PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS PESERTA DIDIK MELALUI BUDAYA RELIGIUS DI SMP TRI BHAKTI
TEGALDLIMO BANYUWANGI
SKRIPSI
Oleh:
M. ZIDNI ABDUL JABAR NIM. T20191455
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
MEI 2023
PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS PESERTA DIDIK MELALUI BUDAYA RELIGIUS DI SMP TRI BHAKTI
TEGALDLIMO BANYUWANGI
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam
Oleh:
M. ZIDNI ABDUL JABAR NIM. T20191455
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
MEI 2023
ii
iii
iv MOTTO
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Qs. An-Nahl [16]: 90).
Prof. Dr. Wahbah Zuhaili, Ensiklopedia Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2007), 278.
v
PERSEMBAHAN
1. Teruntuk kedua orang tua saya Bapak Ashari dan Ibu Masripah, terimakasih atas cinta kalian mengasuh dan mendidik anak-anaknya, selalu mendo’akan serta menajadi motivasi utama saya dalam belajar menempuh pendidikan S1.
2. Kakak-kakak saya yang selalu memberikan semangat dan motivasi untuk saya, serta doa yag selalu dipanjatkan semoga senantiasa diberikan kemudahan dan kebahagiaan serta kemudahan disetiap urusannya.
3. Para guru, dosen, ustad dan ustadzah, terimakasih atas semua ilmu dan doa kalian. Semoga panjenengan semua diberikah keberkahan, panjang umur, kemudahan dan kelancaran dalam segala urusan. ilmu yang panjenengan berikan dicatat oleh Allah SWT sebagai amal baik.
4. Teman-teman asrama, kampus dan terkhusus teman kelas PAI A10 angkatan 2019, terimakasih atas semua bantuan doa, dukungan, motivasi, dan semuanya semoga apa yang kita cita-citakan tercapai, ilmunya bermanfaat serta barokah dan diberikan kemudahan dan kebahagian oleh Allah SWT.
vi ABSTRAK
M. Zidni Abdul Jabar, 2023: Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik Melalui Budaya Religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi.
Kata kunci: Karakter Religius, Budaya religius.
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya kepedulian lembaga sekolah swasta unggul SMP Tri Bhakti Tegaldlimo terhadap pembentukan karakter religius peserta didik melalui penanaman nilai Ilahiyah dan nilai Insaniyah dengan menerapkan budaya religius di sekolah. Adapun budaya religius yang diterapkan sekolah meliputi budaya berjabat tangan, salat berjamaah yang meliputi salat dhuha berjamaah dan salat dzuhur berjamaah, budaya ngaji al- Qur’an, dan jum’at amal. Budaya religius ini dimaksudkan dapat membentuk karakter religius peserta didik dan membekali mereka agar dapat menangkal penyimpangan-penyimpangan dan prilaku negatif yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.
Fokus penelitian ini adalah 1) Bagimana pembantukan karakter religius peserta didik melalui penanaman nilai Ilahiyah dalam budaya religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi? 2) Bagimana pembantukan karakter religius peserta didik melalui penanaman nilai Insaniyah dalam budaya religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi? Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mendiskripsikan pembantukan karakter religius peserta didik melalui penanaman nilai Ilahiyah dalam budaya religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi. 2) Untuk mendiskripsikan pembantukan karakter religius peserta didik melalui penanaman nilai Insaniyah dalam budaya religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitiannya studi kasus. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Analisis datanya menggunkan model Miles, Huberman dan Saldana yaitu adanya proses kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data digunakan triangulasi sumber dan teknik.
Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa 1) pembentukan karakter religius peserta didik melalui penanaman nilai Ilahiyah dalam budaya religius diterapkan pada budaya salat berjamaah dan ngaji Al-Qur’an. Penerapan budaya salat berjamaah dan ngaji Al-Qur’an dalam membentuk karakter religius peserta didik adalah menjadikan mereka lebih sabar, lebih bertaqwa dan beriman kepada Allah SWT serta menjadikan peserta didik lebih religius dengan mencintai Al- Qur’an sebagai kalamullah. 2) pembentukan karakter religius peserta didik melalui penanaman nilai Insaniyah dalam budaya religius diterapkan pada budaya berjabat tangan dan jum’at amal. Dengan dua budaya ini dapat menjadikan peserta didik yang religius ditunjukan dengan perilaku mereka yang sopan dan santun, ramah, serta tolerensi dengan saling menghormati antar sesama, menghormati perbedaaan serta dapat menanamkan karakter peduli sesama dan ikhlas.
vii
KATA PENGANTAR
Segala puji ke hadirat Allah SWT atas segala karunia, taufiq, serta hidayah-Nya sehingga penyusunan proposal ini dapat diselesaikan. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menajdi penerang bagi umat dari kegelapan menuju kehidupan yang penuh cahaya kebaikan.
Alhamdulillah, karya sederhana dalam bentuk proposal skripsi yang berjudul “Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik Melalui Budaya Religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi” ini dapat terselesaikan, meskipun jauh dari kesempurnaan. Semoga dengan adanya karya sederhana ini dapat memberikan manfaat serta berguna demi menunjang peningkatan pengetahuan di dunia akademis.
Adanya karya sederhana ini tidak lepas dari dukungan banyak pihak.
Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E, M.M. Selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember).
2. Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember).
3. Dr. Rif’an Humaidi, M.Pd. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember).
4. Dr. Hj. Fathiyaturrahmah, M.Ag. selaku Koordinator Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember).
5. Dr. Nuruddin, M.Pd.I. selaku Dosen Pembimbing yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Dr. Ubaidillah, M.Ag. selaku Dosen Penasehat Akademik.
7. Segenap Bapak/Ibu Dosen Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember), yang telah membekali ilmu pengetahuan kepada penulis, sehinga mampu menambah pengetahuan dan
viii wawasan.
8. Bapak Jumari, A.Md., S.Pd. selaku Kepala SMP Tri Bhakti Tegaldlimo yeng telah memberikan ijin untuk penelitian ini.
9. Bapak Agus Riono, S.Pd. selaku Waka Kesiswaan SMP Tri Bhakti Tegaldlimo yeng telah memberikan informasi dan membatu terselesainya skripsi ini.
10. Bapak Qujatul ‘Uyun, S.Pd.I. Selaku Guru Pendidikan Agama Islam kelas VIII dan IX di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo yang telah memberikan informasi dan membantu terselesainya skripsi ini.
11. Ibu Faridotul Umah, S.Ag. Selaku Guru Pendidikan Agama Islam kelas VIII dan IX di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo yang telah memberikan informasi dan membantu terselesainya skripsi ini.
12. Guru dan Peserta didik SMP Tri Bhakti Tegaldlimo yang telah membantu dan memberikan informasi kepada penulis.
13. Tim penguji yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki skripsi ini.
14. Almamater kebanggaan UIN KHAS Jember yeng telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk belajar, menimba ilmu kepada para ahli dalam bidangnya, sehinga memberikan pengalaman dan banyak pelajaran yang sangat bermanfaat dan berharga.
