BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 D ATA F AKTOR D EMOGRAFI R ESPONDEN
Tabel 5.5 Uji Reliabilitas Pada HK-LS
Uji Reliabilitas
Cronbach’s Alpha Jumlah Soal
0, 509 12 soal
Berdasarkan tabel 5.5, dapat disimpulkan bahwa dari 12 butir soal pertanyaan atau pernyataan reliabel karena didapatkan nilai sebesar 0,509. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kuesioner masuk dalam rentang reliabilitas cukup antara nilai 0,41-0,60.
Tabel 5.6 Uji Reliabilitas Pada MMAS-8
Uji Reliabilitas
Cronbach’s Alpha Jumlah Soal
0, 365 8 soal
Berdasarkan tabel 5.6, dapat disimpulkan bahwa dari 8 butir soal pertanyaan atau pernyataan reliabel karena didapatkan nilai sebesar 0,365. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kuesioner masuk dalam rentang reliabilitas rendah antara nilai 0,21-0,40.
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Faktor Demografi Responden
Variabel Jumlah (n=80) Persentase (%) Jenis Kelamin
Laki-laki 27 34%
Perempuan 53 66%
Usia
30-49 tahun 12 15%
50-59 tahun 24 30%
60-69 tahun 30 38%
70-79 tahun 13 16%
80-82 tahun 2 3%
Tingkat Pendidikan
SD 25 31%
SMP 26 33%
SMA 28 35%
S1 1 1%
Tingkat Pekerjaan
IRT 25 31%
Pensiunan/tdk bekerja 22 28%
Wiraswasta/bekerja sendiri 13 16%
Pedagang 10 13%
Petani 10 13%
Lamanya Terdiagnosa
Lama (>1 tahun) 50 63%
Baru (<1 tahun) 30 38%
Berdasarkan tabel 5.7 Dapat dilihat bahwa keseluruhan responden sebanyak 80 pasien dengan persentase 100% terlibat dalam penelitian ini.
Frekuensi demografi responden akan dijelaskan melalui diagram batang sebagai berikut:
5.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin yang terbanyak adalah perempuan sebanyak 53 responden (66%) sementara laki-laki sebanyak 27 responden (34%). Seperti yang dapat dilihat di dalam grafik berikut ini:
Grafik 5.1 Demografi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Sumber : Data Primer, 2022
Berdasarkan grafik 5.1 didapatkan hasil yang sesuai dengan penelitian sebelumnya, menurut Rahayu, dkk 2021 bahwa jenis kelamin responden di rumah sakit anwar medika adalah perempuan yaitu sebanyak 62 responden (58,49%), hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Wahyuni dan Eksanoto (2013), perempuan (62,8%) cenderung mengalami hipertensi daripada laki-laki (37,19%), perempuan akan mengalami peningkatan resiko tekanan darah tinggi setelah menopause yaitu usia >45 tahun, perempuan yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar high density lipoprotein (HDL). Kadar kolestrol HDL rendah dan tingginya kolestrol LDL (low density lipoprotein) mempengaruhi terjadinya proses aterosklerosis dan mengakibatkan tekanan darah tinggi.
34%
66%
0 10 20 30 40 50 60
Laki-laki Perempuan
Jenis Kelamin
Hasil penelitian grafik 5.1 menerangkan bahwa jenis kelamin laki-laki dan perempuan jelas sangat berbeda, tidak hanya dari segi fisik namun dari cara berpikir dan bertindak serta bagaimana menyikapi suatu masalah. Laki-laki dianggap lebih mampu untuk memimpin suatu diskusi dan bisa menjaga kesehatan tubuh seperti rutin berolahraga tiap minggu, menjadi atlet sehingga mampu mengontrol kondisi tubuh, sementara perempuan dianggap tidak demikian, karena tidak selalu berfokus pada diri sendiri.
Apriliani dan Rahmatillah (2019), menurut mereka hal ini terjadi disebabkan oleh peristiwa menopause yang di alami perempuan sehingga perempuan lebih beresiko mengalami peningkatan tekanan darah karena hormon estrogen yang terdapat pada wanita yang berfungsi melindungi pembuluh darah dari proses terbentuknya aterosklerosis sudah hilang atau berkurang kuantitasnya.
