• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Instruksional a. Aspek Kognitif

Kebidanan II Tahun 2018

C. Pembahasan

1. Dampak Instruksional a. Aspek Kognitif

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa model pembelajaran WBL-INAA efektif untuk meningkatkan aspek kognitif mahasiswa.

Hasil uji t-indepent diketahui bahwa nilai signifikasi aspek kognitif antara kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu kecil < 0,05 artinya terdapat perbedaan hasil belajar aspek kognitif pada kelas eksperimen (belajar menggunakan WBL-INAA) dengan kelas kontrol (belajar menggunakan WBL-RoTer). Berdasarkan evaluasi secara menyeluruh terhadap rangkaian kegiatan penelitian, adanya perbedaan aspek kognitif tersebut karena model pembelajaran WBL-INAA menggunakan pendekatan job shadowing yaitu kesempatan bagi mahasiswa belajar dengan membayangi/mengikuti tindakan dengan satu orang instruktur yang sama. Sedangkan model WBL-RoTer pembelajaran dilakukan dengan Roling Terpadu antara Rumah Bersalin A dengan Rumah Bersalin B sehingga bekerja mengikuti

instruktur yang berbeda.

Berdasarkan nilai n-gain score diketahui bahwa penerapan model WBL-INAA untuk kelas eksperimen dan WBL RoTer untuk kelas kontrol memiliki efektivitas yang sama terhadap peningkatan hasil belajar aspek kognitif mahasiswa. Model pembelajaran WBL- INAA maupun WBL RoTer dengan efektivitas pada kategori cukup efektif meningkatkan hasil belajar kognitif. Hal ini terjadi karena kelas kontrol dan kelas eksperimen sama-sama diberikan model pembelajaran dengan dasar model yang sama yaitu work based learning.

Hasi penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gaskell & Beaton (2010) dengan hasil penelitian bahwa work based learning efektif untuk meningkatkan pemahaman peserta didik melalui bekerja. Gaskell & Beaton menyimpulkan bahwa semakin sering peserta didik melakukan pekerjaan melalui tindakan praktik langsung maka semakin terlatih kemampuan kognitif berkaitan dengan pekerjaanya tersebut.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Ismail (2015) yang menghasilkan konsep WBL Arizona yang melibatkan pembelajaran pada tiga zona yaitu keterlibatan peserta didik, institusi pendidikan, dan dunia industri. Ismail menyatakan bahwa WBL arizona yang diterapkan dapat menningkatkan aspek kognitif peserta didik melalui pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus.

Dalam konteks pendidikan capaian terhadap aspek kognitif merupakan learning outcome yang harus dituntaskan. Pada mata kuliah Asuhan Kebidanan II, aspek kognitif mahasiswa meningkat yang dilihat dari hasil prestest dan posttest. Peningkatan aspek kognitif dengan menggunakan model pembelajaran WBL-INAA didukung oleh teori konstruktivisme. Teori konstruktivisme merupakan kemampuan peserta didik untuk membangun (konstruk) pemikiran mereka sendiri. Menurut Vygotsky (1978) pembelajaran

konstruktivisme dipengaruhi oleh adanya interaksi dari faktor sosial (interpersonal) sehingga perkembangan berfikir berpusat pada peserta didik secara individual. Vygotsky juga menyebutkan bahwa pada pembelajaran konstruktivisme kemampuan berfikir kritis tercipta dari konsep belajar student center learning (SCL).

Kemampuan peserta didik melakukan konstruktivisme dimulai dari sintak 1 yaitu initiation. Pada tahap ini dosen memberikan pertanyaan kepada peserta didik untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mengkonstruk pemikirannya sendiri. Sebagai contoh ketika topik pembelajaran mengenai Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin Kala I, dosen memulai pelajaran dengan memberikan pertanyaan “jika datang seorang ibu ke klinik bersalin dengan usia kehamilan 39 minggu, mengeluh sakit perut sejak 3 jam yang lalu, apa hal pertama yang difikirkan oleh bidan tentang ibu tersebut?”. Maka mahasiswa akan memberikan argumentasi masing-masing untuk memberikan respon jawaban terhadap pertanyaan tersebut. Keaktifan mahasiswa akan menjadikan proses belajar mengajar lebih efektif dan tidak hanya berpusat pada pengajar.

