• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Tindak Pidana Korupsi

Terdapat cukup banyak pemerintahan suatu negara jatuh karena diterpa kasus kasus korupsi. Sebagai ilustrasi mantan Presiden Filipina Ferdinan Edralin Marcos jatuh karena sangat otoriter dan korup dalam menjalankan pemerintahannya, sehingga angkat kaki dari negaranya, dan akhirnya meninggal

48ICW, 2000, Peran Parlemen dalam Membasmi Korupsi, dalam Transparency Internastional, op-cit, h.40

64 dalam pengasingan di Hawai Amerika Serikat. Di Indonesia mantan Presiden Soeharto lengser dari kekuasaannya karena adanya pemusatan kekuasaan, wewenang, dan tanggung jawab pada Presiden/Mandataris Mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, tanpa control sosial yang efektif dari masyarakat. Hal tersebut tidak hanya berdampak negative di bidang politik, namun juga di bidang ekonomi dan moneter, antara lain terjadinya praktik penyelenggaraan negara yang lebih menguntungkan kelompok tertentu dan memberi peluang tumbuhnya korupsi, kolusi, dan nepoltisme (KKN).

Bertolak dari uraian tersebut di atas, dapat dianalisis bahwa korupsi menimbulkan efek negative luar biasa terhadap berbagai sisi kehidupan masyarakat, baik ekonomi, sosial dan kemiskinan, runtuhnya otoritas pemerintahan, politik dan demokrasi, penegakan hukum, Hankam, dan Lingkungan Hidup.

Hal tersebut secara yuridis ditegaskan dalam Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak pidana korupsi dalam pertimbangan hukum huruf a yang menyatakan “bahwa tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi secara meluas, tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga telah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, sehingga tindak pidana korupsi digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan secara luar biasa”

Oleh karena itu beralasan kiranya pandangan Abraham Samad saat memberikan kuliah umum di Universitas Hasanudin Makasar yang menyatakan bahwa korupsi di Indonesia semakin memperihatinkan, bukan saja meningkatkan kemiskinan masyarakat, memicu bertambahnya pengangguran, illegal loging yang sarat akan korupsi sehingga menyebabkan kerusakan hutan semakin meluas dan yang tidak dapat dihindari adalah menumpuknya hutang luar negeri.49

49Abraham Samad, 2012, Pembangunan Karakter Mahasiswa Melawan Korupsi, dalam Kadek krisna Sintia Dewi, 2014, Tesis dengan judul Efektivitas Penerapan ancaman Sanksi Pidana Guna pengembalian Kerugian keuangan negara dalam Tindak pidana Korupsi, h.11

65 Dalam tulisan ini tidak semua akibat atau dampak korupsi yang akan dibahas, melainkan sebatas menyajikan besarnya kerugian keuangan negara yang diakibatkan oleh tindak pidana korupsi.

Hasil penelitian dan pengkajian P2 E.B Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada menyatakan bahwa kerugian negara akibat korupsi tahun 2011-2012 mencapai Rp 168,19 triliun, dengan total hukuman finansial sebanyak Rp 15,09 triliun.Karena itu negara kehilangan uang sebanyak Rp 153,1 triliun.50

Selain itu, menurut Koordinator ICW Divisi Investigasi, merilis hasil tren korupsi semester I di tahun 2014, menyatakan bahwa jumlah kerugian negara akibat adanya dugaan tindak pidana korupsi di Indonesia mencapai Rp 3,7 triliun.51

Sebagai dampak ikutan negative lainnya, indek persepsi korupsi Indonesia berada pada tingkat yang rendah dibandingkan negara-negara lain di dunia.

Transparency International (TI) pada tahun 2013 melansir Corruption Perception Index(CPI) secara global, maupun untuk kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara. CPI direprentasikan dalam bentuk bobot skor/angka (score) dengan rentang 0-100. Skor 0 berarti negara dipersepsikan sangat korup, sementara skor 100 berarti negara dipersepsikan sangat bersih dari korupsi.

