BAB V PENUTUP
5.1 KESIMPULAN DAN SARAN .1 Kesimpulan
5.1.2 Saran
1. Sebaiknya para mahasiswa Semester 1 Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Jakarta Tahun 2022 agar menggunakan media pendukung pembelajaran seperti anime dengan sebaik-baiknya karena media ini memiliki visualisasi yang menarik sehingga tidak membuat bosan.
2. Sebaiknya para mahasiswa Semester 1 Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Jakarta Tahun 2022 dapat lebih berani mengaplikasikan percakapan yang ada dalam anime dalam kegiatan pembelajaran kaiwa agar meningkatkan percaya diri dalam berkomunikasi dalam bahasa Jepang.
3. Sebaiknya para mahasiswa Semester 1 Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Jakarta Tahun 2022 memperhatikan percakapan yang ada dalam anime sehingga mengetahui ciri khas, pola kalimat, pelafalan, dan intonasi bahasa Jepang itu seperti apa
DAFTAR PUSTAKA
Allen John.2015. Anime and Manga, (San Diego: Reference Point Press, Inc)
Alvin dkk.2018. PENGARUH KONSUMSI ANIME DAN MANGA TERHADAP PEMBELAJARAN BUDAYA DAN BAHASA JEPANG, (Semarang : Universitas Diponegoro Press)
Arsyad, Ashar.2003. Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grasindo Persada)
Bungin, Burhan. 2011.Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. (Jakarta: Kencana, 2011)
LAMPIRAN
PERTANYAAN ANGKET DALAM BENTUK GOOGLE FORM
Efektivitas Penggunaan Meme Sebagai Media Edukasi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Semester 1 Angkatan 2022 di Universitas Negeri Jakarta
Penulis : Nafisah (NIM: 1211622027), Pendidikan Bahasa Jepang
ABSTRAK : Penelitian ini tentang media edukasi terbaru yang tengah menjadi tren dan banyak dijumpai di dunia maya, baik di Facebook, Whatsapp, Instagram, ataupun Twitter. Media edukasi itu adalah meme. Meme sendiri berasal dari bahasa Yunani, yakni "Mimema". Istilah
"meme" pertama kali dibuat oleh Richard Dawkins, yakni seorang ahli biologi evolusioner dalam bukunya 'the Selfish Gene' atau 'Gen Egois' tahun 1976. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektif atau tidaknya penggunaan meme sebagai media edukasi bagi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Jepang Semester 1 di Universitas Negeri Jakarta. Mahasiswa membutuhkan inovasi baru dalam belajar yang akan membantu untuk memahami serta mengingat materi pelajaran dengan menyenangkan. Oleh karena itu, penulis memilih meme sebagai objek yang diteliti. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Menurut Arikunto (2006:12) Penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang banyak menggunakan angka-angka, mulai dari mengumpulkan data, penafsiran terhadap data yang diperoleh, serta pemaparan hasilnya. Data dikumpulkan dengan pengumpulan pendapat menggunakan angket Google Form. Jumlah responden penelitian ini sebanyak 71 orang dengan rincian seluruh responden adalah mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Jepang Semester 1 angkatan 2022. Setelah diteliti, hasil penelitian ini adalah sebanyak 84,5%
responden berpendapat bahwa penggunaan meme efektif sebagai media edukasi. Lalu, didapati hasil bahwa hampir seluruh responden menganggap meme sebagai media edukasi yang menyenangkan. Dari 3 gambar yang dijabarkan pada angket, mayoritas responden berhasil memahami makna yang terkandung di dalam meme tersebut.
Kata kunci : Meme, Media Edukasi, Pendidikan Bahasa Jepang.
PENDAHULUAN
Di masa serba digital ini, internet tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern.
Penyebaran informasi yang cepat adalah salah satu dampak dari adanya internet. Dengan
adanya internet, masyarakat dapat mengakses dunia maya, seperti Facebook, Instagram, Whatsapp, ataupun Twitter. Di dunia maya, masyarakat dapat melihat berbagai macam konten, baik konten yang bersifat positif ataupun konten yang bersifat negatif. Konten yang bersifat positif contohnya adalah konten motivasi, konten inspirasi, konten tutorial, konten sosial eksperimen, webinars, podcast, konten informatif, konten hiburan, konten pendidikan, dan lain sebagainya.