Mudah-mudahan kebaikan serta amal baik Bapak/Ibu tercatat sebagai amal shalih dan mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT.
Penulis berharap mudah-mudahan proposal ini nantinya dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi pembaca.Penulis mengaharap saran dan kritiknya yang bersifat membangun agar kedepanya menjadi lebih baik.Aamiin.
Jember, 23 Mei 2023
M. ZIDNI ABDUL JABAR NIM. T20191455
ix DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN PENGUJI ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Konteks Penelitian ... 1
B. Fokus Penelitian ... 9
C. Tujuan Penelitian ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 9
E. Definisi Istilah ... 11
F. Sistematika Pembahasan ... 13
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 14
A. Penelitian Terdahulu ... 14
B. Kajian Teori ... 20
1. Membentuk Karakter Religius Siswa... 20
2. Budaya Religius ... 35
x
BAB III METODE PENELITIAN ... 43
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 43
B. Lokasi Penelitian ... 43
C. Subjek Penelitian ... 44
D. Teknik Pengumpulan Data ... 46
E. Analisis Data ... 49
F. Keabsahan Data ... 52
G. Tahap-Tahap Penelitian ... 53
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 55
A. Gambaran Objek Penelitian ... 55
1. Sejarah berdirinya SMP Tri Bhakti Tegaldlimo ... 55
2. Profil singkat SMP Tri Bhatkti Tegaldlimo ... 61
3. Visi dan Misi serta tujuan SMP Tri Bhakti Tegaldlimo ... 61
4. Data Guru dan Siswa-Siswi di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo ... 63
5. Sarana dan Prasarana SMP Tri Bhakti Tegaldlimo... 65
B. Penyajian Data dan Analisis... 66
C. Pembahasan Temuan ... 102
BAB V PENUTUP ... 117
A. Simpulan ... 117
B. Saran ... 120
DAFTAR PUSTAKA ... 122
xi
DAFTAR TABEL
No. Urutan Hal.
2.1 Persamaan dan Perbedaaan ... 18
4.1 Data Siswa-siswi di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo ... 63
4.2 Struktur Organisasi dan Data Guru SMP Tri Bhakti Tegaldlimo ... 64
4.3 Sarana dan Prasarana ... 65
4.4 Matriks Temuan ... 100
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Hal.
1. Matriks Penelitian ... 126
2. Surat Pernyataan Keaslian Tulisan... 127
3. Instrumen Penelitian... 128
4. Jurnal Penelitian ... 139
5. Permohonan Ijin Penelitian ... 140
6. Surat Keterangan Pemberian Ijin Penelitian ... 141
7. Surat Keterangan Selesai Penelitian... 142
8. Struktur Organisasi SMP Tri Bhakti Tegaldlimo ... 143
9. Dokumentasi Lembaga SMP Tri Bhakti Tegaldlimo... 144
10. Peta Lokasi SMP Tri Bhakti Tegaldlimo ... 144
11. Data Peserta Didik Berprestasi dan Kurang Berprestasi ... 145
12. Jadwal Pelaksanaan Budaya Religius ... 146
13. Dokumentasi Pelaksanaan Budaya Religius ... 147
14. Biodata Penulis ... 153
1 BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pembentukan karakter religius peserta didik melalui budaya religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi, sekolah menengah pertama swasta yang menjadi sekolah unggulan dan memiliki ciri kekhasan dalam pelaksanaan pendidikan terutama dalam pembentukan karakter peserta didik. Sekolah yang memiliki Misi
“Menimbulkan penghayatan yang dalam dan pengalaman yang tinggi terhadap ajaran agama (Religi) sehinggan tercipta kematangan dalam bepikir dan bertindak” nampaknya memang benar-benar sangat berupaya mewujudkan pendidikan karakter bagi peserta didik untuk mewujudkan prestasi dan kreasi dalam visi sekolah.1 Sekaligus juga sebagai sekolah yang sangat memprioritaskan pembentukan karakter peserta didik dengan harapan peserta didik dapat tertanam karakter dan budi pekerti yang baik sebagai upaya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi peserta didik.2
Lembaga sekolah yang memiliki capaian dan prestasi yang luar biasa dalam pembentukan karakter bagi peserta didiknya. Keberhasilan ini diwujudkan meliputi prestasi akademik maupun non akademik yang ditorehkan baik tingkat regional maupun nasiolan serta keberhasilan dalam pembentukan karakter peserta didik dilihat dari catatan sekolah yang menunjukan ketidakadanya catatan perilaku negatif atau penyimpangan-
1 Hasil dokumentasi Visi dan Misi SMP Tri Bhakti Tegaldlimo, tangal 23 Agustus 2022.
2 H. Mardi di wawancarai oleh peneliti, Banyuwangi, 23 Agustus 2022.
2
penyimpangan yang dilakukan peserta didik dalam kurun waktu kurang lebih 5 tahun terakhir meliputi kekerasan, perkelahian, tawuran antar pelajar dan perilaku-perilaku tidak terpuji peserta didik lainnya.3 Capaian ini tentunya menunjukan bahwa lembaga sekolah sangat peduli akan pendidikan karakter bagi peserta didik dan melihat pendidikan karakter ini adalah satu kebutuhan pokok dalam menghadapi tantangan zaman serta mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas bagi bangsa.
Sejalan dengan perihal tersebut, salah satu hasil penelitian mendapatkan jika karakter seorang dapat mempengaruhi kesuksesannya. Salah satunya ialah penelitian yang dilakukan di Harvard University Amerika, menyatakan jika keseuksesan seorang tidak cuma didetetapkan oleh pengentahuan serta keahlian teknis (hard skill) saja, melainkan pula keahlian seorang dalam mengelola diri serta orang lain (soft skill).4 Hal tersebut membuktikan bahwa karakter sumber daya manusia pada sesuatu bangsa sangat memastikan keberhasilan serta kesuksesan bangsa tersebut.
Pembentukan karakter ialah perkara yang sangat penting guna diterapkan sesuatu bangsa untuk generasi mudanya dimana pembentukan karakter tersebut sangat memastikan nasib sesuatu bangsa pada waktu depan. Sering kita dengar jika generasi muda perlu mempunyai ketangguhan mental, terampil, penuh semangat, disiplin, pantang menyerah, kreatif serta inovatif guna dapat mewujudkan tujuan bangsanya sebagai bangsa yang bisa berdaya saing. Sehinga diharapkan bangsa tersebut dapat menjadi bangsa yang
3 Mahfud diwawancarai oleh peneliti, Banyuwangi, 23 Agustus 2022.
4 Rosniati Hakim, Pembentukan Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Al-Qur’an, (Jurnal Pendidikan Karakter: Tahun IV, Nomor 2, 2014), 133.
