• Tidak ada hasil yang ditemukan

CO-BENEFITS DALAM MITIGASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM

R U K U H S E T I A D I D A N S A L M A Z U L F A N A D H I R O H

Pendahuluan

Co-benefits menjadi sebuah istilah baru yang menjadi popular ketika wacana mengenai pentingnya respon terhadap perubahan iklim mulai diwujudkan dalam praktik nyata di lapangan. Pernyataan yang selalu digarisbawahi oleh berbagai lembaga dan pakar perubahan iklim yaitu bahwa kegiatan mitigasi perubahan iklim tidak hanya memberikan manfaat pada penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), tetapi juga menghasilkan co-benefits. Begitu pula dengan kegiatan adaptasi yang tidak hanya menghasilkan sistem atau masyarakat yang semakin memiliki ketahanan, tetapi juga co-benefits pada sistem yang lebih luas. Jadi apa yang dimaksud dengan co- benefits? Di antara berbagai definisi, co-benefits secara umum dapat dikatakan sebagai manfaat tidak langsung atau manfaat sekunder yang dihasilkan dari sebuah kebijakan, program atau kegiatan yang telah direncanakan. Bab ini bertujuan membahas “co-benefits” dari suatu kebijakan, program, dan aksi adaptasi serta mitigasi perubahan iklim yang seringkali juga beririsan dengan intervensi penguatan ketahanan dalam konteks pembangunan perkotaan.

Definisi Co-benefits

Co-benefits memiliki berbagai istilah yang biasa digunakan dalam berbagai literatur. Floater et al. (2016) mengkompilasi lebih dari dua puluh istilah yang terasosiasi dengan co-benefits, beberapa di antaranya yaitu win-win situations, life-cycle benefits, co-control, side benefits, triple-win scenarios, dan consequential benefits. Namun, di antara berbagai istilah tersebut co-benefits tetap menjadi satu yang

paling populer dan relatif praktis. Di samping popularitas dan kepraktisannya, sejumlah pihak mendefinisikan co-benefits melalui sudut pandang dan konteks yang berbeda-beda.

Lembaga Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (US EPA) dan Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), misalnya, melakukan konseptualisasi co-benefits dalam konteks kualitas udara (Floater et al., 2016). Co-benefits berkaitan dengan pengurangan emisi gas rumah kaca bersamaan dengan manfaat kesehatan dan ekonomi yang diperoleh melalui penanganan polusi udara. Atas dasar ini, US EPA menjelaskan bahwa co-benefits adalah manfaat yang didapat secara tidak sengaja ketika melakukan pengambilan kebijakan tertentu (misalnya penanganan polusi udara), dan menemukan co-benefits dalam penerapannya.

Pemahaman semacam ini tidak keliru, tetapi secara konteks yang diambil (peningkatan kualitas udara) menimbulkan kontroversi.

Konsepsi di atas dapat difahami karena secara historis co-benefits memang berkaitan dengan peningkatan kualitas udara. Karim (2019) menyebutkan bahwa studi co-benefits bermula dari eksplorasi metodologis untuk memeriksa langkah-langkah pengurangan polusi terkait konsumsi bahan bakar fosil. Pengukuran eksternal mengenai kebijakan yang dirancang untuk mengendalikan polusi dengan cost- benefits analysis (CBA) menghadapi keterbatasan karena penilaian yang hanya mempertimbangkan biaya dan manfaat langsung dari tindakan, dan efek dari tujuan utama kebijakan. Dari keterbatasan tersebut lahir inisiatif pengembangan metodologi khusus guna memeriksa efek kebijakan pengendalian pencemaran udara, dan selanjutnya menjadi studi awal mengenai co-benefits.

