• Tidak ada hasil yang ditemukan

CORPORATE VEIL DALAM HUKUM PERUSAHAAN

Dalam dokumen problematika penegakan hukum (Halaman 46-62)

perkembangan hukum ekonomi, terutama yang terkait dengan masalah globalisasi. Peran hukum dalam pembangunan ekonomi telah mengglobal. Hukum tidak saja berperan konvensional, tetapi juga melayani dan mengakomodasi perubahan besar dalam skala yang lebih luas. Dalam perubahan nasional dan internasional menghadapi perubahan besar akibat globalisasi tersebut, hukum tidak cukup hanya bersifat antisipatif, tetapi harus mampu mendesain masa depan bangsa dalam pembangunan ekonomi. Dengan demikian, hukum tidak hanya untuk melindungi kepentingan nasional dari proses globalisasi ekonomi, tetapi juga harus diupayakan untuk memungkinkan Indonesia berperan mengendalikan, mengelola, dan sekaligus memanfaatkan globalisasi melalui berbagai formulasi.

BAB

Meskipun diakui bahwa peranan hukum senantiasa akan ketinggalan dibandingkan dengan lajunya perkembangan serta kemajuan di bidang ekonomi, namun bukan berarti di bidang hukum tidak ada persiapan sama sekali, telah banyak dikeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur hal-hal baru mengikuti trend global, di antaranya pengesahan Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dapat dipandang sebagai instrumen kegiatan ekonomi yang mengandung berbagai kelebihan, di antaranya tentang sistem pertanggungjawaban yang terbatas dari Perseroan Terbatas akan mempermudah akses bisnis pada investasi dengan segala konsekuensi risiko kerugian atau peluang keuntungan yang melekat padanya. Perseroan Terbatas merupakan suatu persekutuan untuk menjalankan usaha yang memiliki modal yang terdiri dari saham-saham, yang pemiliknya memiliki bagian sebanyak saham yang dimilikinya. Karena modalnya terdiri dari saham-saham yang dapat diperjualbelikan, perubahan kepemilikan Perseroan Terbatas dapat dilakukan tanpa perlu membubarkan Perseroan Terbatas tersebut.

Kekayaan perseroan terbatas terpisah dari kekayaan pribadi pemiliknya sehingga perseroan terbatas memiliki harta kekayaannya sendiri. Perseroan terbatas merupakan badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian untuk melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham-saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan

dalam undang-undang serta peraturan pelaksanaannya. Saham merupakan modal Perseroan Terbatas yang paling utama pada saat Perseroan Terbatas tersebut didirikan, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas bahwa modal Perseroan Terbatas terdiri atas seluruh nilai nominal saham.

Setiap orang dapat memiliki lebih dari satu saham yang menjadi bukti pemilikan Perseroan Terbatas. Bagian dari modal atau saham dapat diketahui siapa pemiliknya dan berapa jumlahnya melalui daftar buku pemegang saham. Pada Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ditegaskan bahwa sebagai tanda bukti kepemilikan, maka nama pemegang saham dicatat dalam buku Daftar Pemegang Saham Perseroan Terbatas. Perseroan Terbatas dapat menjalankan aktivitasnya sesuai dengan maksud dan tujuan pendiriannya dengan terkumpulnya modal tersebut. Jika Perseroan Terbatas mendapatkan keuntungan, maka pemegang saham berhak menikmati keuntungan tersebut, atau yang dikenal dengan dividen.

Dalam Perseroan Terbatas, selain kekayaan perusahaan dan kekayaan pemilik modal terpisah, juga ada pemisahan antara pemilik perusahaan dan pengurus perusahaan. Pengelolaan perusahaan dapat diserahkan kepada tenaga-tenaga yang ahli di bidangnya. Struktur organisasi perseroan terbatas terdiri dari pemegang saham, direksi, dan komisaris. Untuk itu, dibutuhkan kerangka hukum yang jelas agar direksi dan komisaris dapat

bekerja produktif dan efisien serta terdapat aturan hukum yang jelas bagi Perseroan Terbatas dalam melaksanakan kegiatannya.

Sebagai artificial person, Perseroan Terbatas tidak dapat bertindak sendiri. Perseroan Terbatas tidak memiliki kehendak yang akan menjalankannya sesuai dengan maksud dan tujuan pendirian Perseroan Terbatas tersebut. Untuk itu, dalam bertindak dan bertanggung jawab, Perseroan Terbatas diwakili oleh direksi dan komisaris. Rudhi Prasetya menyatakan bahwa jika berbicara mengenai pertanggungjawaban, maka dapat dilihat dari segi hubungan ekstern dan dari segi hubungan intern.

