• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL PENELITIAN DOSEN PEMULA UNIVERSITAS LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROPOSAL PENELITIAN DOSEN PEMULA UNIVERSITAS LAMPUNG"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL

PENELITIAN DOSEN PEMULA UNIVERSITAS LAMPUNG

PROGRAM STUDI SUMBERDAYA AKUATIK FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG 2021

Kajian Kesesuaian dan Strategi Pengelolaan Ekowisata Bahari Pantai Kerang Mas, Kec. Labuhan Maringgai, Lampung Timur untuk

Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan

(2)

i DAFTAR ISI

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR

RINGKASAN ... 1

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 2

1.2. Perumusan Masalah ... 3

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.4. Urgensi Penelitian ... 3

1.5. Target Penemuan dan Kontribusi pada Ilmu Pengetahuan ... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Ekowisata ... 5

2.2. Kegiatan Ekowisata ... 6

2.3. Pariwisata Berkelanjutan ... 7

2.4. Road Map Penelitian ... 8

III. METODE PENELITIAN 3.1. Bagan Alir Penelitian... 9

3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 10

3.3. Ruang Lingkup Penelitian ... 10

3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 13

3.5. Analisis Data... 16

IV. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN 4.1. Anggaran Biaya ... 18

4.2. Jadwal Penelitian ... 18 REFERENSI

(3)

ii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Daftar Objek Wisata Perairan ... 6 Tabel 2. Daftar Kegiatan Wisata Perairan... 7 Tabel 3. Nilai indek kesesuai wisata bahari (IKW) untuk kegiatan Rekreasi

Pantai Perairan ... 11 Tabel 4. Nilai indek kesesuai wisata bahari (IKW) untuk kegiatan

Snorkeling ... 11 Tabel 5. Nilai indek kesesuai wisata bahari (IKW) untuk kegiatan Snelam .. 12 Tabel 6. Rencana Anggaran Biaya Penelitian ... 17 Tabel 7. Rincian Anggaran Biaya Penelitian ... 17 Tabel 8. Jadwal Penelitian... 18

(4)

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Road Map Penelitian ... 8 Gambar 2. Fishbone Diagram Metode Penelitian ... 8 Gambar 3. Metode Visual Sensus untuk Terumbu karang dan Ikan

Karang ... 16

(5)

1 RINGKASAN

Salah satu yang menjadi sektor basis pertumbuhan ekonomi daerah adalah pariwisata. Keberlanjutan pariwisata merupakan suatu proses yang kontinyu dalam mengawasi dampak serta implementasi dari pencegahan dalam suatu aktivitas pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat keberlanjutan ekowisata Pantai Kerang Mas, Kec. Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Dalam menilai keberlanjutan wisata bahari, ruang lingkup materi yang akan dianalisis adalah ekologi, ekonomi, sosial budaya, infrastruktur dan teknologi, serta kelembagaan sebagai aspek dalam komponen keberlanjutan yang harus diintegrasikan untuk mengevaluasi performa “baik” dan “buruk” dalam pengembangan wisata bahari di Pantai Kerang Mas. Metode kuantitatif dibentuk pada hasil akhir dari metode kuantitatif untuk menjelaskan lebih lanjut

Penelitian ini terdiri dari 3 tahap penilaian parameter kegiatan wisata, yaitu parameter nilai indeks kesesuaian wisata (IKW) kegiatan rekreasi pantai, snorkeling dan selam. Parameter – parameter yang diukur adalah Kecerahan, kedalaman perairan, tipe pantai, lebar pantai, material dasar perairan, kecepatan arus, kemiringan pantai, penutupan lahan pantai, biota berbahaya, ketersediaan air tawar, kedalaman terumbu karang, jenis life form, tutupan komunitas karang dan jenis ikan karang. Analisis data meliputi Analisis nilai IKW (Indeks Kesesuaian Wisata) untuk kegiatan rekreasi pantai, snorkeling, dan selam. Untuk Analisis data Terumbu Karang menggunakan pada parameter kegiatan snorkeling dan selam menggunakan anlisis CPCE ( CORAL POINT COUNT WITH EXCEL EXTENSIONS). Analisis strategi pengembangan menggunakan Analisis SOAR (Strengths, Opportunities, Aspirations, Results). Luaran penelitian ini diharapkan dapat menyediakan data yang valid tentang nilai kesesuai wisata Pulau Pahawang saat ini yang selanjutnya sebagai acuan kajian pengelolaan pariwisata berkelanjutan.