Aspek kognitif diperlukan untuk mendukung aspek taks skill pada dunia kerja. Namun belum tentu peserta didik yang memiliki aspek kognitif pada kategori tinggi sejalan juga memiliki kemampuan kerja yang tinggi dan berlaku sebaliknya. Hal ini disampaikan oleh hasil pengamatan instruktur lapangan bahwa mahasiswa yang memiliki daya ingat yang kuat untuk mengingat pelajaran secara teoritis belum tentu terampil dalam menjalankan pekerjaannya.

Sebagai contoh ketika instruktur memberikan pertanyaan tentang konsep teori pada topik manajemen aktif kala II, beberapa mahasiswa bisa menjawab teori tersebut dengan benar namun ketika diminta untuk melakukan tindakan manajemen aktif kala II tersebut keterampilan tangannya untuk bekerja belum cekatan. Kondisi sebaliknya juga ditemui ketika mahasiswa praktik, sebagian

mahasiswa yang sulit mengungkapkan secara teoritis mengenai materi tertentu justru mampu melakukan pekerjaan tersebut. Sehingga kondisi tersebut menjadikan pendekatan job shadowing yang digunakan pada model WBL-INAA sangat berperan untuk membimbing dan mengarahkan kompetensi task skill mahasiswa.

Temuan penelitian ini sejalan dengan pendapat Christian (2015) yang mengatakan bahwa job shadowing memiliki manfaat yang besar bagi peserta didik karena dapat secara langsung belajar dengan cara meniru apa yang dilihat ketika instruktur bekerja dan kemudian instruktur memberikan respon terhadap pekerjaan mahasiswa. Hal ini juga memunculkan komunikasi yang intens antara instruktur dan peserta didik.

Sintak ke-2 Necessity of information: juga memberikan peluang kepada mahasiswa untuk mengembangkan aspek kognitif dan task skill.

Dimana mahasiswa dibimbing untuk berfikir kritis tentang persiapan sebelum melakukan tindakan praktik. Langkah ini didasari oleh kemampuan bekerja seseorang dilandasi dengan adanya kemampuan berfikir tentang pekerjaan yang akan dilakukannya. Sehingga penting untuk melakukan konstruktivisme dalam proses pembelajaran praktik.

b. Task Management Skill

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa model pembelajaran WBL-INAA efektif untuk meningkatkan aspek task management skill mahasiswa. Hasil uji t-indepent diketahui bahwa nilai signifikasi aspek task management skill antara kelas control dan kelas eksperimen yaitu lebih kecil < 0,05 artinya terdapat perbedaan hasil belajar aspek task management skill pada kelas eksperimen (belajar menggunakan WBL-INAA) dengan kelas control (belajar menggunakan WBL-RoTer). Berdasarkan evaluasi secara menyeluruh terhadap rangkaian kegiatan penelitian, adanya perbedaan task management skill tersebut karena model pembelajaran WBL-INAA menggunakan pendekatan job shadowing dimana mahasiswa

mengikuti dan mencontoh pekerjaan satu orang instruktur sehingga praktik mahasiswa berfokus pada satu role model. Hal ini secara tidak langsung akan membangun langkah kerja yang dilakukan oleh mahasiswa serupa dengan langkah kerja yang dilkaukan oleh instruktu. Sedangkan model WBL-RoTer pembelajaran dilakukan dengan Roling Terpadu antara Rumah Bersalin A dengan Rumah Bersalin B sehingga mahasiswa bekerja dengan lagkah kerja yang berbeda karna mengikuti dan mencontoh instruktur yang berbeda pula.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siregar & Sinaga (2017) yang menemukan bahwa penerapan work based learning pada praktik pemasangan keramik pada mahasiswa teknik bangunan efektif meningkatkan keahlian bekerja mahasiswa. Siregar & Sinaga lebih lanjutkan bahwa urutan pekerjaan dilakukan haruslah sistematis agar pemesangan keramik maksimal.

Hal ini mendukung penjelasan bahwa dalam melakukan pekerjaan hendaknya sistematis mulai dari langkah awal melakukan pekerjaan hingga pekerjaan selesai.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Marshall (2012) yang melakukan penelitian tentang efek modul pembelajaran berbasis work based learning. Hasil penelitian menemukan bahwa modul yang digunakan efektif untuk meningkatkan pengembangan kepribadian peserta didik dalam melakukan tugas profesional sebagai bidan. Lebih lanjut Marshall menjelaskan bahwa sebelum melakukan tindakan kebidanan bidan memulai pekerjaan dari persiapan pengkajian pasien, persiapan alat, persiapan diri dan bekerja sesuai pedoman. Sistematika dalam melakukan tindakan kebidanan dapat meminimalisir resiko kerja itu sendiri.

