• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Keterampilan Sosial Terhadap Tingkat Pemahaman

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Pengembangan Hipotesis

2.3.5 Dampak Keterampilan Sosial Terhadap Tingkat Pemahaman

Menurut Goleman (2015), keterampilan sosial adalah kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain, bisa mempengaruhi, memimpin, bermusyawarah, menyelasaikan perselisihan, dan bekerjasama dalam tim.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Arnike (2013), Miftania (2015), dan Dwi dan Ardiani (2011) yang menguji secara partial apakah keterampilan sosial berpengaruh terhadap tingkat pemahaman akuntansi. Hasil penelitian menunjukan, bahwa keterampilan sosial berpengaruh signifikan terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

Keterampilan sosial seorang mahasiswa dapat dilihat dari sikroni antara dosen dan mahasiswanya bagaimana hubungan yang merasakan. Berdasarkan teori belajar sosial, ada hubungannya dengan keterampilan sosial. Semakin besar, perasaan bersahabat, bahagia, antusias, minat, adanya keterbukaan ketika melakukan interaksi dalam bermusyawarah, dan mengambil keputusan dalam berprilaku. Maka inilah yang dapat menyebabkan mahasiswa dapat belajar dengan suasana yang baik sehingga hasil dalam mendapatkan ilmu yang disampaikan dosen dapat dicapai dengan maksimal. Maka hipotesis yang diambil oleh penulis adalah:

H05: Keterampilan sosial tidak berdampak terhadap tingkat pemahaman akuntansi

Ha5: Keterampilan sosial berdampak positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi

2.2 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu seperti pada uraian sebelumnya, maka dapat digambarkan suatu kerangka pemikiran sebagai berikut:

Gambar 2.1.

Kerangka Pemikiran Kecerdasan Emosional (X)

(sumber oleh: penulis, 2016)

Kerangka pemikiran diatas menjelaskan pengaruh variabel bebas pertama (X1) yaitu Pengenalan Diri dan pengaruhnya terhadap variable terikat (Y) yaitu tingkat pemahaman akuntansi. Lalu pengaruh variabel bebas kedua (X2) yaitu Pengendalian diri terhadap variabel terikat (Y) yaitu tingkat pemahaman akuntansi. Dilanjutkan dengan variabel bebas ketiga (X3) yaitu Motivasi terhadap variabel terikat (Y) yaitu tingkat pemahaman akuntansi. Keempat, dengan variabel bebas keempat (X4) yaitu Empati terhadap variabel terikat (Y) yaitu tingkat pemahaman akuntansi, dan yang terakhir dengan variabel bebas kelima (X5) yaitu keterampilan sosial terhadap variabel terikat (Y) yaitu tingkat pemahaman akuntansi.

Pengenalan Diri (X1)

Pengendalian Diri (X2)

Motivasi (X3)

Empati (X4)

Keterampilan Sosial (X5)

Tingkat Pemahaman

Akuntansi (Y)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dampak kecerdasan emosional mahasiswa terhadap tingkat pemahaman akuntansi. Objek yang diteliti adalah mahasiswa STIE Indonesia Banking School Program Studi Akuntansi.

3.2 Desain Penelitian 3.2.1 Statistik Deskriptif

Analisis Deskriptif berkenaan dengan bagaimana data dapat dideskripsikan atau disimpulkan baik secara numerik (menghitung rata- rata dan deviasi standar) atau secara grafis (dalam bentuk tabel atau grafik) untuk mendapatkan gambaran sekilas mengenai data tersebut sehingga lebih mudah dibaca dan dimengerti.

Analisis statistik deskriptif merupakan teknik deskriptif yang memberikan informasi mengenai data yang dimiliki dan tidak bermaksud menguji hipotesis.

Analisis deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata, standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range (Ghozali, 2016: 19).

Mean digunakan untuk mengetahui rata-rata data yang bersangkutan.

