• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Teknologi Kejuruan

A. Landasan Teori

1. Pendidikan Teknologi Kejuruan

20 BAB II KAJIAN TEORI

untuk mampu bertahan hidup. Aliran esensialisme yaitu pendidikan kejuruan harus dapat mengaitkan dirinya dengan sistem lain seperti politik, ekonomi, sosial, moral, ketenagakerjaan dan religi” (Dasmanjohan, 2010).

Menurut Prosser (1950) vocational education merupakan “esensi dari pendidikan kejuruan adalah mengajarkan kebiasaan berfikir dan bekerja melalui pelatihan yang berulang-ulang. Terdapat tiga kebiasaan yang harus diajarkan yaitu: a) Kebiasaan beradaptasi dengan lingkungan kerja, b) Kebiasaan dalam proses pelaksanaan kerja dan c) Kebiasaan berpikir (dalam pekerjaan)”. Selain itu Prosser juga dikenal sebagai penyusun 16 prinsip pendidikan vokasi yang dikenal dengan dalil Proser (Prosser & Quiqley, 1950).

Dalil Prosser tentunya masih universal. Bila pendidikan kejuruan menerapkan ke-16 prinsip Prosser tentunya pendidikan vokasi di Indonesia akan menjadi efektif. Namun kenyataan dilapangan masih banyak pendidikan vokasi yang belum mampu menerapkan prinsip tersebut secara keseluruhan. Jika dikaji pendidikan kejuruan di Indonesia menurut prinsip Prosser maka ditemukan ulasan sebagai berikut: prinsip pertama akan memerlukan biaya besar untuk membuat replika industri dan harus mengikuti perkembangan industri yang ada, prinsip 2 masih sulit dilaksanakan karena keterbatasan pendidikan vokasi untuk menempatkan peserta didik sesuai dengan kompetensi yang langsung diinginkan oleh industri kerja, prinsip 3 belum terpenuhi karena manajemen pendidikan vokasi di Indonesia tidak memiliki latar belakang industri yang kuat karena masih diampu oleh profesional pendidikan yang minim pengalaman dalam bidang industri, prinsip 4 belum maksimal terpenuhi pada pendidikan vokasi di Indonesia karena sistem kontrol pembelajaran kurang memastikan pemerataan prioritas terhadap semua siswa untuk mendapatkan kualitas dan kuantitas pembelajaran yang sama, prinsip 5 sulit diterapkan karena pendidikan vokasi selama ini tidak memberikan konseling vokasional kepada calon peserta didik pendidikan kejuruan sehingga terjadi ketidaksesuaian peserta didik yang masuk sekolah vokasi,

prinsip ke 6 sering diabaikan pendidikan vokasi karena pembelajaran selama ini lebih kearah normatif dan adaptif serta kurangnya sarana dan prasarana penunjang praktik. Prinsip ke 7 juga sulit diterapkan di Indonesia karena sebagian besar pendidik murni dari akademisi. Prinsip 8 saat ini pada pendidikan vokasi program diploma sudah mengacu pada Standar Kualifikasi Kompetensi Nasional Indonesia (SKKNI) namun dalam proses pembelajaran antar daerah belum seragam. Prinsip 9 mulai berlaku dan diterapkan terutama di sekolah kejuruan yang memiliki birokrasi lebih fleksibel seperti sekolah swasta. Prinsip ekonomi supply-demand berlaku saat ini, program keahlian yang tidak dibutuhkan industri akan dengan sendirinya mendapatkan peminat yang sedikit.