Kata Kunci : ekowisata, indeks kesesuaian wisata, SOAR

(6)

2 BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kabupaten Lampung Timur mempunyai kawasan pantai Pesisir Timur Lampung dengan luas 316. 437 ha. Salah satu wisata pantai yang di miliki Kabupaten Lampung Timur yaitu Pantai Kerang Mas. Pantai Kerang Mas merupakan kawasan wisata pantai yang berlokasi di Desa Muara Gading Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur,, kawasan tersebut memiliki garis pantai yang cukup panjang dengan substrat pasir berlumpur yang terdapat banyak sekali bivalvia, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Salah satu yang menjadi sektor basis pertumbuhan ekonomi daerah adalah pariwisata. Kawasan wisata Pantai Kerang Mas yang semakin dikenal di tingkat dan perlu dikembangkan dengan konsep berwawasan lingkungan agar terwujud pariwisata berkelanjutan, hal ini untuk mengurangi dampak kerusakan pada lingkungan dan memberikan jaminan kehidupan layak bagi masyarakat di sekitarnya. Prinsip dasar Pariwisata Berkelanjutan merujuk pada Renstra Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Tahun 2012-2024 yaitu merupakan kegiatan memanfaatkan sumber daya lingkungan secara optimal dan juga mempertahankan ekologi serta konservasi, menghormati keaslian budaya dan masyarakat dan memastikan keberlanjutan jangka panjang.

Kajian mengenai kesesuaian ekowisata bahari Pantai Kerang Mas dilihat terhadap kegiatan wisata rekreasi pantai, snorkeling, dan selam dari beberapa parameter yaitu tipe pantai, lebar pantai, materian dasar perairan, kemiringan pantai, kecerahan perairan, biota berbahaya, ketersedian air tawar, tutupan komunitas karang, jenis life form, jenis ikan karang, kecepatan arus, kedalaman terumbu karang dan lebar hamparan datar karang.

Kegiatan wisatawan yang berlebihan dapat mengurangi potensi sumberdaya alam yang ada, oleh karena itu diperlukan kajian mengenai kesesuaian ekowisata bahari terhadap kegiatan wisata agar tetap berkelanjutan.

(7)

3 1.2. Perumusan Masalah

Kegiatan berwisata saat ini merupakan salah satu pilihan aktivitas manusia untuk mengisi waktu luang. Daerah tujuan wisata yang akan dikunjungi wisatawan biasanya tempat wisata yang memiliki keunikan yang khas. Berdasarkan dari uraian diatas diperoleh beberapa pokok permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana kesesuaian wisata Pantai Kerang Mas berdasarkan kondisi fisik lingkungannya?

2. Bagaimana strategi pengelolaan wisata Pantai Kerang Mas selanjutnya?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Menngetahui nilai kesesuaian wisata di Pantai Kerang Mas sebagai acuan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.

2. Mengkaji potensi wisata bahari Pantai Kerang Mas untuk pembangunan pariewisata berkelanjutan

1.4. Urgensi Penelitian

Kegiatan wisata yang dikembangkan di Pantai Kerang Mas hendaknya disesuaikan dengan potensi sumberdaya dan peruntukannya. Setiap kegiatan wisata mempunyai persyaratan sumberdaya dan batas daya dukung lingkungan yang sesuai obyek wisata. Jumlah pengunjung yang semakin meningkat sejak tahun 2016 hingga sekarang diikuti dengan pembangunan fasilitas wisata seperti restaurant, homestay yang semakin banyak, hal ini menggambarkan tingginya ketertarikan wisatawan terhadapa Pantai Kerang Mas. Dengan demikian, kajian kesesuaian kawasan wisata di Panyai Kerang Mas dapat memberikan gambaran tentang kondisi potensi sumberdaya yang ada dan kesesuaianya untuk kegiatan – kegiatan wisata serta memberi strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan sesuai kondisi yang ada.

(8)

4 1.5. Target Penemuan dan Kontribusi pada Ilmu Pengetahuan

Inovasi yang diharapkan diperoleh dengan terlaksananya penelitian ini adalah didapatkan gambaran nilai kesesuaian kegiatan wisata di Pantai Kerang Mas terhadap sumberdaya yang ada sehingga dapat dikelola sebagai pariwisata berkelanjutan.

Ketersediaan data yang valid tentang nilai kesesuai wisata Pantai Kerang Mas saat ini dapat menggambarkan mondisi potensi wisata bahari di Pantai Kerang Mas yang selanjutnya sebagai acuan kajian pengelolaan pariwisata berkelanjutan.

