan tidak tedapat perbedaan yang signifikan antara usahatani sayuran berdasar pola tanam.

4 Komparasi Pendapatan Usahatani Kacang Panjang Organik Dan Anorganik Di Desa Sei Asam Kecamatan Kapuas Hilir Kabupaten Kapuas.

Dalam penelitian ini metode yang akan digunakan adalah metode survey. Teknik penetapan responden menggunakan stratified random sampling.

1. Dari hasil penelitian tentang teknik usahatani organik dan anorganik ternyata terdapat perbedaan yang signifikan yaitu ditunjukan oleh indikator perbedaan keduanya sebagai berikut : a) yaitu perbedaan pada pemupukan bila organik

menggunakan pupuk kandang dan organik cair sedangkan anorganik menggunakan pupuk kimia yaiut NPK. b) cara

penanganan OPT, untuk organik menggunaan pestisida nabati sedangkan anorganik

menggunakan pestisida kimia.

2. Besar biaya rata-rata usahatani

organik untuk penerimaan sebesar Rp 4.907.666 dan pendapatan sebesar Rp

3.863.933. Sedangkan rata-rata usahatani anorganik

penerimaannya sebesar Rp 4.250.000 dan pendapatan sebesar Rp 2.775.516.

(40)

23

3. R/C ratio pada usahatani

kacang panjang organik adalah 1,87 sedangkan untuk usahatani Kacang panjang anorganik memiliki R/C ratio hanya sebesar 1,35. Artinya Usahatani kacang panjang organik lebih layah diusahakan dari pada anorganik di Desa Sei Asam.

5 Analisis Komparatif Pendapatan Usahatani Sayuran Pakcoy di Kampung Liman Benawi Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah

Teknik penentuan sampel pada penelitian ini adalah nonprobaliti sampling dengan sampling jenuh.

1. Pendapatan usahatani pakcoy sehat sebesar Rp.82.351,76 dengan R/C 1,60 sedangkan petani pakcoy anorganik sebesar Rp. 23.569,90 dengan R/C 1,24, artinya bahwa pendapatan usahatani pakcoy sehat lebih menguntungkan dibandingkan dengan pendapatan usahatani pakcoy anorganik.

2. Secara statistik pendapatan

usahatani pakcoy sehat lebih besar di bandingkan dengan pendapatan usahatani pakcoy anorganik, diperoleh angka probabilitas 0,196 lebih besar dari 0,05, artinya ada perbedaan yang signifikan antara pendapatan usahatani pakcoy sehat dan pendapatan usahatani anorganik.

(41)

24 2.7 Kerangka Pikir Penelitian

Usahatani adalah suatu bentuk penentuan, pengorganisasian dan pengkoordinasian penggunaan faktor-faktor produksi secara efektif, efisien dan efektif. Secara berkelanjutan menghasilkan hasil dan pendapatan pertanian yang tinggi. Usahatani yang dimaksud dalam penelitian ini adalah budidaya sayuran kangkung dan budidaya sayuran kacang panjang. Kedua peternakan dirancang untuk menghasilkan pendapatan bagi keluarga petani, yang kemudian mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pendapatan dari kegiatan bertani dapat digunakan untuk menilai seberapa berhasil petani mengelola usaha taninya.

Besarnya pendapatan yang diterima petani dari kegiatan pertanian dipengaruhi oleh besarnya biaya yang dikeluarkan atau dikeluarkan dalam jangka waktu tertentu dan pendapatan petani.

Biaya-biaya yang disebutkan dalam penelitian ini adalah biaya-biaya yang diasumsikan. Biaya operasional mengacu pada biaya pembelian peralatan eksternal seperti benih, pupuk, bahan kimia, pajak, biaya irigasi, biaya operasi pompa, depresiasi, upah pekerja migran dan upah pekerja wiraswasta, dihitung dengan upah. Dibayarkan kepada pekerja luar.

Penerimaan adalah nilai total produk yang diperoleh petani dari menanam sayur kangkung dan dan kacang panjang. Besarnya penerimaan yang diperoleh oleh petani dapat ditentukan dengan mengalikan jumlah produksi sayuran kangkung dan kacang panjang (Ikat) dengan harga jual produk per ikat (Rp/ikat).