Tanggung jawab ekstern adalah tanggung jawab sebagai dampak dalam hubungan dengan pihak luar, sedangkan tanggung jawab intern adalah dampak dari hubungan pengurus Perseroan Terbatas sebagai organ terhadap organ Perseroan Terbatas lainnya.

Tujuan utama dari sebuah perusahaan adalah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal ini merupakan tanggung jawab para pengurus perusahaan kepada pemegang saham sebagai pemilik dari perusahaan tersebut. Inilah dasar filosofis didirikannya sebuah perusahaan. Namun demikian, kegiatan operasional perusahaan dalam rangka memaksimalisasi keuntungannya seringkali merugikan masyarakat, terutama masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar lokasi perusahaan. Permasalahan tersebut merupakan dasar lahirnya konsep tanggung jawab sosial perusahaan.

Tujuan Perseroan Terbatas dapat dicapai apabila organ Perseroan Terbatas dalam mengelola perusahaan melaksanakan Prinsip Good Corporate Governance. Kemampuan bersaing dan kesuksesan yang dicapai oleh Perseroan Terbatas merupakan kontribusi dari berbagai pihak berupa modal, keahlian, jasa, produk, dan lain-lain. Atas dasar inilah Perseroan Terbatas hendaknya mengenali dengan baik kontribusi dari masing- masing pemangku kepentingan, baik investor, karyawan, kreditur, pemasok, pelanggan, maupun regulator, yang semunya disebut sebagai stakeholders. Tujuan dari pendirian suatu Perseroan Terbatas dalam jangka panjang adalah penciptaan kemakmuran dan kesejahteraan tidak hanya bagi para pemegang saham, tetapi juga untuk seluruh stakeholders.

Berdasarkan Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dinyatakan bahwa pemegang saham perusahaan tidak bertanggung jawab secara pribadi terhadap perikatan yang dibuat atas nama perusahaan dan tidak bertanggung jawab terhadap kerugian perusahaan melebihi saham yang dimilikinya. Tanggung jawab pemegang saham Perseroan Terbatas secara terbatas merupakan tirai yang memisahkan tanggung jawab pemegang saham dengan tanggung jawab pengurus dalam menjalankan kegiatan usaha Perseroan Terbatas. Meskipun demikian, doktrin dalam hukum perusahaan mengenal adanya Prinsip Piercing the Corporate Veil yang dapat menerobos tanggung jawab terbatas dari pemegang saham

perusahaan menjadi tanggung jawab tidak terbatas sampai dengan harta pribadinya.

Prinsip Piercing the Corporate Veil telah ada di Indonesia sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas yang hadir untuk mengganti beberapa regulasi mengenai Perseroan Terbatas dalam Kitab Undang- Undang Hukum Dagang. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas kemudian dicabut dan digantikan oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang memperkenalkan beberapa prinsip hukum baru mengenai organ Perseroan Terbatas, tetapi tetap mempertahankan Prinsip Piercing the Corporate Veil yang memberi pengecualian bagi prinsip tanggung jawab terbatas yang berlaku terhadap pemegang saham Perseroan Terbatas.

Prinsip Piercing the Corporate Veil diakomodir dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas sebagai pengaruh dari hukum asing yang diimpor dari negara-negara yang menganut sistem hukum Anglo Saxon. Prinsip Piercing the Corporate Veil mengajarkan bahwa meskipun suatu badan hukum bertanggung jawab secara hukum hanya sebatas harta badan hukum tersebut, namun dalam hal-hal tertentu batas tanggung jawab tersebut dapat ditembus. Dalam perkembangannya, Prinsip Piercing The Corporate Veil bahkan dapat diterapkan terhadap tanggung jawab direksi dan komisaris dalam mengurus perusahaan.

Berdasarkan Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dinyatakan bahwa

pemegang saham perusahaan tidak bertanggung jawab secara pribadi terhadap perikatan yang dibuat atas nama perusahaan dan tidak bertanggung jawab terhadap kerugian perusahaan melebihi saham yang dimilikinya.

Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas tidak dibunyikan istilah Prinsip Piercing the Corporate Veil, tetapi wujud dari Prinsip Piercing the Corporate Veil tertuang dalam Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang menegaskan bahwa tanggung jawab terbatas dari pemegang saham perusahaan tidak berlaku apabila:

1. Persyaratan perusahaan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi.

2. Pemegang saham perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan itikad buruk memanfaatkan perusahaan untuk kepentingan pribadi.

3. Pemegang saham perusahaan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perusahaan.

4. Pemegang saham perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung, secara melawan hukum menggunakan kekayaan perusahaan yang mengakibatkan kekayaan perusahaan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perusahaan.

Tanggung jawab terbatas yang diatur pada Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas tidak bersifat absolut. Dalam arti bahwa terdapat

pengecualian dari tanggung jawab terbatas pada Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang dikenal dengan Prinsip Piercing the Corporate Veil. Apabila terjadi keadaan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas di atas, maka tanggung jawab pemegang saham perusahaan yang awalnya hanya terbatas pada jumlah modal (saham) yang dimilikinya dapat diminta pertanggungjawabannya menjadi tanggung jawab tidak terbatas, bahkan sampai dengan harta pribadinya. Prinsip Piercing the Corporate Veil telah digunakan di Indonesia sebagai yurisprudensi.

Pengadilan di Indonesia telah menerapkan Prinsip Piercing the Corporate Veil dalam memutus permasalahan hukum mengenai tanggung jawab terbatas dari pemegang saham suatu Perseroan Terbatas. Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 21K/Sip/1973 tanggal 5 November 1973 dalam perkara PT Perusahaan Pelayaran Samudra ‘Gesuri Lloyd’

melawan O. Sibarani (PT Toko Tujuh Belas) menyatakan bahwa selain sebagai pemegang saham perusahaan, O. Sibarani juga duduk sebagai anggota direksi perusahaan dan oleh karenanya dianggap melakukan pelanggaran atas syarat pendirian Perseroan Terbatas karena memanfaatkan Perseroan Terbatas untuk kepentingan pribadinya, sehingga kepada O. Sibarani dihukum untuk mengganti kerugian perusahaan sampai dengan harta pribadinya.

Tidak hanya itu, pada kasus pemindahan saham PT Indotruba Tengah, Darsono, Siswanto, dan Joso Prayitno yang merupakan pemegang saham PT Mulia Argo Persada sekaligus merangkap sebagai pengurus perusahaan melakukan pemindahan hak atas saham sebanyak 6.200 lembar saham PT Indotruba Tengah kepada PT Mulia Argo Persada. Yayasan Kartika Ekapaksi sebagai pemilik saham PT Indotruba Tengah kemudian mengajukan gugatan agar Darsono, Siswanto, dan Joso Prayitno mengembalikan saham tersebut kepada Yayasan Kartika Ekapaksi. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan putusan bahwa pemindahan hak atas saham milik Yayasan Kartika Ekapaksi pada PT Indotruba Tengah kepada PT Mulia Argo Persada dinyatakan batal demi hukum, tetapi putusan tersebut tidak menerapkan Prinsip Piercing the Corporate Veil. Namun, menurut hakim pada Pengadilan Tinggi Jakarta dan Mahkamah Agung Republik Indonesia, putusan tersebut justru diperberat dengan menerapkan Prinsip Piercing The Corporate Veil dengan memerintahkan agar Darsono, Siswanto, dan Joso Prayitno mengganti kerugian materi Yayasan Kartika Ekapaksi sampai dengan harta pribadi mereka.

Terakhir, dalam putusan Pengadilan Negeri Karawang Nomor 61/Pdt/G/2008/PN-KRW yang dikuatkan dengan putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor 496/Pdt/2010/PT-BDG dan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1811K/PDT/2011 terhadap perkara Yoshiaki Takamichi melawan PT Multiprima Jayaputra Abadi serta putusan

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 313/Pdt.G/2011/PN- Jkt.Sel dalam perkara PT Bank CIMB Niaga melawan PT Adi Partner Perkasa diputus oleh pengadilan dengan menerapkan Prinsip Piercing The Corporate Veil.

Meskipun Prinsip Piercing The Corporate Veil telah diadopsi dalam Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, ternyata ada kasus-kasus besar yang seharusnya pemegang saham perusahaan bertanggung jawab sampai dengan harta pribadinya tetapi hanya diputus sebatas tanggung jawab pada saham yang dimilikinya. Kasus- kasus besar tersebut antara lain yaitu kasus PT Lapindo Brantas tahun 2006 dan kasus PT Bank Century tahun 2008.