(9)

5 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Ekowisata

Ekowisata perairan memiliki konsep bahwa pengelolaan suatu kawasan wisata ditujukan untuk tujuan dan fungsi wisata alam dengan memasukkan konsep pendidikan, penelitian, konservasi, dan wisata menjadi. United Nations Environmental Program (UNEP) tahun 2001 in Ketjulan (2010) mewajibkan kegiatan ekowisata harus mengandung beberapa komponen sebagai berikut:

1. Mampu berkontribusi dalam kegiatan konservasi dan menjaga keanekaragaman hayati;

2. Adanya peningkatan kesejahteraan penduduk setempat;

3. Wisatawan yang datang mendapatkan pengalaman dan pengetahuan;

4. Partisipasi masyarakat setempat untuk berperan aktif dalam kegiatan wisata yang dikembangkan sangat ditekankan.

Prinsip Pengembangan Ekowisata Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pengembangan Ekowisata Di Daerah.

Prinsip pengembangan ekowisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi:

a) Kesesuaian antara jenis dan karakteristik ekowisata;

b) Konservasi, yaitu melindungi, mengawetkan, dan memanfaatkan secara lestari sumberdaya alam yang digunakan untuk ekowisata;

c) Ekonomis, yaitu memberikan manfaat untuk masyarakat setempat dan menjadi penggerak pembangunan ekonomi di wilayahnya serta memastikan usaha ekowisata dapat berkelanjutan;

d) Edukasi, yaitu mengandung unsur pendidikan untuk mengubah persepsi seseorang agar memiliki kepedulian, tanggung jawab, dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan budaya;

e) Memberikan kepuasan dan pengalaman kepada pengunjung;

(10)

6 f) Partisipasi masyarakat, yaitu peran serta masyarakat dalam kegiatan perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian ekowisata dengan menghormati nilai-nilai sosialbudaya dan keagamaan masyarakat di sekitar kawasan; dan g) Menampung kearifan lokal.

2.2. Kegiatan Ekowisata

Objek kegiatan merupakan kegiatan yang terintegrasi di dalam kawasan yang mempunyai daya tarik wisata.

Tabel 1. Daftar Objek Wisata Perairan

Objek Komoditi Objek Ekosistem Objek Kegiatan 1. Penyu 1. Terumbu Karang 1. Perikanan Tangkap 2. Duyung 2. Mangrove 2. Perikanan Budidaya

3. Paus 3. Lamun 3. Sosial/Budaya

4. Lumba – lumba 4. Goba 4. Peninggalan Sejarah

5. Hiu 5. Pantai 5. Legenda/Cerita Sejarah

6. Karang 7. Ikan 8. Lili Laut 9. Anemo Laut 10. Moluska

11. Udang dan Kepiting 12. Rumput Laut

13. Spesies Endemik 14. Pasir Putih 15. Ombak

Ekowisata perairan dapat dikelompokkan menjadi wisata pantai dan wisata bahari. Wisata pantai merupakan kegiatan wisata yang mengutamakan sumber daya pantai dan budaya masyarakat pantai, seperti rekreasi, olahraga, serta menikmati pemandangan dan iklim. Sementara wisata bahari merupakan kegiatan wisata yang mengutamakan sumber daya bawah laut dan dinamika air laut (Yulianda 2007).

(11)

7 Tabel 2. Daftar Kegiatan Wisata Perairan

Wisata Pantai Wisata Bahari

1. Rekreasi Pantai 1. Rekreasi Pantai dan Laut

2. Panorama 2. Resort Peristirahatan

3. Resort/Peristirahatan 3. Wisata Selam dan Wisata Snorkeling

4. Berenang, berjemur 4. Selancar, Jet Ski, Banana Boat, Perahu Kaca, Kapal Selam 5. Olahraga Pantai (Voli Pantai, Jalan

Pantai, Lempar Cakram dan lain- lain)

5. Wisata Ekosistem Lamun, wisata nelayan, wisata pulau, wisata pendidikan, wisata pancing

6. Berperahu 6. Wisata satwa (penyu, duyung, paus, lumba –lumba, burung, ammalia, buaya)

7. Memancing 8. Wisata Mangrove

2.3 Pariwisata Berkelajutan

Pembangunan Berkelanjutan pada dasarnya mencakup tiga dimensi penting, yakni ekonomi, sosial (budaya) dan lingkungan. Dimensi Ekonomi, antara lain berkaitan dengan upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, memerangi kemiskinan, dan mengubah pola produksi serta konsumsi ke arah yang seimbang. Dimensi sosial bersangkutan dengan upaya pemecahan masalah kependudukan, perbaikan pelayanan masyarakat, peningkatan kualitas pendidikan, dan lain-lain. Adapun dimensi lingkungan, diantaranya mengenai upaya pengurangan dan pencegahan terhadap polusi, pengelolaan limbah dan konservasi/preservasi sumber daya alam.