Di dunia maya, tersebar luas suatu konten yang disebut dengan meme. Saat mengakses dunia maya, masyarakat pasti pernah atau bahkan sering kali melihat konten ini. Hampir semua masyarakat menyukai meme karena kebanyakan meme berisikan lelucon. Walau memang ada beberapa meme yang tidak disukai, seperti meme yang berisikan rasisme, olok-olokan, kata-kata kasar, dan hal negatif lainnya.
Lalu, bukan hanya sebagai media untuk menyampaikan suatu lelucon, meme pun mulai mengalami perkembangan dan tak sedikit orang yang mulai menjadikan meme sebagai media untuk menyebarkan informasi. Pembelajaran dengan cara yang membosankan tentunya dapat membuat penerima materi pelajaran merasa jenuh dan bosan sehingga tidak dapat menerima materi yang diajarkan secara maksimal. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi baru untuk membuat cara belajar mengajar lebih efektif dibandingkan sebelumnya sehingga akan membantu para pelajar nantinya.
Meme dianggap menjadi media edukasi yang menyenangkan untuk digunakan. Dengan meme, penerima materi pelajaran diharapkan dapat menyerap seluruh materi secara maksimal tanpa
membuat penerima materi merasa bosan. Di Universitas Negeri Jakarta pun, hampir seluruh mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Jepang Semester 1 angkatan 2022 senang menggunakan meme sebagai media edukasi. Hal tersebut dapat dibuktikan berdasarkan angket yang telah penulis sebarkan kepada para mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Jepang Semester 1 angkatan 2022 dengan bantuan Google Form yang mana link disebarkan di dalam grup angkatan yang ada di aplikasi Whatsapp.
Gambar 1 Hasil Angket dengan pertanyaan “Apakah menyenangkan menggunakan meme sebagai media edukasi?”
Dari data tersebut, yang mana diperoleh dari hasil angket menggunakan Google Form, memang hampir seluruh responden senang menggunakan meme sebagai media edukasi. Namun, efektivitas meme sebagai media edukasi inilah yang masih harus dipertanyakan. Menurut Hidayat (1986: 30) Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Di mana makin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya.
Berdasarkan latar belakang yang telah ditulis di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah “apakah penggunaan meme sebagai media edukasi efektif bagi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Jepang Semester 1 angkatan 2022 di Universitas Negeri Jakarta?”. Jika tidak, maka meme dianggap gagal sebagai media untuk lebih memahami bahasa Jepang dengan
Dari rumusan masalah di atas, tujuan penulisan ini adalah “untuk mengetahui apakah penggunaan meme sebagai media edukasi efektif bagi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Jepang Semester 1 angkatan 2022 di Universitas Negeri Jakarta“. Jika iya, maka meme dianggap telah berhasil menjadi media yang cocok untuk dapat lebih memahami bahasa Jepang dengan lebih menyenangkan.
KAJIAN TEORI Pengertian dari Meme
Meme adalah salah satu konten yang keberadaannya banyak ditemukan di dunia maya. Meme sering kali berisikan lelucon yang mana konteksnya harus mudah untuk dipahami oleh masyarakat luas. Jika tidak, masyarakat tidak akan memahami konteks yang terkandung di dalam meme tersebut. Meski begitu, memang ada beberapa meme yang konteksnya hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja. Meme sendiri berasal dari bahasa Yunani, yakni mīmēma yang memiliki arti "imitasi/tiruan".
Menurut KBBI, meme (baca: mémé, bentuk tidak baku: mim) adalah ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya. Juga, menurut KBBI, meme adalah cuplikan gambar dari acara televisi, film, dan sebagainya atau gambar-gambar buatan sendiri yang dimodifikasi dengan menambahkan kata-kata atau tulisan-tulisan untuk tujuan melucu dan menghibur.
Meme juga bisa digunakan sebagai media untuk menyampaikan suatu informasi atau pesan.
Meme memang bisa menjadi media yang menarik untuk menyampaikan informasi atau pesan karena dirasa lebih menghibur. Meski begitu, tak sedikit meme yang berisikan hal-hal negatif, seperti olok-olok, rasisme, provokasi, dan lain sebagainya.
Sejarah Tentang Meme
Dilansir dari republika.co.id, meme pertama kali diperkenalkan oleh Richard Dawkins dalam bukunya yang berjudul ‘The Selfish Gene’ pada tahun 1976. Dawkins menyebut mimeme adalah
sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani dan memiliki arti 'yang ditiru'. Namun, sebenarnya meme bahkan sudah ada sebelum Dawkins menciptakan istilah tersebut, tepatnya pada awal 79 Masehi di reruntuhan Pompeii dan hingga 1970-an, di dalam sebuah grafiti.
