3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di perairan Pulau Hari Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Lokasi penelitian ditentukan dengan alasan bahwa perairan Pulau Hari memiliki hamparan ekosistem terumbu karang, dan telah dijadikan sebagai obyek wisata oleh masyarakat Kota Kendari. Penelitian ini berlangsung pada bulan Maret – Juni 2009.
3.2 Penentuan Stasiun Penelitian
Penentuan stasiun penelitian didasarkan pada pengamatan kualitatif observasi lapangan yang dilakukan berdasarkan hasil klasifikasi data citra satelit. Dari hasil pengolahan data citra satelit yang dilakukan, akan diperoleh gambaran tentang kondisi dan penyebaran komunitas karang secara umum, luas hamparan komunitas karang, serta kondisi biofisik daratan, sehingga dapat ditentukan sites yang tepat untuk dilakukan pengambilan data biofisk. Titik pengambilan data komunitas karang dan ikan karang ditentukan secara purposif sebanyak 7 titik, yang kemudian koordinat titik tersebut ditetapkan dengan bantuan GPS (global position system). Sebelum menentukan titik sampling, dilakukan survei manta tow untuk melihat gambaran secara umum kondisi komunitas karang. Penentuan titik sampling dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain luas hamparan terumbu karang, keragaman lifeform, dan kondisi baik buruknya komunitas terumbu. Kombinasi tersebut dimaksudkan agar penentuan stasiun dan jumlah titik menjadi lebih representatif.
Penilaian persepsi pengunjung dilakukan dengan cara interview atau wawancara dengan beberapa responden/wisatawan. Wawancara yang dilakukan dipusatkan pada masyarakat Kota Kendari yang pernah melakukan kunjungan wisata ke Pulau Hari. Interview yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui persepsi mereka (wisatawan) terhadap kegiatan wisata bahari Pulau Hari.
Gambar 2 Peta lokasi penelitian perairan Pulau Hari Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan Prov. Sulawesi Tenggara
Lokasi Penelitian Sosek • ST II • ST VII • ST I • ST VI • ST III • ST V • ST IV
3.3 Metode Pengambilan Data 3.3.1 Jenis dan sumber data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung di lapangan dengan cara pemantauan langsung kondisi komunitas karang yang terdapat dilokasi wisata bahari. Jenis data yang dibutuhkan dan peralatan yang digunakan selama proses penelitian disajikan pada Tabel berikut.
Tabel 1 Jenis data yang dibutuhkan, metode pengumpulan, peralatan yang digunakan dan sumber data dalam penelitian.
Komponen Data Metode Pengumpulan Data
Sumber Data Alat/bahan yang digunakan 1 2 3 4 A. Komponen Biofisik 1. Tutupan komunitas karang 2. Jenis pertumbuhan terumbu karang (life form)
3. Jenis ikan karang 4. Kedalaman perairan 5. Kecepatan arus 6. Kecerahan perairan B. Sosial Ekonomi 1. Analisis permintaan wisata. 2. Persepsi masyarakat dan pengunjung Pengukuran di lapangan, interpretasi citra Pengukuran di lapangan Visual Sensus Pengukuran di Lapangan Pengukuran di lapangan Pengukuran di lapangan Wawancara dan data sekunder Wawancara dan data sekunder Insitu Citra Landsat Insitu Insitu Insitu Insitu Insitu Insitu, BPS Insitu, BPS Fins, Masker, Snorkel, GPS sda sda Meteran, GPS Current meter Meteran, GPS Sechhi disk Kuesioner Kuesioner C. Peta Pendukung 1. Citra Satelit Landsat 7
ETM+ 2005
Biotrop Daftar Isian
3.3.2 Metode pengambilan data sosial ekonomi
Data-data yang berkaitan dengan dukungan sosial dilakukan dengan cara observasi lapangan. Dalam hal ini, peneliti melakukan penilaian langsung terhadap parameter yang telah ditetapkan sebagai atribut sosial. Untuk memperoleh data yang berkaitan dengan permintaan wisata dilakukan dengan cara wawancara langsung dengan wisatawan/responden, dengan menggunakan kuisioner sebagai panduan dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Penentuan jumlah responden berdasarkan teknik snowball sampling, yakni teknik sampling yang semula berjumlah kecil kemudian anggota sampel (responden) mengajak sahabatnya untuk dijadikan sampel dan seterusnya sehingga jumlah sampel semakin banyak. Perkiraan jumlah responden yang dibutuhkan sebanyak 30 responden. Metode tersebut dilakukan mengingat jumlah wisatawan yang berkunjung di perairan Pulau Hari tidak diketahui secara pasti dan belum ada pencatatan yang dilakukan sebelumnya.