Konsep pariwisata berkelanjutan atau Sustainable Tourism dipopulerkan tahun 1987 oleh Word Commission on Environment and Development dalam “Our Common Future” dan tahun 1992 pada acara Earth Summit di Rio de Janeiro. Konsep keberlanjutan ini merupakan suatu prinsip dan pandangan yang berorientasi pada masa depan (WTO, 2004). Konsep pariwisata berkelanjutan tertulis dalam Peraturan Menteri Pariwisata No. 25 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementrian Pariwisata 2015-2019.

(12)

8 2.4. Road Map Penelitian

Gambar 1. Road map penelitian

KEGIATAN LUARAN

Tahun I

Kajian kesesuaian wisata bahari kegiatan rekreasi pantai, Snorkeling dan Selam di Pantai

Kerang Mas

1. Jurnal Nasional (Sinta 4) 2. Seminar Nasional

3. Video Penelitian

4. Haki Video Dokumenter

Nilai Kesesuaian Wisata Bahari Pantai Kerang Mas

Tahun II

Analisis Daya Dukung wisata di Pantai Kerang Mas

1. Jurnal Nasional (Sinta 3) 2. Seminar Nasional

Kemampuan kapasitas wisatawan

di Pantai Kerang Mas

(13)

9 BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1. Bagan Alir Penelitian

Gambar 2. Fishbone diagram Metode Penelitian Kegiatan

Tahun dan Lokasi Penelitian

Indikator dan Luaran

(Tahun 2021) Pantai Wisata Kerang Mas, Desa Muara Gading Mas Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur

 Survey lokasi sampling

 Pengambilan data lapangan (parameter kegiatan rekreasi pantai, snorkeling, selam)

 Analasis nilai IKW (Indeks Kesesuaian Wisata)

 Analisis strategi pengelolaan wisata berkelajutan

 Nilai IKW (Indeks Kesesuaian Wisata kegiatan Rekreasi Pantai, Snorkeling dan Selam

 Gambaran potensi wisata Pantai Kerang Mas

 Video penelitian dan HAKI Video documenter hasil penelitian

 Sumbited jurnal nasional terakreditasi

 Publikasi hasil penelitian pada seminar nasional

Strategi Pengelolaan Wisata Pantai

Kerang Mas berdasarkan Nilai IKW

(14)

10 3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2021 sampai Agustus 2021. Data kesesuaian wisata rekreasi pantai, snorkeling dan selam diambil di Pantai Kerang Mas dan di teliti di Laboraturium Produktivitas Perairan, Jurusan Perikanan dan Kelautan, Universitas Lampung.

3.3. Ruang Lingkup Penelitian A. Indek Kesesuaian Wisata

Kesesuaian kawasan yang dihasilkan dalam kegiatan/analisis ini merupakan kesesuaian aktual atau kesesuaian pada saat ini (current suitability). Kesesuaian aktual ini menunjukkan kondisi kawasan saat ini berdasarkan data yang tersedia dan belum mempertimbangkan asumsi atau usaha perbaikan serta tingkat pengelolaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi berbagai kendala fisik atau faktor-faktor penghambat yang kemungkinan ada. Hal ini dikarenakan setiap kegiatan wisata mempunyai persyaratan sumberdaya dan lingkungan yang sesuai dengan obyek wisata yang akan dikembangkan. Rumus yang digunakan untuk kesesuaian wisata adalah (Hutabarat et al. 2009):

Keterangan:

IKW : Indeks Kesesuaian Wisata Ni : Nilai Parameter ke-i (bobot x skor)

N maks : Nilai maksimum dari suatu kategori wisata

(15)

11 Tabel 3. Nilai indek kesesuai wisata bahari (IKW) untuk kegiatan Rekreasi Pantai

Keterangan:

Nilai Maksimum : 84

Sesuai : 75 – 100%

Sesuai bersyarat : 50 - <75%

Tidak Sesuai : <50%

Tabel 4 . Nilai indek kesesuai wisata bahari (IKW) untuk kegiatan Snorkeling

Keterangan:

No Parameter Bobot Kategori S1

Skor Kategori S2

Skor Kategori S3

Skor Kategori N

Skor 1 Kedalaman

Perairan (m)