Prinsip 10 sudah mulai diterapkan namun terkendala pada kurangnya jumlah industri yang mau menerima siswa praktek dan semakin banyaknya jumlah siswa sekolah kejuruan pada saat ini. Sayangnya tidak ada upaya konkrit untuk memecahkan masalah rasio yang timpang ini dari pemerintah. Prinsip ke 11 juga mulai diterapkan namun untuk beberapa jurusan tertentu, sekolah harus lebih proaktif membangun hubungan dengan industri lokal karena adanya materi yang harus disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Prinsip ke 12 sudah mulai diterapkan di Indonesia dengan adanya pengelompokan jurusan dan program keahlian pada pendidikan kejuruan. Prinsip ke 13 memerlukan banyak sumber daya dalam penerapannya. Setiap bidang keahlian memerlukan materi, metode belajar dan pendekatan yang berbeda satu sama lain. Prinsip ke 14 cukup banyak diterapkan oleh pendidikan vokasi di Indonesia namun kendala utama prinsip ini adalah karena banyaknya siswa yang harus diajar oleh 1 guru, artinya rasio guru-siswa masih sangat timpang sehingga masih sulit bagi guru untuk dapat memberikan perhatian khusus pada setiap siswanya.

Prinsip 15 pada umumnya manajemen administrasi sekolah di Indonesia relatif fleksibel dan tidak kaku. Prinsip 16 ini banyak dilanggar, Prinsip sebaliknya yang justru sering dipakai yaitu dengan biaya tidak cukup, yang penting pendidikan vokasi dibuka (Adriyanto, 2015).

Berdasarkan evaluasi terhadap dalil Prosser di atas, di Indonesia banyak terdapat kendala dalam penerapannya untuk pendidikan vokasi, oleh sebab itu diperlukan upaya dalam memaksimalkan pendidikan vokasi yang ada. Salah satu caranya dengan melakukan pengembangan model pembelajaran untuk pendidikan vokasi.

Pendidikan vokasi memikili karakteristik yang unik bila dibandingkan dengan pendidikan umum. Menurut (Prosser & Quiqley, 1950) yaitu:

a. Ditinjau dari aspek tujuan pendidikan, pendidikan kejuruan bertujuan mempersiapkan peserta didik yang siap untuk bekerja lebih efisien sehingga berdaya guna sedangkan pendidikan umum bertujuan mempersiapkan peserta didik agar lebih cerdas sebagai warga Negara dan mampu menikmati hidupnya.

b. Ditinjau dari aspek pembelajaran, pendidikan kejuruan memberikan pelatihan khusus untuk mempertajam keterampilan tertentu untuk pekerjaan tertentu yang sesuai dengan kejuruannya sedangkan pendidikan umum memberikan pelatihan mengenai informasi umum untuk bekal belajar lebih lanjut mengenai kehidupan.

c. Ditinjau dari aspek pembelajar itu sendiri, pendidikan kejuruan diberikan kepada orang yang menyiapkan diri untuk jenis pekerjaan tertentu sedangkan pendidikan umum diberikan kepada semua orang dalam periode wajib belajar sampai SMA.

d. Ditinjau dari aspek metode pengajaran, pendidikan vokasi menggunakan pengalaman sebagai metode utama pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan pekerjaan, sedangkan pendidikan umum menekankan pada membaca dan mengingat kembali sebuah informasi ilmu pengetahuan.

e. Ditinjau dari aspek fundamental psikologi, pada pendidikan kejuruan pembelajaran merupakan kebiasaan dalam benak (mind) yang diajarkan melalui kebiasaan praktik, sedangkan pendidikan umum mengacu pada konsep psikologi umum yang berkembang melalui

hafalan-hafalan terhadap materi yang diberikan.

Berdasarkan uraian mengenai Pendidikan Teknologi Kejuruan bahwa dalil Prosser merupakan landasan filosofis dan teoritis yang menjadi alasan pengembangan model pembelajaran work based learning ini. Prosser mengatakan bahwa idealnya pendidikan vokasi (kejuruan) selama melaksanakan proses belajar mengajar hendaknya sesuai dengan replika dunia kerjanya. Sehingga hasil belajar merupakan kesatuan nilai terhadap pembiasaan dalam melakukan tindakan sesuai bidang tertentu.