3 METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan dengan mengambil lokasi di Kawasan Taman Nasional Karimunjawa, ya ng terdiri 22 pulau. Kawasan Taman Nasional ini secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Jepara, Propinsi Jawa Tengah, dan berjarak sekitar 45 mil laut di sebelah barat laut Jepara. Secara geografis Kepulauan Karimunjawa berada pada posisi lintang 5o40’- 5o57’ LS, dan 110o4’- 110o40 BT (Gambar 4). Penelitian ini telah dilaksanakan selama kurang lebih 1 tahun, dimulai pada bulan Juni 2005 sampai dengan Juli 2006. 3.2 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah pulau-pulau kecil yang terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa, sumberdaya pesisir dan lautan (terumbu karang, ikan karang, hutan mangrove, padang lamun, rumput laut), dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan PCRA (Parsipatory Coastal Resource Assessment). Permasalahan utama yang terjadi di kawasan Taman Nasional Karimunjawa adalah: degradasi habitat dan sumberdaya hayati terutama terumbu karang, eksploitasi sumberdaya perikanan, konflik pemanfaatan ruang, lemahnya penegakan hukum dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pengelolaan sumberdaya hayati laut.
3.3 Tahapan Penelitian
Tahap penelitian terbagi 3, yaitu: inventarisasi, analisis dan sintesis data. Adapun tujuan dari masing-masing tahapan ini, dapat diuraikan sebagai berikut:
Tahap inventarisasi data; data yang dikumpulkan baik berupa data primer maupun sekunder. Tahap ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi kondisi dan potensi biogeofisik sumberdaya, (2) identifikasi kondisi sosial, ekonomi dan budaya, (3) identifikasi kondisi pemanfaatan sumberdaya hayati laut pada saat kini, dan (4) identifikasi kebijakan pengelolaan saat ini.
Gambar 4 Peta Lokasi Penelitian
Gambar 4 Peta lokasi penelitian di kawasan Taman Nasional Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Propinsi Jawa Tengah
(2) Tahap analisis data; data yang diperoleh dari tahap inventarisasi data, dianalisis kesesuaian lahan (lingkungan), kemudian dilanjutkan denga n analisis ekologi, ekonomi dan sosial. Berikutnya adalah mengintegrasikan ke duanya, dan menyerap aspirasi masyarakat, kemudian dipakai dasar untuk meninjau kembali zonasi/menentukan zonasi baru sesuai yang diinginkan. (3) Tahap sintesis data bertujuan untuk memperoleh penentuan akhir dalam zonasi
dengan menggunakan data dari tahap analisis data. Sintesis juga dipakai untuk membuat konsep kebijakan pengelolaan TN Karimunjawa secara terpadu dan berkelanjutan.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data akan dilakukan melalui pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dengan cara pengamatan langsung di lapangan dengan metode survei lapang (visual recall) terhadap kondisi sumberdaya (biogeofisik dan lingkungan), dan posisi sumberdaya tersebut dengan menggunakan GPS (Global Positioning System) serta melakukan wawancara langsung dengan penduduk (responden) setempat untuk mengumpulkan data sosial, ekonomi dan budaya melalui metode PCRA (Partisipatory Coastal Rural Appraisal) dengan cara FGD (Focus Group Discussion). Sedangkan pengambilan data sekunder dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari instansi terkait sesuai atribut yang akan dikaji.
3.4.1 Data primer
Data primer yang dikumpulkan meliputi data biogeofisik dan data sosial ekonomi, budaya dan kelembagaan, masing-masing diuraikan sebagai berikut : (1) Data biogeofisik :
1) Hidro-oseanografi: survei hidrooseanografi meliputi pengkajian data karakteristik pasang surut, pasang-surut, pola arus laut dekat pantai, gelombang, bathimetri (kedalaman).
2) Kualitas air: meliputi fisik dan kimia air. Fisik air meliputi suhu, kecerahan, kekeruhan, warna, kedalaman. Adapun parameter kimia air meliputi pH, salinitas, oksigen terlarut, asam sulfida (H2S), amonia, nitrit, nitrat dan fosfat.
3) Jenis ekosistem: terumbu karang, padang lamun, bakau (mangrove), dan rumput laut.
(2) Data sosial, ekonomi, budaya dan kelembagaan :
1) Kependudukan: jumlah penduduk, komposisi penduduk dan ratio ke-tergantungan dan kepadatan penduduk.
2) Perekonomian: mata pencaharian, pendapatan per kapita
3) Sosial dan budaya: kehidupan suku-suku yang terdapat di kepulauan Karimunjawa, nilai-nilai sosial dan budaya yang masih berlaku. Pengumpulan data sosial ekonomi masyarakat khususnya dalam kaitannya dengan penentuan zonasi diperoleh melalui PCRA (Participatory Coastal Resource Assessment) dengan cara FGD (Focus Group Discussion) dan pengamatan langsung di lapangan serta wawancara terhadap responden yang meliputi masyarakat, pejabat dari instansi terkait. Wawancara dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan. Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling (disengaja) berdasarkan kemampuan responden untuk memberikan informasi yang luas. Responden yang dipilih adalah yang memiliki pekerjaan yang berkaitan langsung dengan pemanfaatan sumberdaya laut seperti nelayan tangkap, pembudidaya laut, pelaku bisnis wisata, juragan perahu dan usaha budidaya laut serta tokoh masyarakat setempat. Masing-masing diwakili oleh 1-2 orang yang dianggap kelompoknya sebagai orang yang dapat mewakili aspirasi dan permasalahan mereka serta dapat memahami lingkup pekerjaannya secara baik. Jumlah orang yang terlibat di dalam pelaksanaan FGD dibatasi 15-20 orang, hal ini dimaksudkan agar bisa fokus dalam diskusi kelompok.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam FGD adalah dibagi 5 tahapan, yaitu :
- Tahap 1, identifikasi dan pemetaan stakeholders. Langkah ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui orang-orang yang terkait dengan masalah pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya laut.
- Tahap 2, mobilisasi undangan. Tahap ini dilakukan untuk mobilisasi undangan FGD yang ditujukan kepada stakeholders strategis. Peneliti dibantu oleh fasilitator dari perangkat kecamatan dan desa serta dinas terkait menyediakan tempat dan fasilitas yang diperlukan untuk pelaksanaan FGD, seperti papan meta plan, kertas meta plan, peta administrasi dan sumberdaya, spidol, selotip.
- Tahap 3, pelaksanaan FGD. Tahap ini dimoderatori oleh fasilitator, selanjutnya langsung dipandu dan dipimpin oleh peneliti dibantu para mahasiswa. Tahap ini telah memasuki langkah-langkah materi FGD yang difasilitasi oleh Peneliti dan dibantu oleh fasilitator. Adapun langkah-langkah materi FGD meliputi :
a) Penyampaian maksud dan tujuan FGD
b) Penyampaian potensi dan kondisi sumberdaya laut hasil penelitian c) Identifikasi potensi dan kondisi sumb erdaya laut untuk maksud
silang antara hasil penelitian dengan pengetahuan dan penilaian dari masyarakat dengan alat bantu Peta yang ditempel dalam papan. d) Identifikasi isu dan masalah yang berkaitan dengan pemanfaatan
dan pengelolaan sumberdaya laut termasuk dalam hal zonasi. e) Tabulasi isu dan masalah serta melakukan ploting ke dalam peta yang
ditempel pada papan.
f) Keinginan dan harapan masyarakat terhadap aspek pemanfatan dan pengelolaan sumberdaya Karimunjawa termasuk dalam hal zonasi. g) Merancang rencana penyelesaian masalah dan penyamaan persepsi h) Analisis dan rencana aksi strategi
- Tahap 4, tabulasi hasil FGD. Hasil selama pelaksanaan FGD kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik tabulasi dan dilakukan ploting ke dalam peta wilayah studi.
- Tahap 5, Sosialisasi Hasil FGD. Hasil FGD setelah dilakukan analisis, kemudian disosialisasikan dan di diskusikan kembali kepada masyarakat kembali melalui beberapa tokoh kunci (key person).
- Tahap 6, Dokumentasi Hasil Final FGD dalam bentuk dokumen/buku, dalam hal ini adalah hasil penelitian ini (disertasi). Hasil analisis ini selanjutnya dijadikan sebagai input bagi dilakukannya analisis kebijakan (AHP).
