• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBIAYAAN KESEHATAN

C. BELANJA KESEHATAN DAN JAMINAN KESEHATAN

3. Dana Desa

92 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN 93 Berdasarkan gambar diatas persentase desa yang memanfaatkan dana desa terbesar pada tahun2019 adalah Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Barat (100.0%). Dan secara lebih rinci bisa dilihat di lampiran 18.

***

94 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA 97 Pembangunan keluarga dilakukan dalam upaya untuk mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat. Selain lingkungan yang sehat, kondisi kesehatan dari tiap anggota keluarga sendiri juga merupakan salah satu syarat dari keluarga yang berkualitas. Keluarga berperan terhadap optimalisasi pertumbuhan, perkembangan, dan produktivitas seluruh anggotanya melalui pemenuhan kebutuhan gizi dan menjamin kesehatan anggota keluarga. Di dalam komponen keluarga, ibu dan anak merupakan kelompok rentan. Hal ini terkait dengan fase kehamilan, persalinan dan nifas pada ibu dan fase tumbuh kembang pada anak. Hal ini yang menjadi alasan pentingnya upaya kesehatan ibu dan anak menjadi salah satu prioritas pembangunan kesehatan di Indonesia.

Ibu dan anak merupakan anggota keluarga yang perlu mendapatkan prioritas dalam penyelenggaraan upaya kesehatan, karena ibu dan anak merupakan kelompok rentan terhadap keadaan keluarga dan sekitarnya secara umum. Sehingga penilaian terhadap status kesehatan dan kinerja upaya kesehatan ibu dan anak penting untuk dilakukan.

A. KESEHATAN IBU

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu. AKI adalah rasio kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas yang

disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau insidental di setiap 100.000 kelahiran hidup.

Selain untuk menilai program kesehatan ibu, indikator ini juga mampu menilai derajat kesehatan masyarakat, karena sensitifitasnya terhadap perbaikan pelayanan kesehatan, baik dari sisi aksesibilitas maupun kualitas. Secara umum terjadi penurunan kematian ibu selama periode 1991- 2015 dari 390 menjadi 305 per 100.000 kelahiran hidup. Walaupun terjadi kecenderungan penurunan angka kematian ibu, namun tidak berhasil mencapai target MDGs yang harus dicapai yaitu sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Hasil supas tahun 2015 memperlihatkan angka kematian ibu tiga kali lipat dibandingkan target MDGs. Gambaran AKI di Indonesia dari tahun 1991 hingga tahun 2015 dapat dilihat pada Gambar 5.1 berikut ini.

V. KESEHATAN KELUARGA

98 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA

GAMBAR 5.1

ANGKA KEMATIAN IBU DI INDONESIA PER 100.000 KELAHIRAN HIDUP TAHUN 1991 – 2015

Sumber: BPS, SDKI 1991-2012

*AKI tahun 2015 merupakan hasil SUPAS 2015

Target penurunan AKI ditentukan melalui tiga model Annual Average Reduction Rate (ARR) atau angka penurunan rata-rata kematian ibu pertahun seperti Gambar 5.2 berikut ini. Dari ketiga model tersebut, Kementerian Kesehatan menggunakan model kedua dengan rata-rata penurunan 5,5% pertahun sebagai target kinerja. Berdasarkan model tersebut diperkirakan pada tahun 2024 AKI di Indonesia turun menjadi 183/100.000 kelahiran hidup dan di tahun 2030 turun menjadi 131 per 100.000 kelahiran hidup.

GAMBAR 5.2

TARGET PENURUNAN AKI DI INDONESIA

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2019

Jumlah kematian ibu menurut provinsi tahun 2018-2019 dapat dilihat pada Lampiran 21 dimana terdapat penurunan dari 4.226 menjadi 4.221 kematian ibu di Indonesia berdasarkan laporan. Pada tahun 2019 penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan (1.280 kasus), hipertensi dalam kehamilan (1.066 kasus), infeksi (207 kasus) rincian per provinsi dapat dilihat di Lampiran 22.

