BAB XI PENUTUP
VI. BROMO – TENGGER – SEMERU
Terlepas dari potensi wisata alam dan budaya destinasi ini, lama tinggal rata- rata pengunjung Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS) domestik dan asing hanya satu hari, terutama karena terbatasnya tempat wisata/
aktivitas di Taman Nasional untuk mendorong wisatawan tinggal lebih lama.
Pola perjalanan yang biasa adalah datang sehari lebih awal dan bangun sekitar pukul 3 pagi untuk mendaki ke titik pandang matahari terbit. Setelah matahari terbit, wisatawan umumnya akan berkunjung ke Gunung Bromo.
Tempat-tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di destinasi TNBTS biasanya terkumpul di gerbang utama Taman Nasional, seringkali
201 8
202 3f
202 8f
203 3f
203 8f
204 5f Foreign 6,402 13,02 20,63 29,72 33,90 40,77 Domestic 19,03 21,25 23,55 25,90 28,27 31,53
0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000
Number of visitors
20 18
20 23 f
20 28 f
20 33 f
20 38 f
20 45 f Business-as-usual 21.2 24.1 26.4 28.6 31.0 34.7 Best case 21.2 34.1 48.5 64.4 73.0 86.1
10.00.0 20.030.0 40.050.0 60.070.0 80.090.0 100.0
Visitor Expenditures (US$ million)
menyebabkan kepadatan berlebih. Pengunjung internasional hanya mencapai 3% dari total pengunjung pada 2018, turun dari sekitar 10% pada 2012. Ini sangat disayangkan mengingat TNBTS dinobatkan sebagai cagar biosfer oleh UNESCO pada 2015 lalu. Pengunjung domestik cenderung dari kelas berpenghasilan rendah hingga menengah.
Karena gunung tersebut merupakan gunung berapi yang masih aktif, maka aktivitas vulkaniknya merupakan penentu yang vital bagi aktivitas wisata di sekitarnya, misalnya letusan gunung Bromo pada akhir tahun 2015 menghentikan aktivitas wisata di seluruh wilayah tersebut. Beragam ide telah ditempuh contohnya seperti di Bromo yang mengembangkan beberapa acara berkualitas, yaitu festival Jazz Gunung dan Bromo Marathon yang telah membantu keragaman basis permintaan di destinasi. Pintu gerbang internasional ke TNBTS ini adalah melalui Bandara Internasional Juanda di Surabaya, sekitar 3 jam dari Taman, yang membuat konektivitas jalan dari bandara ke tujuan menjadi sangat penting.
Mengingat penawaran produk pariwisata satu dimensinya (pemandangan matahari terbit dan trekking ringan), lokasi yang relatif jauh dari tempat- tempat wisata utama lainnya di Jawa, dan penawaran akomodasi berskala kecil serta menengah ke bawah, TNBTS akan kesulitan untuk memantapkan dirinya sebagai tujuan mandiri atau multi-hari untuk pengunjung asing.