Standar deviasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar data yang bersangkutan bervariasi dari rata-rata. Maksimum digunakan untuk mengetahui

jumlah terbesar data yang bersangkutan, sedangkan minimum digunakan untuk mengetahui jumlah terkecil data yang bersangkutan (Winarno, 2011).

3.3 Metode Pengumpulan Data 3.3.1 Jenis dan Sumber Data

Pada penelitian ini jenis data yang digunakan adalah jenis data subyek.

Data subyek adalah jenis data penelitian yang berupa opini, sikap, pengalaman atau karakteristik dari seseorang atau sekelompok orang yang menjadi subyek penelitian atau responden (Fillia, 2010). Sedangkan, untuk sumber data yang digunakan penelitian ini adalah data primer yaitu sumber data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner.

3.3.2 Teknik Penghimpunan Data

Teknik penghimpunan data dalam penelitian ini yaitu:

1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Penelitian ini dilakukan dengan cara menentukan teori-teori sebagai landasan literarur, jurnal penelitian,

2. Angket (self-administered questionnaire)

Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan (respons) terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

3.3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah keseluruhan kelompok yang terdiri dari orang, peristiwa atau sesuatu yang ingin diselidiki oleh peneliti. Populasi dalam penelitian ini

adalah mahasiswa S1 STIE Indonesia Banking School angkatan 2012 dan 2013 Populasi untuk penelitian ini berjumlah 140 mahasiswa akuntansi.

Cara pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan non probability sampling berupa convenience sampling dan purposive sampling dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang sesusai dengan kriteria yang ditentukan. Adapun dalam kriteria pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah:

1. Mahasiswa S1 STIE Indonesia Banking School program studi Akuntansi tingkat akhir angkatan 2012 dan 2013 yang sudah menempuh 120 SKS atau lebih, karena peneliti menganggap bahwa mahasiswa angkatan tersebut sudah mengalami proses pembelajaran yang lama dan telah mendapat manfaat maksimal dari pengajaran akuntansi.

2. Telah menempuh mata kuliah Pengantar Akuntansi I, Pengantar Akuntansi II, Akuntansi Keuangan Menengah I, Akuntansi Keuangan Menengah II, Akuntansi Biaya, Perpajakan Pengantar, Sistem Informasi Akuntansi, Akuntansi Sektor Publik, Akuntansi Manajemen, Perpajakan Menengah, Akuntansi Keuangan Lanjutan I, Akuntansi Keuangan Lanjutan II, Pengauditan II, Pengauditan II, dan Teori Akuntansi pada STIE Indonesia Banking School. Alasan dari pemilihan sampel ini, karena peneliti menganggap mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah tersebut telah mendapatkan manfaat maksimal dari pengajaran akuntansi dan dapat memberikan

umpan balik bagi perguruan tinggi untuk dapat menghasilkan para akuntan yang berkualitas.

3.4 Variabel dan Operasional Variabel

Definisi operasional variabel adalah penenentuan variabel sehingga menjadi variabel yang dapat diukur. Definisi operasional menjelaskan cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengoperasionalisasikan variabel sehingga memungkinkan peneliti yang lain untuk melakukan replikasi pengukuran dengan cara yang sama atau mengembangkan cara pengukuran variabel yang lebih baik.

3.4.1 Variabel Dependen

Variabel dependent atau variabel terikat yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. (Sugiyono, 2008).

Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat pemahaman akuntansi. Pemahaman akuntansi yaitu merupakan tingkat kemampuan seseorang untuk mengenal dan mengerti tentang akuntansi.

Dalam mengukur tingkat pemahaman akuntansi di penelitian ini menggunakan rata-rata nilai mata kuliah yang berkaitan dengan akuntansi yaitu Pengantar Akuntansi I, Pengantar akuntansi II, Akuntansi Keuangan Menengah II, Akuntansi Keuangan Menengah II, Akuntansi Biaya, Perpajakan Pengantar, Sistem Informasi Akuntansi, Akuntansi Sektor Publik, Akuntansi Manajemen, Perpajakan Menengah, Akuntansi Keuangan Lanjutan I, Akuntansi Keuangan Lanjutan II, Pengauditan II, Pengauditan II, dan Teori Akuntansi. Mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang menggambarkan akuntansi secara mendalam.

