• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cara Mengurangi Residu Pestisida

BAB II KAJIAN TEORI

2.1. Landasan Teori

2.1.9. Cara Mengurangi Residu Pestisida

Untuk masyarakat pada umumnya, pemasukan pestisida terutama melalui makanan. Adanya efek lanjut jangka panjang karena dosis rendah yang berulang-ulang mengharuskan usaha penurunan tingkat residu pestisida dalam

22 makanan sampai tingkat yang serendah-rendahnya. Usaha ini dapat dilakukan dilapangan dan penanganan pasca panen.

Usaha mengurangi residu pestisida di lapangan dapat dilakukan dengan berbagai cara (Nugrohati dan Untung, 1986) yaitu:

1. Pemilihan jenis insektisida yang efektif terhadap hama, aman bagi manusia dan lingkungan serta memiliki persistensi yang rendah, sehingga meninggalkan residu serendah mungkin.

2. Penggunaan dan pengembangan jenis-jenis insektisida yang baru, yang lebih spesifik dan aman seperti insektisida biologis, Insect Growth Regulator, atraktan dan lain-lain.

3. Penggunaan dosis dan cara aplikasi yang tepat sesuai dengan rekomendasi.

4. Frekuensi penyemprotan pestisida dikurangi, hanya apabila perlu, yaitu sewaktu jumlah populasi hama melebihi tingkatan yang merugikan secara ekonomis.

2.1. 10. Tanaman Tomat (Lycopersicum commune)

Budidaya tomat dapat dilakukan pada daerah dengan ketinggian tempat 0–1.250 m dpl (diatas permukaan laut). Curah hujan sesuai dengan pertumbuhannya adalah 750–1.250 mm/tahun. Di daerah beriklim basah tomat mudah terserang penyakit layu Fusarium. Sesuai dengan jenis varietas yang diusahakan pertumbuhan optimal dengan suhu siang hari 24oC dan malam antara 15–20oC. Pada temperatur diatas 32oC warna buah tomat cenderung kuning, dan didaerah bersuhu 24oC warna buah tomat bewarna merah, dan suhu tidak stabil warna buah tomat tidak merata (Cahyono, 2008).

23 Pemeliharaan Tomat

Tanaman tomat memerlukan unsur hara makro: N, P, K, Ca dan Mg serta unsur mikro Zn dan B. Untuk memperbaiki pertumbuhan dan posisi tumbuhnya tegak dipasang turus (ajir) dan untuk meningkatkan hasil dilakukan pemangkasan anak cabang. Penanaman sebaiknya memakai mulsa plastik perak hitam untuk mengurangi gulma. Tanaman tomat memerlukan air yang banyak untuk pertumbuhan dan perkembangan dan sifat fisik buah tomat yang dihasilkan (Wiryanta, 2008).

Hama dan Penyakit Utama Tomat

Hama utama sering ditemukan merusak tanaman tomat antara lain: Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hunt), ulat penggerek buah (Helicoverpa armigera Hubn), kutu kebul (Bemisia tabaci Genn), ulat grayak (Spodoptera litura F.), dan ulat jengkal (Plusia sp). Sedangkan penyakit utama yang ditemukan pada tanaman tomat adalah sebagai berikut: layu bakteri (Ralstonia solanacearum), bercak coklat (Alternaria solani). layu cendawan (Fusarium oxysporum), busuk daun (Phytophtora infestans), mosaik virus disebabkan virus marmor tabaci holmes (Cahyono, 2008).

Standar Operasional Penggunaan Pestisida

Sesuai dengan prinsip-prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, yang telah dijabarkan lebih lanjut dalam Peratuiran Pemerintah No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman maupun Keputusan Menteri Pertanian Nomor 887/Kpts/OT.210/9/97 Tentang Pedoman Pengendalian OPT. Penggunaan pestisida dalam pengendalian OPT

24 merupakan alternatif terakhir. Pengertian alternatif terakhir adalah apabila semua teknik/cara pengendalian yang lainnya (misalnya cara bercocok tanam, secara biologis, fisik, mekanis, genetik, dan karantina) dinilai tidak memadai.

Pengendalian OPT bertujan untuk menekan serangan OPT guna mempertahankan produksi dengan sistem PHT agar OPT terkendali tanpa merusak tanaman dan lingkungan. Standar pengendalian OPT dilakukan dengan pengamatan dan identifikasi OPT dilahan secara bekala. Tentukan jenis tindakan yang akan dilakukan. Pengendalian OPT dilakukan bila serangan mencapai ambang pengendalian sesuai dengan kondisi serangan dan fase pertumbuhan tanaman sesuai dengan teknik yang dianjurkan seperti pemakaian pestisida (Distan Sumbar, 2010)..

Untuk memperkecil dampak negatif penggunaan pestisida dalam hal ini memperkecil residu pestisida pada hasil pertanian diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pemilihan pestisida yang tepat jenis yaitu sesuai dengan OPT sasaran yang dapat dibaca pada label kemasan.

