• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Manfaat Penelitian

2. Budaya Organisasi 4.0

a. Pengertian Budaya Organisasi 4.0

Era revolusi industi 4.0 telah mengubah budaya kerja karyawan dalam perusahanaan. Karyawan bekerja tidak lagi menggunakan paper based, tetapi sudah beralih ke digital based. Sehingga karyawan harus bisa bekerjasama dan inisiatif sendiri untuk memajukan perusahaan atau suatu instansi organisasi.

Dalam dunia industri, penggabungan teknologi digital dengan teknologi otomatis merupakan revolusi industry 4.0. Indonesia dalam hal ini sebagai Negara yang masih berkembang, sedang berada dalam transisi memasuki era revolusi industry 4.0 tersebut. Pada era revolusi digital ini ditandai dengan kaburnya batasan-batasan ruang fisik, yang mengharuskan berada dalam aspek-aspek kehidupan nyata. Artinya pada volume ke-empat (read: revolusi industry 4.0) terjadi reduksi aktivitas fisik yang mengharuskan berada dalam lokasi geografs yang sama, karena terjadinya digitalisasi massal.

Pacanowsky dan Trujilo menerapkan prinsip jarring laba-laba pada organisasi. Manajer dan karyawan memiliki peranan penting dalam suatu organisasi. Untuk itu, sangat krusial untuk mempelajari perilaku

yang sehubungan dengan perilaku mereka dalam organisasi Pengembangan organisasi menurut Udai (2005) adalah suatu usaha yang direncanakan dengan tujuan membantu suatu organisasi mengembangkan keterampilan diagnostic, kemampuan penguasaan, strategi relasi dalam membentuk sIstem yang sementara atau setengah tetap dan persamaan budaya.

Disamping itu budaya organisasi berjalan beriringan dengan revolusi industri, semakin maju perubahan industri, maka budaya industri semakin terbarui. Merujuk pada Revolusi Industri 4.0, terdapat pengertian dari revolusi dan industrinya itu sendiri. Menurut (KBBI), kata revolusi sendiri memiliki arti perubahan yang begitu cepat, sedangkan industri makna sebagai pelaksanaan proses produksi.

Menurut kagerman dkk (2013), mengartikan industry 4.0 dengan lenih teknis yaitu sebagai proses industri yang meliputi logistic serta manufaktur, dan proses lainnya yang diintregasikan dari Cyber Physical System (CPS) dan Internet of Things ang Service (lot dan los).

Selaian itu CPS sendiri adalah suatu teknologi yang dapat menyatukan antara pemrosesan dunia maya dengan dunia nyata sehingga dapat mewujudkan integrasi antara proses komputisi dan fisik.

Budaya organisasi pada revolusi industri 4.0 memiliki perbedaan dengan perkembangan sebelumnya, salah satunya dalam kedisiplinan kerja. Menurut Siagian (2009) disiolin kerja merupakan salah satu upaya untuk mebentuk dan memperbaiki pengetahuan, perilaku, serta sikap karyawan. Dengan begitu para karyawan atau

pegawai akan sukarela bekerja secara kooperatif dan menignkatkan prestasi kerjanya.

Namun dengan berkembanganya revolusi industry 4.0 masi ada unsur budaya kerja yang harus dipertahankan yaitu pertama sikap terhadap pekerjaan, seperti menyukai pekerjaan kita sehingga tidak merasa terpaksa melakukan sesuatu pekerjaan dan yang kedua perilaku pada waktu bekerja, yakni kejujuran dalam bekerja selalu diutamakan, mampu bekerja sama dengan tim, berhati-hati dan bertanggung jawab.

