RIZANA, S.H., M.H.
Dosen Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning e-Mail: [email protected]
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan yang luas yang berisi sumber daya alam hayati yang didominasi oleh pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Hutan sebagai karunia dan amanah dari Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia merupakan kekayaan alam yang tidak ternilai harganya. Hutan, selain merupakan unsur utama sistem penyangga kehidupan manusia, juga merupakan modal dasar pembangunan nasional yang memiliki manfaat nyata, baik manfaat ekologi, manfaat sosial dan budaya, maupun manfaat ekonomi. Oleh karena itu, pemanfaatannya harus dilakukan secara terencana, rasional, optimal, dan bertanggung jawab sesuai dengan kemampuan daya dukung serta memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup guna mendukung pengelolaan hutan dan pembangunan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan rakyat.
BAB
Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam rangka memperoleh manfaat yang optimal dari hutan bagi kesejahteraan rakyat, maka pada prinsipnya hutan dapat dimanfaatkan dengan memperhatikan sifat, karakteristik, dan kerentaannya serta tidak dibenarkan untuk mengubah fungsi pokok hutan, yaitu fungsi konservasi, fungsi lindung, dan fungsi produksi. Hutan merupakan salah satu kekayaan sumber daya alam bangsa Indonesia yang harus dijaga kelestariannya agar dapat diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu bentuk tanggung jawab negara dalam menjaga kelestarian hutan adalah dengan disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagai dasar hukum yang mengatur mengenai hutan dan aspek- aspek yang berkaitan dengan hutan.
Asas-asas dalam penyelenggaraan kehutanan di Indonesia sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yaitu
1. Asas manfaat dan lestari
Penyelenggaraan kehutanan berasaskan manfaat dan lestari dimaksudkan agar setiap pelaksanaan penyelenggaraan kehutanan memperhatikan keseimbangan dan kelestarian unsur lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi.
2. Asas kerakyatan dan keadilan
Penyelenggaraan kehutanan berasaskan kerakyatan dan keadilan dimaksudkan agar setiap penyelenggaraan kehutanan harus memberikan peluang dan kesempatan yang sama kepada semua warga negara sesuai dengan kemampuannya, sehingga dapat meningkatkan kemakmuran seluruh rakyat.
3. Asas kebersamaan
Penyelenggaraan kehutanan berasaskan kebersamaan dimaksudkan agar dalam penyelenggaraan kehutanan menerapkan pola usaha bersama, sehingga terjalin saling keterkaitan dan saling ketergantungan secara sinergis antara masyarakat setempat dengan BUMN atau BUMD dan pihak swasta di Indonesia dalam rangka pemberdayaan usaha kecil, menengah, dan koperasi.
4. Asas keterbukaan
Penyelenggaraan kehutanan berasaskan keterbukaan dimaksudkan agar setiap kegiatan penyelenggaraan kehutanan mengikutsertakan masyarakat dan memperhatikan aspirasi masyarakat.
5. Asas keterpaduan
Penyelenggaraan kehutanan berasaskan keterpaduan dimaksudkan agar setiap penyelenggaraan kehutanan dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan kepentingan nasional, sektor lain, dan masyarakat setempat.
Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menyebutkan bahwa penyelenggaraan kehutanan di Indonesia bertujuan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan:
1. Menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional.
2. Mengoptimalkan aneka fungsi hutan, yang meliputi fungsi konservasi, fungsi lindung, dan fungsi produksi untuk mencapai manfaat lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi yang seimbang dan lestari.
3. Meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai.
4. Meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kapasitas dan keberdayaan masyarakat secara partisipatif, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan, sehingga mampu menciptakan ketahanan sosial dan ekonomi serta ketahanan terhadap akibat perubahan eksternal.
5. Menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Penguasaan sumber daya hutan oleh negara memberi wewenang kepada pemerintah untuk mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan; menetapkan kawasan hutan dan/atau mengubah status kawasan hutan; mengatur dan menetapkan hubungan hukum antara orang dan hutan atau kawasan hutan dan hasil
hutan; serta mengatur perbuatan hukum mengenai kehutanan.
Pemerintah mempunyai kewenangan untuk memberikan izin dan hak kepada siapapun untuk melakukan kegiatan di bidang kehutanan. Pemanfaatan hutan dilakukan dengan pemberian izin pemanfaatan kawasan, izin pemanfaatan jasa lingkungan, izin pemanfaatan hasil hutan kayu dan izin pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, serta izin pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu.
Hutan merupakan salah satu kekayaan sumber daya alam bangsa Indonesia yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, hutan yang ada Indonesia merupakan salah satu hutan tropis terluas di dunia, sehingga keberadaannya menjadi tumpuan bagi keberlangsungan kehidupan bangsa- bangsa di dunia, terutama dalam hal mengurangi dampak pemanasan global dan perubahan iklim. Oleh karena itu, hutan harus dijaga kelestariannya dari perbuatan-perbuatan yang dapat merusak hutan, seperti membakar hutan.
Kebakaran hutan dapat mengakibatkan terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Kesadaran dunia mengenai pentingnya isu perubahan iklim dimulai sejak tahun 1988 melalui pembentukan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) oleh United Nations Environment Programme (UNEP) dan World Meteorological Organizations (WMO).
Pembentukan Intergovernmental Panel on Climate Change dimaksudkan untuk mendapatkan bukti-bukti ilmiah mengenai penyebab terjadinya perubahan iklim. Setelah melewati
penelitian selama dua tahun, Intergovernmental Panel on Climate Change menyimpulkan bahwa perubahan iklim ternyata disebabkan oleh perbuatan manusia. Laporan yang dipublikasikan secara internasional tersebut menuntut agar segera dibuat kesepakatan internasional mengenai perubahan iklim.
Kemudian diselenggarakan Rio Earth Summit pada tahun 1992 dan berhasil dirumuskan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang ditandatangani oleh 150 negara, termasuk Indonesia.
Kebakaran hutan bukan merupakan fenomena yang langka di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau. Kebakaran hutan tersebut terjadi tidak hanya pada hutan produksi milik perusahaan, tetapi hutan konservasi dan hutan lindung juga terbakar. Bahkan, kebakaran juga terjadi pada lahan-lahan kecil milik masyarakat.
Kabupaten Indragiri Hilir merupakan salah satu daerah di Provinsi Riau yang menjadi langganan terjadinya kebakaran hutan. Pada tahun 2017, terjadi kebakaran hutan seluas lebih kurang 5 Ha yang berlokasi di Desa Teluk Jira Kecamatan Tempuling. Pada tahun 2018, terjadi kebakaran hutan seluas lebih kurang 20 Ha yang berlokasi di Desa Panglima Raja Kecamatan Concong. Sementara itu pada tahun 2019 kebakaran hutan yang terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir tidak hanya terjadi di satu titik saja, tetapi juga terjadi di beberapa titik secara bersamaan, yaitu di Kecamatan Tempuling, Kecamatan Enok, Kecamatan Kuindra, Kecamatan Batang Tuaka, Kecamatan Gaung, dan
Kecamatan Keritang dengan luas area yang terbakar lebih kurang 50 Ha.
Kebakaran hutan yang rutin terjadi setiap tahun di Kabupaten Indragiri Hilir menunjukkan lemahnya peran pemerintah dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan.
Program Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir selama ini hanya diarahkan pada proses pemadaman terhadap hutan yang terbakar dalam rangka mencegah penyebaran kabut asap yang dapat menyebar luas melewati batas negara hingga ke Malaysia dan Singapura serta mengganggu aktivitas masyarakat. Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir belum menemukan solusi yang ideal dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan, terutama pada saat musim kemarau.