5 0-3 3 >3-6 2 >6-10 1 >10 0

2 Tipe Pantai 5 Pasir

Putih

3 Pasir

Putih, sedikit karang

2 Pasir

Hitam, berkarang,

sedikit terjal

1 Lumpur,

berbatu terjal 0

3 Lebar Pantai (m)

5 >15 3 10-15 2 3-<10 1 <3 0

4 Material dasar perairan

3 Pasir 3 Karang

berpasir

2 Pasir

Berlumpur

1 Lumpur 0

5 Kecepatan arus (m/dt)

3 0-0,17 3 0,17-0,34 2 0,34-0,51 1 >0,51 0

6 Kemiringan Pantai (ͦ)

3 <10 3 10-25 2 >25-45 1 >45 0

7 Kecerahan Perairan (%)

1 >50-80 3 >50-80 2 20-50 1 <20 0

8 Penutupan lahan Pantai

1 Kelapa,

lahan terbuka

3 Semak,

belukar, rendah, savana

2 Belukar

tinggi

1 Hutan

belukar, permukiman,

pelabuhan 0

9 Biota Berbahaya

1 Tidak ada 3 Bulu babi 2 Bulu babi,

ikan pari

1 Bulu babi, ikan pari, lepu, hiu

0

10 Ketersediaan Air Tawar (jarak/km)

1 <0,5 3 >0,5-1 2 >1-2 1 >2 0

No Parameter Bobot Kategori S1

Skor Kategori S2

Skor Kategori S3

Skor Kategori N

Skor

1 Kecerahan (%) 5 100 3 80-<100 2 50-<80 1 <50 0

2 Tutupan

Komunitas Karang (%)

5 >75 3 >50-70 2 25-50 1 <25 0

3 Jenis Life

Form

3 >12 3 <7-12 2 4-7 1 <4 0

4 Jenis Ikan

Karang

3 >50 3 30-50 2 10-<30 1 <10 0

5 Kecepatan Arus (cm/dt)

1 0-15 3 >15-30 2 >30-50 1 >50 0

6 Kedalaman terumbu karang (m)

1 1-3 3 >3-6 2 >6-10 1 >10 0

7 Lebar

hamparan datar karang (m)

1 >500 3 >100-

500

2 20-100 1 <20 0

(16)

12 Nilai Maksimum : 57

Sesuai : 75 – 100%

Sesuai bersyarat : 50 - <75%

Tidak Sesuai : <50%

Tabel 5. Nilai indek kesesuai wisata bahari (IKW) untuk kegiatan Selam

Keterangan:

Nilai Maksimum : 54

Sesuai : 75 – 100%

Sesuai bersyarat : 50 - <75%

Tidak Sesuai : <50%

Penentuan kesesuaian berdasarkan perkalian skor dan bobot yang diperoleh dari setiap parameter. Keseuaian kawasan dilihat melalui tingkat persentase kesesuaian dari penjumlahan nilai seluruh parameter. Pada penelitian ini variabel kesesuaian dibagi menjadi 3 kelas yang didefinisikan sebagai berikut:

• Kategori Sangat Sesuai (S1)

Kawasan tidak memiliki pembatas yang serius untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari atau hanya mempunyai pembatas yang kurang berarti dan tidak berpengaruh secara nyata terhadap kegiatan atau produksi lahan tersebut, serta tidak akan menambah masukan dari pengusahaan lahan tersebut.

• Kategori Sesuai (S2)

Kawasan yang memiliki pembatas yang agak besar untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Pembatas tersebut akan mengurangi aktivitas dan keuntungan yang diperoleh, serta meningkatkan masukan untuk mengusahakan lahan tersebut.

• Kategori Sesuai Bersyarat (S3)

No Parameter Bobot Kategori S1

Skor Kategori S2

Skor Kategori S3

Skor Kategori N

Skor

1 Kecerahan (%) 5 >80 3 50-80 2 20-<50 1 <20 0

2 Tutupan Komunitas Karang (%)

5 >75 3 >50-75 2 25-50 1 <25 0

3 Jenis Life Form 3 >12 3 <7-12 2 4-7 1 <4 0

4 Jenis Ikan

Karang

3 >100 3 50-100 2 20-<50 1 <20 0

5 Kecepatan Arus (cm/dt)

1 0-15 3 >15-30 2 >30-50 1 >50 0

6 Kedalaman terumbu karang (m)

1 6-15 3 >15-20 2 >20-30 1 >30 0

(17)

13 Daerah ini memiliki pembatas-pembatas yang serius untuk mempertahankan tingkat perlakuan yang harus ditetapkan.

• Kategori Tidak Sesuai (N)

Kawasan yang memiliki pembatas permanen/berat, sehingga tidak mungkin dipergunakan terhadap suatu penggunaan tertentu yang lestari. Oleh karena itu perlu mencegah segala kemungkinan perlakuan pada daerah tersebut.

