Munculnya istilah efek jera tidak lepas dari kemarahan dan kekhawatiran masyarakat akibat adanya kesenjangan antara hukum sebagaimana mestinya dengan hukum pada kenyataannya (das sollen dan das sein) dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Namun istilah efek jera sejauh ini merupakan istilah yang paling populer, bahkan KPK sendiri yang menggunakan istilah tersebut. Istilah lain yang juga muncul dan berkaitan dengan efek preventif dalam rangka pemberantasan tindak pidana korupsi adalah “pemiskinan”.
12 Berdasarkan kriteria pencegah tersebut di atas, diharapkan dapat dijadikan acuan dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia.
Pengertian Pemiskinan
Berkaitan dengan tindak pidana korupsi, persoalan pemiskinan para koruptor sebenarnya telah secara implisit diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001. Berdasarkan Pasal 39 ayat. (1) KUHP dan Pasal 18 Ayat (1) UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2001, dapat disimpulkan bahwa kedua pasal di atas mengandung semangat memiskinkan para koruptor. 15 b) Terdapat ketentuan mengenai pembayaran ganti rugi yang besarnya sesuai dengan jumlah maksimum yang diperoleh melalui tindak pidana korupsi.
Ada beberapa pasal dalam UU No. 15 Tahun 2002 tentang tindak pidana pencucian uang sebagaimana telah diubah dengan undang-undang nomor 25 tahun 2003 mengandung muatan pemiskinan (berasal dari tindak pidana korupsi sebagai salah satu tindak pidana pokok atau delik utama, penulis menambahkan).
Pengertian Pidana
Tujuan Pemidanaan
Dalam ilmu hukum pidana, menurut Mulad dikenal beberapa teori pidana (straftheorieen), yang terdiri dari teori hukuman atau teori absolut/vergelding theory, teori tujuan atau teori relatif/doeltheorieen dan teori gabungan atau verenigingstheorieen18. . 1) Teori absolut. Para pendukung teori distributif retribusi (retribution in distribution) yang disingkat dengan “distributive theory” berpendapat: hukuman tidak boleh dijatuhkan kepada orang yang tidak bersalah, namun hukuman juga tidak boleh pantas/proporsional dan dibatasi oleh rasa bersalah. Ukuran yang digunakan untuk menimbang besarnya suatu kesalahan sangat berkaitan dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.Ukuran untuk menyatakan suatu tindak pidana kategori berat atau ringan tergantung pada dua hal, yaitu (a) nilai kerugian materiil yang ditimbulkan. akibat tindak pidana yang terjadi atau (b) pandangan atau penilaian masyarakat terhadap suatu perbuatan pada waktu tertentu.28. 2) Teori relatif atau teori tujuan.
Sejalan dengan hal tersebut, Adami Chazawi mengatakan bahwa teori relatif atau teori objektif didasarkan pada landasan bahwa kejahatan merupakan alat penegakan ketertiban (hukum) dalam masyarakat.
Istilah dan Pengertian Korupsi
Undang-undang ini tidak membawa hasil yang diharapkan sehingga digantikan dengan undang-undang no. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. UU No. 3 Tahun 1971 berlaku hampir 3 (tiga) dekade yaitu sampai dengan tahun 1999. Berdasarkan Ketetapan MPR No.
Undang-undang ini juga diubah dengan disetujuinya undang-undang no. 20 Tahun 2001 terkait perubahan undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Sedangkan rumusan pengertian tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam pasal 2 ayat 1 undang-undang no. 1 Tahun 1999 tetap/tidak berubah. Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka UU No. 25 Tahun 2003 mengatur beberapa hal secara spesifik sebagai berikut.