4) Profesi masyarakat/responden yang diundang meliputi : nelayan jaring, nelayan pancing, nelayan bubu/ikan hias, pembudidaya kerapu, pembudidaya rumput laut, juragan kapal, bakul ikan, pengolah ikan, pelaku bisnis pariwisata (pemilik hotel/home stay dan pemandu wisata), tokoh masyarakat, LSM/KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat), serta wakil dari instansi terkait yaitu dinas kelautan dan perikanan, dinas pariwisata dan pengelola Taman Nasional dalam hal ini pihak Balai Taman Nasional Karimunjawa.
(3) Data peruntukan lahan/perairan saat ini :
1) Untuk wilayah daratan misalnya pertambakan, permukiman, hutan mangrove, dan wisata pantai.
2) Untuk wilayah perairan misalnya budidaya ikan kerapu dalam keramba, budidaya rumput laut, penangkapan ikan.
3.4.2 Data sekunder
Data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran berbagai pustaka yang ada, dan berbagai laporan yang diperoleh dari berbagai instansi dan institusi terkait sesuai atribut yang akan dikaji.
Data sekunder ini terdiri dari dua bentuk yaitu data geofisik (iklim, fisiografi, topografi tanah dan geologi), data tabular dan data keruangan (dalam bentuk peta). Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi kepustakaan seperti laporan hasil survei dan publikasi lainnya serta peta-peta yang tersedia.
Selengkapnya mengenai jenis data, sumber data, metode pengumpulan data, dan metode analisis data disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Jenis, sumber dan metode analisis data No. Komponen
Lingkungan
Sumber Data Metode Pengumpulan Data
Metode Analisis Data A. GEOFISIK
1. Iklim BMG dan
stasiun iklim terdekat
Data sekunder Analisis Klasifikasi Iklim berdasarkan Schmidt dan Ferguson.
2. Fisiografi, Topografi Tanah dan Geologi
Data primer dan data sekunder instansi terkait
Pengumpulan data se-kunder berupa peta, citra, tabel, grafik dan peta-peta hasil anali-sis dari instansi ter-kait.
Analisis kesesuaian lahan (land suitability).
4. Kualitas Air Data primer dan sekunder
Data primer terutama data kualitas air yang diambil secara insitu pada titik-titik peng- ambilan sampel dan data sekunder yang diperoleh dari hasil-hasil penelitian.
Cara penentuan kualitas perairan dengan meng-gunakan pembandingan Baku Mutu Air Laut dan acuan dari referensi.
B. BIOLOGI 5. Ekosistem Perairan meliputi : - Terumbu karang - Ikan - Mangrove - Padang lamun - Rumput laut Data primer dan sekunder
Data primer diambil pada lokasi-lokasi yang potensial untuk dikembangkan, data sekunder hutan mangrove diambil dari citra landuse.
- Analisis komposisi dan kelimpahan jenis. - Analisis keragaman dan dan keseragaman jenis biota perairan.
C. SOSEKBUD 6. Kependudukan a. Jumlah dan kepadatan penduduk b. Rasio jenis kelamin c. Rasio ketergantrungan d. Keragaman etnis dan budaya. Data primer dan data sekunder dari instansi terkait.
Data primer melalui wawancara dengan alat bantu kuesioner dan data sekunder yang terkait dengan kegiatan penelitian dari intansi terkait.
Analisis kualitatif dan kuantitatif kependudukan. 7. Sosial Ekonomi a. Mata Pencaharian b. Pendapatan per- kapita. c. Sarana-prasarana perekonomian Data primer dan sekunder.
Data primer melalui wawancara dengan alat bantu kuesioner dan data sekunder yang terkait dengan kegiatan penelitian dari intansi terkait.
Analisis kualitatif dan kuantitatif.
D. KEBIJAKAN
8. Strategi Kebijakan Data primer Wawancara dengan alat bantu kuesioner.
Lanjutan Tabel 5 No. Komponen
Lingkungan/ Parameter
Sumber Data Metode Pengumpulan Data
Metode Analisis Data
E. TATA RUANG
9. RUTR Data sekunder berupa peta RTRKW
Data sekunder dari instansi terkait Overlay F KELEMBAGAAN 10. Peraturan Perundangan (Daerah, Pusat) Data sekunder dari Pusat dan PEMDA
Data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait
Analisis De skriptif
3.4.3 Metode pemilihan responden
Pemilihan responden dilakukan dengan cara purposive sampling atau pemilihan secara sengaja dengan pertimbangan responden adalah aktor atau pengguna lahan (stakeholders) yang terdiri dari pemerintah, swasta dan masyarakat yang mempengaruhi pengambilan kebijakan pemanfaatan ruang baik langsung maupun tidak langsung.
Pemilihan responden diperoleh dengan melakukan kegiatan wawancara dengan menggunakan kuesioner dan pendekatan PCRA (Parsipatory Coastal Resources Assessment) yang dilakukan terhadap responden dari pejabat/staf dari instansi-instansi dan lembaga-lembaga pemerintah yang terkait atau responden yang memiliki keahlian khusus (pakar) dan responden yang merupakan tokoh kunci (key person) dan dianggap mempunyai kemampuan dan mengerti permasalahan terkait dengan pemanfaatan ruang wilayah Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Responden tersebut antara lain: Bappeda Tingkat II Jepara, Dinas Kelautan dan Perikanan Tingkat II Jepara, Dinas Pariwisata Kabupaten Tingkat II Jepara, Perguruan Tinggi, pengusaha/pelaku bisnis, KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat), tokoh pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta instansi dan lembaga lain yang terkait.
Sedangkan responden yang dipilih untuk mewakili rumah tangga nelayan dan petani ikan akan diambil dari 3 desa (Karimunjawa, Kemujan, dan Parang) pada 2 pulau yang berpenghuni. Jumlah rumah tangga nelayan dan petani ikan di kecamatan Karimunjawa Tahun 2005 sebanyak sekitar 2.642 KK dari 8.449 jiwa penduduk.
Penentuan jumlah responden (sampel) dari populasi rumah tangga nelayan dan petani ikan ditentukan dengan persamaan yang dikemukakan oleh Slovin (1960) yang diacu dalam Sevilla et al., (1993) dengan kesalahan penelitian deskriptif sebesar 10 %, Gay (1976) yang diacu dalam Sevilla et al., (1993), yakni sebagai berikut:
n = N / 1 + N . ( e2 ) dimana, n : ukuran sampel
N : ukuran populasi rumah tangga nelayan
e : persentase ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan contoh Berdasarkan persamaan di atas, maka dari 2.642 rumah tangga (KK) yang terdapat di 3 desa di kepulauan Karimunjawa, akan diambil sebanyak 96 responden yang akan dijadikan target wawancara. Sedangkan untuk kepentingan penentuan prioritas kebijakan diambil beeberapa responden yang dapat mewakili Pemerintah Daerah, dinas-dinas terkait (perikanan dan pariwisata), Perguruan Tinggi, LSM/KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat), tokoh pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan para pengusaha atau pelaku bisnis. Responden masyarakat yang dipilih dalam penelitian ini meliputi berbagai pekerjaan yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan pemanfaatan sumberdaya laut terdiri dari : nelayan jaring, nelayan pancing dan bubu, pembudidaya ikan kerapu, pembudidaya rumput laut, nelayan juragan (pemilik kapal dan usaha budidaya), pelaku bisnis pariwisata, dan tokoh masyarakat. Secara rinci jumlah responden yang diambil dari masing-masing profesi tersebut disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Profesi dan jumlah responden yang diambil dari masing-masing desa No Profesi Responden Karimunjawa Desa Kemujan Parang
1 Nelayan Jaring 12 10 5
2 Nelayan Pancing/Bubu 11 8 5
3 Pembudidaya Kerapu 6 3 3
4 Pembudidaya Rumput Laut 5 4 2
5 Nelayan/Juragan 4 3 1
6 Pelaku Bisnis (Wisata) 4 2 1
7 Tokoh Masyarakat/Pemuda 4 2 1
3.5 Analisis Data
Analisis Data meliputi (1) analisis kondisi ekologi meliputi : persentase penutupan karang, analisis struktur komunitas biologi (spesies karang dan ikan karang), analisis karakteristik fisika-kimia perairan, analisis potensi sumberdaya perikanan pelagis dan pote nsi sumberdaya perikanan karang, , analisis kesesuaian lahan (kawasan); (2) analisis sosial, ekonomi dan budaya; (3) analisis zonasi; dan (4) analisis kebijakan pengelolaan.
