BAB 5 TANTANGAN PENGEMBANGAN UKM
5.2 Kendala Penyaluran KUR 2016
5.2.3 Dampak Negatif KUR
Penyaluran KUR oleh lembaga keuangan bank diakui memberikan manfaat positif pagi penerimanya. Namun hal ini tidak untuk pihak- pihak lembaga keuangan lainnya seperti BPR dan koperasi. Hal ini merupakan masalah yang harus segera diatasi untuk mencegah dampak negatif dari KUR. Selain permasalahan tersebut, penyaluran KUR juga tidak menutup kemungkinan salah sasaran karena beberapa alasan tertentu. Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam penyaluran KUR selama ini diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Pertumbuhan penyaluran kredit BPR minus. Dampak negatif penyaluran kredit KUR sudah mulai terasa. Hal ini dirasakan oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Malang yang mulai terdampak akibat penyaluran KUR yang ditandai dengan melemahnya penyaluran kredit lembaga jasa keuangan tersebut hingga Februari 2016. Mulai Februari 2016 penyaluran kredit BPR/BPRS di wilayah kerja Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang hanya tumbuh 0,24% dengan posisi outstanding Rp 1,213 triliun. Padahal tahun-tahun sebelumnya pada periode yang sama bisa tumbuh di kisaran 5%. Dengan rerata pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 0,24%, ada beberapa BPR yang sampai dengan Februari 2016 penyaluran kreditnya
justru minus. Menurunnya penyaluran kredit BPR/BPRS salah satunya dipicu penyaluran KUR yang menjanjikan bunga yang lebih kecil dan tanpa agunan. Akibatnya nasabah BPR/BPRS pun beralih mengejar kredit dari perbankan umum penyalur KUR. Rasio kredit bermasalah atau NPL BPR di wilayah kerja OJK Malang naik menjadi 12,5 persen pada posisi Februari 2016 terdampak pada melambatnya penyaluran kredit, akibatnya angka pembanding kredit bermasalah lebih kecil sehingga NPL menjadi tinggi.
b. Mengancam keberadaan koperasi dan LKM. Program kredit usaha rakyat atau KUR yang tengah digencarkan oleh Pemerintah dengan bunga 9% tersebut dianggap akan mengancam koperasi kredit, koperasi simpan pinjam dan lembaga keuangan mikro (LKM). Pemerintah telah menetapkan tingkat suku bunga KUR sejak Agustus 2015 sebesar 22%, kemudian diturunkan ke 12%, lalu 9% sejak awal 2016. Kredit dijamin oleh Jamkrindo dan Askrindo hingga non performance loan (NPL) mencapai 80%.
Tetapi apabila program ini terus dipaksakan dengan fasilitas yang diberikan tersebut, dapat mengakibatkan beberapa konsekuensi yakni keberadaan koperasi kredit, simpan pinjam dan LKM akan terancam. Pemberian subsidi bunga justru berakibat merusak moral bankir sendiri. Penurunan suku bunga itu tidak cocok dilakukan bank karena lembaga keuangan itu bertujuan mengejar keuntungan sehingga dianggap tidak mungkin mampu memikul misi pemberian kredit untuk menggerakkan perekonomi masyarakat ini. Sejak awal para bankir telah memprotes adanya usulan kebijakan kuota sektor terutama untuk membiayai sektor pertanian dan perikanan rakyat yang jadi kunci kedaulatan ekonomi rakyat. Sebagai konsekuensinya, pangsa pasar koperasi dan LKM perlahan akan tersedot ke sektor perbankkan dan dipastikan akan kewalahan menghadapi persaingan ini. Penyaluran KUR yang dilakukan oleh bank akan menyebabkan menurunnya daya saing sektor perbankan. Mestinya penurunan suku bunga ini secara teori dibangun dari pengembangan basis sektor riilnya terlebih dahulu. Bukan sebaliknya, suku bunga diturunkan secara paksa. Sektor usaha mikro dan kecil serta koperasi semestinya
diakselerasi terlebih dahulu dengan agenda reformasi yang jelas. Dengan bergerakknya sektor riil barulah kemudian suku bunga itu akan turun dengan alamiah.
c. Basis bisnis koperasi di Indonesia masih di sektor keuangan.
