PERAN INSTITUSI NON-PEMERINTAH DALAM PENINGKATAN KETAHANAN BANJIR
4) Pentingnya Kemampuan Menyesuaikan Diri untuk Keberlanjutan Pasca Program
Berbicara mengenai kota pesisir, adalah berbicara mengenai tantangan yang bisa didapatkan tidak hanya dari tata kelola kehidupan kota dan masyarakat, tapi juga tantangan global dari peningkatan muka air laut (Buchori et al., 2018). Hal yang berbeda saat berbicara tentang masyarakat tangguh banjir di tepian sungai, tengah kota, bahkan mengarah ke hulu. Adalah lebih banyak menangani pola perilaku masyarakat serta bagaimana tata kelola
limbah dan sampahnya. Perbedaan pendekatan ini tidak kemudian menghilangkan hakikat yang cukup penting dalam proses partisipasi ini, yakni prinsip kesesuaian. Merujuk kembali pada Gambar 6, prinsip tersebut adalah bagian dari pendekatan pengelolaan risiko banjir berbasis komunitas. Betapapun rumitnya tantangan yang dihadapi oleh masyarakat di wilayah rawan bencana, konsep-konsep ketangguhan bencana dan ide perubahan perilaku yang dimasukkan ke dalamnya perlu mengedepankan prinsip tersebut. Kerangka yang dapat menyaringnya adalah konteks lokalitas, penyesuaian dengan prinsip dan nilai yang dianut oleh masyarakat. Drosou et al., (2019) mengaitkan prinsip kesesuaian dengan prinsip proaktif, bahwa tidak seluruh proses partisipasi dimulai dari inisiasi masyarakat (Gambar 10).
Sumber: Drosou et al., 2019
Gambar 10. Representasi Pendekatan Peningkatan Ketangguhan Bencana Banjir Berbasis Komunitas
Organisasi eksternal seperti IKUPI juga dapat proaktif untuk membangkitkan gejolak perubahan dari bawah. Namun, hal ini tidak
dapat berjalan lama jika apa yang diangkat kemudian tidak dibuat beresonansi dengan keseharian masyarakat (kembali ke prinsip kesesuaian). Langkah ini kemudian dibarengi dengan upaya pendekatan di tingkat pemerintah. Melalui proses pelibatan institusi terkait yaitu BPBD Kota dan Kabupaten Semarang sejak awal program, diharapkan apa yang telah diinisiasi melalui program Zurich dan TRANSFORM dapat menjadi pemantik awal serta terus berlanjut ketika program telah berakhir.
Pertanyaan sejauh mana kelangsungan sebuah program pasca
“ditinggalkan” oleh penggeraknya, adalah satu yang cukup wajar diterima oleh lembaga non pemerintah seperti IKUPI. Tiga nilai tadi, dapat menjadi semacam obat penawar untuk meyakinkan bahwa perencana juga bisa mewujudkan perubahan dari level masyarakat selama hal tersebut benar-benar dilakukan dengan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi berbagai pihak untuk berpartisipasi (inklusif), menularkan semangat untuk menjadi proaktif, serta mampu menyesuaikan antara nilai dengan keseharian masyarakat.
Pada akhirnya apa yang menjadi kunci untuk mencapai tujuan besar itu adalah semua pihak yang mau bersama mengubah pola pikir, untuk terus mau belajar dan memperbaiki diri, dan terbuka pula dengan berbagai kerjasama baik antar instansi maupun hierarki.
Ketangguhan adalah konsep yang datang bukan dari internal masyarakat, namun bukan berarti tidak bisa melahirkan semangat dari dalam hati mereka. Tinggal bagaimana masing-masing pemangku kepentingan memaksimalkan peran yang bisa dilakukan.
Penutup
Ketahanan berkaitan erat dengan kapasitas institusi dan sumber daya manusia. Pergeseran paradigma dari reaktif menjadi proaktif membutuhkan kolaborasi dan partisipasi dari berbagai pihak.
Kolaborasi inklusif dilakukan guna mengupayakan aksi-aksi komplementari. IKUPI, selama dua tahun sudah mengupayakannya melalui Program Zurich dan TRANSFORM.
Apa yang kemudian menjadi pekerjaan rumah kita bersama adalah bagaimana proses partisipatif dan kolaboratif yang sudah tercipta di level komunitas ini, dapat diintegrasikan dengan program di level pemangku kepentingan. Membuatnya selaras dengan kebijakan yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan daerah. Lahirnya dokumen-dokumen CBDRM menjadi bukti bahwa masyarakat memiliki kapasitas untuk juga mengambil peran dalam implementasi penanganan risiko bencana di wilayahnya.
Selanjutnya adalah tinggal bagaimana, pihak-pihak terkait dapat proaktif dan membanguan upaya manajemen bencana guna mewujudkan ketahanan masyarakat. Agar kemudian wacana ketahanan kota tidak hanya berhenti pada dokumen, serta keinginan dan kepedulian masyarakat akan manajemen risiko bencana tidak dibiarkan sporadis tanpa koordinasi sistemik dengan kebijakan- kebijakan pada otoritas pemerintahan yang ada di atasnya.
