• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.5 Defenisi Operasional

2. Jika nilai signifikansi (sig.) < probabilitas 0, 05 maka variasi variabel motivasi antara responden pria dan wanita berbeda atau dengan demikian hipotesis diterima.

Pengujian 2 :

1. Jika nilai signifikansi (sig.) > probabilitas 0, 05 maka variasi variabel independensi antara responden pria dan wanita sama atau dengan demikian hipotesis ditolak.

2. Jika nilai signifikansi (sig.) < probabilitas 0, 05 maka variasi variabel independensi antara responden pria dan wanita berbeda atau dengan demikian hipotesis diterima.

Berdasarkan perbandingan Nilai thitung dengan ttabel :

1. Jika nilai thitung > ttabel maka terdapat perbedaan antara responden pria dan wanita atau hipotesis diterima.

2. Jika nilai thitung < ttabel maka tidak terdapat perbedaan antara responden pria dan wanita atau hipotesis ditolak.

itu sendiri merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional, perkasa. Variabel independen pada penelitian ini adalah gender yang mengacu pada feminim dan maskulin.

a. Auditor Pria b. Auditor Wanita 3.5.2 Motivasi

Motivasi adalah kebutuhan dari dalam diri yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu aktifitas tertentu. Ketika seseorang tidak memiliki motivasi dalam melakukan suatu hal maka hasil yang dicapainya tidak akan sesuai dengan keinginan. Beberapa faktor yang dapat membangkitkan motivasi adalah pengakuan atas apa yang telah dicapainya yaitu dengan memberikannya penghargaan. Motivasi seorang karyawan bisa menurun karena beberapa hal seperti, upah yang diterima tidak sesuai dengan hasil kerja kerasnya, perlakuan yang tidak adil dari atasan, dan kurangnya perhatian dari atasan. Kurangnya motivasi akan berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan yang akan berdampak terhadap diri sendiri bahkan kepada perusahaan.

3.5.3 Independensi

Independensi merupakan sikap mental yang harus dimiliki oleh auditor sebagai pihak yang secara independen tidak dapat dipengaruhi oleh pihak manapun. Independensi auditor adalah sikap yang terdapat pada diri auditor yang bebas dari pengaruh dan tekanan dari dalam maupun dari luar

ketika mengambil suatu keputusan, dimana dalam pengambilan keputusan tersebut harus berdasarkan fakta yang ada dan secara obyektif. Seorang auditor harus bersifat independen dalam melaksanakan tugasnya agar

dapat diterima dan dipercaya oleh klien.

38 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan

4.1.1 Sejarah Singkat Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

Sejarah Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tidak terlepas dari sejarah panjang perkembangan lembaga pengawasan sejak sebelum era kemerdekaan. Dengan besluit Nomor 44 tanggal 31 Oktober 1936 secara eksplisit ditetapkan bahwa Djawatan Akuntan Negara (Regering Accountantsdienst) bertugas melakukan penelitian terhadap pembukuan dari berbagai perusahaan negara dan jawatan tertentu. Dengan demikian, dapat dikatakan aparat pengawasan pertama di Indonesia adalah Djawatan Akuntan Negara (DAN). Secara struktural DAN yang bertugas mengawasi pengelolaan perusahaan negara berada di bawah Thesauri Jenderal pada Kementerian Keuangan.

Dengan Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 1961 tentang instruksi bagi Kepala Djawatan Akuntan Negara (DAN), kedudukan DAN dilepas dari Thesauri Jenderal dan ditingkatkan kedudukannya langsung di bawah Menteri Keuagan. DAN merupakan alat pemerintah yang bertugas melakukan semua pekerjaan akuntan bagi pemerintah atas semua departemen,

39

jawatan, dan instans di bawah kekuasaannya. Sementara itu fungsi

pengawasan anggaran

dilaksanakan oleh Thesuari Jenderal. Selanjutnya dengan keputusan Presiden Nomor 239 Tahun 1966 dibentuklah Direktorat Djendral Pengawasan Keuangan Negara (DDPKN) pada Departemen Keuangan. Tugas DDPKN (dikenal kemudian sebagai DJPKN) meliputi pengawasan anggaran dan pengawasan badan usaha/jawatan, yang semula menjadi tugas DAN dan Thesuari Jenderal. DJPKN mempunyai tugas melaksanakan pengawasan seluruh pelaksanaan anggaran negara, anggaran daerah, dan badan usaha milik negara/daerah. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 70 Tahun 1971 ini, khusus pada Departemen Keuangan, tugas Inspektorat Jendral dalam bidang pengawasan keuangan negara dilakukan oleh DJPKN.

