• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SUMBER DAYA PERAIRAN

2.2 Sumber Daya Perairan Daratan

2.2.2 Danau

1. Danau tektonik, yaitu danau yang terjadi akibat adanya peristiwa tektonik seperti gempa sehingga terjadi proses patahan (fault) pada permukaan tanah. Permukaan tanah yang patah mengalami pemerosotan atau ambles (subsidence) dan menjadi cekung.

Selanjutnya bagian yang cekung karena ambles tersebut terisi air dan terbentuklah danau. Contoh danau tektonik adalah Danau Poso, Danau Tempe, Danau Tondano, dan Danau Towuti di Sulawesi. Sementara di Sumatra ada Danau Singkarak, Danau Maninjau, dan Danau Takengon.

2. Danau vulkanik atau danau kawah, yaitu danau yang terdapat pada kawah lubang kepunden bekas letusan gunung berapi. Ketika gunung meletus, batuan yang menutup kawasan kepunden rontok dan meninggalkan bekas lubang di sana. Ketika terjadi hujan, lubang tersebut terisi air dan membentuk sebuah danau. Contoh danau vulkanik ialah Danau Kelimutu di Flores, Kawah Bromo, Danau Gunung Lamongan di Jawa Timur, Danau Batur di Bali, Danau Kerinci di Sumatra Barat, serta Kawah Gunung Kelud.

3. Danau tektono-vulkanik, yaitu danau yang terjadi akibat proses gabungan antara proses vulkanik dengan proses tektonik. Ketika gunung berapi meletus, sebagian tanah/batuan yang menutupi gunung patah dan merosot membentuk cekungan. Cekungan tersebut selanjutnya terisi air dan terbentuklah danau. Contoh danau tektono-vulkanik adalah Danau Toba di Sumatra Utara.

4. Danau karst disebut juga doline, yaitu danau yang terdapat di daerah berbatu kapur. Danau jenis ini terjadi akibat adanya erosi atau pelarutan batu kapur. Bekas erosi membentuk cekungan, kemudian terisi air sehingga terbentuklah danau.

5. Danau glasial adalah danau yang terjadi karena adanya erosi gletser.

Pencairan es akibat erosi mengisi cekungan-cekungan yang dilewati sehingga terbentuk danau. Contoh danau glasial seperti yang terdapat di perbatasan antara Amerika dengan Kanada yaitu Danau

6. Waduk atau bendungan adalah danau yang sengaja dibuat oleh manusia. Pembuatan waduk biasanya berkaitan dengan kepentingan pengadaan listrik tenaga air, perikanan, pertanian, dan rekreasi. Contoh waduk misalnya Saguling, Citarum, dan Jatiluhur di Jawa Barat; Riam Kanan dan Riam Kiri di Kalimantan Selatan;

serta Rawa Pening, Kedung Ombo, dan Gajah Mungkur di Jawa Tengah.

Gambar 8 Waduk Jatiluhur yang memiliki potensi wisata perairan

EKOWISATA PERAIRAN

3.1 Konsep Ekowisata

Pariwisata ke kawasan alam yang masih alami (relatif belum terganggu) dengan tujuan untuk mengagumi, meneliti, dan menikmati pemandangan yang indah, tumbuh-tumbuhan, serta binatang liar maupun kebudayaan yang dapat ditemukan di sana disebut ekowisata (Ceballos dan Lascurian 1991 dalam Wall 1995). Ekowisata sendiri pertama kali diperkenalkan pada tahun 1990 oleh organisasi The Ecotourism Society, sebagai perjalanan ke daerah-daerah yang masih alami. Hal itu bertujuan untuk melakukan konservasi lingkungan dan memelihara kesejahteraan masyarakat setempat (Lindberg dan Hawkins 1993). Wood (1999) mendefinisikan ekowisata merupakan bentuk baru dari perjalanan yang bertanggung jawab ke daerah alami dan berpetualang, serta dapat menciptakan industri pariwisata.

Lindberg dan Hawkins (1993) menegaskan bahwa objek wisata dari konsep ekowisata yang bisa dikembangkan pada industri pariwisata adalah wisata alam dan wisata ruang terbuka.

