Disusun oleh : Risma Haryanti (1211622035) Prodi Pendidikan Bahasa Jepang ABSTRAK
Penelitian ini tentang penggunaan model pembelajaran audio visual berbentuk Anime terhadap ketertarikan siswa anggota ektrakulikuler Japan Club di SMA Negeri 92 Jakarta dalam mempelajari bahasa Jepang dimasa sekarang ini. Datanya didapat melelaui hasil pengisian angket yang ditujukan pada siswa anggota ektrakulikuler Japan Club di SMA Negeri 92 Jakarta.
Anime sendiri merupakan animasi yang berasal dari negara Jepang, diproduksi dengan cara digambar baik menggunakan tangan maupun digital, yang kemudiaan dikompilasikan menjadi satu film utuh. Modern ini anime sedang digandrungi oleh banyak orang dari berbagai kalangan.
Anime hadir dengan berbagai genere yang disuguhkan serta efek visual dan ost lagunya yang keren dan tidak pasaran, menjadikan anime tontonan yang saat ini booming, tidak hanya anak muda tak jarang orang dewasa pun gemar menonton anime. Karena berasal dari Jepang, umumnya anime diproduksi dengan bahasa jepang yang kemudian ditakarir ke dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif penggunaan media anime dalam menumbuhkan rasa ketertarikan siswa anggota ektrakulikuler Japan Club di SMA Negeri 92 Jakarta dalam mempelajari bahasa Jepang, serta melihat pengaruh yang diberikan oleh metode pembelajaran audio visual berbentuk anime dalam proses pembelajaran bahasa Jepang siswa anggota ektrakulikuler Japan Club di SMA Negeri 92 Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Data dikumpulkan dengan pengumpulan pendapat melalui angket google form yang dibagikan kepada siswa anggota ektrakulikuler Japan Club di SMA Negeri 92 Jakarta. Jumlah responden sebanyak 23 orang atau sekitar 72% dari jumlah keseluruhan anggota ektrakulikuler Japan Club di SMA Negeri 92 Jakarta. Berdasarkan data yang didapat dari angket yang telah dibagikan menunjukan bahwa, model pembelajaran audio visual
berbentuk Anime memiliki peran dalam menumbuhkan ketertarikan siswa dalam mempelajari bahasa Jepang, karena sebagian besar responden mengenal bahasa Jepang melalui anime.
Kata kunci : Audio Visual, Anime, Bahasa Jepang
PENDAHULUAN
Belajar merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk menambah ilmu dan pengetahuan seseorang. Belajar identik dengan duduk diam dikelas, mendengarkan guru atau pengajar yang kemudian apa yang disampaikan dicatatat kembali agar mudah diingat. Hal itulah yang biasanya terlintas dipemikiran seseorang apabila mendengar kata belajar. Namun, kenyataannya belajar merupakan kegiatan yang dapat dilakukan dimanapun, asalkan hal tersebut memberi ilmu pengetahuan dan pembelajaran, belajar dapat dilakukan dimanapun dan dalam bentuk kegiatan apapun. Modern ini, banyak model pembelajaran baru yang berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), salah satunya ialah model pembelajaran audio visual.