(42)

25 Pendapatan adalah selisih antara pendapatan dan biaya. Pendapatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendapatan bersih dari pertanian.

Pendapatan bersih adalah selisih antara pendapatan yang diperoleh petani selama musim tanam dengan biaya yang dikeluarkan petani dalam kegiatan bertani.

Berdasarkan uraian di atas dapat disusun skema kerangka pikir sebagai berikut:

Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran Penelitian

2.8 Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara atas pernyataan pertanyaan penelitian, di mana pernyataan pertanyaan penelitian telah dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan, sehingga hipotesis juga dapat dirumuskan sebagai jawaban teoritis atas pernyataan pertanyaan penelitian, bukan jawaban empiris (Sugiyono, 2009)

Berdasarkan uraian pada kerangka pikir, maka peneliti mencoba merumuskan hipotesis yang merupakan kesimpulan sementara dari penelitian ini, yaitu bahwa: usahatani sayur kangkung dan kacang panjang terdapat perbedaan

Usahatani Sayuran

Kangkung Komparatif

Pendapatan

Kacang Panjang

Biaya Fixed Variabel

Penerimaan Produksi

Harga Biaya

Fixed Variabel

Penerimaan Produksi

Harga

Pendapatan

(43)

26 pendapatan dan produktivitas tenaga kerja di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar

Uji hipotesis dengan menggunakan uji t untuk mengetahui perbedaan pendapatan dan produtivitas tenaga keraja usahatani sayur kangkung dan kacang panjang.

a. Jika nilai α 0,05 < nilai probabilitas maka H0 diterima dan H1 ditolak.

Artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan dan produktivitas tenaga kerja pada usahatani sayur kangkung dan kacang panjang.

b. Jika nilai α 0,05 > nilai probabilitas, maka H0 ditolak dan H1 di terima.

Artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan dan produktivitas tenaga kerja pada usahatani sayur kangkung dan kacang panjang

(44)

27 III.

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar dengan pertimbangan bahwa di Desa Pakkabba merupakan salah satu penghasil komoditas sayuran di Kecamatan Galesong Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari - April 2022 di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar

3.2 Teknik Penentuan Sampel

Sampel adalah sebagian dari suatu populasi yang memiliki ciri-ciri yang relatif sama dan dianggap mewakili populasi tersebut. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakterisitik yang dimiliki oleh suatu populasi yang akan diteliti. Sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan jenis non-probability sampling. Non-probability sampling Jenis sampel ini tidak dipilih secara acak. Tidak semua elemen atau unsur dalam suatu populasi mempunyai peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel.

Menurut Sugiyono (2001), non-probability sampling adalah teknik yang tidak memberikan kesempatan/peluang yang sama bagi setiap elemen atau anggota populasi untuk dipilih sebagai sampel.

Teknik Non Probability Sampling yang dipilih yaitu dengan Sampling Jenuh (sensus) yaitu metode penarikan sampel yang menggunakan semua anggota populasi sebagai sampel. Hal ini biasanya dilakukan bila populasi kecil, kurang dari 30 orang (Supriyanto dan Machfudz, 2010: 188).

(45)

28 Dalam penelitian ini sampel yang akan diambil adalah seluruh petani sayur kangkung dan kacang panjang di Desa Pakkaba Kecamatan Galesong Utara Kabaupaten Takalar yang berjumlah 30 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode sampel jenuh. Metode sampel jenuh adalah teknik pengambilan sampel yang menggunakan semua anggota populasi sebagai sampel.

(46)

29 3.3 Jenis dan Sumber Data

3.3.1 Jenis Data

Pada penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka atau bilangan. Dalam hal ini yang dimaksud data penerimaan dan biaya-biaya yang digunakan serta produksi yang dihasilkan.

3.3.2 Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung di lapangan baik melalui observasi maupun wawancara langsung dengan petani.

2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung baik dari Dinas Pertanian dan lembaga-lembaga yang ada di Desa setempat.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

1. Observasi adalah pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung keadaan responden dan keadaan yang terjadi di daerah penelitian yaitu Desa Pakkaba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar terkait jenis sayuran.