3.3.3 Metode pengambilan data terumbu karang dan ikan karang
Metode yang digunakan untuk penentuan kondisi komunitas karang adalah metode transek garis (line intercept transect), dengan mengidentifikasi bentuk pertumbuhan karang (lifeform) dan menghitung persentase tutupan komunitas karang. Panjang transek yang digunakan adalah 50 meter (English et all, 1994). Pengambilan data kondisi terumbu karang dan ikan karang dilakukan pada kedalaman 3 meter dan 10 meter. Dua kedalaman tersebut dianggap mewakili kondisi terumbu karang karena biasanya karang tumbuh dengan baik dan keragaman jenis karang tinggi pada kedalaman tersebut (Soekarno, 1994).
Pengambilan data ikan karang dilakukan dengan menggunakan metode sensus visual (underwater visual census). Pengamatan ini dilakukan pada transek garis transek yang digunakan untuk pengamatan komunitas karang. Setelah rol meter dibentangkan, stasiun pengamatan dibiarkan kembali selama beberapa menit sampai kondisi perairan menjadi seperti semula. Pencatatan ikan karang dilakukan di atas transek garis sepanjang 50 m dan mencatat seluruh spesies ikan dan jumlah individu yang ditemukan sejauh 2.5 m sisi kiri dan 2.5 m sisi kanan sepanjang transek garis (English et all, 1994).
3.4 Analisis Data
3.4.1 Analisis kondisi terumbu karang dan ikan karang
Untuk mengetahui kondisi tutupan komunitas karang pada lokasi penelitian, data hasil pengamatan dianalisis dengan cara menghitung persentase penutapan komunitas karang hidup (biotik). Rumus yang digunakan untuk
menghitung persentase tutupan komunitas karang adalah sebagai berikut (English, et al. 1994):
??????? ????? ? ????? ?????? ?? ????????? ? ? ? ?? ?? ???????? ? ? ? ? ?
Dengan demikian, dapat diketahui tingkat kerusakan berdasarkan persentase penutupan komunitas karang hidup. Kriteria persentase tutupan komunitas karang yang digunakan, berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 2001 tentang kriteria baku kerusakan terumbu karang dengan kategori sebagai berikut:
1. persentase penutupan : 0 – 24.9 % (kategori rusak) 2. persentase penutupan : 25 – 49.9 % (kategori sedang) 3. persentase penutupan : 50 – 74.9 % (kategori baik) 4. persentase penutupan : 75 – 100 % (kategori baik sekali)
3.4.2 Analisis kesesuaian ekowisata bahari kategori wisata selam
Setiap kegiatan wisata mempunyai persyaratan sumberdaya dan lingkungan yang sesuai dengan obyek wisata yang akan dikembangkan. Masing-masing jenis kegiatan wisata memiliki parameter kesesuaian yang berbeda-beda antara jenis kegiatan yang satu dengan kegiatan wisata lainnya. Parameter kesesuaian tersebut disusun kedalam kelas kesesuaian untuk masing-masing jenis kegiatan wisata. Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks kesesuaian kegiatan wisata adalah sebagai berikut (Yulianda, 2007):
IKW = ? [Ni/Nmaks] x 100 %
dimana :
IKW = indeks kesesuaian wisata
Ni = nilai parameter ke- i (bobot x skor)
Nmaks = nilai maksimum dari suatu kategori wisata
Dalam penelitian ini, kelas kesesuaian ekowisata bahari dibagi dalam 4 (empat) kelas kesesuaian, yakni : sangat sesuai (S1), sesuai (S2), sesuai bersyarat (S3) dan tidak sesuai (TS). Defenisi masing-masing kelas kesesuaian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kategori S1: kelas ini tergolong sangat sesuai (highly suitable), tidak mempunyai faktor pembatas yang berat untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, atau hanya mempunyai pembatas yang kurang berarti dan tidak berpengaruh secara nyata.
