BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
2. Jual Beli
a. Pengertian Jual Beli
Jual beli menurut Ilmu Fiqh adalah saling menukar harta dengan harta melalui cara tertentu, atau menukar sesuatu yang di ingikan dengan yang sepadan harganya melalui cara-cara tertentu yang bermanfaat.22 Jual beli adalah perjanjian tukar menukar benda atau barang yang mempunyai nilai, secara suka rela di antara kedua belah pihak, yang satu menerima benda atau barang dan pihak lain menerimannya sesuai dengan kesepakatan atau perjanjian dengan keterangan yang telah di benarkan syara‟
dan di sepakati.23
Dari definisi di atas, dapat di simpulkan bahwa jual beli adalah proses pertukaran barang yang bernilai antara penjual dan
20 Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah Dalam Perspektif Kewenaangan Pengadilanl Agama, (Jakarta: Kencana, 2014), hlm, 38.
21 Veithzal Rivai, Et, “Islamic Transaction Low In Business dari Teori ke Praktik” (Jakarta: PT Bumi Aksara, Crakan Pertama, 2011), hlm, 222.
22Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama: 2000), hlm.111.
23 Asyraf Muhammad Dawwah, Meneladani Keunggulan Bisnis Rasulullah, (Semarang: Pustaka nuun,2008),hllm.58.
15
pembeli atas dasar suka sama suka serta tidak bertentangan dengan syariat islam.
b. Dasar Hukum Jual Beli
Jual beli adalah kegiatan tolong-menolong antar umat manusia dengan landasan kuat, yang sudah di jelaskan di dalam Al-Qu‟an dan Sunnah Rasulullah, di antaranya:
1)
Al-Qur‟anُلًَ ا َم َك َّلَِإ َنىُمىُلًَ َلَ ْاَٰىَبِّسلٱ َنىُلُكۡأًَ َنًِرَّلٱ ُن طُۡ َّشلٱ ُه ََٰ ُ
طَّب َخَتًَ ي ِر َّلٱ ُمى َمَّس َح َو َعَُۡب لٱ ُ َّللَّٱ َّل َح ۡ َ
أ َو ْْۗ
ا َٰىَبِّسلٱ ُل ۡثِم ُعَُۡبۡلٱ اَمَّهِإ ْآىُلاَك ۡمُهَّنَأِب َكِلََٰذ ِّۡۚسَۡلِٱ َنِم ُهُس ۡم َ
أ َو َفَل َس ا َم ۥ ُهَل َف َٰى َهَتهٱَف ۦ ِهِّبَّز نِّم ٞتَظِعۡىَم ۥُهَءٓاَج نَمَف ْۡۚاَٰىَبِّسلٱ ِِۖ َّللَّٱ ى َ
ل ِإ ٓۥ
َّنلٱ ُب ََٰح ۡص َ أ َكِئ ل ْو ََٰٓ ُ
أ َف َدا َع ۡن َم َو َنو ُد ِل ََٰخ اَهيِف ۡمُه ِِۖزا
24
Artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. al- Baqarah: 275).
2) Al-Hadis
24 QS Al-Baqarah [2]: 275
16
َص ي ّبَّه ا َّن َ
أ ٍعِف اَز ِنْب َتَع اَفِز ْنَع ُي َ
أ َل ِء ُس م َّل َس َو ِهَُْلَع لله ا ىَّل
. ٍز ْو ُرْب َم ٍعَُْب ُّل ُك َو ِە ِدَُِب ِلُخ َّسل ا ُلَمَع :ڶڦ , ُبَُْط َأ ٻ ْسَكْلا
25
Artinya :” Dari Rifa‟ah ibnu Rifa‟I Nabi SAW ditanya usaha apa yang paling baik? Nabi menjawab : Usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR Al- Bazzar dan al-Hakim).
Hadis tersebut menjelaskan bahwa jual beli yang benar yaitu jual beli yang memenuhi rukun dan syarat serta tidak ada unsur riba, kecurangan, penipuan, dan saling menjatuhkan.