Ali Ghufron mukti menyebutkan bahwa untuk brtahan pada era revolusi industry 4.0, setiap organisasi perlu menerapkan 4C, yaitu critical thinking, creativity, communiation, dan collaboration (Ditjel Sumber Daya Iptek Dikti, 2018). Pada era digital itulah makin terasa dibutuhkan levelinovasi dan kreativitas yang lebih tinggi dari setiap anggota organisasi.

b. Kunci Mencapai Kinerja Budaya Organisasi di era 4.0

Kinerja organisasi juga diperoleh dari dimensi kinerja pegawai (individu) dan tim dalammencapai tujuan organisasi. Dimensi dalam hal ini memiliki pengaruh yang kuat terhadap objek yang akan diteliti. Pada era reovolusi industry 4.0 ini, perkembangan teknologi juga akan memberikan gambaran positif atau nilai tambahan dari berbagai faktor.

Adapun penjelasan terkait kunci mencapai kinerja organisasi yang baik pada suatu instasnti atau perusahaan di era revolusi industri 4.0 adalah terhadap berbagai faktor tersebut adalah sebagai berikut:

1. Faktor sumber daya manusia

Pada era revolusi industri 4.0 saat ini, organisasi harus mampu untuk meningkatkan apaian kinerja perusahaan atau organisasi dengan adanya peningkatan atau pengemabangan pada sektor sumber daya manusia dengan cara memberikan pelatihan terkait penggunaan teknologi dan organisasi harus mampu merekrut karyawan baru yang lebih kompeten tentang teknologi.

Permasalahannya adalah jumlah karyawan yang berkompeten dibidangnya danmenguasai teknologi tidak banyak, sehingga hal inilah yang harus dapat diperhatikan suatu organisasi atau instansi perusahaan jika inigin melakukan lompatan besar di era industry 4.0 karena manajemen kinerja yang kurang optimal dapat disebabkan oleh faktor sumber daya manusia yang kurang berkualitas, seperti misalnya tingkat pendidikan, keterampilan atau kompetensi yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi.

2. Lingkungan kerja

Faktor lingkungan kerja yang mendukung, seperti dalam ketersediaan sarana dan prasarana yang layak seperti computer yang berfungsi dengan baik dan internet yang cepat, bisa menjadi factor pendukung keberhasilan penerapan manajemen kinerja organisasi di era revolusi industri 4.0 sehingga kinerja organisasi dapat tercapai sesuai dengan targetnya. Penyediaan akan sarana dan prasaran yang mendukung tersebarnya jaringan internet ini terkadang menemui kendala. Hal ini dikarenakan lokasi wilayah

kerja perusahaan atau instansi organisasi berada jauh dari perkotaan.

3. Keperayaan dan motivasi individu

Kepercayaan menumbuhkan kejujuran, kebijakan dan kompetensi, bahwa dalam membangun kinerja organisasi, diperlukan kepercayaan dari pegawai, sehingga menjadi suatu kesatuan motivasi yang menumbuhkan atau membuat kinerja individu menjadi kinerja organisasi. Kepercayaan dan motivasi individu ini merupakan bentuk kepekaan dan kesadaran individu terhadap kinerja organisasinya.

4. Kepemimpinan dan transformasional budaya organisasi

Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang memotivasi karyawan untuk melakukan pekerjaan atau tugasnya dengan lebih baik dari apa yang bawahan inginkan dan bahkan lebih tinggi dari apa yang sudah diperkirakan sebelumnya.

Kepemimpinan transformasional menciptakan rasa nyaman dalam bekerja, dan tentu saja akan berakibat baik kepada kinerja pegawai dari organisasi. Kepemimpinan transformasional mempunyai pengaruh terhadap kinerja organisasi artinya semakin baik kepemimpinan transformasional dijalankan maka akan semakin meningkatkan kinerja organisasi.

c. Pengembangan Nilai Teknologi Digital

Dalam semua organisasi atau perusahaan tidak memiliki keberhasilan yang dalam mencapai penggunaan teknologi digital yang yang lebih mendalam. Pekerjaan sebelumny mengungkapkan bahwa

TIK saja tidak menciptakan nilai, itu perlu menjadi bagian dari proses pencitaan nilai bisnis dan harus diselaraskan dengan factor-faktor organisasi secara sinergis (Leisching et al. 2016).

3. Kinerja Pegawai

Dokumen terkait