PENDAHULUAN
SUMBER DAYA PERAIRAN
Sumber Daya Pesisir
- Terumbu Karang
- Lamun
- Ekosistem Mangrove
- Pantai
Terumbu karang merupakan ekosistem khas yang terdapat di daerah tropis dan tersusun atas komunitas karang sebagai komponen utamanya. Terumbu karang terdapat di seluruh perairan dunia, namun hanya di daerah tropis terumbu karang dapat berkembang dengan baik. Terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang merupakan tempat hidup dan sumber kehidupan berbagai biota laut.
Terumbu karang di perairan Indonesia dapat digolongkan menjadi beberapa jenis atau bentuk, yaitu terumbu tepi (fringing reef), terumbu penghalang (barrier reef), terumbu karang tempel (patching reef), dan karang atol (atoll coral). Secara umum terumbu karang tumbuh baik di sekitar wilayah pesisir pada salinitas aliran air, sirkulasi dan sedimentasi. Arus dan sirkulasi air merupakan parameter penting bagi sebaran larva karang sehingga menentukan keberadaan terumbu karang.
Kurangnya sinar matahari akan mengurangi pasokan makanan ke terumbu karang dan dapat menyebabkan kematian karang. Lamun hidup di perairan dangkal dengan substrat berpasir hingga berpasir berlumpur dan terkadang juga ditemukan di terumbu karang.
Sumber Daya Perairan Daratan
- Sungai
- Danau
Ekowisata (ekowisata, wisata hijau atau wisata alternatif) adalah wisata yang berorientasi lingkungan untuk menjembatani kepentingan menjaga sumber daya alam/. Objek utama wisata perairan pedalaman adalah sumber daya air, lingkungan hidup, pemandangan dan biota perairan. Kegiatan wisata perairan yang dikembangkan dengan konsep ekowisata harus memperhatikan keberadaan dan kelestarian sumber daya.
Wisata pantai merupakan kegiatan wisata yang mengutamakan sumber daya pesisir dan lingkungan pesisir, seperti rekreasi, olah raga serta menikmati alam dan iklim. Wisata bahari merupakan kegiatan wisata yang mengutamakan sumber daya bawah laut dan dinamika air laut. Wisata perairan pedalaman merupakan kegiatan wisata yang memanfaatkan sumber daya perairan pedalaman seperti memancing, berperahu (Gambar 12), petualangan dan lain-lain.
Pengembangan ekowisata perairan memerlukan kecukupan sumber daya dan lingkungan pesisir sesuai dengan kriteria yang dipersyaratkan. Wisata bahari merupakan kegiatan wisata yang memanfaatkan sumber daya air laut, dan kegiatan yang dilakukan pada umumnya di perairan laut. Sedangkan luas terumbu karang yang dapat dimanfaatkan Tabel 9 Matriks Kesesuaian Sumberdaya Kategori Ekowisata Bahari.
Pengembangan wisata air memerlukan persiapan penyediaan sumber daya manusia dengan jumlah dan kualifikasi yang diperlukan.
EKOWISATA PERAIRAN
Konsep Ekowisata
Wisata pada kawasan alam yang masih alami (relatif tidak terganggu) dengan tujuan untuk mengagumi, menjelajahi dan menikmati keindahan pemandangan, tumbuhan, satwa liar dan budaya yang terdapat disana disebut ekowisata (Ceballos dan Lascurian 1991 dalam Wall 1995). Ekowisata sendiri pertama kali diperkenalkan pada tahun 1990 oleh organisasi The Ecotourism Society, sebagai perjalanan ke kawasan yang masih alami. Lindberg dan Hawkins (1993) mengemukakan bahwa fasilitas wisata dari konsep ekowisata yang dapat dikembangkan dalam industri pariwisata adalah wisata alam dan wisata ruang terbuka.
Kegiatan pariwisata berkembang di kawasan konservasi atau kawasan yang masih mempunyai sumber daya alam dengan tetap menjaga keseimbangan alam. Jadi dapat juga dikatakan bahwa ekowisata adalah suatu konsep pemanfaatan sumber daya alam dengan pendekatan konservasi untuk pengembangan pariwisata. Sumber daya ekowisata terdiri atas sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dapat diintegrasikan menjadi komponen terpadu untuk pemanfaatan pariwisata (Gambar 9).