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur vang digunakan untuk mengukur variabel tingkat pemahaman akuntansi adalah dengan menggunakan kuesioner yang diadopsi dari Lauw, et al., (2009) dan Poppy (2009). Perbedaan dengan peneliti sebelumnya yaitu menambahkan mata kuliah perpajakan pengantar dan perpajakan menengah untuk mengukur variabel tingkat pemahaman akuntansi. Hasil dari nilai-nilai mata kuliah tersebut, akan di skoring sesuai dengan bobot nilai yang sudah ditentukan oleh STIE Indonesia Banking School.

Tabel 3.1.

Daftar Skor Nilai Mata Kuliah Grade Bobot Nilai

A 4

A- 3,75

B+ 3,50

B 3

B- 2,75

C+ 2,50

C 2

D 1

E 0

Sumber; Buku panduan mahasiswa STIE Indonesia Banking School

3.4.2 Variabel Independen

Variabel independen atau variabel bebas yaitu variabel yang mempengaruhi variabel lainnya dan merupakan variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependent (terikat) (Sugiyono, 2008). Alat ukut yang digunakan untuk mengukur variabel kecerdasan emosional adalah dengan menggunakan kuesioner yang diadopsi dari peneliti terdahulu yaitu Lauw, et al., (2009) dan Poppy (2009). Alasannya, karena kuesioner yang di adopsi oleh peneliti sebelumnya dapat menjadi acuan untuk diteliti kembali, dan konten

pertanyaan dari kuesioner peneliti sebelumnya sudah sesuai dengan variabel independen yang diteliti. Adapun variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini ada lima, yaitu:

1) Pengenalan diri (PND)

Instrumen yang digunakan dalam variabel pengenalan diri berupa kuesioner yang diajukan kepada responden sebanyak sepuluh pernyataan, yang meliputi tentang bagaimana responden mengenal dirinya sendiri. Instrumen ini menggunakan lima skala likert dari yang sangat tidak setuju (point 1) sampai dengan sangat setuju (point 5).

2) Pengendalian Diri (PGD)

Instrumen yang digunakan dalam variabel pengendalian diri berupa kuesioner yang diajukan kepada responden sebanyak sepuluh pernyataan, yang meliputi tentang sikap hati-hati dan cerdas dalam mengatur emosi diri sendiri. Instrumen ini menggunakan lima skala likert dari yang sangat tidak setuju (point 1) sampai dengan sangat setuju (point 5).

3) Motivasi (MTV)

Instrumen yang digunakan dalam variabel motivasi berupa kuesioner yang diajukan kepada responden sebanyak sepuluh pernyataan, yang meliputi sikap yang menjadi pendorong timbulnya suatu perilaku.

Instrumen ini menggunakan lima skala likert dari yang sangat tidak setuju (point 1) sampai dengan sangat setuju (point 5).

4) Empati (EMP)

Instrumen yang digunakan dalam variabel empati berupa kuesioner yang diajukan kepada responden sebanyak sepuluh pernyataan, yang meliputi kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan terhadap orang lain. Instrumen ini menggunakan lima skala likert dari yang sangat tidak setuju (point 1) sampai dengan sangat setuju (point 5).

5) Keterampilan Sosial (KTS)

Instrumen yang digunakan dalam variabel keterampilan sosial berupa kuesioner yang diajukan kepada responden sebanyak sepuluh pernyataan, yang meliputi tentang bagaimana seorang individu dalam bersosialisasi. Instrumen ini menggunakan lima skala likert dari yang sangat tidak setuju (point 1) sampai dengan sangat setuju (point 5).