2. Kategori S2: cukup sesuai (quite suitable), pada kelas kesesuaian ini mempunyai faktor pembatas yang agak berat untuk suatu penggunaan kegiatan tertentu secara lestari. Faktor pembatas tersebut akan mengurangi produktivitas lahan dan keuntungan yang diperoleh serta meningkatkan input untuk mengusahakan lahan tersebut.
3. Kategori S3: sesuai bersyarat, pada kelas kesesuaian ini mempunyai faktor pembatas yang lebih banyak untuk dipenuhi. Faktor pembatas tersebut akan mengurangi produktivitas sehingga untuk melakukan kegiatan wisata, faktor pembatas tersebut harus benar-benar lebih diperhatikan sehingga stabilitas ekosistem dapat dipertahankan.
4. Kategori TS: tidak sesuai (not suitable), yakni mempunyai faktor pembatas berat/parmanen, sehingga tidak memungkinkan untuk mengembangkan jenis kegiatan wisata secara lestari.
Kelas kesesuaian wisata diperoleh dari perkalian antara bobot dan skor dari masing-masing parameter. Kesesuaian wisata selam mempertimbangkan 6 parameter dengan empat klasifikasi penilaian. Parameter kesesuaian tersebut meliputi kecerahan perairan, tutupan komunitas karang, lifeform, jumlah jenis ikan karang, kecepatan arus dan kedalaman terumbu karang.
Pemberian bobot berdasarkan tingkat kepentingan suatu parameter, sedangkan pemberian skor berdasarkan kualitas setiap parameter kesesuaian. Setelah menentukan bobot dan skor, maka nilai indeks kesesuaian wisata (IKW) dihitung berdasarkan total perkalian bobot dan skor semua parameter. Untuk wisata selam, kategori sangat sesuai berada pada kisaran nilai 44.82 – 54. Kategori cukup sesuai berada pada kisaran nilai 27 – < 44.82, kategori sesuai bersyarat berada pada kisaran nilai 9.18 – < 27 , dan kisaran nilai kurang dari 9.18 merupakan kategori tidak sesuai. Berikut ini akan disajikan matriks kesesuaian ekowisata bahari kategori wisata selam.
Tabel 2 Matriks kesesuaian ekowisata bahari kategori wisata selam
No Parameter Bobot Kategori S1 Kategori S2 Kategori S3 Kategori TS Keterangan 1. Kecerahan perairan (%) 5 > 80 60 – 80 30 - < 60 < 30 Nilai Skor: Kategori S1 = 3 Kategori S2 = 2 Kategori S3 = 1 Kategori TS = 0 Nilai Maksimum bobot x skor = 54 2. Tutupan komunitas karang (%) 5 > 75 50 – 75 25 – 50 < 25 3. Jenis life form
karang 3 > 12 7 – 12 4 – 7 < 4
4. Jumlah jenis ikan
karang 3 > 100 50 – 100 20 - < 50 < 20 5. Kecepatan arus (cm/dtk) 1 0 – 15 > 15 – 30 > 30 – 50 > 50 6. Kedalaman terumbu karang (m) 1 6 – 15 > 15 – 20 3 – 6 > 20 – 30 > 30 < 3 Sumber : Yulianda, 2007 Keterangan : Nilai maksimum = 54
S1 = sangat sesuai, dengan nilai 83 – 100 % S2 = cukup sesuai, dengan nilai 50 – < 83 % S3 = sesuai bersyarat, dengan nilai 17 - < 50 % TS = tidak sesuai, dengan nilai < 17 %
3.4.3 Analisis kesesuaian ekowisata bahari kategori wisata snorkling
Kesesuaian wisata bahari kategori wisata snorkling mempertimbangkan tujuh parameter dengan empat klasifikasi penilaian. Parameter tersebut meliputi kecerahan perairan, tutupan komunitas karang, lifeform, jenis ikan karang, kecepatan arus, kedalaman terumbu karang, dan lebar hamparan datar karang.
Sama halnya dengan penentuan tingkat kesesuaian wisata selam, bobot dan skor untuk setiap parameter diperkalikan sehingga diperoleh total nilai kesesuaian. Kesesuaian wisata snorkling, kategori sangat sesuai berada pada kisaran nilai 47.31 – 57. Kategori cukup sesuai berada pada kisaran nilai 28.5 – < 47.31, kategori sesuai bersyarat berada pada kisaran nilai 9.69 – < 28.5, dan kisaran nilai kurang dari 9.69 merupakan kategori tidak sesuai. Bobot dan kategori masing-masing kelas kesesuaian disajikan pada Tabel 3 sebagai berikut.