2. Wawancara merupakan pengumpulan data dengan melakukan serangkaian wawancara langsung terhadap responden yaitu petani untuk memperoleh informasi atau data-data yang diperlukan mengenai identitas responden, biaya usahatani serta penerimaan di Desa Pakkabba.

3. Dokumentasi yaitu cara pengumpulan data dengan jalan mengumpulkan data melalui keterangan secara tertulis yaitu keterangan yang diperoleh dari

(47)

30 responden terkait dengan penelitian yang dilakukan yang merupakan dokumen-dokumen yang ada hubungannya dengan kata yang dibutuhkan dalam penelitian.

3.5 Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis data komparatif. Penelitian komparatif adalah penelitan yang bersifat membandingkan.

Penelitian ini di gunakan untuk membandingkan persamaan dan perbedaan dua atau lebih fakta-fakta dan sifat-sifat objek yang diteliti berdasarkan keranka pemikiran tertentu.

Untuk mencapai hasil tujuan penelitian dan menguji kebenaran di gunakan beberapa metode analisis data sebagai berikut:

a. Fungsi Pendapatan

Rumus pendapatan menurut (Soekartawi, 2016) sebagai berikut:

Dimana:

I: Pendapatan TR: Penerimaan TC = Total Biaya

b. Produktivitas Tenaga Kerja

Rumus produktivitas tenaga kerja menurut (Soekartawi, 2006) sebagai berikut:

Produktivitas Tenaga Kerja =

Dimana:

I = TR - TC

(48)

31 Π = Pendapatan

HOK= Hari Orang Kerja c. Uji t

Untuk mengetahui perbandingan yang terjadi antara pendapatan usahatani kangkung dan kacang panjang dilakukan dengan menggunakan uji-t.

Menurut Sugiyono (2017) rumus untuk menguji uji t sebagai berikut:

t = ̅̅̅̅ ̅̅̅̅

√( ) ( )

(

)

Keterangan:

̅̅̅ ̅̅̅

Dengan kriteria uji:

Jika t-hitung ≤ t-tabel, maka Ho diterima dan H1tidak diterima.

Jika t-hitung ≥ t-tabel, maka Ho tidak diterima dan H2diterima.

Dimana:

Ho:

H1:

Keterangan:

( ) ( )

(49)

32 d. Analisi B/C Ratio

Rumus B/C Ratio menurut (Soekartawi, 2006) sebagai berikut:

( ) ( ) Dimana:

B: Benefit C: Cost

3.6 Definisi Opeasional

1. Sayuran adalah nabati Istilah umum untuk pangan, biasanya dengan kadar air yang tinggi, yang dapat dimakan setelah dimasak atau diolah dengan teknik tertentu, atau dalam keadaan segar.

2. Usahatani adalah budidaya dan koordinasi faktor-faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja dan modal untuk memberikan hasil yang sebesar- besarnya.

3. Petani adalah orang yang menanam sayuran kangkung dan kacang Panjang Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.

4. Produksi adalah total produksi kangkung dan kacang panjang di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar yg di ukur dalam satuan (kg).

5. Pendapatan adalah apa yang diperoleh petani dan merupakan selisih antara total pendapatan dan total biaya operasi usahatani kangkung dan kacang panjang dinyatakan dalam satuan (Rp).

(50)

33 6. Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi usahatani kangkung dan kacang panjang. Biaya produksi dinyatakan dalam satuan (Rp).

7. biaya tetap adalah total biaya tetap dalam proses produksi.

8. biaya variabel adalah biaya yang besarnya tergantung dari output yang dihasilkan dan berpartisipasi langsung dalam proses produksi.

9. Harga adalah suatu nilai jual sayuran kangkung dan kacang panjang.

10. Penerimaan adalah nilai uang yang dihasilkan dari penjualan sayur kangkung dan kacang panjang, dan biaya ini diperoleh dengan mengkalikan jumlah total produksi dengan harga tiap sayuran per ikat dengan satuan (Rp).

11. Komparatif adalah perbandingan pendapatan, produktivitastenaga kerja, dan B/C racio usahatani sayur kangkung dan kacang panjang di Desa Pakkabba Kecmatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.