390

334 307

228

359 305

0 50 100 150 200 250 300 350 400

1991 1997 2002 2007 2012 2015

per 100.000 kelahiran hidup

tahun

346

212 183

131 305

205

68

0 50 100 150 200 250 300 350 400

2010 2015 2020 2025 2030

per 100.000 kelahiran hidup

tahun

ARR = 2,4%

ARR = 5,5%

ARR = 9,5%

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA 99 Upaya percepatan penurunan AKI dilakukan dengan menjamin agar setiap ibu mampu mengakses pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, seperti pelayanan kesehatan ibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan kesehatan, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, dan pelayanan keluarga berencana termasuk KB pasca persalinan.

Pada bagian berikut, gambaran upaya kesehatan ibu yang disajikan terdiri dari:

(1) pelayanan kesehatan ibu hamil, (2) pelayanan imunisasi Tetanus bagi wanita usia subur dan ibu hamil, (3) pemberian tablet tambah darah, (4) pelayanan kesehatan ibu bersalin, (5) pelayanan kesehatan ibu nifas, (6) Puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), (7) pelayanan kontrasepsi/KB dan (8) pemeriksaan HIV dan Hepatitis B.

1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil

Ibu hamil mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Pelayanan ini dilakukan selama rentang usia kehamilan ibu yang jenis pelayanannya dikelompokkan sesuai usia kehamilan menjadi trimester pertama, trimester kedua, dan trimester ketiga. Pelayanan kesehatan ibu hamil yang diberikan harus memenuhi jenis pelayanan sebagai berikut.

1. Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.

2. Pengukuran tekanan darah.

3. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA).

4. Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri).

5. Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus sesuai status imunisasi.

6. Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan.

7. Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).

8. Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling, termasuk KB pasca persalinan).

9. Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah (Hb), pemeriksaan protein urin dan pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah dilakukan sebelumnya).

10. Tatalaksana kasus sesuai indikasi.

Pelayanan kesehatan ibu hamil harus memenuhi frekuensi minimal di tiap trimester, yaitu minimal satu kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), minimal satu kali pada trimester kedua (usia kehamilan 12-24 minggu), dan minimal dua kali pada trimester ketiga (usia kehamilan 24 minggu sampai menjelang persalinan). Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil dan janin berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan, dan penanganan dini komplikasi kehamilan.

Penilaian terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dilakukan dengan melihat cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Sedangkan cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit empat kali sesuai jadwal yang dianjurkan di tiap trimester, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Indikator tersebut memperlihatkan akses pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan.

100 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA

Capaian K4 tahun 2006 sampai dengan tahun 2018 disajikan pada gambar berikut ini.

GAMBAR 5.3

CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K4 DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2019

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2020

Selama tahun 2006 sampai tahun 2019 cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 cenderung meningkat. Jika dibandingkan dengan target Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan tahun 2019 yang sebesar 80%, capaian tahun 2019 telah mencapai target yaitu sebesar 88,54%.

Gambaran capaian kunjungan ibu hamil K4 pada tahun 2019 menurut provinsi disajikan pada gambar berikut ini.

GAMBAR 5.4

CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K4 MENURUT PROVINSI TAHUN 2019

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2018 79,63

80,26 86,04

84,54 85,56

88,27 90,18

86,85 86,70

87,48 85,35 87,30

88,03 88,54

0 20 40 60 80 100

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

37,15 53,36 54,86 67,98 68,71 70,55 73,04 73,92 74,26 78,02 78,41 78,46 79,73 81,45 82,14 82,77 83,37 83,97 84,41 84,49 84,61 86,87 87,49 88,54 90,31 93,16 94,95 95,03 95,30 95,88 97,13 97,33 98,90 101,22 103,63

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

Papua Nusa Tenggara TimurNusa Tenggara BaratKalimantan SelatanKalimantan TengahSulawesi TenggaraKepulauan Bangka…Kalimantan TimurSumatera SelatanKalimantan UtaraKalimantan BaratSulawesi SelatanSulawesi TengahSumatera UtaraSumatera BaratKepulauan RiauSulawesi UtaraSulawesi BaratMaluku UtaraDI YogyakartaJawa TengahPapua BaratJawa TimurINDONESIADKI JakartaJawa BaratGorontaloBengkuluLampungMalukuBantenJambiAcehRiauBali

Target renstra 2019: 80%

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA 101 Selain akses ke fasilitas pelayanan kesehatan, kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu hamil adalah kualitas pelayanan yang harus ditingkatkan, di antaranya pemenuhan semua komponen pelayanan kesehatan ibu hamil harus diberikan saat kunjungan.