Kegiatan wisata berkembang di daerah-daerah konservasi atau daerah-daerah yang masih memiliki sumber daya alami dengan tetap mempertahankan keseimbangan alam. Fenomena ini memberikan manfaat positif bagi kelestarian alam dan keberadaan kawasan konservasi. Dengan demikian ekowisata juga dapat dikatakan sebagai suatu konsep pemanfaatan sumber daya alam dengan pendekatan konservasi untuk pengembangan wisata.

Ekowisata merupakan wisata yang lebih mengandalkan karakter sumber daya alam daripada sumber daya lainnya. Sumber daya ekowisata terdiri atas sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dapat diintegrasikan menjadi komponen terpadu bagi pemanfaatan wisata (Gambar 9).

Berdasarkan konsep pemanfaatan, wisata (Brunn 1995; META 2002) dapat diklasifikasikan menjadi:

1. Wisata alam (nature tourism), merupakan aktivitas wisata yang ditujukan pada pengalaman terhadap kondisi alam atau daya tarik panoramanya.

2. Wisata budaya (cultural tourism), merupakan wisata dengan kekayaan budaya sebagai objek wisata, dengan penekanan pada aspek pendidikan.

3. Ekowisata (ecotourism, green tourism, atau alternative tourism), merupakan wisata yang berorientasi pada lingkungan untuk menjembatani kepentingan perlindungan sumber daya alam/

lingkungan dan industri kepariwisataan.

Ekowisata perairan merupakan wisata yang memiliki konsep ekowisata yang terdiri atas wisata perairan daratan dan bahari. Wisata perairan daratan merupakan kegiatan yang dilakukan di daerah perairan daratan dan sekitarnya, seperti sungai, danau, waduk, situ, rawa, air terjun, dan perairan tergenang lainnya. Objek utama wisata perairan daratan adalah sumber daya air, lingkungan, pemandangan (view), dan biota air. Wisata bahari merupakan kegiatan wisata pesisir dan laut yang dikembangkan dengan pendekatan konservasi laut.

Gambar 9 Komponen sumber daya alam dalam konsep ekowisata perairan Konsep pengembangan ekowisata sejalan dengan misi pengelolaan konservasi yang mempunyai tujuan: (1) menjaga tetap berlangsungnya proses ekologi yang mendukung sistem kehidupan, (2) melindungi keanekaragaman hayati, (3) menjamin kelestarian dan pemanfaatan spesies dan ekosistemnya, dan (4) memberikan kontribusi kepada kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, suatu konsep pengembangan ekowisata hendaknya dilandasi pada prinsip dasar ekowisata yang meliputi:

1. Mencegah dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap alam dan budaya. Pencegahan dan penanggulangan tersebut disesuaikan dengan sifat dan karakter alam dan budaya setempat.

2. Pendidikan konservasi lingkungan; mendidik pengunjung dan masyarakat akan pentingnya konservasi.

3. Pendapatan langsung untuk kawasan; retribusi atau pajak konservasi (conservation tax) dapat digunakan untuk pengelolaan kawasan.

4. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan; merangsang masyarakat agar terlibat dalam perencanaan dan pengawasan kawasan.

5. Penghasilan bagi masyarakat; masyarakat mendapat keuntungan ekonomi sehingga terdorong untuk menjaga kelestarian kawasan.

6. Menjaga keharmonisan dengan alam; kegiatan dan pengembangan fasilitas tetap mempertahankan keserasian dan keaslian alam.

7. Daya dukung sebagai batas pemanfaatan; daya tampung dan pengembangan fasilitas hendaknya mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

8. Kontribusi pendapatan bagi negara (pemerintah daerah dan pusat).

Pengelolaan ekowisata bahari merupakan suatu konsep pengelolaan yang memprioritaskan kelestarian dalam memanfaatkan sumber daya alam dan budaya masyarakat. Konsep pengelolaan ekowisata tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan, tetapi lebih daripada itu yaitu mempertahankan nilai sumber daya alam dan manusia. Agar nilai-nilai tersebut terjaga maka pengusahaan ekowisata tidak boleh melakukan eksploitasi sumber daya alam, tetapi hanya menggunakan jasa alam dan budaya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan fisik, pengetahuan, dan psikologis pengunjung.

