• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data Pedagang Daging

Dalam dokumen tinjauan hukum ekonomi syariah terhadap (Halaman 51-58)

BAB II GAMBARAN LOKASI

A. Gambaran Umum Pasar Barabali

3. Data Pedagang Daging

Jumlah pedagang dagiing sapi di pasar Barabali kurang lebih sebanyak 13 orang, akan tetapi pedagang tetapnya kurang lebih 8 orang, jumlah pedagang daging sapi di pasar Barabali disebut musiman, dalam istilah semakin banyak jika akan ada acara peringatan hari besar Islam. Karena permintaan konsumen semakin banyak pada hari-hari tertentu. Lokasi pedagang daging sapi terletak di bagian pinggir berdekatan dengan pedagang sayuran dan buah-buahan.

Pasar Barabali Kecamatan Batukliang Kabupaten Lombok Tengah dipinpin oleh Kepala pasar yang bernama Bapak Abdul Hamid. Kemudian Wakil Ketua yang bernama Bapak Jumadil dan anggotanya bernama Bapak Saad dan Sahlan.

Tabel 2.1

Data Pedagang Daging Sapi

No Nama Profesi

1 Sri Pedagang

2 Ati Pedagang

3 Yat Pedagang

4 Mar Pedagang

5 Tini Pedagang

6 Murni Pedagang

7 Saini Pembeli

8 Dayah Pembeli

9 Nur Pembeli

34

10 Inok Pembeli

11 Atin Pembeli

12 Hamidah Pedagang

13 Ayu Pedagang

B. PRAKTIK JUAL BELI DAGING SAPI CAMPURAN DI PASAR BARABALI

Untuk mengetahui praktik jual beli daging sapi campuran di pasar Barabali, peneliti telah melakukan penelitian di pasar Barabali, berikut adalah data yang peneliti jadikan sebagai sampel dalam penelitian di pasar Barabali.

Berdasarkan temuan di pasar, mengenai pencampuran daging sapi yang dilakukan oleh pedagang yang ada di pasar Barabali.

Ketika di wawancarai, ibu Sri mengatakan bahwa melakukan pencampuran daging sapi tersebut untuk menutupi kerugiaan, karena rata-rata peminat daging sapi pasti dengan kualitas nomer 1 atau daging segar, sehingga daging sapi kualitas nomer 2 dan yang lainnya jarang habis terjual.44 Alasan para pedagang melakukan pencampuran karena di pasar Barabali yang datang membeli itu tidak menentu, terkadang ramai terkadang sepi, sehingga daging sapi yang dijual kadang tidak habis terjual hari itu juga.45alasan tersebut diungkapkan oleh ibu Ati salah satu pedagang daging sapi di pasar Barabali.

Selanjutnya hasil wawancara dengan Ibu Yat, jika ada daging sisa penjualan kemarin itu di simpan didalam Frezer agar tetap awet dan bisa dijual untuk besoknya.46 Selanjutnya peneliti bertanya mengenai harga jual daging tersebut, para pedagang ternyata menjual daging segar dengan daging yang tidak segar

44 Sri, Wawancara Pedagang,Barabali, 10 oktober 2021

45 Ati,Wawancara Pedagang, Barabali, 10 oktober 2021

46 Yat, Wawancara Pedagang¸Barabali, 10 Oktober 2021

35

dengan harga yang sama. Pernyataan tersebut diperkuat lagi oleh ibu Mar selaku penjual daging sapi di pasar Barabali. Ibu Mar mengatakan bahwa daging segar dan daging yang sudah di simpan di frezer harga jualnya tetap sama, meskipun ada perbedaan di antara daging tersebut.47karena para penjual selalu ingin medapat keuntungan dari barang yang di perjual belikan.