3
mandiri, maju serta setara dengan bangsa-bangsa yang lain.5
Karakter mencerminkan aksi dari jati diri seorang. Al-Ghazali mengilustrasikan jika kepribadian atau akhlak merupakan perbuatan baik yang berasal dari hati. Lichona memandang kepribadian selaku sesuatu sifat dalam menjawab suasana dengan metode yang terbaik serta aksi yang bermoral.
Lichona pula berkomentar kalau kepribadian terdiri dari 3 bagian yang sama- sama berkaitan, yang meliputi pengetahuan moral, perasaan, serta sikap bermoral.
Bersumber pada definisi diatas tentang karakter, penulis mendefinisikan karakter sebagai suatu perilaku yang mencerminkan individu seorang dalam bertingkah laku, berkomunikasi, berpakaian, pula beribadah kepada Allah.
Dari konsep tersebut timbul suatu konsep pendidikan karakter. Pendidikan karakter sebagai salah satu usaha yang bisa dilakukan dalam membentuk kebiasaan baik dari tiap orang.
Pendidikan karakter atau kepribadian mempunyai tujuan antara lain ialah memberikan pelayanan akan penguatan serta pengembangan nilai-nilai yang bisa memperbaiki sikap anak, membangun ikatan baik antara keluarga serta warga, dan mewujudkan bangsa yang mandiri, maju serta berdaya saing dengan bangsa-bangsa lain.
Hal ini menjadi landasan pentingnya pendidikan karakter yang tertuang dalam laporan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional, yang mengidentifikasi terdapat 18 nilai-nilai karakter, hasil
5 Masturin, Pembentukan Karakter pada Materi PAI dalam Pembentukan Manusia Berkualitas, (Al-Bidayah: Jurnal Pendidikan Dasar Islam, 2015), 52.
4
penelitian empiris Pusat Kurikulum yang besumber dari agama, pancasila dan budaya serta tujuan pendidikan nasional.6 Di antara 18 karakter tersebut, ada satu nilai karakter yaitu karakter religius yang dipandang memiliki dampak yang signifikan terhadap pengembangan sumber daya manusia yang bermoral.
Pentingnya karakter religius ini antara lain memiliki sikap dan perilaku yang sejalan dengan ajaran agama yang dianutnya, toleransi terhadap praktik ibadah agama lain, dan kemampuan untuk hidup berdampingan.
Upaya pembentukan karakter bagi generasi muda dalam lembaga pendidikan dirasa perlu dilakukan secara konsisten untuk dapat mewujudkan terbetuknya warga negara yang kompeten dan berkarakter baik. Bahkan pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla telah menggagas gerakan revolusi mental dalam bingkai Nawacita sebagai bentuk kepedulian akan pentingnya pembentukan karakter. Hal ini menjadi dasar pentingnya program penguatan karakter, utamanya pada budaya religius di sekolah.7
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi masyarakat yang demokratis dan beradab, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter dan peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.8 Dalam ajaran Islam, pendidikan juga mempunyai perananan yang penting
6 Pupuh Fathurrohman, dkk, Pengembangan Pendidikan Karakter, (Bandung: Refika Aditama, 2013), 19.
7 Suradi, “Pembentukan Karakter Siswa melalui Penerapan Disiplin Tata Tertib Sekolah,”
Brillant: Jurnal Riset dan Konseptual 2, no. 4 (13 November 2017), 530.
8 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
5
untuk menciptakan peserta didik yang mempunyai karakter religius. Dalam Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat ayat 56 Allah SWT berfirman:
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.(Adz-Dzariyat (51): 46).9
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwasanya manusia harus senantiasa untuk selalu beribadah kepada Allah dan juga yang paling pokok adalah takwa, maksudnya yaitu untuk selalu taat kepada Allah, mengerjakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangannya. Oleh karena itu, karakter dan budi pekerti yang baik perlu untuk dibentuk dalam diri peserta didik agar nantinya sejak dini terbiasa untuk beribadah dan juga takwa kepada Allah.
Pembentukan karakter dan budi pekerti baik perlu adanya tempat yang secara konsisten menanamkan nilai-nilai karakter yang mulia. Tempat yang tepat dalam hal ini, bagi seseorang untuk memperoleh pendidikan karakter dalam mengembangkan bakat dan juga potensi yang dimilikinya adalah sekolah. Dengan pembentukan karakter dan budi pekerti yang baik di sekolah nantinya akan berpengaruh terhadap potensi serta perkembangan karakter yang dimilikinya. Tujuan dari pembentukan atau penanaman karakter ini di sekolah adalah untuk bekal mereka dalam menghadapi dunia kerja, terjun ke masyarakat dan juga kehidupan selanjutnya.
Pemerintah juga mengupayakan pembentukan karakter dengan cara merancang dan membentuk kurikulum yang disebut dengan kurikulum 2013.
Kurikulum yang menjadikan pendidikan karakter sebagai salah satu tujuan
9 Prof. Dr. Wahbah Zuhaili, Ensiklopedia Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2007), 524.
6
utama dalam setiap pembelajaran.10 Namun sayangnya tidak semua guru mampu menyisipkan pendidikan karakter dalam setiap pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013.
Namun, faktanya dunia pendidikan tidak selalu seperti yang diidealkan. Di dalam dunia pendidikan sekarang ini telah banyak terjadi penyimpangan atau perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Seperti perilaku guru yang tidak mencerminkan kepribadian, aturan-aturan yang menyimpang, kekerasan, hingga perilaku-perilaku menyimpang peserta didik di sekolah.
Penyimpangan-penyimpangan tersebut diantaranya sering kita temukan adanya perilaku kecil di lembaga sekolah yang disepelekan padahal berdampak sangat besar terhadap karakter warga sekolah, antara lain; peserta didik datang terlambat, tidak berseragam sesuai dengan jadwalnya, bersikap tidak jujur, makan sambil berjalan, pertengkaran, tawuran, bullying, membolos sekolah, bahkan berani membentak dan melakukan kekerasan terhadap guru.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut seharusnya tidak dianggap remeh agar tidak menjadi kebiasaan buruk yang berlanjut bagi peserta didik. Mereka yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa yang dibanggakan justru realitanya malah masih banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan dan perilaku negatif di dunia pendidikan.
Salah satu wujud dari kepedulian akan pentingnya mengatasi penyimpangan perilaku negatif dan pembentukan karakter religius peserta didik di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo adalah melalui budaya religius di sekolah
10 Muhammad Nova, Charakter Education In Indonesia Efl Classroom: Implementasion And Obstacles, (Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun VII, No. 2, 2017), 142.
