• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Peringatan Dini Demam Berdarah (ACTIVED) Pada tahun 2013 Kota Semarang certatat sebagai kota kedua di

CLIMATE CHANGE RESILIENCE NETWORK)

4) Program Peringatan Dini Demam Berdarah (ACTIVED) Pada tahun 2013 Kota Semarang certatat sebagai kota kedua di

Indonesia dengan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi.

Dalam upaya mengurangi jumlah kasus dan korban akibat DBD, program ACTIVED melalui pembangunan kapasitas masyarakat dan sekolah di 6 kelurahan percontohan di 5 kecamatan. Program yang berlangsung selama tahun 2014 – 2015 ini khususnya dilaksanakan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dan pemerintah dalam pemantauan jentik di lingkungan mereka dan

melaporkannya ke Dinas Kesehatan melalui Sistem Informasi dan Peringatan Dini Kesehatan pada Dengue (HIS-HEWS). Masyarakat diberikan pelatihan dalam pemantauan jentik di wilayahnya masing- masing serta melakukan sosialisasi tentang bahaya DBD di Kota Semarang. HIS-HEWS ini dikembangkan melalui program ACTIVED yang kemudian ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehatan kota untuk memantau kasus DBD yang terjadi di Kota Semarang (IKUPI, 2016).

Aktor Pelaksana dalam Program ACCCRN

Program ACCCRN dilaksanakan dengan pendekatan piloting (percontohan) yang artinya bahwa masing-masing program memilih wilayah pelaksanaannya berdasarkan masing-masing kasus.

Pemilihan wilayah percontohan dilakukan berdasarkan assessment yang dilakukan sebelumnya. Sebagai contoh, pada program FEWS, ditentukan tujuh lokasi piloting yang penentuannya didasarkan pada VA, IKK dan CRS. Hasil dari program-program tersebut, baik fisik (infrastruktur, seperti sensor banjir, HIS-HEWS, modul pelatihan) maupun non fisik seperti KSB diserahterimakan kepada Kota Semarang (yang diwakili oleh dinas terkait) di akhir program.

Penggunaan program percontohan ini diharapkan dapat mendorong pemangku kepentingan khususnya pemerintah kota untuk melakukan replikasi maupun scaling up di wilayah lain di Kota Semarang dan menciptakan efek lebih luas dalam meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim.

Setidaknya terdapat dua unsur penting dalam organisasi pelaksanaan program ACCCRN (lihat Gambar 3). ACCCRN mendorong terbentuknya Pokja Perubahan Iklim yang kemudian disahkan melalui SK Walikota. Pokja tersebut bertanggungjawab dalam implementasi program-program ACCCRN di fase ketiga.

Pokja yang kemudian disebut sebagai Tim Kota terdiri dari individu perwakilan dari unsur pemerintah (dinas-dinas terkait), perwakilan

dari non-government organization (NGO) serta akademisi. Tim Kota kemudian bertanggungjawab terhadap berjalannya program ACCCRN berdasarkan hasil CRS yang telah disusun. Untuk pelaksanaan program, masing-masing program dalam ACCCRN dilaksanakan oleh Project Implementation Unit (PIU). Biasanya suatu program hanya ditangani oleh satu lembaga saja, tetapi dalam program-program ACCCRN, banyak tahapan dan lembaga pelaksana dengan keahlian yang berbeda-beda tergabung dan dikelola di bawah PIU.

Gambar 3. Organisasi Pelaksanaan Program ACCCRN di Kota Semarang

PIU merupakan unit yang bertanggungjawab secara teknis terhadap pelaksanaan program masing-masing. PIU sendiri terdiri dari Tim Kota, manajer program, tim teknis pelaksana, serta tim monitoring dan evaluasi. Unsur pemangku kepentingan yang ada alam PIU pun beragam dari dinas teknis di pemerintahan hingga akademisi dan NGO. Manajer program bertugas dalam melakukan koordinasi ke seluruh pemangku kepentingan. Sedangkan tim teknis merupakan pelaksana teknis dari kegiatan yang ada dalam program di mana keseluruhan program dipantau dan di evaluasi oleh tim monitoring dan evaluasi.

PIU merencanakan dan melaksanakan program masing-masing serta bertanggungjawab dalam proses pelaporan kepada Tim Kota dan pemberi donor. Tidak mudah dalam melakukan koordinasi dengan

berbagai pemangku kepentingan dalam satu tim, namun hal tersebut juga menjadi pelajaran berharga bagi masing-masing instansi pelaksana dalam PIU. Konsep pembentukan Tim Kota yang muncul pada era ACCCRN tersebut menjadi cikal bakal munculnya Chief Resilience Officer (CRO) yang dibentuk melalui program 100RC (100 Resilient Cities). Individu yang berada dalam Tim Kota, kemudian menjadi bagian dalam kelompok kerja ketahanan kota yang bekerjasama sebagai Tim CRO untuk melaksanakan program- program terkait peningkatan ketahanan Kota Semarang bukan hanya di perubahan iklim namun ketahanan kota secara keseluruhan.