Dengan demikian ekowisata bukan menjual tempat (destinasi) atau kawasan, melainkan menjual filosofi. Hal ini membuat ekowisata mempunyai nilai lestari dan tidak akan mengenal kejenuhan pasar. Meskipun pasar sangat menentukan pengembangan ekowisata, namun konsep pengelolaan tetap mempertimbangkan prinsip-prinsip dasar ekowisata.

Sumber daya, ekosistem pesisir, dan lautan alami bersifat rentan dan dibatasi oleh daya dukung. Pengembangan pasar dilakukan menggunakan pendekatan product driven yang berarti disesuaikan dengan potensi, sifat, perilaku objek, serta daya tarik wisata alam dan budaya yang tersedia. Contoh

pendekatan product driven seperti in situ, tidak tahan lama (perishable), tidak dapat pulih (nonrecoverable) dan tidak tergantikan (nonsubstitutable), sehingga diusahakan untuk menjaga kelestarian dan keberadaannya.

3.2 Objek Ekowisata

Kegiatan wisata perairan yang dikembangkan dengan konsep ekowisata harus mempertimbangkan keberadaan dan kelestarian sumber daya. Objek ekowisata perairan dapat dikelompokkan berdasarkan komoditi, ekosistem, dan kegiatan (Tabel 1). Objek komoditi terdiri atas potensi spesies biota perairan dan material nonhayati yang mempunyai daya tarik wisata, di antaranya ikan, ikan hiu, paus, lumba-lumba, duyung, penyu, terumbu karang, dan anemon (Gambar 10). Objek ekosistem terdiri atas ekosistem pesisir yang mempunyai daya tarik habitat dan lingkungan.

Objek kegiatan merupakan kegiatan yang terintegrasi di dalam kawasan yang mempunyai daya tarik wisata. Objek ekowisata perairan daratan berupa objek ekosistem dan objek komoditi. Objek ekosistem perairan daratan antara lain danau, situ, waduk, sungai, dan rawa, sedangkan objek komoditinya antara lain air panas dan air terjun (Gambar 11). Perairan daratan masih banyak yang belum dikembangkan menjadi ekowisata dibandingkan perairan laut.

Tabel 1 Sumber objek ekowisata perairan

Objek Komoditi Objek Ekosistem Objek Kegiatan

Penyu Terumbu karang Perikanan tangkap

Duyung Mangrove Perikanan budidaya

Paus Lamun Sosial/budaya

Lumba-lumba Goba Peninggalan sejarah

Hiu Pantai Legenda/cerita sejarah

Karang Danau

Ikan Situ

Lili laut Waduk

Objek Komoditi Objek Ekosistem Objek Kegiatan

Anemon laut Kolam

Moluska Sungai

Udang dan kepiting Rawa

Rumput laut Spesies endemik

Pasir putih Ombak Air panas Air terjun

Gambar 10 Tipe-tipe sumber daya pesisir (objek komoditi dan ekosistem) yang dapat menjadi objek pengembangan wisata bahari Tabel 1 Sumber objek ekowisata perairan (lanjutan)

Gambar 11 Tipe-tipe sumber daya perairan daratan yang dapat menjadi objek wisata perairan

3.3 Jenis Kegiatan Ekowisata

Jenis kegiatan wisata sangat berkaitan dengan tipe sumber daya yang dimiliki pada suatu lokasi. Kegiatan wisata yang dikembangkan dengan konsep ekowisata perairan dapat dikelompokkan berdasarkan zonasi horisontal, yaitu wisata pantai, wisata bahari, dan wisata perairan daratan (Tabel 2). Wisata pantai merupakan kegiatan wisata yang mengutamakan sumber daya pantai dan lingkungan pantai, seperti rekreasi, olahraga, serta menikmati pemandangan dan iklim. Wisata bahari merupakan kegiatan wisata yang mengutamakan sumber daya bawah laut dan dinamika air laut.

Wisata perairan daratan merupakan kegiatan wisata yang memanfaatkan sumber daya perairan daratan seperti memancing, berperahu (Gambar 12), berpetualang, dan lainnya.