Azhar Arsyad (2003 : 30) berpendapat, teknologi audio visual merupakan cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin 18 mekanis dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual. Perkembangan model pembelajaran ini dapat menjadi sebuah cara yang fresh dan menyenangkan bagi murid-murid dalam mempelajari ilmu dan pengetahuan baru. Terlebih lagi model pembelajaran audio visual tidak terpaku pada sekolah maupun instansi pendidikan manapun, yang berarti pelajar dapat bebas mengakses materi pembelajaran yang diinginkan. Model pembelajaran audio visual ini menyalurkan pembelajaran dengan media berbentuk video, film hingga animasi. Anime menjadi salah satu media model pembelajaran audio visual khususnya dalam menyampaiakan pembelajaran bahasa Jepang dengan menyenangkan. Dengan adanya anime pengenalan bahasa Jepang dimasa sekarang menjadi lebih mudah, tak jarang murid-murid menjadi tertarik mempelajari bahasa Jepang berawal dari kegemarannya menonton anime. Namun apakah dalam kenyataannya peggunaan model pembelajaran audio visual berbentuk anime dapat membangkitkan ketertarikan, motivasi serta minat dalam mempelajari bahasa Jepang
Berlatar belakang masalah tersebut penelitian ini diadakan, dengan judul penilitian “Efektivitas Model Pembelajaran Audio Visual Berbentuk Anime Terhadap Ketertarikan Siswa Anggota Ekstrakurikuler Japan Club di SMA Negeri 92 Jakarta Dalam Mempelajari Bahasa Jepang Dimasa Sekarang”.
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini ialah untuk mengetahui, (1)pengetahuan siswa anggota akstrakurikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta tentang model pembelajaran audio visual berbentuk anime. (2)seberapa efektif penggunaan anime sebagai media dari model pembelajaran audio visual terhadap ketertarikan siswa anggota ekstrakurikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta dalam mempelajari bahasa Jepang dimasa sekarang. (3)seberapa efektif penggunaan anime sebagai media dari model pembelajaran audio visual terhadap pemahaman siswa mengenai bahasa Jepang.
KAJIAN PUSTAKA
Penulisan kajian pustaka pada artikel ilmiah ini yang berjudul “Efektivitas Model Pembelajaran Audio Visual Berbentuk Anime Terhadap Ketertarikan Siswa Anggota Ekstrakurikuler Japan Club di SMA Negeri 92 Jakarta Dalam Mempelajari Bahasa Jepang Dimasa Sekarang” dibuat dengan merujuk fakta dan informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan artikel ilmiah ini.
Model pembelajaran audio visual, model pembelajaran ini bukan hal baru lagi di dunia pendidikan, termasuk di Indonesia. Menurut Sudjana dan Rivai ( 2003 : 58 ) Media audio visual diartikan sebagai kumpulan peralatan yang digunakan oleh guru ketika memberikan gagasan, konsep maupun pengetahuan yang nantinya bisa ditangkap oleh indra penglihatan maupun pendengaran. Jadi media ini sebagai penyalur informasi yang bisa diterima oleh indera penglihatan maupun pendengaran. Pendapat Sudjana dan Rivai menjelaskan bahwa model pembelajaran audio visual menggunakan media yang dapat diterima panca indra pendengar dan penglihat. Menambahkan pendapata Sudjana dan Rivai, Arsyad ( 2002 : 94 ) berpendapat demikian, Media audio visual merupakan sebuah media visual yang didalamnya terkandung unsur suara yang ditambahkan dalam produksinya. Dengan kata lain, terdapat suara berupa
penjelasan yang akan membuat media visual itu lebih hidup dan mudah untuk dipahami bagi siapapun yang mengaksesnya. Berfikir dari pendapat tersebut sebuah media pembelajaran visual apabila diberikan suara atau audio penjelasan dapat dimengerti lebih baik disbanding dengan tidak menggunakan audio maupun audionya saja. Mengambil kesimpulan dari kedua pendapat yang telah dikemukakakan oleh Arsyad, Sudjana dan Rivai. Media atau model pembelajaran audio visual merupakan metode pembelajaran dimana dalam praktiknya menggunakan media yang penyampaiannya dapat diterima oleh indera penglihatan dan pendengaran diwaktu yang sama, sehingga dapat terbentuk sebuah stimulus bagi siswa dalam mempelajari suatu hal dengan metode yang memadukan dua pancaindra sekaligus.