Jenis kelamin berpengaruh pada terjadinya penyakit hipertensi, pada jenis kelamin perempuan yang telah memasuki menopause. Prevalensi hipertensi pada perempuan meningkat. Bahkan setelah usia >60 tahun hipetensi pada perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan pria karena faktor hormonal (Notoatmojo, 2007).
5.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Data usia 80 responden di Desa “X” Kabupaten Banyuwangi dapat diketahui bahwa mayoritas penderita hipertensi yakni usia terbanyak adalah rentang usia 60-69 tahun sebanyak 30 responden (38%); usia 50-59 tahun sebanyak 24 responden (30%); usia 70-79 tahun sebanyak 13 responden (16%);
30-49 tahun sebanyak 12 responden (15%). Seperti yang dapat dilihat di dalam grafik berikut ini:
Grafik 5.2 Demografi Responden Berdasarkan Usia
Sumber : Data Primer, 2022
Berdasarkan grafik 5.2 didapatkan hasil yang sesuai dengan penelitian sebelumnya, menurut penelitian Rahayu, dkk (2021) bahwa penelitian ini sejalan dengan penelitian Tamamilang, dkk (2018) dimana kelompok usia terbanyak mengalami hipertensi yaitu usia 56-65 tahun (43,8%), hal ini karena semakin bertambahnya usia dinding arteri akan mengalami penebalan karena adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot sehinggan pembuluh darah akan menyempit dan menjadi kaku.
Hasil penelitian grafik 5.2 menerangkan bahwa usia >30 tahun, dimana saat itu usia masih menuju kedewasaan yang bisa mengatur pola hidup sehat dan dapat melakukan pekerjaan dengan aktif. Sehingga kemungkinan belum terkena penyakit hipertensi. Berbeda hal nya dengan pertumbuhan usia >40 yang akan mengalami frustasi atau sikap penolakan terhadap penyakit nya sehingga akan melewati sikap yang tidak patuh terhadap anjuran dokter ataupun apoteker terhadap terapi yang diberikan oleh tim medis. Sedangkan pada usia >80 tahun disebabkan kurang nya responden yang memeriksa pada saat itu, sehingga target tidak tercapai pada penyakit hipertensi.
15%
30%
38%
16%
0
3%
5 10 15 20 25 30 35
30-49 tahun
50-59 tahun
60-69 tahun
70-79 tahun
80-82 tahun
Usia
Amanda (2018) di Surabaya menyatakan bahwa umur >59 tahun merupakan faktor risiko pada penyakit hipertensi. Prevalensi terjadinya penyakit hipertensi pada penderita berumur >59 tahun 2,61 kali lebih tinggi dibandingkan dengan penderita berumur 40 tahun. Faktor usia adalah salah satu faktor risiko yang dapat mempengaruhi hipertensi, oleh sebab itu dengan bertambahnya usia maka semakin tinggi risiko mendapatkan hipertensi (Endang, 2014). Penyebab hipertensi pada usia dewasa yakni karena gaya hidup yang tidak sehat. Gaya hidup yang dapat menyebabkan hipertensi yakni merokok, kurang olahraga, konsumsi makanan berlemak, minum alkohol dan kopi, dan stres (Wendi, 2018).
5.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Tingkat pendidikan yang terbanyak adalah tingkat SMA sebanyak 28 responden (35%); SMP sebanyak 26 responden (33%); SD sebanyak 25 responden (31%); dan S1 sebanyak 1 responden(1%). Menurut penelitian Ernawati (2021) jenjang pendidikan terbanyak dari penelitiannya adalah tingkat menengah atas sebesar 35,57%. Seperti yang dapat dilihat di dalam grafik berikut ini:
Grafik 5.3 Demografi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Sumber: Data Primer, 2022
31% 33% 35%
1%
0 5 10 15 20 25 30
SD SMP SMA S1
Tingkat Pendidikan
Berdasarkan grafik 5.3 didapatkan hasil yang sesuai dengan penelitian sebelumnya, menurut Aidha dan Tarigan (2018) bahwa Sebanyak 30 responden (50%) yang di teliti, berpendidikan terakhir pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), sisanya adalah responden dengan pendidikan terakhir pada tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengan Pertama (SMP). sebahagian responden memiliki pendidikan akhir setara sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang. Termasuk perilaku mencegah penyakit dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Menurut teori Lawrence Green dalam buku pengantar ilmu kesehatan masyarakat karya Cecep Triwibowo (2015) bahwa perubahan perilaku seseorang ditentukan oleh tiga faktor yaitu (1) faktor predisposisi, (2) faktor pendukung, dan (3) faktor pendorong.