Tabel 3 Matriks kesesuaian ekowisata bahari kategori wisata snorkling
No Parameter Bobot Kategori S1 Kategori S2 Kategori S3 Kategori TS Keterangan 1. Kecerahan perairan (%) 5 100 80 – <100 60 - < 80 < 20 Nilai Skor: Kategori S1 = 3 Kategori S2 = 2 Kategori S3 = 1 Kategori TS = 0 Nilai Maksimum bobot x skor = 57 2. Tutupan komunitas karang (%) 5 > 75 > 50 – 75 25 – 50 < 25 3. Jenis life form
karang 3 > 12 < 7 – 12 4 – 7 < 4
4. Jumlah jenis ikan
karang 3 > 50 30 – 50 10 - < 30 < 10 5. Kecepatan arus (cm/dtk) 1 0 – 15 > 15 – 30 > 30 – 50 > 50 6. Kedalaman terumbu karang (m) 1 1 – 3 > 3 – 6 > 6 – 10 > 10 < 1 7. Lebar hamparan datar karang (m) 1 > 500 >100 – 500 20 – 100 < 20 Sumber : Yulianda, 2007 Keterangan : Nilai maksimum = 57
S1 = sangat sesuai, dengan nilai 83 – 100% S2 = cukup sesuai, dengan nilai 50 – < 83 % S3 = sesuai bersyarat, dengan nilai 17 - < 50 % TS = tidak sesuai, dengan nilai < 17 %
3.4.4 Analisis daya dukung ekowisata bahari
Mengingat pengembangan wisata bahari tidak bersifat mass tourism, mudah rusak dan ruang untuk pengunjung sangat terbatas, maka perlu menentukan daya dukung kawasan. Metode yang diperkenalkan untuk menghitung daya dukung pengembangan ekowisata, menggunakan konsep Daya Dukung Kawasan (DDK). Daya Dukung Kawasan adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Daya Dukung Kawasan dih itung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Yulianda, 2007) :
? ? ? ? ? ? ?? ?? ? ? ? ? ?? ? dimana : DDK = daya dukung kawasan
Lp = luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan Lt = unit area untuk kategori tertentu
Wt = waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari
Wp = waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu
Luas suatu area yang dapat digunakan untuk kegiatan wisata, mempertimbangkan kemampuan alam mentolerir pengunjung, sehingga sumberdaya tetap terjaga. Potensi ekologis pengunjung masing-masing kegiatan wisata dan waktu yang dibutuhakan setiap jenis kegiatan wisata selengkapnya disajikan pada Lampiran 10 dan Lampiran 11.
3.4.5 Nilai ekonomi wisata
Aktivitas wisata pada dasarnya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Nilai ekonomi kegiatan wisata dapat diduga dengan pedekatan permintaan wisata. Dalam menentukan fungsi permintaan terhadap kunjungan ke tempat wisata, umumnya dapat dilakukan dengan pendekatan metode biaya perjalanan (Travel Cost Method – TCM). Metode TCM merupakan metode yang pertama kali digunakan untuk menduga nilai ekonomi sebuah komoditi yang tidak memiliki nilai pasar (non-market goods) (Adrianto, 2006; Fauzi, 2006). Pendekatan TCM dilakukan dengan menggunakan teknik ekonometrik seperti regresi sederhana. Dengan teknik tersebut pendugaan surplus konsumen dapat dilakukan, melalui identifikasi hubungan antara jumlah kunjungan dengan biaya perjalanan dan faktor-faktor penunjang lainnya. Asumsinya adalah semakin besar biaya perjalanan, semakin sedikit tingkat kunjugan, atau sebaliknya semakin besar income semakin besar tingkat kunjungan yang dilakukan. Asumsi tersebut berdasarkan teori permintaan, bahwa semakin tinggi harga suatu komoditi, maka permintaan komoditi tersebut akan semakin menurun.