Dalam hal ketersediaan sarana kesehatan, hingga bulan Desember 2019, terdapat 10.134 puskesmas. Keberadaan puskesmas secara ideal harus didukung dengan aksesibilitas yang baik. Hal ini tentu saja sangat berkaitan dengan aspek geografis dan kemudahan sarana dan prasarana transportasi.

Dalam mendukung penjangkauan terhadap masyarakat di wilayah kerjanya, Puskesmas juga memiliki jaringan dengan menyediakan Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, dan Bidan di Desa. Data dan informasi lebih rinci menurut provinsi mengenai pelayanan kesehatan ibu hamil K1 dan K4 terdapat pada Lampiran 23.a.

2. Pelayanan Imunisasi Tetanus Toksoid Difteri bagi Wanita Usia Subur dan Ibu Hamil

Infeksi tetanus merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan kematian bayi. Kematian karena infeksi tetanus ini merupakan akibat dari proses persalinan yang tidak aman/steril atau berasal dari luka yang diperoleh ibu hamil sebelum melahirkan. Sebagai upaya mengendalikan infeksi tetanus yang merupakan salah satu faktor risiko kematian ibu dan kematian bayi, maka dilaksanakan program imunisasi Tetanus Toksoid Difteri (Td) bagi Wanita Usia Subur (WUS) dan ibu hamil. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi mengamanatkan bahwa wanita usia subur dan ibu hamil merupakan salah satu kelompok populasi yang menjadi sasaran imunisasi lanjutan. Imunisasi lanjutan merupakan ulangan imunisasi dasar untuk mempertahankan tingkat kekebalan dan untuk memperpanjang usia perlindungan.

Wanita usia subur yang menjadi sasaran imunisasi Td berada pada kelompok usia 15-39 tahun yang terdiri dari WUS hamil (ibu hamil) dan tidak hamil. Imunisasi lanjutan pada WUS salah satunya dilaksanakan pada waktu melakukan pelayanan antenatal. Imunisasi Td pada WUS diberikan sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu, berdasarkan hasil screening mulai saat imunisasi dasar bayi, lanjutan baduta, lanjutan BIAS serta calon pengantin atau pemberian vaksin mengandung “T”

pada kegiatan imunisasi lainnya. Pemberian dapat dimulai sebelum dan atau saat hamil yang berguna bagi kekebalan seumur hidup.

Screening status imunisasi Td harus dilakukan sebelum pemberian vaksin. Pemberian imunisasi Td tidak perlu dilakukan bila hasil screening menunjukkan wanita usia subur telah mendapatkan imunisasi Td5 yang harus dibuktikan dengan buku KIA, rekam medis, dan atau kohort.

Kelompok ibu hamil yang sudah mendapatkan Td2 sampai dengan Td5 dikatakan mendapatkan imunisasi Td2+. Gambar 5.5 memperlihatkan cakupan imunisasi Td5 pada wanita usia subur dan cakupan imunisasi Td2+ pada ibu hamil.

102 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA

GAMBAR 5.5

CAKUPAN IMUNISASI Td1-Td5 PADA WANITA USIA SUBUR DI INDONESIA TAHUN 2019

Sumber: Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, 2019

Pada gambar di atas diketahui cakupan imunisasi Td pada status Td1 sampai Td5 pada wanita usia subur tahun 2019 masih sangat rendah yaitu kurang dari 10% jumlah seluruh WUS.

Cakupan Td5 sebesar 8,02% dengan cakupan tertinggi di Provinsi Jawa Timur sebesar 51,61% dan terendah di Sumatera Utara sebesar 0,002%. Terdapat 4 provinsi yang belum melaporkan yaitu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Utara.