Tabel 2 Jenis-jenis kegiatan ekowisata perairan yang dapat dikembangkan Wisata Pantai Wisata Bahari Wisata Perairan

Daratan

• Rekreasi

• Panorama

• Resort/

peristirahatan

• Berenang, berjemur

• Olahraga pantai (voli pantai, jalan pantai, lempar cakram)

• Berperahu

• Memancing

• Wisata mangrove

• Rekreasi pantai dan laut

• Resort/peristirahatan

• Wisata selam (diving) dan wisata snorkeling

• Selancar (surfing), jet ski, banana boat, perahu kaca, kapal selam

• Wisata lamun, wisata nelayan, wisata pulau, wisata pendidikan, wisata pancing

• Wisata satwa (penyu, duyung, paus, lumba- lumba, burung mamalia, buaya)

• Rekreasi

• Panorama

• Duduk santai

• Berenang/

berendam

• Berperahu

• Memancing

Outbound dan Berkemah

• Wisata satwa

• Wisata olahraga

• Petualang/

tracking

Gambar 12 Kategori wisata berperahu yang dapat dilakukan di wisata bahari maupun danau

Wisata pantai terdiri atas dua kategori, yaitu kategori rekreasi pantai dan wisata mangrove. Rekreasi pantai merupakan jenis kegiatan yang paling dominan dilakukan di daerah pantai. Kegiatan wisata pantai kategori rekreasi memanfaatkan sumber daya pantai, seperti pantai berpasir putih, mangrove, hamparan pantai, pemandangan (view), biota, dan perairan pantainya.

Kegiatan yang biasa dilakukan pada wisata pantai kategori rekreasi, antara lain berjemur, jalan-jalan menikmati pemandangan, berselancar, berenang, memancing, dan kegiatan lainnya (Gambar 13).

Kegiatan wisata mangrove yang dapat dilakukan, antara lain (1) berjalan di atas jembatan kayu dalam habitat mangrove dan (2) menggunakan perahu yang menyusuri perairan habitat mangrove (Gambar 14).

Gambar 14 Pemanfaatan sumber daya mangrove untuk kegiatan wisata mangrove

Pada wisata bahari, kegiatan yang dilakukan berkaitan sumber daya air, dalam hal ini laut. Snorkeling dan diving merupakan kegiatan yang menjadi daya tarik dalam wisata bahari (Gambar 15 dan Gambar 16). Snorkeling dan diving mengandalkan sumber daya lamun, ikan, dan terumbu karang.

Gambar 15 Wisata snorkeling untuk melihat keindahan terumbu karang

Gambar 16 Wisata menyelam untuk melihat lebih jauh keindahan bawah laut

3.4 Penataan Zonasi Ekowisata

Penataan kawasan ekowisata perairan yang memperhatikan prinsip konservasi ditujukan untuk mempertahankan keseimbangan alam. Sistem zonasi merupakan suatu upaya untuk melindungi sumber daya alam dan mempermudah pelaksanaan pengelolaan. Zonasi ekowisata perairan dibagi menjadi zona inti, zona khusus, zona penyangga, dan zona pemanfaatan (Tabel 3).

Wisata perairan darat memanfaatkan perairan darat seperti sungai, danau, air terjun, dan sumber air panas. Wisata perairan darat yang menawarkan cukup banyak kegiatan yaitu wisata danau. Pada wisata danau, dapat dilakukan kegiatan berkemah, berperahu, memancing, atau duduk santai. Kegiatan yang dapat dilakukan pada wisata danau misalnya memperhatikan kondisi danau maupun lingkungan sekitar danau.

Penentuan zonasi pada ekowisata dilakukan dengan mempertimbangkan faktor ekologi, sosial, dan ekonomi (Tabel 4). Faktor ekologi yang dipertimbangkan adalah keberadaan satwa yang dilindungi dan kerentanan habitat/ekosistem, serta tingkat ancaman kerusakan (misalnya zona inti berada di tengah kawasan, atau jauh dari sumber kegiatan manusia).