3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data 3.5.1 Uji Kualitas Data

3.5.1.1 Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang telah disusun memiliki validitas atau tidak. Dan hasilnya ditunjukkan oleh suatu indeks yang menunjukkan seberapa jauh suatu alat ukur benar-benar mengukur apa yang ingin diukur (Aditya, 2013). Jika peneliti menggunakan kuesioner dalam pengumpulan data, maka kuesioner tersebut harus dapat mengukur apa yang ingin diukurnya.

Teknik yang digunakan untuk mengukur validitas dalam penelitias ini adalah dengan menggunakan pearson’s correlation product moment. Kriteria

yang ditetapkan untuk mengukur valid atau tidaknya suatu data adalah r hitung (koefisien korelasi) lebih besar dari r tabel (nilai kritis) pada taraf signifikansi 5%

atau 0,05. Bila koefisien korelasi lebih besar dari nilai kritis maka alat ukur tersebut valid (Ghozali, 2016: 53).

3.5.1.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk (Ghozali, 2016: 47). Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Uji reliabilitas ini menggunakan uji statistik Cronbach Alpha (α). Apabila hasil pengujian Cronbach Alpha 0.60 maka dapat dikatakan bahwa konstruk atau variabel ini adalah reliabel (Ghozali, 2013).

3.5.2 Uji Asumsi Klasik

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linier berganda (multiple linier regression method), yaitu metode statisitk untuk menguji pengaruh lebih dari satu variabel bebas terhadap satu variabel terikat (Ghozali, 2016: 8). Alat bantu yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan software SPSS versi 23.

Model regresi linier berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

PAi = a + β1PNDi + β2PGDi + β3MTVi + β4 EMPi+ β5KTSi + e Dimana:

PA = Tingkat pemahaman akuntansi

i = Mahasiswa

a = Konstanta

β1, β2, β3, β4, β5 = Koefisien regresi dari masing-masing variabel

PND = Pengenalan diri

PGD = Pengendalian diri

MTV = Motivasi

EMP = Empati

KTS = Keterampilan Sosial

e = Error

3.5.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah variabel dependen dan independen dalam model regresi tersebut terdistribusi secara normal (Ghozali, 2009). Model regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi data yang normal atau mendekati normal. Uji normalitas dapat dilakukan dengan melakukan Uji Kolomogorov-Smirnov (K-S) atau dengan melihat nilai kurtosis dan skewness untuk semua variabel dependen dan independen (Ghozali, 2009). Uji normalitas dilakukan dengan membuat hipotesis:

- H0 = Residual data terdistribusi normal - Ha = Residual data tidak terdistribusi normal Kriteria pengujian yang dilakukan adalah:

- H0 diterima bila nilai probabilitas pada hasil pengujian ≥ 0.05 - Ha diterima bila nilai probabilitas pada hasil pengujian < 0.05

3.5.2.2 Uji Heterokedastisitas

Pengujian heteroskedastisitas dilakukan untuk mendeteksi model regresi linear memiliki nilai residual yang berbeda. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap, maka hal tersebut disebut homokedastisitas dan jika berbeda maka disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang menghasilkan homokedastisitas atau tidak terjadi heterokedstisitas. Ada beberapa uji yang dapat dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya heterokedastisitas, salah satunya yaitu dengan melakukan Uji Park, yaitu dengan cara meregresikan tiap-tiap variabel independen dengan nilai residual (Ghozali, 2009). Sebelum melakukan pengujian, ada baiknya disusun hipotesis terlebih dahulu, yaitu:

H0: Tidak ada gejala heterokedastisitas Ha: Ada gejala heterokedastisitas

Jika variabel independen secara statistik signifikan (signifikansi kurang dari 5%) mempengaruhi variabel dependen (nilai residual), maka H0 ditolak dan Ha diterima. Sebaliknya, jika variabel independen secara statistik tidak signifikan (signifikansi lebih dari 5%) mempengaruhi variabel dependen (nilai residual), maka H0 diterima dan Ha ditolak (Ghozali,2009).

