• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Penelitian yang Relevan

Penelitian yang akan dikembangkan tentunya berdasarkan berbagai literature dan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya untuk menemukan kajian teori baru sehingga penelitian pengembangan ini bermanfaat bagi perkembangan pendidikan vokasi. Adapun kajian penelitian

relevan yang berkaitan dengan work based learning antara lain:

1. Penelitian berjudul “Work-based learning in continuing vocational education and training: policies and practices in Europe” dilakukan oleh Cedefop (2015) dengan menerapkan work based learning pada pendidikan kejuruan di Eropa menghasilkan bahwa work based learning dapat meningkatkan keterampilan kerja lulusan pendidikan vokasi di Eropa namun dalam pelaksanaan work based learning di Eropa masih belum didukung oleh kebijakan pemerintah sehingga terfragmentasi oleh pemangku kepentingan yang berkaitan dengan lembaga penyedia pelatihan.

2. Penelitian berjudul “A case study of an experiential learning and graduate placement partnership between the South Africa Automotive Industry Development Centre (AIDC) and the Nelson Mandela Metropolitan University (NMMU)” yang dilakukan oleh Rizzo (2013) Sebuah penelitian studi kasus yang membandingkan pembelajaran berbasis kerja pada industri otomotif dengan Universitas Nelson Mandela Metropolitan dimana pembelajaran fokus pada keterampilan yang diperlukan selama belajar sambil bekerja di industri otomotif berfokus pada penilaian kelayakan kerja, pengembangan tenaga kerja, penerapan pengetahuan akademik di tempat kerja, kesiapan kerja dan pengembangan profesional. Hasilnya membuktikan bahwa pembelajaran berbasis kerja efektif untuk pendaftaran dan penempatan kerja di industri otomotif bagi lulusan NMMU karena adanya keterlibatan dunia industri dalam kurikulum pembelajaran di universitas di Afrika Selatan.

3. Penelitian berjudul “A Comparison of the Work Based Learning Models and Implementation in Training Institutions” melakukan perbandingan pembelajaran Work Based Learning yang terintegrasi antara institusi pendidikan dengan industri kerja di Malaysia. Menemukan konsep Work Based Learning Arizona yaitu Work Based Learning haruslah melibatkan tiga zona yaitu keterlibatan peserta didik, institusi

pendidikan, dan industri sebagai pihak ketiga dalam proses pembelajaran di tempat kerja. Work Based Learning Arizona ini menunjukkan peningkatan peserta didik dari aspek kognitif, afektif dan keterampilan kerja di industri (Ismail, Mohamad, et al., 2015).

4. Penelitian berjudul “Developing a work-based learning model for advanced reflection in project work” mengenai work based learning pada program keperawatan di UK, peserta didik melakukan identifikasi pada tempat kerja untuk meningkatkan pelayanan kesehatan secara sosial didampingi oleh pengawas akademisi. Hasil dari penelitian ini berupa guideline dari kumpulan tugas portofolio peserta didik selama melakukan work based learning (Roberts & Al., 2013).

5. Penelitian Siswanto (2012a) yang berjudul “Model Penyelenggaraan Work-Based Learning pada Pendidikan Vokasi Diploma III Otomotif”

menemukan model Work-based Learning RoTer (Rolling Terpadu) yang memiliki pengaruh signifikan terhadap aspek kognitif tentang mekanik otomotif, profesional dalam afektif, siap mental dalam bekerja dan kemandirian. Work-based Learning RoTer yang diterapkan diselenggarakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) perencanaan yang meliputi persiapan seluruh rangkaian kegiatan sebelum pelaksanaan Work-based Learning RoTer, 2) pelaksanaan meliputi proses pembelajaran di tempat kerja dengan Work-based Learning RoTer pada tiga tempat yaitu di Pusdiklat Training Center Agen Pemegang Merek Otomotif (APM) di Jakarta, Karawang, Tangerang, 3) Pengawasan/Monitoring, 4) Supervisi dan 5) Evaluasi pelaksanaan Work-based Learning RoTer.

6. Penelitian oleh Sebayang, Siregar & Sinaga (2017) dengan judul

“Penerapan Work-Based Learning Terhadap Praktik Pemasangan Keramik Mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan”. Hasil penelitian diketahui terjadi peningkatan kompetensi mahasiswa dalam keahlian memasang keramik melalui Work-based Learning. Hasil belajar mahasiswa diukur melalui pre and posttest.