Berdasarkan bobot skor tersebut, pada tahun 2013 secara global terdapat 6 (enam) negara yang memiliki skor tertinggi, yakni Denmark (91), Finlandia (91), Selandia Baru (89), Swedia (89), Norwegia (86),dan Singapura (86). Negara dengan skor terendah terdpat 5 (lima) negara, yaitu : Sudan Selatan (14),Sudan (11),Afganistan (8),Korea Utara (8),dan Somalia (8). Sedangkan Indonesia dengan skor CPI sebesar 32, menempati urutan ke 114 dari 177 negara yang diukur.

Di kawasan Asia Pasifik, Indonesia masih jauh berada dibawah Singapura (86),Hongkong (75),Taiwan (61), Korea Selatan (55),dan Cina (40).Di ASEAN, skor Indonesia jauh di bawah Brunei (60), Malaysia (50),sedikit di bawah Filipina

50Tempo.co, Senin 4 Maret 2013, diakses pada tanggal 31-Juli- 2014, jam 16.30 wita

51Merdeka.com, diakses pada 04 Juni 2014, jam 12.44

66 (36),dan Thailand (35). Namun skor Indonesia sedikit lebih baik dari Vietnam (31), Timor leste (30), Laos (26), dan Myanmar (21).52

Berdasarkan uraian di atas,dapat disimpulkan bahwa korupsi di Indonesia sangat memperihatinkan,meluas dan sistimatis, serta menimbulkan efek menghancurkan yang luar biasa di berbagai sector kehidupan,apabila tidak diikuti dengan komitmen segenap penyelenggara negara dan pejabat publik,seluruh komponen masyarakat untuk memerangi korupsi melalui upaya-upaya penal dan non penal secara konsisten, dan berkelanjutan.

Secara global, sebagai akibat tindak pidana korupsi yang tinggi di Indonesia akan menimbulkan citra yang kurang menguntungkan bagi bangsa Indonesia akibat skor Corruption Perception Index dengan skor rendah (32) yang dikategorikan sebagai negara yang tidak bersih dari korupsi atau berada di zone merah.

52Corruption Perception Index 2013,

http://www.ti.or.id/index.php/publikation/2013/12/03/corruption perception index

67 BAB VI. PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA KORUPSI YANG

MENJERAKAN

Di depan telah diuraikan beragamnya faktor faktor penyebab korupsi serta akibat negative yang ditimbulkannya. Beragamnya faktor penyebab korupsi, serta efek penghancuran yang luar biasa terhadap suatu bangsa sebagai akibat perilaku koruptif yang makin meluas dan sistimatis, mengakibatkan bahwa pemberantasan korupsi tidak pernah tuntas.

Bangsa Indonesia meskipun telah memiliki perundang-undangan tentang pemberantasan korupsi, aparatur penegak hukum, bahkan memiliki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ternyata belum berhasil memberantas korupsi yang semakin akut tersebut, terbukti menurut Lembaga transparency international, tingkat korupsi di indonesia berada pada tataran negara dengan tingkat korupsi yang tinggi.

Dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi ada pandangan yang mengatakan bahwa upaya yang paling tepat adalah dengan menghukum seberat- beratnya pelaku korupsi. Pandangan seperti itu memperoleh pembenaran sebagaimana dipraktikkan di beberapa negara antara lain, Negara Tiongkok yang menghukum koruptor dengan hukuman mati. Hukuman yang keras tanpa kompromi juga dilakukan di negara Singapura, Hongkong, Malaysia, sehingga CPI negara-negara tersebut meningkat seperti diuraikan di depan.