Program ACCCRN sebagai Pemantik Semangat dalam Meningkatkan Ketahanan di Kota Semarang

Meskipun infrastruktur penting untuk dibangun, kita tidak bisa begitu saja mengandalkan mitigasi melalui pembangunan- pembangunan infrastruktur untuk mencegah dampak perubahan iklim. Kegagalan infrastruktur teknologi dan perubahan ekstrim alam dapat terjadi dan menambah risiko dan dampak banjir (misalnya waduk atau tanggul yang bocor, curah hujan yang ekstrim sehingga tanggul tidak mampu menampung debit air) sehingga pendekatan yang bersifat non-struktural (peningkatan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan) juga dibutuhkan untuk mengurangi kerugian dan kerusakan akibat bencana yang di timbulkan sebagai dampak perubahan iklim (Septiarani &

Handayani, 2020).

Program ACCCRN sepertinya mengantarkan Kota Semarang menjadi salah satu kota yang mendapatkan pengakuan sebagai salah satu percontohan adaptasi perubahan iklim nasional pada tahun 2014 di mana Kota Semarang mampu mengurangi risiko kerugian bukan hanya dari pembangunan aspek fisik namun dari peningkatan aspek non fisik (kelembagaan dan kapasitas masyarakat). Selain itu,

pembelajaran dari program-program ACCCRN pun juga mendorong munculnya beberapa program lanjutan terkait peningkatan ketahanan Kota Semarang. Terdapat beberapa pembelajaran kunci terkait pelaksanaan program ACCCRN di Kota Semarang, yaitu promosi pendekatan preventif, Kelembagaan dalam ketahanan perubahan iklim, serta peluang munculnya program lain untuk peningkatan ketahanan.

Proyek Percontohan sebagai Praktik Baik dan Tantangan Program ACCCRN

Pendekatan berbasis pilot project (proyek percontohan) yang dilaksanakan oleh ACCCRN mempromosikan tindakan preventif dalam mengatasi dampak perubahan iklim. Proses adaptasi masyarakat didorong agar masyarakat memiliki kemampuan untuk mengelola risiko yang mereka hadapi. Program-program ACCCRN mendemonstrasikan pendekatan yang lebih preventif dengan peningkatan kapasitas masyarakat yang kemudian menjadi salah satu keunggulan dari program pilot yang dilaksanakan ACCCRN.

Pendekatan proyek percontohan tersebut lebih fokus pada peningkatan kapasitas lokal sehingga masyarakat lebih berdaya dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Terbukti dari keterlibatan aktif dari anggota KSB yang terbentuk melalui program FEWS yang hingga kini masih berkibrah dalam penanggulangan banjir di Kota Semarang khususnya di wilayah mereka masing- masing.

Di sisi lain, program dengan proyek percontohan juga menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutannya. Praktik-praktik tersebut tentunya akan dapat di replikasi dan di scaling up apabila kebijakan terkait perubahan iklim telah masuk sebagai bagian dari rencana daerah (masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah - RPJM). Hanya saja, hingga program ACCCRN berakhir, pengarusutamaan kebijakan terkait perubahan iklim masih menjadi

pekerjaan rumah besar sehingga keberlanjutan dari pengelolaan proyek percontohan tersebut masih bergantung pada Tim Kota dan kepedulian masyarakat. Sebagai contoh keberlanjutan pengelolaan alat dalam program FEWS. Meskipun peralatan tersebut telah diserahterimakan ke Kota Semarang, hal tersebut belum bisa menjamin keberlajutan perawatan alat tersebut di masa yang akan datang.

Penguatan Kelembagaan dalam Ketahanan Perubahan Iklim Program ACCCRN mendorong munculnya kelembagaan baru yang berfokus untuk mengatasi dampak perubahan iklim di Kota Semarang. Tim Kota yang menjadi tonggak pelaksanaan program- program ACCCRN dapat menjadi contoh praktik baik pentingnya kelembagaan dalam peningkatan ketahanan terhadap perubahan iklim. Keberhasilan program-program tersebut tidak terlepas dari keterlibatan Tim Kota dalam setiap program yang dilaksanakan.

Keragaman unsur dalam Tim Kota juga memudahkan terlaksananya program-program tersebut. Keterlibatan individu dalam Tim Kota dapat menjadi contoh baik maupun tantangan bagi keberlanjutan pengarusutamaan peningkatan ketahanan terhadap perubahan iklim di Kota Semarang.