Dengan diterbitkan Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 tanggal 30 Mei 1983, DJPKN ditransformasikan menjadi BPKP, sebuah lembaga pemerintah non departemen (LPND) yang berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden.

Salah satu pertimbangan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 tetang BPKP adalah diperlukannya badan atau lembaga pengawasan yang dapat melaksanakan fungsinya secara leluasa tanpa mengalami kemungkinan hambatan dari unit organisasi pemerintah yang menjadi obyek pemeriksaannya.

Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah telah meletakkan struktur organisasi BPKP

sesuai dengan proporsinya dalam konstelasi lembaga-lembaga Pemerintah yang ada. BPKP dengan kedudukannya yang terlepas dari semua departemen atau lembaga sudah barang tentu dapat melaksanakan fungsinya secara lebih baik dan obyektif.

BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan yang beralamatkan di Jalan Tamalanrea Raya No. 3 Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Makassar, merupakan unit pelaksana BPKP sesuai Keputusan Kepala BPKP Nomor Kep-06.00.00-286/K/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja BPKP yang terakhir diubah dengan Peraturan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Nomor PER-616/K/SU/2011 tanggal 25 Mei 2011.

Berdasarkan surat keputusan tersebut dan amanah dari Peraturan Pemerintah No 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan mendapat tugas untuk melaksanakan program pengawasan intern akuntabilitas keuangan negara dan pembina penyelengaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Wilayah kerja BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan meliputi Provinsi Sulawesi Selatan dengan satu pemerintah provinsi dan 24 pemerintah kabupaten/kota.

4.1.2 Visi dan Misi BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan 4.1.2.1 Visi

“Auditor Internal Pemerintah RI Berkelas Dunia untuk Meningkatkan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan Nasional di Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan”.

4.1.2.2 Misi

a. Menyelenggarakan Pengawasan Intern terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan Nasional guna Mendukung Tata Kelola Pemerintah dan Korporasi yang Bersih dan Efektif

b. Membina Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah yang Efektif

c. Mengembangkan Kapabilitas Pengawasan Intern Pemerintah yang Profesional dan Kompeten.

4.1.2.3 Motto

Motto BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan “5 Sipa + 1 Sipo” memiliki nuansa muatan lokal kedaerahan yang relevan dengan kondisi dan budaya, yaitu :

a. Sipatuo (saling mendukung)

Senantiasa mengamalkan perilaku yang saling mendukung antara sesama pegawai dalam

melaksanakan tugas sehari-hari, karena seluruh pegawai memiliki komitmen yang sama untuk mencapai tujuan organisasi.

b. Sipatokkong (saling menopang/membantu)

Senantiasa mengamalkan perilaku yang saling menopang/membantu diantara sesama pegawai, jika terdapat pegawai yang mengalami kesulitan dalam bekerja diharapkan pegawai yang lain turun tangan untuk membantu.

c. Sipakatau (saling menghargai)

Senantiasa mengamalkan perilaku saling menghormati diantara sesama pegawai dan menghargai para pemangku kepentingan (stakeholders) BPKP.

d. Sipakainge’ (saling mengingatkan)

Senantiasa mengamalkan perilaku yang saling mengingatkan antara sesama pegawai, sehingga seluruh pegawai yang lalai atau melakukan kesalahan dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya akan diingatkan oleh pegawai yang lain.

e. Sipakalebbi (saling mengapresiasi)

Senantiasa mengamalkan perilaku yang saling mengapresiasi antara sesama pegawai, sehingga seluruh

pegawai merasa mempunyai andil dalam mencapai tujuan organisasi.

f. Siporennu (saling merindukan)

Senantiasa mengamalkan perilaku yang saling merindukan dengan menjalin/menjaga hubungan diantara sesama pegawai sehingga tercipta suasana kekeluargaan di lingkungan kantor.

4.1.3 Tugas Pokok dan Fungsi

Aktivitas utama pengawasan merupakan kegiatan utama (core business) BPKP berupa kegiatan pengawasan yang dilakukan dalam rangka mendorong terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik, meningkatnya kinerja program pemerintah, serta terwujudnya iklim yang mencegah KKN untuk keberhasilan pencapaian target-target dan prioritas pembangunan nasional.

Sedangkan aktivitas pendukung adalah semua aktivitas yang dilakukan untuk mendukung aktivitas utama.