Dari penjelasan atau hasil wawancara dengan para pedagang di atas, peneliti berpendapat bahwa praktik jual beli daging sapi yang dilakukan oleh sebagian pedagang daging sapi di pasar Barabali dapat merugikan konsumen atau pembeli. Dikarenakan sistem penjualan yang mereka lakukan, para penjual menjual daging sapi yang tidak segar dengan harga yang sama seperti daging sapi segar. Kemudian para pedagang mencampurkan daging yang mereka jual kepada pembeli dengan alasan menutupi kerugian namun itu membuat para pembeli merasa rugi.

Berbeda dengan hasil wawancara dengan Ibu Tini, salah satu penjual daging sapi di pasar Barabali dalam melakukan jual beli Ibu Tini menjelaskan keadaan daging sapi yang dia jual kepada para pembeli seandainya daging sapi tersebut sudah di simpan di dalam frezer atau tidak segar.

“saya sudah berjualan kurang lebih 5 tahun, dalam melakukan transaksi jual beli saya menjelaskan kepada pembeli tentang keadaan daging sapi yang saya jual, agar semuanya jelas dan pembeli tau keadaan daging yang saya jual”48

Dari penjelasan diatas, praktik jual beli yang dilakukakn oleh ibu Tini adalah praktik jual beli yang dianjurkan oleh aturan agama dengan cara jujur dan transparan kepada pembeli tentang

47 Mar, Wawancara Pedagang, Barabali, 10 Oktober 2021

48 Tini, Wawancara Pedagang, Barabali, 10 Oktober 2021

36

keadaan barang yang dijual. Akan tetapi sebagian kecil pedagang yang melakukan praktik seperti ini, di karenakan persaingan usaha dan banyaknya penjual daging sapi di pasar Barabali.

Mengenai percampuran daging sapi yang dilakukan oleh penjual di pasar Barabali, berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Murni yang sudah berjualan kurang lebih 4 tahunan, dalam melakukan penjualan ia selalu jujur kepada pembeli. Akan tetapi pembeli menceritakan dirinya kalau dirinya pernah merasa ditipu atau di bohongi.

“saya sudah berjualan kurang lebih 4 tahun, saya selalu jujur kepada pembeli dalam memberikan informasi tentang daging yang saya jual, tapi ada pembeli yang bercerita kepada saya, dia membeli daging di pedagang lain tapi dia merasa dibohongi karena mendapat daging campuran”49 Berdasarkan hasil wawancara dengan para pembeli daging sapi di pasar Barabali, yang mengatakan bahwa pernah merasa dirugikan karena penjual sering mencampurkan daging sapi yang mereka beli dengan daging yang berbagai kualitas.

“saya pernah membeli daging sapi, saya memesan daging yang segar dengan kualitas nomer 1, akan tetapi pas saya sampai rumah ternyata daging tersebut campuran dengan daging yang masih ada tulangnnya”50

Hal serupa juga yang dialami oleh pembeli lain yang merasa tertipu oleh para penjual daging sapi di pasar Barabali.

49 Murni, Wawancara Pedagang, Barabali, 10 Oktober 2021

50 Saini, Wawancara Pembeli, Barabali, 10 Oktober 2021

37

“saya membeli daging yang sudah di frezer sebagai campuran daging segar karena saat itu daging segar tinggal sedikit, tapi pas saya masak daging tersebut lebur”51

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, hal tersebut terjadi dikarenakan kualitas daging sapi tersebut sudah berkurang, peneliti juga menemukan suatu hal yang aneh dari para penjual tersebut, dimana para penjual menaruh kain dibawah daging sapi yang sudah di frezer, karena daging sapi yang sudah di taruh di lemari es akan beku dan jika di kelaurakan dari lemari es akan meleleh atau mencair, seperti yang di alami oleh salah satu pembeli.

“pengalaman saya membeli daging sapi ternyata daging yang sudah di frezer semakin lama airnya akan melelah, waktu di pasar dan ditimbang oleh penjual beratnya masih 1kg, tapi pas sampai rumah beratnya berkurang, karena kandungan es tersebut yang mencair sehingga beratnya berkurang”52

Seperti yang dikatakan oleh Ibu Inok, salah satu pembeli daging sapi di pasar Barabali, mengenai para penjual yang melakukan percampuran daging sapi.

