B. Kajian Teori
1. Karakter Religius
a. Pengertian Karakter Religius
Karakter religius, terdiri dari dua istilah, yaitu karakter dan religius.Kedua istilah ini sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang dari agama yang dianutnya. Religius adalah bagian dari karakter, sebab terdapat 18 karakter yang diantaranya karakter religius.Berikut adalah pengertian diantara kedua istilah tersebut.
Secara etimologi, Istilah karakter, dalam bahasan Yunani berarti
“charessei” berarti to engrove (mengukir).Karakter diibaratkan mengukir batu permata atau benda-benda keras. Selanjutnya berkembang pengertian karakter sebagai arti tanda khusus atau pola perilaku. Doni Koesoema selaku Founder Pendidikan Karakter Education Consulting menyebutkan karakter sebagai sebuah keribadian yang dimiliki indivudu sejak lahir.19 Sedangkan menurut Nurcholish madjid, karakter berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan normal.Orang yang berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral tertentu.20
Dalam kamus Poerwadarminta sebagaimana dikutib oleh Nurudin Karim, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, akhlak, sifat-sifat rohani atau budi pekerti yang dapat membedakan dengan orang lain.
Sementara pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik, sehingga mereka memiliki nilai dan karakter dalam dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupanya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang relegius, nasionalis, prosuktif dan nasionalis.21
Sedangkan menurut Thomas Lichona dalam bukunya Education for Charakter secara terminologis mengartikan bahwasanya karakter merupakan watak batin yang dapat digunakan untuk menanggapi
19 Doni Koesoema, Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (Jakarta: Grasindo, 2007), 80.
20 Kosim, M. (2011).Urgensi pendidikan karakter. KARSA: Journal of Social and Islamic Culture, 84-92.
21Nurudin Karim, Pendidikan Karakter. Shautut Tarbiyah, Vol. 16 No. 1, 2010, 71
situasi apapun dengan cara yang baik sesuai dengan nilai moral yang berlaku. Karakter terdiri dari nilai operatif, dan nilai dalam tindakan.22
Sehingga dapat kita artikan pendidikan karakter adalah proses mengukir atau memahat barang keras dengan sedemikian rupa, sehingga dapat terbentuk bentuk yang unik, tanda khusus yang membedakan dengan yang lain. Ibarat angka yang tak akan pernah sama dengan satu sama lain, begitupun orang yang berkarakter dapat berbeda satu sama dengan yang lain (termasuk karakter baik dan karakter tercela) dan mampu manggapi sesuatu apapun dengan cara yang baik sesuai dengan nilai moral yang berlaku.
Terkait makna pendidikan karakter Raharjo,memaknai pendidikan karakter sebagai sebagai proses pendidikan yang holistik yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dikehidupan peserta didik sebagai sebuah pondasi untuk membentuk generasi yang berkualitas.23 Sedangkan menurut Thomas Lichona sebagaimana dikutib oleh Agus Wibowo, bahwa pendidikan karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkuan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Seorang individu yang mampu membuat sebuah keputusan dan siap bertanggungjawab setiap akibat dari keputusan yang diambil adalah termasuk individu yang yang berkarakter
22 Thomas Lichona, Education For Character: How Our School Can Teach Respect And Responsbillty,Penerjemah Juma Abdul Wamoungo, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), 81.
23 Raharjo, “Pendidikan karakter sebagai upaya menciptakan akhlak mulia”.Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, (Jakarta: Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional, Vol. 16 No.