Task Management Skill merupakan bagian pertama dari task skill dimana peserta didik diharapkan memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas pokok sesuai dengan pekerjaannya. Pada penelitian ini mahasiswa sebagai seorang calon bidan diharapkan

mampu melakukan tugas pokoknya sebagai bidan. Learning outcome Pada mata kuliah Asuhan Kebidanan bertujuan agar mahasiswa mampu melakukan Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin normal.

Task Management Skill seorang bidan yaitu memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas utama seorang bidan untuk melakukan tindakan sebagai berikut: 1) planning: merencanakan pekerjaan sebagai seorang bidan, 2) organizing: mampu mengatur tahapan kerja sehingga bekerja secara sistematis, 3) action: mampu bekerja sesuai sistem yang ada ditempat kerja, 4) controlling: mampu bekerja sesuai standar operasional prosedur, 5) evaluating : mampu melakukan evaluasi terhadap pekerjaannya (Field, 1990). Hasil penilaian instruktur bahwa mahasiswa pada awal melaksanakan praktik belum mampu melaksanakan tugas utama sebagai bidan, bahkan mereka melakukan tugas belum sistematis. Sebagai contoh ketika ada ibu hamil usia kehamilan 32 minggu dan mengeluh sakit perut, mahasiswa langsung mempersilahkan ibu untuk berbaring dan melakukan pemeriksaan perut dengan teknik palpasi yang belum benar. Seharusnya tindakan pertama bidan adalah memperhatikan kondisi fisik ibu secara head to toe, melakukan anamnesa, memeriksa tekanan darah ibu, baru melakukan palpasi (meraba) perut ibu.

Kemampuan Task Management Skill mahasiswa diperoleh pada sintak ke-3 yaitu action. Mahasiswa memulai praktik di Rumah Bersalin (RB) dengan pendekatan job shadowing yaitu mahasiswa melihat dan kemudian mencoba melakukan pekerjaan instruktur.

Mahasiswa pada kelompok kontrol yang memperoleh pelajaran dengan model WBL RoTer (Roling Terpadu) menyampaikan pengalaman belajar klinik mereka bahwasanya belajar dengan tempat praktik yang di roling justru membuat mereka merasa tidak maksimal menerima pelajaran praktik. Hampir 80% mahasiswa yang praktik dengan WBL RoTer menyampaikan bahwa: 1) memerlukan waktu lagi untuk menyesuaikan diri dengan kondisi tempat kerja yang baru

di roling, 2) cara kerja instruktur pada masing-masing tempat praktik berbeda, sehingga terkadang bingung harus menggunakan yang mana.

Misalnya pada RB A selalu menerapkan prinsip kerja steril dimana setiap akan melakukan tindakan kebidanan seperti pemeriksaan leopold (menentukan posisi janin) harus mencuci tangan dan menggunakan sarung tangan (handscoon) sebagai upaya pencegahan infeksi dari pasien ke bidan, namun jika pada RB B jika diterapkan hal yang sama ditegur dengan alasan handscoon hanya digunakan jika melakukan pemeriksaan dalam (Vaginal Tusye), 3) jadwal mahasiswa praktik tidak selalu sama dengan jadwal instruktur sehingga mahasiswa mengikuti instruktur yang berbeda, dengan resiko cara kerja instruktur berbeda dan perkembangan task skill mahasiswa praktik tidak diperhatikan oleh satu orang instruktur, 4) mahasiswa merasa bingung harus mengikuti praktik dan cara kerja dari RB A atau RB B, 5) mahasiswa tidak banyak mendapatkan kesempatan dan motivasi untuk melakukan praktik persalinan sehingga kemampuan bekerja kurang berkembang selama praktik, karena mahasiswa tidak shadowing instruktur.

Menurut Moeheriono (2009) task management skill merupakan salah satu dimensi dari kompetensi yang berkaitan dengan karakteristik yang mendasari kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab ketika bekerja. Hal ini diperkuat oleh Wibowo (2007) yang mengemukakan bahwa kompetensi merupakan karakteristik seseorang yang mendasari kinerja di tempat kerja. Kinerja merupakan gambaran mengenai pencapaian pelaksanaan kerja melalui perencanaan yang strategis. Berdasarkan uraikan tersebut maka kemampuan task management skill seseorang akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas terhadap suatu pekerjaan.

