Missal terdapat himpunan A dan himpunan semestanya S. maka komplemen dari A, adalah Aʼ atau AC, A = {x : x S dan x A}
Contoh:
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8}
A = { 1, 2}
Komplemennya adalah Aʼ = {3, 4, 5, 6, 7, 8}
Jawab
3. Diketahui sejumlah majlis taklim yang hadir ketempat pengajian adalah A
= {1,2,3,4,5,6} dan B = {1,3,5,7,9,11}
a. Buatlah diagram venn dari dan tuliskan anggota irisannya!
b. Buatlah diagram venn dari dan tuliskan anggota gabungannya!
jawab
a. Gambar diagram venn nya adalah
= { 1,3,5}
b. Gambar diagram venn nya
adalah
= {1,2,3,4,5,6,7,9,11}
28
Pengembangan LKS ini menggunakan penelitian pengembangan (Development Research). Model desain yang pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model desain pembelajaran ADDIE (Analysis- Design-Develop-Implement-Evaluate). 35
Pemilihan model ini berpijak pada landasan teoritis desain media pembelajaran yang akan dikembangkan, dan pertimbangan bahwa model ini mudah untuk dipahami. Model ini tersusun secara terprogram dengan kegiatan yang sistematis dalam upaya pemecahan masalah dengan media belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Model ADDIE yang digunakan memiliki tahapan (1) Analysis (analisis), (2) Design (perancangan), (3) Develop (produksi), (4) Implement (implementasi), (5) Evaluated (evaluasi). Metode penelitian &
pengembangan (Research and Development) adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk dan menguji keefektifan produk pengembangan tersebut.
Model yang digunakan dalam pengembangan media pembelajaran ini adalah model ADDIE. Desain penelitian ini meliputi lima tahap
35 Benny A. Pribadi, Model Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Dian Rakyat, 2009) hlm. 125
diantaranya: (1) Analisis (Analysis), (2) Perancangan (Design), (3) Produksi (Develop), (4) Implementasi (Implement), (5) Evaluasi (Evaluated).
Model ADDIE sangat sederhana tapi implementasinya sistematis.
Gambar 3.1 Proses Model ADDIE B. Prosedur Pengembangan
1. Analisis (Analysis)
Analisis (Analysis) merupakan tahapan awal untuk mengidentifikasi siswa yaitu dengan cara melakukan need assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analisys), sehingga keluaran yang dihasilkan berupa karakteristik siswa, identifikasi kesenjangan, kebutuhan, dan analisis tugas berdasarkan dengan kebutuhan (Trisiana, 2016). Semua penelitian berangkat dari potensi dan masalah yang diajukan. Potensi adalah sesuatu yang apabila dimanfaatkan akan memiliki nilai tambah. Masalah
adalah penyimpangan antara yang direncanakan dan yang terjadi.
Masalah yang ada di dalam pembelajaran dapat diketahui melalui analisis kebutuhan.
Mengidentifikasi apa penyebabnya siswa belum bisa menyelesaikan sendiri model Matematika dari gabungan himpunan pada operasi himpunan, yang dilakukan prosedur tes untuk siswa kelas VII, selanjutnya menganalisis LKS yang dipakai dalam pembelajaran Himpunan.
2. Perancangan (Design)
Tahap kedua dari model pengembangan ADDIE adalah tahap design atau perancangan. Pada tahap ini mulai dirancang LKS yang akan dikembangkan sesuai hasil analisis yang dilakukan pada tahap sebelumnya.
Selanjutnya, tahap perancangan dilakukan dengan menentukan unsur-unsur yang diperlukan dalam LKS seperti penyusunan peta kebutuhan dan kerangka LKS. Selain itu, pengumpulan referensi yang akan digunakan dalam penyusunan dan pengembangan materi dalam bahan ajar LKS.
Pada tahap ini, disusun instrumen yang akan digunakan untuk menilai LKS yang dikembangkan. Instrumen disusun dengan memperhatikan syarat kelayakan penilaian LKS yaitu kesesuaian LKS dengan pendekatan penemuan terbimbing, orientasi LKS pada kemampuannya, kualitas isi materi LKS, kesesuaian dengan syarat didaktik, kesesuaian LKS dengan syarat konstruksi, dan kesesuaian LKS dengan syarat teknis. Instrumen yang disusun berupa lembar penilaian LKS dan angket respon. Selanjutnya, instrumen yang
disusun akan divalidasi untuk mendapatkan instrumen penilaian yang valid.