3) Ijma‟
Para ulama telah sepakat bahwa jual beli di perbolehkan karena alasan sebagaimana fungsi manusia adalah sebagai mahluk sosial, dimana manusia tidak bisa hidup sendiri dan memerlukan bantuan manusia yang lainnya. Bantuan atau barang dari orang lain yanng di butuhkan untuk mencukupi kebutuhan tersebut harus di ganti dengan barang lainnya yang sesuai.26
c. Rukun dan Syarat Jual Beli 1) Rukun jual beli
a) Adanya orang yang berakad al-muta‟aqidain (penjual dan pembeli)
b) Adanya shigat (ijab dan kabul)
25 Muhammad bin Isma‟il Al-Kahlani, Subul As-Salam ,Juz 3 ,(Mesir:
Maktabah Mushthafa Al-Babiy Al-Halabiy,1960),hlm.4.
26 Rachmad Syafei, Fiqh Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), hlm.75.
17
c) Adanya barang yang di beli
d) Adanya nilai tukar pengganti barang.27
Rukun jual beli di atas harus terpenuhi dalam prakrik jual beli, karena jika salah satu tidak terpenuhi maka perbuatan tersebut tidak bisa di katagorikan jual beli. Agar kegiatan jual beli yang di lakukan oleh pihak penjual dan pembeli bisa di katakan sah, maka harus terpenuhi syarat- syarat yang berlaku dalam rukun jual beli.
2) Syarat jual beli
Syarat-syarat jual beli adalah sebagai berikut:
a) Pihak yang berakad
(1) Aqil (berakal). Oleh sebab itu tidak sah apabila orang gila atau anak kecil yang belum mumayyiz melakukan akad.
(2) Baligh (dewasa) (3) Kerelaan kedua pihak
(4) Mukhtar (mempunyai kebebasan dalam melakukan jual beli)
b) Barang yang di perjual belikan (Ma‟qud „Alaih) (1) Barang yang akan di perjual belikan harus ada.
(2) Tidak termasuk katagori barang haram (3) Barang tersebut milik penjual
c) Harga barang
(1) Harga yang disepakati harus jelas jumlahnya (2) Jangka waktu dan sistem pembayaran disepakati
bersama
(3) Jika jual beli dilakukan dengan saling menukar barang (barter), maka barang tersebut bukan barang haram
27 Abdul Rahman Ghazali, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 71.
18 d) Syarat ijab qobul
(1) Orang yang melakukan ijab qobul harus sudah baligh dan berakal
(2) Saat melakukan ijab qobul kedua belah pihak harus hadir.
Adapun syarat-syarat jual beli yang di tuturkan oleh ulama mazhab, di antaranya sebagai berikut:
Menurut mazhab Hanafi, syarat jual beli ada empat yaitu:
a. Orang yang melakukan akad harus mumayyiz dan baligh b. Sighat harus dilakukan di satu tempat, dan harus di dengar
oleh kedua belah pihak
c. Objeknya dapat di manfaatkan, milik sendiri dan suci d. Harga harus jelas
Menurut mazhab Maliki syarat jual beli ada 3 yaitu:
a. Orang yang melakukan akad harus cakap hukum, berakal sehat dan mumayyiz
b. Pengucapan lafzh di laksanakan dalam satu majelis, ijab dan kabul tidak terputus
c. Barang yang di perjual belikan harus suci, bermanfaat.
Menurut mazhab Syafi‟iyah, syarat jual beli ada 3 yaitu:
a. Orang yang melakukan akad harus mumayyiz, berakal, beragama islam dan kehendak sendiri
b. Objek yang di perjual belikan harus suci, dapat di manfaatkan secara syara‟, milik sendiri, dan sifat-sifatnya dapat di nyatakan dengan jelas
c. Ijab dan qobul tidak terputus dengan percakapan lain, dan harus jelas.