Sejalan dengan tren dekade terakhir, di mana jumlah pengunjung asing tetap sangat rendah (25.000) dan tidak mengalami pertumbuhan, TNBTS diperkirakan akan tetap menjadi pariwisata domestik yang didominasi oleh wisatawan. Oleh karena itu, basis pengunjung asing dan prospek pertumbuhan akan terus sempit dan terbatas pada: (i) pelancong dari pasar jarak jauh yang tinggal lama di Indonesia (misalnya 2 minggu atau lebih), berhenti di TNBTS selama satu hari sebagai bagian dari kegiatan yang lebih luas. Perjalanan darat (mis. melintasi Jawa mulai dari Jakarta atau Bali); dan (ii) wisatawan dari pasar regional terdekat (Malaysia dan Singapura) singgah di TNBTS sebagai bagian dari kunjungan singkat ke Surabaya (pintu gerbang internasional utama mereka ke Jawa Timur). Untuk pengunjung domestik, TNBTS akan terus meningkat popularitasnya sebagai tujuan perjalanan sehari, terutama karena waktu tempuh dari Surabaya dipersingkat dengan adanya perbaikan jalan tol yang sedang berlangsung, tetapi kurang untuk kunjungan semalam atau beberapa hari tanpa adanya peningkatan akomodasi dan keragaman aktivitas. Seiring waktu, semakin banyaknya pengunjung domestik yang datang ke TNBTS dengan rencana perjalanan sehari yang hampir identik akan memperburuk kemacetan di gerbang masuk utama dan atraksi tujuan (termasuk meningkatnya kehadiran pedagang asongan dan pemandu wisata tanpa izin), yang pada akhirnya menyebabkan
kemunduran di pengalaman pengunjung dan meredam pertumbuhan permintaan dalam jangka panjang. Dalam scenario best-case, investasi yang ditargetkan dalam infrastruktur dan fasilitas TNBTS - titik pengamatan baru, jalur pendakian/ bersepeda, lokasi berkemah/ glamping, desa budaya - diharapkan dapat mengkatalisasi pengembangan dan diversifikasi produk dan pengalaman pariwisata di TNBTS, meningkatkan insentif untuk pengunjung untuk tinggal lebih lama dan lebih dekat ke situs TNBTS. Asalkan infrastruktur layanan dasar (terutama pasokan air dan sanitasi) di daerah akomodasi dekat gerbang masuk Taman utama juga ditingkatkan. Hal ini akan membantu memobilisasi investasi swasta dalam akomodasi baru dan akomodasi kelas menengah hingga kelas atas. Untuk pengunjung asing dari pasar regional terdekat (Malaysia dan Singapura), penawaran produk dan akomodasi yang ditingkatkan diharapkan dapat memperluas daya tarik TNBTS sebagai tujuan mandiri untuk kunjungan singkat beberapa hari (misalnya akhir pekan), terutama di kalangan kelas menengah perkotaan yang mencari tempat peristirahatan berbasis alam dan petualangan, termasuk pilihan untuk interaksi dengan budaya lokal Tengger. Namun, untuk pengunjung asing dari pasar jarak jauh, respon permintaan diharapkan lebih tidak terdengar karena perubahan ini kemungkinan tidak akan membuat TNBTS mendapat tempat dalam rencana perjalanan wisatawan dengan kunjungan yang lebih singkat ke Indonesia. Akibatnya, BTS akan tetap menjadi perhentian di sirkuit darat yang lebih panjang, meskipun perusahaan/ operator tur mungkin melihat manfaat dalam memperpanjang waktu yang dialokasikan ke tujuan dalam keseluruhan rencana perjalanan untuk memanfaatkan produk dan aktivitas yang baru ditawarkan. Untuk pasar pariwisata domestik, peningkatan akomodasi dan penawaran produk akan membantu mengubah lebih banyak perjalanan sehari menjadi kunjungan semalam, dan menginap 1 malam menjadi liburan multi-malam (misalnya perjalanan akhir pekan dari pusat kota utama Jawa seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta). Sejauh TNBTS gateway kota Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang juga berhasil berinvestasi dalam menjadikan tujuan domestik mandiri lebih menarik, TNBTS secara tidak langsung akan mendapatkan keuntungan dari jumlah pengunjung yang terus meningkat, yang kemungkinan besar akan melakukan setidaknya perjalanan sehari ke Taman Nasional karena statusnya "harus dilihat".
Destinasi tersebut memiliki potensi untuk mencapai 1,1 juta pengunjung pada tahun 2023 dan menghasilkan perkiraan pengeluaran tahunan sebesar USD 50,2 juta pada tahun 2023 (USD 80,5 juta pada tahun 2033 dan USD 105 juta pada tahun 2045) —1,5 kali lipat dari pengeluaran tahun 2018 (Gambar 2.9).
