BAB II SUMBER DAYA PERAIRAN
2.1 Sumber Daya Pesisir
2.1.4 Pantai
Ekosistem pantai adalah daerah daratan yang masih dipengaruhi pasang surut air laut. Sumber daya pantai terdiri atas pantai itu sendiri dan perairan laut dangkal di depannya. Tipe pantai dapat dibedakan berdasarkan tipe substrat yang membentuk hamparan pantainya, yaitu pantai berpasir, pantai berlumpur, dan pantai berbatu (Gambar 4).
(1)
(2) (3)
Gambar 4 Tipe-tipe pantai: (1) Pantai berpasir, (2) Pantai berbatu, (3) Pantai berlumpur
Pantai berpasir umumnya terdiri atas kuarsa dan feldspar, bagian yang paling banyak dan paling keras dari sisa-sisa pelapukan batu di gunung. Di daerah tertentu, seperti apabila di depannya terdapat habitat terumbu karang, maka pasir didominasi oleh sisi-sisa pecahan terumbu karang yang berwarna
putih. Pantai yang berpasir dibatasi hanya di daerah di mana gerakan air yang kuat mengangkut partikel-partikel yang halus dan ringan, kemudian terendap pada daratan pantai yang landai.
Partikel yang kasar dari pantai berpasir menyebabkan hanya sebagian kecil permukaannya yang dapat menyerap bahan organik, baik yang terlarut maupun yang berukuran sangat kecil, serta yang tersedia untuk bakteri.
Total bahan organik dan organisme hidup di pantai berpasir jauh lebih sedikit dibandingkan jenis pantai lainnya. Sedimen yang kasar tidak dapat menahan air dengan baik, akibatnya lapisan permukaan bisa menjadi kering hingga kedalaman beberapa sentimeter dari bagian atas pantai yang terbuka terhadap matahari pada saat air surut. Jumlah organisme yang hidup di habitat pasir pun sangat sedikit karena tempat tinggalnya tidak stabil dan makanan yang tersedia juga sedikit. Hal ini menyebabkan kesuburan perairan pantai berpasir sangat rendah dibandingkan habitat lainnya di wilayah pesisir. Meskipun demikian pantai sering menjadi tempat beberapa biota untuk meletakkan telurnya sebelum menetas dan berenang dalam air.
Parameter utama yang menonjol di daerah pantai berpasir, yaitu (1) pola arus yang dinamis, (2) gelombang yang akan melepaskan energinya di pantai, (3) angin yang juga merupakan pengangkut pasir, (4) kisaran suhu yang luas, (5) kekeringan, (6) partikel yang padat (kekeruhan), dan (7) substrat yang tidak stabil.
Pantai berlumpur merupakan daerah pantai yang paling subur dibandingkan daerah pantai lainnya. Pantai berlumpur dicirikan oleh tipe substrat yang didominasi fraksi lumpur yang bertekstur halus dan terendapkan di daerah pantai. Umumnya, pantai berlumpur mendapatkan suplai sedimen dari sungai sehingga sering berasosiasi dengan estuaria.
Pantai berlumpur hanya terbatas pada daerah intertidal yang benar- benar terlindung dari gelombang laut terbuka. Perbedaan utama dengan pantai pasir terbuka adalah pantai berlumpur tidak dapat berkembang dengan hadirnya gerakan gelombang. Butiran sedimen pantai berlumpur
lebih halus dengan ketebalan sedimen yang bervariasi. Daerah ini terbentuk bila pergerakan air rendah sehingga kemiringan pantai berlumpur cenderung lebih datar daripada pantai berpasir.
Pada pantai berlumpur, air di dalam sedimen tidak mengalir keluar dan tertahan di dalam substrat, memiliki ukuran partikel yang sangat halus disertai dengan sudut dasar sedimen yang sangat datar menyebabkan pergantian air laut dalam substrat berlangsung lama sehingga populasi bakteri internal tinggi. Kadar oksigen relatif rendah di dalam sedimen yang terletak hanya beberapa sentimeter di bawah permukaan. Kondisi anaerobik ini tersebar merata di dalam sedimen dan merupakan salah satu sifat yang penting pada pantai berlumpur. Materi organik yang berasal dari masukan sungai, daratan, dan lautan terakumulasi di pantai berlumpur. Substrat pada pantai berlumpur merupakan habitat yang baik bagi organisme bentik.