3.5.1 Analisis kondisi ekologis
(1) Analisis persentase penutupan karang (life form)
Data persentase penutupan karang hidup yang diperoleh berdasarkan metode line intercept transeck (LIT), dihitung berdasarkan persamaan berikut ini:
Ni = Ii / L x 100 %
dimana, Ni : persen penutupan karang hidup Ii : panjang intersep life form jenis ke-i L : panjang tali transek (50 m)
Data kondisi persentase penutupan karang yang hidup diacu dari Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang menurut Kep.Men. LH No. 04 Tahun 2001 disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Kriteria baku kerusakan terumbu karang menurut Kep. Men. LH. No. 04 tahun 2001.
Parameter Kriteria baku kerusakan terumbu Persen life form Persen luas tutupan
terumbu karang hidup (life form).
Rusak Buruk 0 – 24,9 %
Sedang 25 – 49,9 %
Baik Baik 50 – 74,9 %
Baik sekali 75 – 100 % (2) Luasan terumbu karang
Analisis luasan terumbu karang dilakukan berdasarkan pada peta citra landsat TM kepulauan Karimunjawa tahun 2005. Data yang ingin diidentifikasi adalah luasan terumbu di masing-masing pulau yang masuk ke dalam kawasan taman nasional Karimun Jawa. Data ini amat berguna untuk membandingkan antara luasan karang yang hidup dan yang mati dalam satu kawasan (gugusan terumbu).
(3) Analisis struktur komunitas biologis
Data biologis yang akan dianalisis yaitu menghitung kelimpahan/ kepadatan individu jenis dan nilai indeks keanekaragaman jenis biota meliputi : genus karang hidup dan spesies ikan karang, yang diamati pada masing-masing stasiun penelitian. Mencari nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) berdasarkan persentase penutupan karang menggunakan indeks dari Shannon - Wiener dengan formulasi sebagai berikut:
n
H’ = - S pi ln pi i:1
dimana, pi : proporsi penutupan jenis ke-i terhadap total penutupan (ni/N) H’: indeks keanekaragaman jenis
Nilai indeks H’ semakin tinggi (antara 4,0 – 6,9) dikatakan semakin baik dan memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi.
(4) Analisis fisika-kimia perairan
Analisis fisika-kimia perairan hasil pengukuran secara in-situ dibandingkan dengan Baku Mutu Air Laut yang berlaku, khususnya untuk kepentingan biota laut/budidaya perikanan.
(5) Potensi sumberdaya perikanan karang
Analisis untuk estimasi potensi sumberdaya perikanan karang dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, penghitungan ikan karang pada tali transek sepanjang 2 x 50 meter, dengan lebar ke kiri-kanan 2,5 meter (English, et al., 1994); ke dua, penghitungan data kepadatan ikan dengan metode Misra (1978):
D = c x 10.000 / A (ekor/ha) dimana, D : kepadatan;
c : jumlah ikan yang terhitung dalam pengamatan A : luas daerah pengamatan.
Tahap ke tiga, penghitungan kelimpahan stok, digunakan persamaan : Bo = D x L
dimana, Bo : kelimpahan stok ikan (ekor) D : kepadatan
Kemudian tahap ke empat, penghitungan potential yield, digunakan rumus (Gulland, 1975) yaitu:
Py = Bo x M x c
dimana, Py : potential yield (ekor/tahun) M : koefisien kematian alami c : konstanta
Selanjutnya untuk menghitung MSY optimal digunakan formulasi MSY = (0,5 x Py) x 0,8. Angka 0,8 ini adalah konstanta precautionary approach dari MSY. (6) Analisis kesesuaian lingkungan untuk zona pemanfaatan
Penyusunan matriks kesesuaian lingkungan meliputi peruntukan pariwisata bahari, pariwisata pantai, budidaya ikan kerapu sistem keramba jaring apung, budidaya rumput laut, konservasi hutan bakau, dan budidaya teripang, dilakukan berdasarkan kondisi fisik sumberdaya alam di Kawasan TNL Karimun Jawa dan studi pustaka serta diskusi dengan pakar yang ahli di bidang tsb. Matriks ini sangat penting, mengingat dari matriks tersebut dapat diketahui parameter yang menjadi indikator kesesuaian melalui pembobotan dan skoring pada setiap parameter.
Pembobotan pada setiap faktor pembatas/parameter ditentukan berdasarkan pada dominannya parameter tersebut terhadap suatu peruntukan. Besarnya pembobotan ditunjukkan pada suatu parameter untuk seluruh evaluasi lahan, sebagai contoh: kemiringan/kelerengan mempunyai bobot yang lebih tinggi untuk budidaya tambak dibandingkan dengan permukiman.
Pemberian nilai (harkat) ditujukan untuk menilai beberapa faktor pembatas/parameter/kriteria terhadap suatu evaluasi kesesuaian. Kelas-kelas kesesuaian pada matriks yaitu menggambarkan tingkat kecocokan dari suatu bidang untuk penggunaan tertentu. Hasil analisis kesesuaian adalah dalam bentuk peta-peta dengan menggunakan alat bantu berupa pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) program Arc.View versi 3,3.
Di dalam penelitian ini kelas kesesuaian dibagi ke dalam 3 (tiga) kelas, yang didefinisikan sebagai berikut:
Kelas S1 : Sangat Sesuai (Highly Suitable)
Daerah ini tidak mempunyai pembatas (penghambat) yang serius untuk menetapkan perlakuan yang diberilan atau hanya mempunyai pembatas yang tidak berarti atau berpengaruh secara nyata terhadap penggunaannya dan tidak akan menaikkan masukan/tingkatan perlakuan yang diberikan.
Kelas S2 : Sesuai (Moderately Suitable)
Daerah ini mempunyai pembatas yang agak serius untuk mempertahankan tingkat perlakuan yang harus ditetapkan. Pembatas ini akan meningkatkan masukan/tingkatam perlakuan yang diperlukan. Kelas N : Tidak Sesuai (Not Suitable)
Daerah ini mempunyai pembatas (penghambat) permanen, sehingga mencegah segala kemungkinan perlakuan pada daerah tersebut.
Hasil perkalian antara bobot dan nilai/harkat masing-masing parameter dalam suatu peruntukan merupakan skor dari parameter tertentu dalam suatu peruntukan. Penjumlahan seluruh skor dari tiap-tiap parameter dalam suatu peruntukan disebut dengan total skor suatu peruntukan tertentu. Total skor tersebut diformulasikan sebagai berikut:
n
Total Skor ß = Σ ( bobot a x skor/harkat a )
a = 1
dimana, Total Skor ß : jumlah skor tiap-tiap parameter dalam peruntukan ß a : parameter/kriteria ke a peruntukan ß
n : adalah jumlah parameter/kriteria peruntukan ß
Total skor tersebut, selanjutnya dipakai untuk menentukan kelas kesesuaian lahan. Kelas kesesuaian lahan untuk suatu peruntukan mempunyai rentang/interval kelas tergantung dari jumlah kelas kesesuaian, total skor maksimum dan total skor minimum dalam peruntukan tersebut.