“Kalau kita sebagai pembeli tidak jeli dan teliti para pedagang kadang menipu kita, kita tidak bisa lengah atau mengalihkan pandangan sedikit mereka mendapat kesempatan mencampur daging yang kita beli tersebut”.53

“Transaksi jual beli daging sapi di pasar Barabali terkadang mengecewakan, karena penjual kadang tidak berkata jujur tentang kondisi daging yang mereka jual, seperti yang sudah

51 Dayah, Wawancara Pembeli, Barabali, 10 Ooktober 2021

52 Nur, Wawancara Pembeli, Barabali, 10 Oktober 2021

53 Inok, Wawancara Pembeli, Baarabali, 10 Oktober 2021

38

saya alami, salah satu penjual daging sapi di pasar Barabali mencampur daging sapi yang saya beli dengan daging sapi import”54

Jika kita sebagai pembeli tidak jeli dan cerewet dalam melakukan pembeian daging sapi di pasar Barabali, para pedagang seolah-oleh menganggap kita tidak tau apa-apa karena sebagai pembeli selalu diam, dan penjual melakukan kecurangan.

Berbeda dengan hasil wawancara dengan pedagang daging sapi di pasar Barabali yang mengaku melakukan penjualan dengan jujur.

“saya sudah lama berjualan nak, saya punya sudah punya pembeli langganan, dan jikapun daging yang saya jual hari ini tidak habis besoknya akan saya jual dengan harga yang sedikit murah dibanding daging segar”55

“pembeli yang datang setiap harinya tidak menentu kadang ramai kadang sepi, dan dalam menjual saya selalu transparan kepada pembeli, jika daging segar saya katakan segar jika daging tidak segar saya katakana apa adanya kepada pembeli, karena sudah jelas bedanya daging segar dengan tidak”56

Pada praktik jual beli daging sapi yang terjadi di pasar Barabali, sebagaimana yang sudah peneliti paparkan di atas berdasarkan data dan informasi, masih banyak para pedagang yang melakukan jual beli dengan cara curang. Jual beli yang dapat merugikan salah satu pihak demi mendapat keuntungan, dan tidak memperahatikan aturan bermuamalah yang telah ditentukan dalam ajaran Islam.

54 Atin, Wawancara Pembeli, Barabali, 10 Oktober 2021

55 Hamidah, Wawancara Pedagang, Barabali, 10 Oktober 2021

56 Ayu, Wawancara Pedagang, Barabali, 10 Oktober 2021

39

Praktik tersebut dilakukan karena dalam menjalankan suatu usaha sudah jelas selalu ingin mendapat keuntungan, akan tetapi cara yang dilakukan para pedagang daging sapi di pasar Barabali mendapat keuntungan dengan cara merugikan salah satu pihak dalam jual beli tersebut, yaitu para pembeli. Sehingga jelas hal yang dilakukan para pedagang adalah hal yang salah.

Cara pedagang daging sapi di pasar Barabali melakukan percampuran ialah dengan menggabungkan daging sisa penjualan kemarin (daging tidak segar) dengan daging segar, dan juga dengan cara mengelabui pembeli, jika saat melaukan transaksi pembeli tidak memperhatikan dengan jelas maka penjual mengambil kesempatan untuk mencampur daging tersebut.

Kemudian dalam menentukan harga, para penjual menentukan harga daging segar dan tidak segar dengan harga yang sama, tanpa ada pengurangan karena kualitas daging tersebut berkurang.

40 BAB III

Setelah peneliti memaparkan data hasil temuan tentang praktik jual beli daging sapi campuran di pasar Barabali, yang telah di paparkan pada Bab II, maka pada Bab III (pembahasan) skripsi ini penulis akan membahas tentang jawaban dari rumusan masalah dalam peneitian ini. Penjelasan lengkap tentang hal tersebut akan diuraikakn sebagai berikut.