Hasil penelitian grafik 5.3 menerangkan bahwa hipertensi terendah bahwasannya pendidikan terakhir tingkat pendidikan (S1) yang diteliti memiliki kapasitas pasien yang lebih sedikit datang periksa, dibandingkan pendidikan tingkat menengah atas (SMA) yang lebih banyak kapasitas pasien yang datang untuk periksa. Informasi terkait pengetahuan pasien tidak hanya terus dilakukan oleh setiap orang, tetapi dalam hal sikap kepribadian juga menetukan ketidakpatuhan seseorang dalam mengonsumsi obat antihipertensi. Psikososial meliputi sikap pasien terhadap tenaga kesehatan serta menerima terhadap penyakitnya, sikap seseorang terhadap perilaku kepatuhan menentukan tingkat kepatuhan (Riskesdas, 2018).
Puspita, dkk (2017) menyatakan pendidikan dapat merubah perilaku positif. Pendidikan kesehatan juga memberikan suatu informasi kepada seseorang
yang akan menyebabkan peningkatan pengetahuannya. Jenjang pendidikan mempunyai peran yang sangat penting karena dengan pendidikan yang makin tinggi mampu mengakses berbagai informasi yang diperlukan sehingga akan mempengaruhi sikap dan pengalaman individu seseorang.
5.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Jenis pekerjaan terbanyak adalah sebagai ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 25 responden (31%) diikuti oleh pensiunan/tidak bekerja sebanyak 22 responden (28%); wiraswasta/bekerja sendiri sebanyak 13 responden (16%);
pedagang sebanyak 10 responden (13%); petani sebanyak 10 responden (13%).
Seperti yang dapat dilihat di dalam grafik berikut ini:
Grafik 5.4 Demografi Responden Berdasarkan Tingkat Pekerjaan
Sumber; Data Primer, 2022
Berdasarkan grafik 5.4 sesuai dengan penelitian sebelumnya, menurut penelitian Rahayu, dkk (2021) bahwa mayoritas pekerjaan responden tertinggi adalah hipertensi sebanyak 44 responden (41,6%), penelitian ini sejalan dengan penelitian Isra, dkk (2017), yang paling banyak mengalami hipertensi yaitu memiliki pekerjaan sebagai IRT sebanyak 34 responden (50%), perempuan yang tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga beresiko lebih tinggi menderita
31% 28%
16% 13% 13%
0 5 10 15 20 25 30
Tingkat Pekerjaan
hipertensi dibandingkan dengan perempuan yang bekerja, hal ini karena kurangnya aktifitas fisik yang dapat meningkatkan resiko kelebihan berat badan sehingga beresiko menderita hipertensi.
Hasil penelitian grafik 5.4 menerangkan bahwa hipertensi yang terendah disini terjadi pada aktivitas yang lebih berat seperti petani dan pedagang dengan total sebanyak 10 responden (13%), hal ini terjadi karena aktivitas yang dilakukan sehari-hari dengan rutin dan dapat beraktivitas seperti olahraga tanpa harus memikirkan sesuatu yang tidak penting, sehingga responden jarang terkena penyakit yang nama nya hipertensi.