3, Mei 2010), 233.
baik.Sementara, pendidikan karakter adalah budi pekerti plus, yaitu melibatkan aspek pengetahuan (cognitive).Perasaan (feeling), dan tindakan (action).24 Tanpa ketiga aspek ini, maka selayaknya pendidikan karakter tidak akan efektif. Lanjut Agus Wibowo, dengan pendidikan karakter yang ditetapkan secara sistematis, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini menjadi bekal penting dalam mempersiapkan anak dalam menghadapi perkembangan zaman dengan segala tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Sofyan Tsauri mengartikan pendidikan karakter sebagai sebuah usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai etika, baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga masyarakat atau warga negara secara keseluruhan.25
Pendidikan karakter yang kemudian disebut dalam karakter islami lebih akrab disapa dengan akhlak, kepribadian atau watak yang dapat dilihat dari perbuatannya baik dalam bersikap, bertutur kata yang kesemuannya melekat dalam diri seseorang. Menurut Agus Wibowo, mengutip beberapa pemikir muslim yang gencar menyuarakan akan pentingnya pendidikan karakter, diantaranya: Ibnu Miskawaih dalam bukunya yang berjudul Tahdzid al-Akhlaq mengemukakan pentingnya akhlak yang tertanam dalam diri manusia, dan mengimplementasikan
24 Agus wibowo, Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2017), 33.
25 Sofyan Tsauri, Pendidikan Karakter, Peluang dalam Membangun Karakter Bangsa, (Jember: IAIN Jember Press, 2015), 43-44.
dalam segala tindakannya secara langsung. Akhlak, lanjut menurut Ibnu Miskawaih merupakan “keadaan jiwa yang menyebabkan seseorang bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu”.Beliau menyebutkan ada dua sifat dalam diri manusia, yaitu sifat jiwa pengecut dan sifat jiwa cerdas bisa juga bermakna sifat baik dan buruk. Menurut Ibn Qoyyim, akhlak adalah perangai atau tabi’at yaitu ibarat dari suatu sifat batin dan perangai jiwa yang dimiliki oleh semua manusia. Sedangkan menurut al-Ghazali, akhlak adalah sifat atau bentuk keadaan yang tertanam dalam jiwa, yang dari padanya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa perlu dipikirkan dan dipertimbangkan terlebih dulu.26
Adapun pendidikan karakter secara ringkas berdasarkan definisi sebagaimana diuraikan oleh para tokoh diatas adalah pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur kepada peserta didik, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, dan berbangsan dan berbegara. Nilai-nilai moral yang ditanamkan memang sangat diperlukan diera sekarang ini, untuk membina dan membekali manusia agar dapat membedakan baik dan buruk serta perbedaan diantara mereka dengan makhluk-makhluk yang lain.
Sedangkan dimensi religius merupakan nilai karakter yang berhubungan langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa. Karakter ini beraitan dengan cara berpikir, perkataan dan tindakan seseorang
26 Ibid, Agus wibowo, Pendidikan Karakter, 32.
dalam kehidupannya senantiasa diupayakan untuk tidak lepas dan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan ajaran agama yang dianutnya.
Agama bukanlah sesuatu tunggal melainkan terdiri dari dua aspak.
Dalam psikologi agama, agama terdiri dari dua aspek yang disebut aspek kesadaran beragama (religious consiousness) yang merupakan sebuah keyakinan akan sebuah ajaran agama yang timbul dalam diri seseorang ang dilakukan dalam diri seseorang dan aspek pengalaman beragama (religious experiences) yang merupakan perilaku beragamaan seseorang yang dilakukan dalam kehidupan sosialnya.27
Karakter religius menduduki urutan pertama dalam 18 karakter yang menjadi tujuan berdasarkan rumusan Kementerian Pendidikan Nasional. Nilai religius adalah ketaatan seseorang dalam memahami dan melaksanakan perintak ajaran agama yang telah dianut, termasuk bagaimana seseorang dapat hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dan bertoleransi terhadap pelaksanaan ibadah dari agama atau kepercayaan yang lain dalam kehidupan sosialnya.28
Religi berasal dari bahasa asing yaitu religion yang berarti agama atau kepercayaan akan adanya sesuatu kekuatan kodrati di atas manusia. Sedangkan religius berasal dari kata religious yang merupakan sifat religi pada diri seseorang. Kata religius biasa diartikan agama.Sedangkan menurut Frezer, agama adaah sistem
27 Sitin Nur Khasanah dan Zainal Arifin, Kepemimpinan Siswi dalam Penerapan Nilai- Nilai Religiusitas di Madrasah Mu’alimmat Muhammadiyah Yogyakarta, (Manageria: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Volume 2, Nomor 1, Mei 2017), 10.