United Nations Institute of Advanced Studies (UN IAS) dan The Asian Co-benefits Partnership (ACP) dalam Floater et al. (2016) memberikan konsep yang sedikit berbeda. UN IAS menyebutkan bahwa co-

benefits merujuk pada pengembangan dan penerapan kebijakan beserta strategi yang secara simultan berkontribusi dalam mengatasi perubahan iklim dan sekaligus turut menyelesaikan permasalahan lingkungan dan masalah pembangunan lainnya. Sementara itu, ACP (2014) menyatakan bahwa co-benefits merepresentasikan manfaat sekunder dari suatu tujuan pembangunan yang terintegrasi ke dalam proses pembuatan kebijakan. Apabila kita cermati, keduanya mengedepankan bahwa co-benefits adalah hasil dari adanya kebijakan yang integratif, mengandung lebih dari satu tujuan (multiple goals), dan komprehensif. Sampai di sini mulai terlihat perbedaan cara pandang dari sejumlah lembaga yang mencoba mendefinisikan co-benefits. Sementara US EPA dan OECD cenderung melihat co-benefits sebagai manfaat yang tidak disengaja (unintended);

UN IAS dan ACP melihatnya sebagai manfaat yang telah direncanakan (intended), sebagai hasil kebijakan yang integratif dan komprehensif.

World Bank mengajukan definisi co-benefits yang cukup berbeda dengan empat lembaga sebelumnya. Dalam latar belakang paper-nya pada 2010, World Bank dalam Floater et al. (2016) mendefinisikan bahwa co-benefits adalah manfaat bagi lingkungan setempat – atau lokal – sebagai hasil dari suatu aksi mitigasi dan adaptasi yang ditargetkan secara khusus untuk mengatasi perubahan iklim global.

Apabila dicermati, frase “aksi yang ditargetkan secara khusus untuk mengatasi perubahan iklim” menjadi penting dan sekaligus pembeda dari definisi-definisi yang lain. Perbedaan cara pandang dalam melihat co-benefits sampai di sini makin berkembang, tidak hanya pada motivasinya (manfaat yang direncanakan vs.

ketidaksengajaan), tetapi juga pada sekupnya (manfaat dari kegiatan iklim vs. kegiatan non-iklim).

Sementara itu, Fung & Jennifer (2017) mencoba menggolongkan definisi co-benefits dalam tiga kategori. Pertama, definisi berbasis tujuan. Dalam kategori ini, co-benefits dapat dilihat sebagai manfaat

sekunder atau manfaat yang dihasilkan di luar tujuan utama dari suatu kebijakan. Definisi ini menggolongkan manfaat yang sudah ada sebelumnya dan/atau yang muncul tanpa kesengajaan tidak tergolong sebagai co-benefits. Intinya co-benefits harus dengan sengaja diartikulasikan sejak awal perumusan tujuan program atau kegiatan.

Sebagai contoh pembanguan danau buatan sebagai pengendali banjir dan ruang sosial untuk masyarakat. Maka dalam konteks ini pengendali banjir adalah manfaat utama dari pembangunan danau, sedangkan terciptanya ruang sosial bagi masyarakat adalah manfaat sekunder. Kedua, definisi berbasis motivasi. Co-benefits didefinisikan sebagai manfaat yang muncul dari tindakan yang disengaja. Maka ketika pengendalian banjir dirancang secara alami dengan tidak membangun danau buatan, tetapi selanjutnya muncul ruang sosial aktivitas masyarakat disana dengan sendirinya maka kemunculan ruang sosial tidak bisa dianggap sebagai co-benefits karena tidak ada motivasi sebelumnya. Ketiga, definisi berbasis eksternalitas. Co- benefit didefinisikan sebagai eksternalitas positif yang diperoleh oleh berbagai pihak di luar target suatu program atau kegiatan. Dengan kata lain, co-benefits menjadi manfaat yang lebih luas atau berbentuk efek limpahan yang positif dari tujuan utama.