12. Kangkung adalah jenis sayuran yang dibudidayakan di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.

13. Kacang panjang adalah di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.

14. B/C Ratio adalah analisis data yang dilakukan oleh peneliti untuk melihat kelayakan usahatani sayur kangkung dan kacang panjang di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.

(51)

34 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Letak Geografis

Desa Pakkabba merupakan kecamatan Desa Bangtoranla. Pemekaran diusulkan pada saat itu karena Desa Bontolanra dianggap terlalu luas sebagai desa sehingga kepala desa kewalahan dalam menjalankan pemerintahan dan pelayanan masyarakat. Selain itu, dari situasi wilayah Pakaba yang saat itu merupakan desa di desa Bangtoranla memiliki ciri khusus yaitu berbatasan dengan sungai sehingga dapat diperluas dan digabung dengan wilayah Aeng Towa sebagai sebuah desa baru. Pada tahun 1991 terjadilah pemekaran dari dusun menjadi Desa Pakkabba dan selanjutnya menjadi desa persiapan dengan pejabat sementara adalah H. Abd.

Rauf dg Boko.

Setelah 2 tahun desa persiapan, ditetapkan sebagai desa final. Pada tahun 1993, Desa Pakkabba menyelenggarakan pemilihan kepala desa yang pertama dengan calon H. Abd. Rauf bersama Boko dan H. Abd. H. Abd meraih Latif dg Tompo. Rauf dan Boko. Di bawah kepemimpinannya, Desa Pakkabba secara administratif terbagi menjadi 5 dusun, yaitu Aeng Towa, Julumata, Parapa dan Saggebongga.

Pada tahun 2001 Desa Pakkabba dipimpin oleh H. Abd. Kahar dg Rukka, kepala desa adalah mantan kepala desa Dusun Pakkabba. Pada tahun 2006, Kepala Desa Pakkabba diganti oleh H. Abd. Kahar dan Rukka ke Hj. Madhya S.E.

dg Ke'nang memenangkan pemilihan kepala desa. Pada masa pemerintahan Hj.

Madia S.E. Dengan Ke'nang, kawasan desa Pakkabba berubah, Dusun Aeng Towa dan Saggebongga mendapat persetujuan pemekaran sesuai dengan lokasi dan

(52)

35 kondisi masyarakat. Desa Pakkabba sendiri merupakan desa induk dengan 3 dusun yaitu Dusun Pakkabba, Dusun Julumata dan Dusun Parapa, kemudian Desa Pakkabba dimekarkan menjadi Dusun, Dusun Pangkaje'ne pada akhir tahun 2020.

Batas administrasi Desa Pakkabba

1. Sebelah Utara berbatasan langsung dengan Kota Makassar 2. Sebelah selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Gowa 3. Sebelah Barat berbatasan langsung dengan Desa Bontolanra 4. Sebelah Timur berbatasan langsung dengan Desa Aeng Towa

Dilihat dari keadaan geografisnya seperti wilayah Indonesia pada umumnya Desa Pakkabba terdapat 2 musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan, dan sekitar 50% luas desa pakkabba adalah persawahan.

4.2 Kondisi Demografis

Jumlah penduduk di desa pakkabba berjumlah 3.251 jiwa yang terdiri dari 898 kepala keluarga yang masih tergabung dalam 3 dusun, yaitu Dusun Parapa Dusun Julumata dan Dusun Pakkabba. Dengan mayoritas penduduk islam sejumlah 3.251 orang, jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.

(53)

36 Tabel 4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Pakkabba

Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar 2021.

No Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Presentase (%)

1. Laki – laki 1.564 48,1

2. Perempuan 1.687 51,9

Jumlah 3.251 100

Sumber: Data Desa Pakkabba, 2020

Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah penduduk berjenis kelamin laki – laki sebanyak 1.564 dengan presentase 48,1%. Sedangkan untuk jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan sebanyak 1.687 dengan presentase 51,9%.

Sedangkan untuk jumlah penduduk berdasarkan golongan umur dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Jumlah Penduduk Bedasarkan Golongan Umur di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.

