• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN

B. Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Keharmonisan Rumah

37

B. Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Keharmonisan Rumah

38

Berikut tabel perubahan angka perceraian di Lombok Barat sebelum dan sesudah adanya pandemi covid-19:56

Tabel 2.6. Angka Perceraian Tahun 2017-2021

No Tahun Register Putus

1 2017 713 711

2 2018 931 885

3 2019 1129 1090

4 2020 1341 1488

5 2021 1029 1066

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa adanya peningkatan angka perceraian yang ada di Pengadilan Agama Giri Menang Lombok Barat dari sebelum dan sesudah adanya pandemi seperti yang telah dijelaskan oleh Lalu Jamaludin selaku Panitera Pengadilan Agama Giri Menang.

Berdasarkan wawancara dan observasi yang telah peneliti laksanakan dilokasi penelitian, dari 87 (delapan puluh tujuh) keluarga di Dusun Karang Bucu Daye terdapat 15 (lima belas) keluarga yang mendapat dampak dari pandemi covid-19 terhadap keharmonisan keluarga dan 7 (tujuh) keluarga diantaranya telah berhasil diwawancara yang menjadi narasumber dalam penelitian yang peneliti laksanakan di Desa Bagik Polak Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat.57

Terdapat beberapa dampak pandemi covid-19 terhadap keharmonisan rumah tangga di Desa Bagik Polak yang pertama, wawancara dengan ibu MS dengan keterangan bahwa Ibu MS usia 27 tahun pekerjaan ibu rumah tangga dan suaminya atas nama

56 Arsip Pengadilan Agama Giri Menang

57 Siti Supiani, Wawancara, Bagek Polak, 25 September 2021

39

bapak RA usia 32 tahun, pekerjaan sopir, menikah pada tahun 2010 dan telah dikaruniai dua orang anak.

Berdasarkan teori indikator keharmonisan keluarga yang pertama penerapan agama dalam keluarga di tengah pandemi covid-19, ibu MS menerangkan bahwa ia dan suami tetap saling mengingatkan untuk tetap melaksankan sholat lima watu, akan tetapi suaminya hanya mewajibkan istrinya untuk sholat akan tetapi ia sendiri (suami ibu MS) tidak ikut melaksanakan sholat, begitu juga dengan ibadah puasa, namun untuk zakat dan shadaqah tetap dilaksanakan ibu MS dan keluarga, pendidikan agama sendiri menurut ibu MS adalah hal yang penting, namun bapak RA selaku suami sangat jarang mengajarkan keluarganya tentang pendidikan agama.

Seperti ucap ibu MS dalam wawancaranya:

Kalau selama corona ini, tetap saling mengingatkan sholat, puasa gitu ya, tapi suami saya hanya mengingatkan kalau dia sendiri ndak sholat, paling cuma sholat jumat itupun kalau dia mau, apalagi stress karena corona ini, tapi kalau zakat, sedekah gitu tetep sekeluarga, kalau pendidikan agama jak suami saya hampir ndak pernah ngajarin agama-agama gitu, karena sibuk kerja, kalau anak-anak sendiri kita serah ngaji di TPQ.”, selanjutnya dari segi kesehatan ibu MS menjelaskan “kalau pelayanan kesehatan seperti posyandu, imunisasi, vaksin covid, dan lain-lain tetep kita sekeluarga ikut,terus juga kalau lingkungan bersih jelas penting, rumah juga harus bersih supaya nyaman sehat, tapi gitu kalau olahraga jak memang jarang sekali, kalau sudah nyuci nyapu sudah dah jadi olahraganya.”58

Dari penjelasan tersebut ibu MS menjelaskan ia sekeluarga tetap mengikuti pelayanan kesehatan umum seperti imunisasi, posyandu, vaksin dan lainnya, lingkungan rumah yang bersih juga tetap diterapkan oleh keluarga ibu MS, namun dalam penerapan kesehatan dalam keluarga berupa olahraga sendiri merupakan suatu hal yang sangat jarang di laksanakan oleh ibu MS dan keluarga.