7. Penelitian oleh Gaskell & Beaton (2010) dengan judul “Inter- profesonal work based learning within an MSc in Advanced Practice:

Lessons from one UK Higher Education Programme” meneliti mengenai implementasi program work based learning antar profesional dalam satu program praktisi lanjutan di United Kingdom (UK). Hal ini merupakan program oleh otoritas strategis kesehatan untuk memenuhi kebutuhan layanan yang efektif dan efisien. Hasil penelitian diketahui adanya peningkatan keterampilan pemahaman yang lebih baik pada praktik keperawatan di UK dengan rekan kerja lebih banyak kerja antar profesional. Dengan demikian kebutuhan pembelajar telah diatasi dengan work based learning sehingga langkah kompetensi yang dicapai oleh pembelajar sesuai dengan tempat kerja walaupun berasal dari latar belakang klinis yang berbeda. Dalam membuat panduan pembelajaran bidang keperawatan sebaiknya ditentukan tahapan dan konten evaluasi untuk perawat umum atau perawat spesialis.

8. Penelitian oleh Marshall (2012) dengan judul “Developing midwifery practice through work-based learning: An exploratory study” bertujuan mengekplorasi efek modul pembelajaran berbasis work base learning yang dilakukan oleh bidan dalam pembelajaran kehamilan, persalinan normal dan perawatan neonatal. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus. Temuan penelitian yaitu bahwa modul yang digunakan efektif terhadap pengembangan pribadi dan professional bidan. Work based learning pada kebidanan ini juga meningkatkan kolaborasi multi profesional dan pengembangan konsekuensial layanan kebidanan untuk pasien lokal. Pendekatan Work-based Learning ini dipandang mampu menjembatani celah kesenjangan antara teori dan praktik kebidanan sekaligus meningkatkan hubungan kerja antara perguruan tinggi dengan tempat kerja.

9. Penelitian oleh Brodie & Irving (2007) dengan judul “Assessment In Work Based Learning: Investigating A Pedagogical Approach To Enhance Student Learning” mengenai penilaian pendekatan Work

Based Learning terhadap kemampuan pedagogi siswa yang magang di perusahaan. Hasil penelitian membuktikan bahwa dunia kerja merupakan sarana bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan pedagogi melalui belajar ditempat kerja. Penelitian menghasilkan segitiga WBL Pedagogi (WBL Pedagogical Triangel) dengan komponen a) Learning: bagaimana siswa belajar dari teori, pendekatan pembelajaran, kemampuan mengaplikasikan teori dalam bentuk praktik, kemampuan memanfaatkan kesempatan belajar. b) Critical reflection:

bagaimana siswa mampu berfikir kritis terhadap pembalajaran berbasis kerja, kemampuan membuktikan kelayakan oleh siswa terhadap dunia kerja. c) Capabilities: bagaimana kemampuan sellf audit siswa, pengaturan target dalam bekerja, kemampuan interpersonal dan transfer pembelajaran melalui dunia kerja, kedisiplinan. Ketiga kompenen tersebut dapat capai melalui pembelajaran Work Based Learning.

10. Penelitian oleh Brodie & Irving (2007) dengan judul “Developing Nursing Practice Through Work Based Learning”. Hasil penelitian menyatakan bahwa pembelajaran berbasis kerja dalam pendidikan keperawatan bermanfaat secara nyata untuk mencapai tujuan praktik melalui kondisi kesehatan pasien.

11. Penelitian oleh Raelin (2007) dengan judul “A Model of Work Based Learning”. Hasil penelitian menyimpulkan pembelajaran Work Based Learning merupakan keterampilan yang mengabungkan perkembangan konseptual dan praktik yang komprehensif. Pembelajaran berbasis dunia kerja dipengaruhi oleh faktor teknis, budaya, moral dan dan pribadi yang menentang artinya mampu memecahkan masalah dan membuat keputusan yang masuk akal dalam pekerjaan pada situasi yang baru.

12. Penelitian yang berjudul “Shadow Education in Chongqing, China:

Factors Underlying Demand and Policy Implications” meneliti tentang faktor yang mendasari permintaan dan implikasi kebijakan pelaksanaan job shadowing pada pendidikan di China. Hasil penelitian diketahui bahwa pelaksanaan job shadowing dipengaruhi oleh dua faktor yaitu 1)

letak geografis sekolah di China dimana job shadowing banyak dilakukan oleh pendidikan di kota dari pada di desa, 2) Kualitas sekolah dimana sekolah favorit di China membuktikan pelaksanaan job shadowing mempengaruhi kualitas lulusan yang banyak diterima di dunia kerja sehingga berimplikasi terhadap jumlah siswa baru yang akan memasuki sekolah tersebut pada tahun mendatang. Di China pelaksanaan Job shadowing dipengaruhi oleh budaya dan kebijakan sekolah (Zhang & Bray, 2015).