Selanjutnya, tidak lengkap rasanya jika pandangan Intergovernmental Panel for Climate Change (IPCC) tidak dibahas. IPCC secara berkala mengeluarkan assessment report (AR) untuk memberikan perkembangan mutakhir terkait keilmuan perubahan iklim, mitigasi dan adaptasi. Konsep co-benefits mulai muncul dalam assessment report kedua (AR2) walaupun pada saat itu masih disebut dengan ancillary benefits (Mayrhofer & Gupta, 2016). Selanjutnya, istilah co- benefits secara literal mulai muncul pada assessment report ketiga (AR3). Pada laporan tersebut, IPCC mengakomodasi semua konsep co-benefits yang ada dengan mengklasifikasikan dua jenis terminologi, yaitu manfaat sekunder yang dihasilkan dari kebijakan yang spesifik terkait perubahan iklim dengan istilah ancillary benefits dan manfaat sekunder yang dihasilkan dari kebijakan lain dengan istilah co-benefits (Karim, 2019; Mayrhofer & Gupta, 2016). Dari sini

terlihat bahwa definisi IPCC juga inklusif, di mana co-benefits mencakup manfaat yang dihasilkan dari berbagai penerapan kebijakan, baik yang secara khusus ditujukan untuk pengelolaan risiko iklim dan kebijakan non-iklim.

IPCC juga mengindikasikan bahwa co-benefits mencakup manfaat sekunder yang diinginkan oleh pembuat kebijakan, maupun manfaat sekunder yang tidak dengan sengaja diperoleh dari penerapan suatu kebijakan. Sejak assessment report keempat (AR4), IPCC menggabungkan kedua terminologi tersebut sebagai co-benefits dan IPCC (2014) masih secara konsisten menggunakan terminologi co- benefits pada assessment report kelima (AR5). Satu yang perlu digarisbawahi menurut IPCC, bahwa co-benefits adalah dampak bernilai positif, bukan negatif. Sampai dengan saat ditulisnya buku ini, IPCC sedang mempersiapkan assessment report keenam (AR6) yang ditargetkan terbit pada 2022. Apakah co-benefits akan diartikulasikan secara berbeda pada laporan tersebut akan menarik untuk dikupas pada kesempatan yang lain. Untuk mengakhiri pembahasan mengenai definisi co-benefits ini, kami menstrukturkan berbagai definisi dan pemahaman atas co-benefits yang telah diuraikan di atas ke dalam Tabel 1. Pemahaman atas co-benefits yang kami bangun berangkat dari domain dan desain program atau kegiatan yang menentukan karakter dan tipe target co-benefits.

Tabel 1. Pendekatan Terstruktur untuk Memahami Co-benefits Domain Program/

Kegiatan

Desain Program Karakter Co-benefits Tipe Target Co-benefits Iklim

(Mitigasi & Adaptasi)

Bertujuan

Tunggal Tidak Disengaja

Co-benefits pembangunan Non-Iklim

(Pembangunan)

Co-benefits Iklim (Reduksi GRK) Iklim

(Mitigasi & Adaptasi)

Bertujuan Ganda (Integratif)

Terencana + Tidak Disengaja

Co-benefits pembangunan Non-Iklim

(Pembangunan)

Co-benefits Iklim (Reduksi GRK)

Mengapa Co-benefits?

Memahami co-benefits menjadi hal yang strategis terutama untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang kurang populer dan relatif kontroversial seperti perubahan iklim. Bagi sejumlah pihak, terutama yang anti terhadap agenda perubahan iklim, perubahan iklim dipandang bukan sebagai kebijakan yang perlu mendapat prioritas dibandingkan dengan agenda pembangunan yang lain karena perubahan iklim terlalu berorientasi jangka panjang sehingga ancamannya dianggap ‘tidak nyata’. Pandangan ‘development first’

juga banyak ditemui, terutama di negara-negara berkembang (Mayrhofer & Gupta, 2016).

Kebijakan yang lebih nyata dalam jangka pendek dianggap lebih prioritas karena dianggap lebih mendesak dan memberikan manfaat.

