2. Penegakan Hukum Melalui Jalur Non Penal
1.4 Pendidikan Agama
Pencegahan dan penanggulangan tindak pidana korupsi perlu dilakukan dengan pendekatan religious dan pendekatan identitas sosial budaya. Pendidikan agama dan pencerahan nilai-nilai keagamaan yang efektif sangat penting dan strategis dalam memperkuat kembali keyakinan dan kemampuan untuk mengikuti jalan kebenaran dan kebaikan. Melalui pendidikan dan pencerahan nilai-nilai agama yang efektif diharapkan akan terbinanya pribadi manusia yang sehat jiwa/rohaninya, sekaligus terbinanya keluarga dan lingkungan sosial yang lebih luas.
2.5. Membina dan meningkatkan efektivitas “extra legal sistem” atau
“informal sistem” yang ada dalam masyarakat dalam penanggulangan
63Ibid,h.110
81 tindak pidana korupsi, anatara lain kerjasama dengan organisasi soaial keagamaan, lembaga-lembaga pendidikan dan sebagainya.
Upaya-upaya yang berkaitan dengan meningkatkan extra legal sistem tersebut, antara lain melalui:
a) pendidikan tentang bahaya korupsi sejak dini mulai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan penyusunan kurikulum anti korupsi pada semua jenjang pendidikan, termasuk Pendidikan Tinggi;
b) pencegahan dan penanggulangan korupsi dengan pendekatan berbasis nilai-nilai keluarga;
c) kerjasama dengan Perguruan Tnggi baik Negeri maupun Swasta,melalui kajian kritis baik dalam bentuk seminar,maupun penelitian
d) pembuatan dan penayangan Film Anti Korupsi kepada masyarakat secara terncana dan terprogram untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan bahaya korupsi.
Berdasarkan uraian di atas, maka ide gagasan tentang pidana yang menjerakan bagi koruptor relevan dikemukakan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi, sekaligus memastikan bahwa koruptor akan kapok untuk mengulangi perbuatan jahatnya, sekaligus mencegah pelaku potensial untuk tidak melakukan korupsi.
Di muka telah diuraikan tentang indikator efek jera sebagaimana ditegaskan oleh KPK, yang meliputi antara lain, tuntutan pidana yang tinggi, memiskinkan koruptor secara aktif dan progresif, penerapan pidana pengganti dan memnuntut pencabutan hak hak politik, dan penegakan hukum yang professional dan berintegritas tinggi.
Komitmen KPK dan penegak hukum lainnya untuk mewujudkan sanksi pidana yang menjerakan tersebut, perlu terus dilaksanakan secara konsisten tanpa pandang bulu dengan tetap memadukan dengan upaya-upaya yang bersifat non penal.
82 Prinsip penegakan hukum yang konsisten tanpa pandang bulu pernah dikemukakan oleh Ketua Mahkamah Agung Inggris pada tahun 1769, yang berseru “let justice be done though the heavens fall” yang terjemahan bebasnya dapat diartikan ( Biarkanlah Keadilan ditegakkan walaupun langit akan runtuh).
Selain itu, keadilan yang diekspresikan dalam symbol “Dewi Yustisia dengan Mata Tertutup”, mengandung makna bahwa dalam menegakkan keadilan harus dilakukan tanpa pandang bulu atau tidak pilih kasih. Istilah terkini sering pula diungkapkan dalam istilah “tidak tebang pilih”.
Bertolak dari uraian di atas, maka peraturan perundang-undangan yang cukup banyak telah mengurung para koruptor, seyogyanya diterapkan dengan tetap memperhatikan sinergitas antara upaya upaya penangulangan baik penal maupun non penal. Hal itu perlu pula didukung dengan bekerjanya sistem peradilan pidana yang integrative antara sub sistem Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, lembaga Pemasyarakatan, KPK, termasuk Penasihat hukum.