13. Penelitian oleh Sitikovs, Naumeca, & Petrovica (2013) berjudul

Tripartite view on Work Based Learning in Latvia” tentang pandangan berbasis kerja di Latvia pada perusahaan IT. Hasilnya diketahui bahwa perusahaan telah melakukan survey terhadap para karyawan yang magang, perusahaan menilai keterampilan dasar para IT sudah cukup, tetapi tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan khusus oleh program industri dan tidak pernah diajarkan dalam proses pembelajaran di sekolah. Dengan adanya model Work Based Learning perusahaan secara profesional ikut serta memberikan pembelajaran yang berfokus pada pengembangan keterampilan praktis.

14. Penelitian dengan judul “Job Shadowing Experiences as a Teaching Tool: A New Twist on a Tried and True Technique” meneliti pelaksanaan job shadowing yang dilakukan pada mahasiswa tingkat akhir jurusan marketing pada pendidikan akademi di Universitas Timur Tengah. Mahasiswa mengikuti pekerjaan marketing profesional pada sebuah perusahaan finansial. Hasil penelitian menemukan bahwa mahasiswa mengikuti job shadowing lebih aktif dan mampu mengaktualisasikan diri dalam eksperience yang dilakukan selama job shadowing, mereka mampu mengatasi rasa kecewa apabila penjualan sebuah produk belum berhasil dilakukan dan pengalaman itu hanya mereka pelajari ketika melakukan job shadowing.

15. Penelitian berjudul “The Job Shadow Assignment: Career Perceptions in Hospitality, Recreation and Tourism” melakukan penelitian terhadap

Akademi Pariwisata, Perhotelan dan Rekreasi diketahui hasil penelitian menemukan bahwa job shadowing meningkatkan kemampuan pada empat variabel peserta didik yaitu perspektif kelayakan kerja sesuai jenjang karir, pengetahuan mengenai pekerjaan, pengetahuan mengenai manfaat pekerjaan serta keterampilan menulis dan berkomunikasi secara baik (Padron, Fortune, Spielman, & Tjoei, 2017).

16. Penelitian berjudul “Pengaruh Model Work-Based Learning dan Metode Demonstrasi Terhadap Prestasi Belajar Menata Produk Ditinjau Dari Motivasi Belajar Siswa Kelas XI Pemasaran SMK Negeri 6 Surakarta hasilnya terdapat perbedaan secara signifikan penggunaan model work-based learning dan cooperative learning dengan metode demonstrasi terhadap prestasi belajar menata produk. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa pembelajaran melalui model work- based learning memiliki prestasi belajar menata produk yang lebih tinggi daripada siswa yang diajarkan melalui model cooperative learning. Hal ini disebabkan model work-based learning mengajak siswa belajar di tempat kerjanya secara langsung atau dikeadaan nyata secara langsung sehingga dapat membuat siswa lebih mudah memahami materi pelajaran. Berbeda dengan model cooperative leaning siswa hanya belajar melalui peragaan yang dilakukan didepan kelas tidak ditempat kerjanya atau ditempat kejadiannya secara langsung. Dengan demikian, siswa yang diberikan pembelajaran melalui model work- based learning lebih unggul dibandingkan dengan siswa yang diberikan pembelajaran melalui model cooperative learning” (Rahmawati &

Wahyuni, 2015).

Berdasarkan kajian-kajian yang telah dilakukan terhadap penelitian terdahulu maka ditemukan beberapa kelemahan dari sintak work based learning yang telah ada selama ini antara lain 1) sebagian besar sintak work based learning yang telah dikembangkan untuk pendidikan otomotif dan industri dengan konsen pembelajaran terhadap benda mati/mesin-mesin sedangkan pendidikan kebidanan lebih dihadapkan manusia sebagai objek

pembelajaran. 2) sebagian besar sintak work based learning yang telah dikembangkan untuk pendidikan ekonomi, pertanian, akuntasi dengan hasil akhir pembelajaran adalah sebuah produk berupa barang sedangkan pendidikan kebidanan lebih kepada pelayanan jasa kesehatan. 3) sintak work based learning yang telah dikembangkan pada pendidikan nurse/keperawatan masih sebatas membuktikan bahwa penerapan work based learning dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan praktik perawat namun belum tentu dapat meningkatkan praktik kebidanan. 4) penelitian mengenai job shadowing hampir ada disemua bidang yang berhubungan dengan mesin dan hasil produksi sehingga belum menggambarkan task skills yang lebih detail untuk pendidikan kebidanan. 5) hampir semua penelitian mengenai work based learning yang peneliti temui pada akhirnya mengukur kemampuan kognitif secara mendalam sedangkan untuk aspek soft skills masih diukur dangkal sebatas bisa/tidak; mahir/tidak; laba meningkat/tidak.