GAMBAR 5.6

CAKUPAN IMUNISASI Td2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2019

Sumber: Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, 2019

0,90 0,72 1,05 2,08

8,02

0 5 10 15 20

Td1 Td2 Td3 Td4 Td5

0,01

0,10 1,43 13,27 23,87 25,44 28,04 29,06 29,54 32,64 40,88 45,07 46,14 46,44 46,58 50,79 55,62 55,84 56,84 57,88 58,47 63,51 64,71 64,88 68,15 69,55 70,70 73,36 76,28 80,87 84,47 87,74 91,69 103,00 116,66

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00

Kepulauan Bangka BelitungNusa Tenggara TimurNusa Tenggara BaratKalimantan TengahKalimantan SelatanSulawesi TenggaraKalimantan TimurSumatera SelatanKalimantan UtaraKalimantan BaratSulawesi SelatanSulawesi TengahSumatera UtaraKepulauan RiauSumatera BaratSulawesi UtaraSulawesi BaratMaluku UtaraDI YogyakartaJawa TengahPapua BaratJawa TimurINDONESIADKI JakartaJawa BaratGorontaloLampungBengkuluMalukuBantenPapuaJambiAcehRiauBali

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA 103 Cakupan imunisasi Td2+ pada ibu hamil tahun 2019 sebesar 64,88%, lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2018 yang sebesar 51,76%, juga lebih rendah sekitar 23,66%

dibandingkan dengan cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 yang sebesar 88,54%, sementara Td2+ merupakan syarat pelayanan kesehatan ibu hamil K4.

Provinsi Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Banten, dan DI Yogyakarta memiliki capaian imunisasi Td2+ pada ibu hamil tertinggi di Indonesia. Sedangkan provinsi dengan capaian terendah yaitu Kepulauan Bangka Belitung (0,01%), Sumatera Utara (0,10%), Kalimantan Timur (1,43%), dan Papua Barat (13,27%). Informasi lebih rinci mengenai imunisasi Td pada wanita usia subur dan ibu hamil dapat dilihat pada Lampiran 24 - 25.

3. Pemberian Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil

Anemia pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur, kematian ibu dan anak, serta penyakit infeksi. Anemia defisiensi besi pada ibu dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin/bayi saat kehamilan maupun setelahnya. Hasil Riskesdas 2018 menyatakan bahwa di Indonesia sebesar 48,9% ibu hamil mengalami anemia. Sebanyak 84,6% anemia pada ibu hamil terjadi pada kelompok umur 15-24 tahun. Untuk mencegah anemia setiap ibu hamil diharapkan mendapatkan tablet tambah darah (TTD) minimal 90 tablet selama kehamilan.

Cakupan pemberian TTD pada ibu hamil di Indonesia tahun 2019 adalah 64,0%. Angka ini belum mencapai target Renstra tahun 2019 yaitu 98%. Provinsi dengan cakupan tertinggi pemberian TTD pada ibu hamil adalah Sulawesi Utara (100,1%), sedangkan provinsi dengan cakupan terendah adalah Sulawesi Selatan (1,7%). Terdapat satu provinsi yang sudah melampaui target Renstra tahun 2019 dan satu Provinsi tidak melaporkan data cakupan pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil (Papua Barat). Cakupan pemberian TTD pada ibu hamil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 27.a.

104 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA

GAMBAR 5.7

CAKUPAN PEMBERIAN TABLET TAMBAH DARAH (TTD) PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2019

Sumber: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI 2020

4. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin

Selain pada masa kehamilan, upaya lain yang dilakukan untuk menurunkan kematian ibu dan kematian bayi yaitu dengan mendorong agar setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih yaitu dokter spesialis kebidanan dan kandungan (SpOG), dokter umum, dan bidan, dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Keberhasilan program ini diukur melalui indikator persentase persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Dalam rangka menjamin ibu bersalin mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar, sejak tahun 2015 setiap ibu bersalin diharapkan melakukan persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten di fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu, Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 menetapkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan (PF) sebagai salah satu indikator upaya kesehatan keluarga, menggantikan indikator pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan (PN).