7
tersebut yang meliputi pembiasaan berjabat tangan, sholat berjamaah meluputi salat dhuha berjamaah dan salat dzuhur berjamaah, ngaji Al-Qur’an dan jum’at amal.11 Budaya religius ini dengan maksud para guru berusaha menanamkan pentingnya beribadah kepada Allah SWT dan mendekatkan diri kepada-Nya agar terhindar dari segala perbuatan keji dan munkar. Dalam firman Allah SWT QS. Al-Ankabut ayat 45:
Artinya: “bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Al-Ankabut (29): 45)12
Ayat tersebut sangat jelas menunjukkan bahwasanya salat dapat mencegah kita untuk melakukan perbuatan keji dan munkar. Maka apabila peserta didik belum melakukan salat lima waktu dengan baik, tidak heran jika terjadi pelanggaran-pelanggaran di sekolah seperti yang telah disampaikan di atas.
Maka dari itu budaya religius di sekolah menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan tersebut karena memperbaiki ibadah kita dengan amalan-amalan dalam budaya religius secara tidak langsung juga akan dapat membentuk karakter dan budi pekerti yang baik bagi peserta didik. Perilaku atau sikap patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap
11 Faridotul Umah, di wawancarai oleh peneliti, Banyuwangi, 24 Agustus 2022.
12 Prof. Dr. Wahbah Zuhaili, Ensiklopedia Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2007), 402.
8
pelaksanaan ibadah, serta hidup rukun dengan sesama. Dengan kegiatan tersebut nantinya peserta didik akan terbiasa untuk melakukan hal baik dalam lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat. Karena dengan pembiasaan budaya religius di sekolah akan terbentuk karakter religius sehingga mereka akan merubah tingkah laku menjadi lebih baik yang sesuai dengan tuntunan agama Islam. Dengan demikian pengetahuan tentang pendidikan Islam yang diberikan pada peserta didik tidak lagi berhenti pada ranah kognitifnya saja namun telah masuk pada ranah pemahaman terhadap nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam bentuk sikap keseharian.
Oleh karena itu, penelitian ini dirasa penting untuk diteliti mengingat pembentukan karater melalui budaya religius di sekolah adalah persoalan yang sangat urgent dalam menangani persoalan-persoalan yang dihadapi peserta didik dalam menghadapi tantangan zaman. Walaupun dalam penelitian sebelumnya sudah banyak yang meneliti tentang pembentukan karakter.
Tetapi posisi peneliti dalam artikel ini lebih berfokus pada pembentukan karakter religius melalui budaya religius di sekolah yakni dengan membiasakan berjabat tangan, sholat berjamaah meluputi salat dhuha berjamaah dan salat dzuhur berjamaah, ngaji Al-Qur’an dan jum’at amal.
Dengan uraian tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian lebih mendalam mengenai “Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik melalui Budaya Religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi.”
9
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan konteks penelitian diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pembentukan karakter religius peserta didik melaui penanaman nilai Ilahiyah dalam budaya religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi?
2. Bagaimana pembentukan karakter religius peserta didik melaui penanaman nilai Insaniyah dalam budaya religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian diatas maka penelitian ini bertujuan:
1. Untuk mendiskripsikan pembentukan karakter religius peserta didik melaui penanaman nilai Ilahiyah dalam budaya religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi?
2. Untuk mendiskripsikan pembentukan karakter religius peserta didik melaui penanaman nilai Insaniyah dalam budaya religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi?
D. Manfaat Penelitian
Dengan melakukan penelitian yang berjudul pembentukan karakter religius peserta didik melalui budaya religius di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi, peneliti berharap dapat memberikan manfaat, diantaranya adalah:
10
1. Manfaat Teoritis
Secara umum penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih pemikiran dan dukungan terhadap penelitian sejenis serta menjadi tambahan pengetahuan dalam pendidikan, khususnya yang terkait pembentukan karakter peserta didik melalui budaya religius di sekolah.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan menjadi tambahan khasanah keilmuan tentang pembentukan karakter peserta didik melalui budaya religius di sekolah. Serta menjadi syarat untuk memenuhi tugas proposal yang selanjutnya dapat dibuat acuan dalam penyusunan skripsi untuk memperoleh gelar sarjana satu (S1) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
b. Bagi Uversitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada mahasiswa sebagai referensi kepustakaan yang terkait dengan pembentukan karakter peserta didik melalui budaya religius di sekolah.
c. Bagi Lembaga Sekolah Menengah/Madrasah Tsanawiyah
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan mutu pendidikan yang lebih baik lagi terkait pembentukan karakter peserta didik melalui budaya religius di
11
sekolah.
d. Bagi Pembaca
Hasil penelitian ini nantinya diharapkan menajadi referensi untuk menambah khazanah keilmuan dan pengembangan penelitian di waktu mendatang.
E. Definisi Istilah
Guna menghindari terjadinya beragam pemahaman pada penelitian ini, maka akan diuraikan pengertian dari istilah-istilah yang terkandung didalamnya.
1. Karakter Religius
Dalam kamus Poerwadarminta sebagaimana dikutib oleh Nurudin,13 karakter diartikan sebagai tabiat, watak, akhlak, sifat-sifat rohani atau budi pekerti yang dapat membedakan dengan orang lain. Sementara pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik, sehingga mereka memiliki nilai dan karakter dalam dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupanya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang relegius, nasionalis, produktif dan nasionalis.
Sehingga dapat kita artikan pendidikan karakter adalah proses mengukir atau memahat barang keras dengan sedemikian rupa, sehingga dapat terbentuk bentuk yang unik, tanda khusus yang membedakan dengan yang lain. Ibarat angka yang tak akan pernah sama dengan satu
13 Nurudin Karim, Pendidikan Karakter. Shautut Tarbiyah, Vol. 16 No. 1, 2010, 71.
12
sama lain, begitupun orang yang berkarakter dapat berbeda satu sama dengan yang lain (termasuk karakter baik dan karakter tercela). Sehingga pendidikan karakter tersebut berusaha untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama makhluk ciptaan-Nya, sikap, perasaan dan perbuatan yang berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.
Pembentukan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
2. Budaya Religius
Menurut Kamus besar bahasa Indonesia, budaya (culture) adalah pikiran, adat-istiadat, sesuatu yang berkembang, sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sukar diubah.
Sedangkan religius adalah nilai-nilai kehidupan yang mencerminkan tumbuh kembangnya kehidupan beragama yang terdiri dari tiga unsur pokok yaitu aqidah, ibadah, dan akhlak yang menjadi pedoman perilaku sesuai aturan Ilahi untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan budaya religius merupakan cara
13
berpikir dan cara bertindak warga sekolah yang didasarkan atas nilai-nilai religius (keberagamaan). Budaya religius adalah suatu hal yang tercipta memalui pembiasaaan nilai-nilai keagamaan yang sudah ada dan sukar dihilangkan.