Dalam situasi tersebut, co-benefits bisa berperan mengubah konstelasi suatu program atau aktivitas karena dua alasan utama. Pertama, co- benefist adalah ‘variable baru’ yang bisa memperjelas pengambilan keputusan. Co-benefits memperjelas manfaat kebijakan baik yang langsung dan tidak langsung. Dengan co-benefits, manfaat sekunder dari sebuah program atau kegiatan bisa tersajikan dengan informasi yang lebih nyata. Begitu pula dengan munculnya gambaran penyelesaian terkait masalah-masalah di masyarakat bisa menjadi penggerak perubahan kebijakan penanganan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Kedua, sejumlah bukti menunjukkan bahwa pengambil kebijakan tertarik untuk mengambil keputusan terhadap perubahan iklim, ketika manfaat tambahan yang lebih luas dari kebijakan tersebut lebih terukur. Begitu pula dari sisi masyarakat. Masyarakat tertarik mengambil tindakan dan lebih mendukung kebijakan pemerintah terkait perubahan iklim ketika manfaat tambahan yang lebih luas dari tindakan tersebut lebih nyata, dan menyentuh kehidupannya sehari-hari (Floater et al., 2016).

Di luar peran strategisnya untuk mengubah konstelasi pengambilan keputusan, co-benefits juga memiliki peran strategis bagi pencapaian target pengurangan emisi. Floater et al. (2016) menyebutkan bahwa secara empiris banyak kebijakan-kebijakan pembangunan yang ditujukan untuk mendorong inovasi, memberikan manfaat ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dapat berpotensi menghasilkan co-benefits berupa pengurangan emisi gas rumah kaca.

Mengakumulasikan co-benefits akan berdampak positif bagi penanganan perubahan iklim, sekaligus mengurangi resistensi atau penolakan daripada ketika kebijakan penanganan perubahan iklim yang ditempatkan sebagai tujuan utama kebijakan pembangunan.

Terakhir, tanpa mengabaikan kompleksitas dalam proses pengembangan kebijakan dan program, wacana dan pemahaman co- benefits yang ada di tengah-tengah para aktor yang terlibat dalam desain kebijakan dan program mungkin bisa menjadi pemicu sinergi dalam menghasilkan kebijakan atau desain program yang lebih integratif. Dengan kata lain, co-benefits bisa membuka apa yang disebut oleh Mayrhofer & Gupta (2016) sebagai jendela integrasi (integration window).

Area Co-benefits

Upaya untuk menjelaskan area-area spesifik, di mana saja co-benefits sering dijumpai adalah tugas yang tidak sulit. Mengapa? Karena co- benefits ada di mana-mana. Terlebih jika kita mengadaposi definisi co- benefits yang bersifat akomodatif (mencakup co-benefits yang terencana dan yang tidak disengaja; co-benefits iklim dan non- iklim/pembangunan). Kajian literatur sistematis yang dilakukan oleh Mayrhofer & Gupta (2016) mengkonfirmasi hal ini. Mereka menunjukkan bahwa terminologi co-benefits atau ‘manfaat sekunder’

telah digunakan dalam berbagai cara. Hal tersebut terjadi karena tidak ada definisi yang tunggal tentang apa sebenarnya arti co- benefits dan para ilmuwan atau pakar seringkali gagal memberikan definisi eksplisit. Mayrhofer & Gupta (2016) mengidentifikasi

contoh-contoh co-benefits dari berbagai bidang, yang dapat dirangkum pada Tabel 2.

Tabel 2. Bidang/Area dan Contoh Co-benefits Bidang Contoh-contoh Co-benefits Iklim • Pengurangan Emisi GRK

• Peningkatan ketahanan terhadap perubahan iklim

Ekonomi

• Peningkatan ketahanan energi

• Pemicu investasi swasta

• Peningkatan kinerja ekonomi

• Penciptaan lapangan kerja

• Menstimulasi perubahan teknologi

• Kontribusi dalam keberlanjutan fiskal

Lingkungan

• Perlindungan sumberdaya lingkungan

• Perlindungan keragamanhayati

• Pelestarian jasa lingkungan

• Perbaikan kualitas tanah

• Pengurangan polusi udara/air

Sosial

• Peningkatan akses energi

• Pengurangan kemiskinan dan kesenjangan

• Kontribusi bagi keamanan pangan dan air

• Peningkatan kesehatan

• Pengurangan tekanan sosial (kebisingan, kemacetan, dll)