Data dari website Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir menunjukkan bahwa Kabupaten Indragiri Hilir memiliki hutan seluas 395.634,94 Ha dengan rincian sebagai berikut:
1. Hutan bakau seluas 63.534,01 Ha
2. Hutan lindung di Pulau Air Tawar, Pulau Bakung, Pulau Cawan, dan Pulau Pisang seluas 34.973,05 Ha
3. Taman Nasional Bukit Tiga Puluh seluas 24.761,92 Ha 4. Hutan produksi di Sungai Gaung seluas 217.634,62 Ha 5. Hutan produksi terbatas Sungai Keritang dan Sungai Gangsal
seluas 54.731,34 Ha.
Dengan hamparan hutan yang luas, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir seharusnya mengalokasikan anggaran dana yang
besar untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan, tidak hanya melakukan pemadaman terhadap hutan yang terbakar saja.
Selain lemahnya peran Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan, hambatan dalam implementasi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan di Kabupaten Indragiri Hilir adalah minimnya pemahaman masyarakat (termasuk pelaku usaha) mengenai manfaat hutan untuk jangka panjang. Sebagian besar pelaku usaha di bidang kehutanan beranggapan bahwa hutan merupakan salah satu kekayaan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mencari keuntungan yang besar, tanpa mempertimbangkan bahwa hutan merupakan paru- paru dunia sebagai penghasil udara segar yang baik untuk kesehatan manusia dan berguna untuk menyeimbangkan keadaan iklim global.
Berdasarkan Pasal 50 ayat (3) huruf d Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan ditegaskan bahwa setiap orang dilarang membakar hutan.
Meskipun demikian, faktanya kebakaran hutan yang rutin terjadi setiap tahun di Kabupaten Indragiri Hilir.
Sanksi bagi pelaku tindak pidana pembakaran hutan diatur dalam Pasal 78 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Berdasarkan Pasal 78 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan ditegaskan bahwa barang siapa yang dengan sengaja membakar hutan dapat diancam dengan pidana penjara
paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah). Tidak hanya itu, berdasarkan Pasal 78 ayat (4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan ditegaskan bahwa barang siapa yang karena kelalaiannya menyebabkan hutan terbakar dapat diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000,- (satu miliar lima ratus juta rupiah).
Ketentuan di atas menyiratkan bahwa dalam kasus kebakaran hutan, sanksi tidak hanya diberikan kepada seseorang yang sengaja membakar hutan, tetapi juga diberikan kepada seseorang yang karena kelalaiannya sehingga menyebabkan hutan terbakar, contohnya seseorang yang membuang sisa rokok yang masih terbakar di atas rerumputan kering yang ada di pinggir jalan.
Selain itu, apabila tindak pidana pembakaran hutan dilakukan oleh badan hukum atau badan usaha dan/atau atas nama badan hukum atau badan usaha, maka tuntutan pidananya dijatuhkan kepada pengurus badan hukum atau badan usaha tersebut dengan sanksi pidana sebagaimana yang diatur dalam Pasal 78 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, lalu ditambah dengan 1/3 (satu pertiga) dari sanksi pidana pada Pasal 78 ayat (3) Undang- Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan tersebut.
Dalam rangka mewujudkan efektivitas implementasi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan di Kabupaten Indragiri Hilir, dibutuhkan adanya penegakan hukum yang tegas terhadap siapa pun yang melakukan tindak pidana pembakaran hutan. Akan tetapi, penegakan hukum tidak dapat berjalan sebagaimana yang dicita- citakan dalam undang-undang karena terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi proses penegakan hukum. Menurut Soerjono Soekanto, faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum ada lima, yaitu faktor hukum itu sendiri, faktor penegak hukum, faktor sarana yang mendukung penegakan hukum, faktor masyarakat, dan faktor kebudayaan. Kelima faktor tersebut saling berkaitan karena merupakan esensi dari penegakan hukum dan tolak ukur dari efektivitas penegakan hukum.