Setelah dilakukan analisis dengan menggunakan teknik ekonometrika, diperoleh nilai koefisien ß1 (faktor biaya perjalanan) yang diharapkan bertanda negatif justru bertanda positif, sehingga secara teoritis tidak bisa diterima untuk
menduga nilai ekonomi wisata dengan teknik ekonometrika. Dengan demikian, maka untuk menduga nilai ekonomi wisata Pulau Hari dilakukan dengan cara rata-rata biaya perjalanan yang keluarkan oleh responden dikali total kunjungan wisata (Barton, 1994). Kelebihan metode ini adalah dapat menduga nilai ekonomi wisata, yang tidak dapat dianalisis dengan teknik ekonometrika, yang umumnya digunakan untuk dalam pendekatan TCM. Metode ini menghitung rata-rata biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh wisatawan dengan total kunjungan yang dilakukan. Kelemahan dari metode ini adalah tidak menggambarkan trend kunjungan wisata yang dilakukan.
Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara jumlah kunjungan wisata (variabel y) dengan variabel-variabel peubah (variabel x), seperti biaya perjalanan wisata, pendapatan responden, jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan digunakan uji Chi-Square, dengan rumus sebagai berikut:
? ? s ?s ?? ??? ???? ??
dimana : Oij = frekuensi observasi pada baris i kolom j Eij = frekuensi harapan pada baris i kolom j Eij = (S bi) (S ki)/n
Derajad bebas = (k–1)(b-1) Hipotesis untuk kasus ini adalah sebagai berikut:
H0 = tidak ada hubungan antara variabel y dengan variabel x H1 = ada hubungan antara antara variabel y dengan variabel x
3.4.6 Analisis tingkat dukungan sosial
Pengembangan kegiatan wisata bahari dapat dilakukan secara berkelanjutan apabila mendapat dukungan secara sosial. Dukung sosial dapat diartikan sebagai keterterimaan sosial terhadap pengembangan kegiatan wisata. Teknik yang digunakan untuk menentukan tingkat dukungan sosial adalah dengan menggunakan metode analisis multiatribut. Atribut sosial dimaksud meliputi tingkat keamanan, penerimaan masyarakat lokal, dukungan pemerintah, sarana transportasi laut, peruntukan kawasan, ketersediaan peralatan wisata, akomodasi dan ketersediaan air tawar.
Dari delapan atribut sosial yang tetapkan, faktor tingkat keamanan dan penerimaan masyarakat lokal merupakan key atribute, artinya apabila salah satu atribut tersebut memperoleh skor nol (0), secara otomatis dinyatakan bahwa kegiatan wisata bahari tidak mendapat dukungan secara sosial. Setiap atribut memiliki bobot dan skor, dimana pemberian bobot berdasarkan tingkat kepentingan suatu parameter terhadap pengembangan kegiatan wisata. Bobot yang diberikan adalah 1, 3 dan 5. Kriteria pemberian bobot setiap atribut adalah sebagai berikut:
1. Bobot 5 adalah parameter yang sangat penting dan merupakan parameter kunci (key atribute) yakni parameter tingkat keamanan dan penerimaan masyarakat lokal. Faktor keamanan sangat penting dalam pengembangan wisata karena meskipun suatu daerah/negara mempunyai keindahan alam yang sangat menawan dan keanekaragaman budaya yang sangat unik, wisatawan tidak akan berani berkunjung ke daerah/negara itu bila mereka menganggap daerah/negara tersebut tidak aman bagi dirinya (Richter, 1992). Sementara itu penerimaan masyarakat lokal juga merupakan atribut yang sangat penting dalam penembangan wisata, hal ini disebabkan karena apabila masyarakat lokal tidak menerima wisatawan yang datang, maka akan menimbulkan konflik antara pengunjung dan masyarakat lokal. 2. Bobot 3 adalah parameter yang tergolong cukup penting, yakni parameter dukungan pemerintah, sarana transportasi dan parameter peruntukan kawasan. Pengembangan wisata bahari, dimana terjadi pemanfaatan sumberdaya dan kawasan memerlukan kebijakan dan dukungan pemerintah. Tanpa dukungan pemerintah, pengembangan suatu kawasan wisata tidak memiliki kekuatan hukum.