F. Sistematika Pembahasan
Laporan skripsi ini ditulis berdasarkan sistematika penulisan karya tulis ilmiah yang dikeluarkan oleh program S1 UIN KHAS Jember sebagai berikut:
Bab Satu Pendahuluan, yang meliputi; konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, dan sistematika pembahasan.
Bab Dua Kajian Kepustakaan, berisi tentang kajian kepustakaan yang meliputi penelitian terdahulu dan kajian teori.
Bab Tiga Metode Penelitian, berisi tentang metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi, pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data serta tahap-tahap penelitian.
Bab Empat Penyajian Data dan Analisis Data, pada bab ini berisi tentang temuan-temuan penelitian yang berisi tentang gambaran umum objek penelitian, penyajian dan analisis data.
Bab Lima, berisi kesimpulan sekaligus saran-saran bagi pihak terkait dari peneliti.
14 BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu
Kajian kepustakaan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengatasi aspek- aspek yang telah diungkap dan aspek penelitian yang belum diungkap. Maka diperlukan kajian terhadap penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya.
Selain itu langkah ini bertujuan untuk menghindari adanya pengulangan kajian terhadap kasus yang sama. Adapun hasil penelitian terdahulu sebagaimana berikut:
Pertama, Alfresta Chasanah Dewi, Skripsi, 2021. “Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Budaya Religius di SMPN 1 Srengat Blitar”.
Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi.Pengecekan keabsahan data menggunakan perpanjangan pengamatan, triangulasi sumber, triangulasi teknik, triangulasi waktu dan triangulasi teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendidikan karakter siswa dimulai dengan budaya religius yang meliputi kegiatan salat berjama’ah, membaca dan menulis Al-Qur’an, kajian Islami, dan kegiatan jum’at beramal. Budaya religius tersebut dapat tertanam nilai-nilai karakter yang dapat tertanam di dalam diri siswa yang meliputi karakter religius, kedisiplinan, sikap positif serta dapat melahirkan peserta didik yang unggul tidak hanya pada ranah kognitifnya saja, melaikan juga mengenai
karakternya.14
Kedua, Renisa Maheti, Skripsi, 2020. “Implementasi Budaya Religius dalam menumbuhkan Sikap Disiplin Siswa di SMP Muslim Asia Afrika (Musika)”. Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi.Pengecekan keabsahan data triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Hasil penelitian menunjukkan implementasi budaya religius dalam menumbuhkan sikap disiplin siswa lebih mengedepankan budaya senyum, salam, dan sapa, salat dhuha dan sholawat berjamaah, salat dzuhur berjamaah, Pendidikan Qur’an Musika (PQM), Musika Jum’at Peduli (MJP), kajian keputian, semarak musika, dan pesantren kilat ramadhan. Dengan adanya kegiatan tersebut yang dilakukan secara terus- menerus, maka akan menjadi suatu kebiasaan yang dapat menumbuhkan sikap disiplin siswa.15
Ketiga, Umi Masitoh, Tesis, 2017. “Implementasi Budaya Religius Sebagai Upaya Pengembangan Sikap Sosial Siswa di SMA Negeri 5 Yogyakarta”. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan jenis penelitian (field research) penelitian lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi data, triangulasi sumber, dan triangulasi teknik.
Hasil Penelitian menunjukkan budaya religius yang diterapkan di SMAN 5
14 Alfresta Chasanah Dewi, Skripsi, 2021. “Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Budaya Religius di SMPN 1 Srengat Blitar”
15 Renisa Maheti, Skripsi, 2020. “Implementasi Budaya Religius dalam menumbuhkan Sikap Disiplin Siswa di SMP Muslim Asia Afrika (Musika)”
Yogyakarta yaitu, budaya pagi simpati, tadarrus central morning, sholat dhuhur berjamaah, pembiasaan khutbah jum’at, Perigatan Hari Besar Islam (PHBI), infaq, pesantren kilat bulan Ramadhan. Nilai-nilai karakter yang dibentuk sebagai upaya pengembangan sikap sosial siswa diantaranya sopan, santun, rendah hati, kejujuran, tanggung jawab, dermawan, kasih sayang dan sikap toleransi.16
Keempat, Hajah, Skripsi, 2022. “Pembentukan Karakter Religius Siswa pada Kegiatan Ekstrakurikuler Rohis di SMPN 12 Kota Serang”. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan jenis penelitian (field research) penelitian lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data mengunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa hal yang menjadi proses pengimplementasian kegiatan ekstrakurikuler rohis di SMPN 12 Kota Serang terlaksana diantaranya: ragam kegiatan, partisipasi aktif siswa, menjalin hubungan baik dengan sekolah serta masyarakat. Nilai-nilai karakter yang dapat dikembangkan dalam diri siswa pada kegiatan ekstrakurikuler rohis yaitu budaya religius, ukhwah, komunikatif, peduli sosial/lingkungan, tangung jawab, disiplin, bermanfaat bagi orang lain, rendah hati, ikhlas, sabar, selalu bersyukur, mandiri dan saling berkerjasama.17
16 Umi Masitoh, “Implementasi Budaya Religius Sebagai Upaya Pengembangan Sikap Sosial Siswa di SMA Negeri 5 Yogyakarta”, (Tesis, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2017)
17 Hajah, “Pembentukan Karakter Religius Siswa pada Kegiatan Ekstrakurikuler Rohis di SMPN 12 Kota Serang”, (Skripsi, Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 2022)
Kelima, Chirun Nisa, Skripsi, 2019. “Implementasi Budaya Religius dalam Meningkatkan Kedisiplian Siswa di SMA Miftahussalam Kambeng, Slahung, Ponorogo”. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data mengunakan perpanjangan keikutsertaan, pengamatan yang tekun, triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di SMA Miftahussalam dalam implementasi budaya religius mengunakan 3 strategi, yaitu Power strategy, Persuasive strategy, dan Normative re- adducative.Penerapan Power strategy dikembangkan melalui pembiasaan, keteladanan, dan pendekatan persuasif. Bentuk budaya religius meliputi:
budaya 5S, pembiasaan membaca Al-Qur’an pagi, Sholat dhuha berjamaah dan dzikir Ratib al-haddad, shoalt dhuhur berjamaah, dan pengajian kitab kuning. Implementasi budaya religius di SMA Miftahussalam Kambeng, Slahung, Ponorogo memberikan implikasi positif terhadap kedisiplinan siswa, yaitu meningkatkan kedisiplinan waktu, meningkatkan akhlak siswa dan juga dapat meminimalisir adanya siswa yang berkeliaran di luar ligkungan madarasah. Selain itu terdapat implikasi lain yaitu berkurangnya waktu istirahat siswa.18
18 Chirun Nisa, “Implementasi Budaya Religius dalam Meningkatkan Kedisiplian Siswa di SMA Miftahussalam Kambeng, Slahung, Ponorogo”, (Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2019)
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Nama
Peneliti Judul Persamaan Perbedaan
1 Alfresta Chasanah Dewi
Implementasi Pendidikan
Karakter Melalui Budaya Religius
di SMPN 1
Srengat Blitar
Penelitian ini sama-sama membahas Budaya
Religius dan karakter siswa
Perbedaan penelitian ini lebih umum menekankan pada implementasi
pendidikan karakter budaya religius guna membentuk karakter siswa.