Politik dan Kelembagaan

• Kontribusi dalam stabilitas politik

• Peningkatan kualitas kepemerintahan yang demokratis

• Kontribusi dalam kolaborasi antar wilayah Sumber: Mayrhofer & Gupta, 2016

Selanjutnya, sub-bab ini akan memberikan fokus pada co-benefits yang bersumber dari kebijakan dan program perubahan iklim. Salah satu studi co-benefits pada domain ini yang relatif lengkap telah dilakukan oleh C40 Cities dan LSE Cities, London School of Economics and Political Science (Floater et al., 2016). Studi tersebut menghasilkan

pemetaan yang membantu menjelaskan area-area co-benefits dari kegiatan adaptasi dan/atau mitigasi perubahan iklim yang tersebar di tiga belas sektor ke dalam tiga klaster.

Co-benefits dari adaptasi perubahan iklim banyak dijumpai pada sektor (1) kebencanaan, (2) pangan, dan (3) pariwisata, budaya dan olahraga (lihat Gambar 1). Sedangkan co-benefits dari mitigasi perubahan iklim banyak dijumpai pada sektor (1) persampahan, (2) energi, (3) transportasi, (4) lingkungan (kualitas udara), (5) bangunan, dan (6) digital. Adapun sektor guna lahan, kesehatan, air dan pendidikan adalah sektor di mana co-benefits dari kebijakan baik adaptasi maupun mitigasi perubahan iklim dijumpai. Apabila kita cermati lebih lanjut, yang menarik adalah hampir semua sektor- sektor tersebut ada di dalam dan membentuk sebuah kota atau wilayah. Dari sini jelas, co-benefits memiliki potensi sebagai variabel yang perlu dipertimbangkan dalam kegiatan perencanaan wilayah dan kota.

Sumber: Floater et al., 2016

Gambar 1. Pemetaan Berbasis Sektor atas Area Co-benefits Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

Selanjutnya, dengan mengambil satu atau dua ilustrasi kebijakan atau program, kita akan melakukan elaborasi untuk mendapatkan gambaran yang lebih detail area-area co-benefits tersebut pada setiap klaster.

Contoh ilustratif 1 (Mitigasi): Penangkapan gas metana dari kegiatan tempat pembuangan akhir (TPA) yang dikombinasikan dengan mengakhiri pengelolaan sampah dari sistem open dumping dengan sanitary landfill. Kebijakan tersebut adalah contoh yang umum dipakai sekaligus merepresentasikan kegiatan mitigasi perubahan iklim karena secara langsung akan mengurangi konsentrasi GRK dengan mencegah gas metana yang ditimbulkan dari kegiatan TPA masuk ke atmosfer.

Sumber: Kementerian PUPR dalam Kompas.com, 2021 Gambar 4. Sanitary Lanfill di TPA Supit Urang Kota Malang

Dengan asumsi bahwa kebijakan tersebut secara formal dibingkai dalam kerangka mitigasi perubahan iklim, maka pengurangan emisi GRK adalah manfaat utama dari kebijakan tersebut. Sedangkan co-

benefits dari kegiatan tersebut ada di sektor persampahan, energi, dan lingkungan apabila spesifikasi berikut mengikuti:

1. Terkelolanya sampah dengan lebih baik yang mampu memperpanjang usia TPA

2. Dihasilkannya energi alternatif dari hasil tangkapan gas metana 3. Berkurangnya polusi udara dengan peralihan ke sistem sanitary

landfill

Contoh ilustratif 2 (Mitigasi): Peningkatan kuantitas dan kualitas sarana transportasi publik yang dikombinasikan dengan manajemen perparkiran. Kebijakan ini populer terutama di sejumlah kota besar, seperti melalui penerapan Trans Jakarta di DKI Jakarta dan Trans Semarang di Kota Semarang.