Menurut mazhab Hanbali, syarat jual beli ada 3 yaitu:
19
a. Orang yang melakukan akad harus berakal sehat dan baligh (kecuali barang-barang yang ringan), adanya kerelaan
b. Sighat harus berlangsung dalam satu majlis, akad tidak di batasi dengan periode waktu dan tidak terputus
c. Objeknya berupa harta milik para pihak, dapat di serah terima, harga di nyatakkan dengan jelas dan tidak ada halangan syara‟.28.
d. Macam-macam Jual Beli
Menurut Hendi Suhendi, jual beli di bagi menjadi 3 macam, yaitu:
a. Jual beli yang bendanya kelihatan, pada saat melakukan akad jual beli benda atau barang yang di perjual belikan ada di depan penjual dan pembeli.
b. Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam janji, misalnya jual beli salam (pesanan) jual beli salam adalah bentuk jual beli yang tidak tunai.
c. Jual beli yang tidak ada atau tidak kelihatan, iyalah jual beli yang dilarang oleh agama Islam. Karena barangnya belum tentu atau tidak jelas dan di khawatirkan barang tersebut di peroleh dari hasil curian atau titipan yang akibatnya dapat merugikan salah satu pihak.29
d. Jual beli yang bathil, iyalah jual beli yang salah satu atau seluruh rukunya tidak terpenuhi, atau jual beli tersebut sifatnya tidak di syariatkan atau barang yang di jual adalah barang-barang yang di haramkan syara‟.
28 Wahbah az-Zuahaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Jilid V (Jakarta:
Gema Insani, 2011), hlm.58-71.
29 Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar, et. al. Ensiklopedia Fiqih, hlm.37.
20
Misalnya seperti jual beli yang barangnya tidak ada (Bai‟ Ma‟dum), seperti menjual anak unta yang masih dalam kandungan. Jual beli yang barangnya tidak dapat diserahkan pada pembeli (Bai‟ Ma‟jus Taslim), misalnya memperjual belikan burung yang terbang dari pemiliknya. Jual beli ynag mengandung unsur penipuan (Gharar), misalnya seperti menjual barang barang yang belum jelas.
3. Gharar
Gharar adalah dimana kedua belah pihak tidak tau keadaan barang yang akan di perjual belikan sehingga ada kemungkinan terjadi penipuan, misalnya penjualan ikan yang masih di kolam atau buah-buahan yang belum pasti hasilnya.30 Dalam transaksi tersebut timbul akad ketidak pastian.
Larangan terhadap transaksi Gharar didasarkan pada larangan Allah Swt ata pengambilan hak atau harta orang lain dengan cara yang bathil. Allah Swt berfirman:
ٓ اَه ِب ْاىُل ۡدُتَو ِل ِطََٰبۡلٱِب مُكَنَِۡب مُكَلََٰىۡمَأ ْآىُلُكۡأَت َلََو ۡن ِّم ا ٗلٍِس َف ْاىُلُكۡأَتِل ِماَّكُحۡلٱ ىَلِإ
َنى ُمَلۡعَت ۡمُته َ
أ َو ِم ۡثِ ۡلۡٱِب ِساَّنلٱ ِلََٰىۡمَأ
31
Artinya: Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu memakan sebagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. Al- Baqarah:188).
Ayat diatas menjelaskan bahwa melakukakn suatu perbuatan haram dan berakibat dosa dengan kesadaran dalam melakukannya akan bernilai buruk dan lebih besar hukumannya.
30 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm.76.
31 QS Al-Baqarah [2]: 188
21 Al- Hadis
لله ا ىلص ِالله ُل ى ُسَز ى َهَه( :لك هنع لله ا ي ض ز ًة َسًْ َس ُه يِب َ أ ْن َع َو ِز َس َغْل َا ِع َُِْب ْنَع َو ِة اَصَح ْل َا ِعَُْب نع ملس و هُلع
Artinya: Abu Hurairah rhadiyallaahu „anhu berkata, “Rasulullah saw melarang jual beli dengan cara melempar batu dan jual beli gharar (yang belum jelas harga, barang, waktu dan tempatnya), (HR Muslim).