Sebagian besar organisme yang menempati pantai berlumpur ini menunjukkan adaptasi dengan dua cara, yaitu menggali substrat dan membuat saluran habitat. Kedua cara adaptasi itu terlihat dari berbagai lubang dan saluran di permukaan dataran lumpur. Hal tersebut disebabkan karena hampir semua organisme multiseluler tidak dapat hidup tanpa oksigen.
Kurangnya kadar oksigen dalam lumpur diatasi organisme pada ekosistem ini dengan cara membuat beberapa jalan untuk mengalirkan air yang mengandung oksigen dari permukaan ke dalam. Dengan cara ini oksigen dan makanan dapat diperoleh. Selain itu, rendahnya ketersediaan oksigen dapat diatasi dengan membentuk alat pengangkut yang dapat mengangkut oksigen terus-menerus (misalnya hemoglobin).
Tipe cara makan yang dominan di pantai berlumpur adalah pemakan deposit dan pemakan bahan melayang (suspensi). Pemakan deposit terdapat dalam jumlah yang berlimpah karena banyaknya bahan organik dan populasi bakteri di sedimen. Polychaeta pemakan deposit diwakili oleh genus Arenicola dan Capitella. Keduanya makan dengan cara menggali substrat, mencerna dan menyerap bahan organik (atau bakteri), serta mengeluarkan bahan
yang tidak dapat dicerna melalui anus. Arenicola spp. menggali saluran yang berbentuk U dengan ujung yang satu tegak lurus ke permukaan dan terbuka secara permanen, ujung yang lainnya berisi sedimen yang akan dicerna cacing.
Dengan demikian, struktur tropik dataran lumpur sering terbentuk berdasarkan dua hal yaitu berdasarkan rantai detritus-bakteri dan berdasarkan tumbuhan autotrofik. Jaringan makanan yang kedua didasarkan atas diatom mikroskopik sebagai organisme autotropik. Diatom ini dimakan oleh beberapa polychaeta, moluska, dan krustasea. Sebaliknya, organisme tersebut dimakan oleh predator besar seperti burung dan ikan.
Pantai berbatu merupakan pantai yang berbatu-batu memanjang ke laut dan terendam di air. Batu yang terbenam di air ini menciptakan suatu zonasi habitat karena adanya perubahan permukaan air laut. Hal tersebut disebabkan oleh proses pasang yang menyebabkan adanya bagian yang selalu tergenang air, selalu terbuka terhadap matahari, serta zonasi di antaranya yang tergenang pada pasang naik dan terbuka pada pasang surut.
Zonasi habitat tersebut mengakibatkan terbentuknya zonasi organisme yang menghuni pada batuan tersebut. Zonasi komunitas biota di pantai berbatu yang dipengaruhi oleh fenomena pasang lebih nyata daripada tempat lain mana pun karena batu menyediakan tempat menempel yang baik juga perlindungan bagi mereka. Komunitas biota di daerah berbatu jauh lebih kompleks dari daerah lain karena bervariasinya relung (niche) ekologis yang disediakan oleh genangan air, celah-celah batu, permukaan batu dan sebagainya, serta hubungan mereka yang bervariasi terhadap cahaya, gerakan air, perubahan suhu, dan faktor lainnya.
Parameter utama yang sangat memengaruhi kondisi pantai berbatu yaitu (1) fenomena pasang, dinamikanya sangat berpengaruh terhadap biota yang menginginkan kondisi alam yang bergantian antara tergenang dan terbuka; (2) gelombang, energi yang dihempaskan bisa merusak komunitas biota yang menempel di batu-batuan, terutama pada batu yang langsung menghadap ke laut.