A. Praktik Jual Beli Daging Sapi Campuran di Pasar Barabali

Jual beli adalah kegiatan yang di anjurkan oleh Rasulullah SAW karena dapat mempererat tali persaudaraan antara manusia dan untuk saling tolong menolong. Akan tetapi ada cara-cara jual beli yang dilarang oleh Allah SWT. Dalam hal ini Allah melarang segala bentuk kecurangan maupun penipuan dalam bermuamalah, Allah juga memerintahkan agar menyempurnakan takaran dan timbnagan dengan seadil-adilnya seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur‟an:

َنً ِر َّلٱ اَهُّيَأًََٰٓ

ًةَس ََٰجِت َنىُكَت نَأ ٓ َّلَِإ ِل ِطََٰبۡلٱِب مُكَنَِۡب مُكَلََٰىۡمَأ ْآىُلُكۡأَت َلَ ْاىُنَماَء

. ا ٗمُ ِحَز ۡم ُكِب َناَك َ َّللَّٱ َّنِإ ۡۚۡمُك َسُفهَأ ْآىُلُتۡلَت َلََو ۡۚۡمُكنِّم ٖضاَسَت نَع

57

Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.

Dan jangan kamu membunuh dirimu sesungguhnya Allah adalah Maha penyayang kepadamu”. (QS An-Nisa:29)

Ayat di atas menejlaskan, bahwa Allah SWT memperbolehkan jual beli dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum islam. Ketentuan jual beli dalam islam antaraa lain harus didasari dengan suka sama suka antara penjual dan

57 QS An-Nisa[4]: 29

41

pembeli, dan terhindar dari unsur gharar, tadlis, riba dan sebagainya.

Transaksi perdagangan umumnya mengandung resiko untung dan rugi. Hal yang wajar bagi setiap orang berharap selalu mendapat keuntungan besar. Menurut Imam Ghazali bahwa motivasi seorang pedagang adalah keuntungan, yaitu keuntungan di dunia dan keuntungan di akhirat. Resiko untung dan rugi merupakan kondisi yang tidak pasti dalam setiap usaha.58

Praktik jual beli dalam Islam sudah diatur dengan baik dan tidak merugikan antara satu individu dengan lainnya. Dalam hukum Ekonomi Syariah sudah dijelaskan rukun dan syarat jual beli. Adapun menurut jumhur ulama rukun jual beli ada empat yaitu, pertama orang yang berakad (penjual dan pembeli), kedaua sighat ( lafal ijab dan qabul), ketiga ada barang yang dibeli, keempat ada nilai tukar pengganti barang.59 Barang yang dibeli tersebut juga tidak hanya sekedar barang, akan tetapi barang tersebut juga harus bagus sehingga dapat diterima dengan ikhlas dan tidak merugikan pembeli. Allah juga mengingatkan manusia untuk tidak melakukan hal yang keji dalam transaksi jul beli, seperti kecurangan yang dilakukakn pedagang daging sapi di pasar Barabali dengan mencmpurkan daging sapi kualitas segar dengan kualitas tidak sedang, sebagimana dijelaskan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW tentang larangan menipu dalam jual beli:

ِا ِد َِ ْب ع ْن َْ ع ٍك ٍَ ِل م ْن َْ ع ي َ ْح ً ى َِ ِن ث َّذ ح َ ِن َِ ْب ِﷲ

ِا ِد َِ ْب ع ْن َْ عٍرانـًْ ِد ر َ كر الً اَ ُجر َّنأ ر َ مع ِن َِ ْب ِﷲ

58 Ibid, 58.

59 Dimayuddin Djuwaini, Penghantar Fiqh Muamalah, (Yoqyakarta:

pustaka pelajar, 2008), hlm, 74.