58 Ms, Wawancara, Bagek Polak, 24 September 2021, Pukul 14.00 WITA

40

Selajutnya dari segi ekonomi ibu Ms menerangkan bahwa selama pandemi ini penghasilan suaminya sebagai sopir dapat dikatakan semakin sedikit dan tidak stabil sesuai dengan penjelasan ibu MS:

Suami sayakan supir di Bali, awal pandemi orderan perusahaannya cukup mancet jadi dia jarang kerja, bahkan pernah menganggur selama kurang lebih 5 (lima) bulan, yang awalnya penghasilannya bersih 1,5 juta perbulan jadi 600-800 ribu perbulannya itupun masih kotor, karena menganggur selama kurang lebih 5 (lima) bulan jadi suami saya jarang ngirim, mau pulang juga ndak bisa karena PSBB,biasanya sebelum pandemi pulang 1-3 kali dalam sebulan karena pandemi jadi jarang ketemu, nelpon juga jarang karena terkendala biaya pulsa dan kuota internet.”59

Selanjutnya dari segi komunikasi dan kerjasama dalam keluarga ibu MS menerangkan bahwa musyawarah dan evaluasi merupakan hal yang jarang dilakukan saat pandemi ini seperti yang diterangkan oleh ibu MS:

“Suami saya kan diam di Bali tidak bisa pulang karena PSBB selama 5 (lima) bulan jadi sangat jarang musyawarah atau evaluasi, saling menasihati dengan panggilan yang patut juga masih, namun cukup jarang, justru suami saya menikah sirih saat PSBB dan pulang ke Lombok bawa istri kedua, karena pengurangan karyawan di PT tempat suami saya kerja, jadi suami saya pulang ke Lombok dan menganggur sekitar kurang lebih 6 (enam) bulan dari Desember 2020-Mei 2021, selama menganggur 6 (enam) bulan ya pasti konflik, stress, bertengkar karena ekonomi kurang, bosen juga saling lihat setiap hari, komounikasi semakin buruk kadang-kadang juga ya kalau sudah bertengkar hebat suami mukul-mukul, jadi dampak corona ini ndak hanya ekonomi tapi juga jarang ketemu suami jadi nikah lagi, terlalu sering ketemu jadi stres, berkelahi jadi KDRT, komunikasi jadi jarang mungkin

59 Ibid

41

karena kurang paham agama jadi apa-apa cepat saling emosi, mukul, ya tapi karena lihat anak-anak ya baikan lagi.”60

Berdasarkan keterangan dari ibu MS dapat disimpulkan bahwa dampak pandemi covid-19 terhadap keharmonisan rumah tangganya yaitu berupa stress, konflik, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), berselisih paham, yang disebabkan jarang bertemu karena PSBB, ekonomi yang tidak stabil, adanya wanita idaman lain, terlalu sering bertemu yang memicu stress dan berselisih paham, dan kurangnya komunikasi serta pemahaman dan penerapan agama dalam kehidupan berumah tangga.

Wawancara kedua bersama keluarga bapak AB dengan keterangan bahwa bapak AB usia 32 tahun pekerjaan guru honorer dan istrinya atas nama ibu HS usia 29 tahun, pekerjaan guru mengaji, menikah pada tahun 2016, dikaruniai satu orang anak lahir pada tahun 2017.

Berdasarkan teori indikator keharmonisan keluarga yang pertama penerapan agama dalam keluarga di tengah pandemi covid-19, bapak AB dan ibu HS menjelaskan bahwa penerapan agama dalam keluarga dimulai dari ibadah sholat diterangkan bahwa bapak AB bersama istri dan anaknya tetap melaksanakan ibadah sholat dan tetap saling mengingatkan, begitu juga dengan ibadah puasa dan zakat, dalam pendidikan agama dalam keluarga juga diterapkan oleh bapak AB dan ibu HS, ibu HS sendiri yang notabenenya sebagai seorang hafidzah dan bapak AB sebagai guru agama, menerpakan pendidikan agama dalam keluarga setiap hari baik kepada anak dan juga satu sama lain sebagai suami istri seperti keterangan bapak AB:

“Alhamdulillah kalau untuk penerapan agama baik mulai dari sholat, puasa, zakat dan pendidikan agama dalam keluarga masih tetap selalu berusaha saling mengingatkan dan berusaha diamalkan setiap hari, alhamdulillah ibunya juga guru mengaji

60 Ibid

42

dan sudah hadidzah jadi anak mengaji dan belajar agamanya di rumah bersama saya dan ibunya.”61

Selanjutnya dari segi kesehatan keluarga, bapak AB dan ibu HS menerangkan bahwa mereka sekeluarga tetap aktif mengikuti pelayanan kesehehatan umum baik sebelum dan setelah pandemi, seperti imunisasi, posyandu, vaksin dan lainnya, di dukung dengan lingkungan rumah yang bersih dan sehat, dan beberapa kali dalam seminggu berolahraga jalan-jalan pagi agar fisik sehat dan psikis yang sehat. Dari segi ekonomi di masa pandemi bapak AB dan ibu HS menerangkan bahwa:

”Penghasilan saya sebagai guru itu 600 ribu perbulan dan gaji istri saya juga sebagai guru mengaji di TPQ sebesar 600 ribu perbulan dan alhamdulillah tidak ada perubahan setelah pandemi, hanya saja pengeluaran cukup bertambah untuk biaya masker, handsinitizer dan lainnya tapi dapat dibilang tetap stabil.”62

Selanjutnya dari segi komunikasi dan kerjasama dalam keluarga bapak AB dan ibu HS menerangkan bahwa musyawarah dan evaluasi merupakan hal yang justru sangat sering dilakukan saat pandemi seperti yang diterangkan sebagai berikut:

“kalau musyawarah, evaluasi, saling nasihat-menasihati, memanngil dengan panggilan yang patut, tetap dan selalu kami lakukan, apalagi ditengah pandemi ini, dengan keadaan sering dirumah, jadi kami bisa lebih banyak ngobrol, musyawarah terkait rencana-rencana kedepanya, saling kerja sama dan lainnya yang kami rasa semakin membuat rumah tangga semakin harmonis pastinya, contohnya rencana kami untuk punya anak kedua, saat pandemi ini karena sering dirumah jadi banyak waktu bersama alhamdulillah Allah memberikan kepercayaan untuk memiliki anak kedua dan sekarang sudah berusia 7 bulan dan sebentar lagi akan bersalin.”63

61 AB dan HS, Wawancara, Bagek Polak, 28 September 2021 pukul 19.00 WITA

62 Ibid

63 Ibid

43

Berdasarkan keterangan dari keluarga bapak AB dan ibu HS dapat disimpulkan bahwa dampak pandemi covid-19 terhadap keharmonisan rumah tangganya yaitu berupa semakin harmonisnya keluarga yang dirasakan yang disebabkan karena lebih seringnya bertemu, bersama di rumah sehingga lebih banyak waktu bersama dan memperbaiki komunikasi serta dengan penerapan agama dalam kehidupan berumah tangga ditengah pandemi sehingga membuat keluarga tetap harmonis dan stabil meski dihadapkan dengan keadaan pandemi Covid-19.

Wawancara ketiga, bersama ibu SM dengan keterangan bahwa Ibu SM usia 27 tahun pekerjaan ibu rumah tangga dan suaminya atas nama bapak HW usia 34 tahun, pekerjaan sopir, menikah pada tahun 2019, berdasarkan teori indikator keharmonisan keluarga yang pertama tentang penerapan agama dalam keluarga di tengah pandemi covid-19, ibu SM menerangkan bahwa ibu SM tetap berusaha mengingatkan untuk tetap melaksankan sholat lima watu, akan tetapi suaminya (suami ibu SM) tidak mau melaksanakan sholat, begitu juga dengan ibadah puasa, namun untuk zakat dan shadaqah tetap dilaksanakan ibu SM dan saumi, dari segi pendidikan agama sendiri menurut ibu SM adalah hal yang penting, namun bapak HW selaku suami sangat jarang mengajarkan keluarganya tentang pendidikan agama seperti ucap ibu SM dalam wawancara:

“Kalau sholat saya alhamdulillah tetap sholat, tapi suami saya ndakmau sholat, tetap saya ingatkan tapi dia tidak mau sholat, begitu juga kalau puasa, hanya saya yang mengingatkan dia tapi dia tidak mau sholat dan puasa, tapi kalau zakat dan shadaqah tetap saya dan dia laksanakan, apalagi dari segi pendidikan dan penerapan agama saya rasa hampir ndak pernah diajarkan tentang agama sama saya, saya juga cuma lulusan SD ndak punya banyak ilmu untuk banyak menasihati suami saya.”64

Selanjutnya dari segi penerapan kesehatan dalam keluarga ibu SM menerangkan bahwa:

64 SM, Wawancara, Bagek Polak, 2 Oktober 2021 pukul 16.00 WITA

44

“kalau ada pelayanan kesehatan umum saya tetap mengikuti tapi kalau suami saya jarang, apalagila berolahraga kami berdua hampir tidak pernah, ya kalau sudah kerja, beres-beres rumah itu sudah jadi olahraganya, kalau dari segi kebersihan rumah menurut saya sangat penting tapi suami saya kurang perhatian tentang kebersihan rumah.” Selanjutnya dari segi ekonomi keluarga ibu SM menjelaskan “sebelum corona mantan suami saya bekerja di PT. Surya Indah dengan gaji 1,8 juga perbulan, setelah 1 tahun menikah penghasilannya semakin sedikit akibat pandemi menjadi 1,2 juta perbulan namun karena PSBB terkadang menganggur dua mingguan, jadi pemasukan yang semakin sedikit setelah corona ya jadi saya sering berhutang untuk kebutuhan pokok.” 65

Selanjutnya dari segi komunikasi dan kerja sama dalam keluarga ibu SM menjelaskan:

“Kita jarang banyak bicara, musyawarah apalagi, dia kalau saya nasihati untuk sholat, bersih-bersih dan lainnya sering marah-marah dan memukul, jadi ya kami sangat jarang musyawarah, saling menasihati, apalagi kerjasama, padahal kalau sesama orang lain dia rajin bantu-bantu, bahkan dia sempat ketahuan selingkuh dengan tetangga yang seorang janda, apalagi saat corona ini karena sering menganggur dan sering dirumah, ekonomi mancet, kita sering cekcok, berkelahi dan dia sering memukul saya atau KDRT dan akhirnya saya pulang kerumah orang tua saya pada bulan Februari 2021 dan dia mentalaq saya dan sejak saat itu kami tidak pernah komunikasi lagi.”66

Berdasarkan keterangan dari ibu SM dapat disimpulkan bahwa dampak pandemi covid-19 terhadap keharmonisan rumah tangganya yaitu berupa stress, konflik, berselisih paham, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang berujung perceraian, yang disebabkan ekonomi yang tidak stabil, adanya wanita idaman lain, terlalu sering bertemu yang memicu stress dan berselisih paham,

65Ibid

66 Ibid

45

dan kurangnya komunikasi serta pemahaman dan penerapan agama dalam kehidupan berumah tangga.

Narasumber keempat yaitu wawancara kedua bersama keluarga bapak JS dan ibu SF dengan keterangan bahwa bapak AB usia 25 tahun pekerjaan buruh harian lepas dan istrinya atas nama ibu SF usia 18 tahun pekerjaan ibu rumah tangga, menikah pada tahun 2019, dikaruniai satu orang anak, berdasarkan teori indikator keharmonisan keluarga yang pertama penerapan agama dalam keluarga di tengah pandemi covid-19, bapak JS dan ibu SF menjelaskan bahwa penerapan agama dalam keluarga dijelaskan sebagai berikut:

“saya jarang sholat, tapi kalau istri saya tetap sholat, begitu juga dengan puasa, saya jarang puasa hanya istri saya yang puasa, tapi kalau zakat dan shadaqah tetap kalau ada rizki, kalau masalah pendidikan dan penerpan agama, karena kami berdua tidak lulus sekolah jadi kami jarang saling mengingatkan terkait agama, palingan saling mengingatkan dan penerapan terkait hal yang umum-umum saja.”67

Selanjutnya dari segi penerapan kesehatan dalam keluarga dijelaskan bahwa keluarga bapak JS dan ibu SF tetap mengikuti kegiatan pelayanan kesehatan yang dianjurkan pemerintah seperti imunisasi, vaksin, posyandu dan lainnya, keluaraga bapak JS dan ibu SF menjelaskan bahwa mereka jarang berolahraga, dan menganggap penting kebersihan lingkungan terutama rumah, selanjutnya dari segi ekonomi keluarga dijelaskan bahwa sebelum pandemi bapak JS mempunyai usaha babershop dengan penghasilan mencapai 100-200 ribu rupiah perharinya, namun setelah pandemi penghasilan bpk JS semakin menurun sehingga bapak JS menutup usaha babershopnya dan menjadi tukang gunting keliling, tukang ojek (buruh harian lepas) dengan penghasilan 20-30 ribu perhari.