Dalam hadis diatas di jelaskan bahwa tindakan yang belum jelas harga, barang, tempat dan waktunya. Hal ini dilarang karena berdampak merugikan salah satu pihak dalam jual beli.
Gharar menurut Imam Nawawi, beliau menjelaskan larangan transaksi gharar sangat penting dalam jual beli. Oleh karena itu Imam Muslim menetapkannya diawal kitab shahihnya. Jual beli yang termasuk dalam katagori gharar misalnya, jual beli yang cacat, jual beli yang tidak diketahui objek jualnya, jual beli yang tidak sempurna dimiliki oleh penjual.
4. Tadlis
Tadlis adalah traksaksi yang terdapat hal-hal yang tidak diketahui oleh salah satu pihak yang melakukan transaksi jual beli tersebut. Setiap transaksi dalam Islam harus di dasarkan pada prinsip kerelaan antara kedua belah pihak. Mereka harus mempunyai informasi yang sama sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan atau ditipu.32 Dan kedua belah pihak mengetahui kondisi barang yang di perjual belikan.
Tadlis adalah sesuatu yang mengandung unsur penipuan.
Unsur ini sering terjadi dalam kegiatan jual beli, dimana salah
32 Ibid, hlm, 81.
22
satu pihak tidak memberikan informasi yang jujur kepada pihak lainnya. Dengan adanya penipuan yang di lakukan oleh penjual, hukum jual beli tersebut menjadi haram dan harta yang di peroleh tidak berkah.33 Kejujuran dalam jual beli merupakan sebab turunya berkah dari Allah SWT. Sebaliknya kebohongan merupakan sebab hilangnya keberkahan.
Menurut para Fukaha, tadlis (penipuan) ialah menutupi aib barang, ini bisa terjadi baik oleh penjual maupun pembeli.
Penjual dikatakan melakukan penipuan apabila ia menyembunyikan cacat barang dagangannya, sedangkan pembeli di katakana melakukan penipuan apabila ia memanipulasi alat pembayaran.
Dasar hukum tentang larangan semua transaksi bisnis yang mengandung unsur penipuan dalam transaksi dijelaskan dalam Al-Qur‟an surah Al-Baqarah ayat 42:
َّم َح ۡ
لٱ ْاى ُسِب ۡلَت َلََو َنى ُمَلۡعَت ۡمُته َ
أ َو َّم َح ۡ
لٱ ْاى ُمُت ۡكَت َو ِل ِطََٰب ۡ
34
لٱِب
Artinya: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah:42).
Maksud ayat diatas sudah jelas bahwa dalam segala trankasi harus berlaku transparan dan tidak ada manupulasi antara kedua pihak yang bersangkutan.
ًةَس ََٰجِت َنىُكَت نَأ ٓ َّلَِإ ِل ِطََٰبۡلٱِب مُكَنَِۡب مُكَلََٰىۡمَأ ْآىُلُكۡأَت َلَ ْاىُنَماَء َنًِرَّلٱ اَهُّيَأًََٰٓ
َ لََو ۡۚۡم ُكن ِّم ٖضاَس َت نَع ا ٗمُ ِحَز ۡم ُكِب َناَك َ َّللَّٱ َّنِإ ۡۚۡمُك َسُفهَأ ْآىُلُتۡلَت
35
33 Abdul Manan,Hukum Ekonomi Syariah,(Dalam Kewenangan Peradilan Agama), (Jakarta:Kencana,2012),hlm, 190.
34 QS Al-Baqarah [2]: 42
35 QS An-Nisa[4]: 29
23
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling dengan memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha penyayang kepadamu”. (QS. An- Nisa‟:29).