Gambar 2.9 Bromo-Tengger-Semeru: Proyeksi Pengunjung dan Perkiraan Belanja Tahunan Pengunjung, 2018-2045 (dalam ribu USD)
Sumber: ToR ITMP for Bromo-Tengger-Semeru, 2020
Dengan pempertimbangkan keanekaragaman hayati yang sensitif di daerah tersebut dan masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar Taman Nasional, penting untuk mengidentifikasi perencanaan khusus dan / atau instrumen manajemen yang diperlukan untuk pelestarian kawasan tersebut, serta memastikan tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi dan peluang untuk pembangunan berkelanjutan. Beberapa instrumen manajemen utama termasuk Rencana Pengelolaan Taman Nasional BTS, Rencana Pengelolaan Biosfer UNESCO, dan Pedoman ESMF P3TB edisi 8 Juni 2020. Dalam merumuskan RIDPN, Konsultan harus mempertimbangkan masalah yang sedang berlangsung termasuk potensi konflik sosial atas kepemilikan lahan dan pemanfaatan sumber daya alam, masalah pelestarian ekologis (perambahan hutan, hilangnya vegetasi, perlindungan flora dan fauna yang terancam punah, kebakaran hutan, dll.). Potensi bencana alam (letusan gunung berapi, tanah longsor dll.), pelestarian situs warisan budaya (misalnya kasus perusakan sebelumnya), dan masyarakat adat setempat (hak budaya, dll.). Konsultan harus mengidentifikasi dan mengkonfirmasi masalah-masalah utama dengan semua pemangku kepentingan sebagai bagian dari perumusan RIPT dan mengusulkan solusi untuk masalah- masalah yang diidentifikasi tersebut. Secara keseluruhan, RIPT adalah peluang strategis untuk memastikan bahwa semua instrumen perencanaan yang diperlukan tersedia di Bromo-Tengger-Semeru.
Selain itu, mekanisme koordinasi yang ditetapkan melalui Proyek akan memainkan peran besar dalam mengatasi masalah pelestarian yang diidentifikasi secara terpadu dan komprehensif.
Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah,
Rachman Arief Dienaputra NIP 196606271996031001
LAMPIRAN IV
SURAT EDARAN KEPALA BADAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR WILAYAH
NOMOR TENTANG
PEDOMAN UMUM PROGRAM
PEMBANGUNAN PARIWISATA
TERINTEGRASI DAN BERKELANJUTAN - P3TB
KERANGKA PROGRAM DAN INDIKATORKEBERHASILAN Gambar 3.1 Kerangka Komponen-1: Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan untuk Memfasilitasi Pembangunan Pariwisata
Terintegrasi dan Berkelanjutan
Gambar 3.2 Kerangka Komponen-2: Meningkatkan Kualitas Jalan dan Akses Pelayanan Dasar yang terkait dengan Pariwisata
Kegiatan Output Hasil Antara
Penguatan kelembagaan dan proses penyusunan RIDPN
Jumlah RIDPN yang diadopsi Peraturan Presiden atau peraturan yang setara untuk menunjukkan adopsi RIDPN
Penguatan kelembagaan yang telah ada (misalnya STO) dan pengaturan pemantauan pariwisata berkelanjutan untuk perlindungan kekayaan alam dan budaya
Jumlah laporan periodik STO atau laporan pemantauan yang setara yang telah dipublikasikan berdasarkan lingkup geografis dan indikator pariwisata berkelanjutan yang telah disepakati
Solusi yang disepakati dan dilaksanakan untuk
meningkatkan kinerja di area atau indikator yang dianggap kurang
Komponen Output Hasil Antara
Konstruksi, pelebaran, perbaikan, peningkatan/
pembangunan kembali, rehabilitasi, pemeliharaan jalan dan jembatan untuk mendukung pariwisata
Persentase jalan yang terpelihara sesuai standar nasional dengan target IRI kurang dari 6
Peningkatan kualitas akses ke destinasi wisata dan atraksi wisata yang ada
Investasi pada infrastruktur dan pelayanan dasar
Kelengkapan jaringan distribusi air bersih baru, unit pengolahan air limbah, WC umum, Tempat Penampungan Sampah sementara (TPS), dan unit pengolahan sampah
Peningkatan akses terhadap fasilitas dan pelayanan dasar
Jumlah orang atau rumah tangga (termasuk hotel dan restoran) yang memperoleh akses terhadap peningkatan kualitas air bersih, sanitasi, dan layanan persampahan yang berkelanjutan
Jumlah penambahan kamar hotel baru
Investasi pada sarana pelayanan