No Umur Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. 1-5 tahun 274 8,4

2. 5-6 tahun 137 4,2

3. 7-15 tahun 573 17,62

4. 16-21 tahun 358 11

5. 22-59 tahun 1740 53,5

6. 60-keatas 169 5,19

Jumlah 3251 100

Sumber: Desa Pakkabba, 2020

Tabel 5 menunjukkan bahwa jumlah penduduk berdasarkan golongan umur 1-5 tahun sebanyak 274 orang dengan presentase 8,5%. Umur 5-6 tahun sebanyak 137 orang dengan presentase 4,2%. Umur 7-15 tahun sebanyak 573 orang dengan presentase 17,62%. Umur 16-21 tahun sebanyak 358 orang dengan presentase 11%. Umur 22-59 tahun sebanyak 1740 dengan presentase 53,5%.

(54)

37 Umur 60-keatas sebanyak 169 orang dengan presentase 5,19%. Hal ini menunjukkan bahwa usia produktif yang tinggi di lokasi penelitian memiliki dampak agrobisnis yang baik terhadap kesejahteraan masyarakat petani. Faktor lain yang terkait dengan usia produktif adalah tingkat pendidikan yang dapat mengubah pola pikir petani yang tangkas. Untuk mengetahui tingkat pendidikan dilokasi pertanian dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar

No Pendidikan Jumlah (Orang) Presentase (%)

1. Belum sekolah 313 8,88

2. Tidak tamat SD 462 13,12

3. Tamat SD 976 27,71

4. Tamat SMP 241 6,84

5. Tamat SMA 1369 38,88

6. Diploma 1-3 35 0,99

7. Sarjana S1 125 3,55

Jumlah 3521 100

Sumber: Data Desa Pakkabba, 2020

Pada tabel 6 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Pakkabba adalah 3521 jiwa yang menunjukkan tingkat pendidikan belum tamat SD dengan jumlah 462 jiwa dengan persentase 13,12%.

Tingkat pendidikan tamat SD dengan jumlah 976 orang dengan persentase 27,71%. Tingkat pendidikan tamatan SMP dengan jumlah 241 orang dengan persentase 6,84%. Tingkat pendidikan tamat SMA dengan jumlah 1369 orang dengan persentase 38,88%. Tingkat pendidikan Diploma 1-3 dengan jumlah 35 orang dengan persentase 0,99%. Sedangkan untuk tingkat pendidikan Strata Satu (S1) dengan jumlah 125 orang dengan persentase 3,55%. Hal ini menunjukkan

(55)

38 bahwa sebagian penduduk lokasi penelitian memiliki pendidikan yang relatif rendah yang mempengaruhi tingkat usaha dan mata pencaharian. Untuk umlah penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Taklar

No Mata Pencaharian Jumlah (Orang) Presentase (%)

1. Petani 890 47,13

2. Peternak 25 1,32

3. PNS 27 1,43

4. Wiraswasta 287 15,20

5. TNI/Polri 9 0,47

6. Pegawai Swasta 50 2,64

7. Buruh 120 6,35

8. Konstruksi (Tukang Batu) 470 24,89

9. Pensiunan 10 0,52

Jumlah 1.8888 100.00

Sumber: Data Desa Pakkabba, 2020

Tabel 7 menunjukkan bahwa jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian petani sebanyak 890 orang dengan presentase 47,13%. Peternak sebanyak 25 orang dengan presentase 1,32%. PNS sebanyak 27 orang dengan presentase 1,43%. Wiraswasta sebanyak 287 dengan presentase 15,20%.

TNI/Polri sebanyak 9 orang dengan presentase 0,47%. Pegawai swasta sebanyak 50 orang dengan presentase 2,64. Buruh sebanyak 120 orang dengan presentase 6,35%. Konstruksi (Tukang Batu) sebanyak 470 orang dengan presentase 24,89%.

Sedangkan pensiunan sebanyak 10 orang dengan presentase 0,52%.