Indonesia sudah mulai menerapkan sanksi pidana berat belakangan ini, bahkan Peneliti Divisi Investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) Tama S Langkun mengatakan selama tiga tahun terakhir, pemberantasan korupsi di Indonesia mengalami peningkatan.Peningkatan yang terjadi, ada pada jumlah kasus yang ditangani maupun actor yang ditetapkan sebagai tersangka, baik di Komisi pemberantasan korupsi, maupun di kepolisian dan Kejaksaan.53

Walaupun dengan upaya-upaya sebagaimana disebutkan di atas, Indonesia belum mampu memperbaiki peringkat CPI secara signifikan, dan masih bercokol di urutan 144 dari 177 negara-negara korup dunia. Menurut hemat penulis, hal

53Ibid, diakses tanggal 10.02.2014

68 tersebut berkaitan dengan maraknya korupsi di sector politik yang dilakukan kalangan oknum DPRRI, DPR Provinsi, Kabupaten/Kota, elit-elit artai Politik, kalangan Penegak Hukum, maupun kalangan swasta yang telah merampas hak- hak sosial, dan hak-hak ekonomi masyarakat. Dengan segala cara atau modus operandi, koruptor baru juga terus bermunculan, sepertinya tidak pernah takut, sekalipun koruptor sebelumnya telah dijatuhi hukuman berat.

Namun demikian, realitas menunjukkan masih adanya sanksi pidana yang dijatuhkan hakim yang tidak sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Sanksi pidana dianggap rendah, remisi terhadap koruptor, fasilitas terpidana korupsi di Lembaga pemasyarakatan yang mudah dibeli, pejabat birokrasi yang menjadi tersangka bahkan diangkat kembali sebagai pejabat struktural, bahkan dilantik sebagai Walikota. Semuanya itu sangat mencederai rasa keadilan masyarakat.

Oleh karena itu di tengah kegeraman masyarakat terhadap korupsi, berkembang pula wacana tentang pentingnya sanksi pidana yang seberat-beratnya, termasuk hukuman mati, pencabutan kewarganegaraan Indonesia, pemberian label koruptor terhadap rumah para koruptor,termasuk sanksi sosial, dan sanksi adat.

Berkaitan dengan itu, menarik untuk dicatat pandangan Akil Mochtar sesaat setelah dilantik sebagai Ketua KPK yang mengatakan agar koruptor dijatuhi hukuman potong tangan. Pandangan tersebut menurut hemat penulis hanya sebatas wacana belaka, dan tidak menjadi sarana pencegahan khusus, apalagi menimbulkan efek jera bagi dirinya sendiri. Sungguh ironis beberapa bulan kemudian justru dia sendiri terlibat kasus korupsi, dan mengantarkannya menyandang status sebagai terpidana seumur hidup.

Merupakan realitas pula mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum ketika disebut-sebut terlibat kasus megaproyek Hambalang, dengan lantang mengatakan “kalau Anas menerima uang satu rupiah saja dari proyek Hambalang gantung Anas di Monas”. Menurut hemat penulis, ucapan Anas tersebut sebatas menjadi pembenaran bagi dirinya sendiri di tengah kegeraman publik terhadap korupsi selama ini. Ucapan Anas tersebut tidak akan mengurangi nilai yuridis yang ada, terbukti pula kini menyandang status terdakwa. Namun

69 demikian, terlepas dari wacana yang berkembang, hal itu mengindikasikan pula akan pentingnya sanksi pidana berat terhadap koruptor.

Dalam perkembangan penegakan hukum terhadap koruptor di Indonesia patut diapresiasi tentang diterapkannya sanksi pidana berat berupa pidana penjara selamam 20 tahun terhadap Urip Tri Gunawan,dan di tahun 2013 disusul dengan sanksi pidana berat terhadap Angelina Pinkan Sondakh, Djoko Soesilo, Ahmad Fatonah, Lutfi Hasan Ishak. Tentu sejalan dengan rasa keadilan masyarakat, penerapan sanksi pidana berat terhadap para koruptor perlu diterapkan secara konsisten.

Di samping upaya pemberantasan korupsi melalui sanksi pidana, patut pula dicatat, munculnya gagasan mantan Jaksa agung Sukarton Marmosudjono pada tahun 1989 mengenai penayangan koruptor di televise. Gagasan tersebut merupakan salah satu bentuk sanksi moral, sehingga diharapkan akan timbul rasa jera bagi yang lainnya agar tidak melakukan tindak pidana korupsi di masa datang.54 Gagasan yang baik tersebut tidak kunjung terrealisasi, bahkan korupsi, kolusi, dan nepotisme ketika itu makin merajalela.