Dari segi komunikasi dan kerja sama keluarga bapak JS dan ibu SF menjelaskan bahwa:

67 JS dan FS, Wawancara, Bagek Polak, 6 Oktober 2021 pukul 20.00 WITA

46

“Kita jarang banyak bicara dan musyawarah, karena saya sibuk berkerja, terkadang kalau terlalu stres tidak ada kerjaan seharian pulang tidak bawa uang, saya pergi minum-minum diajak minum sama teman, untuk melepas stress tapi pulangnya karena capek berkelahi lagi, jadi ya gimana mau berkomunikasi banyak dengan keadaan pandemi yang serba sepi, keseringan dirumah jadi kurang pemasukan untuk membeli kebutuhan pokok, anak saya nangis minta beli mainan dan lainnya, jadinya stress, akhirnya berselisih paham dan terkadang tidak sengaja karena terlalu emosi saya memukul istri saya, tapi setelah sehari dua hari ya kami berbaikan lagi, tapi pernah juga sampai bercerai selama 3 minggu namun rujuk lagi karena stress, banyak fikiran, PSBB dimana-mana kerja susah, pemasukan mancet, selalu cekcok sehingga akhirnya bercerai namun sekarang sudah rujuk kembali, jadi sangat jelas bahwa pandemi berdampak sekali, dari segi pemasukkan yang kurang, stress, cekcok namun kami tetap berusaha tetap bersama berbaikan lagi.”68

Berdasarkan keterangan dari bapak JS dan ibu FS dapat disimpulkan bahwa dampak pandemi covid-19 terhadap keharmonisan rumah tangganya yaitu berupa stress, konflik, berselisih paham, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang berujung perceraian, yang disebabkan ekonomi yang tidak stabil, terlalu sering bertemu yang memicu stress dan berselisih paham, dan kurangnya komunikasi serta pemahaman dan penerapan agama dalam kehidupan berumah tangga.

Narasumber kelima yaitu wawancara bersama bapak MZ dan ibu FA dengan keterangan bahwa bapak MZ usia 33 tahun pekerjaan karyawan swasta dan istrinya atas nama ibu FA usia 31 tahun pekerjaan ibu rumah tangga, menikah pada tahun 2011 dan dikaruniai dua orang anak.

Berdasarkan teori indikator keharmonisan keluarga yang pertama penerapan agama dalam keluarga di tengah pandemi covid-19, bapak MZ dan ibu FA menjelaskan bahwa penerapan

68 Ibid

47

agama dalam keluarga dimulai dari ibadah sholat diterangkan bahwa bapak MZ bersama istri dan anaknya tetap melaksanakan ibadah sholat dan tetap saling mengingatkan, begitu juga dengan ibadah puasa dan zakat dan ibadah sunnah lainnya, dalam pendidikan dan penerapan agama dalam keluarga juga diterapkan oleh bapak MZ dan ibu FA setiap hari baik kepada anak dan juga satu sama lain sebagai suami istri.

Selanjutnya dari segi kesehatan keluarga, bapak MZ dan ibu FA menerangkan bahwa mereka sekeluarga tetap aktif mengikuti pelayanan kesehehatan umum baik sebelum dan setelah pandemi, seperti imunisasi, posyandu, vaksin dan lainnya, di dukung dengan lingkungan rumah yang bersih dan sehat, dan beberapa kali dalam seminggu berolahraga jalan-jalan pagi agar fisik sehat dan psikis yang sehat.

Dari segi ekonomi di masa pandemi bapak MZ dan ibu FA menerangkan bahwa:

”penghasilan saya sebagai karyawan di CV. Rajawali itu sekitar 2juta perbulan alhamdulillah tidak ada perubahan setelah pandemi, hanya saja pengeluaran cukup bertambah untuk biaya masker, handsinitizer dan lainnya tapi dapat dibilang tetap stabil dan bisa dipenuhi.”69

Selanjutnya dari segi komunikasi dan kerjasama dalam keluarga bapak MZ dan ibu FA menerangkan bahwa musyawarah dan evaluasi merupakan hal yang justru sangat sering dilakukan saat pandemi seperti yang diterangkan sebagai berikut:

“Kalau musyawarah, evaluasi, saling nasihat-menasihati, memanngil dengan panggilan yang patut, tetap dan selalu kami usaha lakukan, apalagi ditengah pandemi ini, dengan keadaan sering dirumah, jadi kami bisa lebih banyak ngobrol, musyawarah terkait rencana-rencana kedepanya, saling kerja sama dalam pekerjaan rumah dan lainnya yang kami rasa semakin membuat rumah tangga semakin harmonis rasanya, buktinya dengan lahirnya anak kedua, saat pandemi ini karena sering dirumah jadi

69 MZ dan FA, Wawancara, Bagek Polak, 10 Oktober 2021 pukul 19.00 WITA

48

banyak waktu bersma alhamdulillah Allah memberikan kepercayaan untuk memiliki anak kedua dan sekarang sudah berusia 1 tahun”70

Berdasarkan keterangan dari keluarga bapak MZ dan ibu FA dapat disimpulkan bahwa dampak pandemi covid-19 terhadap keharmonisan rumah tangganya yaitu berupa semakin harmonisnya keluarga yang dirasakan yang disebabkan karena lebih seringnya bertemu, bersama di rumah sehingga lebih banyak waktu bersama dan memperbaiki komunikasi serta dengan penerapan agama dalam kehidupan berumah tangga ditengah pandemi sehingga membuat keluarga tetap harmonis dan stabil meski dihadapkan dengan keadaan pandemi Covid-19.