Adapun peran yang dapat dan telah dilaksanakan oleh BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan adalah peran consulting untuk meningkatkan tata kelola pemerintahan instansi pemerintah pusat/daerah dan BUMN/D di wilayah Sulawesi Selatan dan wilayah Sulawesi Barat. Sedangkan peran assurance berupa audit keuangan atas Loan/Grant yang dilakukan atas permintaan Lender telah dapat diselesaikan secara tepat waktu

dengan kualitas audit/hasil audit yang baik. Demikian halnya dengan audit dalam rangka optimalisasi atas penerimaan negara dan daerah. Peran dalam upaya mewujudkan iklim pencegahan dan pemberantas korupsi telah memberikan hasil yang cukup siginfikan dengan meningkatnya jumlah kasus yang diserahkan ke Instansi Penegak Hukum, baik melalui audit investigasi, hasil penghitungan kerugian keuangan negara, pemberian keterangan ahli termasuk tindakan preventif berupa meningkatnya pemahaman dan kepedulian masyarakat peserta sosialisasi anti korupsi terhadap bahaya korupsi.

Terkait dengan kegamangan/keragu-raguan sebagian besar pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah, BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan menempatkan dirinya sebagai clearing house dengan memberikan solusi dalam bentuk sosialisasi, asistensi dan review pengadaan barang dan jasa.

Disamping itu keberhasilan keseluruhan progam, juga tercermin dari nilai pengawasan (audit value) berupa terjadinya peningkatan tindaklanjut hasil pengawasan yang merupakan respon auditan terhadap hasil-hasil audit/pengawasan.

Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi mempunyai fungsi, yaitu :

1. Penyiapan rencana dan program kerja pengawasan.

2. Pengawasan terhadap pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan pengurusan Barang Milik/Kekayaan Negara.

3. Pengawasan terhadap pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan pengurusan Barang Milik/Kekayaan Daerah.

4. Pengawasan terhadap penyelenggaraan tugas pemerintahan yang bersifat strategis dan/atau lintas Departemen/Lembaga/Wilayah.

5. Pemberian asistensi Sistem Akuntabilitas Kinerja dan Sistem Akuntansi Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah.

6. Evaluasi atas Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah.

7. Audit terhadap Badan Usaha Milik Negara, Pertamina, Cabang Usaha Pertamina, Kontraktor Bagi Hasil dan Kontraktor Kerjasama, badan-badan lain yang didalamnya terdapat kepentingan pemerintah, pinjaman bantuan luar negeri yang diterima Pemerintah Pusat, dan Badan Usaha Milik Daerah atas permintaaan sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

8. Investigasi terhadap indikasi penyimpangan yang merugikan negara pada instansi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara dan badan-badan lain yang didalamnya

terdapat kepentingan pemerintah, audit terhadap hambatan kelancaran pembangunan, dan pemberian bantuan audit pada instansi penyidik dan instansi pemerintah lainnya.

9. Pelaksanaan analisis dan penyusunan laporan hasil pengawasan serta pengendalian mutu pengawasan.

10. Pelaksanaan administrasi BPKP.

Disamping itu sebagai auditor yang bertanggungjawab kepada Presiden seperti dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008, BPKP berperan mendukung akuntabilitas Presiden dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan negara melalui fungsi :

1. Pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara atas kegiatan tertentu yang meliputi (Pasal 49) :

a. Kegiatan yang bersifat lintas sektoral, yaitu kegiatan yang dalam pelaksanaannya melibatkan dua atau lebih kementerian negara/lembaga atau pemerintah daerah yang tidak dapat dilakukan pengawasan oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah kementerian negara/lembaga, provinsi, atau kabupaten/kota karena keterbatasan kewenangan,

b. Kegiatan kebendaharaan umum negara berdasarkan penerapan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). Khusus dalam rangka

pelaksanaan pengawasan intern atas kegiatan kebendaharaan umum Negara, Menteri Keuangan melakukan koordinasi kegiatan yang terkait dengan instansi pemerintah lainnya,

c. Kegiatan lain berdasarkan penugasan Presiden.

2. Pembinaan penyelenggaraan sistem pengendalian intern pemerintah (Pasal 59)

3. Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebelum disampaikan Menteri Keuangan kepada Presiden (Pasal 57 ayat 4)

4. Penyampaian ikhtisar laporan hasil pengawasan yang bersifat nasional (dari hasil pengawasan BPKP dan APIP lainnya) sebagaimana tertuang dalam Pasal 54 ayat 3.