Melalui ayat tersebut Allah Swt melarang hambanya yang beriman memakan harta sebagian lainya dengan cara yang bathil, yakni dengan usaha yang tidak sesuai dengan syariat Islam misalnya, riba dan penjualan yang mengandung usnur penipuan (Tadlis). Hal tersebut dapat merugikan pihak lain dan perbuatan ini jelas diharamkan.
Al-Qur‟an mengaitkan dasar-dasar berinteraksi dalam harta, perdagangan dan jual beli dengan akidah yang menunjukan sifat agama, yang menyeimbangkan antara akidah dan syariat, serta antara muamalah dengan ibadah, bahwa semua adalah unsur agama. Antara janji Allah mengatakan berbuat benar tidak ada spekulasi dan adil meskipun terhadap kerabatmu dan sempurnakalanlah takaran dan timbangan yang adil.36 Allah selalu mengingatkan kepada manusia untuk tidak melakukan kegiatan keji dalam melakukan transaksi.
Allah Swt mengingatkan manusia untuk tidak melakukan perbuatan yang keji dalam melakukan transaksi jual beli seperti kecurangan yang dilakukan penjual yang mencampurkan daging kualitas segar dengan daging yang sudah di frezer, hal tersebut dapat merugikakn salah satu pihak dan adanya azab Allah yang sangat pedih. Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad Saw mengenai larangan menipu dalam jual beli:
36 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zilalil Qu‟an, Jilid iv, (Jakarta: Gema Insani, 2002), hlm,246.
24
ىلع سم ملس و هُلع لله ا ىلص لله ا ل ىس ز ن أ ة سً سه ي ب أ نع ام ل الف لالب هعب اص أ تل انف اهيف ة دً لخ د أف م اعط ة ربص لله ا ل ىس ز اً ء امسل ا هتب اص أ ل اك م اعطل ا بح اص اً ا ره شغ نم س انل ا ة ا سً ي ك م اعطل ا ق ىف هتلعج لاف أ ل اك
ا و ز( ينم سِلف
)ملسم
Artinya: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memsukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau meeyentuh susuatu yang basah, maka beliau bertanya “apa ini wahai pemilik makanan? Sang pemilik makanan menjawab “makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah, Beliau bersabda: mengapa engkau tidak meletakkan bagian yang basah ini diatas sehingga manusia dapat melihatnya? Barang siapa yang menipu maka ia bukan dariku.” (HR. Muslim)37
Berdasarkan hadis diatas,larangan jual beli yang mengandung penipuan dan larangan tersebut menuntut hukum haram dan rusaknya akad serta segala penipuan dalam semua aktivitas manusia, termasuk kegiatan jual beli.
Rasululah menegaskan transaksi yang dilakukan atas dasar ketidak jujuran maka transaksi tersebut tidak mendapat keberkahan.
Bentuk bentuk Tadlis, antara lain:
a. Tadlis (Penipuan) dalam kualitas, termasuk juga menyembunyikan cacat atau kualitas barang yang buruk dengan yang bagus. Misalnya menyembunyikan kualitas atau cacat dari barang yang akan diperjual belikan.
Contohnya seperti jual beli daging yang dilakukan di
37 Muhammad Nashiruddin Al-Bani, Shahih Sunan Tirmidzi Seleksi Hadits Shahih Dari Kitab Sunan Tirmidzi, buku 2, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), hlm, 85.
25
pasar Barabali, pedagang mencampurkan daging dengan kualitas segar dengan daging yang sudah di frezer.
b. Tadlis (penipuan) dalam harga, misalnya menjual barang dengan harga yang lebih tinggi atau lebih rendah dari harga pasar.
c. Tadlis (penipuan) waktu penyerahan, misalnya penjual berkata akan menyerahkan barang secepatnya, tapi penjual melakukan penguluran waktu dengan berbagai alasan.
d. Tadlis (penipuan) dalam kuantitas, adalah kegiatan menjual barang kuantitas sedikit dengan harga barang kuantitas banyak. Misalnya membeli jilbab sebanyak satu container. Karena jumlahnya banyak dan tidak mungkin dihitung satu persatu, penjual melakukan penipuan dengan mengurangi jumlah barang yang dikirim kepada pembeli.38 Praktik tersebut dapat merugikan pihak pembeli.