Model pembelajaran audio visual, dalam menyampaikan pembelajaran memerlukan sebuah media yang digunakan untuk membawa informasi, konten maupun pengetahuan yang nantinya disalurkan kepada siswa atau orang yang menonton. Media yang digunakan dapat berupa video, film, hingga animasi. Pada penelitian ini media yang digunakan berupa animasi asal Jepang atau yang lebih akrab dikenal dengan sebutan anime. Pengertian animasi sendiri menurut seorang ahli dan penulish buku Macromedia Flash Animation & Cartooning: A Creative Guide (2002) Bernama Ibiz Fernandez McGraw, merupakan suatu proses perekaman dan permainan kembali serangkaian gambar diam atau statis untuk menciptakan suatu ilusi pergerakan seolah-olah hidup. Sedangkan pengertian anime yang mengutip dari Wikipedia yang menjelaskan tentang pengertian anime sebagai berikut, Anime adalah animasi asal Jepang yang digambar dengan tangan maupun menggunakan teknologi computer. Menurut Aghnia (dalam ihsan, 2016) berpendapat mengenai pengertian anime, bahwa anime adalah animasi khas Jepang, biasanya dicirikan melalui gambar-gambar berwarna-warni yang menampilkan tokoh-tokoh dalam berbagai macam lokasi dan cerita, ditujukan pada beragam jenis penonton.. Kata anime sendiri merupakan kata serapan yang berasal dari kata dalam bahasa inggris yakni animation, yang kemudian diserap kedalam bahasa Jepang yang dipersingkat dan ditulis menggunakan huruf katakana yang terdiri dari huruf a kataktan ア, huruf ni katakana 二, dan huruf me katakana メ.
Anime merupkan animasi asal jepang yang diproduksi dengan cara menggambar tiap framenya baik secara manual maupun dengan menggunakan media digital. Karena digambar satu persatu
mana terdapat efek-efek dramatis yang menambah daya tarik anime. Anime selalunya diisi dengan suara berbahasa Jepang yang diberi takarir berbahasa Indonesia. Karena kepopuleran anime berbahasa Jepang, banyak siswa yang tertarik mengenal bahasa Jepang lebih lanjut dan pada akhirnya mempelajari bahasa Jepang lebih dalam.
Bahasa merupakan sebuah alat komunikasi yang digunkan dalam menyampaikan suatu informasi, dapat berbentuk suara, simbol, isyarat maupun lainnya. Menurut Moeliono ( 2007 : 88 ) Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Di seluruh dunia terdapat sekitar 7.000 bahasa yang digunakan diseluruh dunia. Bahasa Jepang menjadi salah satu bahasa yang ada dan digunakan oleh masyarakat di negeri sakura itu. Bahasa Jepang merupakan bahasa yang dapat dinyatakan dengan tulisan menggunakan huruf-huruf (kanji, hiragana, katakana, romaji) (Iwabuchi dalam Sudjianto dan Dahidi 2004 : 55 ). Bahasa Jepang merupakan bahasa yang unik, dalam pelafalannya huruf jepang (huruf kana) selalu berdampingan dengan huruf vocal a i u e o, pengecualian kepada huruf n yang dapat berdiri sendiri dengan adanya huruf vocal maupun tanpa adanya huruf vocal. Dari segi penulisan bahasa Jepang ditulis dengan 3 huruf yakni, huruf Hiragana yang biasanya digunakan untuk menulis bahasa Jepang asli atau nama orang Jepang, kemudian ada huruf Katakana yang digunakan untuk menulis kata serapan dari bahasa asing maupun menuliskan nama orang asing, dan huruf terakhir ialah kanji yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jepang agar lebih singkat dan tegas dalam menuliskan sebuah kata. Bahasa Jepang termasuk bahasa yang popular didunia khususnya di benua asia tepatnya di asia bagian timur dan tenggara. Hal ini disebabkan oleh pengaruh kerja sama ekonomi yang dijalin Jepang dengan beberapa negara serta adanya pertukaran kebudayaan yang terjadi karena adanya globalisasi dan kemajuan iptek sehingga mudah untuk memperoleh informasi. Beberapa faktor yang membawa bahasa Jepang menjadi popular ialah komik Jepang (manga), anime, musik J-pop, dorama dan lainnya. Belakangan ini popularitas anime meningkat yang mengakibatkan meniingkat pula popularitas bahasa Jepang dan orang-orang yang tertarik untuk memperlajari bahasa Jepang.