Pembangunan hutan berkelanjutan memerlukan upaya yang sungguh-sungguh dari semua pihak karena masih terjadi berbagai kejahatan di bidang kehutanan, seperti pembakaran hutan. Kejahatan di bidang kehutanan tersebut menimbulkan selain kerugian bagi negara dan kerusakan lingkungan hidup, juga dapat meningkatkan pemanasan global yang menjadi isu internasional. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagai dasar hukum yang mengatur mengenai hutan dan aspek-aspek yang berkaitan dengan hutan seolah belum mampu menjadi pelindung bagi hutan yang ada di Indonesia dari kerusakan. Oleh karena itu, pada tanggal 6 Agustus 2013 disahkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan lahir sebagai respon atas semakin kompleksnya kerusakan hutan.
Kebakaran hutan terjadi tidak hanya pada hutan produksi milik perusahaan, tetapi hutan konservasi dan hutan lindung juga terbakar. Bahkan, kebakaran juga terjadi pada lahan-lahan kecil milik masyarakat. Perusakan hutan telah berkembang menjadi suatu kejahatan yang mempunyai dampak yang luar biasa dan terorganisasi serta melibatkan banyak pihak, baik level nasional maupun internasional. Kerusakan hutan yang ditimbulkan akibat hutan yang terbakar sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara. Oleh karena itu, tindak pidana pembakaran hutan dikategorikan sebagai extra ordinary crime (kejahatan luar biasa), sehingga pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan merupakan sebuah keniscayaan yang harus segera dilakukan oleh pemerintah dalam rangka menjaga kelestarian hutan sebagai karunia dan amanah dari Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia
Asas-asas dalam pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan di Indonesia sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan yaitu
1. Asas keadilan dan kepastian hukum
Yang dimaksud dengan asas keadilan dan kepastian hukum adalah pencegahan dan pemberantasan perusakan
hutan yang diselenggarakan dengan berlandaskan hukum/ketentuan peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum berlaku untuk semua lapisan masyarakat.
2. Asas keberlanjutan
Yang dimaksud dengan asas keberlanjutan adalah setiap orang memikul kewajiban dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang dan terhadap sesamanya dalam satu generasi untuk menjaga kelestarian hutan.
3. Asas tanggung jawab negara
Yang dimaksud dengan asas tanggung jawab negara adalah pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan merupakan tanggung jawab negara untuk melakukannya agar kelestarian hutan tetap terjaga.
4. Asas partisipasi masyarakat
Yang dimaksud asas partisipasi masyarakat adalah bahwa keterlibatan masyarakat dalam melakukan kegiatan pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan memiliki peran yang sangat signifikan dalam rangka menjaga kelestarian hutan.
5. Asas tanggung gugat
Yang dimaksud dengan asas tanggung gugat adalah bahwa evaluasi kinerja pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan dilaksanakan dengan mengevaluasi pelaksanaan yang telah dilakukan dengan perencanaan yang telah dibuat secara sederhana, terukur, dapat dicapai, rasional, dan kegiatannya dapat dijadwalkan.
6. Asas prioritas
Yang dimaksud asas prioritas adalah bahwa perkara perusakan hutan merupakan perkara yang perlu penanganan segera sehingga penanganan penyelidikan, penyidikan, atau penuntutannya perlu didahulukan.
7. Asas keterpaduan dan koordinasi
Yang dimaksud dengan asas keterpaduan dan koordinasi adalah kegiatan pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan diselenggarakan dengan mengintegrasikan berbagai kepentingan yang bersifat lintas sektor, lintas pemangku kepentingan, dan koordinasi antarsektor dan antarkepentingan sangat diperlukan, yaitu pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Pada Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan disebutkan bahwa pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan di Indonesia bertujuan untuk:
1. Menjamin kepastian hukum dan memberikan efek jera bagi pelaku perusakan hutan.
2. Menjamin keberadaan hutan secara berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian dan tidak merusak lingkungan serta ekosistem di sekitarnya.