Gambar 5.8 menyajikan cakupan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan di 34 provinsi di Indonesia tahun 2019.

1,7 6,5 8,2 8,8 18,3 23,7 48,7 53,4 56,7 59,9 60,2 61,3 64,0 65,0 65,6 66,6 77,0 77,6 79,6 80,5 81,8 83,0 84,4 87,2 87,7 88,8 89,3 89,7 90,7 92,0 92,6 94,5 95,4 100,1

0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0

Sulawesi Selatan Kalimantan TengahKalimantan TimurSumatera UtaraMaluku UtaraJawa TengahJawa TimurDKI JakartaPapuaAceh Nusa Tenggara TimurKalimantan SelatanSulawesi TenggaraKalimantan UtaraSulawesi TengahSumatera BaratSulawesi BaratDI YogyakartaGorontaloBengkuluMalukuRiau Kepulauan Bangka BelitungNusa Tenggara BaratSumatera SelatanKalimantan BaratKepulauan RiauSulawesi UtaraINDONESIAJawa BaratLampungBantenJambiBali

Target

Renstra Tahun 2019: 98%

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA 105

GAMBAR 5.8

CAKUPAN PERSALINAN DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2019

Sumber : Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2020

Pada tahun 2019 terdapat 90,95% persalinan yang ditolong tenaga kesehatan. Sementara ibu hamil yang menjalani persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan sebesar 88,75%. Dengan demikian masih terdapat sekitar 2,2% persalinan yang ditolong tenaga kesehatan namun tidak dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Secara nasional, indikator PF telah memenuhi target Renstra yang sebesar 85%. Terdapat kesenjangan yang cukup jauh antara provinsi dengan capaian tertinggi dan terendah yaitu DKI Jakarta (103,83%) dan Papua (46,56%). Analisis kematian ibu pada tahun 2010 membuktikan bahwa kematian ibu terkait erat dengan penolong persalinan dan tempat/fasilitas persalinan. Persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terbukti berkontribusi terhadap turunnya risiko kematian ibu.

Demikian pula jika persalinan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, juga akan semakin menekan risiko kematian ibu.

Hasil Riskesdas 2018 memperlihatkan tempat persalinan paling banyak digunakan yaitu rumah sakit (baik pemerintah maupun swasta) dan praktek tenaga kesehatan (nakes). Namun penggunaan rumah masih cukup tinggi sebesar 16,7%, yang menempati urutan ketiga tertinggi tempat bersalin.

46,56 50,81 55,39 61,01 65,19 68,57 72,48 72,66 74,66 75,24 77,86 77,96 79,23 79,99 80,51 80,98 82,07 83,57 84,40 84,70 85,29 85,52 85,70 87,70 88,75 91,04 93,72 95,02 95,81 95,88 96,90 97,96 98,85 99,41 103,83

0 20 40 60 80 100 120

Papua Maluku Papua Barat Nusa Tenggara TimurKalimantan TengahKalimantan SelatanSulawesi TenggaraKalimantan BaratSulawesi TengahSumatera UtaraKepulauan RiauSumatera BaratSulawesi BaratMaluku UtaraDI YogyakartaGorontaloAcehRiau Kepulauan Bangka BelitungNusa Tenggara BaratKalimantan TimurSumatera SelatanKalimantan UtaraSulawesi SelatanSulawesi UtaraJawa TengahJawa TimurINDONESIADKI JakartaJawa BaratBengkuluLampungBantenJambiBali

Target Renstra 2019 : 85%

106 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA

GAMBAR 5.9

PROPORSI TEMPAT PERSALINAN YANG DIMANFAATKAN OLEH PEREMPUAN UMUR 10-54 TAHUN, RISKESDAS 2018

Sumber : Riset Kesehatan Dasar 2018, Balitbangkes, Kemenkes RI, 2019

Hasil Riskesdas 2018 juga memperlihatkan bahwa 62,5% rumah tangga mengetahui bahwa

akses ke rumah sakit sulit. Begitu juga pengetahuan rumah tangga terhadap akses ke puskesmas/pustu/pusling/ bidan sebesar 60,8% dan akses ke klinik/praktek dokter/praktek

dokter gigi/praktek bidan mandiri sebesar 62,6% dengan akses sulit.