Sehingga perlu dilakukan pengembangan model work based learning untuk pendidikan kebidanan yang melibatkan empat aspek keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja dengan pendekatan job shadowing. Adapun model dasar pengembangan work-based learning dan model yang akan dikembangkan dapat dilihat pada Gambar 2.7.

Gambar 2.7. Framework Pengembangan Model WBL berdasarkan Model Dasar WBL sesuai Literatur (Buku dan Hasil Penelitian)

Berdasarkan Gambar 2.7 alasan melakukan modifikasi dari kedua sintak dasar tersebut oleh peneliti adalah 1) pada model dasar WBL Georgia langkah 1,2,3,4 dan WBL-RoTer langkah 1, belum ditujukan langsung kepada mahasiswa dalam proses pembelajaran sehingga diperlukan modifikasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal terhadap aspek praktis mahasiswa. Sehingga sintak 1 pengembangan model adalah initiation. Kegiatan initiation adalah merangsang kemampuan berfikir awal mahasiswa melalui kegiatan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Sebagai contoh dosen memberikan satu pertanyaan mengenai materi tanda persalinan dan kemudian mahasiswa memberikan respon jawaban sehingga terbangun aktivitas belajar yang aktif, 2) pada model dasar WBLGeorgia dan WBL- RoTer tidak terdapat tahapan belajar yang fokus untuk mengasah aspek interpersonal skill mahasiswa, sehingga modifikasi sintak 2 pada pengembangan model yang dilakukan peneliti yaitu necessity of information.

Kegiatan necessity of information ditujukan kepada mahasiswa agar mahasiswa mampu melakukan komunikasi yang baik dalam proses pengumpulan data subjektif pasien ataupun dalam berkomunikasi kepada keluarga pasien, sehingga mahasiswa dilatih belajar memanusiakan manusia melalui komunikasi yang baik dan benar selaku calon tenaga kesehatan nantinya, 3) pada model dasar WBLGeorgia dan WBL-RoTer pelaksanaan work based learning dilakukan secara umum, sehingga perlu dilakukan modifikasi spesifik dengan menambahkan salah satu pendekatan work based learning yaitu job shadowing. Sintak 3 yaitu action. Kegiatan action adalah mahasiswa melakukan pembelajaran pratik dengan model pembelajaran work based learning menggunakan pendekatan job shadowing. Job shadowing yaitu mahasiswa dibimbing oleh satu orang instruktur lapangan di Rumah Bersalin yang telah diberikan pengarahan mengenai tugas pokok akademis instruktur, 4) pada model dasar WBL Georgia dan WBL-RoTer pelaksanaan work based learning dilakukan evaluasi terhadap aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan sintak 4 pengembangan model yaitu assesment.

Kegiatan assesment lebih fokus mengukur aspek kognitif sebagai penunjang

praktik, aspek task skill yang terdiri dari task management skill, work environment skill, interpersonal skill, workplace learning skill terhadap kemampuan praktik 60 langkah Asuhan Persalinan Normal (APN).

Berdasarkan uraian teoritis dan kajian terhadap penelitian terdahulu maka pengembangan model Work-based Learning sebagai model dasar peneliti adopsi dari buku yang berjudul “Georgia Work Based Learning Manual; Standars and Guidelines” oleh Hobbs (2018) dengan sintaks/langkah Work Based Learning terdiri dari 6 langkah utama dan diadopsi pula dari hasil penelitian Siswanto (2012a) berjudul “Model Penyelenggaraan Work-Based Learning pada Pendidikan Vokasi Diploma III Otomotif” dengan sintaks/langkah Work Based Learning terdiri dari 5 langkah utama. Maka dirumuskan model pengembangan Work-based Learning yang akan dilakukan dengan 4 langkah utama yang terdiri dari kegiatan dalam proses pembelajaran Work-based Learning pada matakuliah Askeb II di Program Studi Kebidanan yaitu initiation, necessity of information, action, dan assesment. Dengan adanya modifikasi terhadap sintak model pembelajaran, maka sintak model WBL-INAA dapat dijadikan salah satu keterbaruan/novelty dari penelitian ini.