4.1.4 Struktur Organisasi

Gambar 4.1 Struktur Organisasi

(Sumber : BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan, Juni 2019)

BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan dipimpin oleh Kepala Perwakilan, Arman Sahri Harahap, dan dibantu oleh Kepala Bagian Tata Usaha dan Koordinator Pengawasan pada setiap Bidang, yaitu :

a. Kepala Bagian Tata Usaha, Agus Catur Hartanto.

b. Koordinator Pengawasan Bidang Instansi Pengawasan Pemerintah (IPP) 1, Abdul Samid Monri.

c. Koordinator Pengawasan Bidang Instansi Pengawasan Pemerintah (IPP) 2, M. Taufiq Tjadi Aman.

d. Koordinator Pengawasan Bidang Akuntabilitas Pemerintah Daerah (APD) 1, Sigit Sulistiyohadi.

e. Koordinator Pengawasan Bidang Akuntabilitas Pemerintah Daerah (APD) 2, Muh. Abdi Uluelang.

f. Koordinator Pengawasan Bidang Akuntan Negara (AN) 1, Bambang Puji Hartono.

g. Koordinator Pengawasan Bidang Akuntan Negara (AN) 2, Triyono JP.

h. Koordinator Pengawasan Bidang Investigasi 1, Ide Juang H.

i. Koordinator Pengawasan Bidang Investigasi 2, Ali Ihsan.

j. Koordinator Pengawasan Bidang Program Pelaporan dan Pembinaan APIP, Iman Setyadi.

sedangkan, Kepala Bagian Tata Usaha dibantu oleh Kepala Sub Bagian, yaitu : a. Kepala Sub Bagian Kepegawaian, Basri.

b. Kepala Sub Bagian Keuangan, Baden.

c. Kepala Sub Bagian Umum, Richard Anthoni.

4.2 Deskripsi Data

Pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh dengan menyebarkan kuisioner kepada responden dengan mendatangi langsung lokasi penelitian yaitu pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan. Responden dari penelitian ini adalah auditor yang bekerja di Kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan. Proses pendistribusian hingga pengumpulan data dilakukan kurang lebih selama 2 minggu yaitu dari tanggal 13 Mei sampai dengan 24 Mei 2019. Peneliti menyebar 50 kuisioner, 44 kuisioner diterima kembali dan 6 sisanya tidak kembali.

Dari jumlah kuisioner yang diterima kembali, tidak terdapat yang cacat dan tidak terisi. Sehingga yang dapat diolah lebih lanjut sebanyak 44 kuisioner. Adapun rincian pendistribusian kuisioner tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.1

Pengambilan Kuisioner

NO KETERANGAN JUMLAH PERSENTASE

1 Kuisioner yang dibagi 50 100%

2 Kuisioner yang kembali 44 88%

3 Kuisioner yang tidak kembali 6 12%

4 Kuisioner yang cacat 0 0%

5 Kuisioner yang dapat diolah 44 88%

n sampel = 50

Responden Rate = (50/50) X 100% = 100%

Sumber : Data Primer yang diolah, 2019

Berdasarkan hasil survei dengan menggunakan kuisioner, karakteristik responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu jenis kelamin, umur, lama bekerja dan pendidikan terakhir yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Karakteristik Jenis Kelamin Responden

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin menguraikan atau menggambarkan tingkat persentase dari responden yakni jenis kelamin pria dan wanita, hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.2

Karakterisktik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Sumber : Data Primer diolah, 2019

Jenis Kelamin Jawaban Responden Orang Persentase

Pria 24 55%

Wanita 20 45%

Total 44 100%

Tabel diatas menunjukkan bahwa komposisi pria lebih banyak jika dibandingkan dengan wanita. Dari total 44 responden yang diteliti maka 55% diantaranya adalah pria, sedangkan sebanyak 45% adalah responden wanita. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar auditor yang bekerja di Kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan adalah pria.

2. Karakteristik Umur Responden

Karakteristik responden berdasarkan umur merupakan salah satu hal yang penting dalam penelitian, karena umur responden akan mempengaruhi pendapat mereka mengenai suatu objek. Gambaran mengenai umur responden dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 4.3

Karakteristik Responden berdasarkan Umur

UMUR Jawaban Responden

Orang Persentase

20 – 30 tahun 22 50%

31 – 40 tahun 16 36%

Sumber : Data Primer diolah, 2019

Mengacu pada komposisi karakteristik identitas responden berdasarkan umur, terlihat bahwa sebagian besar umur responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah umur 20 – 30 tahun yakni sebanyak 50%. Hal ini berarti bahwa rata-rata auditor yang bekerja di Kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan dan menjadi sampel penelitian ini adalah sebagian besar berumur antara 20 – 30 tahun.

