B. Kajian Teori
2. Budaya Religius
i) Qowamiyah yaitu sikap tidak menghambur-hamburkan segala sesuatu atau boros.
anggotanya mewariskan perilaku tersebut kepada anggota baru. Dalam lembaga pendidikan, perilaku ini antara lain berupa semangat untuk selalu giat belajar, selalu menjaga kebersihan, bertutur sopan santun, menghargai pendapat teman dan berbagai perilaku mulia lainnya.45
Dari beberapa pengertian budaya diatas dapat diartikan sebagai sesuatu bentuk kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus yang didasarkan sistem nilai, aturan, kebijakan, atau keyakinan yang direalisasikan dalam suatu lingkungan masyarakat, bangsa dan negara.Budaya inilah yang nantinya dapat membedakan dan menjadi ciri khas tersendiri dari berbagai lingkungan masyarakat, bangsa, negara maupun lingkungan sekolah.
Sedangkan Reigius adalah nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan. Ia menunjukkan bahwa pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dan atau ajaran agamannya.46
Religius bisa diartikan dengan kata agama atau bersifat religi. Agama menurut James George Frazer seorang antropolog modern tentang mitologi dan agama perbandingan, seperti dikutib Nuruddin mengatakan bahwa agama merupakan sistem kepercayaan yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan tingkat kognisi seseorang.47
Menurut Nurcholish Madjid, agama bukan hanya kepercayaan kepada
45 Laili Fatmawati, Implementasi Budaya Religius dalam Pembinaan Mental Mahasiswi D-Iii Kebidanan di Akademi Kebidanan Sakinah Pasuruan, (Skripsi: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018), 23.
46 Muhammad Mustarari, Nilai Karakter Refleksi untuk Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Persada, 2014), 1.
47 Nuruddin, dkk, Agama Tradisional : Potret Kearifan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger,(Yogyakarta: LkiS, 2003), 126.
yang ghaib dan melaksanakan ritual-ritual tertentu. Agama adalah keseluruhan tingkah laku manusia yang terpujui, yang dilakukan demi memperoleh ridho Allah. Agama, dengan kata lain, meliputi seluruh tingkah laku manusia dalam hidup ini, yang tingkah laku itu membentuk keutuhan manusia berbudi luhur (ber-akhlaq karimah), atas dasar percaya atau iman kepada Allah dan tanggung jawab pribadi di hari kemudian.48
Sehingga dapat ditarik kesimpulan budaya religius merupakan cara berpikir dan cara bertindak masyarakat yang didasarkan atas nilai-nilai religius (keberagamaan). Budaya religius adalah suatu hal yang tercipta memalui pembiasaaan nilai-nilai keagamaan yang sudah ada dan sukar dihilangkan.
a. Landasan Pembentukan Budaya Religius 1) Landasan Religius
Landasan religius dalam uraian ini adalah landasan atau dasar-dasar yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul (Hadits). Penciptaan budaya religius yang dilakukan di sekolah/madrasah semata-mata karena merupakan pengembangan dari potensi manusia yang ada sejak lahir atau fitrah. Ajaran Islam yang diturunkan Allah melalui rasul-Nya merupakan agama agama yang memperhatikan fitrah manusia, maka dari itu pendidikan Islam juga harus sesuai degan fitrah manusia dan
48 Roibin, relasi Agama & Budaya Masyarakat Kontemporer, (Malang: UIN Maliki Press, 2009), 75.
bertugas mengembangkan fitrah tersebut.49
Kata fitrah telah diisyaratkan dalam firman Allah SWT:
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah
menciptakan manusia menurut fitrah itu.tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”(QS. Ar-Rumm (30): 30)50
Demikian pula sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, yang berbunyi:
Artinya: “Maka Tidaklah anak yang dilahirkan itu kecuali membawa fitrah (kecenderungan untuk percaya kepada Allah), maka kedua orang tuannyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani, Majusi.”(HR.
Muslim)51
Dari ayat dan hadits tersebut jelaslah bahwa pada dasarnya anak itu telah membawa fitrah beragama, dan kemudian bergantung pada para pendidikanya dalam mengembangkan fitrah itu sendiri sesuai dengan usia anak dalam pertumbuhannya.
Dengan demikian, fitrah manusia ataupun peserta didik dapat
49 Asmaun Sahlan,Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah, (Malang: UIN Maliki Press, 2017) ,76-77.
50 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an & Tafsirnya Jilid VII, (Jakarta: Widya Cahaya, 2011), 495.
51 Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 171.
dikembangkan melalui proses bimbingan, pendidikan, pembiasaan, dan pemberian teladan melalui budaya religius yang diciptakan dan dikembangkan di sekolah/madrasah.