Wisata alam adalah kegiatan wisata yang tujuannya untuk menikmati kenampakan alam atau daya tarik panorama. Wisata budaya adalah wisata dengan kekayaan budaya sebagai daya tarik wisatanya, dengan penekanan pada aspek edukasi. Ekowisata perairan merupakan wisata yang memiliki konsep ekowisata yang terdiri dari wisata darat dan laut.
Wisata perairan pedalaman adalah kegiatan yang berlangsung di wilayah perairan pedalaman dan sekitarnya, seperti sungai, telaga, waduk, telaga, rawa, air terjun, dan genangan air lainnya. Pengelolaan ekowisata bahari merupakan suatu konsep pengelolaan yang mengutamakan keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya alam dan budaya masyarakat. Konsep pengelolaan ekowisata tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan saja, namun lebih dari itu yaitu pelestarian nilai sumber daya alam dan manusia.
Untuk melestarikan nilai-nilai tersebut, pelaku ekowisata tidak boleh mengeksploitasi sumber daya alam, namun hanya memanfaatkan jasa alam dan budaya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan fisik, pengetahuan, dan psikologis pengunjung. Meskipun pasar menentukan pengembangan ekowisata, namun konsep pengelolaannya tetap memperhatikan prinsip dasar ekowisata. Pengembangan pasar dilakukan dengan pendekatan product-driven, artinya disesuaikan dengan potensi, sifat, perilaku fasilitas, serta daya tarik wisata alam dan budaya yang tersedia.
Objek Ekowisata
Jenis Kegiatan Ekowisata
Kegiatan wisata pantai rekreasi memanfaatkan sumber daya pantai seperti pantai pasir putih, hutan bakau, bentangan pantai yang panjang, pemandangan, biota dan perairan pantai. Dengan memperhatikan aspek ekologi, tujuannya adalah untuk menjaga keberadaan sumber daya dan keseimbangan sistem kehidupan biota perairan. Kerusakan sumber daya dan berkurangnya daya dukung dapat disebabkan oleh buruknya pengelolaan dan terlalu banyaknya wisatawan.
Setiap jenis wisata mempunyai parameter sumber daya perairan dan lingkungan yang menjadi tolak ukur kesesuaiannya. Setiap parameter sumber daya mempunyai tingkat kepentingan atau daya tarik objek wisata yang berbeda-beda terhadap nilai wisata perairan. Analisis keberlanjutan bertujuan untuk mengembangkan wisata bahari dengan memanfaatkan potensi sumber daya pesisir, pantai, dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan.
Kebutuhan sumber daya manusia didasarkan pada rencana pengembangan wisata air yang terdiri dari jenis kegiatan, lokasi, frekuensi dan bentuk pelayanan.
KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOWISATA
Kesesuaian Kawasan Wisata
- Wisata Pantai
- Wisata Bahari
- Wisata Perairan Tawar
Kesesuaian karakteristik sumber daya dan lingkungan untuk pengembangan pariwisata dilihat dari aspek ekologi dan aspek sumber daya manusia. Oleh karena itu, sumber daya tersebut harus dijaga keaslian dan keharmonisannya, serta jumlah pengunjung juga harus dibatasi agar wisatawan tidak merasa terganggu oleh pengunjung lain. Selain itu, setiap parameter sumber daya diukur atau dinilai status kondisinya di alam sesuai penilaian atau tingkat skor, sehingga pemenuhan kesesuaian sumber daya untuk setiap jenis wisata air dapat ditentukan dengan menghitung nilai bobot setiap parameter dengan skor. atau penilaian sumber daya.
Parameter kesesuaian wisata pantai kategori wisata mangrove meliputi ketebalan mangrove, kepadatan mangrove, jenis mangrove, pasang surut air laut dan objek biota (Tabel 8). Parameter kesesuaian wisata bahari kategori wisata selam antara lain kejernihan air, tutupan komunitas karang, jenis biota, jenis ikan karang, kecepatan arus, dan kedalaman terumbu karang (Tabel 9). Parameter kesesuaian wisata bahari kategori wisata snorkeling meliputi kejernihan perairan, tutupan komunitas karang, jenis biota, jenis ikan karang, kecepatan arus, kedalaman terumbu karang dan lebar hamparan karang datar (Tabel 10).