3.5.2.3 Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen) (Ghozali, 2016:

103). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas didalam model

regresi yaitu dengan melihat nilai tolerance dan lawannya Variance Inflation Faktor (VIF).

Multikolinearitas menunjukkan suatu keadaan dimana satu atau lebih variabel dinyatakan sebagai kombinasi linier dari variabel independen lainnya.

Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas adalah dengan melihat besaran tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF) dengan menentukan tingkat kolonieritas yang masih dapat ditolerir sebagai misal nilai tolerance = 0,10 sama dengan tingkat kolonieritas 0,90. Semakin tinggi nilai VIF, maka semakin besar peluang terjadinya multikolinearitas antar variabel, dengan ketentuan (Ghozali, 2016: 104):

1) Jika nilai VIF (Variance Inflation Factor) ≥ 10, maka ada kasus multikolinearitas.

2) Jika nilai VIF (Variance Inflation Factor) ≤ 10, maka tidak ada kasus multikolinearitas.

3.6 Teknik Pengujian Hipotesis

3.6.1 Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)

Uji Koefisien Determinasi atau yang biasa disebut Adjusted R Square menunjukkan kemampuan model untuk menjelaskan hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Uji Koefisien Determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel indpenden (Winarno, 2011). Nilai koefisien determinasi adalah berada diantara 0 dan 1. Nilai Adjusted R Square yang kecil, berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel independen amat terbatas. Nilai

yang semakin mendekati 1, berarti semakin besar kemampuan variabel independen untuk menjelaskan pengaruhnya kepada variabel dependen.

Adjusted R Square menyatakan proporsi atau presentase dari total variasi variabel tak bebas (Y) yang dijelaskan oleh sebuah variabel penjelas (X) (Winarno, 2011). Dengan menggunakan nilai Adjusted R Square, dapat dievaluasi model regresi mana yang terbaik.

3.6.2 Uji t

Menurut Ghozali (2016), uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Menurut Ghozali, 2016 pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara t hitung dengan t tabel dan dengan syarat melihat dari angka signifikansinya, dengan ketentuan:

1. Jika t hitung > t tabel atau probabilitas < 0.05 (sig. < 0.05), maka Ha diterima (ada pengaruh signifikan) dan H0 ditolak (tidak ada pengaruh yang signifikan).

2. Jika t hitung < t tabel atau probabilitas > 0.05 (sig. > 0.05), maka Ha ditolak dan H0 diterima.

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Responden

Responden yang menjadi subyek penelitian ini adalah mahasiswa pada STIE Indonesia Banking School Jakarta. Penyebaran kuesioner dilakukan melalui google form dan dengan mendatangi responden secara langsung untuk menghindari adanya kesalahpahaman dalam pengisian kuesioner. Kuesioner disebar kepada mahasiswa akuntansi angkatan 2012 dan 2013 yang berjumlah 140 mahasiswa. Sebanyak 85 kuesioner selanjutnya dapat digunakan untuk sumber data penelitian. Sisanya, karena ada yang tidak sesuai dengan syarat untuk menjadi responden, tidak mencantumkan nilai IPK, dan ada mahasiswa yang tidak merespon pada saat penyebaran kuesioner.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai penelitian ini, makan akan dibahas terlebih dahulu mengenai gambaran dari responden yang berisi tentang tahun masuk mahasiswa, jenis kelamin responden (mahasiswa), nilai IPK, dan total SKS yang sudah diambil. Semua informasi mengenai hasil penelitian dan informasi responden tersebut diperoleh dari hasil kuesioner yang diperoleh kembali. Untuk memberi gambaran umum profil responden, dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.1 Profil Responden

Keterangan Kategori Jumlah Presentase (%)