Menurut Oxford English Dictionary (OED) atau Kamus Bahasa Inggris Oxford, kata “mneme”
muncul pertama kali di Inggris pada tahun 1921 yang terdapat pada terjemahan buku karya Richard Semon yang telah diterjemahkan, yakni The Mneme.
Dilansir dari bpptik.kominfo.go.id, Will Fulton dari Thrillist menyatakan meme pertama di dunia adalah ‘Dancing with the Baby’, yakni gambar berformat GIF (gambar yang bisa bergerak) yang memuat bayi mengenakan popok yang sedang berjoget. Pendapat ini dikuatkan oleh profesor pengajar Era Internet dari Universitas Syracuse, yakni Robert Thompson. Gambar GIF Dancing with the Baby sendiri diciptakan pada tahun 1996 oleh seorang desainer yang bernama Michael Girard. Gambar bayi menari itu kemudian menjadi terkenal dan masuk dalam drama komedi Ally McBeal serta menjadi meme pertama di dunia. Meme sebagai ‘konten viral digital’ yang muncul kemudian adalah Hampster Dance tahun 1998. Meme berformat GIF ini adalah karya Deidre Lacarte dari Kanada. Memasuki mileinium kedua, internet mulai berkembang dengan lebih luas. Berdirilah situs berbagi gambar (imageboard) bernama 4chan pada 2003. Situs ini berjasa besar dalam mempopulerkan meme-meme, dari yang berdasarkan anime sampai bernuansa politik.
Di Indonesia, istilah meme ini populer sejak kemunculan pada situs yeahmahasiswa.com di tahun 2009 yang menunjukkan berbagai meme tentang parodi dan sindiran kehidupan keseharian mahasiswa seperti skripsi, tugas akhir, hingga indeks prestasi kumulatif. Fenomena meme kemudian berkembang menuju ke arah yang lebih luas. Menurut Sandy Allifiansyah (2016: 154) Netizen atau para pengguna internet kemudian mereplikasi meme ini menjadi beragam variasi yang membahas berbagai topik, tak terkecuali politik kontemporer.
Jenis-jenis Meme
Menurut Milner (2012: 85) seorang zoologi asal Jerman mengidentifikasi 13 jenis meme. 13 jenis ini dipisahkan menjadi remixed images (gambar remix) dan stable images (gambar stabil).
Gambar remix dipisahkan lagi menjadi single images (gambar tunggal) dan stacked images (gambar bertumpuk). Gambar tunggal kembali dipisahkan menjadi 6 bagian, yakni annotated stills (gambar diam beranotasi), demotivational (demotivasi), macros (makro), quotes (kutipan), shops (toko), dan text (teks). Lalu, gambar stabil dipisahkan menjadi 5 bagian, yakni drawings (gambar), graphs (grafik), memes ‘IRL’ (meme ‘IRL’), photos (foto), dan screenshots (tangkapan layar). Dari berbagai macam sumber, jenis meme yang bisa diidentifikasi lainnya adalah jenis meme yang berisi tentang percintaan dan kebanyakan menggambarkan kegalauan remaja, meme berbau politik, meme yang berisi sindiran dan digunakan untuk menyindir orang dengan ciri khas tertentu, meme yang memberikan motivasi yang mana berisikan hal-hal positif, dan meme yang berisi lelucon baik lelucon positif ataupun lelucon gelap dan meme inilah yang paling banyak diminati oleh masyarakat pengguna internet karena dianggap menghibur.
Penerapan Meme di Dunia Maya
Selain berisikan lelucon, meme juga bisa menjadi media yang digunakan untuk menyebarkan informasi dan lain sebagainya. Bahkan, penggunaan meme ini sudah sering digunakan. Di dunia maya, meme memiliki berbagai macam kegunaan, seperti untuk memasarkan suatu produk, sebagai media untuk menyampaikan lelucon atau sebagai media hiburan, untuk menginformasikan berita-berita viral terbaru, sebagai media pembelajaran, dan masih banyak lagi kegunaan lainnya. Berikut contoh meme berisikan informasi sejarah yang berasal dari akun Instagram @neohistoria.id, yakni akun yang memang khusus membahas tentang sejarah.