Biasanya outcome dari sebuah kinerja yang baik adalah terdapatnya unsur kepuasan dari pihak-pihak yang terkena dampak dari kinerja itu sendiri. Misalnya pada hal adalah kepuasan pasien ketika dilayani oleh

bidan, kepuasan diri sendiri ketika mampu memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal, kepuasan instruktur ketika berhasil melakukan transfer skill kepada peserta didiknya.

c. Work Environment Skill

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa model pembelajaran WBL-INAA efektif untuk meningkatkan aspek work environment skill mahasiswa. Hasil uji t-indepent diketahui bahwa nilai signifikasi aspek work environment skill antara kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu 0,001 < 0,05 artinya terdapat perbedaan hasil belajar aspek work environment skill pada kelas eksperimen (belajar menggunakan WBL-INAA) dengan kelas kontrol (belajar menggunakan WBL-RoTer). Berdasarkan evaluasi secara menyeluruh terhadap rangkaian kegiatan penelitian, adanya perbedaan work environment skill karena model pembelajaran WBL-INAA menggunakan pendekatan job shadowing dilakukan pada tempat praktik yang sama sehingga nilai-nilai work environment skill berfokus pada satu contoh. Sedangkan model WBL-RoTer pembelajaran dilakukan dengan Roling Terpadu antara Rumah Bersalin A dengan Rumah Bersalin B sehingga mahasiswa dari dua work environment skill, dimana dalam proses belajar mahasiswa belum mampu fokus belajar dengan dua lingkungan yang memiliki cara kerja yang berbeda.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Raelin (2007) yang menyatakan bahwa work based learning dapat meningkatkan kemampuan bekerja mahasiswa berdasarkan kondisi lingkungan kerja.

Raelin menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis kerja dipengaruhi oleh faktor budaya kerja itu sendiri dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan yang masuk akal dalam pekerjaan pada situasi yang baru. Selain itu pengembangan aspek work environment skill juga dipengaruhi oleh faktor teknis bekerja, moral dan kepribadian lingkungan tempat kerja.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Hughes, et al (2016) yang menyatakan bahwa kemampuan work environment skill dapat dikembangkan melalui pembelajaran berbasis kerja. Namun tetap dipengaruhi oleh faktor kepribadian rekan kerja dan ketidaknyamanan lingkungan kerja itu sendiri.

Work Environment Skill adalah kompetensi seseorang untuk mampu melaksanakan pekerjaan sesuai dengan kondisi lingkungan kerja. Pada kondisi normal Work Environment Skill meliputi berbagai aspek yaitu lokasi tempat kerja, ukuran ruang kerja, posisi saat bekerja, ergonomis antara alat yang digunakan dengan cara penggunaanya, kebisingan, bau, desakan dari pelanggan dan faktor lingkungan kerja lainnya (Field, 1990). Kompetensi ini tidak akan ditemui ketika pelajaran hanya dilakukan secara teoritis dan praktik di laboratorium kebidanan. Dengan adanya WBL-INAA maka kompetensi ini berpeluang untuk diajarkan dan didapatkan oleh peserta didik.

Melahirkan secara harfiah merupakan kondisi normal setelah menjalani proses kehamilan yang telah matang. Namun kondisi tegang, kondisi sakit, rasa cemas akan mempengaruhi atmosfir lingkungan kerja. Pada pelajaran di laboratorium mahasiswa tidak merasakan kondisi nyata ketika berhadapan langsung dengan pasien yang akan melahirkan, adanya desakan dari keluarga, adanya faktor penyulit kehamilan atau bahkan adanya resiko sebagai ancaman.

Ketika belajar praktik di tempat kerja mahasiswa dihadapkan dengan kondisi nyata bagaiman melakukan pekerjaan pada kondisi yang tidak nyaman. Point penting pada aspek ini adalah bekerja pada kondisi lingkungan yang tidak nyaman.

Informasi dari instruktur lapangan ketika mahasiswa praktik secara langsung, kondisi lingkungan yang tidak nyaman mampu mempengaruhi kondisi perasaan mahasiswa sehingga melakukan pekerjaan tidak maksimal. Contoh ketika melakukan Peregangan Tali

Pusat (PTT) pada manajemen aktif kala III (proses pengeluaran plasenta) sering terjadi semburan darah merah segar, melihat hal tersebut mahasiswa jadi tidak berani melakukan PTT tersebut meskipun secara teori diketahui bahwa semburan darah tersebut adalah kondisi normal dan fisiologis. Ditambah dengan kondisi kebisingan suara pasien yang kesakitan, mahasiswa ikut cemas dan kurang berani melakukan tindakan kebidanan.