Interval kelas kesesuaian lahan untuk suatu peruntukan ini dihitung dengan menggunakan formulasi sebagai berikut:
RK ß = Total Skor Max ß – Total Skor Min ß Jumlah Kelas ß
dimana, RK ß : Rentang/interval Kelas dalam peruntukan ß
Total Skor Max ß : Total skor tertinggi/maksimum dalam peruntukan ß Total Skor Min ß : Total skor terendah/minimum dalam peruntukan ß Jumlah Kelas ß : Banyaknya kelas kesesuaian dalam peruntukan ß
Rentang/interval kelas tersebut berfungsi untuk menetapkan klasifikasi kelas kesesuaian dari total skor dalam suatu peruntukan tertentu. Adapun kriteria dan matriks kesesuaian lahan (lokasi) ya ng dapat digunakan sebagai acuan pada setiap peruntukan beserta klasifikasi kelas kesesuaian dari total skor untuk masing-masing peruntukan adalah sebagai berikut:
(a) Kriteria kesesuaian lokasi untuk ekowisata bahari kategori wisata selam Parameter yang digunakan untuk menentukan kesesuaian wilayah perairan untuk ekowisata bahari kategori selam mengacu modifikasi dari Yulianda (2007) adalah: kecerahan perairan (%), tutupan komunitas karang (%), jumlah genus karang hidup, jenis ikan karang, kecepatan arus, dan kedalaman terumbu karang. Kriteria kesesuaian lokasi pada tiap parameter secara rinci disajikan pada Tabel 8. Tabel 8 Kriteria kesesuaian lokasi untuk ekowisata bahari kategori selam
No Kriteria/parameter Kelas kesesuaian Bobot Skor/harkat 1. Kecerahan perairan (%) S 1 : > 80 S 2 : 35 - 80 N : < 35 5 3 2 1 2. Tutupan komunitas karang (%) S 1 : > 75 S 2 : 37 -75 N : < 37 5 3 2 1 3. Jumlah genus karang
hidup S 1 : > 30 S 2 : 20 - 30 N : < 20 4 3 2 1 4. Jenis ikan karang S 1 : 100
S 2 : 35 - 100 N : < 35 4 3 2 1 5. Kecepatan arus (m/d) S 1 : 0 - 0,15 S 2 : > 0,15 - 0,40 N : > 0,4 3 3 2 1 6. Kedalaman terumbu karang (m) S 1 : 6 - 15 S 2 : >15 - 25; 3 - < 6 N : > 25; < 3 3 3 2 1
Klasifikasi kelas kesesuaian dari total skor untuk kesesuaian lokasi ekowisata bahari kategori wisata selam dari perhitungan matriks di atas adalah:
24 - 40 = Tidak Sesuai (N) 41 - 56 = Sesuai (S2)
57 - 72 = Sangat Sesuai (S1)
(b) Kriteria kesesuaian lokasi untuk wisata bahari kategori wisata snorkling Parameter yang digunakan untuk menentukan kesesuaian wilayah perairan untuk ekowisata bahari kategori wisata snorkling mengacu modifikasi dari Yulianda (2007) adalah: kecerahan perairan, tutupan komunitas karang, jumlah gebus karang hidup, kecepatan arus, kedalaman terumbu karang, dan lebar hamparan datar karang. Kriteria kesesuaian lokasi pada setiap parameter untuk ekowisata bahari kategori wisata snorkling disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9 Kriteria kesesuaian lokasi untuk ekowisata bahari kategori snorkling No. Kriteria/parameter Kelas kesesuaian Bobot Skor/harkat 1. Kecerahan perairan (%) S 1 : > 80 - 100 S 2 : 35 - 80 N : < 35 5 3 2 1 2. Tutupan komunitas karang (%) S 1 : > 75 S 2 : 37 -75 N : < 37 5 3 2 1 3. Jumlah genus karang
hidup S 1 : > 30 S 2 : 20 - 30 N : < 20 4 3 2 1 4. Jenis ikan karang S 1 : > 50
S 2 : 30 - 50 N : < 30 4 3 2 1 5. Kecepatan arus (m/d) S 1 : 0 - 0,15 S 2 : > 0,15 - 0,40 N : > 0,4 3 3 2 1 6. Kedalaman terumbu karang (m) S 1 : 1 - 3 S 2 : > 3 - 6 N : > 6; < 1 3 3 2 1 7. Lebar hamparan datar
karang (m) S 1 : > 500 S 2 : > 100 - 500 N : < 100 3 3 2 1
Klasifikasi kelas kesesuaian dari total skor kesesuaian lokasi untuk ekowisata bahari kategori wisata snorkling dari perhitungan matriks di atas yaitu:
27 - 45 = Tidak Sesuai (N) 46 - 53 = Sesuai (S2)
54 - 81 = Sangat Sesuai (S1)
(c) Kriteria kesesuaian lokasi untuk wisata pantai kategori rekreasi
Parameter yang digunakan untuk menentukan kesesuaian lokasi untuk wisata pantai kategori rekreasi mengacu modifikasi dari Yulianda (2007) adalah: kedalaman perairan, tipe pantai, lebar pantai, substrat dasar perairan, kecepatan arus, kemiringan pantai, kecerahan perairan, penutupan lahan pantai, biota berbahaya, dan ketersediaan air tawar. Kriteria kesesuaian lokasi pada setiap parameter untuk wisata pantai kategori rekreasi disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Kriteria kesesuaian lokasi untuk wisata pantai kate gori rekreasi
No Kriteria/parameter Kelas kesesuaian Bobot Skor/harkat 1. Kedalaman perairan (m) S 1 : 0 - 3 S 2 : > 3 - 8 N : > 8 5 3 2 1 2. Tipe pantai S 1 : pasir putih
S 2 : pasir putih Sedikit karang N : lumpur, berbatu, Terjal 5 3 2 1 3. Lebar pantai (m) S 1 : > 15 S 2 : 6 -15 N : < 6 5 3 2 1 4. Substrat dasar perairan S 1 : pasir
S 2 : karang berpasir N : pasir berlumpur, lumpur. 4 3 2 1 5. Kecepatan arus (m/d) S 1 : 0 - 0,2 S 2 : > 0,2 - 0,4 N : > 0,4 4 3 2 1
Lanjutan Tabel 10.
No. Kriteria/parameter Kelas kesesuaian Bobot Skor/harkat 6. Kemiringan pantai (°) S 1 : < 10 S 2 : 10 – 25 N : > 25 4 3 2 1 7. Kecerahan perairan (m) S 1 : > 10 S 2 : > 5 – 10 N : < 5 3 3 2 1 8. Penutupan lahan pantai S 1 : kelapa, lahan
Terbuka S 2 : semak, belukar, rendah, savana N : hutan bakau, Pemukiman, pelabuhan 3 3 2 1
9. Biota berbahaya S 1 : tidak ada S 2 : bulu babi N : bulu babi, ikan Pari, lepu, hiu
3 3
2 1 10. Ketersediaan air tawar
(jarak dalam km) S 1 : < 0,5 S 2 : > 0,5 – 1 N : > 1 3 3 2 1
Sumber: Dimodifikasi dari Yulianda (2007)
Klasifikasi kelas kesesuaian dari total skor kesesuaian lokasi untuk wisata pantai kategori rekreasi dari perhitungan matriks di atas yaitu:
39 - 65 = Tidak Sesuai (N) 66 - 91 = Sesuai (S2)
92 - 117 = Sangat Sesuai (S1)
(d) Kriteria dan matriks kesesuaian lokasi untuk budidaya rumput laut Parameter yang digunakan untuk menentukan kesesuaian wilayah perairan untuk budidaya rumput laut mengacu modifikasi dari Pratomo (1999) adalah kedalaman, keterlindungan dari arus kuat dan gelombang, suhu, salinitas, substrat dasar perairan, kecerahan perairan, kecepatan arus, pH, dan oksigen terlarut. Kriteria kesesuaian lokasi setiap parameter secara rinci disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11 Kriteria kesesuaian lokasi untuk budidaya rumput laut
No. Kriteria/parameter Kelas kesesuaian Bobot Skor 1. Kedalaman (m) S1 : > 2,5 – 5,0 S2 : 5 - 10 N : < 2,5 ; > 10 2 3 2 1 2. Keterlindungan dari arus
Kuat dan Gelombang.
S1 : sangat terlindung S2 : terlindung
N : kurang, tidak terlindung
3 3 2 1 3. Suhu (oC) S1 : > 27 - 30 S2 : 25 - 27 N : < 25; > 30 2 3 2 1 4. Salinitas (o/oo) S1 : > 30 - 33 S2 : 28 - 30 N : < 28; > 33 2 3 2 1 5. Substrat dasar perairan S1 : pasir
S2 : karang N : pasir berlumpur, berlumpur 3 3 2 1 6. Kecerahan air (m) S1 : > 5 ( > 75 % ) S2 : 3,0 – 5 ( 50-75 % ) N : < 3,0 ( < 50 % ) 2 3 2 1 7. Kecepatan arus (m/dt) S1 : > 0,2 – 0,3 S2 : 0,1 – 0,2; > 0,3 – 0,4 N : < 0,1; > 0,4 3 3 2 1 8. pH S1 : > 7,0 – 8,5 S2 : 6 – 7; > 8,5 – 9,5 N : < 6,0; > 9,5 2 3 2 1 9. Oksigen terlarut (O2) S1 : > 4 S2 : 2 - 4 N : < 2,0 3 3 2 1
Sumber: Dimodifikasi dari Pratomo (1999)
Klasifikasi kelas kesesuaian dari total skor kesesuaian lokasi untuk budidaya rumput laut dari perhitungan matriks di atas adalah sebagai berikut:
22 – 36 = Tidak Sesuai (N) 37 – 50 = Sesuai (S2)
(e) Kriteria dan matriks kesesuaian lokasi untuk kegiatan budidaya kerapu Parameter yang digunakan untuk menentukan kesesuaian wilayah perairan untuk budidaya ikan kerapu sistem KJA mengacu modifikasi dari Bakosurtanal (1996) adalah: kedalaman, keterlindungan, suhu, salinitas, material dasar, kecerahan perairan, kecepatan arus, pH, oksigen terlarut. Kriteria kesesuaian lokasi pada setiap parameter secara rinci disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12 Kriteria kesesuaian lokasi untuk budidaya ikan kerapu sistem KJA No. Kriteria/parameter Kelas kesesuaian Bobot Skor 1. Kedalaman (m) S1 : > 10 - 20 S2 : 5 - 10 N : < 5; > 20 3 3 2 1 2. Keterlindungan dari Arus
kuat dan gelombang.