3. Karakteristik Lama Bekerja Responden

Lama bekerja atau masa kerja responden adalah menggambarkan masa tenggang waktu kerja responden pada instansi tempat mengabdikan dirinya. Lamanya bekerja responden lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.4

41 – 50 tahun 4 9%

>50 tahun 2 5%

Total 44 100%

Lama Bekerja Jawaban Responden

Karakterisktik Responden berdasarkan Lama Bekerja

Sumber : Data Primer diolah, 2019

Berdasarkan data tersebut diatas, maka dapat diketahui bahwa untuk lamanya kerja responden yang terbesar dalam penelitian ini adalah antara 6 – 10 tahun yakni sebanyak 17 orang atau sebesar 39%. Hal ini dapat diartikan bahwa sebagian besar auditor yang bekerja pada Kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan adalah mempunyai masa kerja antara 6 – 10 tahun.

4. Karakteristik Pendidikan Terakhir Responden

Pendidikan seringkali dipandang sebagai satu kondisi yang mencerminkan kemampuan atau pengetahuan baik formal maupun informal yang dimiliki seorang responden. Penyajian data responden berdasarkan pendidikan terakhit bisa dilihat dalam tabel berikut :

Orang Persentase

1 – 5 tahun 13 30%

6 – 10 tahun 17 39%

11 – 15 tahun 9 20%

>15 tahun 5 11%

Total 44 100%

Tabel 4.5

Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan Terakhir

Lama Bekerja Jawaban Responden Orang Persentase

D-III 8 18%

S1 / D-IV 31 71%

S2 5 11%

Total 44 100%

Sumber : Data primer diolah, 2019

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan data bahwa jumlah responden berdasarkan pendidikan terakhir yang terbesar adalah sarjana (S1) yakni sebanyak 31 orang atau sebesar 71%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar auditor yang bekerja pada Kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan adalah mempunyai pendidikan sebagai sarjana (S1).

4.3 Analisis Data

4.3.1 Uji Deskriptif Data

Tabel 4.6

Statistik Deskriptif

Sumber : Data diolah, 2019

N Range Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic

Motivasi 44 21.00 25.00 46.00 37.7500 .63223 4.19371

Independensi 44 19.00 31.00 50.00 36.9545 .52219 3.46380

Valid N (listwise)

44

Berdasarkan hasil output dari hasil uji SPSS menunjukkan jumlah responden (N) 44. Tanggapan responden berdasarkan motivasi auditor terkecil (minimum) adalah 25 dan independensi auditor nilai terkecil sebesar 31. Rata-rata tanggapan responden akan motivasi auditor bernilai 37.75 dengan standar deviasi sebesar 4.193 dan independensi auditor bernilai 36.95 dengan standar deviasi sebesar 3.463. Untuk nilai selisi dari motivasi auditor bernilai 21 dan untuk independensi auditor bernilai 19.

4.3.2 Uji Validitas Data

Uji validitas daftar pertanyaan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kehandalan angket. Kehandalan angket mempunyai arti bahwa angket mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Pengukuran validitas dalam penelitian ini menunjukkan jumlah varians dari indikator yang diekstraksi oleh konstruk/variable laten yang dikembangkan.

Pengujian keabsahan (validitas) dari suatu instrumen penelitian perlu adanya penggunaan metode dalam menguji setiap instrumen penelitian. Uji validitas dilakukan untuk mengukur sah atau tidaknya indikator atau kuisioner dengan membandingkan rhitung dan rtabel. Nilai rhitung merupakan hasil korelasi jawaban responden pada masing – masing pertanyaan di setiap variabel yang dianalisis dengan program SPPS dan outputnya bernama corrected item correlation. Untuk hasil lengkap dari uji validitas