2. Memilih pestisida yang mudah terurai, jadi yang tidak persisten. Berdasarkan sifat fisiko kimianya pestisida ada yang mudah berubah menjadi senyawa lain disebut non persisten, yang ditentukan oleh waktu paruh (Decomposition Time 50=DT 50), makin pendek waktu paruhnya makin cepat terurai.

3. Cara aplikasi pestisida

a. Waktu aplikasi, aplikasi pestisida hanya dilakukan pada waktu intensitas serangan OPT telah melampaui ambang ekonomi atau ambang pengendalian. Waktu yang tepat untuk penyemprotan adalah pada pagi

25 hari setelah embun hilang sampai jam 10.00 atau sore hari sekitar antara jam 15.00-17.00. Penyemprotan dilakukan sesuai dengan arah angin dan tidak dilakukan penyemprotan kalau hari hujan.

b. Dosis aplikasi, yang digunakan adalah dosis dan konsentrasi minimum yang efektif terhadap OPT sasaran seperti yang dicantumkan dalam kemasan. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan pestisida tidak berlebihan, karena dapat menimbulkan dampak negatif terhadap tingginya residu, mempercepat resistensi hama dan pencemaran lingkungan.

c. Sasaran aplikasi perlu diupayakan semaksimal mungkin, aplikasi pestisida harus pada sasaran yang tepat yaitu pada bagian tanaman yang terserang atau bagian dimana adanya OPT.

d. Aplikasi pestisida yang terakhir diusahakan sejauh mungkin sebelum panen. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu hasil tanaman dipanen sebagian besar pestisida sudah terurai, sehingga residunya hanya sedikit.

Jangan mengaplikasikan pestisida menjelang atau setelah panen, kecuali pada kondisi tertentu yang memang memerlukan aplikasi.

e. Tidak menggunakan bahan perekat. Bahan perekat adalah bahan tambahan (ajuvan) yang dijual secara terpisah dari pestisida yang bertujuan supaya pestisida tidak tercuci oleh hujan.

f. Alat dan teknik aplikasi yang tepat. Alat aplikasi antara lain penyemprot (sprayer), penghembus (duster) dan fogger disesuaikan dengan jenis pestisida.

26 Nilai Gizi dan Manfaat Tomat

Menurut Musadad dan Hartuti (2002), buah tomat memiliki potensi kegunaan yang banyak antara lain: bisa digunakan sebagai buah meja, makanan, minuman, sayuran, bumbu masak, bahan pewarna, bahan kosmetik dan obat-obatan. Akhir ini ditemukan bahwa buah tomat segar dapat membangkitkan selera makan bagi penderita “aneroksia” (hilangnya nafsu makan akibat stress) dan keroten yang terkandung didalamnya dapat menghambat perkembangan sel kanker.

Tomat tergolong sayuran buah banyak digemari karena rasanya enak, segar dan sedikit asam, serta mengandung zat gizi berguna bagi kesehatan.

Buah tomat mengandung vitamin A, C dan B, protein, lemak, karbohidrat, serta mineral tertentu yang berguna bagi tubuh (Direktorat Gizi Depkes RI, 1990), komposisi nilai gizi dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Tabel 1. Komposisi nilai gizi buah tomat segar per 100 gram buah tomat.

Zat kimiawi yang terkandung Jumlah dalam tiap jenis Tomat muda Tomat masak Air (g)

Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Mineral: Kalsium (mg) Fosfat (mg) Besi (mg) Vitamin : A (Si) B1 (mg) C (mg) Energi (kal)

93,00 2,00 0,70 2,30 5,00 27,00 0,50 320,00 0,70 30,00 23,00

94,00 1,00 0,30 4,20 5,00 27,00 0,50 500,0 0,06 40,00 20,00 Sumber: Direktorat Gizi Dept. Kesehatan RI (1990)

27 Seperti sayuran lain, komponen tertinggi dari buah tomat adalah: air yaitu ±93%, umumnya mengakibatkan daya simpan yang rendah, dan mudah busuk. Jadi perlu penanganan pasca panen.

Penanganan Pasca Panen Tomat

Penanganan pasca penen buah tomat menurut Musadad dan Hartuti (2002) meliputi antara lain:

1. Meliputi sortasi, pencucian, pelilinan, pengemasan, pengangkutan dan penyimpanan.

2. Pengolahan, dalam bentuk pasta, saus, manisan, dodol dan juice.

Panen

Kriteria masak petik optimal menurut Musadad dan Hartuti (2002) ditentukan berdasarkan antara lain: (1) Visual (warna, bentuk, ukuran); (2) Fisik (mudah dipetik); (3) Analisis kimia (kadar gula, asam dan pati); (4) Komputasi (jumlah hari tanam atau setelah bunga mekar), (5) Fisiologis (jumlah rongga, kekentalan cairannya).

Berdasarkan visual antara lain: (a) Tumbuhnya warna gading pada buku buah tomat; (b) Jika buah di belah bijinya menyamping, dan (c) Di sekitar biji terdapat lendir yang licin.

Dokumen terkait