kepariwisataan seperti sarana bagi kendaraan tidak bermotor, taman, dan penghijauan
Pembangunan baru dan peningkatan sarana pelayanan kepariwisataan
Jalur khusus untuk kendaraan tidak bermotor
Gambar 3.3 Kerangka Komponen 3: Meningkatkan Partisipasi Lokal dalam Perekonomian Pariwisata
Gambar 3.4 Kerangka Komponen-4: Meningkatkan iklim usaha yang kondusif untuk investasi swasta ke sektor pariwisata
Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah,
Rachman Arief Dienaputra NIP 196606271996031001
Kegiatan Output Hasil Antara
Penyediaan pelatihan berbasis kompetensi yang berkualitas tinggi bagi SDM kepariwisataan, serta penguatan sistem
sertifikasi
Jumlah peserta pelatihan dan pekerja kepariwisataan yang menyelesaikan sertifikasi berbasis kompetensi
Peningkatan keterampilan SDM untuk berpartisipasi di pekerjaan sektor pariwisata
Penyediaan pelatihan untuk meningkatkan jumlah bisnis pariwisata yang menerapkan layanan online
Jumlah bisnis pariwisata yang menerapkan layanan online
Peningkatan akses pasar dan kualitas pelayanan dari usaha pariwisata
Penguatan keterlibatan masyarakat setempat, penyediaan pelatihan bagi masyarakat, dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengembangan pariwisata
Jumlah peserta pada program pelatihan/ peningkatan kesadaran pariwisata (Sadar Wisata)
Penyediaan pelatihan bagi bisnis pariwisata yang telah ada untuk meningkatkan kualitas dan standar pelayanannya
Jumlah bisnis pariwisata yang sudah ada (eksisting) dengan peningkatan pada peringkat kualitas dan pelayanan
Peningkatan kepuasan masyarakat terhadap program Sadar Wisata dan penguatan keterkaitan perekonomian lokal dengan pariwisata
Jumlah bisnis pariwisata yang meningkat rating kualitas pelayanannya
Kegiatan Output Hasil Antara
Menyiapkan rencana investasi swasta yang spesifik untuk setiap destinasi wisata
Penyelarasan dan pembaharuan rencana investasi swasta berdasarkan RIDPN
Peningkatan masuknya pebisnis dan komitmen investasi swasta di sektor pariwisata
LAMPIRAN V
SURAT EDARAN KEPALA BADAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR WILAYAH NOMOR
TENTANG PEDOMAN UMUM PROGRAM PEMBANGUNAN PARIWISATA TERINTEGRASI DAN BERKELANJUTAN - P3TB
MEKANISME MONITORING DAN EVALUASI Tabel 4.1 Indikator Keberhasilan
Indikator-Hasil
Nama Indikator Deskripsi Frekuensi Sumber data/
metodologi
Penanggung jawab pengumpulan
data
Peningkatan kinerja pada indikator pariwisata berkelanjutan
Perubahan akan diukur berdasarkan indeks gabungan dari indikator terpilih, yang akan ditentukan pada tahun pertama pelaksanaan proyek. Perubahan yang dilaporkan adalah persentase capaian dari target yang ditetapkan untuk setiap indikator, yaitu persentase dari perbedaan antara nilai dasar (baseline) dengan target akhir. Indikator pariwisata berkelanjutan akan berbeda untuk setiap daerah tujuan wisata, tergantung pada prioritas permasalahan. Untuk Danau Toba, beberapa masalah prioritas yang teridentifikasi meliputi: pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan, pengelolaan air, kualitas air, dan keanekaragaman produk pariwisata. Untuk Borobudur-Yogyakarta-Prambanan meliputi: pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan, konservasi/ warisan budaya, manajemen pengunjung, dan pariwisata yang inklusif. Untuk Lombok meliputi:
pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan, pengelolaan air, konservasi laut, dan keamanan. Contoh indikator dijelaskan pada dokumen UNWTO. 2004. Indicators
Tahunan
STOs atau lembaga yang setara/
Metode pengumpulan data yang beragam tergantung pada indikator pariwisata berkelanjutan (misalnya, survei,
pengumpulan data sekunder)
PMU/PIU pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui STOs atau lembaga yang setara
Indikator-Hasil
Nama Indikator Deskripsi Frekuensi Sumber data/
metodologi
Penanggung jawab pengumpulan
data of Sustainable Development for Tourism Destinations. A
Guidebook.