B. Strategi Pengelolaan

Strategi pengelolaan kawasan wisata untuk tujuan pengembangan diasumsikan dapat mengembangkan secara efektif adalah metode SOAR (Strengths, Opportunities, Aspirations, Results). Metode SOAR merupakan komponen yang digunakan untuk perumusan rekomendasi tertentu. Metode ini terdapat kekuatan, peluang, aspirasi, dan hasil yang dimiliki dan diinginkan penyelenggara pelayanan pariwisata Pantai Kerang Mas. Metode SOAR ini dibutuhkan adanya semangat optimisme dalam membangun dan mengupayakan peningkatan penyelenggaraan pelayanan pariwisata dari berbagai pihak. Setiap komponen SOAR yang telah diidentifikasi akan menghasilkan suatu solusi strategis sebagai rekomendasi bagi upaya perbaikan. Hal ini digambarkan dengan pengukuran kekuatan, dengan demikian akan dapat diketahuisampai sejauh mana usaha yang kita miliki untuk mencapai suatu tujuan (aspirasi) dan tujuan utama untuk menciptakan pariwisata berkelanjutan dapat tercapai.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Pengambilan data dilakukan di daerah pantai dan perairan dengan cara purposive sampling yaitu berdasarkan keterwakilan wilayah dari pengamatan secara

langsung di lapangan.

a. Kedalaman

Pengukuran kedalaman pada penelitian ini menggunakan alat rambu ukur/tiang skala. Nilai yang ditunjukkan pada tiang skala ini merupakan nilai kedalaman stasiun penelitian dan penentuan kedalaman 10 meter darigaris pantai.

(18)

14 b. Tipe pantai

Penentuan tipe pantai dan material dasar perairan dilakukan berdasarkan pengamatan visual di lapangan.

c. Lebar Pantai

Pengukuran lebar pantai dilakukan dengan menggunakan roll meter, yaitu diukur jarak antara vegetasi terakhir yang ada di pantai dengan batas pasang tertinggi.

d. Material Dasar perairan

Penentuan tipe pantai dan material dasar perairan dilakukan berdasarkan pengamatan visual di lapangan

e. Kecepatan Arus

Nybakken (1992) menyatakan bahwa Kecepatan arus diukur menggunakan layang-layang arus, yakni dengan menetapkan jarak tempuh layang-layang arus (5 meter) kemudian diukur waktu tempuh layang-layang arus tersebut. Perhitungan kecepatan arus menggunakan rumus :

V= S/T Keterangan :

V = Kecepatan Arus

S = Panjang lintasan parasut arus (m)

t = Waktu tempuh layang – layang arus (detik) f. Kecerahan

Pengukuran kecerahan dilakukan dengan menggunakan secchi disk. Pendapat Effendi (2003) bahwa nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh padatan tersuspensi dan kekeruhan, keadaan cuaca, waktu pengukuran, serta ketelitian orang yang melakukan pengukuran.

g. Pengamatan biota berbahaya

(19)

15 Pengamatan biota berbahaya perlu dilakuakan untuk megetahui ada atau tidaknya biota berbahaya yang akan mengangu pengunjung wisata. Pengamatan biota berbahaya dilakukan berdasarkan snorkeling di sekitar stasiun penelitian.

h. Ketersediaan air tawar

Ketersediaan air merupakan hal penting dalam suatu kehidupan. Tidak hanya untuk sektor rumah tangga, melainkan juga untuk sektor wisata. Pengamatan ketersediaan air tawar dilakukan dengan cara mengukur jarak antara stasiun penelitian dengan lokasi dimana sumber air tawar tersedia.

i. Tipe Pantai

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan Tipe Pantai Laguna adalah Tipe Pantai berpasir dengan sedikit berkarang hal ini sesuai dengan pendapat Yulianda (2007) bahwa untuk wisata pantai akan sangat baik jika suatu pantai merupakan pantai yang berpasir atau dengan kata lain didominasi oleh substrat pasir, dibandingkan dengan pantai yang berbatu atau pantai yang didominasi oleh substrat karang dapat mengganggu kenyamanan wisatawan.

j. Jenis Karang dan Ikan Karang

Pengambilan data terumbu karang menggunakan metode LIT (Line Intercept Transect) berdasarkan LIPI; COREMAP; CRITC (2006) untuk menggambarkan struktur komunitas karang dengan melihat tutupan karang hidup, karang mati, bentuk substrat (pasir dan/atau lumpur), alga, dan keberadaan biota bentik lainnya. Spesifikasi karang yang dijumpai dicatat dalam bentuk pertumbuhan (lifeform), dan pengukuran dilakukan dengan tingkat ketelitian mendekati sentimeter.

Metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian ikan karang megikuti metode Dartnall and Jones (1986). Pengamatan ikan karang dilakukan dengan Underwater Visual Census (UVC) dan transek. Ikan-ikan yang dijumpai diamati jenisnya dan dicacah sepanjang garis transek. Untuk mengoptimalkan hasil

(20)

16 pengamatan dilakukan dengan pengambilan foto dan video bawah air (Allen dkk., 2003).

Gambar 3. Metode Visual Sensus untuk Terumbu karang dan Ikan Karang

3.5. Analisis Data

Analisis data meliputi Analisis nilai IKW (Indeks Kesesuaian Wisata) untuk kegiatan rekreasi pantai, snorkeling, dan selam. Untuk Analisis data Terumbu Karang menggunakan pada parameter kegiatan snorkeling dan selam menggunakan anlisis CPCE ( CORAL POINT COUNT WITH EXCEL EXTENSIONS). Analisis strategi pengembangan menggunakan Analisis SOAR (Strengths, Opportunities, Aspirations, Results).

(21)

17 BAB 4. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

4.1. Anggaran Biaya

Penelitian ini diperkirakan membutuhkan biaya sebesar Rp. 15.000.000,-(Lima Belas Juta Rupiah) dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 6. Rencana anggaran biaya penelitian:

No Komponen Jumlah

Anggaran (Rp)

Persentase (%)

1 Pengadaan Alat dan Bahan 3.635.000 24,5

2 Travel Expenditure/ Belanja Perjalanan 4.600.000 30

3 ATK dan Bahan habis pakai 2.500.000 17

4 Laporan dan Publikasi Ilmiah 4.265.000 28,5

Total 15.000.000 100

Tabel 7. Rincian Anggaran Biaya Penelitian No Nama Barang Justifikasi

Pemakaian

Jmlh Satuan Harga Satuan

(Rp)

Jumlah (Rp)

A Pengadaan Alat dan Bahan

1 Roll Meter Transek line 3 buah 75.000 225.000

2 Tali Rafia Alat ukur 5 buah 20.000 60.000

3 Secci Disk Alat ukur kecerahan 2 buah 100.000 200.000

5 Masker+snorkel Alat renang 2 set 750.000 1.500.000

6 Transek Alat ukur kerapatan 4 buah 200.000 800.000

7 Botol Mineral Alat ukur Arus 3 buah 10.000 30.000

8 Papan Survei Alat pencatat survei 3 buah 50.000 150.000 9 Pipa Sedimen Alat pengukur sedimen 3 buah 40.000 120.000

10 Saringan penyaring sedimen 3 buah 50.000 150.000

11 Tiang Ukur Alat Ukur Kedalaman 3 buah 100.000 300.000

Sub Total 3.635.000

B Travel Expenditure/ Belanja Perjalanan

1 Kendaraan Mobil Transportasi 6 trip 500.000 3.000.000

2 Sewa Kapal Transportasi 4 trip 400.000 1.600.000

Sub Total 4.600.000

C ATK dan BHP

1 Kertas HVS 80 gr Cetak data, proposal, laporan

6 rim 50.000 300.000

2 Tinta Hitam Alat cetak draft 4 buah 200.000 800.000

3 Tinta Warna Alat cetak draft 4 buah 250.000 1.000.000

(22)

18 No Nama Barang Justifikasi

Pemakaian

Jmlh Satuan Harga Satuan

(Rp)

Jumlah (Rp)

4 Spidol Permanen Alat tulis 1 lusin 120.000 120.000

5 Masker Prokes Covid 2 paket 80.000 160.000

6 Handsanitaizer Prokes Covid 2 paket 60.000 120.000

Sub Total 2.500.000

D Laporan dan Publikasi Ilmiah

1 Publikasi Seminar/Jurnal 1 paket 2.500.000 2.500.000

2 Proposal Penggandaan 7 eks 40.000 280.000

3 Lap. Kemajuan Penggandaan 7 eks 70.000 490.000

4 Lap.Akhir Penggandaan 7 eks 85.000 595.000

5 Pendaftaran Haki Video

Publikasi 1 paket 400.000 400.000

Sub Total 4.265.000

Total 15.000.000

4.2. Jadwal Penelitian Tabel 8. Jadwal Penelitian

No Uraian Kegiatan Pelaksanaan (Bulan ke-)

1 2 3 4 5 6

1 Persiapan Alat dan Bahan 2 Survey lokasi penelitian

3 Pengukuran Parameter kesesuaian Rekreasi Pantai

4 Pengukuran Parameter kesesuaian Snorkeling

5 Pengukuran Parameter kesesuaian Selam

6 Analisis Terumbu Karang (CPCE) 7 Analisis Ikan Karang

8 Analisi Nilai IKW 9 Analisis SOR

10 Pembuatan Video Penelitian 11 Penyusunan Laporam dan Naskah

Publikasi

12 Submited Naskah Publikasi Ilmiah 13 HAKI Video Dokumenter

(23)

19 REFERENSI

Abdillah, D. (2016). Pengembangan Wisata Bahari di Pesisir Pantai Teluk Lampung.