28 Kementerian Pendidikan Nasional dalam Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter:
Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan, (Jakarta: Prenadamedia Gruop, 2011), 74.
kepercayaan yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan tingkat kognitif seseorang.29 Maka, dapat dipahami bahwa agama yang menjadi tiang hidup manusia untuk menuju perubahan sesuai dengan tingkat pemahaman mereka, khususnya dalam perubahan dan perkembangan kebaikan.
Karakter religius merupakan karakter yang selalu menyandarkan kehidupan manusia kepada agama. Agama dijadikan panutan dalam setiap tutur kata, sikap, maupun perbuatannya dengan menjalankan segala peritah-Nya dan menjauhui segala larangan-Nya.30 Ajaran agama Islam mengajarkan bahwa segala aspek kehidupan harus berlandaskan dengan ajaran Islam.
Dari beberapa uraian tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa karakter religius merupakan sifat-sifat yang alamiah, sifat kejiwaan yang diwujudkan dalam perilaku atau perbuatan reflek tanpa berpikir, akhlak yang digunakan dalam menanggapi suatu sutuasi dalam kehidupan nyata sehari-harinya mampu untuk bekerja sama dan menciptakan hubungan yang harmonis dengan Tuhan Yang Maha Esa, antar sesama manusia, lingkuan bahkan dengan diri sendiri.
Akhlak mempunyai kedudukan yang penting dan dapat dianggap mempunyai fungsi yang vital dalam memandu kehidupan masyarakat.
Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an surat An-Nahl
29 Chusnul Chotimah dan M. Fathurrohman, Komplemen Manajemen Pendidikan Islam:
Konsep Intregratif Manajemen Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Teras, 2014), 338.
30 Alivermana Wiguna, Isu-isu Kontemporer Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Deepublish, 2014), 161.
ayat 90 sebagai berikut:
Artinya:”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Hahl (16) : 90)31
Pembentukan karakter dapat dimulai sejak dini, sehingga mudah terbentuk. Sebenarnya pembentukan bukan hanya tugas guru tetapi orang tua pun sangat berperan. Pembentukan karakter memerlukan pembiasaan. Artinya sejak dini anak mulai dibiasakan mengenal mana perilaku atau tindakan yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan mana yang tidak sehingga diharapkan pada gilirannya menjadi sebuah kebiaasaan. Perlahan-lahan sikap/nilai-nilai luhur yang ditanamkan tersebut akan terinternalisasikan ke dalam dirinya dan terbentuk kesadaran sikap dan tindakan sampai usia dewasa.32 b. Tujuan Pembentukan Karakter Religius
Pembantukankan karakter bertujuan membentuk dan membangun pola pikir, sikap dan perilaku peserta didik agar menjadi pribadi yang positif, berakhlakul karimah, berjiwa luhur, dan bertanggung jawab.
31 Prof.Dr. Wahbah Zuhaili, Ensiklopedia Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2007), 278.
32 Amri, dkk,Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran, (Jakarta: PT Pustakarya, 2011), 42.
Dalam konteks pendidikan, pembentukan karakter adalah membantu siswa-siswa mengalami, memperoleh, dan memiliki karakter kuat yang diinginkan.33 Jadi pembentukan karakter bukan berhenti pada tahap kognitif saja melainkan harus menyeluruh hinga menyentuh pengalaman nyata dan terimplementasi dalam sikap yang ditunjukan dalam kehidupan sehari-hari seorang individu.
Sedangkan menurut ajaran Islam, Rasulullah Muhammad Saw, Sang Nabi terakhir dalam ajaran Islam, juga menegaskan bahwa misi utamanya dalam pendidikan manusia adalah untuk mengupayakan pembentukan karakter yang baik (good character). Berikutnya, ribuan tahun setelah itu, rumusan tujuan utama pendidikan tetap pada wilayah serupan, yakni pembentukan kepribadian manusia yang baik.34
Menurut Kemendiknas sebagaimana yang dikutib Agus Zainal Fikri, tujuan pendidikan karakter antara lain:
1) Mengembangkan potensi kalbi/naruni/efektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki budaya- budaya dan karakter bangsa.