S1 : sangat terlindung S2 : terlindung N : kurang terlindung , terbuka. 3 3 2 1 3. Suhu perairan (oC) S1 : 28 – 29 S2 : 26 - 28; 29 – 31 N : < 26; > 31 2 3 2 1 4. Salinitas (o/oo) S1 : 29 – 31 S2 : 27 – 29; 31 – 33 N : < 27; > 33 2 3 2 1 5. Material dasar perairan S1 : pasir berlumpur
S2 : lumpur berpasir
N : karang berpasir, karang
2 3 2 1 6. Kecerahan perairan (m) S1 : > 5 ( > 75 %) S2 : 3 – 5 ( 50-75 % ) N : < 3 ( < 50 % ) 2 3 2 1 7. Kecepatan arus (m/dt) S1 : > 0,2 – 0,4 S2 : 0,1 – 0,2 N : < 0,1; > 0,4 2 3 2 1 8. pH S1 : > 7,0 – 8,5 S2 : 6 – 7; > 8,5 – 9,5 N : < 6,0; > 9,5 2 3 2 1 9. Oksigen terlarut (O2) S1 : > 5,0 S2 : 3 – 5 N : < 3,0 3 3 2 1
Klasifikasi kelas kesesuaian dari total skor kesesuaian lokasi untuk kegiatan budidaya ikan kerapu dari perhitungan matriks di atas adalah:
21 – 34 = Tidak Sesuai (N) 35 – 48 = Sesuai (S2)
49 – 63 = Sangat Sesuai (S1)
(f) Kriteria dan matriks kesesuaian lokasi untuk konservasi hutan bakau Parameter-parameter yang digunakan untuk menentukan kesesuaian wilayah konservasi hutan mangrove mengacu modifikasi dari Syafi’i (2000) adalah kemiringan lahan, jenis tanah, jarak dari pantai, ketinggian, dan drainase. Selengkapnya mengenai kriteria kesesuaian lokasi pada setiap parameter untuk konservasi hutan bakau (mangrove) dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13 Kriteria kesesuaian lokasi untuk konservasi hutan bakau (Mangrove) No. Kriteria/parameter Kelas kesesuaian Bobot Skor 1. Kemiringan lahan (%) S1 : 0 – 2 S2 : > 2 – 15 N : > 15 3 3 2 1 2. Jenis tanah S1 : Alluvial pantai
S2 : Alluvial, hidrolof kelabu. N : Gleihumus, regosol 2 3 2 1 3. Jarak dari pantai (m) S1 : < 200
S2 : 200 – 300 N : > 300 3 3 2 1 4. Ketinggian (m) S1 : 0 – 5 S2 : 5 - 10 N : > 10 2 3 2 1 5. Drainase S1 : Tergenang periodik
S2 : Tergenang periodik N : Tidak tergenang
3 3
2 1
Klasifikasi kelas kesesuaian dari total skor kesesuaian lokasi untuk konservasi hutan mangrove dari perhitungan matriks di atas yaitu:
13 – 21 = Tidak Sesuai (N) 22 – 29 = Sesuai (S2)
30 – 39 = Sangat Sesuai (S1)
(g) Kriteria dan matriks kesesuaian lokasi untuk budidaya teripang
Parameter yang digunakan untuk menentukan kesesuaian wilayah untuk budidaya teripang mengacu modifikasi dari Winanto, dkk. (1991) adalah keterlindungan, pencemaran, keamanan, sarana penunjang, dasar perairan, kondisi gelombang, ketersediaan sumber benih, kedalaman, kecerahan, kecepatan arus, suhu, salinitas, pH, dan DO. Selengkapnya mengenai kriteria kesesuaian tersebut disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14 Kriteria kesesuaian lokasi untuk budidaya teripang
No. Kriteria/parameter Kelas kesesuaian Bobot Skor 1. Faktor Penunjang
1) Keterlindungan S1 : Baik 3 3
S2 : Sedang 2
N : Kurang 1
2) Pencemaran S1 : Tidak ada 1 3
S2 : Sedikit 2
N : Ada 1
3) Keamanan S1 : Baik 1 3
S2 : Sedang 2
N : Kurang 1
4) Sarana penunjang S1 : Baik 1 3
S2 : Sedang 2
N : Kurang 1
2. Faktor Utama
1) Dasar perairan S1 : Pasir dan patahan karang
2 3
S2 : Pasir sedikit lumpur 2
N : Lumpur/karang 1
2) Kondisi gelombang S1 : Tenang 3 3
S2 : Sedang 2
Lanjutan Tabel 14.
No. Kriteria/parameter Kelas kesesuaian Bobot Skor 3) Ketersediaan sumber S1 : Dekat (Mudah) 2 3
benih S2 : Jauh (Cukup) 2
N : Sangat Jauh (Sulit) 1
4) Kedalaman (m) S1 : 5 - 10 2 3 S2 : >10 - 25 2 N : <5; > 25 1 5) Kecerahan (m) S1 : 4,5 – 6,5 2 3 S2 : 3,5 – 4,4; 6,6 – 7,7 2 N : < 3,5; > 7,7 1 6) Kecepatan arus (m/dt) S1 : 0,15 – 0,25 1 3 S2 : 0,1 – 0,15 2 N : < 0,1; > 0,3 1 7) Suhu (°C) S1 : 22 - 25 1 3 S2 : 26 - 29 2 N : 30 - 32 1 8) Salinitas (‰) S1 : 31 - 34 1 3 S2 : 27 - 30 2 N : < 27 1 9) pH S1 : 8,1 – 8,5 1 3 S2 : 7,5 - 8 2 N : < 7,5 1 10) DO (mg/l) S1 : 6 - 9 1 3 S2 : 4 - 6 2 N : < 4 1
Sumber: Dimodifikasi dari Winanto, et al. (1991)
Klasifikasi kelas kesesuaian dari total skor kesesuaian lokasi budidaya teripang dari perhitungan matriks di atas sebagai berikut:
22 – 36 = Tidak Sesuai (N) 37 – 50 = Sesuai (S2)
Proses penyusuna n peta kesesuaian kawasan untuk zona pemanfaatan di Taman Nasional Karimunjawa tersebut di atas diilustrasikan pada Gambar 5.
Data Primer Data Sekunder
Kriteria Kesesuaian Suatu Lahan (pengharkatan &
pembobotan) Overlay
Peta Tematik I Peta Tematik II Peta Tematik ke n
Peta Tentatif Kesesuaian Lahan I Overlay Peta Tentatif Kesesuaian Lahan II Peta Tentatif Kesesuaian Lahan ke n Basis Data Peta Kesesuaian Lahan I Peta Kesesuaian Lahan II Peta Kesesuaian Lahan ke n Peta Penggunaan / Pemanfaatan Lahan saat ini
Peta Kesesuaian Kawasan untuk Zona Pemanfaatan Taman Nasional Karimunjawa
Gambar 5 Proses penyusunan peta kesesuaian kawasan untuk Zona Pemanfaatan di Taman Nasional Karimunjawa
3.5.2 Analisis sosial, ekonomi dan budaya
Dalam pengelolaan taman nasional laut, selain kondisi biogeofisik (ekologis) analisis terhadap kondisi sosial-ekonomi dan budaya masyarakat setempat juga harus tetap diperhatikan agar tidak mengakibatkan degradasi nilai-nilai kultural, dan secara sosial ekonomi dapat memberdayakan masyarakat dan meningkatkan partisipasi. Analisis sosial ekonomi mencakup kependudukan, mata pencaharian dan pendapatan per kapita. Analisis terhadap aspek sosial budaya mencakup tata nilai budaya, struktur sosial dan persepsi masyarakat.