Dibandingkan dengan Pasal 37, para. Ketentuan Pasal 20 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 mengancam setiap pejabat publik dengan ancaman sanksi pidana apabila melakukan tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme (Nomor 4), serta tidak memenuhi kewajibannya sebagai saksi dalam perkara korupsi, kolusi dan nepotisme, dan dalam hal lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (nomor 7). Setelah berlaku hampir tiga dekade, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 diubah berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Model pasal tindak pidana suap berpasangan sebagaimana diatur dalam undang-undang no. 3 Tahun 1971 dilanjutkan dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999. Terdapat perubahan pada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 dalam hal susunan kata ketentuan yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi. . Sebelum dimasukkan dalam pasal 12 huruf e undang-undang nomor 20 tahun 2001, tindak pidana ini dirumuskan dalam pasal 12 undang-undang no.
Sesuai dengan Pasal 11 ayat (1) huruf g UU No. 43 tahun 1999, menteri bermaksud menteri dan jabatan yang.
Faktor-faktor Penyebab Korupsi
Dampak Tindak Pidana Korupsi
Hal ini ditegaskan secara hukum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam Pertimbangan Hukum huruf a, yang menyatakan bahwa “tindak pidana korupsi yang terjadi selama ini tersebar luas dan tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga merugikan keuangan negara. merupakan salah satu bentuk korupsi.” pelanggaran terhadap hak sosial dan hak ekonomi masyarakat secara keseluruhan, sehingga tindak pidana korupsi tergolong kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan dengan cara yang luar biasa. 49Abraham Samad, 2012, Pengembangan Karakter Mahasiswa Melawan Korupsi, dalam Kadek Krisna Sintia Dewi, 2014, disertasi berjudul Efektivitas Penerapan Ancaman Sanksi Pidana Untuk Memulihkan Kerugian Keuangan Negara Dalam Tindak Pidana Korupsi, hal.11. 65 Pasal ini tidak akan membahas seluruh akibat atau dampak korupsi, namun hanya menyajikan sejauh mana kerugian keuangan negara yang diakibatkan oleh tindak pidana korupsi.
Selain itu, menurut Koordinator Departemen Riset ICW yang merilis hasil tren korupsi semester I 2014, disebutkan jumlah kerugian negara akibat dugaan tindak pidana korupsi di Indonesia sebesar Rp3,7. triliun. 51. Secara global, tingginya tindak pidana korupsi di Indonesia akan menimbulkan citra yang kurang baik bagi bangsa Indonesia karena nilai Indeks Persepsi Korupsi yang rendah (32) yang masuk dalam kategori negara yang tidak bebas korupsi atau masuk zona merah. Dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, terdapat pandangan bahwa upaya yang paling tepat adalah dengan memberikan hukuman yang lebih berat kepada pelaku korupsi.
69 Jadi, selain wacana yang berkembang, hal ini juga menunjukkan pentingnya sanksi pidana yang serius terhadap para koruptor. Tentunya sesuai dengan rasa keadilan masyarakat, sanksi pidana berat harus diterapkan secara konsisten terhadap pelaku korupsi. Gagasan ini merupakan salah satu bentuk sanksi moral, sehingga diharapkan dapat menimbulkan rasa jera bagi orang lain untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi di kemudian hari.54 Gagasan baik ini belum pernah dilaksanakan, bahkan korupsi, kolusi dan korupsi. nepotisme semakin meluas.
Dengan demikian, media massa akan mampu menampilkan dirinya sebagai sarana kontrol sosial dan pendidikan yang efektif untuk mencegah tindak pidana korupsi, baik yang bersifat khusus maupun umum. Berdasarkan uraian di atas, maka upaya penanggulangan tindak pidana korupsi dari jalur punitif dan non punitif akan diuraikan sebagai berikut.
Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Korupsi Melalui Jalur Penal
71 Dalam hal ini, Muladi mengatakan “bahwa kita dapat mengacu pada pandangan luas dan sempit mengenai pencegahan kejahatan. Dalam pandangan luas, pencegahan kejahatan diartikan sebagai kebijakan penal yang mencakup sistem peradilan pidana dan ‘pencegahan tanpa hukuman’, sedangkan dalam pandangan sempitnya, pencegahan kejahatan diartikan sebagai kebijakan penal yang mencakup sistem peradilan pidana dan ‘pencegahan tanpa hukuman’, sedangkan dalam pandangan sempit pandangan “melihat pencegahan kejahatan semata-mata sebagai upaya untuk mencegah kejahatan tanpa menggunakan hukum pidana” 57. Sistem peradilan pidana sebagai mercusuar harapan dalam penanggulangan tindak pidana korupsi ditandai dengan optimalisasi upaya pidana dalam menanggulangi tindak pidana korupsi. Hal ini antara lain terlihat dari syarat maksimal pidana Komisi Pemberantasan Korupsi dan jaksa penuntut umum agar dapat menimbulkan efek jera terhadap pelaku korupsi.