3. Bobot 1 adalah parameter yang tidak penting, artinya tanpa parameter ini kegiatan wisata masih bisa dilakukan. Parameter tersebut adalah ketersediaan peralatan wisata, akomodasi dan ketersediaan air tawar. Semakin penting suatu parameter, bobot yang diberikan juga semakin besar. Matriks analisis multiatribut disajikan pada Lampian 7. Pemberian skor setiap atribut berdasarkan hasil penilaian secara langsung dilapangan dan melakukan kajian terhadap dokumen perencanaan yang ada. Setelah menentukan
bobot dan skor, maka tingkat dukungan sosial dihitung berdasarkan total perkalian bobot dan skor semua parameter. Definisi masing-masing atribut adalah sebagai berikut:
1. Tingkat keamanan adalah kondisi dimana tidak terjadi gejolak sosial yang dapat mengganggu keamanan atau mengancam jiwa seseorang. Tingkat keamanan memiliki bobot yang besar karena faktor keamanan memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan wisata.
2. Penerimaan masyarakat lokal adalah sikap masyarakat lokal terhadap wisatwan atau pengunjung yang melakukan kunjungan wisata.
3. Dukungan pemerintah adalah tingkat partisipasi pemerintah terhadap pengembangan kegiatan wisata bahari. Dukungan tersebut dapat berupa bangunan fisik seperti kebijakan, pembangunan dermaga, jasa telekomunikasi dan akomodasi, maupun kebijakan seperti RTRW dan/atau RENSTRA yang menetapkan kawasan tersebut sebagai obyek wisata. 4. Sarana transportasi laut adalah kendaraan laut yang digunakan wisatawan
untuk dipakai dalam perjalanan wisata, mulai dari dermaga atau pelabuhan sampai ke obyek wisata yang menjadi tujuan.
5. Peruntukan kawasan adalah peruntukan jenis kegiatan pemanfaatan yang terdapat dikawasan wisata. Peruntukan kawasan dimaksudkan untuk mengetahui jenis kegiatan pemanfaatan yang dapat dilakukan di suatu kawasan, apakah sebagai kawasan konservasi, kawasan pengembangan perikanan, atau sebagai kawasan pengembangan wisata.
6. Peralatan wisata adalah peralatan yang digunakan untuk melakukan kegiatan wisata, utamanya yang berkaitan dengan wisata selam dan wisata snorkling.
7. Akomodasi adalah tempat untuk peristirahatan atau penginapan bagi wisatawan yang melakukan kunjungan. Tempat peristirahatan yang dimaksud dapat berupa wisma, cottage, dan rumah penduduk.
8. Ketersediaan air tawar adalah keberadaan sumber air tawar yang digunakan oleh wisatawan setelah melakukan kegiatan selam dan snorkling.
dan peneliti hanya melakukan penilaian terhadap parameter-parameter yang telah ditetapkan terkait dengan kegiatan wisata bahari, khususnya wisata selam dan wisata snorkling. Namun demikian kelemahan dari metode ini adalah penilaian yang dilakukan dapat saja bersifat subyektif, karena nilai masing-masing parameter sangat ditentukan oleh peneliti. Indikator dalam memberikan nilai skor masing-masing atribut dapat disajikan pada Lampiran 8.
3.4.7 Analisis persepsi wisatawan
Analisis persepsi wisatawan dilakukan untuk mengetahui persepsi mereka terhadap variabel-veriabel pendukung yang terkait dengan kegiatan wisata selam dan wisata snorkling di peraiaran Pulau Hari. Analisis persepsi ini menggunakan skala pengukuran (skala likert). Variabel-variabel yang terkait dengan kegiatan wisata adalah tingkat kenyamanan, ketersediaan sarana transportasi laut, akomodasi, ketersediaan air tawar, ketersediaan peralatan wisata, keindahan alam, dukungan pemerintah, penerimaan masyarakat lokal, dan biaya perjalanan. Variabel-variabel tersebut diformulasikan dalam bentuk pertanyaan yang disusun menjadi sebuah kuisioner. Selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 9.
Setiap veriabel memiliki skor, dimana skor terkecil adalah 1 (satu) dan skor terbesar adalah 5 (lima). Pemberian skor tersebut berdasarkan persepsi wisatawan terhadap setiap variabel. Jika jumlah responden (n) = 30 orang, maka jumlah skor tertinggi 5 x 30 = 150 dan jumlah skor terrendah 1 x 30 = 30. Kriteria interpretasi skor sebagai berikut:
Skor : 30 – 53 = tidak mendukung 54 – 77 = kurang mendukung 78 – 101 = cukup mendukung 102 – 125 = mendukung 126 – 150 = sangat mendukung