Sedangkan penelitian ini lebih berfokus pada pembentukan karakter religius siswa.
2 Renisa Maheti
Implementasi Budaya Religius dalam
menumbuhkan Sikap Disiplin Siswa di SMP Muslim Asia Afrika (Musika)
Penelitian ini sama-sama membahas Budaya Religius
Perbedaanya pada penelitian ini lebih menekankan
pembentukan
karakter disiplin siswa.
3 Umi
Masitoh
Implementasi Budaya Religius Sebagai Upaya Pengembangan Sikap Sosial Siswa di SMA
Negeri 5
Yogyakarta
Penelitian ini sama-sama membahas Budaya Religius
Perbedaan penelitian ini lebih berfokus pada implementasi budaya religius sebagai upaya pengembangan sikap sosial siswa.
4 Hajah Pembentukan
Karakter Religius
Siswa pada
Kegiatan Ekstrakurikuler Rohis di SMPN 12 Kota Serang
Penelitian ini sama-sama membahas pembentukan karakter
Perbedaan penelitian ini lebih berfokus pada pembentukan karakter religius siswa pada kegiatan ekstrakurikuler rohis.
5 Chirun Nisa
Implementasi Budaya Religius dalam
Penelitian ini sama-sama membahas
Perbedaan penelitian ini lebih berfokus pada pembentukan
Meningkatkan Kedisiplian Siswa
di SMA
Miftahussalam Kambeng, Slahung, Ponorogo
Budaya Religius
karakter kedisiplinan siswa di SMA.
Adapun persamaan dan perbedaan pada penelitian terdahulu dengan penelitian yang hendak diteliti oleh peneliti. Judul pertama Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Budaya Religius di SMPN 1 Srengat Blitar. Persamaannya menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi.
Perbedaaanya lokasi penelitian pada penelitian ini bertempat di SMPN 1Sragen Blitar serta penelitian ini membahas tentang pendidikan karakter yang masih bersifat umum.
Kedua Implementasi Budaya Religius dalam menumbuhkan Sikap Disiplin Siswa di SMP Muslim Asia Afrika (Musika). Persamaan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus, serta menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi.
Adapun perbedaan penelitian ini lebih berfokus pada penerapan budaya religius dalam menumbuhkan sikap disiplin siswa.
Ketiga Implementasi Budaya Religius Sebagai Upaya Pengembangan Sikap Sosial Siswa di SMA Negeri 5 Yogyakarta.Persamaan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif serta menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Perbedaannya jenis penelitian menggunakan penelitian lapangan (field research) dan penelitian ini lebih
berfokus pada penerapan budaya religius sebagai upaya pengembangan sikap sosial siswa.
Keempat Pembentukan Karakter Religius Siswa pada Kegiatan Ekstrakurikuler Rohis di SMPN 12 Kota Serang. Persamaan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif serta menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Perbedaannya jenis penelitian menggunakan penelitian lapangan (field research) dan penelitian ini lebih berfokus pada pembentukan karakter siswa pada kegiatan ekstrakurikuler rohis.
Kelima Implementasi Budaya Religius dalam Meningkatkan Kedisiplian Siswa di SMA Miftahussalam Kambeng, Slahung, Ponorogo. Persamaan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus, serta menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun perbedaan penelitian ini lebih berfokus pada penerapan budaya religius dalam meningkatakan kedisiplinan siswa.
B. Kajian Teori
1. Karakter Religius
a. Pengertian Karakter Religius
Karakter religius, terdiri dari dua istilah, yaitu karakter dan religius.Kedua istilah ini sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang dari agama yang dianutnya. Religius adalah bagian dari karakter, sebab terdapat 18 karakter yang diantaranya karakter religius.Berikut adalah pengertian diantara kedua istilah tersebut.
Secara etimologi, Istilah karakter, dalam bahasan Yunani berarti
“charessei” berarti to engrove (mengukir).Karakter diibaratkan mengukir batu permata atau benda-benda keras. Selanjutnya berkembang pengertian karakter sebagai arti tanda khusus atau pola perilaku. Doni Koesoema selaku Founder Pendidikan Karakter Education Consulting menyebutkan karakter sebagai sebuah keribadian yang dimiliki indivudu sejak lahir.19 Sedangkan menurut Nurcholish madjid, karakter berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan normal.Orang yang berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral tertentu.20
Dalam kamus Poerwadarminta sebagaimana dikutib oleh Nurudin Karim, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, akhlak, sifat-sifat rohani atau budi pekerti yang dapat membedakan dengan orang lain.
Sementara pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik, sehingga mereka memiliki nilai dan karakter dalam dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupanya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang relegius, nasionalis, prosuktif dan nasionalis.21
Sedangkan menurut Thomas Lichona dalam bukunya Education for Charakter secara terminologis mengartikan bahwasanya karakter merupakan watak batin yang dapat digunakan untuk menanggapi
19 Doni Koesoema, Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (Jakarta: Grasindo, 2007), 80.
20 Kosim, M. (2011).Urgensi pendidikan karakter. KARSA: Journal of Social and Islamic Culture, 84-92.
21Nurudin Karim, Pendidikan Karakter. Shautut Tarbiyah, Vol. 16 No. 1, 2010, 71
situasi apapun dengan cara yang baik sesuai dengan nilai moral yang berlaku. Karakter terdiri dari nilai operatif, dan nilai dalam tindakan.22
Sehingga dapat kita artikan pendidikan karakter adalah proses mengukir atau memahat barang keras dengan sedemikian rupa, sehingga dapat terbentuk bentuk yang unik, tanda khusus yang membedakan dengan yang lain. Ibarat angka yang tak akan pernah sama dengan satu sama lain, begitupun orang yang berkarakter dapat berbeda satu sama dengan yang lain (termasuk karakter baik dan karakter tercela) dan mampu manggapi sesuatu apapun dengan cara yang baik sesuai dengan nilai moral yang berlaku.
Terkait makna pendidikan karakter Raharjo,memaknai pendidikan karakter sebagai sebagai proses pendidikan yang holistik yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dikehidupan peserta didik sebagai sebuah pondasi untuk membentuk generasi yang berkualitas.23 Sedangkan menurut Thomas Lichona sebagaimana dikutib oleh Agus Wibowo, bahwa pendidikan karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkuan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Seorang individu yang mampu membuat sebuah keputusan dan siap bertanggungjawab setiap akibat dari keputusan yang diambil adalah termasuk individu yang yang berkarakter
22 Thomas Lichona, Education For Character: How Our School Can Teach Respect And Responsbillty,Penerjemah Juma Abdul Wamoungo, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), 81.