Gambar 3 Contoh Meme (https://www.instagram.com/p/Cl7sChdvyJA/?
igshid=YmMyMTA2M2Y=)
Meme di tersebut berisi konteks tentang Jepang yang berusaha menyembunyikan perbuatan keji mereka yang terjadi di masa lalu terhadap para generasi baru. Diketahui kurikulum di Jepang tidak mengajarkan sejarah secara mendetail mengenai perang dunia. Melansir dari idntimes.com, negara Jepang diketahui mengedit buku sejarah dan menghapus isian yang menceritakan tentang perbuatan mengerikan yang pernah dilakukan di masa lalu, seperti Pembantaian Nanking pada tahun 1937 di mana 300.000 warga Tiongkok terbunuh saat itu, juga 400.000 wanita Korea dan Tiongkok yang dipaksa menjadi pelacur tentara Jepang selama Perang Dunia II. Itulah salah satu contoh penggunaan meme di dunia maya sebagai media untuk menyampaikan suatu informasi. Dengan menggunakan meme, informasi dapat disampaikan dengan lebih menarik. Juga, orang-orang yang telah membaca meme di atas dan tidak
memahami konteks yang terkandung terpaksa harus mencari tahu di internet dan secara tidak langsung akan menambah pengetahuan pembaca meme tersebut.
METODE
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini berupa metode kuantitatif, yakni dengan metode survei yang cara pengumpulan datanya melalui angket Google Form. Zainal Arifin (2011:
64) mengutip dari Fraenkel dan Wallen bahwa penelitian survei, yaitu penelitian dengan menghimpun informasi dari suatu sampel dengan menanyakan lewat angket maupun wawancara untuk menggambarkan berbagai aspek dari populasi.
Penulis mengirimkan link pengisian angket melalui Whatsapp grup angkatan 2022 pada tanggal 20 November 2022 yang lalu diisi oleh para mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Jepang Semester 1 angkatan 2022. Sebanyak 71 mahasiswa telah mengisi angket yang diberikan oleh penulis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Di dalam penelitian ini, penulis menggunakan 3 buah gambar untuk mengetahui apakah para responden benar-benar dapat memahami suatu materi mengenai bahasa Jepang jika menggunakan meme sebagai media edukasi atau tidak. Jenis meme yang digunakan di dalam penelitian ini sendiri merupakan meme gambar stabil, yakni jenis meme seperti yang telah diidentifikasi oleh Milner (2012: 85).
Meme di samping menjelaskan mengenai panggilan seseorang dalam bahasa Jepang yang terbagi menjadi beberapa tingkatan. Panggilan Chan biasanya digunakan untuk memanggil seseorang dengan manis, bisa juga untuk seseorang yang akrab dengan kita, terkhususnya perempuan. Panggilan Kun sendiri juga digunakan untuk memanggil seseorang yang sudah dirasa akrab, terkhususnya laki-laki. Panggilan San digunakan untuk memanggil orang secara Gambar 3 Meme yang Digunakan.
(https://pin.it/22Qh0KC) sopan, bisa digunakan untuk panggilan orang yang lebih tua atau panggilan untuk seseorang yang kurang akrab.
Terakhir adalah Sama, biasanya digunakan untuk memanggil seseorang yang statusnya lebih tinggi dari kita atau yang kita kagum. Panggilan Sama sendiri adalah bentuk dari panggilan San yang lebih sopan. Sebanyak 91,7% responden yang mengisi angket
menjawab bahwa mereka memahami makna atau konteks yang terkandung dalam meme tersebut.
Gambar 4 Hasil Angket dengan Pertanyaan “Apakah kamu mengerti makna gambar di bawah ini?”
Meme berikutnya menjelaskan mengenai kalimat yang berarti “Tunggu Sebentar”, yakni Chotto Matte. Juga, karena
hanya mengatakan Chotto Matte tanpa adanya penambahan kata Kudasai yang memiliki arti
“mohon atau tolong”, bisa dikatakan jika meme ini menjelaskan Gambar 5 Meme yang Digunakan tentang permintaan untuk menunggu secara
(https://pin.it/5YI5jj0)
informal. Ada sebanyak 98,6% responden yang mengisi angket menjawab bahwa mereka memahami makna atau konteks yang terkandung dalam meme tersebut.
Gambar 4 Hasil Angket dengan
Pertanyaan “Apakah kamu mengerti makna
gambar di bawah ini?”
Berikutnya adalah meme yang menjelaskan mengenai partikel. Partikel sendiri sangat penting untuk menyusun kalimat dalam bahasa Jepang. Tanpa partikel, kalimat dalam bahasa Jepang tidak akan tersusun dengan baik, karena partikel yang akan menentukan peran kata dalam suatu kalimat.