Upaya manajemen risiko bencana tidak dapat terpisahkan berdasarkan batas wilayah administrasi. Pengurangan risiko bencana dapat dioptimalkan jika seluruh pihak dapat bekerja sama dan proaktif melalui proses komunikasi dengan wilayah disekitarnya. Faktor ini menjadi penting mengingat dalam kebencanaan, hubungan sebab akibat juga erat kaitannya dengan kondisi serta upaya pengurangan risiko bencana di wilayah sekitar.
Otoritas yang mengampu koordinasi dan kolaborasi upaya manajemen risiko bencana lintas wilayah harus terlibat aktif membangun strategi antar wilayah. Sinergitas pendekatan bottom-up dan top-down menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam manajemen risiko bencana.
Daftar Pustaka
Arnstein, S. R. (1969), A Ladder Of Citizen Participation. Journal of the American Planning Association, Vol. 35 No. 4, pp. 216–224.
Baas, S., Ramasamy, S., de Pryck, J. D., & Battista, F. (2008), Disaster risk management systems analysis: A guide book. FAO
Environment and Natural Resources Service Series, Vol. 13.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2012), Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum
Desa/Kelurahan Tangguh Bencana, diambil dari https://www.gitews.org/tsunami-
kit/en/E6/further_resources/national_level/peraturan_kepal a_BNPB/Perka%20BNPB%201-
2012_Pedoman%20Umum%20Desa%20Kelurahan%20Tangguh
%20Bencana.pdf
Buchori, I., Pramitasari, A., Sugiri, A., Maryono, M., Basuki, Y., &
Sejati, A. W. (2018), Adaptation to coastal flooding and inundation: Mitigations and migration pattern in Semarang City, Indonesia. Ocean & Coastal Management, Vol. 163 (August), pp. 445–455.
Cox, R. (2010), Environmental and the Public Sphere, 2 ed, United States of America: SAGE Publications, Inc.
Drosou, N., Soetanto, R., Hermawan, F., Chmutina, K., Bosher, L., &
Hatmoko, J. U. D. (2019), Key factors influencing wider adoption of blue-green infrastructure in developing cities.
Water (Switzerland), Vol. 11 No. 6. doi:10.3390/w11061234 Handayani, W., Hapsari, S. P. I., Mega, A., & Sih, S. J. (2019),
Community-based disaster management: Assessing local preparedness groups (LPGs) to build a resilient community in Semarang City, Indonesia. Disaster Advances, Vol. 12 No. 5, pp. 23–36.
Hassenforder, E., Smajgl, A., & Ward, J. (2015), Towards understanding participatory processes: Framework, application and results. Journal of Environmental Management, Vol. 157, pp. 84–95.
Jarvie, J., Sutarto, R., Syam, D., & Jeffery, P. (2015), Lessons for Africa from urban climate change resilience building in Indonesia. Current Opinion in Environmental Sustainability, Vol. 13, pp. 19–24.
KLHK, BNPB, & UNDP. (2017), Konvergensi Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana, Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
Jakarta.
Klijn, F., Van Buuren, M., & Van Rooij, S. A. M. (2004), Flood-risk management strategies for an uncertain future: Living with rhine river floods in the Netherlands? Ambio, Vol. 33 No. 3, pp.
141–147.
Kreimer, A., Arnold, M., & Carlin, A. (Ed.). (2003), Building Safer Cities: The Future of Disaster Risk. Disaster Risk Management Series, Washington DC: The International Bank for
Reconstruction and Development/The World Bank.
Najam, A. (2000), The four C’s of government third sector-
government relations. Nonprofit Management and Leadership, Vol. 10 No. 4, pp. 375–396.
Natarajan, L. (2017), Socio-spatial learning: A case study of community knowledge in participatory spatial planning.
Progress in Planning, Vol. 111, pp. 1–23.
Ruslanjari et.al., (2020), Kondisi Kerentanan dan Ketahanan Masyarakat Terhadap Bencana Tanah Longsor di Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, Vol. 26, pp. 23-29.
UNDRR. (2020), Disaster Risk Management, diakses pada 10 Februari 2021 dari
https://www.undrr.org/terminology/disaster-risk- management
Ungarannews.com (2020, 1 Februari 2020), Pemkab Semarang Siapkan Sepuluh Desa Tangguh Bencana, diakses pada 17 Oktober 2020 dari
https://ungarannews.com/2020/02/01/pemkab-semarang- siapkan-sepuluh-desa-tangguh-bencana/
United Nations. (2005), International Strategy for Disaster
Reduction Hyogo Framework for Action 2005-2015: Building the Resilience of Nations. World Conference on Disaster Reduction (A/CONF.206/6).