Hananditia dan Silviana (2016), bahwa jenis pekerjaan yang paling banyak adalah ibu rumah tangga sebanyak 58 responden (61%), jenis pekerjaan sangat berkaitan dengan aktivitas fisik yang dilakukan oleh seseorang. Aktivitas sangat memengaruhi terjadinya hipertensi, yaitu pada orang yang kuat dalam beraktivitas akan cenderung mempunyai aktivitas denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantung akan harus bekerja lebih keras pada tiap kontraksi. Semakin keras dan sering otot jantung memompa maka makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri. Pekerjaan pada ibu rumah tangga (IRT) mempunyai aktivitas fisik yang lebih ringan sehingga memiliki faktor risiko terkena hipertensi lebih tinggi dan dimungkinkan ada faktor risiko lain seperti stress yang dapat memicu terjadinya penigkatan aktivitas saraf simpatis sehingga tekanan darah menjadi persisten lebih tinggi dari biasanya.
5.2.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Lamanya Terdiagnosa
Pasien Yang telah lama atau tidaknya terdiagnosa suatu penyakit tergantung dari pasien yang menderita, untuk pasien hipertensi yang telah
terdiagnosa lama sebanyak 50 responden (63%); sedangkan pasien hipertensi yang terdiagnosa baru sebanyak 30 responden (38%). Seperti yang dapat dilihat di dalam grafik berikut ini:
Grafik 5.5 Demografi Responden Berdasarkan Lamanya Terdiagnosa
Sumber: Data Primer, 2022
Berdasarkan grafik 5.5 sesuai dengan penelitian sebelumnya, menurut Hananditia dan Silviana (2016) bahwa lama menderita pasien hipertensi sangat mendukung terhadap pengetahuan dalam penggunaan obat, penelitian ini didapatkan data mengenai lama menderita pasien hipertensi terbanyak yaitu 1-5 tahun sebanyak 38 responden (40%), 2-6 bulan sebanyak 16 reponden (17%), 7- 11 bulan sebanyak 7 responden (7%). Faktor yang mempengaruhi seseorang adalah pengalaman dan tingkat pendidikan, semakin lama seseorang menderita hipertensi maka pengalamannya terhadap penyakit tersebut akan bertambah pula, pengalaman akan turut memperluas pengetahuan seseorang, semakin banyak pengalaman seseorang maka semakin tinggi juga pengetahuannya (Pramestutie, 2016).
Hasil penelitian grafik 5.5 menerangkan bahwa pasien yang baru terdiagnosa disini cenderung lebih rendah untuk terkena penyakit hipertensi
63%
38%
0 10 20 30 40 50 60
Lama (>1 tahun) Baru (<1 tahun)
Lamanya Terdiagnosa
karena lebih khawatir dengan kondisi nya sekarang sehingga menimbulkan motivasi atau keinginana untuk dapat mengontrol tekanan darah nya yang lebih besar ditambah lagi dengan kehidupan modern yang lebih mudah untuk mengakses informasi-informasi terbaru dari luar. Pasien yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi belum tentu memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi juga sehingga selain bosan, faktor biaya juga mempengaruhi kepatuhan hipertensi.
Penelitian ini sesuai dengan pendapat Gama, et al., (2014) semakin lama seseorang menderita hipertensi maka tingkat kepatuhannya makin rendah, hal ini disebabkan kebanyakan penderita akan merasa bosan untuk berobat.
Penelitian lain menurut Handayani, dkk (2019), Semakin lama pengobatan yang harus dijalani akan semakin tinggi pula biaya pengobatan yang harus ditanggung pasien, terutama pasien yang tidak memiliki asuransi kesehatan, sehingga menimbulkan kecendrungan ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan yang dijalani. Faktor kejenuhan penderita hipertensi yang menjalani pengobatan atau meminum obatnya dan tingkat kesembuhan yang dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan juga dapat menjadi faktor dalam ketidakpatuhan. Umumnya, pasien yang telah lama menderita hipertensi tetapi belum kunjung mencapai kesembuhan, maka dokter akan menambah jenis obat ataupun meningkatkan sedikit dosisnya, karena dimungkinkan akibat lamanya menderita hipertensi maka penyakit komplikasi lainnya sudah mulai muncul, hal ini mengakibatkan penderita tersebut cenderung tidak patuh (Puspita, dkk., 2017).