Narasumber keenam yaitu wawancara bersama bapak JJ dan ibu MA dengan keterangan bahwa bapak JJ usia 35 tahun pekerjaan karyawan swasta dan istrinya atas nama ibu MA usia 31 tahun pekerjaan ibu rumah tangga, menikah pada tahun 2015, dan dikaruniai satu orang anak.

Berdasarkan teori indikator keharmonisan keluarga yang pertama penerapan agama dalam keluarga di tengah pandemi covid-19, bapak JJ dan ibu MA menjelaskan bahwa penerapan agama dalam keluarga dimulai dari ibadah sholat diterangkan bahwa bapak JJ bersama istri dan anaknya tetap melaksanakan ibadah sholat dan tetap saling mengingatkan, begitu juga dengan ibadah puasa, zakat, dan lainnya, namun dalam pendidikan dan penerapan agama dalam keluarga di jelaskan bahwa cukup jarang diterapkan oleh bapak JJ dan ibu MA dengan alasan latar belakang pendidikan yang membuat satu sama lain sebagai suami istri jarang menasihati dan bahkan untuk pendidikan agama untuk anaknya diserahkan ke TPQ terdekat.

Selanjutnya dari segi kesehatan keluarga, bapak JJ dan ibu MA menerangkan bahwa mereka sekeluarga tetap aktif mengikuti pelayanan kesehehatan umum baik sebelum dan setelah pandemi, seperti imunisasi, posyandu, vaksin dan lainnya, di dukung dengan

70 Ibid

49

lingkungan rumah yang bersih dan sehat, dan beberapa kali dalam seminggu berolahraga agar sehat dan terhindar dari penyakit. Dari segi ekonomi di masa pandemi bapak JJ dan ibu MA menerangkan bahwa:

”Penghasilan saya sebagai karyawan sekitar 2 juta perbulan dan tidak ada perubahan gaji setelah pandemi, hanya saja sebelumnya saya ada usaha kecil-kecilan yaitu jualan sosis bakar sejak tahun 2017-2020 kemarin, tapi sejak pandemi jadi sepi dan tutup jadi pengeluaran pasti bertambah untuk biaya masker, hand sanitizer dan lainnya, dan pemasukan dapat dibilang jauh berkurang dan sangat mempengaruhi keadaan keluarga saya .”71

Selanjutnya dari segi komunikasi dan kerjasama dalam keluarga bapak JJ dan ibu MA menerangkan bahwa musyawarah dan evaluasi merupakan hal yang jarang dilakukan seperti yang diterangkan sebagai berikut:

“Kalau musyawarah, evaluasi, saling nasihat-menasihati, memanngil dengan panggilan yang patut, ya jarang ndak sering, karena saya sibuk kerja, pulangnya capek, saat pandemi ini terkadang lama dirumah, karena sering dirumah jadi ya lumayan stress, karena biasanya dalam seminggu ada waktu untuk nongkrong bersama teman, tapi karena PSBB dan PPKM jadi jarang, paling pulang kerja capek ya tidur, jadi tidak bisa banyak saling bicara dan lainnya yang kadang membuat istri saya marah- marah, ngambek, ya berselisih paham begitu, namanya juga keluarga, saya stres dia juga stres pemasukkan berkurang, jadi ya wajar konflik sehari dua hari, Cuma tidak sampai KDRT, apalagi bercerai ya tidak karena sudah ada anak.”72

Berdasarkan keterangan dari keluarga bapak JJ dan ibu MA dapat disimpulkan bahwa dampak pandemi covid-19 terhadap keharmonisan rumah tangganya yaitu berupa stress, konflik, berselisih paham, yang disebabkan ekonomi yang tidak stabil yaitu berkurangnya pemasukan ditengah pandemi, terlalu sering bertemu yang memicu stress dan berselisih paham, dan kurangnya

71 JJ dan MA, Wawancara, Bagek Polak, 13 Oktober 2021 pukul 20.00 WITA

72 Ibid