Desain dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu produk dan hasil produk. Desain produk berupa LKS sedangkan desain hasil produk berupa instrumen tes dan angket penilaian siswa. Berikut uraian masing-masing desain produk dan hasil produk.
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang telah didapat, langkah selanjutnya membuat desain/perancangan dari produk yang akan dikembangkan.
Pada pembelajaran ini siswa maupun guru dapat memanfaatkan konten-konten yang ada pada tahapan LKS. Bagi siswa dapat dimanfaatkan untuk belajar baik secara mandiri maupun kolaboratif.
Bagi guru dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran, pemberian tugas dan evaluasi.
3. Pengembangan (Develop)
Pelaksanaan pembuatan Lembar Kerja Siswa berada pada tahapan ini, sehingga menghasilkan produk, setelah dihasilkan produk langkah selanjutnya adalah uji validitas. Uji validitas merupakan proses penelitian rancangan produk yang akan dilakukan dengan memberi penilaian berdasarkan pemikiran rasional. Uji validitas dilakukan dengan tim ahli yang meliputi ahli isi/materi dan ahli konstruk/desain.
Tim ahli yang dipilih adalah dua dosen Pendidikan matematika. Dosen Pendidikan matematika yang dipilih adalah dosen berkompeten dalam
bidang ini. Tim ahli akan menguji produk awal peneliti apakah sudah sesuai atau tidak sesuai dengan pusat kurikulum dan perbukuan yaitu kelayakan isi, kelayakan komponen kebahasaan, dan kelayakan kualitas penyajian.
Tahapan ini merupakan bentuk realisasi dari tahapan sebelumnya yaitu tahapan desain. Pada tahap ini peneliti melakukan proses pengembangan perangkat pembelajaran yang LKS serta instrumen yang berupa tes, dan angket penilaian siswa sehingga perangkat pembelajaran dan instrumen tersebut siap untuk diimplementasikan di sekolah.
Sebelum diimplementasikan di sekolah, perangkat pembelajaran dan instrumen yang telah dikembangkan dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dosen pembimbing dan selanjutnya divalidasi oleh dua dosen ahli (sebagai validator) dan satu guru mata pelajaran matematika.
Setelah perangkat pembelajaran dan instrumen divalidasi oleh validator/para ahli, maka peneliti menganalisis perangkat pembelajaran dan instrumen yang sudah dibuat untuk mengetahui tingkat kevalidan dari perangkat pembelajaran dan isntrumen tersebut. Selanjutnya perangkat pembelajaran dan instrumen tersebut direvisi/diperbaiki sesuai dengan saran dari validator sehingga layak untuk diuji cobakan di sekolah.
4. Implementation
Pada tahap ini, design LKS dicermati, dinilai, dan dievaluasi oleh pakar menilai dari segi konten (isi), konstruktur dan bahasa yang digunakan pada masing-masing prototype LKS. Para pakar memberikan tanggapan dan saran dalam lembar validasi apakah design itu telah valid atau tidak, kemudian digunakan untuk merevisi desain LKS. Hasil revisi kemudian diuji cobakan kesubjek penelitian yaitu sebagai uji lapangan atau field test. Produk akan diuji cobakan dilapangan haruslah dalam kriteria kualitas baik itu segi validates, kepraktisan, dan efektivitas.
5. Evaluation (evaluasi)
Tahap ini didasarkan pada hasil uji coba produk perangkat pembelajaran di lapangan. Perangkat pembelajaran yang sudah diimplementasikan di sekolah kemudian dievaluasi untuk mendapatkan masukan dan saran dari guru maupun siswa, sebagai bahan dalam merevisi kepraktisan dan keefektifan perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu LKS bermuatan keislaman tersebut memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif sehingga LKS dapat digunakan oleh siswa maupun lembaga sekolah.
Adapun indikator keberhasilan LKS dalam penelitian ini adalah:
1) Valid, apabila hasil validasi aplikasi oleh ahli pemrograman, ahli materi, dan ahli desain minimal memenuhi kategori cukup valid.
2) Praktis, apabila responden siswa minimal memenuhi kategori cukup praktis.
3) Efektif, apabila LKS memenuhi cukup efektif untuk diujikan.