Penayangan koruptor baru menjadi realitas, ketika Komisi Pemberantasan Korupsi untuk pertama kalinya mewajibkan tersangka koruptor mengenakan baju tahanan KPK berwarna putih sebagai bentuk tekanan moral terhadap tersangka, sekaligus untuk menimbulkan efek jera kepada setiap orang agar tidak melakukan tindak idana korupsi.Kini warna baju tahanan tersangka korupsi berwarna orange yang setiap saat telah menghiasi media elektronik maupun cetak di Indonesia.

Penulis berpandangan, bahwa penayangan koruptor melalui media massa elektronik maupun cetak, merupakan salah satu bentuk kampanye anti korupsi, sarana efektif untuk melakukan pengawasan atas perilaku koruptif pejabat publik, sekaligus sebagai sarana informasi dan edukasi bagi masyarakat akan bahaya korupsi. Dengan demikian media massa akan dapat memerankan dirinya sebagai sarana control sosial dan pendidikan yang efektif dalam pencegahan tindak pidana korupsi, baik secara khusus, maupun umum.

54Ilham Gunawan, op.cit, h.1

70 Hal tersebut bersesuaian dengan pandangan G.Peter Hoefnagels, yang mengatakan kebijakan penaggulangan kejahatan atau yang biasa dikenal dengan istilah “politik criminal” dibedakan sebagai berikut :

1. Criminal law application (kebijakan penerapan hukum pidana);

2. Prevention without punishment (kebijakan pencegahan tanpa hukum pidana);

3. Influencing views of society on crime and punishment/mass media (kebijakan untuk mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan pemidanaan lewat media massa).55

Dengan demikian menurut Barda Nawawi Arief, upaya penanggulangan kejahatan secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu lewat jalur “penal”(hukum pidana), dan lewat jalur “non penal” (bukan/di luar hukum pidana).

Selanjutnya dikatakan, secara kasar dapatlah dibedakan, bahwa upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur “penal” lebih menitik beratkan pada sifat

repressive” (penindasan, pemberantasan, penumpasan) sesudah kejahatan terjadi, sedangkan jalur “non penal”lebih menitikberatkan pada sifat “preventive”

(pencegahan/penangkalan, pengendalian) sebelum kejahatan terjadi.

Dikatakan sebagai perbedaan secara kasar, karena tindakan represif pada hakekatnya juga dapat dilihat sebagai tindakan preventif dalam arti luas.56

Mengingat penanggulangan kejahatan melalui jalur “non penal”lebih bersifat tindakan pencegahan untuk terjadinya kejahatan, maka sasaran utamanya adalah menangani faktor-faktor kondusif penyebab terjadinya kejahatan, dalam hal ini korupsi. Faktor faktor kondusif itu antara lain berpusat pada masalah- masalah atau kondisi-kondisi sosial yang langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan atau menumbuhsuburkan kejahatan( dalam hal ini korupsi, tambahan dari penulis). Dengan demikian menurut Barda Nawawi Arief, upaya non penal menduduki posisi kunci dan strategis dari keseluruhan upaya politik Kriminal.

55Barda Nawawi Arief, 1996, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Penerbit:

PT Citra Aditya Bakti, Bandung, h 47-48

56Ibid,h.49

71 Berkaitan dengan itu, Muladi mengatakan “kita dapat mengacu pada pandangan luas dan sempit tentang penanggulangan kejahatan.Pandangan luas, penanggulangan kejahatan diartikan sebagai kebijakan criminal (criminal policy) yang di dalamnya tercakup sistem peradilan pidana dan “prevention without punishment”, sedangkan pandangan sempit,melihat penanggulangan kejahatan semata-mata sebagai usaha-usaha pencegahan kejahatan tanpa menggunakan hukum pidana”57

Berdasarkan uraian di atas, maka akan diuraikan upaya upaya penanggulangan tindak pidana korupsi dari jalur penal dan non penal, sebagai berikut :

Dokumen terkait