23 Raharjo, “Pendidikan karakter sebagai upaya menciptakan akhlak mulia”.Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, (Jakarta: Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional, Vol. 16 No.
3, Mei 2010), 233.
baik.Sementara, pendidikan karakter adalah budi pekerti plus, yaitu melibatkan aspek pengetahuan (cognitive).Perasaan (feeling), dan tindakan (action).24 Tanpa ketiga aspek ini, maka selayaknya pendidikan karakter tidak akan efektif. Lanjut Agus Wibowo, dengan pendidikan karakter yang ditetapkan secara sistematis, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini menjadi bekal penting dalam mempersiapkan anak dalam menghadapi perkembangan zaman dengan segala tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Sofyan Tsauri mengartikan pendidikan karakter sebagai sebuah usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai etika, baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga masyarakat atau warga negara secara keseluruhan.25
Pendidikan karakter yang kemudian disebut dalam karakter islami lebih akrab disapa dengan akhlak, kepribadian atau watak yang dapat dilihat dari perbuatannya baik dalam bersikap, bertutur kata yang kesemuannya melekat dalam diri seseorang. Menurut Agus Wibowo, mengutip beberapa pemikir muslim yang gencar menyuarakan akan pentingnya pendidikan karakter, diantaranya: Ibnu Miskawaih dalam bukunya yang berjudul Tahdzid al-Akhlaq mengemukakan pentingnya akhlak yang tertanam dalam diri manusia, dan mengimplementasikan
24 Agus wibowo, Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2017), 33.
25 Sofyan Tsauri, Pendidikan Karakter, Peluang dalam Membangun Karakter Bangsa, (Jember: IAIN Jember Press, 2015), 43-44.
dalam segala tindakannya secara langsung. Akhlak, lanjut menurut Ibnu Miskawaih merupakan “keadaan jiwa yang menyebabkan seseorang bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu”.Beliau menyebutkan ada dua sifat dalam diri manusia, yaitu sifat jiwa pengecut dan sifat jiwa cerdas bisa juga bermakna sifat baik dan buruk. Menurut Ibn Qoyyim, akhlak adalah perangai atau tabi’at yaitu ibarat dari suatu sifat batin dan perangai jiwa yang dimiliki oleh semua manusia. Sedangkan menurut al-Ghazali, akhlak adalah sifat atau bentuk keadaan yang tertanam dalam jiwa, yang dari padanya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa perlu dipikirkan dan dipertimbangkan terlebih dulu.26
Adapun pendidikan karakter secara ringkas berdasarkan definisi sebagaimana diuraikan oleh para tokoh diatas adalah pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur kepada peserta didik, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, dan berbangsan dan berbegara. Nilai-nilai moral yang ditanamkan memang sangat diperlukan diera sekarang ini, untuk membina dan membekali manusia agar dapat membedakan baik dan buruk serta perbedaan diantara mereka dengan makhluk-makhluk yang lain.
Sedangkan dimensi religius merupakan nilai karakter yang berhubungan langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa. Karakter ini beraitan dengan cara berpikir, perkataan dan tindakan seseorang
26 Ibid, Agus wibowo, Pendidikan Karakter, 32.
dalam kehidupannya senantiasa diupayakan untuk tidak lepas dan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan ajaran agama yang dianutnya.
Agama bukanlah sesuatu tunggal melainkan terdiri dari dua aspak.
Dalam psikologi agama, agama terdiri dari dua aspek yang disebut aspek kesadaran beragama (religious consiousness) yang merupakan sebuah keyakinan akan sebuah ajaran agama yang timbul dalam diri seseorang ang dilakukan dalam diri seseorang dan aspek pengalaman beragama (religious experiences) yang merupakan perilaku beragamaan seseorang yang dilakukan dalam kehidupan sosialnya.27
Karakter religius menduduki urutan pertama dalam 18 karakter yang menjadi tujuan berdasarkan rumusan Kementerian Pendidikan Nasional. Nilai religius adalah ketaatan seseorang dalam memahami dan melaksanakan perintak ajaran agama yang telah dianut, termasuk bagaimana seseorang dapat hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dan bertoleransi terhadap pelaksanaan ibadah dari agama atau kepercayaan yang lain dalam kehidupan sosialnya.28
Religi berasal dari bahasa asing yaitu religion yang berarti agama atau kepercayaan akan adanya sesuatu kekuatan kodrati di atas manusia. Sedangkan religius berasal dari kata religious yang merupakan sifat religi pada diri seseorang. Kata religius biasa diartikan agama.Sedangkan menurut Frezer, agama adaah sistem
27 Sitin Nur Khasanah dan Zainal Arifin, Kepemimpinan Siswi dalam Penerapan Nilai- Nilai Religiusitas di Madrasah Mu’alimmat Muhammadiyah Yogyakarta, (Manageria: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Volume 2, Nomor 1, Mei 2017), 10.
28 Kementerian Pendidikan Nasional dalam Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter:
Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan, (Jakarta: Prenadamedia Gruop, 2011), 74.
kepercayaan yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan tingkat kognitif seseorang.29 Maka, dapat dipahami bahwa agama yang menjadi tiang hidup manusia untuk menuju perubahan sesuai dengan tingkat pemahaman mereka, khususnya dalam perubahan dan perkembangan kebaikan.
Karakter religius merupakan karakter yang selalu menyandarkan kehidupan manusia kepada agama. Agama dijadikan panutan dalam setiap tutur kata, sikap, maupun perbuatannya dengan menjalankan segala peritah-Nya dan menjauhui segala larangan-Nya.30 Ajaran agama Islam mengajarkan bahwa segala aspek kehidupan harus berlandaskan dengan ajaran Islam.
Dari beberapa uraian tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa karakter religius merupakan sifat-sifat yang alamiah, sifat kejiwaan yang diwujudkan dalam perilaku atau perbuatan reflek tanpa berpikir, akhlak yang digunakan dalam menanggapi suatu sutuasi dalam kehidupan nyata sehari-harinya mampu untuk bekerja sama dan menciptakan hubungan yang harmonis dengan Tuhan Yang Maha Esa, antar sesama manusia, lingkuan bahkan dengan diri sendiri.
Akhlak mempunyai kedudukan yang penting dan dapat dianggap mempunyai fungsi yang vital dalam memandu kehidupan masyarakat.
Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an surat An-Nahl
29 Chusnul Chotimah dan M. Fathurrohman, Komplemen Manajemen Pendidikan Islam:
Konsep Intregratif Manajemen Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Teras, 2014), 338.