Menurut Salwh Al-Fauzan, tadlis ada dua bentuk:
1. Dengan cara menyembunyikan cacat yang ada pada barang tersebut.
2. Dengan menghias atau memperindah barang yang dijual sehingga harganya bisa naik dari biasanya.39
Faktor terjadinya Tadlis atau penipuan dalam transaksi antara lain sebagai berikut:
1. Faktor keinginan, maksudnya adalah ada kemauan yang sangat besar yang mendorong si penjual untuk melakukan kecurangan dalam melakukan jual beli.
38 Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islami,
39 Saleh Fauzan, Fiqih Sehari-Hari, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005),hlm, 382.
26
2. Faktor kesempatan, maksudnya adanya keadaan yang memungkinkan atau adanya peluang yang mendukung untuk terjadinya kecurangan dalam melakukan transaksi.
3. Faktor lemahnya iman, merupakan faktor yang sangat mendasar, yang menyebabkan seorang melakukan kecurangan.40 Ketika ketiga faktor diatas berkumpul maka wajib akan terjadi kecurangan.
4. Rendahnya kesadaran hukum pemeriintah dalam mengawasi harga pasar.
5. Rendahnya kesadaran penjual serta kurangnya penyuluhan hukum tentang peraturan-peraturan harga pasar.
Seperti yang sudah disebutkan diatas, faktor pemicu terjadinya penipuan karena manusia memiliki rasa tidak puas atas apa yang telah dimiliki dan ingin mendapat keuntungan yang lebih banyak dari setiap usaha yang dijalankan dalam upaya memenuhi kebutuhan. Apabila kemauan tersebut tidak diiringi dengan pengetahuan agama yang cukup maka manusia akan terjerumus kedalam praktik tadlis tersebut.
G. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Penelitian yang di lakukan adalah penelitian kualitatif, data-data yang diperoleh oleh peneliti sesuai dengan fakta yang terjadi dilapangan. Menggambarkan suatu fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kemudian menghasilkan data yang mencakup bagaiamana praktik dalam penjualan daging sapi di pasar Barabali.
2. Kehadiran Peneliti
40 Ibnu Jauzy, Ketika Nafsu Berbicara, (Jakarta: Cendikia Centra Muslim,2004), hlm, 54.
27
Pada kegiatan penelitian ini, peneliti berperan sebagai pengumpul data yang melakukan observasi langsung untuk mendapatkan data yang akurat, maka yang peneliti lakukan antara lain:
a. Melakukan observasi mengenai penerapan etika bisnis Islam terhadap penjualan daging sapi.
b. Melakukan wawancara terhadap para pihak yaitu penjual dan para konsumen.
3. Sumber data
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua sumber data yang berakitan dengan pokok permasalahan, yaitu sumber data primer dan sekunder.
a. Sumber data primer
Sumber data primer adalah sumber data yang di peroleh langsung dari pihak pertama, yang di kumpulkan atau di peroleh dari hasil observasi atau eksperimen41. Pada proses penelitian sumber data di peroleh langsung dari narasumber yang ada di Pasar Barabali Kecamatan Batukliang Kabupaten Lombok Tengah, yaitu pejual daging sapi dan pembeli daging sapi.
b. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang di peroleh dari sumber atau data yang sudah tersedia, misalnya Al-Qur‟an, Hadis, buku, jurnal, laporan, dan lain-lain sebagai data pendukung dalam penelitian.
41 Burhan Bungin, Metode Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodelogi ke Arah Ragam Varian Kontenporer, (Jakarta: PT Grafindo Persada,2008), hlm. 124.