Jumlah penerima manfaat kegiatan peningkatan akses terhadap pelayanan dan infrastruktur dasar yang berkaitan dengan pariwisata
Termasuk masyarakat yang mendapat manfaat dari peningkatan kualitas jalan dan akses pelayanan dasar, jalur khusus kendaraan tidak bermotor, pasokan air, sanitasi, dan pengelolaan persampahan. Jumlah penerima manfaat peningkatan air bersih, sanitasi dan pengelolaan persampahan adalah jumlah orang yang menerima manfaat dari peningkatan ketiga layanan dasar ini dan diukur berdasarkan indikator Hasil Antara. Untuk jalan, jumlah penerima manfaat diperkirakan berdasarkan koridor sepanjang jalan yang ditingkatkan (dalam km) dan jumlah penduduk di sekitar jalan (dalam jarak 2 km dari jalan atau 20-25 menit berjalan kaki). Untuk jalur kendaraan tidak bermotor, perkiraan penerima manfaat didasarkan berdasarkan koridor sepanjang jalur yang diperbaiki (dalam km) dan jumlah penduduk di sekitar jalur (sekitar 0,5 km).
Untuk target antara dan akhir, menggunakan angka 3,9 untuk rata-rata jumlah orang per rumah tangga sesuai dengan ketentuan BPS.
Tahunan
Laporan pelaksanaan kegiatan infrastruktur yang dibangun oleh Pusat , provinsi, kabupaten/kot a
Dikumpulkan melalui SIM
CPMU melalui PMS
Indikator-Hasil
Nama Indikator Deskripsi Frekuensi Sumber data/
metodologi
Penanggung jawab pengumpulan
data
Peningkatan kepuasan
masyarakat terhadap upaya untuk
mendorong partisipasi masyarakat lokal dalam perekonomian pariwisata
Survei kepuasan masyarakat akan mencakup tiga jenis penerima manfaat dari Komponen-3, yaitu: (i) peserta program Sadar Wisata; (ii) perusahaan yang mengikuti pelatihan bisnis on-line; (iii) individu peserta program pelatihan dan sertifikasi keterampilan kepariwisataan.
Indikator ini akan mengukur peningkatan persentase kepuasan responden survei yang melaporkan 'puas' atau 'sangat puas' terhadap partisipasi mereka terhadap program yang mereka ikuti (termasuk tanggapan terhadap umpan balik yang mereka berikan). Dihitung sebagai skor rata-rata terbobot pada kuesioner yang mencakup 3 (tiga) kelompok sasaran kegiatan Komponen-3.
Baseline, mid-term, dan akhir
Community Satisfaction Survey/
Survei
PMU/PIU - Kementerian Pariwisata
Peningkatan Nilai investasi swasta di sektor pariwisata
Nilai investasi langsung asing dan domestik yang direalisasikan dalam sektor pariwisata di daerah tujuan pariwisata terpilih (target berupa jumlah kumulatif dari waktu ke waktu). Sektor-sektor bisnis pariwisata ( sesuai KBLIs) yang akan dimasukkan adalah: investasi hotel (5511, 5513, 5519, 5590); investasi non-hotel, termasuk restoran (5610, 5621, 5629, 5630); agen perjalanan/tur (7911, 7912, 7999); dan layanan pariwisata lainnya (9103, 9311, 9321, 9322, 9323, 9324, 9329, 6812). Lokasi-lokasi investasi yang dihitung untuk mengukur indikator ini adalah: Pulau Lombok; Borobudur-Yogyakarta-Prambanan (Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, Bantul, Magelang); Danau Toba (Toba, Simalungun, Samosir);
Labuan Bajo (Manggarai Barat); Bromo-Tengger-Semeru (Pasuruan, Malang, Probolinggo, Kota Pasuruan, Kota Malang); Wakatobi (Wakatobi). Perlu dicatat bahwa investasi
Tahunan
BKPM/BKPMD /
Dikumpulkan melalui SIM
PMU/PIU - BKPM melalui PMS
Indikator-Hasil
Nama Indikator Deskripsi Frekuensi Sumber data/
metodologi
Penanggung jawab pengumpulan
data swasta yang ditargetkan bergantung pada keberhasilan
semua komponen program, tidak dimaksudkan sebagai indikator bagi BKPM semata.