Jurnal Destinasi Kepariwisataan Indonesia, vol. 1, 45-66.

Ali, 2004. Pemanfaatan potensi sumberdaya pantai sebagai obyek wisata dan tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar lokasi wisata (Studi kasus di kawasan wisata Panta Kartini Jepara), Semarang: Program Pascasarjana

Universitas Diponegoro.

Allen, G.R., R. Steene, P. Humann, and N. DeLoach.2003. Reef fish identification:

tropical Pacific., New World Publications Inc.Jacksonville, Australia.457 Dartnall, A.J., and M.S. Jones. 1986. A manual of survey methods for living resources

in coastal areas. Australian Institute of Marine Science & ASEAN &

Australian Development Assistance Bureau.Townsville. 80 p.

Direktorat Kebudayaan dan Pariwisata. 2009. Prinsip den Kriteria Ekowisata Berbasis Masyarakat Kerjasama Direktorat Produk Pariwisata Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF-Indonesia.

Hutabarat, et al., 2009. Pengelolaan pesisir dan laut secara terpadu. Bogor: Pusdiklat Kehutanan, SECEM dan Korea International Cooperation Agency

Kim S dan Y Kim. Overview of Coastal and Marine Tourism in Korea. 1996.Journal of Tourism Studies Vol 7 (2): 46–53 p.Lawaherilla N E. 2002. Pariwisata Bahari: Pemanfaatan Potensi Wilayah Pesisir dan Lautan. Makalah Falsafah Sains (PPs 702) Program Pasca Sarjana / S3 Institut Pertanian Bogor.

Nugraha HP, Indarjo A, Helmi M. 2013. Studi Kesesuaian dan Daya Dukung Kawasan untuk Rekreasi Pantai di Pantai Panjang Bengkulu. Jurnal of Marine Research 2(2): 130–139.

Nontji A. 2005. Laut Nusantara Edisi Ke-4. Jakarta(ID): Djambatan.

Nybakken, J.W. 1992. Biologi laut: suatu pendekatan ekologis. (penterjemah). H.M.

Edman, Koesoebiono, D. Bengen, M. Hutomo dan S. Sukarjo. PT.

Gramedia. Jakarta. 480 p.

(24)

20 Republik Indonesia , Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 tahun 2009 Tentang

Pedoman Pengembangan Ekowisata di Daerah

Simanjuntak BA, Flores Tanjung, Rosramadhana Nasution. 2015. Sejarah Pariwisata:

Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Yulianda, 2007. Ekowisata bahari sebagai alternatif pemanfaatan sumberdaya pesisir berbasis konservasi, Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Gambar

Gambar 1. Road map penelitian
Gambar 2. Fishbone diagram Metode PenelitianKegiatan
Tabel 4 . Nilai indek kesesuai wisata bahari (IKW) untuk kegiatan Snorkeling
Tabel 5. Nilai indek kesesuai wisata bahari (IKW) untuk kegiatan Selam
+3

Referensi

Dokumen terkait

Sementara fraksi berat yang terdiri dari Propylene Oxide sebagai produk utama, Tert-Butyl Hydroperoxide sisa reaksi dan Tert-Butyl Alcohol sebagai produk tambahan akan terdistribusi

Meskipun hasil penelitian ini menunjukan tidak berpengaruh, bukan berarti DER dapat diabaikan dalam mempengaruhi harga saham, karena menurut Fahmi (2013) dari

Jenis pompa perpindahan positif ( positive displacement pump ) dipilih dengan pertimbangan pompa dapat mengalirkan larutan asam fosfat secara konstan pada flow rate 55m 3 /h

Hasil penelitian menunjukkan: (1) Terdapat perbedaan penggunaan fasilitas pembelajaran dan metode pembelajaran terhadap minat belajar dengan perolehan selisih

Bank Aceh adalah Bank milik Pemerintah Aceh bersama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota di Aceh yang dibentuk terakhir dengan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa

Adapun persiapan sampel adalah sebanyak 1.25 gram hati dan ginjal kelinci yang telah disimpan dalam freezer -20 o C, dicairkan terlebih dahulu sebelum dilakukan analisis

1 4.5 Menggunakan pola barisan aritmetika untuk menyajikan dan menyelesaikan masalah kontekstual Barisan Aritmatika Peserta didik mampu memecahkan masalah