Sumber: Dokumentasi Pemerintah Kota Semarang, 2018 Gambar 5. Armada BRT Trans Semarang

Dengan asumsi bahwa penerapan kebijakan ini menjadi bagian dari respon untuk perubahan iklim sesuai dengan Rencana Adaptasi Daerah (RAD), maka pengurangan emisi GRK adalah manfaat utama dari kebijakan tersebut. Sementara co-benefits dari kegiatan tersebut

dapat ditemui di sektor transportasi dan kesehatan, dengan spesifikasi sebagai berikut:

1. Berkurangnya angka kecelakaan lalu lintas

2. Perbaikan kesehatan mental yang timbul akibat kemacetan 3. Berkurangnya ancaman kesehatan pernafasan akibat

berkurangnya polusi udara

Contoh ilustratif 2 lainnya yang serupa di antaranya adalah kebijakan peralihan penggunaan bahan bakar gas yang ramah lingkungan untuk menggantikan penggunaan minyak tanah.

Kebijakan tersebut tidak hanya mampu mengurangi tingkat emisi, tetapi menciptakan co-benefit berupa pengurangan biaya energi oleh rumah tangga. Sementara itu juga kebijakan peningkatan jumlah kendaraan listrik tidak hanya mampu mengurangi tingkat emisi dari sektor transportasi, tetapi juga menghasilkan co-benefit di sektor lingkungan, ekonomi, dan kesehatan. Howden-Chapman et al. (2015) memberikan contoh yang lebih banyak lagi mengenai berbagai intervensi perkotaan melalui retrofitting kota pada sektor kesehatan.

Contoh ilustratif 3 (Adaptasi): Pembangunan infrastruktur pelindung pantai dan revisi aturan pembangunan di wilayah pesisir.

Kebijakan ini merupakan bentuk kegiatan adaptasi yang biasa dilakukan di wilayah pesisir untuk mengantisipasi peningkatan paras muka air laut. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah pengendalian dampak kenaikan air muka laut sehingga terhindarinya wilayah pesisir dari ancaman kenaikan muka air laut dan. Kebijakan tersebut memberikan co-benefits pada sektor ekonomi, ketahanan pangan, pariwisata dan budaya, dengan spesifikasi sebagai berikut:

1. Peningkatan nilai asset yang ada di wilayah pesisir

2. Peningkatan area yang bisa dibudidayakan untuk pertanian

3. Terciptanya ruang publik di sekitar lokasi pembangunan infrastruktur

Sumber: IKUPI, 2016

Gambar 6. Hasil Restorasi Mangrove di Desa Tapak, Tugu, Semarang

Contoh ilustratif 4 (Adaptasi dan Mitigasi): Program rehabilitasi hutan dan lahan kritis. Program ini telah menjadi program dan gerakan nasional dalam rangka pemulihan fungsi ekologis hutan dan lahan yang terdegradasi karena eksploitasi maupun secara alami (seperti kebakaran hutan). Program ini dapat digolongkan berada pada domain sektor lahan atau kehutanan. Program ini dalam perspektif perubahan iklim tergolong sebagai kegiatan adaptasi sekaligus mitigasi. Apabila program ini dibingkai dalam konteks respon perubahan iklim, maka peningkatan luas carbon-sink adalah manfaat utama. Sedangkan co-benefits dari program ini dapat ditemui pada sektor lingkungan, air, dan pendidikan apabila spesifikasi berikut mengikuti:

1. Terciptanya habitat yang memberikan perlindungan keanekaragaman hayati

2. Terpeliharanya sumber mata air di area dan sekitar program 3. Terciptanya aktivitas pendidikan lingkungan di area program

Sumber: BNPB dalam Mongabay, 2020

Gambar 7. Rehabilitasi Lahan Kritis di Kabupaten Bogor Melalui Penanaman Kembali

Contoh ilustratif 5 (Adaptasi dan Mitigasi): Kebijakan pengembangan konsep kota kompak (compact city). Dalam perspektif perubahan iklim, penerapan konsep kota kompak merupakan kebijakan yang mengintegrasikan mitigasi dan adaptasi. Manfaat utama penerapan konsep ini adalah reduksi emisi GRK dengan semakin berkurangnya pergerakan antar zona di dalam kota karena mix-used zoning menjadi elemen utama dalam konsep kota kompak.