Faktor sosial mempertimbangkan kegiatan masyarakat dan pengunjung, serta gangguan yang ditimbulkannya. Sementara faktor ekonomi yang dipertimbangkan adalah nilai manfaat ekowisata yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Tabel 3 Zonasi di kawasan ekowisata perairan

Zona Tujuan Keterangan

Zona inti

(10 –20%) Melindungi satwa dan ekosistem yang sangat rentan

Dilarang untuk masuk ke dalam

Zona khusus

(10–20%) Pemanfaatan terbatas dengan tujuan khusus (peneliti, pencinta alam, petualang, penyelam)

Jumlah pengunjung terbatas dengan izin dan aturan-aturan khusus agar tidak menimbulkan gangguan terhadap ekosistem

Zona Tujuan Keterangan Zona

penyangga (40–60%)

Sebagai kawasan penyangga yang dibuat untuk

perlindungan terhadap zona-zona inti dan khusus

Dapat dimanfaatkan terbatas untuk ekowisata dengan batasan minimal gangguan terhadap zona inti dan khusus

Zona pemanfaatan (10–20%)

Pengembangan kepariwisataan alam, termasuk pengembangan fasilitas-fasilitas wisata alam

Persyaratan: kestabilan bentang alam dan ekosistem, resisten terhadap berbagai kegiatan manusia yang berlangsung di dalamnya

Tabel 4 Kriteria ekologi, sosial, dan ekonomi pada penentuan zonasi

Zona Kriteria

Ekologi Sosial Ekonomi

Inti Sangat alami, belum terganggu, spawning ground

Tidak ada kegiatan

manusia Tidak ada aktivitas ekonomi

Khusus Alami, potensi tinggi Interaksi sosial rendah (<5 orang per 10 ha per hari)

Pemanfaatan nonkomersial Penyangga Alami, potensi relatif

tinggi, agak luas Interaksi sosial sedang (5–25 orang per 10 ha per hari)

Pemanfaatan semikomersial Pemanfaatan Tidak rentan, sebaran

luas Interaksi sosial

tinggi

(>25 orang per 10 ha per hari)

Pemanfaatan komersial

Pembagian zona dilakukan sesuai dengan fungsinya, di mana zona inti terletak di tengah kawasan sehingga sistem perlindungan dapat berjalan dengan baik. Zona penyangga memiliki area yang paling luas untuk pemanfaatan semikomersial sesuai konsep konservasi.

Tabel 3 Zonasi di kawasan ekowisata perairan (lanjutan)

Gambar 17 Pembagian zona dalam kawasan wisata perairan

KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOWISATA

4.1 Kesesuaian Kawasan Wisata

Pengembangan ekowisata perairan memerlukan kesesuaian sumber daya dan lingkungan pesisir sesuai dengan kriteria yang disyaratkan. Kesesuaian sumber daya pesisir dan lautan ditujukan untuk mendapatkan kesesuaian karakteristik sumber daya wisata. Kesesuaian karakteristik sumber daya dan lingkungan untuk pengembangan wisata dilihat dari aspek ekologi dan aspek pemanfaatan sumber daya oleh manusia.

Pertimbangan aspek ekologi bertujuan untuk mempertahankan keberadaan sumber daya dan keseimbangan sistem kehidupan biota perairan.

Kerusakan sumber daya dan penurunan daya dukung dapat disebabkan oleh manajemen yang buruk dan jumlah wisatawan yang terlalu banyak.

Sementara pertimbangan dari aspek pemanfaatan adalah kepuasan manusia dalam menjalankan kegiatan wisata. Kepuasan manusia akan tercapai apabila sumber daya dapat dinikmati secara alami dan nyaman. Dengan demikian, sumber daya harus dipertahankan keaslian dan keserasiannya, serta jumlah pengunjung juga dibatasi sehingga wisatawan tidak merasa terganggu oleh pengunjung lainnya.

Kegiatan wisata yang akan dikembangkan hendaknya disesuaikan dengan potensi sumber daya dan peruntukannya. Setiap kegiatan wisata mempunyai persyaratan sumber daya dan lingkungan sesuai objek wisata

Persyaratan sumber daya dan lingkungan dikelompokkan berdasarkan jenis kegiatan wisata (Tabel 5). Parameter fisik pantai dan perairan lebih dominan disyaratkan pada wisata bahari kategori rekreasi pantai atau lebih dikenal sebagai wisata pantai, sedangkan pada wisata bahari selain parameter fisik, parameter biologi juga dipertimbangkan. Parameter fisik pantai yang dipertimbangkan dalam kesesuaian wisata, antara lain pasir pantai, kecerahan air laut, kedalaman, kecepatan arus, lebar pantai, kemiringan pantai, dan ombak. Sementara itu, parameter biologi yang dipertimbangkan dalam kesesuaian wisata, antara lain karang, ikan karang, mangrove, lamun, dan jenis-jenis biota laut lainnya.