METODOLOGI
Penelitian mengenai efektivitas model pembelajaran audio visual berbentuk anime terhadap ketertarikan siswa anggota ekstrakurikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta dalam mempelajari bahasa Jepang dimasa sekarang, dilakukan di SMA Negeri 92 Jakarta. Pemilihan lokasi penelitian ini di SMA Negeri 92 Jakarta ialah karena SMA Negeri 92 Jakarta merupakan salah satu sekolah menangah atas negeri di Jakarta yang memiliki ekstrakulikuler Japan club.
Selain ekstrakulikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta juga memiliki jurusan bahasa yang mana peminatan bahasa asing yang ada di SMA Negeri 92 Jakarta ialah bahasa Jepang.
Ekstrakulikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta juga merupakan salah satu Ekstrakulikuler Japan club yang aktif dengan kegiatan rutin setiap minggunya serta memiliki narasumber sensei yang merupakan orang Jepang asli. Hal ini menunjukan kualitas ektrakulikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta yang sangat baik. Dalam menjalankan penelitian ini penulis meneliti siswa- siswi yang tergabung dalam keanggotaan ektrakulikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta untuk dimintai pendapat mereka mengenai ke-efektifan model pembelajaran audio visual berbentuk anime terhadap ketertarikan mereka dalam mempelajari bahasa Jepang dimasa sekarang
Sumber data yang terdapat dalam penelitian ini meliputi informan yakni siswa-siswa anggota ektrakulikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta. Teknik pengumpulan data pada penilitian ini diperoleh dengan pengumpulan poling pendapat yang dibagikan kepada siswa-siswa anggota ektrakulikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta dalam bentuk formulir google form.
ANALISIS DAN PEMBAHASAAN
Siswa-siswi anggota ektrakulikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta yang merupakan informan atau objek dari penelitian memberikan pendapat mereka melalui poling pendapat yang telah mereka isi. Di dalam poling pendapat tersebut telah diberi beberapa pertanyaan seputar anime dan bahasa Jepang yang menajadi fokus pada penilitian ini. Dengan jumlah
responden sebanyak 23 orang atau sekitar 72% dari jumlah keseluruhan anggota ektrakulikuler Japan Club di SMA Negeri 92 Jakarta.
Dimulai dengan pertanyaan tentang apakah mereka mengenal anime, dengan persentase diagram yang menunjukan angka 95,7 % dari total seluruh partisipan menjawab ‘Ya’. Hal ini menunjukan bahwa hampir seluruh partisipan mengenal apa itu anime.
Melanjutkan pertanyaan sebelumnya, pada pertanyaan kedua yang menanyakan prihal pengalaman partisipan dalam menonton anime, persentase diagram menunjukan angka 100%
yang berarti semua partisipan pernah menonton anime. Modern ini tidak sulid untuk dapat mengakses anime. Platform-platform nonton online seperti YouTube, Netflix, iQiy, hingga televisi nasional pun kerap menayangkan anime-anime terkenal seperti Naruto atau Doraemon. namun biasanya anime yang ditayangkan di televisi nasional sudah melalui proses penyulihan suara sehingga tidak lagi menggunakan bahasa Jepang melainkan menggunkana bahasa Indonesi.
Dengan kemudahannya untuk diakses serta kerap muncul di televisi nasiona, maka tidak heran jika seluruh partisipan pernah menonton anime.
Dipertanyaan selanjutnya partisipan ditanya mengenai intensitasnya dalam menonton anime.