Tabel 4.2 Indikator Hasil Antara Per Komponen
Indikator Hasil Antara
Nama Indikator Deskripsi Frekuensi Sumber data-
metodologi
Penanggung jawab pengumpulan
data Komponen-1. Meningkatkan kapasitas kelembagaan untuk memfasilitasi pembangunan pariwisata terintegrasi dan berkelanjutan
Indikator 1.1: Jumlah laporan pemantauan periodik STO
(Sustainable Tourism Observatory, atau lembaga setara) yang dipublikasikan
Laporan tahunan yang diterbitkan mencakup dokumentasi dan analisis kemajuan indikator pariwisata berkelanjutan pada lingkup destinasi wisata prioritas yang disepakati.
Indikator pariwisata berkelanjutan akan berbeda untuk setiap daerah tujuan wisata, tergantung pada prioritas permasalahan. Untuk Danau Toba, beberapa masalah prioritas yang teridentifikasi meliputi: pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan, pengelolaan air, kualitas air, dan keanekaragaman produk pariwisata. Untuk Borobudur-Yogyakarta-Prambanan meliputi: pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan, konservasi/ warisan budaya, manajemen pengunjung, dan pariwisata yang inklusif. Untuk Lombok meliputi: pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan, pengelolaan air, konservasi laut, dan keamanan. Labuan Bajo: pengelolaan persampahan,
Tahunan
STOs, atau lembaga setara/
Dikumpulkan melalui SIM
PMU/PIU - Kementerian Pariwisata melalui PMS
Indikator Hasil Antara
Nama Indikator Deskripsi Frekuensi Sumber data-
metodologi
Penanggung jawab pengumpulan
data pengelolaan pengunjung / tekanan pada kawasan dan
sistem atau keramaian, dan konservasi laut. Untuk BTS:
pengelolaan air dan konservasi/ warisan/ peninggalan.
Untuk Wakatobi, meliputi: pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan, dan konservasi laut. Contoh indikator dijelaskan pada dokumen UNWTO. 2004. Indicators of Sustainable Development for Tourism Destinations. A Guidebook.
Indikator 1.2: Jumlah
RIDPN yang diadopsi Jumlah RIDPN yang diadopsi. Tahunan
Peraturan Presiden atau peraturan yang setara untuk
menunjukkan adopsi.
Peraturan Presiden atau peraturan yang setara dikaji oleh PMS dan dikumpulkan melalui SIM
PMU/PIU - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
(BPIW) melalui PMS
Indikator Hasil Antara
Nama Indikator Deskripsi Frekuensi Sumber data-
metodologi
Penanggung jawab pengumpulan
data Komponen-2. Meningkatkan kualitas jalan dan akses pelayanan dasar yang terkait dengan pariwisata
Indikator 2.1
Persentase jalan yang terkait dengan
pariwisata yang terpelihara dalam kondisi mantap dengan IRI < 6
Persentase jalan (untuk mendukung pariwisata) yang memenuhi kondisi mantap sesuai dengan standar nasional dan target IRI <6. Jalan-jalan tersebut mencakup jalan-jalan yang dipilih pada kawasan wisata prioritas dan mempunyai fungsi penting terhadap pembangunan pariwisata. Untuk 6 destinasi wisata prioritas, total jalan terpilih sekitar 894 km, terdiri dari jalan nasional (415 km), jalan provinsi (323 km) dan jalan kabupaten (156 km).