Dalam penelitian yang berjudul “Perlindungan Hukum bagi Nasabah terhadap Kerugian Akibat Pengalihan Aset Berdasarkan Prinsip Penyikapan Tabir Perseroan (Piercing The Corporate Veil) Dalam Kaitannya dengan Pertanggungjawaban Komisaris”, Gios Adhyaksa menjelaskan bahwa terhadap sebuah Perseroan Terbatas di bidang perbankan, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dapat dijadikan dasar hukum dalam mengkaji penerapan Prinsip Piercing The Corporate Veil pada kasus PT Bank Century. Setelah menelaah kasus PT Bank Century, diketahui bahwa terdapat beberapa persoalan hukum yang terjadi yang mengakibatkan Perseroan Terbatas dan

stakeholders mengalami kerugian, yaitu pemegang saham, direksi, dan komisaris PT Bank Century sama-sama menyalahgunakan wewenang serta memanfaatkan Perseroan Terbatas untuk kepentingan pribadi. PT Bank Century terbukti telah melakukan perbuatan melawan hukum dari awal pendiriannya. Adapun upaya yang dapat dilakukan dalam penerapan tanggung jawab Perseroan Terbatas kepada stakeholders yaitu dengan penerapan Prinsip Piercing the Corporate Veil. Prinsip Piercing the Corporate Veil merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk memberikan rasa keadilan bagi stakeholders dengan meminta tanggung jawab penuh dari pemegang saham, direksi, dan komisaris PT Bank Century sampai dengan harta pribadinya dengan mengesampingkan tanggung jawab terbatas yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Penerapan Prinsip Good Corporate Governance sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan masyarakat dan dunia internasional sebagai syarat mutlak bagi sektor perbankan untuk berkembang dengan baik. Oleh karena itu, Bank for International Settlement sebagai lembaga yang mengkaji mengenai prinsip kehati-hatian yang harus dianut oleh perbankan telah mengeluarkan pedoman pelaksanaan good corporate governance bagi sektor perbankan secara internasional. Sebagai lembaga intermediasi dan lembaga kepercayaan, dalam melaksanakan kegiatan usahanya, bank harus menganut prinsip keterbukaan,

memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan ukuran-ukuran yang konsisten dengan corporate values, sasaran usaha, dan strategi bank sebagai pencerminan akuntabilitas bank, berpegang pada prudential banking practices dan menjamin dilaksanakannya ketentuan yang berlaku sebagai wujud tanggung jawab bank, objektif, dan bebas dari tekanan pihak mana pun dalam pengambilan keputusan, serta senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan asas kesetaraan dan kewajaran.

Dalam prinsip keterbukaan, pertama bank harus mengungkapkan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh stakeholders sesuai dengan haknya. Kedua, informasi yang harus diungkapkan meliputi, tapi tidak terbatas pada hal-hal yang bertalian dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan, kondisi keuangan, susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali, cross shareholding, pejabat eksekutif, pengelolaan risiko, sistem pengawasan dan pengendalian intern, status kepatuhan, sistem dan penerapan Prinsip Good Corporate Governance, serta kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi bank. Ketiga, prinsip keterbukaan yang dianut oleh bank tidak mengurangi kewajiban untuk memenuhi ketentuan rahasia bank sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, rahasia jabatan, dan hak-hak pribadi. Terakhir, kebijakan bank harus tertulis dan

dikomunikasikan kepada pihak yang berkepentingan dan yang berhak memperoleh informasi tentang kebijakan tersebut.

Dalam prinsip akuntabilitas, pertama bank harus menetapkan tanggung jawab yang jelas dari masing-masing organ organisasi yang selaras dengan visi, misi, sasaran usaha, dan strategi perusahaan. Kedua, bank harus meyakini bahwa semua organ organisasi bank mempunyai kompetensi sesuai dengan tanggung jawabnya dan memahami perannya dalam penerapan Prinsip Good Corporate Governance. Ketiga, bank harus memastikan terdapatnya check and balance system dalam pengelolaan bank. Terakhir, bank harus memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan ukuran-ukuran yang disepakati konsisten dengan nilai perusahaan, sasaran usaha, dan strategi bank, serta memiliki rewards and punishment system.

Dalam prinsip tanggung jawab, pertama untuk menjaga kelangsungan usahanya, bank harus berpegang pada prinsip kehati-hatian dan menjamin dilaksanakannya ketentuan yang berlaku. Kedua, bank harus bertindak sebagai good corporate citizen, termasuk peduli terhadap lingkungan dan melaksanakan tanggung jawab sosial.