Gambar 5 Meme yang Digunakan (Meme Ciptaan Penulis)
Diketahui, sebenarnya terdapat 188 partikel dalam bahasa Jepang. Namun, penulis hanya menyampaikan partikel yang sering digunakan pada materi mata kuliah semester 1 program studi Pendidikan Bahasa Jepang, yakni は (wa)に (ni), の (no), を (o), で (de), へ (e), dan が (ga). Selanjutnya, ada sebanyak 90,3% responden yang mengisi angket dan menjawab bahwa
Gambar 5 Hasil Angket dengan
Pertanyaan “Apakah kamu mengerti makna
gambar di bawah ini?”
Kemudian, didapati data positif mengenai pilihan opsi disukai atau tidaknya konten meme sebagai media edukasi. Jika seorang mahasiswa atau pelajar menyukai kegiatan belajar mengajar, tentu dirinya akan lebih mudah untuk menyerap materi yang disampaikan. Mayoritas responden, yakni sebanyak 91,5% responden dari 71 mahasiswa yang mengisi angket menjawab bahwa mereka menyukai meme sebagai media edukasi. Itu artinya meme benar- benar dapat menjadi media edukasi yang menyenangkan.
Gambar 6 Hasil Angket dengan Pertanyaan “Apakah kamu menyukai meme sebagai media edukasi?”
Berdasarkan data yang diterima dari angket yang telah disebarkan, mayoritas responden, yakni sebanyak 84,5% responden dari 71 mahasiswa semester 1 angkatan 2022 yang mengisi angket menjawab bahwa meme efektif sebagai media edukasi yang artinya mayoritas responden beranggapan bahwa meme efektif sebagai media edukasi bagi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Jepang Semester 1 angkatan 2022.
Gambar 7 Hasil Angket dengan Pertanyaan “Apakah menurutmu meme efektif sebagai media edukasi?”
KESIMPULAN DAN SARAN
Penggunaan meme sebagai media edukasi pada mata kuliah Pendidikan Bahasa Jepang disimpulkan efektif, seperti data yang telah ditampilkan pada bagian HASIL DAN PEMBAHASAN.
Meme yang biasanya menjadi media untuk menyampaikan suatu humor, kini digunakan sebagai media edukasi yang akan membuat mahasiswa tertarik dan lebih senang dalam mempelajari materi dalam mata kuliah Pendidikan Bahasa Jepang. Jika seseorang tertarik, pastinya orang tersebut akan lebih mudah untuk menyerap suatu informasi yang dilihat olehnya.
Berdasarkan kesimpulan yang telah diterangkan, penulis menyarankan untuk menggunakan meme sebagai media edukasi untuk memperkenalkan kotoba (kosa kata) baru. Mahasiswa juga dapat menggunakan meme untuk menyampaikan suatu informasi atau ilmu saat pembelajaran berlangsung, seperti dengan menyisipkan meme pada saat presentasi.
DAFTAR PUSTAKA
Allifiansyah, Sandy. 2016. Kaum Muda, Meme dan Demokrasi Digital di Indonesia. Yogyakarta:
Jurnal Ilmu Komunikasi UGM.
Arikunto, Suharsimi. 2016. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Arifin, Zainal. 2011. Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Dawkins, Richard. 1976. The Selfish Gene (edisi kedua). Oxford: Oxford University Press.
Hidayat, 1986, Teori Efektivitas dalam Kinerja Karyawan. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.
Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI] Online. https://kbbi.kemdikbud.go.id/
Kusumawardhani, Noer Qomariah., Murdaningsih, Dwi. 2020. Awal Mula Munculnya Meme di Jagat Internet. https://www.republika.co.id/berita/qj5xw1368/awal-mula-munculnya-meme-di- jagat-internet
Milner, R. M. 2012. “The World Made Meme: Discourse and Identity in Participatory Media.”
PhD diss., University of Kansas.
Pradana, Shandy. 2020. 8 Negara yang Mengedit Buku Pelajaran dan Menulis Ulang Sejarah Mereka. https://www.idntimes.com/science/discovery/shandy-pradana/negara-yang-mengedit- sejarah-c1c2
Semon, R. 1921. The Mneme. London: George Allen & Unwin.
Simpson, John., Weiner, Edmund., Murray, James. 1989. Oxford English Dictionary. Britania Raya: Oxford University Press.