Tahunan
Laporan kegiatan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen Bina Marga), pemerintah provinsi dan kabupaten/
kota/
Dikumpulkan melalui SIM
PMU/PIU - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen Bina
Marga) melalui PMS
Indikator 2.2 Lajur khusus baru untuk lalu lintas tidak bermotor
Infrastruktur khusus untuk lalu lintas tidak bermotor termasuk trotoar, zona pejalan kaki, jalur sepeda dan becak, jalur pendakian dan bersepeda serta boulevards pejalan kaki, dengan target panjang 225 km dan lebar 2 m (total luas 450.000 m2) di destinasi wisata terpilih. Standar kualitas/ lebar trotoar minimal yang digunakan untuk pariwisata adalah 2 m (kecuali untuk jalur pendakian dan bersepeda dengan lebar yang kadang-kadang bisa kurang dari 2m). Catatan: standar lebar trotoar di Indonesia adalah 1,5 m di sepanjang jalan utama.
Tahunan
Laporan kegiatan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen Cipta Karya), pemerintah provinsi, atau kabupaten/ko ta/
PMU/PIU - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen Cipta
Karya) melalui PMS
Indikator Hasil Antara
Nama Indikator Deskripsi Frekuensi Sumber data-
metodologi
Penanggung jawab pengumpulan
data Dikumpulkan
melalui SIM
Indikator 2.3 Masyarakat dengan akses terhadap sumber air minum layak (improved water sources)
Tersedianya akses ke layanan penyediaan air minum yaitu jumlah rumah tangga baru yang memperoleh akses terhadap sumber air minum layak di kawasan inti pariwisata.
Perhitungan jumlah penduduk terlayani menggunakan angka 3,9 untuk rata-rata jumlah anggota per rumah tangga sesuai dengan ketentuan BPS.
Tahunan
Laporan kegiatan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen Cipta Karya), pemerintah provinsi, atau kabupaten/ko ta/
Dikumpulkan melalui SIM
PMU/PIU - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen Cipta
Karya) melalui PMS
Indikator 2.4 Masyarakat dengan akses terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan
Tersedianya akses ke layanan pengelolaan persampahan berkelanjutan di kawasan inti pariwisata (dan tambahan 25 kecamatan di sekitar Danau Toba). Indikator ini mengukur dampak tambahan yaitu jumlah rumah tangga baru yang memperoleh akses terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan. Indikasi keberlanjutan sesuai dengan standar pelayanan nasional (SPM Permen PU 01 / PRT / M / 2014). Akses ke layanan pengumpulan persampahan berkelanjutan didefinisikan sebagai ketersediaan layanan pengumpulan sampah rumah tangga minimal dua kali seminggu dan pengangkutan sampah ke TPA atau unit
Tahunan
Laporan kegiatan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen Cipta Karya), pemerintah provinsi, atau
PMU/PIU - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen Cipta
Karya) melalui PMS
Indikator Hasil Antara
Nama Indikator Deskripsi Frekuensi Sumber data-
metodologi
Penanggung jawab pengumpulan
data pengolahan sampah. Identifikasi Kawasan Inti Pariwisata
terdapat di Tabel I.2. Perhitungan jumlah penduduk terlayani menggunakan angka 3,9 untuk rata-rata jumlah anggota per rumah tangga sesuai dengan ketentuan BPS.
kabupaten/ko ta/
Dikumpulkan melalui SIM
Indikator 2.5 Masyarakat dengan akses terhadap layanan sanitasi yang lebih baik (improved sanitation)
Tersedianya akses ke layanan sanitasi yaitu jumlah rumah tangga baru yang memperoleh akses terhadap layanan sanitasi yang lebih baik di kawasan inti pariwisata (dan tambahan 25 kecamatan di sekitar Danau Toba).
Perhitungan jumlah penduduk terlayani menggunakan angka 3,9 untuk rata-rata jumlah anggota per rumah tangga sesuai dengan ketentuan BPS.
Tahunan
Laporan kegiatan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen Cipta Karya), pemerintah provinsi, atau kabupaten/ko ta/
Dikumpulkan melalui SIM
PMU/PIU - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen Cipta
Karya) melalui PMS
Indikator 2.6
Penambahan kamar hotel baru
Termasuk penambahan kamar hotel melalui pembangunan
hotel baru dan perluasan hotel yang sudah ada. Tahunan
BPS
Hasil survey dikumpulkan melalui SIM
CPMU melalui PMS