2) Mengembangkan pembiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan trandisi budaya bangsa yang religius.
33 Agus Zaenul Fitri, Reinventing Human Charakter : Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), 22.
34 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Prespektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017), 30.
3) Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tangung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.
4) Mengmbangkan kemampuan peserta didik untuk menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan.
5) Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh dengan kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.
c. Landasan Pembentukan Karakter 1) Landasan Religius
Manusia memiliki dua potensi dalam dirinya, yakni baik dan buruk. Di dalam Al-Qur’an surah As-Syams (91): 8 dijelaskan dengan istilah Fujur (celaka/fasik) dan takwa (takut kepada Tuhan). Manusia mempunyai dua kemungkinan jalan, yaitu menjadi makhluk yang beriman atau ingkar terhadap Tuhannya.
Sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut:
Artinya: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (As-Syams (91 : 8)35
Berdasarkan ayat diatas manusia mempunyai dua potensi untuk menjadikan dirinya hamba yang baik (positif) atau buruk (negatif), menjalankan perintah Tuhanya, atau melanggar
35 Prof.Dr. Wahbah Zuhaili, Ensiklopedia Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2007), 596.
larangan-Nya, menjadi orang yang beriman atau kafir, mukmin atau musyrik.
Dalam firman Allah SWT yang lain juga dijelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang sempurna, akan tetapi ia bisa menjadi makhluk yang hina dan bahkan lebih hina daripada binatang. Sebagaimana keterangan Al-Qur’an berikut:
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (QS. At- Tiin (95): 4-5)36
2) Landasan Konseptual
a) Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 2007 tentang RJPN
“Tujuan pembangunan jangka panjang tahun 2005-2025 adalah mewujudkan bangsa yang maju, mandiri, dan adil sebagai landasan bagi tahap pembangunan berikutnya menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.Salah satu ukuran tercapainya Indonesia yang maju, mandiri dan adil adalah terwujudnya masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab.”37
b) Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
36 Prof.Dr. Wahbah Zuhaili, Ensiklopedia Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2007), 598.
37 Undang-undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Nasional.
“Pendidikan Nasional berfungsi mengmbangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsayang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”38
d. Prinsip Pembentukan Karakter
Karakter itu tidak dapat dikembangkan dengan secara cepat dan segera (instant), tetapi harus melewati suatu proses yang panjang, cermat dan sistematis. Oleh karena itu, prinsip pembelajaran yang digunakan dalam mengembangkan pendidikan karakter harus dapat mengusahakan peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai karakter sebagai bentuk tanggung jawab mereka atas keputusan yang diambilnya.
Sebagaimana yang diutarakan Dasim Budimasyah yang dikutib oleh Abdul Majid, berpendapat bahwa pendidikan karakter perlu dikembangkan dengan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:39 1) Berkelanjutan, mengandung makna bahwa proses pengembangan
nilai-nilai karakter bangsa merupakan sebuah proses panjang dimulai dari awal peserta didik sampai selesai dari satuan pendidikan.
2) Memulai semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya satuan pendidikan bermasyarakat bahwa proses pengembangan
38Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 2 Pasal 3.
39 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Prespektif IslamI, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2017), 109-110.
nilai-nilai karakter bangsa dilakukan melalui kegiatan kurikuler setiap mata pelajaran, ko-rikuler dan ekstra kurikuler.
3) Nilai tidak diajarkan, tetapi dikembangkan melalui proses belajar yang mengandung makna bahwa materi nilai-nilai karakter bukanlah bahan ajar biasa.
4) Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan. Prinsip ini menyatakan bahwa proses pendidikan karakter dilakukan oleh peserta didik bukan guru. Guru menerapkan prinsip “tut wuri handayani” dalam setiap perilaku yang ditunjukkan oleh peserta didik. Prinsip ini juga menyatakan bahwa proses pendidikan dilakukan dalam suasana belajar yang menimbulkan rasa senang dan tidak indoktrinatif.
e. Nilai-nilai Karakter Religius
Pendidikan yang sangat menekankan pada nilai-nilai religius adalah pendidikan karakter religius, misalnya nilai ibadah, nilai jihad, nilai amanah, nilai ikhlas, akhlak dan kedisiplinan serta keteladanan.
Dalam proses belajar mengajar sebenarnya indikator-indikator nilai religius terletak pada cakupan memberi salam, menyapa, berdoa sebelum dan sesudah beraktivitas, melaksanakan ibadah-ibadah keagamaan, dan merayakan hari-hari besar keagamaan.40
Pendidikan karakter berbasis nilai religius secara spesifik mencakup pada pokok-pokok ajaran dasar yang ada di dalam agama
40 Jamal Ma’mur Asmani, Buku panduan Iternalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Jakarta: DIVA Press, 2013), 37.
(Islam). Menurut Abdul Majid bedasarkan sumber nilai-nilai religius yang ada dalam kehidupan manusia digolongkan menjadi dua yaitu:41
1) Nilai Ilahiyah
Nilai Ilaiyah merupakan nilai yang berhubungan dengan hablum minallah atau bagaimana hubungan seseorang dengan Allah SWT, dimana keagamaan merupakan sebah inti dari sebuah ketuhanan. Inti dari nilai penddikan adalah bagaimana memberikan kegiatan untuk menanamkan nilai keagamaan.
Nilai-nilai tersebut antara lain:
a) Iman, yaitu nilai keyakinan dalam batin kepada Allah SWT.
b) Islam, kelajutan dari iman yaitu sikap pasrah atau berserah diri kepada Allah SWT dan pastilah mengandung manfaat yang merupakan hal yang terbaik untuk kita.
c) Ihasan, yaitu sadar dan merasakan bahwa Allah senantiasa hadir berada disekitar kita dimanapun dan kapanpun kita nerada.
d) Takwa, yaitu sikap menjalankan apa saja yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi apa saja yan dilarang-Nya.
e) Ikhlas, yaitu sikap, tingkah laku dan perbuatan yang murni tanpa pamrih mengharapkan balasan atau pujian karena hanya menginginkan ridha dari Allah SWT.
f) Tawakkal, yaitu sikap berserah diri dengan penuh harapan
41 Abdul Majid dkk, Pendidikan Karakter Prespektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), 92.
hanya kepada Allah SWT setelah berusaha.
g) Syukur, yaitu sikap berterimakasih kepada Allah SWT atas segala rahmat yang telah diberikan kepada kita.
h) Sabar, yaitu sikap yang terbentuk karena rasa sadar bahwa kita berasal, menjalankan hidup dan akan kembali hanya untuk Allah SWT.
2) Nilai Insaniyah
Nilai Isaniyah adalah hablum minan nas atau nilai-nilai yang menjadi dasar bersosial antar sesama manusia atau tentang budi pekerti, nilai yang termasuk ke dalam nilai insaniyah antara lain:
a) Silaturrahmi yaitu hubungan yang harmonis antar sesama manusia yang penuh kasih sayang.
b) Alkhuwah yaitu menjalin persaudaraan antar sesama.
c) Al-Adalah yaitu wawasan yang seimbang.
d) Khusnu’dzan yaitu sekap selalu berbaik sangka kepada sesama.
e) Tawadhu yaitu sikap yang selalu rendah hati.
f) Al-wafa yaitu sikap menepati apa saja yang telah menjadi janji g) Amanah yaitu sikap melaksanakan apa yang menjadi
tanggung jawabnya dan dapat dipercaya.
h) Iffah yaitu memiliki sikap menjaga harga dirinya namun tidak menyobongkan dirinya sendiri dan tetap rendah hati.
i) Qowamiyah yaitu sikap tidak menghambur-hamburkan segala sesuatu atau boros.