3.5.3 Analisis zonasi
Analisis spasial (keruangan) dalam penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan zonasi atas sumberdaya yang terdapat di kawasan konservasi Taman Nasional Laut Karimunjawa dalam mendukung kegiatan konservasi, pariwisata dan rekreasi serta pengembangan perikanan rakyat yang diwujud kan dalam bentuk zona inti, zona perikanan berkelanjutan, dan zona pemanfaatan sesuai dengan UU. N0. 31/2004.
Prosedur penyusunan zonasi kawasan TNL Karimunjawa dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan soft ware Arc.View versi 3,3. Pertama, diawali dengan menyusun peta kesesuaian lahan (land suitability) yang mencakup lahan dan perairan pesisir yang mengelilingi pulau tersebut. Kemudian peta kesesuaian lahan tersebut di tumpang susun/penampalan (overlay) dengan peta penggunaan lahan (peta land use). Selanjutnya hasil analisis kesesuaian lahan dikonsultasikan dengan masyarakat untuk memperoleh masukan/saran atau usulan sebagai pemberat dalam penentuan akhir kesesuaian lahan dan ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan atas kondisi sumberdaya dan penggunaan sumberdaya yang bersangkutan. Dalam penentuan zonasi, konsultasi dan penyerapan aspirasi/usulan masyarakat sangat penting agar dapat diterima masyarakat dan dapat diaplikasikan secara efektif. Kemudian, setelah melalui berbagai pendekatan untuk konsultasi dan sekaligus sosialisasi hasil, selanjutnya dapat ditetapkan zonasi akhir kawasan konservasi Taman Nasional Karimunjawa. Dari hasil penentuan zonasi secara spasial tersebut, akan dapat diketahui:
(1) Kawasan mana saja yang tersedia bagi kegiatan pembangunan atau konservasi, atau kawasan mana saja yang dijadikan sebagai kawasan lindung (zona inti).
(2) Kegiatan penggunaan kawasan apa saja yang diperbolehkan dan apa saja yang tidak diperbolehkan.
(3) Konflik yang terjadi antara kesesuaian kawasan dengan peruntukannya, penggunaan lahan dengan peruntukannya dan keharmonisan spasial dengan kawasan-kawasan lain di sekitarnya.
Secara skematis, proses penyusunan zonasi di kawasan Taman Nasional Karimunjawa disajikan pada Gambar 6.
Untuk mengkaji kesesuaian lokasi untuk suatu peruntukan (zona) dalam sistem zonasi, maka dibutuhkan penerapan kriteria. Kriteria yang digunakan dikelompokkan ke dalam kriteria ekologi, ekonomi, dan sosial (Salm et al., yang diacu dalam Bengen, 2000). Kelompok kriteria ekologi terdiri dari: keanekaragaman hayati, kealami an, keterwakilan, keunikan/kelangkaan jenis, integritas, produktivitas, dan kerentanan. Kelompok kriteria ekonomi terdiri dari: spesies penting, kepentingan perikanan, bentuk ancaman, manfaat ekonomi , kepentingan pariwisata, jasa lingkungan dari sumberdaya yang dapat terjual, potensi lapangan pekerjaan. Kelompok kriteria sosial terdiri dari: tingkat dukungan masyarak, tempat rekreasi, budaya, estetika, konflik kepentingan, keamanan, aksesibilitas, dan kepedulian masyarakat.
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk memadukan komponen kriteria ekologi, ekonomi dan sosial adalah metode skoring. Nilai-nilai skoring berkisar antara 1 hingga 3. Nilai 1 (satu) diberikan jika kondisi ekosistem/ sumberdaya adalah rendah (buruk), nilai 2 (dua) diberikan untuk kondisi sedang, dan nilai 3 (tiga) diberikan untuk kondisi tinggi (baik). Nilai-nilai hasil skoring kemudian diberi bobot berdasarkan penilaian para pakar terkait (ahli konservasi, ahli ekologi-ekosistem, ahli pengelolaan wilayah pesisir, ahli sosial dan kebijakan publik, dan ahli sosial ekonomi). Hasil skoring yang didapat berkisar antara 18, 31 hingga 30,96. Hasil skoring kemudian dibagi ke dalam 4 (empat) klasifikasi zonasi. Skor < 22,0 diklasifikasikan sebagai zona rehabilitasi, skor antara 22,0 – 24,90 diklasifikasikan sebagai zona pemanfaatan, skor antara > 24,90 – 27,80 diklasifikasikan sebagai zona perikanan berkelanjutan, dan skor > 27,80 diklasifikasikan sebagai zona inti. Penjabaran kriteria ekologi, ekonomi dan sosial serta masing-masing skornya dijelaskan berikut ini:
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk memadukan (1) Kriteria ekologi 1) Keanekaragaman hayati : (1) Keanekaragaman ekosistem : 1) Terumbu karang 2) Padang lamun 3) Rumput laut
4) Hutan bakau (mangrove)
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat 3 – 4 ekosistem Sedang (2) : bila terdapat 2 ekosistem Rendah (1) : bila terdapat 1 ekosistem
KAWASAN TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA
DATA PRIMER DATA SEKUNDER
SURVEI LAPANGAN BASIS DATA PETA DASAR
ANALISIS PENENTUAN ZONASI
PETA TENTATIF ZONASI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA
PETA ZONASI
KAWASAN TAM AN NASIONAL KARIMUNJAWA
- KESESUAIAN LAHAN
- USULAN / ASPIRASI
MASYARAKAT
- KONDISI/PEMANFAATAN
SAAT INI
Gambar 6 Proses penyusunan zonasi di Taman Nasional Karimunjawa KRITERIA: - EKOLOGI - SOSIAL - EKONOMI PLOTTING ZONASI
(2) Keragaman habitat
1) Terumbu karang penghalang (barrier reefs) 2) Terumbu karang pantai (fringing reefs) 3) Terumbu karang lagoon (lagoon reefs) 4) Padang lamun
5) Rumput laut
6) Hutan bakau (mangrove)
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat 4 – 6 habitat Sedang (2) : bila terdapat 2 – 3 habitat Rendah (3) : bila terdapat 1 habitat (3) Keragaman komunitas hayati, meliputi :
1) Karang 2) Ikan karang 3) Ikan pelagis 4) Krustasea
5) Moluska (bivalvia dan gastropoda) 6) Padang lamun
7) Rumput laut 8) Mangrove
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat 6 – 8 komunitas Sedang (2) : bila terdapat 3 – 5 komunitas Rendah (1) : bila terdapat 1 – 2 komunitas (4) Jumlah spesies karang, meliputi :
Tinggi (3) : bila terdapat ≥ 31 jenis Sedang (2) : bila terdapat 21 - 30 jenis Rendah (1) : bila terdapat = 20 jenis (5) Jumlah spesies ikan karang, meliputi :
Tinggi (3) : bila terdapat = 41 jenis Sedang (2) : bila terdapat 21 – 40 jenis Rendah (1) : bila terdapat = 20 jenis
(6) Jumlah spesies ikan pelagis, meliputi : Tinggi (3) : bila terdapat = 21 jenis
Sedang (2) : bila terdapat 11 – 20 jenis Rendah (1) : bila terdapat = 10 jenis (7) Jumlah spesies padang lamun, meliputi :
Tinggi (3) : bila terdapat = 11 jenis Sedang (2) : bila terdapat 6 – 10 jenis Rendah (1) : bila terdapat 1 – 5 jenis (8) Jumlah spesies rumput laut, meliputi : Tinggi (3) : bila terdapat = 11 jenis
Sedang (2) : bila terdapat 6 – 10 jenis Rendah (1) : bila terdapat 1 – 5 jenis (9) Jumlah spesies bakau (mangrove), meliputi :
Tinggi (3) : bila terdapat = 11 jenis Sedang (2) : bila terdapat 6 - 10 jenis Rendah (1) : bila terdapat ≤ 5 jenis 2) Kealamian, meliputi :
(1) Persen penutupan karang : Tinggi (3) : 50 - 100 %
Sedang (2) : 25 - 49 % Rendah (1) : < 25 %
(2) Keanekaragaman (lihat point 1) 3) Keterwakilan :
(1) Habitat terumbu karang (2) Habitat padang lamun (3) Habitat rumput laut (4) Habitat mangrove (5) Goba
(6) Daerah upwelling
Keterangan : Tinggi (3) : bila lokasi penelitian terdapat di 5 – 6 habitat Sedang (2) : bila lokasi penelitian terdapat di 3 – 4 habitat Rendah (1) : bila lokasi penelitian terdapat di 1 - 2 habitat
4) Keunikan/kelangkaan jenis (1) Karang
(2) Ikan karang (3) Ikan pelagis
(4) Krustasea (udang, lobster)
(5) Moluska (bivalvia dan gastropoda)
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat 4 – 5 komponen keunikan Sedang (2) : bila terdapat 2 – 3 komponen keunikan Rendah (1) : bila terdapat 1 – 2 komponen keunikan 5) Integritas
(1) Terumbu karang (2) Padang lamun (3) Rumput laut (4) Mangrove
Keterangan: Tinggi (3) : bila lokasi memiliki 3-4 komponen integritas Sedang (2) : bila lokasi memiliki 2 komponen integritas Rendah (1) : bila lokasi memiliki 1 komponen integritas 6) Produktivitas
Tinggi (3): bila lokasi penelitian merupakan daerah yang memiliki potensi ikan karang tinggi.