Syarifa, Naf’a. 2022. Sejarah Meme di Internet.
https://bpptik.kominfo.go.id/Publikasi/detail/sejarah-meme-di-internet
Analisis Penggunaan ragam Bahasa lisan dalam bahasa Jepang pada mahasiswa pendidikan Bahasa Jepang UNJ angkatan 2022
Arief Rachman Wicaksono (1211622061) Pendidikan Bahasa Jepang ABSTRAK
Di Dalam Ragam bahasa jepang terdapat macam macam ragam bahasa, yaitu : Aite ni yotte merupakan suatu tindakan yang meliputi bagaimana cara kita menyesuaikan kepada siapa kita berbicara, sehingga kita dapat menggunakan tutur ragam bahasa yang lebih sopan & santun agar dapat mengekspresikan rasa hormat kita kepada orang yang kita hormati, Aizuchi merupakan tanggapan yang diberikan oleh pendengar kepada pembicara, firaa adalah salah satu karakteristik bahasa Jepang yang tidak memiliki tujuan yang dapat dijelaskan karena makna menyesuaikan situasi, Kurikaeshi berarti pengulangan yang digunakan untuk mempertegas, mengkonfirmasi atau memeriksa ulang dan untuk memastikan bahwa kata yang didengar oleh kita sesuai dengan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. Untuk memastikan agar tidak ada kesalahan kata, Kandoushi adalah kata yang mengungkapkan perasaan manusia sehingga pada umumnya kandoushi lebih bersifat kasual atau tidak formal, Shouryaku dalam bahasa Jepang berarti pemendekan menjadi bentuk yang lebih sederhana, Kakujoshi adalah kata bantu atau partikel yang digunakan untuk mempertegas kata. Peneletian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan ragam bahasa jepang pada mahasiswa universitas negeri Jakarta angkatan 2022 supaya lebih efektif dalam percakapan bahasa jepang . Metode yang peneliti gunakan berupa metode kuantitatif, yaitu mengumpulkan, menganalisis, dan mengolah data dari 37 mahasiswa tentang penggunaan ragam bahasa lisan dalam bahasa jepang. Setelah mengolah data tersebut, didapat hasil penelitian bahwa para mahasiswa mengetahui macam macam ragam bahasa lisan dalam bahasa jepang. Mahasiswa hanya menggunakan ragam bahasa lisan ketika dalam pembelajaran. Selain itu sebagian besar mahasisiwa menggabungkan ragam lisan bahasa jepang dengan bahasa indonesia dalam kehidupan sehari hari.
Kata kunci: Bahasa, Jepang, Bicara
PENDAHULUAN Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi dan iteraksi oleh karna itu bahasa menjadi salah satu faktor penting untuk menjalankan kehidupan. Komunikasi tersebut menghasilkan bahasa antar sesama manusia menjadi bervariasi yang dikenal dengan istilah variasi bahasa. Menurut Chaer (2010:62) membagi variasi bahasa berdasarkan penutur dan penggunaanya. Berdasarkan penutur berarti, siapa yang menggunakan bahasa itu, di mana tinggalnya, bagaimana kedudukan sosialnya di dalam masyarakat, apa jenis kelaminnya, dan kapan bahasa itu digunakannya. Sedangkan Soeparno (2013:55-61) mengemukakan bahwa “Variasi bahasa terdiri dari variasi kronologis, variasi geografis, variasi sosial, variasi fungsional, variasi gaya, variasi kultural,dan variasi individual”.
Di dalam bahasa jepang penggunaan bahasa tidak dilakukan secara sembarangan perbedaan sosial serta kedudukan sosial menjadi pembeda. Bahasa yang digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih, akan menjadi berbeda ketika berbicara dengan teman sebaya . Sudjianto (2004: 12—14) mengatakan bahwa dilihat dari aspek kebahasaan, bahasa Jepang memiliki karakteristik tertentu yang dapat kita amati dari huruf yang digunakan, sistem pengucapan, gramatika, ragam bahasa dan kosakata sedangkan berdasarkan sejarahnya, bahasa Jepang dibagi menjadi dua bagian besar yakni kougo (bahasa modern) dan bungo (bahasa klasik). Kougo dalam bahasa Jepang disebut juga gendaigo. Bahasa Jepang memiliki ragam bahasa oleh penutur berdasarkan tingkatannya yaitu futsugo, teineigo dan sonkeigo. Perbedaan ketiga ragam berbahasa tersebut digunakan berdasarkan penutur dan konteks tuturan. Selain ragam bahasa tersebut, dalam bahasa Jepang juga ada istilah hyoujunggo ‘bahasa standar’ dan hougen dialek. Ragam bahasa Jepang digunakan baik pada bahasa tulis maupun bahasa lisan.