Dari sudut pandang adaptasi, manfaat utama yang dituju adalah peningkatan kapasitas adaptasi melalui peningkatan serta efisiensi penyediaan layanan dasar perkotaan (ruang terbuka hijau, air, limbah, energi) yang terintegrasi. Kebijakan tersebut memberikan co- benefits pada sektor ekonomi, kesehatan dan guna lahan dengan spesifikasi sebagai berikut:

1. Peningkatan nilai aset yang merata di seluruh zona-zona perkotaan dengan adanya layanan dasar perkotaan yang terintegrasi

2. Berkurangnya kasus obesitas akibat mobilitas secara aktif pada zona-zona mix-used

3. Peningkatan kesehatan mental masyarakat dengan ruang sosial dan terbuka hijau yang mudah diakses

4. Berkurangnya jumlah masyarakat yang terpapar oleh risiko banjir

Sumber: Kementerian PUPR dalam CNBC Indonesia, 2019 Gambar 8. Konsep Ibu Kota Baru Mengadopsi Green City yang Kompak

Setelah kita berhasil mengidentifikasi co-benefits, menghitung co- benefits menjadi tahapan selanjutnya yang penting. Sub-bab selanjutnya akan menguraikan secara singkat urgensi, prinsip, dan tantangan dalam proses perhitungan co-benefits dalam mendukung terciptanya ketahanan, khususnya di wilayah perkotaan.

Menghitung Co-benefits: Prinsip dan Tantangan

Pengukuran co-benefits relevan baik untuk kota di negara maju dan berkembang. Terdapat sejumlah alasan mengapa co-benefits perlu diukur atau dihitung. Alasan pertama, untuk memastikan bahwa informasi yang dimiliki oleh pengambil kebijakan menjadi semakin luas dan akurat. Semakin luas dan akurat informasi, semakin mudah pula bagi pengambil kebijakan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari suatu kebijakan, program atau opsi-opsi intervensi yang ada.

Prinsip yang digunakan dalam pengukuran co-benefits tidak jauh berbeda dengan valuasi ekonomi, yang merujuk pada upaya memberikan nilai (value) moneter berupa harga (price) baik pada market goods (misalnya kesehatan) dan non-market goods (misalnya udara yang bersih) manfaat sebagai sekunder yang dihasilkan dari suatu program atau kegiatan (Daly & Farley, 2011). Memang, pengukuran co-benefits dari satu program atau kegiatan tentu lebih sederhana daripada pengukuran dalam skala kota. Dalam konteks kota, Floater et al. (2016) menyarankan bahwa pengukuran dapat dikonsentrasikan pada perhitungan di lima sektor strategis yaitu kesehatan, mobilitas, bangunan, sumberdaya dan ekonomi karena kelimanya mencakup elemen penting bagi masyarakat yaitu peningkatan kualitas hidup dengan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Penghitungan co-benefits tidak terlepas dari sejumlah tantangan, sebagaimana kompleksitas valuasi ekonomi pada umumnya, beberapa di antaranya terkait dengan: data dan indikator, metodologi, dan paradigma pengambilan keputusan. Pertama, data terkait indikator yang umumnya digunakan untuk menghitung co- benefits tidak tersedia dan apabila tersedia kadang kala tidak dapat digunakan karena keterbatasan pengetahuan tentang co-benefits (Floater et al., 2016). Namun demikian ketidaktersediaan data menjadi masalah yang utama, sehingga upaya tambahan seperti