Tim Kota merupakan individu yang mewakili instansi di mana dia bekerja. Bagi unsur pemerintah, hal ini tentu menjadi tantangan karena kecenderungan organisasi perangkat daerah (OPD) di Indonesia yang seringkali melakukan rotasi terhadap personel mereka sehingga keterlibatan personel dari unsur pemerintah dalam program seringkali berubah berdasarkan rotasi tersebut. Meskipun kelembagaan telah dibentuk, hal ini perlu diantisipasi untuk menjaga keberlanjutan Tim Kota dan program-program ACCCRN yang telah terlaksana. Dalam hal ini, mekanisme kelembagaan dan keterlibatan pemangku kepentingan lainnya dalam upaya peningkatan ketahanan kota hanya akan berjalan jika ada

peningkatan kapasitas kelembagaan secara berkelanjutan di instansi pemerintah daerah yang bertanggung jawab dalam menangani isu ketahanan. Bukan hanya individu yang tergabung dalam Tim Kota melainkan kapasitas institusi sehingga pergantian personel tidak akan banyak berpengaruh.

Peluang Munculnya Program Lain

Peran aktif Tim Kota dan keberhasilan program-program ACCCRN telah menjadikan Kota Semarang lebih dikenal sebagai kota yang bertumbuh dalam hal peningkatan ketahanan mereka khususnya terhadap dampak perubahan iklim. Hal ini juga mendorong munculnya banyak program lain di Kota Semarang dalam upaya meningkatkan ketahanan kota. Penyusunan CRS juga dipandang sebagai suatu produk kunci yang menjadi salah satu roadmap Kota Semarang dalam meningkatkan ketahanan Kota. Sebagai contoh, terkait dengan peningkatan ketahanan, Semarang juga tergabung dalam program 100RC di mana program tersebut memilih Kota Semarang sebagai satu-satunya kota di Indonesia (pada saat itu) yang turut berpartisipasi.

Penutup

Tidak dapat dipungkiri bahwa dampak perubahan iklim memang nyata terjadi di Kota Semarang dan memengaruhi aktivitas masyarakat. Sebagai sebuah kota dengan aktivitas masyarakat yang beragam, tentunya Kota Semarang membutuhkan upaya nyata agar dampak tersebut tidak banyak berpengaruh pada sistem perkotaan.

Upaya ACCCRN dalam menjebatani perubahan paradigma bencana dalam lensa perubahan iklim serta pendekatan piloting yang dilakukan telah mengantarkan Kota Semarang menjadi salah satu kota di Indonesia yang terus bergerak meningkatkan ketahanan kotanya.

Perlu digarisbawahi, bahwa upaya-upaya yang dilakukan dalam program ACCCRN bukanlah yang terbaik dari semua program peningkatan ketahanan kota. Namun program tersebut telah mampu memantik munculnya pendekatan berbasis peningkatan ketahanan.

Proyek percontohan yang ditinggalkan oleh program ini menjadi milik masyarakat dan Kota Semarang. Selain itu, program ACCCRN juga telah berhasil membuka akses pendanaan terhadap program lain yang serupa (Setiadi, 2016). Langkah-langkah adaptasi perubahan iklim yang dilakukan dalam program ACCCRN di Kota Semarang telah membuat kota ini menjadi lebih mengenal dan dikenal dalam konteks peningkatan ketahanan di Indonesia salah satunya terkait perubahan iklim.

Daftar Pustaka

ACCCRN. (2010), City Resilience Strategy: Semarang Adaptation Plan in Responding to Climate Change, diambil dari

https://www.acccrn.net/resources/city-resilience-strategy- semarangs-adaptation-plan-responding-climate-change Handayani, W., Setiadi, R., Septiarani, B., & Lewis, L. (2020),

Metropolitan Semarang: Clustering and Connecting Locally Championed Metropolitan Solutions. Greater Than Parts Case Study; No. 8. World Bank, Washington, DC, diambil dari https://openknowledge.worldbank.org/handle/10986/34828 IKUPI. (2016), Dokumen ACTIVED (Action Changing the Incidence

of Vector-Borne Endemic Disease), diambil dari http://ikupi.org/1869-2/

ISET, ACCCRN, Mercy Corps, Urban and Regional Development Institute, & CCROM Southeast Asia and Pacific. (2010), Vulnerability and adaptation assessment to climate change in Semarang City: Final report, diambil dari

http://www.acccrn.org/sites/default/files/documents/ACC CRN_smrg_ENG_26APRIL2010_0.pdf

P5 Universitas Diponegoro. (2012), Final Report Rainwater Harvesting Semarang. pp. 1–45. Universitas Diponegoro. Semarang.

Septiarani, B., & Handayani, W. (2020), Community Group

Networking on the Community-based Adaptation Measure in Tapak Village, Semarang Coastal Area. Indonesian Journal of Geography, Vol. 52 No. 2, pp. 181–189.

Setiadi, R. (2016), Tata Kelola Perubahan Iklim Di Kota Semarang : Dulu, Sekarang, dan Ke Depan. Riptek, Vol. 10 No. 1, pp. 33–42, diambil dari

https://bappeda.semarangkota.go.id/packages/upload/kcfin der/upload/files/3. Tata Kelola Perubahan Iklim_Rukuh.pdf

BAB 6

PERAN INSTITUSI NON-PEMERINTAH DALAM