42

ِا ِل َِ ْو ُس رِل ِﷲ

ا ىل ص ُﷲ ع د َ ْخًُ ُه َّن َ أ م َّل س و ِه َِْي ل ع

ِا ُلُو ُس ر ل ا قـ ف ِعِوً ـ َُ ُبلا ى َِ ِف ِﷲ

ا ىل ص ُﷲ

ِه َِْي ل ع ا ن كف ل ق ة ب لَ ِخ لً ْل َْ ُقـف ت َ ْعـٌا ب ا رإ م َّل س و

. ةب لَ ِخ لً ُل َُ ْو ُقـً ا ع ـٌا ب ا رإ ُل ُجرلا

Artinya: Qutaibah bin Sa‟id mengabarkan kepada kami dari Malik, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar bahwa seorang laki-laki bercerita kepada Rasulullah SAW, laki-laki itu ditipu dalam jual beli. Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “jika engkau menjual atau membeli sesuatu, katakan, “Tidak ada penipuan.” Dengan demikian, ketika berdagang orang tersebut akan berkata,

“Tidak ada penipuan”. 60

Praktik jual beli daging sapi di pasar Barabali ditemukan banyak pedagang yang tidak menerapkan keadilan dalam melakukan jual beli. Banyak kecurangan yang pedagang lakukan dalam menjual daging sapi mereka. Seperti data yang peneliti dapatkan dari hasil wawancara dan observasi salah satu pembeli daging sapi di pasar Barabali, ia mengatakan bahwa merasa dirugikan dan tertipu karena pedagang menjual daging sapi dengan cara mencampur daging kualitas segar dengan daging yang sudah di frezer.

Kecurangan seperti ini sudah menjadi hal biasa yang dilakukan para pedagang daging sapi di pasar Barabali, disebabkan karena keadaan pembeli yang setiap harinya tidak

60 Sayid Imam Muhammad bin Ismail Al-Kahlani, Subulussalam Juz III, (Mesir : Mustafa Al-Baby Al-Khalabi Mesir, 1960), hlm. 115.

43

menentu yang menyebabkan daging yang mereka jual selalu tersisa dan menyimpannya untuk beberapa hari dalam frezer seperti yang diungkapkan oleh salah satu pedagang daging sapi di pasar Barabali.

Jual beli seperti ini dapat di katakana gharar, yaitu jual beli yang didalamnya mengandung unsur ketidakjelasan. Menurut mazham Imam Syafi‟i gharar berarti segala sesuatu yang akibatnya tersembunyi dari pandangan dan sesuatu yang dapat memberikan akibat yang tidak diharapkan.61

Pedagang daging sapi di pasar Barabali telah melakukan gharar dalam transaksi jual beli karena tidak ada kejelasan tentang daging yang mereka jual dan para pedagang sering menyembunyikan kualitas daging yang mereka jual.

Larangan tentang jual beli gharar dijelaskan dalam sebuah hadis yang berbunyi:

يِب َ أ ْن َع َو لله ا ىلص ِالله ُل ى ُسَز ى َهَه( :لك هنع لله ا ي ض ز ًة َسًْ َس ُه

ِز َس َغْل َا ِع َُِْب ْنَع َو ِة اَصَح ْل َا ِعَُْب نع ملس و هُلع

Artinya: Abu Hurairah rhadiyallaahu „anhu berkata, “Rasulullah saw melarang jual beli dengan cara melempar batu dan jual beli gharar (yang belum jelas harga, barang, waktu dan tempatnya), (HR Muslim).

Larangan jual beli gharar sudah dijelaskan dalam ayat tersebut dan masih banyak ayat lainnya, akan tetapi masih banyak pedagang yang tidak menjalankan usaha dengan memperhatikan aturan yang telah ditentukan oleh syariat Islam. Dikarenakan para pedagang selalu ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar- besarnya dalam usaha yang mereka jalankan, bahkan

61 Nadratuzzaman Hosen, “Analisis Bentuk Gharar Dalam Transaksi Ekonomi” Jurnal Al-Iqtishad. Vol. 1, No.1, Januari 2009, 54.