30 Alivermana Wiguna, Isu-isu Kontemporer Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Deepublish, 2014), 161.
ayat 90 sebagai berikut:
Artinya:”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Hahl (16) : 90)31
Pembentukan karakter dapat dimulai sejak dini, sehingga mudah terbentuk. Sebenarnya pembentukan bukan hanya tugas guru tetapi orang tua pun sangat berperan. Pembentukan karakter memerlukan pembiasaan. Artinya sejak dini anak mulai dibiasakan mengenal mana perilaku atau tindakan yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan mana yang tidak sehingga diharapkan pada gilirannya menjadi sebuah kebiaasaan. Perlahan-lahan sikap/nilai-nilai luhur yang ditanamkan tersebut akan terinternalisasikan ke dalam dirinya dan terbentuk kesadaran sikap dan tindakan sampai usia dewasa.32 b. Tujuan Pembentukan Karakter Religius
Pembantukankan karakter bertujuan membentuk dan membangun pola pikir, sikap dan perilaku peserta didik agar menjadi pribadi yang positif, berakhlakul karimah, berjiwa luhur, dan bertanggung jawab.
31 Prof.Dr. Wahbah Zuhaili, Ensiklopedia Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2007), 278.
32 Amri, dkk,Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran, (Jakarta: PT Pustakarya, 2011), 42.
Dalam konteks pendidikan, pembentukan karakter adalah membantu siswa-siswa mengalami, memperoleh, dan memiliki karakter kuat yang diinginkan.33 Jadi pembentukan karakter bukan berhenti pada tahap kognitif saja melainkan harus menyeluruh hinga menyentuh pengalaman nyata dan terimplementasi dalam sikap yang ditunjukan dalam kehidupan sehari-hari seorang individu.
Sedangkan menurut ajaran Islam, Rasulullah Muhammad Saw, Sang Nabi terakhir dalam ajaran Islam, juga menegaskan bahwa misi utamanya dalam pendidikan manusia adalah untuk mengupayakan pembentukan karakter yang baik (good character). Berikutnya, ribuan tahun setelah itu, rumusan tujuan utama pendidikan tetap pada wilayah serupan, yakni pembentukan kepribadian manusia yang baik.34
Menurut Kemendiknas sebagaimana yang dikutib Agus Zainal Fikri, tujuan pendidikan karakter antara lain:
1) Mengembangkan potensi kalbi/naruni/efektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki budaya- budaya dan karakter bangsa.
2) Mengembangkan pembiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan trandisi budaya bangsa yang religius.
33 Agus Zaenul Fitri, Reinventing Human Charakter : Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), 22.
34 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Prespektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017), 30.
3) Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tangung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.
4) Mengmbangkan kemampuan peserta didik untuk menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan.
5) Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh dengan kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.
c. Landasan Pembentukan Karakter 1) Landasan Religius
Manusia memiliki dua potensi dalam dirinya, yakni baik dan buruk. Di dalam Al-Qur’an surah As-Syams (91): 8 dijelaskan dengan istilah Fujur (celaka/fasik) dan takwa (takut kepada Tuhan). Manusia mempunyai dua kemungkinan jalan, yaitu menjadi makhluk yang beriman atau ingkar terhadap Tuhannya.
Sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut:
Artinya: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (As-Syams (91 : 8)35
Berdasarkan ayat diatas manusia mempunyai dua potensi untuk menjadikan dirinya hamba yang baik (positif) atau buruk (negatif), menjalankan perintah Tuhanya, atau melanggar
35 Prof.Dr. Wahbah Zuhaili, Ensiklopedia Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2007), 596.
larangan-Nya, menjadi orang yang beriman atau kafir, mukmin atau musyrik.
Dalam firman Allah SWT yang lain juga dijelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang sempurna, akan tetapi ia bisa menjadi makhluk yang hina dan bahkan lebih hina daripada binatang. Sebagaimana keterangan Al-Qur’an berikut:
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (QS. At- Tiin (95): 4-5)36
2) Landasan Konseptual
a) Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 2007 tentang RJPN
“Tujuan pembangunan jangka panjang tahun 2005-2025 adalah mewujudkan bangsa yang maju, mandiri, dan adil sebagai landasan bagi tahap pembangunan berikutnya menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.Salah satu ukuran tercapainya Indonesia yang maju, mandiri dan adil adalah terwujudnya masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab.”37
b) Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
36 Prof.Dr. Wahbah Zuhaili, Ensiklopedia Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2007), 598.
37 Undang-undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Nasional.
“Pendidikan Nasional berfungsi mengmbangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsayang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”38
d. Prinsip Pembentukan Karakter
Karakter itu tidak dapat dikembangkan dengan secara cepat dan segera (instant), tetapi harus melewati suatu proses yang panjang, cermat dan sistematis. Oleh karena itu, prinsip pembelajaran yang digunakan dalam mengembangkan pendidikan karakter harus dapat mengusahakan peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai karakter sebagai bentuk tanggung jawab mereka atas keputusan yang diambilnya.
Sebagaimana yang diutarakan Dasim Budimasyah yang dikutib oleh Abdul Majid, berpendapat bahwa pendidikan karakter perlu dikembangkan dengan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:39 1) Berkelanjutan, mengandung makna bahwa proses pengembangan
nilai-nilai karakter bangsa merupakan sebuah proses panjang dimulai dari awal peserta didik sampai selesai dari satuan pendidikan.
2) Memulai semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya satuan pendidikan bermasyarakat bahwa proses pengembangan
38Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 2 Pasal 3.
39 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Prespektif IslamI, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2017), 109-110.
nilai-nilai karakter bangsa dilakukan melalui kegiatan kurikuler setiap mata pelajaran, ko-rikuler dan ekstra kurikuler.
3) Nilai tidak diajarkan, tetapi dikembangkan melalui proses belajar yang mengandung makna bahwa materi nilai-nilai karakter bukanlah bahan ajar biasa.
4) Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan. Prinsip ini menyatakan bahwa proses pendidikan karakter dilakukan oleh peserta didik bukan guru. Guru menerapkan prinsip “tut wuri handayani” dalam setiap perilaku yang ditunjukkan oleh peserta didik. Prinsip ini juga menyatakan bahwa proses pendidikan dilakukan dalam suasana belajar yang menimbulkan rasa senang dan tidak indoktrinatif.
e. Nilai-nilai Karakter Religius
Pendidikan yang sangat menekankan pada nilai-nilai religius adalah pendidikan karakter religius, misalnya nilai ibadah, nilai jihad, nilai amanah, nilai ikhlas, akhlak dan kedisiplinan serta keteladanan.
Dalam proses belajar mengajar sebenarnya indikator-indikator nilai religius terletak pada cakupan memberi salam, menyapa, berdoa sebelum dan sesudah beraktivitas, melaksanakan ibadah-ibadah keagamaan, dan merayakan hari-hari besar keagamaan.40
Pendidikan karakter berbasis nilai religius secara spesifik mencakup pada pokok-pokok ajaran dasar yang ada di dalam agama
40 Jamal Ma’mur Asmani, Buku panduan Iternalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Jakarta: DIVA Press, 2013), 37.