Kalinova (2008) mengatakan bahwa untuk mengatasi lingkungan kerja yang kurang kondusif seseorang harus memiliki dua kombinasi keterampilan yaitu 1) memiliki keterampilan yang sesuai dengan bidang pekerjaan dan 2) memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menekan pengaruh langsung dari lingkungan kerja yang tidak nyaman. Kedua keterampilan tersebut dikategorikan sebagai keterampilan di lingkungan kerja. Kalinova menjelaskan lebih lanjut bahwa kedua keterampilan tersebut dapat dikembangkan apabila melakukan pekerjaan secara terus menerus dan konsisten dalam jangka waktu tertentu sehingga kebiasaan dalam bekerja dapat membangun work environment skill.

d. Interpersonal Skill

Hasil penelitian ini menemukan bahwa pembelajaran menggunakan WBL-INAA efektif untuk menningkatkan kemampuan Interpersonal Skill mahasiswa dibandingkan dengan belajar penggunakan WBL RoTer. Analisis terhadap perbedaan tersebut karena WBL-INAA dengan pendekatan job shadowing memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk aktif melakukan komunikasi dua arah. Sedangkan pada WBL-RoTer ketika mahasiswa melakukan komunikasi kurang percaya diri dalam melakukannya karena belajar dari dua tempat dan instruktur yang berbeda.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Padron, et al (2017) yang menyatakan bahwa penerapan job shadowing pada akademi pariwisata mampu meningkatkan

keterampilan komunikasi mahasiswa. Semakin sering mahasiswa praktik dan berkomunikasi dengan pelancong maka akan semakin baik kemampuan komunikasi sehingga memudahkan dalam upaya meningkatkan promosi dalam dunia pariwisata.

Interpersonal Skill adalah keterampilan dalam menjaga hubungan kerja di tempat kerja. Keterampilan ini dibutuhkan untuk membina hubungan baik dengan orang lain baik secara individual maupun tim. Interpersonal Skill diperlukan untuk mengatasi masalah yang muncul ketika melakukan pekerjaan melalui sharing informasi ataupun diskusi (Field, 1990).

Pada praktik kebidanan keterampilan Interpersonal Skill memiliki peluang besar untuk dapat dikembangkan secara mandiri oleh peserta didik. Misalnya melakukan komunikasi aktif dengan pasien yang akan melahirkan, memberikan informasi terkait dengan proses kemajuan persalinan kepada suami atau pihak keluarga yang hadir ketika proses persalinan berlangsung, komunikasi terhadap atasan jika terjadi kasus darurat untuk pengambilan keputusan, komunikasi dengan rekan sejawat untuk memperoleh informasi tentang status kesehatan pasien. Seorang bidan diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang efektif dalam melakukan tugas- tugasnya sebagai bidan.

Kemampuan ini tidak hanya dinilai dari komunikasi verbal namun juga komunikasi non verbal. Seseorang diharapkan memiliki sensitifitas dalam merespon komunikasi misalnya memberikan ekspresi menganggukkan kepala ketika kondisi kerja tidak memungkinkan untuk bicara, atau memebrikan isyarat tertentu melalui pandangan mata jika ada komunikasi yang sifatnya rahasia namun harus tetap dikomunikasikan tanpa diketahui orang lain disekitarnya.

Juga diharapkan memiliki rasa empati yang tinggi untuk merespon kondisi yang akan terjadi. Pada praktik kebidanan misalnya ikut bersimpati melalui mimik wajah yang seolah ikut merasakan sakitnya

proses melahirkan, sehingga pasien merasa nyaman.

e. Workplace Learning Skill

Hasil penelitian ini efektif dalam meningkatkan aspek workplace learning skill dengan menggunakan model pembelajaran WBL-INAA. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Brodie &

Irving (2007) yang menemukan konsep WBL Pedagogical Triangel yaitu penerapan WBL dengan tiga komponen utama yaitu learning, critical reflection dan capabilities. Hasil penelitian menjelaskan bahwa WBL Pedagogical Triangel efektif dalam meningkatkan self audit oleh pesera didik terhadap pekerjaannya. Hal ini menyebabkan mahasiswa kritis selama melakukan perbaikan-perbaikan dalam pekerjaan yang ditekuninya.