Berdasarkan data statistik,
d. koperasi Indonesia yang mestinya berperan di sektor riil ekonomi rakyat, saat ini kondisinya masih sangat memprihatinkan. Kalau statistik dunia menunjukkan angka 95% itu bergerak di sektor pangan dan energi (domestik), koperasi di negeri ini menunjukkan statistik sebaliknya, justru 92% berada dalam sektor keuangan. Kondisi inilah yang menurutnya harus diatasi terlebih dahulu. Setelah langkah itu, sebaiknya pemerintah melakukan promosi secara luas mengenai fungsi dan manfaat koperasi serta keunggulannya.
Pemerintah juga harus mengonsolidasikan usaha-usaha koperasi sektor riil dengan memberikan perintah pembiayaan KUR ke sektor riil melalui isntrumen kelembagaan koperasi, bukan bank. Bank baik BUMN maupun swasta itu mengejar keuntungan. Berbeda dengan koperasi yang tujuannya membesarkan manfaat untuk anggota dan masyarakat. Suku bunga akan turun dengan sendirinya karena ditopang oleh sektor riil yang kuat, dan fundamental ekonomi Indonesia akan kuat karena sektor domestik terutama pangan dan energi bisa dipenuhi secara mandiri.
e. KUR tidak digunakan untuk peruntukannya. Seperti disampaikan oleh Pengawas Otoritas Jasa Keuangan Yogyakarta Asteria Tika, Kredit Usaha Rakyat atau KUR selama ini tidak sepenuhnya disalurkan sesuai peruntukannya. Awalnya KUR diluncurkan yang ditujukan sebagai program untuk penanggulangan kemiskinan. Tetapi dalam praktiknya selama ini program KUR terjadi semacam penyimpangan di lapangan karena adanya praktik-praktik dari oknum pegawai bank penyalur. Misal adanya usaha fiktif, hal ini dapat terjadi karena seringkali petugas bank ditarget dapat menyalurkan jumlah kredit tertentu sehingga mereka bekerja asal target terpenuhi.
f. Perbedaan Kepentingan. Masalah pelaksanaan KUR di lapangan masih terdapat perbedaan kepentingan antara departemen teknis dan bank. Dari sisi departemen teknis menganggap masih banyak UMKM binaan mereka yang belum terjangkau akses ke permodalan. Sedangkan dari sisi bank pelaksana menganggap sulit untuk mendapatkan debitur baru. Dalam konteks ini, pihak bank dalam penyalurannya juga mengacu pada daftar debitur yang bermasalah dalam pertimbangan menyalurkan kredit kepada UMKM. Jadi ketika diketahui ada pelaku UMKM yang pernah bermasalah dalam kredit permodalan maupun konsumtif, maka ini menjadi pertimbangan bank pelaksana dalam mengabulkan permohonan kredit permodalan UMKM. Perbedaan ini perlu menjadi perhatian khusus dari Pemerintah agar UMKM yang sebelumnya bermasalah tetapi sekarang sudah normal kembali, dapat diberikan kesempatan dapat mengakses KUR.
g. Sebagian bank masih memberlakukan agunan. Sejumlah pelaku usaha mengeluhkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang masih mengharuskan adanya agunan dalam proses penyalurannya terhadap pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Hal ini seperti diungkapkan Ketua Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (Inkowapi) Sharmila Zaini, yang mengeluhkan bahwa pada praktiknya pelaksanaan KUR di lapangan hampir seluruhnya mensyaratkan agunan. Hal ini adalah kebohongan publik. Menurut aturannya KUR tidak memerlukan agunan, namun dalam praktiknya di lapangan pasti dimintai agunan.
h. Ada yang belum mendapatkan KUR. Sebagai contoh penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang hingga saat ini masih nihil. Sejumlah lembaga perbankan yang ditunjuk sebagai penyalur KUR TKI di Provinsi NTB masih kesulitan, karena pengetahuan masyarakat yang minim tentang pembiayaan tersebut. Disamping itu, proses sosialisasi yang dilakukan pemda terkait KUR tidak berjalan sebagaimana mestinya.