Sedang (2): bila lokasi penelitian merupakan daerah yang memiliki potensi ikan karang sedang.
Rendah (1): bila lokasi penelitian memiliki potensi ikan karang rendah. 7) Kerentanan
Tinggi (3) : bila jarak dari desa > 2 km Sedang (2) : bila jarak dari desa 1 - 2 km Rendah (1) : bila jarak dari desa < 1 km
(2) Kriteria ekonomi 1) Spesies penting
(1) Spesies ikan target/konsumsi
Keterangan : Tinggi (3) : bila jumlah keanekaragaman spesies target tinggi (H’ ≥ 4,0 - 6,9).
Sedang (2) : bila jumlah keanekaragaman spesies sedang (H’ 2,0 - 4,0).
Rendah (1) : bila jumlah keanekaragaman spesies rendah (H’ < 2,0).
2) Kepentingan perikanan
(1) Hasil tangkapan ikan pelagis
Keterangan : Tinggi (3) : bila hasil tangkapan ikan banyak ( > 100 kg) Sedang (2) : bila hasil tangkapan ikan sedang ( 50 -100 kg) Rendah (1) : bila hasil tangkapan ikan sedikit (< 50 kg) 3) Bentuk ancaman
Tinggi (3) : skornya tinggi, bila pemanfaatan sumberdaya ikan menggunakan alat tangkap tradisional (pancing, bubu). Sedang (2) : skornya sedang, bila wilayah perairannya hanya digunakan
untuk lalu lintas kapal motor dan jangkar perahu/kapal motor.
Rendah (1) : skornya rendah, bila dalam pemanfaatan sumberdaya menggunakan cara pengeboman, bahan kimia potassium sianida, dan cara-cara lain yang tidak ramah lingkungan. 4) Manfaat ekonomi
(1) Spesies penting tinggi
(2) Kepentingan untuk kegiatan perikanan tinggi (3) Kepentingan untuk pariwisata tinggi
(4) Kepentingan dalam ekonomi usaha tersedia dan terbuka (5) Aksesibilitas tinggi
Keterangan : Tinggi (3) : bila semua komponen terpenuhi
Sedang (2) : bila tiga sampai empat komponen terpenuhi Rendah (1) : bila satu sampai dua komponen terpenuhi
5) Kepentingan pariwisata
(1) Keanekaragaman hayati tinggi (2) Kealamian tinggi
(3) Keunikan tinggi (4) Keamanan tinggi
(5) Aksesibilitas tinggi
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat ke lima komponen pariwisata Sedang (2) : bila terdapat tiga sampai empat komponen Rendah (1) : bila terdapat satu sampai dua komponen 6) Jasa lingkungan dari sumberdaya yang dapat terjual :
(1) Ekowisata atau jasa wisata
(2) Hasil perikanan/hasil kebun atau pekarangan (3) Hasil kerajinan
(4) Keindahan alam
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat semua komponen di atas
Sedang (2) : bila terdapat dua sampai tiga komponen di atas Rendah (1) : bila terdapat satu komponen di atas
7) Potensi Lapangan Pekerjaan :
(1) Dapat menyerap atau membuka lapangan kerja di bidang perikanan bagi masyarakat desa setempat.
(2) Dapat menyerap atau membuka lapangan kerja di bidang pariwisata (3) Dapat menyerap atau membuka lapangan kerja di bidang usaha-usaha
ekonomi rumah tangga.
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat tiga komponen di atas Sedang (2) : bila terdapat dua komponen di atas Rendah (1) : bila terdapat satu komponen di atas (3) Kriteria sosial
1) Tingkat dukungan masyarakat (1) Pemerintah daerah (2) Pemerintah desa (3) Tokoh adat
(4) Tokoh agama (5) LSM
(6) Masyarakat
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat semua komponen dukungan masyarakat.
Sedang (2) : bila terdapat tiga sampai empat komponen dukungan.
Rendah (1) : bila terdapat satu sampai dua komponen dukungan.
2) Tempat rekreasi
(1) Tempat yang memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk digunakan.
(2) Tempat yang memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk dinikmati (3) Tempat belajar tentang lingkungan alam
(4) Memiliki keindahan alam dan kenyamanan untuk menikmati pemandangan.
(5) Ketertiban dan kebersihan tempat rekreasi terpelihara
(6) Tempat yang dapat digunakan untuk kegiatan rekreasi seperti snorkling, menyelam, mandi dan berjemur di pantai, memancing dan tidak membahayakan.
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat lima sampai enam komponen Sedang (2) : bila terdapat tiga sampa empat komponen Rendah (1) : bila terdapat satu sampai dua komponen rekreasi 3) Budaya
(1) Memiliki nilai keagamaan (religius) (2) Memiliki nilai sejarah
(3) Memiliki nilai seni (4) Memiliki nilai budaya
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat ke empat komponen budaya di atas Sedang (2) : bila terdapat dua sampai tiga komponen budaya Rendah (1) : bila terdapat satu komponen budaya
4) Estetika
(1) Persen penutupan karang hidup tinggi
(2) Kelimpahan dan keanekaragaman ikan karang tinggi (3) Terdapat keutuhan koloni karang
(4) Terdapat keragaman profil karang (5) Kejernihan air
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat empat sampai lima komponen estetika
Sedang (2) : bila terdapat dua sampai tiga komponen estetika Rendah (1) : bila terdapat satu komponen estetika
5) Konflik kepentingan
Tinggi (3) : bila lokasi tidak mempengaruhi kegiatan masyarakat Sedang (2) : bila lokasi cukup mempengaruhi kegiatan masyarakat Rendah (1) : bila lokasi sangat mempengaruhi kegiatan masyarakat 6) Keamanan
(1) Sedikit atau tidak ada gelombang besar dan arus kuat (2) Gelombang dan arus tidak kuat
(3) Tidak ada longsoran tanah
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat ke tiga komponn keamanan Sedang (2) : bila terdapat dua komponen keamanan Rendah (1) : bila terdapat satu komponen keamanan 7) Aksesibilitas
Tinggi (3) : bila jarak dekat (perjalanan kapal < 2 jam), dan tersedia alat transportasi laut.
Sedang (2) : bila jarak sedang (perjalanan > 2 - 3 jam) dan tersedia alat transportasi laut.
Rendah (1) : bila jarak jauh dan tidak tersedia alat transportasi laut 8) Kepedulian masyarakat
(1) Kegiatan masyarakat
(1) Pemberdayaan ekonomi yang diselenggarakan oleh Pemda dan Masyarakat.
(2) Pelatihan yang berkaitan dengan aspek ekonomi dan lingkungan hidup.
(4) Penelitian dan kerjasama yang berkaitan dengan sosekbud dan lingkungan.