Tabel 5 Parameter sumber daya dan lingkungan yang dipertimbangkan dalam kesesuaian ekowisata bahari

Parameter Sumber daya dan

Lingkungan Pesisir RP WM SA SL WS WK WL

Pasir putih

Substrat dasar

Kecerahan air laut

Kedalaman air laut

Kecepatan arus

Pasang surut

Lebar pantai

Kemiringan pantai

Ombak

Komunitas karang

Ikan

Mangrove

Vegetasi pantai

Lamun

Biota lainnya

Air tawar

Keterangan: RP = Rekreasi Pantai WM = Wisata Mangrove SA = Ski Air/Jet Ski SL = Selancar

WS = Wisata Selam WK = Wisata Snorkeling

Kesesuaian wisata perairan tawar dipertimbangkan berdasarkan potensi sumber daya dan lingkungannya. Kegiatan wisata yang dilakukan di daratan (tepi danau dan sungai) mensyaratkan parameter lingkungan sekitar danau dan sungai, sedangkan kegiatan wisata di daerah air mensyaratkan parameter air (Tabel 6). Kegiatan berkemah, duduk santai dan outbound mensyaratkan kondisi lebar tepi danau/sungai.

Tabel 6 Parameter sumber daya dan lingkungan yang dipertimbangkan dalam kesesuaian ekowisata perairan tawar

Parameter Sumber daya dan

Lingkungan KM MC PR DS OB RT MA OA

Lebar tepi danau/sungai

Hamparan dataran

Vegetasi yang hidup di tepi

danau/sungai

Pemandangan (object view)

Kecepatan arus

Kedalaman perairan

Bau

Warna perairan

Kelimpahan ikan

Jumlah jenis ikan

Luas danau/lebar sungai

Biota berbahaya

Kualitas air

Keterangan: KM = Berkemah MC = Memancing PR = Berperahu DS = Duduk santai OB = Outbound RT = River Track MA = Bermain air OA = Olahraga air

Kesesuaian sumber daya untuk wisata perairan dihitung untuk setiap kegiatan atau jenis wisata. Setiap jenis wisata memiliki parameter sumber daya perairan dan lingkungan yang menjadi tolok ukur kesesuaian untuk

dapat dimanfaatkan pada jenis wisata tersebut. Setiap parameter sumber daya memiliki tingkat kepentingan atau tingkat daya tarik objek wisata yang berbeda terhadap nilai wisata perairan. Selain itu, setiap parameter sumber daya tersebut diukur atau dinilai status kondisinya di alam sesuai dengan tingkat penilaian atau skor sehingga pemenuhan kesesuaian sumber daya untuk setiap jenis wisata perairan dapat diketahui dengan memperhitungkan nilai bobot setiap parameter dengan skor atau penilaian sumber daya tersebut.

Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks kesesuaian wisata perairan adalah:

n = Banyaknya parameter kesesuaian Bi = Bobot parameter ke-i

Si = Skor parameter ke-i

Keterangan:

Sangat Sesuai : IKW ≥ 2,5 Sesuai : 2,0≤ IKW <2,5 Tidak Sesuai : 1≤ IKW <2,0 Sangat Tidak Sesuai : IKW <1

4.1.1 Wisata Pantai

Kesesuaian sumber daya pantai sangat disyaratkan untuk pengembangan wisata pantai. Kesesuaian wisata pantai kategori rekreasi mempertimbangkan sepuluh parameter dengan empat klasifikasi penilaian.