Tahun Masuk 2012 54 64

2013 31 36

Total 85 100

Jenis Kelamin Laki-laki 24 28

Perempuan 61 72

Total 85 100

Nilai IPK 2,70 - 3,00 17 20

3,01 - 3,50 47 55

>3,50 21 25

Total 85 100

Total SKS 120 - 130 23 27

131 - 140 28 33

> 140 34 40

Total 85 100

Sumber: Data Kuesioner, 2016

Dari jawaban responden menyatakan bahwa sebagian besar responden yang berpartisipasi dalam pengisian kuesioner adalah mahasiswa tahun masuk 2012 sebanyak 54 orang (64%) lebih dominan dari pada responden mahasiswa tahun masuk 2013 sebanyak 31 orang (36%). Jenis kelamin laki-laki yang menjadi responden sebanyak 24 orang (28%), sedangkan perempuan sebanyak 61 orang (61%).

Responden (mahasiswa) yang memiliki IPK 2,70-3,00 sebanyak 17 orang (20%), responden (mahasiswa) yang memiliki IPK 3,01-3,50 sebanyak 47 orang (55%), dan responden (mahasiswa) yang memiliki IPK >3,50 sebanyak 21 orang (25%).

Responden (mahasiswa) yang telah menempuh 120-130 SKS sebanyak 23 orang (27%), responden (mahasiswa) yang telah menempuh 131-140 SKS sebanyak 28 orang (33%), dan responden (mahasiswa) yang telah menempuh >140 SKS sebanyak 34 orang (40%).

4.2 Statistik Deskriptif

Uji statistik deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi dari suatu data yang dilihat dari jumlah sampel, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), median, dan standar deviasi dari masing masing variabel. Dalam menganalisis data berdasarkan atas kecenderungan jawaban yang diperoleh dari responden terhadap masing-masing variabel, berikut ini dijelaskan statistik data penelitian:

Tabel 4.2 Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Median Std. Deviation

PND 85 26 48 35.78 35 4.615

PGD 85 25 46 35.12 35 5.366

MTV 85 10 43 26.15 27 7.038

EMP 85 25 49 36.81 36 4.895

KTS 85 23 38 32.21 33 2.960

PA 85 38 59 49.69 50 4.923

Sumber: Data Primer yang Diolah Penulis Menggunakan SPSS, 2016

Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa pada variabel pengenalan diri (PND) dari 85 responden penelitian tersebut variabel pengenalan diri memiliki rata-rata empiris yaitu sebesar 35.78 yang berada di atas median teoritis yaitu 35 (35.78 > 35). Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik deskriptif, pengenalan diri mahasiswa STIE Indonesia Banking School tergolong tinggi. Standar deviasi

pengenalan diri menunjukkan angka 4.615 yang lebih kecil dari nilai rata-rata yang menunjukkan angka 35.78 (4.615±35.78). Hal ini variasi data dari pengenalan diri termasuk tergolong rendah. Nilai terendah pada variabel pengenalan diri sebesar 26 yang dimiliki angkatan tahun 2013 dan nilai tertinggi sebesar 48 dimiliki juga oleh angkatan tahun 2013.

Variabel pengendalian diri (PGD) dari 85 responden penelitian tersebut memiliki rata-rata empiris yaitu sebesar 35.12 yang berada di atas median teoritis yaitu 35 (35.12 > 35). Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik deskriptif, pengendalian diri mahasiswa STIE Indonesia Banking School tergolong tinggi.

Standar deviasi pengendalian diri menunjukkan angka 5.366 yang lebih kecil dari nilai rata-rata yang menunjukkan angka 35.12 (5.366±35.12). Hal ini variasi data dari pengendalian diri termasuk tergolong rendah. Nilai terendah pada variabel pengendalian diri sebesar 25 yang dimiliki angkatan tahun 2012 dan nilai tertinggi sebesar 46 dimiliki oleh angkatan tahun 2013 .

