Bab II Reduksi Individualisme dalam Era Globalisasi
D. Cara untuk Mengatasi Sikap Individualisme
D. CARA UNTUK MENGATASI SIKAP INDIVIDUALISME
2. Menanamkan nilai-nilai Pancasila
Presiden Soekarno pada saat berpidato dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 1 Juni 1945, pernah mengatakan mengenai pentingnya bangsa Indonesia memiliki sebuah “philosofische gronslaag”
atau filosofi dasar yang memuat pandangan tentang dunia dan kehidupan (weltanschauung). Menurutnya dasarnegara dan ideologi nasional tersebut, merupakan suatu hal yang abadi yang harus tetap dipertahankan selama berdirinya negara Kementrian komunikasi dan informatika RI 2011. Ungkapan dari presiden pertama sekaligus Proklamator Republik Indonesia tersebut, jelas memperlihatkan mengenai pentingnya dasar negara dan ideologi nasional sebagai landasan berdiri dan tegaknya sebuah negara.
Oleh sebab itu, perumusan dasar negara Indonesia dilakukan melalui penggalian yang mendalam terhadap pandangan hidup dan falsafah hidup bangsa Indonesia yang mencerminankan nilai-nilai peradaban, kebudayaan, dan keluhuran budi yang mengakar dan teranyam dalam kehidupan bangsa Indonesia.
Hal itu pulalah yang kemudian menjadi landasan dari lahirnya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia.
Sebagai dasar negara, Pancasila menjadi norma dasar dalam penyelenggaraan bernegara, sekaligus menjadi sumber dari segala sumber hukum yang menjadi cita-cita hukum (recht- idee) dan cita – cita bersama (staats-idee) bangsa Indonesia.
Sebagai Ideologi atau pandangan hidup, nilainilai Pancasila merupakan pedoman dan pegangan dalam pembangunan bangsa dan negara, agar tetap berdiri kokoh dan mengetahui
arah dalam memecahkan berbagai masalah sepertiideologi, politik, hukum, ekonomi,sosial-budaya dan lain sebagainya.
Sebagai jiwa dan kepribadian bangsaIndonesia, nilai-nilai Pancasila mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, sebab nilai dasarnya merupakan hasil kristalisasi dari nilainilai budaya bangsa Indonesia asli bukan diambil dari bangsa lain, yang mencerminkan garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia sepanjang masa.58
Nilai-nilai pancasila yang sekarang ini mulai pudar harus dibangkitkan lagi khususnya untuk jiwa-jiwa muda, karena Pancasila sebagai filter dari dampak negatif globalisasi, yang sekarang semakin mengancam generasi muda.
3. Mempertahankan budaya gotong royong
Di era globalisasi saat ini, juga dijumpai bentuk gotong royong yang lain, seperti penggalangan dana dengan penyebaran lewat jejaring sosial (sperti koin untuk Prita, Koin Cinta Bilqis, dan lain-lain). Namun, juga terdapat bentuk tradisi gotong royong yang mulai sulit dijumpai, salah satunya kegiatan kerja bakti. Kerja bakti telah menjadi kebudayaan di Indonesia.
Tradisi yang sudah diterapkan sejak nenek moyang kita itu selalu menjadi elemen penting dalam pembangunan serta menjadi salah satu hal yang bisa dibanggakan di negeri ini. Karena budaya yang masih bertahan ialah budaya yang memiliki fungsi untuk masyarakat. Maka tradisi ini selayaknya perlu direvitalisasi kembali dikarenakan fungsinya yang cukup
58 Ibid., 169-170.
penting, dan akan sangat disayangkan apabila tradisi ini menghilang tertelan masa.
Kerja bakti yang merupakan salah satu perwujudan gotong royong mempunyai arti penting di masyarkat. Jika kita perhatikan suasana kerja bakti penuh dengan kekeluargaan.