Persentase diagram menunjukan 60,9% dari jumlah keseluruan partisipan menjawab ‘Ya’, 21,7%
dari total partisipan menjawan ‘Tidak’ dan sisanya yakni 17,4% dari partisipan menjawab
‘Mungkin’. Dengan jawaban yang beragam dapat terlihat bahwa tidak semua partisipan yang merupakan anggota dari ektrakulikuler Japan Club di SMA Negeri 92 Jakarta gemar menonton anime, walaupun persentase yang gemar menonton anime masih lebih banyak dibanding yang tidak.
Pada pertanyaan selanjutnya, pertanyaan yang diajukan berupa pengetahuan bahasa Jepang partisipan sebelum mengenal anime. Pada pertanyaan ini jawaban partisipan menyebar dengan presentase diagram menunjukan sebanyak 43.5% partisipan menjawab ‘Tidak’, yang kemudian disusul dengan 39,1% partisipan yang menjawab ‘Ya’, dan yang terakhir yakni 17,4% partisipan yang menjawab ‘Mungkin’.
Kemudian pada pertanyaan selanjutnya, partisipan ditanya mengenai peran anime dalam memperkenalkan bahasa Jepang. Dimana sebanyak 69,6% partisipan menjawab ‘Ya’ yang berarti setuju pada pertanyaan yang diajukan, kemudian sebanyak 21,7% partisipan menajawab
‘Tidak’, dan sebanyak 8,7% partisipan menjawab ‘Mungkin’.
Pada pertanyan selanjutnya, partisipan diberi pertanyan yang menanyakan pendapatnya perihal pengaruh anime dalam menumbuhkan rasa ketertarikannya untuk mempelajari bahasa Jepang.
Persentasi diagram menunjukan sebanyak 82,6% partisipan menjawab ‘Ya’, kemudian sebanyak 8,7% partisipan menjawab ‘Tidak’ begitu pula dengan yang menjawab ‘Mungkin’. Hal ini
menadakan bahwa sebagian besar partisipan setuju dengan petanyaan yang diajukan, yakni bahwa anime dapat meningkatkan ketertarikan partisipan yang merupakan anggota dari ektrakulikuler Japan Club di SMA Negeri 92 Jakarta dalam mempelajari bahasa Jepang.
Kemungkinan besar hal ini dipengaruhi karena model pembelajaran menggunakan anime ini termasuk kedalam bentuk media audio visual yang dalam penyampaiannya melibatkan dua panca indra sekaligus yakni pendengaran dan penglihatan, yang membentuk proses belajar tidak langsung menjadi menyenangkan, sehingga menumbuh ketertarikat untuk mempelajari apa yang dilihat dan dengar (dalam kasus ini ialah bahas Jepang yang infromasinya didapat dari anime).
Terlepas dari anime yang efektif dalam meningkatkan ketertarikan partisipan untuk mempelajari bahasa Jepang, pada pertanyaan kali ini yang menanyakan perihal kefektifan anime dalam metode belajar bahasa Jepang masih banyak partisipan yang kurang setuju dengan persentase diagram 47,8% menjawab ‘Ya’, 43,5% partisipan menjawab ‘Tidak’ dan sebanyak 8,7% partisipan yang menjawab ‘Mungkin’.
KESIMPULAN DAN SARAN
Model pebelajaran audio visual berbentuk Anime, merupakan sebuah model pembelajaran dengan penyampaian informasi melalui pendengaran dan penglihatan berbentuk animasi karya Jepang yang dibuat dengan cara digambar satu persatu tiap framenya baik dengan tangan maupun digital yang dilengkapi audio berbahasa Jepang. Dari penilitan yang dilakukan kepada siswa-siswi anggota ektrakulikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta menunjukan bahwa
popularitas anime dimasa sekarang memiliki efektifitas dalam menjadi suatu motivasi untuk meningkatkan ketertarikan dalam mempelajari bahasa Jepang. Namun, dalam proses pembelajarannya ternyata anime belum cukup efektif untuk menjadi metode belajar yang efektif dalam mempelajari bahasa Jepang. Hal yang dapat dilakukan ialah dengan menjadikan anime sebagai media untuk meningkatkan ketertarikan siswa-siswi anggota ektrakulikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta dalam mempelajari bahasa Jepang dimasa sekarang ini, namun juga membarenginya dengan belajar secara formal maupun semiformal di lembaga-lembaga pendidikan yang kemudian disesuaikan dengan model pembelajaran yang cocok. Kesimpulannya efektivitas model pembelajaran audio visual berbentuk anime terhadap ketertarikan siswa anggota ekstrakurikuler Japan club di SMA Negeri 92 Jakarta dalam mempelajari bahasa Jepang dimasa sekarang, dianggap efektif karena sebagian besar partisipan dalam penelitian ini setuju bahwa anime dapat meningkatkan ketertariakan mereka untuk mempelajari bahasa Jepang.