Secara konsisten terlihat bahwa provinsi dengan cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan rendah memiliki akses ke fasilitas pelayanan kesehatan yang relatif sulit. Oleh karena itu untuk daerah dengan akses sulit, Kementerian Kesehatan mengembangkan program Kemitraan Bidan dan Dukun serta Rumah Tunggu Kelahiran. Para dukun diupayakan bermitra dengan bidan dengan hak dan kewajiban yang jelas. Pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan tidak lagi dikerjakan oleh dukun, namun dirujuk ke bidan.

Ibu hamil yang di daerah tempat tinggalnya tidak ada bidan atau jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan, menjelang hari taksiran persalinan diupayakan sudah berada di dekat fasilitas pelayanan kesehatan yaitu di Rumah Tunggu Kelahiran. Rumah Tunggu Kelahiran adalah suatu tempat atau ruangan yang berada dekat fasilitas kesehatan (RS, Puskesmas), yang dapat digunakan sebagai tempat tinggal sementara ibu hamil dan pendampingnya (suami/kader/dukun atau keluarga) selama beberapa hari, saat menunggu persalinan tiba dan beberapa hari setelah bersalin.

Dari 34 provinsi, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan merupakan provinsi dengan jumlah rumah tunggu kelahiran tertinggi, yaitu masing-masing sebanyak 397 dan 236. Provinsi lain memiliki jumlah Rumah Tunggu Kelahiran di bawah 90. Sebanyak 6 provinsi tidak memiliki Rumah Tunggu Kelahiran yaitu Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Maluku Utara.

Rumah Sakit 32,7

Puskesmas 12,1 Praktek Nakes

29,6 Klinik 4,9 Poskesdes/

Polindes 3,8

Rumah 16,7

Lainnya 0,2

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA 107 Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menurut hasil Riskesdas 2018 sebesar 93,1%

yang berarti hampir sama dengan hasil pencatatan rutin program kesehatan keluarga yang sebesar 90,32%. Berikut ini proporsi persalinan dengan kualifikasi tertinggi pada perempuan umur 10-54 tahun.

GAMBAR 5.10

PROPORSI PERSALINAN DENGAN KUALIFIKASI TERTINGGI PADA PEREMPUAN UMUR 10-54 TAHUN, RISKESDAS 2018

Sumber : Riset Kesehatan Dasar 2018, Balitbangkes, Kemenkes RI, 2019

Proporsi terbesar penolong persalinan tertinggi yaitu bidan sebesar 62,7% dan dokter kandungan sebesar 28,9%. Berdasarkan karakteristik demografi, semakin tinggi pendidikan ibu bersalin semakin tinggi persentase pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Sedangkan berdasarkan tempat tinggal, proporsi persalinan oleh tenaga kesehatan di perkotaan lebih tinggi (96,7%) dibandingkan di perdesaan (88,9%). Provinsi Maluku (33,4%), Maluku Utara (26,1%) dan, Nusa Tenggara Timur (16,1%) merupakan provinsi tertinggi dengan proporsi persalinan oleh dukun.

5. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas

Pelayanan kesehatan ibu nifas harus dilakukan minimal tiga kali sesuai jadwal yang dianjurkan, yaitu pada enam jam sampai dengan tiga hari pasca persalinan, pada hari ke empat sampai dengan hari ke-28 pasca persalinan, dan pada hari ke-29 sampai dengan hari ke-42 pasca persalinan. Jenis pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan terdiri dari:

a) pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, nadi, nafas, dan suhu);

b) pemeriksaan tinggi puncak rahim (fundus uteri);

c) pemeriksaan lokhia dan cairan per vaginam lain;

d) pemeriksaan payudara dan pemberian anjuran ASI eksklusif;

e) pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kesehatan ibu nifas dan bayi baru lahir, termasuk keluarga berencana pasca persalinan;

f) pelayanan keluarga berencana pasca persalinan.