Tidak ada rasa saling iri atau bahkan merasa tertekan dalam melakukan pekerjaan, karena semuanya dilandasi dengan rasa senang dan penuh dengan suasana kekeluargaan.59
Namun, tradisi kerja bakti yang dulu sering dilaksanakan oleh masyarakat terutama di perdesaan, kini semakin jarang ditemui. Perlahan-lahan tradisi leluhur bangsa tersebut mulai pudar seiring berjalannya waktu.Meski pasang-surut masih dapat ditemui keberlangsungan tradisi kerjabakti desa, walau hanya beberapa desa saja yang masih memberdayakan salah satu nilai kearifan lokal tersebut.
Lunturnya nilai-nilai kearifan lokal bangsa tersebut dikarenakan oleh sifat keegoisan masing-masing individu.
Pengaruh buruk globalisasi telah mencetak generasi yang individualis, cenderung menomorsatukan kepentingan pribadi dibanding dengan kepentingan bersama. Maka dari itu budaya gotong royong harus dipupuk kembali. Dengan adanya budaya gotong royong ynag masih dipertahankan akan meningkatkan kepedulian terhadap orang lain dan masyarakat sekitar.
Menurut Khan pendidikan karakter adalah proses kegiatan yang dilakukan dengan segala daya dan upaya secara sadar dan terencana untuk mengarahkan anak didik. Pendidikan
59 Achsannanda Amaulyta Sari, “Menegakkan Tradisi Kerja Bakti Sebagai Bentuk Revitalisasi Nilai Gotong Royong”( Universitas Airlangga), 4-5.
karakter juga merupakan proses kegiatan yang mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan budi harmoni yang selalu mengajarkan, membimbing, dan membina setiap menusia untuk memiliki kompetensi intelektual, karakter, dan keterampilan menarik. Nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat dihayati dalam penelitian ini adalah religius, nasionalis, cerdas, tanggung jawab, disiplin, mandiri, jujur, dan arif, hormat dan santun, dermawan, suka menolong, gotong-royong, percaya diri, kerja keras, tangguh, kreatif, kepemimpinan, demokratis, rendah hati, toleransi, solidaritas dan peduli. Ada sembilan pilar yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu :
1. Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya 2. Kemandirian dantanggung jawab
3. Kejujuran (amanah) 4. Hormat dan santun
5. Dermawan suka menolong dan gotong royong 6. Percaya diri dan pekerja keras
7. Kepemimpinan dan keadilan 8. Baik dan rendah hati
9. Karakter toleransi, kedamaian dan kesatuan
Kesembilan karakter itu, perlu ditanamkan dalam pendidikan holistik dengan menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Hal tersebut diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan/
mencintai dan sekaligus melaksanakan nilai-nilai kebajikan. Bisa dimengerti, jika penyebab ketidakmampuan seseorang untuk berperilaku baik, walaupun secara kognitif anak mengetahui,
karena anak tidak terlatih atau terjadi pembiasaan untuk melakukan kebajikan.60
Indikator globalisasi adalah : Indivisualisme, mengutamakan kepentingan diri sendiri.Sosial dan budaya, pada era global, percampuran antara berbagai budaya tampaknya sulit untuk dihindari, sebagai akibat dari interaksi manusia antar bangsa yang berbeda budaya. Dalam interaksi tersebut, masing-masing akan berusaha mempertahankan budayanya dan berusaha mempenetrasikan kepada bangsa lain.Ekonomi, dampak globalisasi ekonomi, globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara diseluruh dunia menjadu satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara
Individualisme dinilai cenderung “merugikan” kehidupan bersama. Kalau alasan itu dikemukakan, rupanya tidak realistis, karena sama dengan kolektivisme, didalam konteks sosial individualisme juga memiliki posisi dan fungsi yang mutlak menentukan terhadap kelangsungan kehidupan bermasyarakat.
Tenpa individu dengan segala potensinya, kehidupan masyarakat tidak mungkin ada dan apalagi berkembang.
Untuk menanggulangi sikap individualisme dalam era Globalisasi maka perlu adanya pendidikan / penanaman nilai pancasila, nasionalisme, dan sikap gotong royong.
60 Muhammad Ali Ramadhani, Lingkungan Pendidikan dalam Implementasi Pendidikan Karakter, (Bandung: Jurnal Pendidikan, Vol.8, No,1, 2014)