Variabel motivasi (MTV) dari 85 responden penelitian tersebut memiliki rata-rata empiris yaitu sebesar 26.15 yang berada di bawah median teoritis yaitu 27 (26.15 < 27). Hal ini menunjukkan bahwa secara umum diperoleh adanya motivasi dari mahasiswa yang berada di bawah nilai tengah yang artinya motivasi mahasiswa STIE Indonesia Banking School tergolong rendah. Standar deviasi motivasi menunjukkan angka 7.038 yang lebih kecil dari nilai rata-rata yang menunjukkan angka 26.15 (7.038±26.15). Hal ini variasi data dari motivasi termasuk tergolong rendah. Nilai terendah pada variabel motivasi sebesar 10

dimiliki oleh angkatan tahun 2012 dan 2013 dan nilai tertinggi sebesar 43 dimiliki oleh angkatan tahun 2013.

Variabel empati (EMP) dari 85 responden penelitian tersebut memiliki rata-rata empiris yaitu sebesar 36.81 yang berada di bawah median teoritis yaitu 36 (36.81 > 36). Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik deskriptif, empati dari mahasiswa yang berada di bawah nilai tengah yang artinya empati mahasiswa STIE Indonesia Banking School tergolong rendah. Standar deviasi empati menunjukkan angka 4.895 yang lebih kecil dari nilai rata-rata yang menunjukkan angka 36.81 (4.895±36.81). Hal ini variasi data dari empati termasuk tergolong rendah. Nilai terendah pada variabel empati sebesar 25 dimiliki oleh angkatan tahun 2013 dan nilai tertinggi sebesar 49 dimiliki juga oleh angkatan tahun 2013.

Variabel keterampilan sosial (KTS) dari 85 responden penelitian tersebut memiliki rata-rata empiris yaitu sebesar 32.21 yang berada di bawah median teoritis yaitu 33 (32.21 < 33). Hal ini menunjukkan bahwa secara umum diperoleh adanya keterampilan sosial dari mahasiswa yang berada di bawah nilai tengah yang artinya keterampilan sosial mahasiswa STIE Indonesia Banking School tergolong rendah. Standar deviasi keterampilan sosial menunjukkan angka 2.960 yang lebih kecil dari nilai rata-rata yang menunjukkan angka 32.21 (2.960±32.21).

Hal ini variasi data dari keterampilan sosial termasuk tergolong rendah. Nilai terendah pada variabel keterampilan sosial sebesar 23 dimiliki oleh angkatan tahun 2013 dan nilai tertinggi sebesar 38.

Dan yang terakhir, variabel tingkat pemahaman akuntansi (PA) dari 85 responden penelitian tersebut memiliki rata-rata empiris yaitu sebesar 46.69 yang

berada di bawah median teoritis yaitu 50 (46.69 < 50). Hal ini menunjukkan bahwa secara umum diperoleh adanya tingkat pemahaman akuntansi dari mahasiswa yang berada di bawah nilai tengah yang artinya pemahaman akuntansi mahasiswa STIE Indonesia Banking School akan akuntansi tergolong rendah.

Standar deviasi tingkat pemahaman akuntansi menunjukkan angka 4.923 yang lebih kecil dari nilai rata-rata yang menunjukkan angka 46.69 (4.923±46.69). Hal ini variasi data dari tingkat pemahaman akuntansi termasuk tergolong rendah.

Nilai terendah pada variabel pemahaman akuntansi sebesar 38 dan nilai tertinggi sebesar 59 dimiliki oleh angkatan tahun 2012 dan 2013.

4.3 Uji Kualitas Data 4.3.1 Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur valid tidaknya suatu kuesioner.

Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2016: 52). Pengujian validitas dilakukan dengan melakukan kolerasi bivariate antara masing- masing skor indikator dengan total skor konstruk. Nilai uji validitas ditunjukkan pada kolom Correlated Item – Total Correlation dengan bantuan SPSS.

Hasil data primer yang telah diolah menggunakan SPSS menunjukkan, masing-masing item kuesioner dari setiap variabel menunjukkan nilai Correlated Item – Total Correlation dengan r tabel untuk jumlah sampel (n) = 85 dengan variabel independen yang berjumlah lima, maka df = n-k = 80 didapat r tabel = 0,183.

Dokumen terkait