44

menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan, ditambah lagi persaingan usaha yang mereka jalani, karena banyak pedagang daging sapi di pasar Barabali. Sehingga mereka berjualan hanya untuk mendapat keuntungan saja tapi tidak ada keberkahan dalam usaha yang dijalaninya.

Praktik jual beli yang dilakukan oleh pedagang daging sapi di pasar Barabali bisa di katagorikan tindakan penipuan, dimana dengan sengaja penjual mencampurkan daging sapi yang mereka jual tanpa sepengetahuan pembeli dan tanpa permintaan pembeli. Bahkan penjual tidak berkata jujur kepada pembeli tentang keadaan daging yang mereka jual tersebut, praktik jual beli seperti yang disebutkan di atas jelas dilarang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

سغ نم انم سِل

Artinya: Tidak termasuk golongan kami orang yang menipu. (HR Muslim,Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibn Majah).

Dari hadis diatas sudah sangat jelas praktik jual beli yang mengandung unsur penipuan sangat tidak di benarkan,harta yang dipeeoleh dari usaha yang mengandung unsur tadlis haram hukumnya menurut syar‟i meski ia telah memiliki harta tersebut, akan tetapi Allah cabut berkah dari harta tersebut. Dalam transaksi jual beli harus di ketahui terlebih dahulu kualitas barang yang akan diperjual belikan untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan. Dalam jual beli tersebut selain mengandung unsur gharar juga terdapat unsur tadlis.

Tadlis adalah transaki yang terdapat hal-hal yang tidak diketahui oleh salah satu pihak yang melakukan transaksi jual beli tersebut. Setiap transaksi dalam Islam harus di dasarkan pada prinsip kerelaan antara kedua pihak. Mereka harus mempunyai informasi yang sama sehingga tidak ada pihak yang merasa

45

dirugikan atau ditipu.62 Dasar hukum tentang larangan semua transaksi jual beli yang mengandung unsur penipuan dijalskan dalam Al-Qur‟an suarh Al-Baqarah ayat 42:

َنى ُمَلۡعَت ۡمُته َ أ َو َّم َح ۡ

لٱ ْاى ُمُت ۡكَت َو ِل ِطََٰب ۡ لٱِب َّم َح ۡ

لٱ ْاى ُسِب ۡلَت َلََو ٢٤

Artinya: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah:42).

Maksud ayat di atas sudah jelas bahwa dalam segala transaksi harus berlaku tranparan dan tidak ada manipulasi antara kedua pihak yang bersangkutan. Akan tetapi dalam praktik jual beli daging sapi di pasar Barabali para pedagang melakukan kecurangan dengan menyembunyikan kualitas barang yang mereka jual, para penjual tidak menjelaskan keadaan barang tersebut kepada pembeli, sedangkan mereka tau tapi menutupinya.

Transakasi jual beli seharusnya bisa memberikan dampak yang baik bagi penjual maupun pembeli, sehingga jual beli tersebut sesuai dengan ketentuan dan aturan dalam jual beli. Jual beli mempunyai ketentuan dan atuan sebagai dasar atau asas melakukakn transaksi, sedadngkan praktik jual beli daging sapi di pasar Barabali masih ada pedagang yang belum memperhatikan ketentuan dan aturan jual beli yang semestinnya.

Berdasarkan hasil observasi peneliti menyimpulkan para pedagang tau bahwa daging yang sudah di simpan di dalam frezer semakin lama akan menyusut atau mencair, sebagaimana yang peneliti temukan pada saat obervasi. Pedagang tersebut menaruh kain di bawah daging tersebut kadang mengelap daging sapi yang sudah banyak mengeluarkan air. Tetapi untuk menutupi atau mengurangi kerugian para pedagang melakukan penjualan daging sapi dengan cara mencampurkan daging sapi tersebut dan dijual kepada pembeli.

62 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Pt.Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 80.