(56)

39 4.3 Kondisi Pertanian

1. Tanaman Pangan

Padi merupakan tanaman pangan yang umumnya ditanam oleh petani di Desa Pakkabba. Siklus tanam padi ini adalah 1-2 kali dalam setahun. Sawah di Desa Pakaba mencakup sekitar 50% dari total luas Desa Pakaba. Budidaya padi merupakan sumber mata pencaharian utama bagi masyarakat pertanian di Desa Pakaba.Selain padi, petani juga menanam kacang panjang, kacang hijau, jagung dan tanaman pangan lainnya.

2. Tanaman Holtikultura

Masyarakat petani di desa Pakkabbba memanfaatkan sebagian lahan sawah dan ladang untuk bercocok tanam hortikultura sebagai pendapatan tambahan bagi petani di desa Pakkabbba.

3. Peternakan

Sebagian besar Populasi ternak di Kabupaten Takalar adalah sapi dan kambing. Desa Pakkabba merupakan salah satu desa yang pemerintah memberikan bantuan ternak sapi dan kambing, sehingga persediaan ternak di Desa Pakkabba semakin meningkat dari tahun ke tahun.

(57)

40

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Identitas Responden

Identitas responden adalah gambaran secara umum petani yang dapat memberikan hasil penelitian mengenai komparatif sayuran kangkung dan kacang panjang. Dimana untuk mengetahui hal tersebut maka, responden dalam penelitian adalah petani sayuran kangkung dan kacang panjang di Desa Pakkabba.

Identitas petani sayuran kangkung dan kacang panjang meliputi umur, Pendidikan dan jumlah tanggungan keluarga.

5.1.1 Umur

Faktor umur mempengaruhi aktivitas kerja petani untuk melakukan pekerjaan yang lebih produktif karena memiliki kapasitas usahatani yang lebih besar. Umur responden berkisar antara 38-58 tahun. Pengelompokan umur responden dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel 8. Identitas Responden Berdasarkan Umur di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.

No Umur Responden (Tahun) Jumlah (Orang) Presentase (%)

1. 38-44 17 56,67

2. 45-51 11 36,67

3. 52 2 6,66

Jumlah 30 100,00

Sumber: Analisis Data Primer, 2022

Berdasarkan tabel 8 menunjukkan bahwa umur 38-44 sebanyak 17 orang dengan presentase 56,6%, umur 45-51 sebanyak 11 orang dengan presentase

(58)

41 36,6%, sedangkan umur 52-58 sebanyak 2 orang dengan presentase 6,6%.

Berdasarkan teori kependudukan menyatakan bahwa usia produktif berada pada kisaran antara 15-55 tahun. Dimana pada usia tersebut memiliki kemampuan berfikir dan bekerja (Badan Pusat Statistik,2015).

5.1.2 Tingkat Pendidikan

Selain umur salah satu faktor yang mempengaruhi aktivitas kerja petani dalam menjalankan kerja adalah tingkat pendidikan. Pendidikan memegang peranan penting dalam kegiatan pertanian dalam arti luas. Pendidikan dan pengetahuan yang lebih tinggi akan menciptakan cara berpikir dan sistem bertani yang lebih baik.

Tabel 9. Identitas Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.

No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Presentase (%)

1 SD 15 50,00

2 SMP 11 36,67

3 SMA 4 13,33

Jumlah 30 100,00

Sumber: Analisis Data Primer, 2022

Berdasarkan data tabel 9 tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh responden yaitu dari tingkat SD hingga tingkat SMA. Tingkat pendidikan tertinggi yaitu SD sebesar 50% sedangkan tingkat pendidikan terendah yaitu tingkat pendidikan SMA sebesar 13,3%.

Menurut Tuwo (2011), pendidikan tinggi di usia muda akan menciptakan petani yang dinamis. Tingkat pendidikan merupakan faktor penting bagi petani untuk terlibat dalam pertanian. Pendidikan dapat berdampak langsung pada

Gambar

Tabel  2.  Luas  Panen dan Produksi  Tanaman Sayuran Menurut Jenis  Tanaman di  Kecamatan Galesong Utara
Gambar 1. Pola Tanam Usahatani Sayur Kangkung dan Kacang Panjang
Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran Penelitian
Tabel  5.  Jumlah  Penduduk  Bedasarkan  Golongan  Umur  di  Desa  Pakkabba  Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar
+7

Referensi

Dokumen terkait