Parameter kesesuaian wisata bahari kategori wisata lamun meliputi tutupan lamun, kejernihan perairan, jenis ikan, jenis lamun, jenis substrat, kecepatan arus dan kedalaman lamun (Tabel 11). Persyaratan sumber daya yang harus dipenuhi adalah adanya lokasi yang menguntungkan untuk penangkapan ikan dan tersedia sumber daya penangkapan ikan yang memadai untuk penangkapan ikan. Untuk kategori wisata duduk dan wisata jalur sungai terdapat delapan parameter kesesuaian lahan yaitu kecepatan arus, kejernihan air, kedalaman, bau, lebar tepian sungai, jenis biota, tutupan vegetasi dan luas lahan.
Untuk kategori wisata water sport, terdapat enam parameter kesesuaian lahan yaitu kejernihan air, kedalaman, kecepatan arus, angin, tutupan tanaman, dan ada tidaknya bakteri Escherichia coli. Pada kategori wisata air terjun dataran rendah terdapat delapan parameter kesesuaian lahan yaitu kecepatan arus, kejernihan air, kedalaman, aroma, lebar bahu sungai, jenis biota, tutupan tumbuhan dan luas lahan. Untuk kategori wisata melihat air terjun, parameter kesesuaian lahan untuk kegiatan wisata adalah kecepatan arus, kejernihan air, kedalaman, aroma, jenis biota dan tutupan tumbuhan.
Konsep Daya Dukung Ekowisata
Mengingat pengembangan wisata bahari belum bersifat massal, mudah rusak, dan ruang pengunjung sangat terbatas, maka perlu dilakukan penetapan daya dukung kawasan. Metode yang diperkenalkan untuk menghitung daya dukung pengembangan ekowisata alam adalah dengan menggunakan konsep daya dukung wilayah (DDK). DDK = Daya dukung kawasan wisata (orang/hari) K = Potensi ekologi pengunjung per satuan luas Lp = Luas atau panjang kawasan yang dapat dimanfaatkan Lt = Satuan luas untuk kategori tertentu.
Wt = Waktu yang disediakan kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari Wp = Waktu yang dihabiskan pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu. Waktu aktivitas pengunjung (Wp) dihitung berdasarkan lama waktu yang dihabiskan pengunjung untuk melakukan aktivitas wisata. Analisis kesesuaian dan daya dukung ekowisata dihitung menggunakan alat analisis spasial yang mencakup kriteria parameter sumber daya pada setiap jenis kegiatan pariwisata.
Analisis Daya Dukung Kawasan (DDK) merupakan jumlah maksimum wisatawan yang dapat ditampung secara fisik di kawasan yang ditawarkan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan terhadap alam dan manusia. Daya dukung wisata dapat dihitung apabila suatu kawasan mempunyai indeks kesesuaian wisata pada kategori sangat sesuai hingga sesuai, dan telah menunjukkan kawasan (terumbu karang) mana yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan wisata. Hasil perhitungan daya dukung kawasan berupa jumlah orang yang dapat melakukan setiap kegiatan wisata dapat ditampilkan dalam peta atau tabel.
Daya dukung lingkungan hidup (carrying capacity), selain diartikan sebagai intensitas maksimal pemanfaatan sumber daya alam, juga membatasi pembangunan fisik yang dapat mengganggu keberlanjutan pembangunan pariwisata tanpa merusak alam. Penentuan daya dukung juga harus dikaitkan dengan fasilitas akomodasi dan pembangunan fasilitas rekreasi yang dibangun di setiap objek wisata. Pengelolaan dan pelaksanaan daya dukung kawasan ekowisata berarti harus memperhatikan penentuan perjalanan dan kondisi tata ruang kawasan wisata, mengingat kawasan wisata selam yang digunakan agar terumbu karang tidak rusak adalah dua orang per. 2.000 m2 dan snorkeling 500 m2 per orang.
Misalnya saja kegiatan penyelaman di selatan Pulau Bunaken yang berkapasitas 132 orang/hari per 33.000 m2 luas terumbu karang, termasuk dalam kategori baik dan layak untuk penyelaman. Tanpa dukungan pembangunan fasilitas maka tujuan program tidak akan maksimal, namun daya dukung kawasan tetap harus diperhatikan dalam pengembangan fasilitas. Untuk mengatasi kekurangan dan kelemahan dalam penyelenggaraan kegiatan wisata air yang ada, maka perlu dilakukan penguatan pengelolaan.
RENCANA PENGELOLAAN EKOWISATA