28 4. Pengumpulan data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah gabungan antara penelitian pustaka dan lapangan. Yang sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian maka metode yang diguanakan adalah sebagai berikut:
a. Metode wawancara
Wawancara di lakukan dengan cara tanya jawab kepada penjual daging sapi dan para pembeli yang ada di lingkungan pasar Barabali Kecamatan Batukliang Kabupaten Lombok Tengah.
Metode wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara terstruktur, peneliti meyiapkan sendiri segala pertanyaan yang akan diajukan kepada para pedagang dan pembeli daging sapi di pasar Barabali. Agar pertanyaan yang peneliti ajukan dapat terstruktur dan jelas sehingga dapat di pahamai oleh peneliti.
b. Metode Observasi
Peneliti menggunakan tehnik observasi berpartisipasi (Participation observation), dimana pengamat bertindak sebagai partisipan.42 Dalam penelitian kualitatif, peneliti melakukan pengamatan dan wawancara dalam mengumpulkan data lapamgan. Pada saat melakukan observasi di lapangan, peneliti membuat catatan kemudian setelah pulang kerumah peneliti menyusun hasil catatan di lapangan, atau hasil tanya jawab.
5. Analisis data
Analisis yang digunakan adalah metode analisis kualitatif dan cara berfikir deduktif. Metode kualitatif
42 Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif,(Bandung:Alfabeta:2005),hlm.64.
29
digunakan untuk menganalisis data yang tidak berupa angka, dan dalam menganalisis data digunakan cara deduktif, yakni dari dalil-dalil yang bersifat umum kemudian diteliti untuk mengambil kesimpulan yang bersifat khusus. Dalam skripsi ini peneliti meneliti tentang praktik jual beli daging campuran di pasar Barabali dengan teori jual beli gharar dan tadlis dalam fiqh muamalah.
6. Keabsahan data
Keabsahan data dalam penelitian kualitatif sangat penting, melalui keabsahan data kepercayaan penelitian kualitatif dapat dicapai. Dalam mengecek keabsahan data peneliti yang telah diperoleh, maka peneliti menggunakan tehnik triangulasi. Triangulasi yaitu tehnik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu dari luar data untuk pengecekan atau perbandingan data.43
Tehnik triangulasi yang peneliti gunakan adalah triangulasi metode. Triangulasi metode adalah pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian dengan beberapa tehnik pengumpulan data. Misalnya menegcek data atau informasi yang diperoleh dari metode wawancara, kemudian data tersebut dicek kembali melalui metode observasi atau dokumentasi. Hal tersebut dilakukan dengan cara data yang diperoleh dari informan kemudian di cek lagi dengan mengamati secara langsung apa yang diteliti.
H. Sistematika pembahasan
43 Nasution, Metode Research, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm. 372.
30
Sistematika penulisan yang peneliti gunakan meerujuk pada pedoman penulisan skripsi Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram seabagai berikut:
a. Bagian awal
Bagian awal terdiri dari halaman sampul, judul, persetujuan pembimbing, pernyataan keaslian, halaman, pengesahan,motto, persembahan, kata pengantar, daftar isi.
b. Bagian isi
Bagian isi terdiri dari; bab I pendahuluan, bab II paparan data dan temuan, bab III pembahasan, dan bab IV penutup.
Berikut rincian dari bagian isi.
1. Bab I terdapat uraian mengenai latar belakang penelitian yang peneliti lakukan dan sebagai acuan dalam menjawab persoalan pada penelitian ini pada bab selanjutnya. Bagian ini terdiri dari rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, ruang lingkup dan setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
2. Bab II terdapat uraian mengenai data dan temuan peneliti selama proses penelitian ini berlangsung, yaitu berupa gambaran umum lokasi penelitian, Pasar Barabali Kecamatan Batukliang Kabupaten Lombok Tengah.
3. Bab III Pembahasan terdapat uraian mengenai hasil analisis penelitian. Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan jawaban yang sebelumnya menjadi persoalan dari penelitian ini.
4. Bab IV Penutup berisi uraian kesimpulan dan saran peneliti terkait penelitian ini.