DAFTAR PUSTAKA
https://eprints.uny.ac.id/18337/4/4.%20BAB%20II%2010416241002.pdf diakses tanggal 12 Desember 2022
https://www.posbali.id/pengertian-media-audio-visual-menurut-para-ahli/ diakses tanggal 12 Desember 2022
https://elibrary.unikom.ac.id/id/eprint/3151/8/13.UNIKOM_RIDHWAN_MAULANA_BAB
%20II.pdf di akses tanggal 12 Desember 2022 http://repository.unsada.ac.id/1726/3/BAB
%20II.pdf diakses tanggal 12 Desember 2022.
https://www.selasar.com/pengertian-animasi/ diakses tanggal 12 Desember 2022
http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/19103/BAB%20II.pdf?
sequence=6&isAllowed=y#:~:text=Menurut%20Iwabuchi%20dalam%20Sudjianto%20dan,moji%20dan
%20hyoo%60on%20moji . diakses tanggal 12 Desember 2022
Pengaruh Anime Sebagai Media Pendukung dalam Mata Kuliah Kaiwa bagi Mahasiswa Semester 1 Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Jakarta Tahun 2022
Oleh : Aliyyah Khairunnisa (1211622010)
Prodi Pendidikan Bahasa Jepang, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta
ABSTRAK
Penelitian ini tentang Pengaruh Anime Sebagai Media Pendukung dalam Mata Kuliah Kaiwa bagi Mahasiswa Semester 1 Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Jakarta Tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketertarikan mahasiswa tentang anime yang menjadi media pendukung dalam mata kuliah kaiwa. Selain itu juga mengukur sejauh mana pengaruh anime dalam menambah wawasan mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang mengenai ciri khas, tata bahasa, pelafalan, dan intonasi bahasa Jepang sehingga dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran terutama dalam mata kuliah kaiwa mengenai percakapan.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Jenis penelitian kualitatif deskriptif menampilkan hasil data apa adanya tanpa proses manipulasi atau perlakuan lain. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan pola pikir deduktif. Data dikumpulkan dengan pengumpulan pendapat melalui angket Google Form. Jumlah responden sebanyak 46 mahasiswa dari jumlah keseluruhan 72 mahasiswa semester satu Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Jakarta Tahun 2022. Setelah diteliti, hasil penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester satu Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Jakarta Tahun 2022 pernah menonton anime. Anime ini memiliki banyak pilihan genre untuk ditonton. Antara lain genre action, adventure, fantasy, slice of life, romance dan genre yang lainnya. Hal ini menambah bahan belajar mahasiswa untuk mempelajari percakapan bahasa Jepang dari tontonan tersebut. Mahasiswa terbantu dengan anime sebagai media pendukung yang memudahkan dalam menambah kosa kata dan memahami cara percakapan dalam bahasa Jepang beserta arti dari percakapan tersebut. Dengan menonton dan mendengarkan percakapan dalam anime terbukti mempermudah mahasiswa melakukan percakapan dan mendalami materi percakapan yang ada dalam mata kuliah kaiwa.