Dalam prinsip independensi, pertama bank harus menghindari terjadinya dominasi yang tidak wajar oleh stakeholder tertentu dan bebas dari benturan kepentingan. Kedua, bank dalam mengambil keputusan harus objektif dan bebas dari segala tekanan dari pihak mana pun.

Dalam prinsip kewajaran, pertama bank harus senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan asas kesetaraan dan kewajaran. Kedua, bank harus memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholders untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan bank serta mempunyai akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip keterbukaan.

Berbeda dengan bank konvensional, Prinsip Good Corporate Governance pada bank syariah diatur secara tegas pada Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, yang menegaskan bahwa bank syariah wajib menerapkan tata kelola yang baik yang mencakup prinsip transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, profesional, dan kewajaran dalam menjalankan kegiatan usahanya.

Sebagai pemilik Perseroan Terbatas, pemegang saham perusahaan memungkinkan untuk secara langsung atau tidak langsung dengan itikad buruk memanfaatkan perusahaan untuk kepentingan pribadinya, terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perusahaan, serta cara langsung atau tidak langsung menggunakan kekayaan perusahaan secara melawan hukum sehingga kekayaan perusahaan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perusahaan. Oleh karena itu, penerapan Prinsip Piercing the Corporate Veil dapat menunjang terwujudnya Prinsip Good Corporate Governance dalam rangka mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan oleh pemegang saham perusahaan.

Daftar Pustaka

Andrew Shandy Utama. 2018. Good Corporate Governance Principles in Indonesia Syariah Banking. International Journal of Law and Public Policy, Volume 2, Issue 1.

Andrew Shandy Utama. 2018. Independensi Pengawasan terhadap Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam Sistem Hukum Nasional di Indonesia. Jurnal Soumatera Law Review, Volume 1, Nomor 1.

Gios Adhyaksa. 2015. Perlindungan Hukum bagi Nasabah terhadap Kerugian Akibat Pengalihan Aset Berdasarkan Prinsip Penyikapan Tabir Perseroan (Piercing The Corporate Veil) Dalam Kaitannya dengan Pertanggungjawaban Komisaris. Jurnal Unifikasi, Volume 2, Nomor 1.

Hasnati dan Andrew Shandy Utama. 2020. Implementation of Corporate Social Responsibility (CSR) by Forestry and Plantation Companies in Pelalawan Regency Riau Province, Indonesia”. Journal of Law and Political Sciences, Volume 25, Issue 4.

Hasnati, Sandra Dewi, dan Andrew Shandy Utama. 2019.

Perbandingan Prinsip Good Corporate Governance pada Bank Konvensional dan Bank Syariah dalam Sistem Hukum di Indonesia”. Jurnal Mizan, Volume 3, Nomor 2

Hasnati. 2014. Komisaris Independen dan Komite Audit; Organ Perusahaan yang Berperan untuk Mewujudkan Good Corporate Governance di Indonesia. Yogyakarta: Absolute Media.

Leo J. Susilo. 2017. Good Corporate Governance pada Bank.

Bandung: Hikayat Dunia.

Muladi. 2010. Hukum Perusahaan; Bentuk-bentuk Badan Usaha di Indonesia. Bogor: Ghalia Indonesia.

Munir Fuady. 2002. Hukum Perusahaan dalam Paradigma Hukum Bisnis. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Rudi Prasetya.1996. Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas.

Bandung: Citra Adytia Bakti.

RIZANA, S.H., M.H.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning e-Mail: [email protected]

Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan yang luas yang berisi sumber daya alam hayati yang didominasi oleh pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Hutan sebagai karunia dan amanah dari Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia merupakan kekayaan alam yang tidak ternilai harganya. Hutan, selain merupakan unsur utama sistem penyangga kehidupan manusia, juga merupakan modal dasar pembangunan nasional yang memiliki manfaat nyata, baik manfaat ekologi, manfaat sosial dan budaya, maupun manfaat ekonomi. Oleh karena itu, pemanfaatannya harus dilakukan secara terencana, rasional, optimal, dan bertanggung jawab sesuai dengan kemampuan daya dukung serta memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup guna mendukung pengelolaan hutan dan pembangunan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan rakyat.

BAB

Dalam dokumen problematika penegakan hukum (Halaman 46-62)

Dokumen terkait