2) Landasan Konstitusional
Landasan konstitusinya adalah UUD 1945 pasal 29 ayat 1 yang berbunyi
“Negara menjamin kemerdekaan atas Ketuhanan Yang Maha Esa” dan ayat 2 yang berbunyi “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.52
Penciptaan budaya religius tercantum pada pancasila yaitu sila pertama, yakni “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Selain itu penciptaan budaya religius senyatanyamasuk pada landasan eksistensi Pendidikan Agama Islam salam kurikulim sekolah/madrasah, yaitu Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 Bab V pasal 12 ayat 1 point a, bahwa:
“setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yag dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.”53 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional pasal 3 yang berbunyi:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradabanbangsa yang bermartabat dalam rangka menverdaskan kehidupan
52 Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 171.
53 Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, keatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”54
b. Budaya Religius di Sekolah
Wujud budaya religius adalah terdapat beberapa bentuk kegiatan yang setiap hari dijalankan oleh peserta didik diantaranya:55
1) Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun (5S)
Dalam Islam sangat dianjurkan sapaan pada orang lain dengan mngucapkan salam. Ucapan salam disamping sebagai doa bagi orang lain juga sebagai bentuk persaudaraan antar sesama manusia. Secara sosiologis sapaan dan salam dapat meningkatkan interaksi antar sesama, dan berdampak pada rasa dihormati. Senyum, salam, sapa, sopan dan santun dalam prspektif budaya menunjukkan bahwa komunitas mansyarakat memiliki kedamaan, saling tenggang rasa, toleran, dan rasa hormat.
2) Saling Hormat dan toleran
Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbineka dengan ragam agama, suku, dan bahasa mendambakan persatuan dan kesatuan bangsa, sebab itu melalui Pancasila sebagai falsafah bangsa menjadikan tema persatuan sebagai salah satu sila dari Pancasila, untuk mewujudkan hasil tersebut maka kata kuncinya
54 Ibid, Undang-undang Republik Indonesia
55 Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah, (Malang: UIN Maliki Press,
2017) ,117-121.
adalah toleran dan rasa hormat sesama anak bangsa.
Sejalan dengan budaya hormat dan toleran, dalam Islam terdapat konsep ukhwah dan tawadlu’. Konsep ukhwah (persaudaraan) memiliki landasan normatif yang kuat,banyak ayat Al-Qur’an berbicara tengtang hal ini.
Konsep tawadlu’ secara bahasa adalah dapat menepatkan diri, artinya seseorang harus dapat bersikap dan berperilaku sebaik-baiknya (rendah hati, hormat, sopan, dan tidak sombong) 3) Sholat Berjamaah
Melakukan ibadah dengan mengambil wudlu dilanjutkan dengan sholat Dhuha dengan membaca Al-Qur’an, memiliki implikasi pada spriritualitas dan mentalitas bagi seseorang yang akan dan sedang belajar. Dalam Islam seseorang yang akan menuntut ilmu dianjurkan untuk melakukan pensucian diri baik secara fisik maupun ruhani.
4) Ngaji Al-Qur’an
Ngaji Al-Qur’an atau kegiatan membaca dan memahami Al-Qur’an merupakan bentuk peribadatan yang diyakini dapat mendekatakan diri kepada Allah SWT serta dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan yang berimplikasi pada sikap dan perilaku positif, dapat mengontrol diri, dapat tenang, lisan terjaga, dan istiqomah dalam beribadah.
Ngaji Al-Qur’an disamping sebagai wujud peribadatan,
meningkatkan keimanan dan kecintaan pada Al-Qur’an juga dapat menumbuhkan sikap positif di atas, sebab itu melalui tadarus Al-Qur’an siswa-siswi dapat tumbuh sikap-sikap luhur sehingga dapat berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar dan juga dapat membentengi diri dari budaya negatif.
5) Jum’at amal
Jum’at amal merupakan kegiatan sedekah yang dilaksanakan setiap hari jum’at. Sedekah merupakan pengamalan atau menginfakan harta di jalan Allah SWT dengan ikhlas tanpa mengharap imbalah, dan semata-mata mengharap ridha-Nya sebagai bukti penerapan iman seseorang. Bersedekah merupakan tindakan yang mulia yang masuk dalam salah satu sunnah nabi yang sangat dianjurkan bagi umat Islam.
43 BAB III
METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini mengacu pada rumusan masalah diatas sehingga penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial datau fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, motivasi, persepsi, tindakan dan lain-lain.56 Fenomena yang dimaksud dalam penelitian ini dapat dipahami secara mendalam tentang membentuk karakter religius siswa melalui budaya religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo. Alasan penulis menggunakan pendekatan ini dikarenakan penelitian kualitatif bertujuan untuk memberikan data secara mendalam dari informan yang dapat dilihat dalam bentuk tertulis atau lisan.
Jenis penelitian dalam penelitian ini menggunakan studi kasus. Penelitian studi kasus merupakan penelitian yang komprehensif meliputi aspek fisik dan psikologis individu/seseorang, bertujuan penelitian ini adalah untuk melihat masalah penelitian yang terkait dengan fenomena dan latar di mana hal itu terjadi secara mendalam.57