Upaya penanggulangan penal dan non penal sebagi satu kesatuan masih mengalami kendala pada ranah praktis yang tidak sinkron dengan penegakan hukum yang mendahuluinya, baik pada tataran penyidikan perkara, penuntutan, bahkan pada saat putusan pengadilan, termasuk putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Beberapa kenyataan menunjukkan hal itu, antara laian:
a) terungkapnya Gayus Tambunan ketika masih berstatus tersangka menonton kejuaraan tenis di Nusa Dua Bali;
b) terungkapnya terpidana korupsi Artalita Suryani menggunakan fasilitas mewah di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang;
c) pemberian remisi dan pidana bersyarat kepada koruptor yang tidak sesuai dengan rasa keadilan masyarakat;
d) belum kembalinya harta kekayaan koruptor yang dilarikan ke luar negeri, sementara pelakunya belum tertangkap.
Bertolak dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penanganan kasus-kasus korupsi masih ditandai dengan kenyataan yang tidak sejalan, bahkan bertentangan dengan prinsip-prinsip kesamaan dalam hukum (equity before the law). Hal
83 tersebut membenarkan opini masyarakat yang berkembang selama ini bahwa
“hukum itu tajam ke bawah tumpul ke atas”, ”hukum itu hanya untuk orang yang tidak punya uang”, ”hukum itu dapat dibeli”, “hukum itu tebang pilih” dan sebagainya.
Bertolak dari hal-hal di atas, maka upaya mengimplementasikan pidana yang menjerakan koruptor, menurut penulis perlu dilakukan hal-hal sebagai beikut:
a) penegak hukum konsisten dengan tuntutan dan penerapan pidana yang maksimal sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
b) pemiskinan koruptor secara aktif dan progresif melalui langkah langkah hukum yang pasti dan terukur agar terus digalakkan sampai koruptor tidak berdaya dan jera.
c) Penerapan pidana pengganti yang besarnya sama dengan hasil korupsi,dan pencabutan hak-hak politik;
d) ke depan perlu dipikirkan pengaturan dan penerapan sanksi adat,dan sanksi sosial lainnya untuk lebih menjerakan para koruptor,sekaligus menimbulkan budaya malu sebagai salah satu cara pencegahan khusus dan pencegahan umum.
e) Dalam rangka meminimalisir perilaku koruptif, maka upaya upaya non penal sebagai bagian dari politik sosial negara perlu ditingkatkan secara konsisten, melalui kerjasama dengan berbagai lembaga agama, pendidikan, Pers/media massa. LSM, dan ektra legal sistem lainnya. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan faktor faktor yang menjadi kausa atau penyebab terjadinya korupsi.
f) Meningkatkan fungsi pengawasan terhadap pejabat publik/penyelenggara Negara, baik melalui pengawasan internal oleh pemerintah, maupun pengawasan eksternal oleh masyarakat (pengawasan social) seperti pers, LSM, mahasiswa disertai perlindungan hukum dan penghargaan (rewards)
84 DAFTAR PUSTAKA
BUKU:
Abidin, Zainal, 2005, Pemidanaan, Pidana dan Tindakan,Dalam Rancangan KUHP,ELSAM – Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, Jakarta.
Ali, Mahrus (1), 2011, Dasar Dsar Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta.
_______(2), 2013, Asas, Teori, & Praktik Hukum Pidana Korupsi,UPI Press,Yogyakarta.
Arief, Barda Nawawi (1), Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana,Penerbit, PT Citra Aditya Bakti, Bandung.
_______(2), 1994, Kebijakan Legislatif Dalam penanggulangan Kejahatan Dengan Pidana Penjara, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
_______(3), 2001,Masalah Penegakan Hukum & Dan Kebijakanan Penanggulanga kejahatan, Penerbit: PT Citra Aditya Bakti,Bandung.
Atmasasmita, Romli,1996,Sistem Peradilan Pidana Perspektif Eksistensialisme dan Abolisionisme,Cetakan kedua,Penerbit:Binacipta, Bandung.
Azizy,A Qodri, 2007, Change Management, Cetakan Pertama, Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama,Jakarta.
Chazawi, Adami, 2011, Pelajaran Hukum Pidana, Cetakan ke 6,PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Flechter, George, P, 1998, Basic Concepts of Criminal Law, Oxford University Press, New York.
Gunawan, Hilman, 1990, Postur Korupsi Indonesia, Tinjauan Yuridis, Sosiologis, Budaya Dan Politis, Penerbit: Angkasa, Bandung.