Workplace Learning Skill adalah keterampilan seseorang untuk belajar di tempat kerja. Workplace Learning Skill dapat dikembangkan dengan meningkatkan rasa peka terhadap kesalahan yang telah dilakukan dalam bekerja. Seseorang yang memiliki keterampilan Workplace Learning Skill mampu menganalisis kebutuhan belajar mereka sendiri dan dapat mengatasi kekurangan/kesalahan dalam melakukan pekerjaan (Field, 1990).

Pada praktik kebidanan misalnya ketika selesai melakukan tindakan, mampu memngkonfirmasi pengetahuan praktis yang dilakukan apakah yang telah dilakukan sudah benar atau masih perlu perbaikan. Ada respon dalam diri seseorang bahwa tindakan yang dilakukan kurang tepat sehingga dikemudian hari tidak melakukan kesalahan yang sama untuk tindakan serupa. Workplace Learning Skill juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang ada di lingkungan kerja seperti karakteristik rekan kerja, kepribadian individu, interaksi sosia, waktu dan kemampuan belajar di tempat kerja itu sendiri (Skar, 2010).

Aspek task management skill, work environment skill, interpersonal skill, dan workplace learning skill merupakan empat komponen yang disebut task skill. Task skill merupakan keterampilan kerja yang dibangun

oleh empat (4) faktor di atas sehingga dapat menunjukkan kompetensi seseorang sesuai bidang keahliannya. Menurut Ulrich (2017) kompetensi ditunjukkan oleh adanya pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan kemauan (ability). Jika seseorang memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemauan maka dapat dikatakan seseorang tersebut telah dianggap memiliki kompetensi. Kompetensi dipengaruhi oleh lima (5) karakteristik yaitu a) watak/trait adalah cara seseorang berperilaku untuk merespon sesuatu dengan cara tertentu, b) motif/motives adalah suatu keinginan seseorang yang dipikirkan secara konsisten sehingga muncul keinginan untuk melakukan suatu tindakan dari dalam diri, c) bawaan/self consept adalah sikap dan nilai yang dimiliki oleh seseorang, d) pengetahuan/knowledge adalah informasi yang dimiliki seseorang pada bidang tertentu ditandai dengan apa yang dapat dilakukan oleh seseorang bukan apa yang seseorang lakukan, e) keterampilan/skill adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas tertentu (Moeheriono, 2009).

Mengacu pada hasil penelitian ini, dimana peningkatan hasil belajar khususnya pada aspek task skill dengan model pembelajaran WBL-INAA maka diharapkan model pembelajaran ini dimanfaatkan dan digunakan oleh berbagai pihak terkait. Selain dapat dijadikan sebagai model pembelajaran, model WBL-INAA juga bisa diadopsi untuk metode pelatihan kebidanan. Penelitian ini juga menghasilkan rancangan kebijakan (policy brief) sehingga memudahkan pihak-pihak terkait dalam mengambil keputusan dalam upaya peningkatan kompetensi kebidanan secara akademik maupun non akademik.

Model WBL-INAA untuk pengkajian lebih lanjut dalam penerapnnya diestimasikan akan berdampak terhadap perubahan kurikulum pendidikan kebidanan. Oleh sebab itu kepada Kementrian Kesehatan bagian PPSDM dapat memanfaatkan model WBL-INAA sebagai salah satu metode pelatihan kebidanan. Bagi Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIND) agar merumuskan kebijakan tentang penerapan model pembelajaran WBL-INAA pada perguruan tinggi

sehingga pembelajaran berbasis learning by doing oleh mahasiswa dapat langsung meningkatkan hasil belajar khususnya pada aspek kompetensi kebidanan.

Organisasi Ikatan Bidan Indonesia (IBI) diharapkan turut memberikan edukasi kepada bidan senior yang memiliki Rumah Bersalin atau tempat praktik kebidanan agar membuka kesempatan kerjasama dengan institusi pendidikan sehingga tempat praktik mahasiswa lebih bervariasi. Selan itu IBI juga diharapkan melakukan pengarahan dan penunjukkan terhadap bidan senior yang memiliki kredibilitas menjadi instruktur ataupun mentor dalam menerapkan model WBL-INAA dengan pendekatan job shadowing. Dengan demikian diharapkan mahasiswa mendapatkan bimbingan secara langsung dari praktisi yang berpengalaman sehingga peningkatan kompetensi mahasiswa lebih maksimal.