3. Mengoptimalkan pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan dengan memperhatikan keseimbangan fungsi hutan guna terwujudnya masyarakat yang sejahtera.
4. Meningkatkan kemampuan dan koordinasi aparat penegak hukum dan pihak-pihak terkait dalam menangani pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan.
Penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pembakaran hutan sebenarnya merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan oleh pemerintah maupun aparatur penegak hukum. Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dapat melakukan upaya pencegahan untuk meminimalisir terjadinya kebakaran hutan dengan melaksanakan penyuluhan hukum ke tengah- tengah masyarakat mengenai larangan membakar hutan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana pembakaran hutan, serta bahaya kebakaran hutan bagi kehidupan masyarakat. Agar upaya pencegahan tersebut lebih efektif, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dapat bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk memberikan penyuluhan hukum kepada masyarakat. Penguatan peran pihak kepolisian secara psikologis dapat meyakinkan masyarakat bahwa membakar hutan merupakan tindak pidana.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dapat meningkatkan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan yang ada di sekitarnya. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan disebutkan bahwa masyarakat berkewajiban untuk ikut memelihara dan menjaga hutan dari gangguan dan perusakan yang dilakukan oleh
orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Salah satu bentuk peningkatan peran masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan yaitu adanya penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir kepada masyarakat, baik perorangan maupun kelompok masyarakat, apabila mengetahui dan melaporkan pelaku tindak pidana pembakaran hutan di Kabupaten Indragiri Hilir.
Hutan sebagai karunia dan amanah dari Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia merupakan kekayaan alam yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, kelestarian hutan harus dijaga agar dapat diwariskan dari generasi ke generasi.
Daftar Pustaka
Abdul Muis Yusuf dan Mohammad Taufik Makarao. 2011.
Hukum Kehutanan di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Andrew Shandy Utama. 2019. “Kepercayaan Masyarakat terhadap Penegakan Hukum di Indonesia”. Jurnal Ensiklopedia Social Review, Volume 1, Nomor 3.
Geovani Meiwanda. 2016. “Kapabilitas Pemerintah Daerah Provinsi Riau; Hambatan dan Tantangan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan”. Jurnal Sosial Politik, Volume 19, Nomor 3.
Lawrence M. Friedman. 2009. Sistem Hukum; Perspektif Ilmu Sosial. Bandung: Nusa Media.
Salim H.S. 2013. Dasar-dasar Hukum Kehutanan. Jakarta: Sinar Grafika.
Soerjono Seokanto. 2013. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Jakarta: Rajawali Pers.
Supriadi. 2010. Hukum Kehutanan dan Hukum Perkebunan di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor
130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5432.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888.
Wartiningsih. 2014. Pidana Kehutanan; Keterlibatan dan Pertanggungjawaban Penyelenggara Kebijakan Kehutanan. Malang: Setara Press.
ADE PRATIWI SUSANTY, S.H., M.H.
Dosen Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning e-Mail: [email protected]
Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur yang merata secara material dan spiritual dalam era demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembangunan perekonomian nasional pada era globalisasi ini diharuskan dapat mendukung tumbuh dan berkembangnya dunia usaha, sehingga mampu menghasilkan beraneka ragam produk dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan telah dibukanya perdagangan bebas di wilayah Asia Tenggara melalui Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), maka produk-produk makanan dari negara-negara tetangga akan beredar dengan bebas di Indonesia. Terbukanya pasar nasional sebagai akibat dari proses globalisasi ekonomi harus tetap menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kepastian atas kualitas dan keamanan dari produk-produk yang diperjualbelikan di pasar. Kondisi tersebut di satu sisi sangat bermanfaat bagi masyarakat karena kebutuhan masyarakat terhadap produk-produk yang berkualitas dapat terpenuhi serta