Hamzah, Andi (1), 1984, Korupsi Di Indonesia, Masalah dan Pemecahannya, Penerbit: PT Gramedia, Jakarta.
_______(2), 1986, Sistem Pidana dan Pemidanaan di Indonesia dari Retribusi ke Reformasi, Cetakan Pertama, Penerbit: PT Pradnya Paramita Jakarta.
85 Husein, Yunus, 2008, Negeri sang pencuci Uang, Cet. 1,Jakarta, Pustaka Juanda
Tigalima.
Yuhaya S, Praja, 2011, Teori hokum dan Aplikasinya,Bandung, Cetakan Pertama, CV Pustaka Setra.
Marpaung, Leden, 2005, Asas – Teori – Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta.
Muladi, dan Arief, Barda Nawawi (1) , Teori – Teori Dan Kebijakan Pidana, Penerbit: Alumni, Bandung.
_______(2), 1997, Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana, Badan penerbit: Universitas Diponegoro, Semarang.
_______(3), 1995, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Badan Penerbit;
Universitas Diponegoro, Semarang.
Poernomo, Bambang (1), 1978, Asas Asas Hokum Pidana, Penerbit: Ghalia Indonesia, Jakarta.
_______(2), 1982, Hukum Pidana Kumpulan Karangan Ilmiah, Penerbit: Bina aksara, Jakarta.
Rahardjo, Satjipto, Editor Karolus kopong Medan, Frans S. Rangka, 2003, Sisi Sisi Lain dari Hukum di Indonesia, Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Reid, Sue Titus, Criminal Justice,Procedur ang Issues, West Pubhlising Company, New York.
Sahetapy, J.E, 1981, Suatu Studi Khusus Mengenai Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana, Penerbit: CV Rajawali, Jakarta.
Said, M Mas’ud, 2007, Birokrasi Di Negara Birokratis Makna,Masalah dan Dekonstruksi Birokrasi Indonesia,Cetakan pertama, Penerbit:Universitas Muhammadiyah Malang,
Soemarsono, H, Manthovani Reda, 2004, Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia, Cetakan Pertama, Penerbit: CV Malebu, Jakarta.
Sholehuddin, M, 2002, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana Ide Dasar Double Track System & Implementasinya, Penerbit: PT Raja grafindo Persada, Jakarta.
86 Sianturi, S.R,1996, Azas-Azas Hukum Pidana, PT Rineka Cipta, Jakarta.
Sudarto (1), 1977, Hukum dan Hukum Pidana, Penerbir: Alumni, Bandung.
_______(2), 1981, Kapita Selekta hokum Pidana, Penerbit: Alumni, Bandung.
______ (3), 1983, Hukum Pidana Dan Perkembangan Masyarakat. Kajian terhadap Pembaharuan Hukum Pidana, Penerbit:
Walker, Negel, 1971, Sentensing n a Rational Society, First American Edition, Basic Boks Inc Pubhliser, New York.
Waluyo, Bambang, 2004, Pidana dan Pemidanaan, Sinar Grafika, Jakarta.
Wiyono, R, 2008, Pembahasan Undang Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Edisi kedua, Penerbit: Sinar Grafika, Jakarta.
Zulfa, Eva Achjani, Senoaji Indrianto, Pergeseran Paradigma Pemidanaan, Penerbit: CV Lubuk Agung, Cetakan I, Bandung.
PERATURAN PERUNDNG-UNDANGAN:
Kitab Undang Undang Hukum Pidana
Undang-Undang Nomor 24 (prp) tahun 1960 tentang Pengusutan, Penuntutan, Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi.
Undang Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Undang Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih, Bebas Dari Praktik Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme.
Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan tindak Pidana Korupsi Undang Undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nation
Convention Against Corruption,2003.
Undang undang Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan United Nation Convention Against Transnational Organized Crime (Konvensi Perserikatan Bangsa- Bangsa Menentang Tindak Pidana Transnasional Yang Terorganisasi).
87 INTERNET :
Publikasi Transparency International,http:www.ti.or.id/ index. Php/ publication/
2013/12/03.
JPNN.com. Indo post JPPN Group, diakses 15/2/2014, jam 17.47. wita.
Corruption Perception Index 2013-Publikasi-Transparency International http:/www.ti.or.id/index.php/publication/2013/12/03.