Di tingkat pengadilan, hal ini juga dibuktikan dengan dijatuhkannya hukuman maksimal kepada pejabat koruptor, antara lain Angelina Sondakh, Djok Soesila, Ahmad Fatonah, Lutfi Hasan Ishak dan masih banyak lagi koruptor lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku korupsi tidak pernah jera atau terintimidasi dengan sanksi tertinggi hingga saat ini. Hal ini berkaitan dengan semangat dan semangat antar subsistem dalam sistem peradilan pidana itu sendiri tidaklah sama.
Hal ini antara lain terlihat ketika Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Jaksa Penuntut Umum meminta tindak pidana korupsi dengan hukuman tertinggi, ternyata sanksi pidana yang dijatuhkan hakim justru ringan. Hal ini diperparah dengan adanya pengampunan dan penerapan hukuman percobaan bagi terpidana korupsi, yang tidak sejalan dengan upaya untuk memberikan efek jera bagi para koruptor. 73 Berdasarkan uraian di atas, upaya mitigasi melalui jalur pidana memang mempunyai “keterbatasan” dan mengandung beberapa “kelemahan”. sisi negatif), sehingga fungsinya harus digunakan bantu.
Penggunaan hukum pidana dalam menanggulangi kejahatan hanya sekedar “cureren am gejala” (gejala penyembuhan), hanya bersifat pengobatan gejala saja, bukan pengobatan kausal karena sebab-sebab terjadinya kejahatan itu rumit dan di luar jangkauan hukum pidana; Hukum pidana hanyalah sebagian kecil (subsistem) dari sarana kontrol sosial lainnya yang tidak mungkin mengatasi kejahatan sebagai permasalahan kemanusiaan dan sosial yang sangat kompleks;
Penegakan Hukum Melalui Jalur Non Penal
- Peningkatan Peran \Serta Masyarakat
- Peran Pers/Media Massa
- Peran Lembaga Swadaya Mayarakat (LSM)
- Pendidikan Agama
75 Dalam konteks Indonesia, faktor penyebab kejahatan, dalam hal ini tindak pidana korupsi, mencakup berbagai macam sebab, seperti politik, hukum, ekonomi, dan budaya. Hal ini diatur dalam Bab V UU No. 31 Tahun 1999 tentang peran serta masyarakat, bahkan memberikan penghargaan kepada anggota masyarakat yang berjasa dalam upaya pencegahan, pemberantasan, atau pendeteksian tindak pidana korupsi. Tata cara pelaksanaan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 41 ayat (2) huruf e. angka 5) diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Hadiah dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Pers dengan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, dan kontrol sosial senantiasa menyalurkan dan memberikan informasi terkait tindak pidana korupsi. Masyarakat mendapat informasi, baik tentang tertangkap basah melakukan dugaan korupsi, lengkap dengan rompi oranye dan borgol, bentuk dugaan tindak pidana korupsi, hingga jumlah uangnya. Dengan demikian, pers mempunyai landasan hukum yang kuat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi.
Di Universitas juga terdapat Pusat Kajian Korupsi yang melakukan kajian kritis terhadap tindak pidana korupsi. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi harus dilakukan dengan pendekatan agama dan pendekatan identitas sosial budaya. 81 tindak pidana korupsi, termasuk kerjasama dengan organisasi kemasyarakatan keagamaan, lembaga pendidikan dan sebagainya.
Soemarsono, H, Manthovani Reda, 2004, Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia, Edisi Pertama, Penerbit: CV Malebu, Jakarta. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan PBB.