Kata kunci: Anime, Percakapan, Bahasa Jepang, Mahasiswa
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemampuan berbahasa asing memiliki peran penting dalam komunikasi dunia global. Di antara beberapa bahasa asing yang banyak digunakan dalam komunikasi internasional, Bahasa Jepang menduduki posisi penting. Agar dapat terlibat dalam komunikasi global, pembelajar Bahasa Jepang harus bisa mengembangkan kecakapan berbahasa Jepang, baik dari segi kosakata, tata-bahasa, percakapan sehari-hari. Pembelajar bahasa Jepang sering mengalami kesulitan ketika mengungkapkan sesuatu menggunakan bahasa Jepang.
Kesulitan yang dihadapi oleh pembelajar dapat menurunkan semangat untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang. Pembelajar bahasa Jepang mengalami kesulitan dikarenakan beberapa faktor. Salah satunya adalah kepercayaan diri pembelajar yang rendah berkomunikasi dalam bahasa Jepang. Ini adalah salah satu masalah yang sering ditemui oleh pembelajar bahasa Jepang.
Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membuat media pembelajaran semakin beragam. Salah satunya adalah media pembelajaran audio visual yang banyak digunakan saat ini. Hal ini dikarenakan media audio visual dapat menampilkan suara dan gambar. Bentuk karya yang dapat menjadi media audio visual adalah kartun Jepang atau biasa disebut anime. Anime merupakan istilah film animasi yang sangat terkenal di Jepang hingga seluruh dunia dan merupakan pop culture milik Jepang. Berbicara mengenai budaya Jepang tidak akan lepas dari anime yang dihasilkan oleh “negara matahari terbit” tersebut. Wells dalam Steinberg (2012:1) mengemukakan pengertian animasi berasal dari kata latin, animare, yang berarti "memberikan kehidupan" dan dalam konteks film animasi, sebagian besar berarti penciptaan ilusi gerakan buatan dalam garis-garis dan bentuk yang tidak hidup, maka dapat disebut sebagai grafik yang bergerak dan seolah-olah
hidup. Anime memberikan daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya untuk sekedar hiburan karena fantasi dan imajinasi yang tidak dapat terjadi di dunia nyata bisa digambarkan dan dituangkan di dalam film animasi itu sendiri. Norris (2009:236) juga membenarkan bahwa anime telah disamakan dengan budaya Jepang kontemporer visual dan estetika di banyak media, pembelajar budaya dan komentator di seluruh dunia. Anime juga memiliki berbagai macam genre sehingga penontonnya dapat memilih sesuai dengan genre yang mereka suka.
Sayangnya, masih banyak orang beranggapan bahwa anime hanya tontonan milik anak- anak yang bersifat menghibur dan tidak memiliki makna tertentu yang ingin disampaikan.
Walaupun anime bisa disebut sebagai sarana hiburan, tetapi juga bisa menjadi bahan pembelajaran khususnya bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang. Bahkan mata kuliah kaiwa yang merupakan mata kuliah percakapan menggunakan anime sebagai salah satu media pembelajarannya. Mahasiswa diminta untuk mengamati percakapan yang dilakukan didalam anime. Dengan mengamati percakapan yang ada dalam anime membuat mahasiswa belajar banyak hal mengenai cara percakapan dalam bahasa Jepang beserta ciri khasnya. Dengan demikian masalah anime yang dianggap tidak penting oleh orang lain sebenarnya membantu menambah pengetahuan mahasiswa. Oleh karena itu, mahasiswa harus dapat membuktikan bahwa anime bukan hanya sebagai hiburan semata tapi juga memberikan ilmu bagi yang ingin belajar bahasa Jepang.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah dengan menonton anime membuat terbiasa dalam mendengarkan percakapan bahasa Jepang?
2. Apakah dengan menonton anime dapat menambah kosakata bahasa Jepang?
3. Apakah dengan menonton anime membuat memahami ciri khas percakapan dalam bahasa Jepang?