Gambar 5.11 menyajikan cakupan kunjungan nifas di Indonesia sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2018.

dokter kandungan

28,9

dokter umum 1,2 bidan

62,7 perawat

0,3

dukun 6,2

lainnya/tidak ada penolong

0,7

108 Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA

GAMBAR 5.11

CAKUPAN KUNJUNGAN NIFAS (KF3) DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2019

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2020

Cakupan kunjungan nifas (KF3) di Indonesia menunjukkan kecenderungan peningkatan dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2019, garis tren menunjukkan ada penurunan cakupan sejak 2 tahun terakhir. Capaian kunjungan nifas menurut provinsi di Indonesia terdapat pada Gambar 5.12 berikut ini.

GAMBAR 5.12

CAKUPAN KUNJUNGAN NIFAS (KF3) DI INDONESIA MENURUT PROVINSI TAHUN 2019

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2020 17,90

55,58 73,61

76,96 85,16

86,64 86,41

87,06 84,41

87,36 85,92

78,78

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

1,07 42,86 50,51 61,70 62,86 71,47 73,80 75,28 77,47 77,73 78,68 78,83 78,78 79,36 81,46 81,59 82,30 82,48 83,55 84,11 84,38 84,84 84,92 90,25 91,63 92,51 92,56 93,97 95,46 96,29 97,17 97,51 97,90 99,57 102,09

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

Jawa TengahPapua BaratPapua Nusa Tenggara TimurKalimantan SelatanKalimantan TengahSulawesi TenggaraKalimantan TimurKalimantan BaratSulawesi SelatanSulawesi TengahSumatera UtaraSumatera BaratSulawesi UtaraSulawesi BaratDI YogyakartaMaluku UtaraGorontaloBengkuluMalukuAcehRiau Kepulauan Bangka BelitungNusa Tenggara BaratSumatera SelatanKalimantan UtaraKepulauan RiauJawa TimurINDONESIADKI JakartaJawa BaratLampungBantenJambiBali

Profil Kesehatan Indonesia 2019 | Bab V. KESEHATAN KELUARGA 109 Gambar di atas menggambarkan bahwa Provinsi DKI Jakarta memiliki capaian kunjungan nifas lengkap (KF3) tertinggi yang diikuti oleh Jawa Barat dan Kalimantan Utara. Sedangkan provinsi dengan cakupan kunjungan nifas terendah yaitu Jawa Tengah, Papua, dan Papua Barat. Dari 34 provinsi yang melaporkan data kunjungan nifas, mencapai 62% provinsi di Indonesia telah mencapai KF3 80%. Kondisi pada tahun 2019 tersebut mengalami peningkatan dari tahun 2018 (60%).

6. Puskesmas Melaksanakan Kelas Ibu Hamil dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)

Penurunan kematian ibu dan anak tidak dapat lepas dari peran pemberdayaan masyarakat, yang salah satunya dilakukan melalui pelaksanaan kelas ibu hamil dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Kementerian Kesehatan menetapkan indikator persentase puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil dan persentase Puskesmas melaksanakan orientasi Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) sebagai upaya menurunkan kematian ibu dan kematian anak.

Kelas ibu hamil merupakan sarana bagi ibu hamil dan keluarga untuk belajar bersama tentang kesehatan ibu hamil yang dilaksanakan dalam bentuk tatap muka dalam kelompok. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dan keluarga mengenai kehamilan, persalinan, nifas, KB pasca persalinan, pencegahan komplikasi, perawatan bayi baru lahir dan aktivitas fisik atau senam ibu hamil.

Cakupan Puskesmas Melaksanakan Kelas Ibu Hamil didapatkan dengan menghitung puskesmas yang telah melaksanakan kelas ibu hamil dibandingkan dengan jumlah seluruh Puskesmas di wilayah kabupaten/kota. Puskesmas dikatakan telah melaksanakan kelas ibu hamil apabila telah melakukan kelas ibu hamil minimal sebanyak 4 kali.

Dalam dokumen PROFIL KESEHATAN INDONESIA TAHUN 2019 (Halaman 127-200)

Dokumen terkait