Keterangan : Tinggi (3) : bila terdapat 3 – 4 komponen kegiatan Sedang (2) : bila terdapat 2 – 3 komponen kegiatan Rendah (1) : bila terdapat 1 komponen kegiatan atau Tidak terdapat kegiatan dari komponen di atas. (2) Keterlibatan masyarakat
Tinggi (3) : bila keterlibatan masyarakat di dalam pengawasan dan pemeliharaan sumberdaya termasuk sering (>4 kali/bulan). Sedang (2) : bila keterlibatan masyarakat di dalam pengawasan dan
pemeliharaan sumberdaya termasuk kadang-kadang (2 - 4 kali/bulan).
Rendah (1) : bila keterlibatan masyarakat di dalam pengawasan dan pemeliharaan sumberdaya jarang (< 2 kali/bulan) atau tidak ada keterlibatan dari masyarakat.
3.5.4 Analisis kebijakan pengelolaan taman nasional
Analisis kebijakan pengelolaan Taman Nasional Karimunujawa dilakukan dengan pendekatan A’WOT (SWOT yang diintegrasikan ke dalam AHP). Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi pengelolaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportnunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weakness), dan ancaman (Threats), (Rangkuti, 2000).
Dalam menentukan strategi yang terbaik, dilakukan pembobotan yang berkisar antara 0 – 1,0. Nilai 0 berarti tidak penting, dan nilai 1,0 berarti sangat penting. Di samping itu, diperhitungkan rating untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala dari 4 sampai dengan1. Selanjutnya antara bobot dan rating dikalikan untuk mendapatkan nilai skor, seperti pada Tabel 15.
Setelah masing-masing unsur SWOT diperhitungkan skornya, selanjutnya unsur-unsur tersebut dihubungkan keterkaitannya dalam bentuk matrik untuk memperoleh beberapa alternatif strategi pengelolaan. Secara rinci matrik SWOT disajikan pada Tabel 16.
Tabel 15 Pembobotan tiap unsur SWOT
Faktor strategi Bobot Rating Skor Ranking
Kekuatan : K 1 K 2 K 3 K ... Kelemahan : L 1 L 2 L 3 L ...
Faktor strategi Bobot Rating Skor Ranking
Peluang : P 1 P 2 P 3 P ... Ancaman : A 1 A 2 A 3 A ...
Tabel 16 Matrik SWOT
Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses) Peluang (Opportunities) Strategi kekuatan –
peluang KP 1 KP 2 KP 3
Strategi kelemahan – peluang LP 1
LP 2 LP 3
Ancaman (Threats) Strategi kekuatan – ancaman KA 1 KA 2 KA 3 Strategi kelemahan – ancaman LA 1 LA 2 LA 3
Kebijakan yang dihasilkan terdiri dari beberapa alternatif. Untuk menentukan prioritas kebijakan yang harus dilakukan, maka dilakukan penjumlahan skor yang berasal dari keterkaitan antara unsur-unsur SWOT yang terdapat dalam suatu alternatif kebijakan. Jumlah skor akan menentukan ranking prioritas alternatif kebijakan pengelolaan sumberdaya laut di kawasan Taman Nasional Karimunjawa (Tabel 17).
Tabel 17 Ranking alternatif kebijakan
No. Unsur SWOT Keterkaitan Jumlah skor Ranking
Kebijakan KP 1. KP 1 K1, K2 ... P1, P2 ... 2. KP 2 K1, K2 ... P1, P2 ... Kebijakan LP 3. LP 1 L1, L2 ... P1, P2 ... 4. LP 2 L1, L2 ... P1, P2 ... Kebijakan KA 5. KA 1 K1, K2 .. A1, A2 ... 6. KA 2 K1, K2 .. A1, A2 ... Kebijakan LA 7. LA 1 L1, L2 ... A1, A2 ... 8. LA 2 L1, L2 .. A1, A2 ...
Sedangkan “Analytical Hierarchy Process” (AHP) merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk menentukan prioritas alternatif kebijakan yang perlu mendapat perhatian bagi penentu kebijakan terutama dalam pengelolaan sumberdaya kawasan Taman Nasional Karimunjawa.
AHP adalah salah satu alat analisis dalam pengambilan keputusan yang baik dan fleksibel. Metode ini berdasarkan pada pengalaman dan penilaian dari pelaku/pengambil keputusan. Metode yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty dua puluh tahun yang lalu, terutama sekali membantu pengambil keputusan untuk menentukan kebijaksanaan yang akan diambil dengan menetapkan prioritas dan membuat keputusan yang paling baik ketika aspek kualitatif dan kuantitatif dibutuhkan untuk dipertimbangkan.
AHP pada dasarnya di desain untuk menangkap persepsi orang yang berhubungan sangat erat dengan permasalahan tertentu melalui prosedur yang di desain untuk sampai kepada suatu skala preferensi di antara berbagai alternatif. Metode ini menyusun masalah dalam bentuk hirarki dan memasukkan pertimbangan-pertimbangan untuk menghasilkan skala prioritas relatif. Kekuatan AHP terletak pada rancangannya yang bersifat holistik, menggunakan logika, pertimbangan berdasarkan intuisi, data kuantitatif dan preferensi kualitatif (Saaty, 1993).
Untuk menggunakan alat analisis ini, suatu masalah yang rumit dan tak berstruktur perlu terlebih dahulu dipecah ke dalam berbagai komponennya. Setelah menyusun komponen-komponen ini ke dalam sebuah urutan hierarki, maka diberikan nilai dalam bentuk angka kepada setiap bagian yang menunjukkan penilaian terhadap relatif pentingnya setiap bagian itu. Untuk sampai kepada hasil
akhir, penilaian tersebut disintesiskan (melalui penggunaan eigen vector) guna menentukan variabel mana mempunyai prioritas tertinggi (Budiharsono, 2001).
Asumsi yang digunakan oleh AHP adalah sebagai berikut: Pertama, harus terdapat sedikit (jumlah yang terbatas) kemungkinan tindakan, yakni: 1, 2, …,n yang adalah tindakan positif, n adalah bilangan yang terbatas. Responden diharapkan akan memberikan nilai dalam angka terbatas untuk memberi tingkat urutan/skala pentingnya atribut-atribut. Skala yang dipergunakan dapat apa saja, tergantung dari pandangan responden dan situasi yang relevan, walaupun demikian mengikuti pendekatan AHP dipergunakan metode skala angka Saaty mulai dari 1 yang menggambarkan antara satu atribut terhadap atribut lainnya sama penting dan untuk atribut yang sama selalu bernilai satu, sampai dengan 9 yang menggambarkan satu atribut ekstrim penting terhadap atribut lainnya. Penjelasan tentang angka skala Saaty disajikan pada Tabel 18.
Tabel 18 Skala angka Saaty Intensitas/
pentingnya Definisi Keterangan
1 Sama penting Dua aktivitas memberikan kontribusi
yang sama kepada tujuan 3
Perbedaan penting yang lemah antara yang satu terhadap yang lain.
Pengalaman dan selera sedikit menyebabkan yang satu lebih disukai daripada yang lain.
5 Sifat lebih pentingnya kuat
Pengalaman dan selera sangat menyebabkan penilaian yang satu lebih dari yang lain, yang satu lebih disukai dari yang lain.
7 Menunjukkan sifat sangat
penting.
Aktivitas yang satu sangat disukai dibandingkan dengan yang lain, dominasinya tampak dlm kenyataan.
9 Ekstrim penting
Bukti bahwa antara yang satu lebih disukai daripada yang lain menunjukkan kepastian tingkat tertinggi yang dapat dicapai.
2, 4, 6, 8 Nilai tengah diantara dua
penilaian.
Diperlukan kesepakatan (kompromi)
Resiprokal
Jika aktivitas i, dibandingkan dengan j, mendapat nilai bukan nol, maka j jika dibandingkan dengan i, mem punyai nilai kebalikannya.
Asumsi yang masuk akal
Rasional Rasio yang timbul dari skala
Jika konsistensi perlu dipaksakan dengan mendapatkan sebanyak n nilai angka untuk melengkapi matrik
Skema proses analisis kebijakan untuk arahan pengelolaan Taman Nasional Karimunjawa disajikan pada Gambar 7.
LEVEL 1
Fokus
PENGELOLAAN SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT KAWASAN TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA SECARA BERKELANJUTAN
LEVEL 2 Komponen SWOT LEVEL 3 Faktor SWOT LEVEL 4 Strategi Kebijakan S W O T a b c d a b c d a b c d a b c d 1 2 3 4 5 6 7 8