atas motivasi pada BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 4.7

Hasil Uji Validitas Variabel Motivasi

Indikator

Corrected Item-Total Correlation

Rtabel Keterangan

Motivasi P1 0, 614 0, 2907 Valid

Motivasi P2 0, 491 0, 2907 Valid

Motivasi P3 0, 639 0, 2907 Valid

Motivasi P4 0,638 0, 2907 Valid

Motivasi P5 0,634 0, 2907 Valid

Motivasi P6 0, 652 0, 2907 Valid

Motivasi P7 0, 772 0, 2907 Valid

Motivasi P8 0, 594 0, 2907 Valid

Motivasi P9 0, 630 0, 2907 Valid

Motivasi P10 0, 642 0, 2907 Valid

Sumber : Data diolah, 2019

Berdasarkan tabel 4.7 hasil uji validitas atas motivasi dengan 10 item pertanyaan maka setelah dilakukan pengujian validitas, dapat dikatakan bahwa pada item pertanyaan motivasi yang pertama dinyatakan sudah valid sebab memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 (0,614 > 0,2907), pada item pertanyaan motivasi yang kedua dinyatakan sudah valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 (0,491 > 0,2907), selanjutnya pada item pertanyaan motivasi yang ketiga dinyatakan sudah valid karena memiliki nilai corrected item

correlation di atas 0, 2907 (0,639 > 0,2907), kemudian pada item pertanyaan motivasi yang keempat memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 (0,638 > 0,2907) hal ini berarti bahwa item pertanyaan tersebut sudah valid, pada item pertanyaan motivasi yang kelima dinyatakan sudah valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 (0,634 > 0,2907), pada item pertanyaan motivasi yang keenam dapat dikatakan valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 (0,652 > 0,2907), pada item pertanyaan motivasi yang ketujuh dinyatakan sudah valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 (0,772 > 0,2907), selanjutnya pada item pertanyaan motivasi yang kedelapan dinyatakan sudah valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 (0,594 >

0,2907), kemudian pada item pertanyaan motivasi yang kesembilnan dinyatakan sudah valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 (0,630 > 0,2907), dan pada item pertanyaan motivasi yang terakhir dapat dikatakan valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 yaitu 0, 642 (0,642 > 0,2907). Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dari 10 item pertanyaan dalam variabel motivasi semuanya sudah valid sebab memiliki nilai corrected item correlation diatas dari 0. 2907.

Kemudian akan disajikan uji validitas atas variabel independensi yang dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 4.8

Hasil Uji Validitas Variabel Independensi

Indikator

Corrected Item-Total Correlation

Rtabel Keterangan

Independensi P1 0, 578 0, 2907 Valid Independensi P2 0, 554 0, 2907 Valid Independensi P3 0, 456 0, 2907 Valid Independensi P4 0, 429 0, 2907 Valid Independensi P5 0, 460 0, 2907 Valid Independensi P6 0, 486 0, 2907 Valid Independensi P7 0, 611 0, 2907 Valid Independensi P8 0, 469 0, 2907 Valid Independensi P9 0, 552 0, 2907 Valid Independensi P10 0, 527 0, 2907 Valid

Sumber : Data diolah, 2019

Dari tabel uji validitas untuk variabel independensi dengan 10 indikator pertanyaan maka dapat dikatakan bahwa pada indikator pertanyaan independensi yang pertama dinyatakan sudah valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 yaitu 0, 578, pada indikator pertanyaan independensi yang kedua dinyatakan sudah valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 yakni 0, 554, dan pada indikator pertanyaan independensi yang ketiga dinyatakan sudah valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907

yaitu 0, 456, pada indikator pertanyaan independensi yang keempat memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 yakni 0, 429 maka dapat dikatakan indikator pertanyaan ini sudah valid, pada indikator petanyaan independensi yang kelima dinyatakan sudah valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 (0,460 > 0,2907), selanjutnya untuk indikator pertanyaan independensi yang keenam dikatakan sudah valid sebab memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 yaitu 0, 486, pada indikator pertanyaan independensi yang ketujuh memiliki nilai corrected item correlation sebesar 0, 611 yang berarti lebih besar dari 0, 2907 maka indikator ini dikatakan valid, pada indikator pertanyaan independensi yang kedelapan dinyatakan sudah valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 yakni 0, 469, kemudian pada indikator pertanyaan independensi yang kesembilan dikatakan telah valid karena memiliki nilai corrected item correlation di atas 0, 2907 yaitu 0, 552, dan pada indikator pertanyaan indepedensi yang terakhir atau yang kesepuluh memiliki nilai corrected item correlation sebesar 0, 527 hal ini berarti indikator pertanyaan yang terakhir sudah valid karena lebih besar dari 0, 2907. Berdasarkan penjelasan di atas maka indikator atau pertanyaan yang diajukan semuanya dapat dikatakan valid, karena memiliki nilai korelasi dari setiap indikator diatas 0, 2907.

Dokumen terkait