46

Praktik jual beli yang dilakukan pedagang daging sapi di pasar Barabali dapat merugikan salah satu pihak, yaitu para pembeli. Para pembeli akan merasa tertipu dikarenakan membeli daging sapi yang sudah dicampur dan memperoleh daging yang tidak sesuai dengan keinginannya. Praktik jual beli daging sapi di pasar Barabali dapat dikatakan melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh syariat atau hukum dalam bermuamalah.

Dari penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa praktik jual beli yang dilakukan oleh penjual daging sapi dipasar Barabali mengandung unsur gharar dan tadlis, para pedagang melakukan jual beli tidak sesuai dengan aturan bermuamalah yang telah ditetapkan, para pedagang ada yang dengan sengaja melakukakn pencampuran daging sapi segar dengan daging sapi tidak segar atau yang kualitasnya sudah berkurang, demi menutupi atau mengurangi kerugian. Dan ini merupakan praktik yang tidak boleh dilakukan dalam kegiatan ekonomi, tindakan tadlisi yang dilakukan oleh pedagang mengandung unsur ketidak tahuan dari pihak pembeli yang melakukan transaksi sehingga pihak pembeli akan dirugikan dalam praktik jual beli tersebut.

Islam telah menghalalkan usaha perniagaan dan jual beli.

Akan tetapi mengharuskan para pedagang untuk menggunakan tata cara yang telah ditentukan oleh syariat Islam agar tidak ada pihak yang dirugikan. Beberapa katagori yang dapat merugikan pembeli antara lain:

1. Giyas, adalah menyembunyikan cacat barang yang dijual.

Para pedagang biasanya menyembunyikan cacat dari suatu barangnya dengan cara mencampurkannya dengan barang bagus sehingga pembeli tidak mengetahuinya.

Katagori inilah yang terjadi di dalam praktik jual beli daging sapi yang ada di pasar Barabali, para pedagang seolah menyembunyikan cacat atau kekurangan daging yang mereka jual demi mendapat keuntungan dan menutupi kerugian, namun menipu orang lain, dan praktik

47

jual beli dengan cara seperti itu dapat mengakibatkan salah satu pihak yang dirugikan dan menjadi penjualan yang tidak sehat.

2. Tahfif, adalah tindakan mengurangi takaran atau timbangan barang yang dijual. Inimerupakan tindakan pedagang yang merampas hak orang lain dengan cara menipu pembeli dengan tidak akuratnya timbangan.

3. Memperdagangkan barang haram, adalah memperdagangkan sesuatu yang dilarang oleh Allah, seperti babi, minuman keras,dan sebagainya.

4. Riba, adalah perdagangan yang sangat bertentangan dengan aturan bermuamalah dalam islam, para pedagang mengambil tambahan dan melakukan kezaliman dalam transaksi jual beli atau pinjam meminjam.

B. Tinjauan Prinsip-Prinsip Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Praktik Penjualan Daging Sapi di Pasar Barabali

Dalam prinsip-prinsip jual beli atau berbisnis, Islam memang menghalalkan usaha perdagangan, perniagaan atau jual beli tentunya untuk orang yang menjalankan usaha bisnis secara Islam dan yang sesuai dengan aturan-aturan Islam. Perilaku- perilaku seperti ini telah dicontohkan Rasulullah SAW sejak zaman beliau. Rasulullah SAW dalam berbisnis tidak hanya mengejar hasil atau keuntungan. Akan tetapi lebih mengedepankan prinsip kehati-hatian.63 Hukum ekonomi syariah memiliki bebrapa prinsip dalam usaha yang di laksanakan, antara lain sebagai berikut:

1. Prinsip tauhid

63 Muhammad dan R. Lukman Fauroni, Visi Al-Qur‟an Tentang Etika dan Bisnis, (Jakarta: Salemba Dibiyah,2002),hlm.3.

Dalam dokumen tinjauan hukum ekonomi syariah terhadap (Halaman 51-58)

Dokumen terkait