Parameter kesesuaian wisata pantai kategori rekreasi adalah tipe pantai, lebar pantai, material dasar perairan, kedalaman perairan, kecerahan perairan, kecepatan arus, kemiringan pantai, penutupan lahan pantai, biota berbahaya, dan ketersediaan air tawar (Tabel 7). Rekreasi pantai mensyaratkan:

1. Kedalaman air: tidak terlalu dalam sehingga tidak berbahaya bagi aktivitas berenang dan bermain (idealnya 0–3 m).

2. Tipe pantai: terdiri atas hamparan pasir putih.

3. Lebar pantai: cukup lebar untuk aktivitas wisata (idealnya lebih dari 15 m).

4. Material dasar perairan: substrat dasar perairan berpasir.

5. Kecepatan arus: tidak terlalu kuat (<0,30 m/det).

6. Kecerahan perairan: tidak keruh dengan daya tembus pandang

>5 m.

7. Kemiringan pantai: landai dengan sudut elevasi ideal <10°.

8. Penutupan lahan pantai: tidak gersang, terdapat vegetasi pantai.

9. Biota berbahaya: beberapa jenis biota berbahaya antara lain ikan pari, lepu, hiu, dan bulu babi.

10. Air tawar: tersedia cukup dan tidak jauh dari sumber air (<1 km).

Tabel 7 Parameter kesesuaian sumber daya untuk wisata pantai kategori rekreasi pantai

No Parameter Bobot Kategori Skor

1 Tipe pantai 0,200 Pasir putih 3

Pasir putih campur pecahan

karang 2

Pasir hitam, sedikit terjal 1 Lumpur, berbatu, terjal 0

2 Lebar pantai (m) 0,200 >15 3

10–15 2

3–<10 1

<3 0

No Parameter Bobot Kategori Skor

3 Material dasar perairan 0,170 Pasir 3

Karang berpasir 2 Pasir berlumpur 1 Lumpur, lumpur berpasir 0

4 Kedalaman perairan (m) 0,125 0–3 3

>3–6 2

>6–10 1

>10 0

5 Kecerahan perairan (%) 0,125 >80 3

>50–80 2

20–50 1

<20 0

6 Kecepatan arus (cm/detik) 0,080 0–17 3

17–34 2

34–51 1

>51 0

7 Kemiringan pantai (º) 0,080 <10 3

10–25 2

>25–45 1

>45 0

8 Penutupan lahan pantai 0,010 Kelapa, lahan terbuka 3 Semak, belukar, rendah,

savana 2

Belukar tinggi 1

Hutan bakau, pemukiman,

pelabuhan 0

Tabel 7 Parameter kesesuaian sumber daya untuk wisata pantai kategori rekreasi pantai (lanjutan)

No Parameter Bobot Kategori Skor

9 Biota berbahaya 0,005 Tidak ada 3

Bulu babi 2

Bulu babi, ikan pari 1 Bulu babi, ikan pari,

lepu, hiu 0

10 Ketersediaan air tawar/

jarak ke sumber air tawar (km)

0,005 <0,5 3

>0,5–1 2

>1–2 1

>2 0

Kategori IKW: IKW ≥ 2,5 : Sangat sesuai 2,0≤ IKW <2,5 : Sesuai 1≤ IKW <2,0 : Tidak sesuai IKW <1 : Sangat tidak sesuai

Wisata mangrove merupakan salah satu jenis wisata pantai yang kegiatannya memanfaatkan habitat mangrove beserta biota dan lingkungannya sebagai objek wisata. Kesesuaian wisata pantai kategori wisata mangrove mempertimbangkan lima parameter dengan empat klasifikasi penilaian.

Parameter kesesuaian wisata pantai kategori wisata mangrove antara lain ketebalan mangrove, kerapatan mangrove, jenis mangrove, pasang surut, dan objek biota (Tabel 8).

Wisata mangrove merupakan bentuk wisata pantai yang kegiatannya menikmati alam habitat mangrove. Jenis wisata ini mensyaratkan:

1. Ketebalan mangrove: tebal mangrove diukur dari garis terluar arah laut, tegak lurus ke arah darat hingga vegetasi mangrove terakhir.

2. Kerapatan mangrove: jumlah pohon mangrove menunjukkan daya dukung ekosistem dan kenyamanan habitat.

3. Jenis mangrove: jenis mangrove mempunyai pemandangan dan kenyamanan bagi pengunjung.

Tabel 7 Parameter kesesuaian sumber daya untuk wisata pantai kategori rekreasi pantai (lanjutan)

Dalam dokumen Pelajari tentang Ekowisata Bawah Air (Halaman 38-42)

Dokumen terkait